Thursday, October 22, 2009

Saya memutuskan untuk pindah ke rumah baru:
http://blognyakrismariana.wordpress.com
Silakan dikunjungi :)

Tuesday, September 29, 2009

Sahabat?

Sore itu HP-ku berbunyi. Nomor tak dikenal. Siapa ya?

"Halo...," terdengar suara seorang laki-laki dari seberang sana. Aku merasa kenal dengan suara itu, apalagi kemudian dia menyebutkan nama kecilku. Ya ... ya ... itu pasti teman lama. Tapi siapa ya?

Oh, ternyata dia T, teman SMP-ku dulu. Tak lama kami pun bernostalgia sejenak. Berkat Facebook, aku akhirnya terhubung dengan teman-teman lama. Menyenangkan. Dua pertanyaan yang sering saling diajukan saat aku bernostalgia dengan teman-teman lama adalah: (1) Masih sering pulang ke Madiun? (2) Sekarang paling sering kontak dengan siapa saja?

Untuk pertanyaan pertama, jawabanku biasanya: Masih. Walaupun sudah di Jakarta, aku tetap suka pulang. Hehe. Untuk pertanyaan kedua, aku biasanya menyebutkan dua orang teman SMP-ku yang sampai sekarang masih berkontak: J dan P. Setelah aku menyebutkan dua nama itu, T lalu bertanya, kamu nggak pernah ketemu lagi sama M?

"Ow, tidak," jawabku.
"Kan dia dulu soulmate-mu," katanya. Hahaha. Aku tertawa mendengar istilah yang dia pakai. Soulmate? Kami memang sering sebangku dulu. Tapi soulmate? Ah, rasanya enggak segitunya deh. Pertanyaan T soal M itu mau tak mau membuatku terlempar ke masa lalu. Perlahan-lahan kenanganku dengan M kembali muncul.

Aku mengenal M ketika pertama kali masuk SMP. Sebenarnya orang tuaku kadang menceritakan soal M. Maklum, M adalah putri teman orangtuaku. Dan ketika kami masuk SMP yang sama, entah bagaimana kami langsung dekat. Kadang aku main ke rumahnya. Tapi dia jarang sekali main ke rumahku. Seingatku dia malah baru sekali ke rumahku. Memang rumah kami agak jauh. Dan waktu itu sepertinya dia ke mana-mana naik becak atau diantar orangtuanya, sedangkan aku lebih suka keluyuran naik sepeda. Jadi, biar jauh, aku datangi juga rumahnya. Kalau kupikir-pikir orang tuanya overprotected terhadap anak perempuannya itu. Entah kenapa. Bisa jadi karena lokasi rumahnya yang cukup jauh itu. Dan jalan ke rumahnya cukup ramai. Seingatku, waktu itu jalan menuju rumahnya dilewati bus antar kota. Tapi aku yang memang hobi bersepeda, menganggap jalanan yang ramai itu tak masalah. Lagi pula Madiun kan kota kecil, jalanan yang ramai itu tidak ramai-ramai banget (jika dibandingkan dengan jalan raya di kota besar seperti Jogja atau bahkan Jakarta). Aku yakin bisa berhati-hati kok.

Banyak orang menganggap kami bersahabat. Tapi kalau ditanyakan kepadaku, aku tak tahu apa jawabnya. Mungkin iya, mungkin tidak. Di satu sisi, aku sebenarnya suka berbagi cerita dengannya. Tapi kok sepertinya dia enggan banyak cerita denganku ya? Satu hal yang aku ingat betul dan hal itu seperti "menamparku" adalah ketika entah bagaimana aku tahu ada seorang anak laki-laki yang suka padanya. Waktu itu, dia tak menceritakan hal itu kepadaku. Dia lebih suka menceritakan hal itu kepada teman kami yang duduknya di belakangku. Aku mendengar gosip tentang hal itu dari teman lain. Waktu kutanya, dia diam saja. Aku merasa sedih karena dia sama sekali tidak bercerita kepadaku soal itu.

Sedih?

Iya, aku sedih. Karena aku biasa menceritakan apa saja kepadanya, tetapi dia tidak melakukan hal yang sebaliknya kepadaku. Saat itu aku memang masih berpikir bahwa yang namanya bersahabat adalah jika kami sama-sama berbagi apa pun itu. Ya, kenyataan itu seperti "menamparku" karena aku merasa hubungan kami tidak seimbang. Sepertinya aku lebih banyak menceritakan rahasiaku kepadanya, tetapi dia tidak mencuilkan rahasianya sedikit pun kepadaku. Rasanya kok gimanaaa gitu. Dan sejak itu aku jadi agak jauh dengan M. Kami hampir tak pernah bertemu lagi sejak lulus SMP.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, M memang berhak memilih teman lain (selain aku). Sah-sah saja dia menceritakan rahasianya kepada teman lain. Lagi pula, apa hakku mengharuskannya menceritakan kepadaku semua hal tentang dirinya? Tidak kan?

Sementara teman-teman lain masih mengira kami bersahabat, aku mulai mendefinisikan ulang arti persahabatan dan apa artinya persahabatanku dengan M. Sejak saat itu aku tidak dengan mudahnya menganggap orang yang saat ini dekat denganku sebagai sahabat. Bagiku, sahabat itu tak bisa kupilih. Seorang sahabat itu terdefinisi dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Waktulah yang akan menjawab siapa sebenarnya sahabatku. Waktu akan menguji siapa teman yang tulus, siapa yang bersedia dijadikan tempat berbagi cerita, siapa yang tetap mau meluangkan waktu dan tenaga untuk memupuk relasi, siapa yang masih mau menyapa walaupun jarak terbentang. Dan aku akan senang sekali saat menemukan orang yang bisa menjadi sahabat :)

Friday, September 25, 2009

Bagaimana Menumbuhkan Kesadaran untuk Beres-beres Rumah?

Masih ingat ceritaku waktu lebaran kemarin? Nah salah satu bahan perbincanganku bersama tante-tanteku adalah soal ribetnya bersih-bersih dan pembagian kerja di rumah. Maklum, selama libur lebaran ini, para tanteku itu harus merelakan para pembentes mereka alias para asisten rumah tangga mereka untuk libur. Jadilah mereka yang biasanya jarang menengok dapur dan beres-beres rumah, mau tak mau akhirnya beberes rumah. Plus masak tentunya.

Saat itu, ada empat orang perempuan berkumpul--termasuk aku. Saat mereka saling bercerita bagaimana capeknya beres-beres rumah, aku cuma diam saja. Lha emang mau bagaimana? Aku lupa sudah berapa lama aku tak punya asisten rumah tangga. Jadi urusan rumah itu ibarat makanan sehari-hari. Dan karena tahu betapa capeknya kalau menginginkan rumah yang rapi dan kinclong, aku tak pernah memaksa diri untuk beres-beres. *Hey, memang kerjaanku cuma beres-beres rumah doang? Enggak kan?* Lagi pula dengan bekerja di rumah begini, urusan pekerjaan dan beres-beres rumah semuanya bercampur menjadi satu. Sekarang prioritasnya apa dulu? Kalau mementingkan pekerjaan yang masih nangkring di komputer, ya nyapunya nanti saja. Setidaknya sudah cuci piring. Jadi, kalau mau makan tak perlu grubak-grubuk mencari piring bersih. Duh ketahuan malasnya ya? Hihihi.

Tapi kurasa pekerjaan rumah itu tak ada habisnya. Coba pikir, kita makan tiga kali sehari. Dan tiap kali makan, berarti itu ada piring, sendok, dan gelas yang kotor. Belum lagi kalau kita masak sendiri, pasti ketambahan penggorengan dan panci yang kotor. Lalu, jika kita ganti baju setiap hari, berarti cucian kotor itu akan selalu ada! Setelah kita mencuci baju, tentu baju-baju itu akan mengantre untuk disetrika. Belum lagi lantai berdebu yang menuntut untuk disapu dan dipel. Masih kurang? Tak perlu kujelaskan bahwa rak buku dan meja itu harus dirapikan bukan? Belum lagi kamar mandi juga perlu dibersihkan. Duh, kalau mengingat itu semua, aku tak akan bisa ngeblog ... eh menyelesaikan editan dan terjemahan dong! Padahal kalau sudah tenggelam dalam naskah, rasanya malas banget untuk beranjak dari depan komputer. Jadi, kalau suamiku libur, aku biasanya akan meminta dia membantu mencuci piring atau paling tidak menyapu. Bantuan untuk dua hal itu saja sudah sangat membantu loh! *Jadi, hai kalian para suami dan laki-laki, bantuan kalian untuk mengerjakan pekerjan rumah tangga itu sangat berharga bagi kami kaum perempuan ini!*

Oke, kembali ke obrolan para tanteku tadi. Akhir-akhir ini yang jadi keprihatian mereka adalah bagaimana caranya supaya anak-anak mereka sadar akan pekerjaan rumah? Dengan kata lain, bagaimana caranya membuat mereka dengan sukarela mau membantu sang ibu? Aku kan belum lama keluar dari masa remaja seperti sepupu-sepupuku itu, jadi sepertinya pertanyaan itu pantas diajukan ke aku. Di masa remaja itu, anak-anak eh aku ding sering merasa malas untuk beres-beres rumah. Akibatnya, kalau di rumah lebih suka goler-goler dan nguap-nguap seperti singa di Taman Safari yang tak punya kerjaan itu. Setelah seminggu sekolah, boleh dong kalau di hari Minggu kita bersantai sejenak? Tapi para ibu memang sepertinya lebih suka mengajak kita berolahraga untuk membuat rumah tampak kinclong. Duh, plis deh Mam!

Dulu, keluargaku juga punya semacam asisten rumah tangga. Aku sebut "semacam" karena tidak betul-betul asisten. Mereka masih saudara, dan tidak semua pekerjaan dilakukan oleh mereka. Tapi banyak juga sih yang mereka kerjakan. Ah, ribet menjelaskannya. Pokoknya begitu aja deh. Dan aku yang masih nakal ini kadang malas banget kalau disuruh bantu-bantu. Maunya cuma setrika saja. Atau mengepel dan mencuci baju sendiri. Kerjaan yang lain? Ah, nanti juga ada yang membereskan. Huuu ... kurang ajar sekali kan aku?

Tetapi akhirnya sampailah aku pada suatu masa di mana aku mendapat tanggung jawab untuk beres-beres. Kapan itu? Tepatnya sih saat aku di asrama--saat aku kuliah. Saat tinggal di Asrama Syantikara, kami masing-masing punya tugas untuk bersih-bersih. Yang wajib sih setiap hari secara bergiliran kami menyapu dan mengepel unit. Yang dimaksud dengan unit adalah semacam rumah kecil yang kami tempati berdelapan. Ya, betul ... satu unit itu ditempati oleh 8 orang. (Bisa kebayang kalau kami berantem?) Eh, tapi ada juga yang ditempati 4 orang. Tapi rata-rata 8 orang. Selain bergiliran menyapu dan mengepel unit, dalam seminggu kami juga bergiliran untuk membersihkan wastafel (yang entah bagaimana dalam seminggu selalu ditumbuhi lumut tipis); membersihkan kamar mandi atas dan kamar mandi bawah (maksudnya, menguras bak dan menyikat lantai kamar mandi); membersihkan kaca; membereskan lemari tempat kami menyimpan susu, teh, mi instan, dan berbagai bahan logistik lainnya; membereskan rak sepatu, membersihkan kompor ... hmmm ... apalagi ya? Tapi kurang lebih begitu deh. Dan untuk urusan kami masing-masing, ya kami harus mencuci dan setrika baju sendiri. Biasanya anak-anak yang punya uang saku lebih, mereka menggunakan jasa laundri yang banyak tersebar di daerah kampus.

Setelah keluar dari asrama tidak berarti aku bisa leyeh-leyeh. Setelah dari situ ... aku tinggal bersama kakakku dan selain beres-beres rumah, kami harus mulai belajar memasak. Duh, anak-anak mami ini mau tak mau harus turun ke dapur, hahaha! Yang dulunya cuma tahu masak air, sekarang paling enggak belajar masak sayur bening deh! Ya, akhirnya mau tak mau kami belajar untuk mengenal pekerjaan rumah. Mau tak mau? Lah iya. Entah mengapa aku dan kakakku kok merasa agak bagaimanaaa gitu kalau harus mempekerjakan asisten rumah. Aku sendiri sampai sekarang merasa lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri. Paling-paling dibantu suamiku. Tapi yah, lagi-lagi aku tidak memaksa diri untuk mengerjakan semuanya. Lagi pula, kalau disuruh memilih, aku lebih memilih untuk mengerjakan terjemahan atau keluyuran bersama suamiku. Hehehe, hidup nggak harus melulu untuk beres-beres rumah kan?

Jadi, kalau ada orang tua yang bertanya bagaimana caranya membuat anak-anak mereka lebih sadar pekerjaan rumah tangga? Jawabannya: masukkan mereka ke Asrama Syantikara hihihi! Tapi intinya sih, jangan dimanja deh dan beri tanggung jawab. Nanti lama-lama juga sadar kok. Atau ada yang punya tips lain?

Monday, September 21, 2009

Televisi VS Mengobrol

Kata suamiku, dulu waktu lebaran, film-film yang diputar di televisi adalah film Warkop. Lho kok pakai istilah "kata suamiku"? Memangnya nggak pernah lihat televisi? Memang sejak kecil, aku hampir tak pernah menonton acara televisi sewaktu lebaran. Aneh ya? Sebenarnya enggak juga. Sejak kecil, aku dan keluargaku selalu pergi ke rumah Kakek di desa beberapa hari menjelang hari Idul Fitri. Seingatku, aku tak pernah absen pergi ke sana. Kadang bosan juga sih tiap lebaran kok mesti pergi ke luar kota. Dan bepergian dengan kendaraan umum menjelang lebaran itu tidak terlalu menyenangkan buatku. Terminal yang penuh dan harus berdesak-desakan di dalam bus bukan suatu pilihan yang kusukai. Tapi mau bagaimana lagi? Itu suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Namanya juga masih bocah, dulu aku selalu sebal karena tahu aku tidak bisa menyaksikan acara televisi yang bagus-bagus semasa lebaran. Maklum, rumah kakekku itu ndeso banget. Tak ada televisi. Bahkan aku masih ingat, dulu tak ada listrik di sana. Baru ketika aku sudah agak besar, ada listrik masuk desa. Senangnya! Ketika sudah ada listrik, di rumah kakekku tidak serta merta ada televisi seperti rumah-rumah tetangganya. Rumah kakekku baru ada televisi setelah orangtuaku di Madiun membeli televisi berwarna dan televisi hitam putih yang selama ini kami pakai dihibahkan kepada Kakek. Seingatku, orangtuaku membeli televisi berwarna ketika aku sudah SMA.

Nah, ketika lebaran di tempat Kakek, dulu aku berharap bisa menonton acara televisi. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi ya ... harus diakui dulu aku masih kecanduan televisi. Hihi. Jadi, kalau ada acara yang bagus sedikit saja, pasti segera nongkrong di depan televisi. Tapi itu dulu lo! Soalnya sekarang sudah tidak lagi. Wong di Jakarta ini aku nggak punya televisi kok. Mau nyandu bagaimana?

Nah, kemarin saat lebaran hari pertama, aku dan suamiku berkumpul di rumah Om Agus, seorang adik ibuku yang tinggal di Bekesong ... eh, Bekasi maksudku. Di sana suasana cukup ramai. Maklum, empat keluarga berkumpul, plus para keponakan juga rame-rame ke sana semua. Nah, di rumah omku itu, televisi sepertinya tak pernah istirahat. Seingatku sih begitu, ya. Setidaknya kemarin televisi kabel yang menayangkan film-film dari luar negeri itu terus menerus membius para keponakan yang sepertinya sakau kalau tidak menonton tipi. Apalagi di depan televisi disediakan berbagai macam kue plus minuman bersoda yang tentunya tak bisa dilewatkan begitu saja, maka kami semua rame-rame menatap kotak ajaib itu.

Tapi sebenarnya aku agak bosan juga. Mungkin karena filmnya kurang menarik bagiku, dan ketika aku datang filmnya sudah berjalan separuhnya. Jadi, makin malas saja aku menontonnya. Tapi, mau ngapain lagi ya? Akhirnya kue-kue yang disajikan itu kucoba satu persatu. Setelah bosan, aku mulai melirik anggur dan jeruk. Hihihi. Akhirnya, salah seorang tanteku berseru, "Hey ... mbok ngobrol to! Mosok udah jauh-jauh datang ke sini cuma nonton tivi saja?" Wah, rupanya ada yang bosan juga kaya aku :D Tapi toh, yang menanggapi omongan tanteku itu cuma empat orang termasuk aku. Kami akhirnya memisahkan diri dan mengobrol sendiri. Yang lainnya sih masih asyik memelototi televisi.

Hal seperti itu tentu tidak terjadi saat kami berlebaran di desa kakekku. Dulu saat kami berkumpul, tak ada televisi yang menyala. Dan kami pun menobrol dan bercanda dengan gayeng. Acara televisi ibarat jadi salah satu "makanan" yang disajikan oleh tuan rumah. Biasanya para penikmat acara televisi ini jadi terbius dan tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Kupikir-pikir televisi kadang memang tidak membuat kita jadi semakin dekat satu sama lain, karena justru dengan menonton televisi kebanyakan orang akhirnya malas mengobrol dengan orang di sekitarnya.

Saturday, September 19, 2009

Sepotong "Jakarta Kecil" Menjelang Lebaran

Sabtu pagi, seperti biasa hampir selalu ada SMS dari temanku, Joanna, "Mau ke pasar nggak?" Dia temanku semasa SMP dulu yang sudah lama merantau di Jakarta ini. Rumah kami hanya berjarak dua gang. Memang hampir setiap pagi kami ke pasar bersama. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Wong cuma ke pasar tradisional loh, kok ya selalu berdua. Hihi. Sejarahnya dimulai ketika aku pertama kali tinggal di Jakarta dan masih asing dengan lingkungan sekitar tempat tinggalku, dialah yang mengenalkanku pada pasar tradisional di dekat rumah. Sebenarnya ada pedagang sayuran yang tiap pagi lewat depan rumah, tetapi kata dia, "Mahal itu. Mendingan ke pasar." Dan pasarnya memang tak seberapa jauh dari rumah. Hanya keluar kompleks sedikit.

Pertama kali ke pasar tradisional sendiri, aku berencana membeli ayam dan sayuran untuk masak sup. Pertama kali kudatangi penjual ayam. "Beli seperempat kilo saja ya, Bu," kataku. "Nggak bisa Mbak, belinya mesti satu ekor atau setengahnya." Waduh! Setengah ekor itu banyak banget bagiku. Dan pasti tidak habis nanti. Lagi pula saat itu aku belum punya lemari es. Akhirnya aku urung membeli ayam. Menu hari itu tak jadi sup ayam.

Kebingunganku berbelanja di pasar itu kuceritakan kepada Joanna. Akhirnya, ketika akhir minggu tiba, kami ke pasar bersama. Dia membantuku "beradaptasi" dengan kebiasaan pedagang-pedagang di sini. Dialah yang memperkenalkanku pada beberapa pedagang yang sudah menjadi langganannya. Kalau beli ayam di ibu-ibu yang kiosnya di tengah pasar, "Ayamnya lebih bagus daripada pedagang lainnya," katanya. Dan memang penjual ayam potong itu selalu dikerumuni lebih banyak orang daripada yang lainnya. Kalau mau beli sayur agak murah, datanglah lebih pagi ke pasar karena di pinggir jalan ada seorang ibu-ibu setengah baya yang menjual sayur secara "grosiran". Harganya lebih miring dibandingkan jika kita membeli di dalam pasar.

Dan Sabtu kemarin kami ke pasar lagi. Awalnya aku pikir aku belanja setelah lebaran saja. Tapi kata Joanna, sekitar tiga hari setelah lebaran harga barang-barang di pasar biasanya justru lebih mahal. Masih banyak pedagang yang libur, sehingga oleh pedagang yang ada harga barang justru dinaikkan setinggi langit. Okelah kalau begitu. Aku percaya kata-katanya karena toh dia sudah lama tinggal di sini. Akhirnya aku ke pasar bersamanya untuk membeli sedikit tambahan persediaan sayur.

Ternyata Sodara-sodara, pasarnya puenuuuuuh! Kalau istilah ibuku: "ora iso dipiyak" yang artinya tidak bisa disibakkan. Orang-orang berjubel di lorong pasar sehingga hampir tak ada jalan. Di beberapa titik kami harus berjalan sangat pelan dan berdesak-desakan. Jangan tanya berapa kali aku harus membiarkan kakiku terkena sandal orang lain yang kotor dan didorong-dorong dengan cukup kuat dari belakang saat mencari jalan. Dan ada banyak pedagang musiman--kebanyakan sih pedagang ayam, kelapa, dan baju. Aku cepat-cepat memutuskan sayur apa saja yang hendak kubeli.

Sejenak aku berpisah dengan Joanna karena dia akan mengantri membeli ayam di pedangang langganannya. Ya, dia harus antri cukup lama karena pembeli ayam berjubel banyak sekali! Aku akhirnya menunggunya di tempat yang agak lapang sambil meneruskan belanja sawi. Dan dia lamaaaa sekali. Duh, sudah tak sabar aku. Rasanya aku pengin pulang duluan saja. Dan menyaksikan pasar yang hiruk pikuk tak karuan itu membuatku pusing. Tempat parkir yang biasanya hanya memakan satu lajur, sekarang jadi dua lajur. Itu masih ditambah dengan adanya kios-kios pedagang musiman. Uh, hampir tak ada tempat untuk berdiri. Dan memang rasanya aku seperti orang dodol berdiri begitu saja di keramaian dan orang yang wira-wiri.

Sekilas kudengar percakapan seorang pengendara mobil dengan petugas parkir, "Bang kok penuh begini? Mau parkir di mana, nih? Tau gini saya kan nggak masuk ke sini," kata si supir.
"Memang di depan nggak dikasih tahu kalau penuh, Pak?" tanya petugas parkir.
"Enggak." Nadanya sedikit ketus. "Lain kali dikasih tahu dong, Bang! Jalanan udah sempit begini tetep saja mobil dikasih masuk."

Hmmm ... "Jakarta kecil", pikirku. Lahan yang ada cuma segitu-gitu saja, tetapi orang-orang yang datang semakin banyak karena di situlah roda ekonomi berputar. Tempat memang sudah semakin sempit, jadi, ya mesti mau empet-empetan. Di saat-saat yang hiruk pikuk seperti itu, orang akhirnya hanya memikirkan dirinya sendiri. Tak heran orang mencari kesempatan di antara kesempitan. Intinya sih, kalau bisa mengambil untung banyak-banyak, kenapa tidak? Kalau bisa memanfaatkan orang lain, kenapa tidak? Saat itulah orang mencari selamat bagi dirinya sendiri.

Lebaran sudah mengintip. Semua orang berbelanja. Semua ingin merayakan lebaran dengan berpesta. Tapi aku tak ingin berlama-lama di pasar. Untung kulihat Joanna sudah mendapatkan ayam potong. Lega rasanya.

Kepada teman-teman yang merayakan Idul Fitri, saya mengucapkan selamat merayakan kemenangan, ya! :)

Wednesday, September 16, 2009


Teknik Menulis

Malam itu mendadak teleponku berdering. Nomornya tak dikenal. Agak ragu juga mau kuangkat. Tetapi siapa tahu ada tawaran pekerjaan? Yah, nanti kalau aneh-aneh, tinggal matikan saja. Beres kan?

Kudengar suara seorang lelaki di seberang sana. Duh, siapa pula ini? Suaranya agak serak. Hampir saja mau kumatikan telepon itu karena aku tak kenal. Owh, tunggu dulu ... rupanya dia seorang pengurus sebuah kegiatan di sebuah gereja. Katanya dia mengenalku dari seorang teman kantorku dulu. Oke ... oke. Lalu? Dia memintaku untuk menjadi narasumber di acara pemuda gereja tersebut.

Aku? Enggak salah nih?
Memangnya acara apa?

Dia bilang, mereka akan mengadakan kegiatan yang membahas teknik(?) penulisan. Yah, kurang lebih begitu informasi yang nyantol di kepalaku.

Hmmm ... rasanya salah memilih orang deh. Aku bukan seorang pembicara yang baik. Apalagi kalau harus berhadapan dengan banyak orang. Ow ... ow ... bisa mati berdiri nanti. Kasihan kan kalau mereka harus kerepotan mengurusi aku yang langsung deg-degan tidak karuan kalau berdiri di depan umum. Ugh, aku tak pernah menikmati menjadi pembicara di muka umum. Suwer dikewer-kewer. Daripada mengecewakan mereka, lebih baik tidak. Kalau bicara di kelompok kecil yang tak lebih dari lima orang, bolehlah. Tapi kalau lebih dari itu? Oh, no! Dan tentunya salah satu alasanku memilih menjadi seorang pengotak-atik kata di belakang layar adalah karena aku tak suka berdiri di depan umum. Please deh, cari orang lain saja.

Memang belakangan ini sekolah penulisan memang cukup marak. Dan sebetulnya kalau mau mencoba jadi pembicara, aku bisa dapat uang saku tambahan. Tapi tidak ah. Aku kurang tertarik dengan sekolah penulisan. Dulu, beberapa tahun lalu, aku kadang mengikuti kegiatan seperti itu. Tentunya sebagai peserta, dong. Nggak mungkin aku yang bukan siapa-siapa ini dijual namanya sebagai pembicara. Hehe. Dan setelah beberapa kali mengikuti acara-acara tersebut, lama-lama bosan juga. Isinya kurang lebih sama. Begitu-begitu saja.

Jadi, sebenarnya kalau ditanya apa sih bagaimana teknik menulis itu? Jawabanku cuma satu: Banyak-banyak membaca. Wis. Itu saja. Itu kalau menurut aku lo, ya. Kurasa seseorang akan memiliki penulis favorit. Dan biasanya tulisan yang kita buat sedikit banyak akan "mencontek" gaya penulis favorit kita.

Tapi masak cuma dengan banyak membaca kita jadi bisa langsung menulis? Kalau dari pengalamanku, memang cuma begitu. Dan banyak mengamati, ding. Kalau mau bikin tulisan berbobot, ya mesti mau bersusah-susah melakukan penelitian. Jangan lupa pintar-pintar cari sponsor yang bisa mendanai penerbitan buku tersebut. Kalau mau menerbitkan buku yang laris manis, bikin saja buku yang isinya kocak, lucu, atau mengaduk-aduk perasaan. Nggak ada isinya ya, tidak apa-apa. Toh banyak orang yang butuh hiburan kok. Tapi kalau bisa sih, ya tambahkan informasi yang bisa memperkaya pembaca. Tulisan bergaya motivasional juga sedang laris. Jangan lupa promosi ke sana-kemari. Silakan saja mau menulis macam apa. Mau menulis dengan hati boleh, mau cari uang juga boleh. Sah-sah saja. Tapi kalau boleh usul, tulislah sesuatu yang bisa menimbulkan pemikiran atau perubahan positif--tentunya dengan bahasa yang enak dibaca ya, biar editor dan pembacanya tidak perlu mengerutkan kening karena tidak mudeng dengan apa yang tertulis.

Menulis itu ibarat naik sepeda. Awalnya memang masih tidak lancar. Tapi coba ... coba ... dan coba lagi. Nanti lama-lama akan merasakan keasyikan sendiri dalam menulis. Kalau sudah dicoba tetapi tidak bisa menikmati, ya barangkali panggilanmu bukan menjadi penulis. Jadi pembaca (dan pembeli buku) saja. Itu juga menyenangkan kok ... setidaknya bagi penulis yang bukunya kalian beli. Lumayan bisa sedikit nambah royalti atau honor. Hehe.

Aku sadar, tulisanku sendiri tidak terlalu berbobot. Biasa saja. Banyak tulisan orang lain yang lebih berbobot, informatif, dan memberikan pencerahan. Jadi, memang harus lebih banyak membaca lagi nih.

*Foto diambil dari sini

Monday, September 14, 2009

Mengenang Lebaran di Kayuwangi ...

Dulu, ketika aku masih belum tinggal di Jakarta, lebaran adalah hari yang cukup sibuk. Meskipun tidak merayakannya, aku dan keluargaku ikut meramaikan Lebaran. Maklum, keluarga besarku banyak yang berlebaran.

Kali ini aku mau bercerita soal lebaran di kampung halaman kakekku. Kami biasanya melewatkan Lebaran hari pertama di kampung halaman ayahku, di desa Kayuwangi di kaki Gunung Gajah, di Ambarawa sana. Sebenarnya aku agak bingung, kampungnya ayahku itu masuk Salatiga atau Ambarawa, ya? Menurutku sih tengah-tengah, hehe. Dan di sana lebaran itu ramai sekali. Keluarga-keluarga yang tidak merayakan Idul Fitri tetap memajang kue-kue dan tak sedikit orang yang datang ke rumah mereka untuk bersilaturahmi. Untuk orang yang sudah tua, rumah mereka pasti tak pernah sepi. Pasti banyak yang datang untuk sungkem. Begitu pula dengan kakekku. Banyak sekali yang datang mengunjungi kakek, bahkan saudara-saudara yang rumahnya entah di mana (saking jauhnya dari kampung Kakek) akan datang dan sungkem pada Kakek.

Kalau sudah begitu, kami-kami yang masih muda ini harus segera tanggap. Kami harus siap menyediakan minum dan makan berat--ketupat, sayur, dan segala macam lauk. Setelah para tamu mengudap makanan kecil seperti peyek kacang hijau, kue-kue kering, kacang, jenang ... kami biasanya mempersilakan tamu-tamu itu untuk makan ketupat. Tapi tidak semua tamu bersedia makan. Soalnya mereka kadang sudah mendatangi beberapa rumah sebelumnya. Jadi, pas sampai di rumah Kakek, mereka sudah cukup kenyang. Hehehe.

Sebenarnya, aku kurang begitu kenal dengan para tamu yang berdatangan itu. Ya, ya ... semua itu masih terbilang saudara dengan ayahku. Tapi karena hampir tak pernah ketemu, ya akhirnya lupa deh. Paling hanya ingat wajah. Dan sebenarnya ini agak menggelikan, karena tidak pernah bertemu ... e, tiba-tiba minta maaf. Hehe. Lha kan mereka tidak punya salah padaku. ...

Setelah sungkem dengan Mbah Kakung dan menjamu tamu yang datang, aku dan sekeluarga (tanpa Kakek), akan keliling kampung untuk bersilaturahmi. Biasanya kami akan mengunjungi para pakde atau paklik ayahku. Dasar aku ini pelupa, aku panggil saja semuanya Simbah hihi. Aku tak begitu tahu silsilahnya. Intinya sih, semua masih saudara. Acara keliling-keliling ini cukup melelahkan buatku karena kampung kakekku jalannya naik turun dan ada jalanan yang masih berbatu. Tapi yang menyenangkan adalah, sesampainya di rumah saudara, kami bisa makan kenyang ;) Dan aku paling suka kalau ada peyek kacang hijau. Kriyuk ... kriyuk. Gurih sekali.

Kami tidak hanya mengunjungi keluarga yang merayakan lebaran saja. Beberapa saudara ayahku ada yang Katolik seperti keluarga kami, Kristen, dan Buddha. Semua kami sambangi. Dan rasanya sih seneng-seneng saja.

Salah satu aspek Lebaran bagiku adalah reuni keluarga dan melimpahnya makanan. Dua hal itu memang menyenangkan. Tapi ada satu hal yang biasanya membuatku sebal. Apa? Yang tidak aku sukai adalah perjalanan mudik. Karena tidak punya kendaraan pribadi, kami harus rela umpel-umpelan alias berdesak-desakan di dalam bus. Tak jarang kami harus berdiri cukup lama sebelum akhirnya mendapat tempat duduk. Pegel bok!

Tapi sepertinya lebaran di kampung Kakek akan tinggal kenangan saja bagi kami sekeluarga. Sejak Kakek jatuh dan patah tulang, sekarang beliau tinggal bersama orangtuaku di Madiun. Jadi kami tak perlu jauh-jauh kalau mau sungkem dengan Mbah Kakung, hehehe.

Tapi ngomong-ngomong kok mendadak aku jadi pengen peyek kacang hijau ya? :D Dan sekarang Lebaran sudah tinggal hitungan hari ini. Enaknya ke mana ya?


*Foto: Mbah Kung yang sedang kangen kampung halamannya

Friday, September 11, 2009

Buku Bestseller?

Aku tak ingat sejak kapan aku tidak lagi percaya begitu saja dengan label BESTSELLER yang dicantumkan di depan sebuah sampul buku. Begitu pula aku tidak langsung membeli buku hanya karena membaca endorsement atau pujian yang diberikan oleh seorang tokoh masyarakat yang tercantum di sampul depan suatu buku. Apalagi kalau buku itu sedang heboh di masyarakat, wah ... aku malah akan berpikir ratusan kali untuk membeli buku tersebut. Setiap kali melihat buku yang sedang heboh di pasaran, aku justru enggan melirik atau membeli buku tersebut.

Mungkin ketidakpercayaanku itu mulai timbul beberapa tahun lalu saat ada sebuah buku yang heboh sekali di pasaran. Tak sedikit orang yang mengatakan bahwa buku itu bagus sekali. Dan bahkan sampai sekarang buku itu masih jadi bahan pembicaraan banyak orang. Karena penasaran dan kupikir buku itu bakal membuatku terpesona, tanpa pikir panjang aku pun membelinya. Sesampainya di rumah, tak sabar kubaca halaman demi halaman. Lima halaman pertama, yah ... lumayan. Saat kuteruskan lagi, kok rasanya tidak semenarik yang kuharapkan ya? Begitu-begitu saja. Membosankan. Dan sepertinya si penulis suka melebih-lebihkan ceritanya. Pluk! Kututup buku itu dan sampai sekarang aku tak pernah membaca kelanjutan ceritanya. Begitu pun ketika si penulis mengeluarkan buku-buku karyanya lagi, aku tak pernah tertarik membelinya. Banyak orang masih mengatakan bahwa buku karya si X bagus luar biasa. Tapi maaf, mungkin seleraku berbeda. Ada buku-buku lain yang menurutku kualitasnya jauh lebih baik dari buku itu—baik dari segi penulisan, penyuntingan, dan isinya. Nah, sejak itulah aku tak pernah lagi percaya pada embel-embel bestseller atau endorsement yang tercantum di sampul buku.

Saking banyaknya orang yang menyukai buku tersebut, aku kadang terdiam beberapa saat jika ada orang yang menanyaiku apakah aku membaca buku itu. Biasanya aku akan bertanya balik, “Kenapa?” atau “Kamu baca juga ya?” Aku tak ingin terjebak. Tapi syukurlah selama ini orang yang bertanya kepadaku, rata-rata juga tidak menyukai buku tersebut. He he he. Yang kadang aku herankan adalah kenapa suara-suara orang yang tidak menyukai buku itu tidak pernah muncul di media ya? Yang justru keras suaranya adalah suara orang-orang yang menyukainya. Aku tak tahu kenapa fenomena ini terjadi. Aku bertanya-tanya, apakah ini terjadi karena masyarakat kita tidak biasa menyatakan suatu yang berbeda ya? Atau semua itu melulu karena selera?

Ah, aku tak tahu kenapa hal itu terjadi. Tapi yang jelas, aku membeli buku rata-rata karena aku sudah tahu kualitas penulisnya. Selain itu, kalau ada teman sesama pembaca buku yang seleranya sama denganku mengatakan bahwa suatu buku bagus, biasanya aku percaya. Ngomong-ngomong, pertimbangan apa yang kalian pakai saat membeli buku?

Monday, September 07, 2009

Mencari Tuhan di Balik Cinta

Pernah punya pacar beda agama?

Bagaimana rasanya? Pusing menghadapi orang-orang di sekitarmu yang kadang tanpa diminta ikut urun rembug soal relasi kalian? Menyebalkan memang. Dan di negara ini memang sepertinya masih sedikit celahnya untuk orang yang beda agama bisa menikah dengan lancar. Kadang salah satu harus "mengalah" dengan berpindah agama. Kenapa harus pindah? Orang bilang, kalau di dalam satu rumah ada dua nakhoda, kan kasihan anak-anaknya.

Hmmm ... Sulit.

Aku sendiri tak bisa mengatakan pindah agama mengikuti salah satu pasangan itu baik atau benar. Dan aku tidak mengatakan bahwa sebaiknya begitu. Tapi begini, aku pernah dengan seorang lelaki yang seagama denganku, tetapi untuk urusan yang namanya agama, pikiran kami tidak nyambung. Aneh? Ya aneh. Dulu kupikir kalau seagama ya akan lancar-lancar saja. Tapi dari pengalamanku, tidak begitu. Ada saja yang kami perdebatkan untuk urusan di balik agama ini, dan kami tidak nyambung. Jadi, sudahlah ... bubar saja. Dari situ aku berpikir, mendapatkan pasangan yang seagama tidak selalu mempermudah hubungan.

Beberapa waktu lalu, di radio aku mendengar cuplikan dialog tentang sebuah film yang menggambarkan sebuah relasi antara laki-laki dan perempuan yang beda agama. Mungkin karena penasaran plus punya pengalaman pernah patah hati lantaran masalah serupa, aku pun mengajak suamiku untuk menyaksikan film itu. Judulnya CIN(T)A. Kupikir film itu diputar di semua jaringan bioskop 21. Tapi rupanya tidak, hanya di Blitz Megaplex saja film itu ditayangkan. Dan kata suamiku, Blitz yang di MOI (Kelapa Gading), tidak memutarnya. Jadi, harus segera nonton nih sebelum film ini hilang dari bioskop.

Sebenarnya aku tidak terlalu berharap akan mendapatkan suguhan film yang apik. Yah, selama ini film Indonesia kan tidak jauh-jauh dari pocong, kuntilanak, dan film komedi yang tidak jelas itu. Kalau film ini jelek, ya sudah ... namanya juga Indonesia (kok jadi nggak percaya sama buatan Indonesia sih? Duh!).

Ternyata aku salah. Film ini betul-betul menarik perhatianku. Kalau dipikir-pikir film ini cuma dua pemainnya. Pemain yang lain cuma dihadirkan lewat suara atau foto. Kalaupun ada orang yang tampil, wajahnya tidak ditunjukkan. Cuma kelihatan punggung atau tampil setengah badan. Pokoknya yang benar-benar tampil utuh, ya cuma Cina dan Annisa. Yang paling keren adalah pengambilan gambar dua jari yang melambangkan kedua tokohnya. Ih, keren. Kayaknya mesra banget. Padahal itu dua jari tok til. Tapi kereeen!

Yang membuatku menyukai film ini adalah dialog-dialognya yang cerdas. Buat orang yang tak pernah puas dengan satu penjelasan dan tak mau dikerangkeng oleh sebuah dogma, kalimat-kalimat yang diucapkan di film ini membuatku merasa "punya teman". Oh, jadi nggak cuma aku to yang berpikir begitu. Salah satu kalimat yang kusukai adalah kalimat yang diucapkan Annisa: "Kamu pikir kenapa Tuhan menciptakan atheis? Capek lagi jadi Tuhan yang selalu dipuja dan disembah. Kenapa tidak mencintai Tuhan apa adanya saja?" (Koreksi jika aku keliru mengutip kalimat itu, tapi seingatku kurang lebih begitu.)

Satu hal lagi yang menarik di film ini adalah cuplikan wawancara dua orang yang menjalin relasi beda agama. Cuplikan itu ditayangkan secara hitam putih. Sepertinya cuplikan-cuplikan hendak menjadi penopang bahwa di dunia nyata banyak sekali orang yang pacaran dan menikah beda agama. Mereka seolah terbentur dinding yang keras, dan mungkin tidak sedikit yang melarang hubungan mereka. Ya ... ya ... aku bisa mengerti. Tapi itu mungkin sebenarnya akar masalahnya cukup dalam dan tidak mudah terurai. Relasi mereka harus terbentur oleh sebuah misteri yang tidak mudah dipecahkan oleh akal manusia.

Menurutku, orang-orang di balik pembuatan film ini patut diacungi jempol atas keberanian mereka mengangkat isu yang cukup sensitif ini menjadi sebuah film. Jarang ada film yang "seberani" ini. Biasanya film yang membahas pasangan beda agama ujung-ujungnya adalah salah satu di antara mereka pindah agama. Akhir cerita semacam itu terlalu menyederhanakan masalah menurutku. Kurang dalam. Dan aku puas dengan film ini. Mungkin karena film ini tidak melihat agama secara hitam putih, tidak menganggap yang satu lebih benar dan yang lainnya salah.

*Gambar di ambil dari sini
Jika ingin mengetahui seluk beluk film ini lebih jauh, klik saja di sini

Wednesday, September 02, 2009

Karena Kita Tak Tahu Kapan Bumi Berguncang

Kemarin, setelah beberapa jam menghabiskan waktu di luar rumah untuk bertemu seorang teman, aku kembali ke rumah dengan perut keroncongan. Untung aku sudah memasak nasi, tetapi belum punya lauk. Beberapa hari ini aku malas memasak. Untungnya lagi, tetangga depan rumahku memasak dan menjual makanan untuk buka puasa. Akhirnya setelah beli lauk aku pun menyendok nasi dari rice cooker. Mendadak badanku seperti bergerak-gerak sendiri maju mundur. Duh sakit apa lagi nih? Masak baru lapar sedikit aku sudah pusing begini? Kupikir, nanti setelah makan dan minum pasti sembuhan. Tapi kok kepalaku nggak sakit ya?

Sesaat kemudian kudengar dari depan rumah beberapa orang berteriak, "Gempa ... gempa!" Sekilas kulihat lampu gantung di ruang tamu bergoyang cukup kencang. Oh, gempa to. Syukurlah. Ternyata aku tidak sakit.

Duh, makilah aku karena mungkin aku terdengar tidak cukup simpatik dengan gempa kemarin yang sempat mampir di Jakarta. Tapi bagiku, gempa kemarin guncangannya tidak sehebat gempa yang kualami 27 Mei 2006 silam. Gempa di Jakarta kemarin paling cuma sepersepuluh gempa di Jogja. Maaf, bukan maksudku mengecilkan, lo. Seorang teman menuliskan bahwa gempa di Jogja dulu ibarat seperti ada naga yang melintas di bawah tanah. Bahkan suara gempa yang kudengar itu dulu seperti suara truk. Gruduk...gruduk... gruduk! Kemarin gempanya nyaris tanpa suara, paling yang kedengaran adalah suara orang-orang yang berlarian dan berteriak-teriak.

Dan, aku maklum sekali jika orang-orang pun panik. Gempa selama kurang lebih 2 menit itu memang membuat banyak orang keluar rumah.

Tapi dari gempa kemarin itu, aku mendapati suatu fakta yang cukup melegakan bagiku: aku tidak panik. *Duh sombongnya!* Harap tahu saja, selama setahun setelah gempa 27 Mei 2006, setiap kali ada gempa kecil, kakiku ini susah sekali untuk ditahan supaya tidak berlari. Setidaknya aku langsung deg-degan dan bangkit dari tempat duduk. Dan dalam hitungan detik, pasti aku segera berlari. Rasanya itu sudah menjadi gerak refleks. Tapi kemarin, aku tidak seperti itu lagi. Hehehe.

Dari kejadian gempa Jakarta kemarin, aku melihat potensi timbulnya korban yang lebih besar jika di Jakarta terjadi suatu bencana. Bukannya mau menakut-nakuti. Tetapi gempa seperti itu saja orang sudah panik luar biasa, apalagi kalau terjadi yang lebih buruk lagi? Satu hal yang perlu dilatih dalam menghadapi bencana adalah menjaga diri supaya tidak panik. Dan hal lain yang penting juga adalah kesigapan masyarakat. Sayangnya, di sini tidak biasa diadakan latihan menghadapi bencana. Jadi, bisa terbayang olehku orang2 akan berlarian tidak karuan jika terjadi suatu bencana. Setidaknya memang perlu dibuat petunjuk oleh pemerintah setempat tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat timbul bencana. Misalnya, kalau terjadi gempa, masyarakat mesti bagaimana, tetap di dalam rumah, atau kalau mau lari, lari ke mana. Jadi tidak saling bertubrukan. Serem lo kalau semua orang panik dan kita tak tahu apa yang harus dilakukan. Rasa panik itu menular soalnya--terutama kepada orang yang tidak tahu apa-apa. Bisa ikut arus dan melakukan hal-hal konyol.

Harus kuakui, dulu aku dan kakakku melakukan hal konyol sesaat setelah gempa di Jogja. Tak lama setelah gempa, orang-orang banyak yang menyerukan isu tsunami. Dan kakakku langsung mengajakku naik motor ke arah utara. Saat itu aku cuma pakai baju tidur, Sodara! Kami menuju jalan Kaliurang, dan jalan itu penuh. Macet semacet-macetnya! Padahal kalau dipikir-pikir, tsunami itu pasti tak akan sampai rumah kami yang memang sudah berada di wilayah Jogja utara. Sekarang setelah kupikir-pikir, itu tindakan yang konyol sih. Walaupun bisa dikatakan kami ini cukup berpendidikan, tapi toh kurangnya pengetahuan dan karena dilanda kepanikan, jadi malah ikut arus. Memalukan ya!

Mengingat hal itulah aku pikir, (warga) Jakarta bisa mengalami hal serupa dan mungkin lebih parah lagi. Apalagi Jakarta ini penduduknya buanyak! Bisa kubayangkan, jika di Jakarta terjadi gempa hebat, bisa jadi akan korbannya akan lebih banyak lagi. Kenapa? Pertama, di sini banyak sekali perumahan yang padat penduduk. Rumah-rumah berdempetan, dan tak sedikit rumah yang asal bisa berdiri. Tidak dirancang untuk tahan gempa. Bisa terbayangkan, rumah seperti itu akan mudah rubuh jika dihantam gempa besar. Dan karena padat penduduk--dan bisa jadi mereka juga kurang pengetahuan--akan banyak pula orang yang jadi korban. Korban yang timbul akibat gempa sebagian besar karena mereka tertimpa runtuhan bangunan. Kedua, banyak penduduk yang panik. Kepanikan itu bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, orang yang berlarian tak tentu arah, bisa menimbulkan kecelakaan di jalan. Atau orang bisa meninggalkan rumah tanpa menguncinya, sehingga terjadi kemalingan. Jangan salah lo, banyak orang mengambil kesempatan di antara kesempitan.

Mungkin gempa kemarin bisa menjadi shock therapy yang baik bagi warga Jakarta. Aku berharap pemerintah segera melakukan pelatihan tanggap bencana kepada warganya. Kita tak tahu kapan bumi akan berguncang, kan? Lebih baik berjaga-jaga dan menambah wawasan daripada mati konyol.

Tuesday, September 01, 2009


Nggak Usah Pakai Plastik, Mbak ...

Aku lupa sejak kapan aku selalu membawa ransel jika bepergian. Aku membawa ransel bukan hanya saat bepergian ke luar kota loh, tapi juga waktu jalan-jalan keliling kota, atau sekadar main bersama suami atau teman. Selain itu, ransel adalah salah satu kado yang paling aku apresiasi selain buku dan teh yang enak. Hehehe. Karena memang ransel atau tas yang bisa kucangklong di punggunglah yang membuatku nyaman. Beban jadi lebih imbang di kedua bahu jadi salah satu pundakku tidak terlalu pegal.

Bagiku menyandang ransel itu pas betul jika di Jakarta ini. Kenapa? Karena di kota ini ada beberapa barang yang selalu kubawa. Pertama, botol air minum yang minimal kuisi setengahnya, jika aku tahu di tempat tujuan aku bisa minta air untuk mengisi botol minumku ini hihihi. Botol minumku ini cukup besar, kira-kira isinya hampir 1 liter. Dulu aku pikir bawa botol yang kecil saja, tetapi kalau mau irit ya mesti bawa botol yang besar. Kalau beli di pedagang kaki lima, mahal! Air mineral kemasan 600ml harganya bisa Rp 2.500,00 sampai Rp 3.000,00. Padahal harga normalnya paling cuma Rp 1.500,00-an. Selisih harganya lumayan kan? Hehehe, maaf kalau terlalu itung-itungan. Maklum, emak-emak :D Kalau mau praktis sih, apalah arti selisih harga seribu perak itu. Tapi buatku, selama bisa membawa air minum sendiri dari rumah, buat apa beli?

Alasan lain kenapa aku suka memakai ransel adalah tas ransel itu bisa menampung lebih banyak barang. *Emang mau pindahan, Neng?* Ketika sedang bepergian, kadang mendadak aku merasa perlu belanja sesuatu. Dan alangkah praktisnya kalau aku membawa ransel. Barang-barang belanjaan itu bisa masuk ke dalamnya sehingga aku tak perlu menjinjing beberapa kantong belanjaan. Praktis--menurutku.

Ngomong-ngomong soal belanja, ada benda yang hampir selalu terselip di dalam tas ranselku. Pertama adalah kantong plastik, yang kedua tas kain. Dua benda itu cukup tipis dan tidak memakan tempat. Bisa diambil sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Tapi yang jelas dua benda itu membantuku untuk mengurangi pemakaian kantong plastik saat belanja. Dan jujur saja aku lupa sejak kapan aku sering membawa tas sendiri dari rumah untuk berbelanja. Mungkin aku ikut-ikutan "latah" untuk ramah lingkungan. Yah walaupun mungkin ini tindakan yang tidak berarti dibandingkan para aktivis Green Peace atau WWF, tapi kupikir ini tak ada salahnya.

Memang membawa kantong sendiri dari rumah rasanya tidak cukup praktis. Lebih enak melenggang keluar rumah tanpa membawa apa-apa karena toh nanti di toko petugas akan memberi kita kantong plastik. Hampir semua orang melakukan hal itu. Bahkan suatu kali aku pernah ditegur satpam swalayan besar di Jakarta T** T** karena saat masuk swalayan besar itu aku membawa kantong kosong yang cukup besar (karena aku memang mau belanja banyak). "Mbak, tasnya dititipkan saja," kata pak satpam itu. Karena merasa benar, aku ngeyel dong, "Pak, ini nanti buat bawa barang belanjaan kok. Ini tidak ada isinya." Mungkin karena satpam itu takut aku mengutil atau nyolong, dia bilang, "Nanti kan dari sini dapat kantong plastik." Lagi-lagi aku ngeyel, "Saya nggak mau pakai kantong plastik dari sini. Pak, kalau Bapak tidak percaya sama saya, Bapak bisa ikuti saya saat berbelanja dan bisa nanti cek saja barang belanjaan saya." Hehehe. Hebat kan gaya ngeyelku?

Rasanya memang masih sedikit supermarket yang mengapresiasi pembeli yang membawa kantong sendiri. Dari sekian banyak supermarket yang ada di sini, aku baru menjumpai Superindo yang memberi apresiasi lebih untuk pembeli macam aku ini. Mereka memberikan stiker yang ditempel di sebuah kertas setiap kita berbelanja Rp 10.000 dan kelipatannya. Setelah terkumpul sampai 70 stiker, kita bisa mendapatkan kantong belanja yang bisa dipakai ulang. Buatku yang belanjanya sedikit-sedikit, mengumpulkan 70 stiker itu lamaaaa sekali. Selain di Superindo, ada sebuah toko roti di dekat rumahku yang petugasnya sudah hapal denganku. Setiap kali ke situ untuk membeli roti tawar aku selalu bilang, "Nggak usah pakai kantong plastik, Mbak." Bahkan mbak berambut panjang dan berbehel itu memperingatkan temannya supaya tak usah memberiku kantong plastik saat aku datang dan tampak membawa kantong belanja sendiri :)

Aku tak tahu apakah tindakanku membawa ransel dan kantong belanja sendiri ini memberi dampak besar bagi lingkungan. Tapi setidaknya aku sudah melakukan bagianku. Dan memang sangat sedikit orang yang membawa kantong sendiri saat berbelanja. Selama ini aku belum pernah "mendapat teman" yang sama-sama membawa kantong belanja sendiri saat sedang berbelanja di toko swalayan. Nah, adakah di antara kalian yang mau menjadi kawanku dalam hal kantong belanja ini? ;)

gambar diambil dari: educationforsustainability.files.wordpress.com

Wednesday, August 26, 2009

Aku Tidak Pulang ke Jawa


Ini petikan percakapanku dengan seorang teman di YM:
Teman (T) : Besok lebaran kamu pulang ke Jawa?
Aku (A) : Pulang ke Jawa?
T: Iya, kamu nggak pulang ke Jawa?
A: Emang Jakarta itu di dasar laut ya? Atau Jakarta itu suatu pulau sendiri?
T: He he
A: Aku pulang ke Jogja atau ke Madiun, bukan pulang ke Jawa

Ya, aku risi kalau ditanyai: "Mau pulang ke Jawa, ya?" atau "Kapan pulang ke Jawa?" Dan pertanyaan itu hanya dilontarkan kepadaku saat aku berada di Jakarta--oleh warga Jakarta. Biasanya sih yang melontarkan pertanyaan seperti itu adalah orang yang cukup lama tinggal di Jakarta. Jujur, pertanyaan itu malas sekali kujawab. Kenapa? Soalnya bagiku pertanyaan itu semacam meremehkan Jawa Tengah, Jogja, atau Jawa Timur. Padahal orang-orang yang akan pulang ke daerah Jawa Barat tidak ditanyai seperti itu. Biasanya mereka langsung menyebut nama daerahnya, misalnya pulang ke Kuningan, ke Pandeglang, dan sebagainya.

Kepada orang-orang yang lebih tua dan cukup kuhormati, biasanya untuk menjawab pertanyaan seperti itu aku akan mengatakan, "Saya mau pulang ke Jogja, Pak/Bu." Aku tidak mengiyakan begitu saja. Dan kepada orang yang bisa diajak bercanda, aku akan mengatakan seperti kepada temanku di YM tadi, "Memangnya Jakarta itu di dasar laut ya? Atau Jakarta itu suatu pulau sendiri?" Hehe. Please deh, Jakarta ini kan masih di Pulau Jawa. Jadi kenapa kalimat pertanyaannya seperti itu? Apakah orang-orang itu secara tidak langsung hendak menyatakan, "Ini lo gue orang Jakarta. Jadi, gue lebih tinggi derajatnya daripada elu yang orang daerah." Huh! Semoga saja tidak begitu.

Aku sampai sekarang masih bertanya-tanya apa yang membuat warga Jakarta memilih istilah pulang ke Jawa. Kenapa sih? Apa susahnya menyebut nama daerah atau kota yang dituju? Salah satu perkiraanku adalah, orang yang bertanya seperti itu cuma latah memakai istilah pulang ke Jawa. Maksudku, mereka asal saja dalam memakai istilah tersebut. Mereka tidak berpikir dulu sebelum menggunakan istilah itu. Duh! :(

Ngomong-ngomong, adakah yang tahu bagaimana sejarahnya sampai orang-orang Jakarta ini memakai istilah pulang ke Jawa?

Saturday, August 22, 2009

Tidak Masalah Tak Punya Teman Sekantor ...

Dulu kupikir setelah keluar dari tempat kerja yang sudah menggajiku selama lebih dari lima tahun, tak akan ada yang banyak berubah untuk soal pertemanan. Apalagi di zaman internet dan telepon begini, kurasa gampang-gampang saja kalau mau meneruskan obrolan yang biasa kami lakukan ketika masih satu ruangan. Kupikir kami masih bisa sering chatting atau sekadar mengobrol ngalor-ngidul dengan memanfaatkan tarif telepon yang cukup murah.

Hmm ... sesederhana itukah?

Ow ... ternyata tidak, Sodara-sodara. Biarpun bisa chatting, bertelepon, atau kirim SMS, relasi pertemanan itu tidak sekental jika kita bertemu setiap hari. Bagaimanapun, jarak bisa memudarkan kedekatan. Lagi pula ini hanyalah pertemanan, bukan kisah dua orang muda-mudi yang lagi kasmaran. Beda ceritanya, Bung! Awalnya sih dulu aku masih suka menyapa teman-teman kantorku dulu via telepon, email, atau SMS. Tapi lama-lama garing juga. Tak ada bahan pembicaraan yang cukup gayeng. Bagaimanapun dunianya sudah mulai berbeda. Mereka dengan dunia kerja dan segala keruwetan, sedangkan aku dengan dunia freelancer dan seputar rumah tangga. Tantangannya berbeda. Kadang-kadang ada persinggungannya sih, tapi ya biasanya hanya melulu soal pekerjaan. Tidak seakrab dulu lah menurutku.

Apalagi kemudian aku pindah ke Jakarta, beradaptasi di lingkungan yang baru. Ya, memang ada sih teman-temanku yang di Jakarta. Tapi kan kami tidak bisa ketemu setiap hari. Mereka masing-masing punya kesibukan sendiri. Apalagi dunia kerja di Jakarta ini begitu memakan waktu. Berangkat pagi, pulang malam. Sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan beraktivitas di rumah. Dan bepergian di Jakarta ini menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya ongkos. Jadi, kalau mau menghemat ketiga hal itu biasanya aku di rumah saja. Toh memang aku bekerja di rumah.

Jadi, akhirnya mulailah aku rajin ke warnet. (Untung ada warnet di dekat tempat tinggalku.) Entah itu untuk update blog, blogwalking, membuka situs-situs berita, membuka email, mengirim hasil pekerjaan, dan sebagainya. Dan itu semakin sering kulakukan ketika kami sudah berlangganan internet. Rasanya dunia internet jadi dunia yang sangat menyenangkan bagiku. Yah, walaupun koneksi internet di rumah kami sering lemot, tak apalah.

Dan akhirnya, internet menjadi teman kerjaku selama kira-kira setahun belakangan ini. Dari pertemananku dengan internet, hal yang paling sering kulakukan adalah update blog dan blogwalking. Nah, salah satu blog yang cukup sering kukunjungi adalah TE alias Twilight Express milik Mbak Imelda. Aku sering ke situ awalnya karena pengin membaca cerita tentang kedua anaknya, Riku dan Kai, (yang dari fotonya tampak menggemaskan) dan cerita tentang kehidupannya selama di Jepang. Lagi pula, dia sering posting tulisan baru. Jadi, kalau absen beberapa hari, kadang aku sudah ketinggalan cerita.

Singkat cerita, akhirnya ketika Mbak Imelda mudik ke Jakarta tempo hari, kami pun kopdar. Kebetulan saat itu Nana--yang dulu pernah satu asrama dan satu unit denganku--bersama Bro Neo ada di Jakarta. Jadilah kami kopdar bersama. Cerita sepanjang kopdar itu gado-gado. Karena aku, Nana, dan Bro Neo dulu di Jogja, maka kami kadang bercerita soal teman-teman kami semasa di Jogja dulu. Kadang Mbak Imelda cerita tentang makanan di Jepang. Kadang Oni, suamiku, cerita soal kampung halamannya, Belitung. Macam-macam deh! Dan terus terang aku lupa-lupa ingat apa tepatnya yang kami obrolkan. Hihi. Tetapi kesan kopdar pertama itu: MENYENANGKAN.

Kupikir kopdar pertama itu selesai begitu saja. E, ternyata tidak. Beberapa hari kemudian Mbak Imelda menjawilku untuk ke Museum Tekstil. Cerita soal itu sudah kutuliskan di sini.

Dari beberapa postingan di blog dan FBnya selama dia di Jakarta, tampaknya jadwal kopdarnya cukup padat. Hehe. Jadi kupikir cukuplah aku kopdar dua kali. Tapi ketika Mbak Imelda posting soal Mie Janda di FB, aku jadi bertanya-tanya. Dasarnya aku penggemar mie, maka ketika mendengar istilah Mie Janda, rasa penasaranku kumat. Mie apa pula itu? Dan dari rasa penasaranku itu, aku pun dijawil untuk ikut menikmati Mie Janda. Yuuhuuu! Siapa yang sanggup menolak? Tentu tidak dong! Hehehe.


Akhirnya, pada hari Kamis 13 Agustus lalu, aku bersama Mbak Imelda (plus Riku dan Kai, tentunya) dan Eka meluncur ke Cibinong untuk bertemu Aa Achoey, sang penggagas Mie Janda itu. Bagiku hari itu terasa menyenangkan. Pertama, hari itu aku bertemu dua orang blogger lain yang baru kukenal: Eka dan Aa Achoey. Aku pernah mengunjungi blog mereka. Tapi seingatku belum pernah meninggalkan jejak di sana deh. Hehehe. Kedua, setelah menikmati Mie Janda, aku mengunjungi Taman Safari lagi (setelah sekian belas tahun lamanya). Ketiga, aku bertemu lagi dengan teman asramaku dulu, Galuh.

Yah, hari itu rasanya waktu berjalan begitu cepat. Pertemuan dengan teman-teman baru dan seorang teman lama memberikan suatu kenangan menyenangkan tersendiri bagiku. Kesanku, teman-teman blogger ini unik. Biarpun baru pertama kali bertemu, tak jarang kami sudah bisa mengobrol dengan cukup enak. Kecanggungan karena pertama kali bertemu biasanya mudah mencair. Mungkin itu karena kami sudah biasa saling membaca tulisan di blog. Dan malamnya, setelah mengantar Mbak Imelda pulang ke rumahnya, aku melanjutkan obrolan di mobil bersama Eka. Hey, ternyata kami bisa mengobrol panjang lebar loh! Hehehe. Asyik juga :)

Dari pengalamanku beberapa minggu kemarin sekarang aku berpikir begini: Biarpun aku tak punya teman sekantor yang bisa diajak ngobrol, itu tak masalah ... selama masih bisa ngeblog dan kopdar! :D

*Foto diambil dari akun FB Mbak Imelda. Maklum, ndak punya kamera sendiri, jadi ya nunut dipotretin aja :p

Wednesday, August 19, 2009


Pak Wahyo: Pemijat Tunanetra yang Ceria

Namanya Pak Wahyo. Aku tidak tahu nama lengkapnya, tapi begitulah ayahku menyebutnya. Perkenalanku dengannya dimulai ketika suamiku (waktu itu masih pacar sih) datang ke rumahku di Madiun dan dia mengeluh badannya pegal-pegal karena capek selama di perjalanan.

"Aku pengin pijit," katanya.
"Wah, pijit ke mana ya? Aku tidak punya tukang pijit langganan," jawabku.
Waktu aku masih kecil, aku memang biasa dipijit oleh tetanggaku. Tetapi setelah sudah agak besar, aku tidak pernah pijit lagi. Lagi pula, waktu aku masih kecil, tukang pijit itu sudah tua. Kalau dulu saja sudah tua, jangan-jangan sekarang mbah pijit itu sudah meninggal.

"Eh, tapi tunggu sebentar, seingatku Bapak punya langganan tukang pijit. Aku tanyakan ya," kataku lagi. Dan benar, Bapak lalu memberiku nomor telepon Pak Wahyo. Aku langsung menelepon dan membuat janji untuk pijit.

Keesokan harinya, pagi-pagi, kami bersepeda mencari rumah Pak Wahyo sesuai dengan ancer-ancer yang sudah diberikan oleh Bapak. Rumah Pak Wahyo terletak di ujung gang yang penghuninya cukup padat. Rumah tanpa halaman itu itu tampak kecil sekali dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Aku tak tahu berapa ukuran rumahnya, tetapi begitu kami memasuki rumah itu, rumah itu jadi terasa sangat penuh. Padahal, kami cuma datang berdua. Selain ranjang untuk memijit pasien, di ruangan depan rumah itu hanya ada satu kursi dan meja plastik. Di atasnya ada sebuah tape dan kipas angin tua. Sangat sederhana.

Bayanganku tentang Pak Wahyo sangat berbeda dengan kenyataannya. Kupikir dia orang yang tidak banyak bicara dan kaku, tetapi ternyata tidak lo. Dia sangat ramah dan pandai bercerita! Bahkan menurutku dia pandai melucu. Ada saja yang dia ceritakan.

Sambil memijit, dia bercerita panjang lebar bagaimana dia bisa buta dan akhirnya menjadi tukang pijit seperti sekarang. Rupanya dia tidak terlahir sebagai tuna netra. Waktu masih kecil dia sakit panas dan akhirnya membuat dia menjadi buta. Awalnya dia sangat frustrasi. Dia kesal kenapa hidupnya jadi seperti itu, bahkan dia sempat berusaha untuk bunuh diri. Tetapi teman-temannya datang menghibur sehingga ia mengurungkan niatnya. Suatu kali ia mendapat "penglihatan". Entah bagaimana, ia merasa ada seorang pria mendatanginya lalu mengatakan supaya ia jangan takut dan jangan putus asa; pasti akan ada jalan dan pertolongan. Sim salabim! Sejak "kedatangan lelaki misterius" itu semua pemikiran negatif dalam benak Wahyo kecil itu sirna. Akhirnya ia bersekolah SLB dan kemudian melanjutkan sekolah untuk menjadi pemijat profesional. Katanya, orang buta lebih peka sehingga lebih bisa mendeteksi bagian yang sakit.

Pak Wahyo mengatakan dia tak ingin dikasihani. Maka, dia suka "menjajal" keberanian. Dia bahkan berani lo pergi ke luar kota tanpa teman dengan naik bus! Dia hanya yakin, pasti akan ada orang yang menolong. Benar saja, selama perjalanan hidupnya, ada banyak orang yang menolongnya tanpa disangka-sangka. Misalnya, waktu dia naik bus, ia bertemu dengan temannya semasa SD yang kemudian menolongnya. "Nah, jadi saya ndak pernah takut, Mbak. Tuhan pasti memberi pertolongan. Benar itu!" begitu katanya dengan penuh semangat.

Dalam sehari, Pak Wahyo bisa memijat 3-4 orang. Sekali memijit, dia mendapat uang sekitar Rp 30.000,00. (Aku tak tahu tarifnya sudah naik atau belum.) "Selalu saja ada orang yang datang atau meminta saya datang," tambahnya. Dalam memijit Pak Wahyo tidak berpatokan pada waktu. Tetapi rata-rata 1,5-2 jam. Dia baru selesai memijit jika semua otot si pasien sudah lemas, atau bisa dibilang, dia memijit sampai tuntas. Bahkan jika si pasien tertidur, dia tak membangunkannya. Dia ingin si pasien puas dengan pelayanannya.

Dari obrolan dengannya aku tahu bahwa Pak Wahyo kini sudah menjadi duda. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu karena kanker. "Padahal sudah saya pijitin tiap hari lo, Mbak," ujarnya. "Tapi kata dokter sudah stadium lanjut. Jadi ya sudah tidak bisa tertolong lagi." Mataku mendadak berkaca-kaca mendengar ceritanya.

Langganan Pak Wahyo bervariasi, mulai dari orang biasa sampai para pejabat dan pelaku bisnis. Tak jarang ada pelanggannya yang mau mengajaknya ke kota besar dan hendak memfasilitasi Pak Wahyo untuk membuka panti pijat yang lebih besar. "Tapi saya tidak mau, Mbak," katanya. "Saya di sini saja. Lebih bebas. Tidak perlu ikut orang." Dan kulihat hidup Pak Wahyo itu cukup menyenangkan. Jika tak ada pasien, tak jarang dia pergi ke toko kaset untuk membeli kaset-kaset lagu lama kesukaannya. Banyak lo koleksi kasetnya, dan dia hapal semua lagu sekaligus penyanyi aslinya. Dia memang hobi menyanyi dan dulu ada sebuah stasiun radio di mana ia bisa bernyanyi di situ. Di dinding rumahnya juga kulihat ada foto dia sedang bernyanyi di atas panggung.

Sekarang kalau kami pulang ke Madiun, suamiku merasa belum lengkap jika belum dipijit Pak Wahyo. Aku pun dengan senang hati mengantarkannya karena sembari memijit suamiku Pak Wahyo akan banyak bercerita. Dan ceritanya yang lucu-lucu itu menyegarkan hati lo! Tak percaya? Coba saja!

Monday, August 10, 2009

Memburu Teroris, Melawan dengan Kata-kata

Akhir-akhir ini hampir setiap malam aku dan suamiku berburu nyamuk. Entah mengapa semakin malam, semakin banyak nyamuk yang datang. Padahal kalau siang bisa dikatakan tempat tinggal kami hampir tak ada nyamuk. Tapi begitu hari mulai gelap, suara denging nyamuk plus gigitannya itu mengganggu sekali. Bekal kami adalah raket listrik untuk menyetrum nyamuk. Dan rasanya kami senang sekali mendengar suara PLETAK ...! diiringi bau nyamuk yang terbakar karena kesetrum. Lebih senang lagi kalau kami dapat nyamuk yang perutnya buncit berisi darah. Hhh, mati lu! Rasakan pembalasanku!

Kalau kupikir-pikir sebenarnya lebih baik mendapatkan nyamuk yang masih kurus. Kenapa? Soalnya, nyamuk kurus itu kan belum sempat menggigitku. Jadi, bisa dikatakan itu tindakan preventif alias lebih baik mencegah gigitan nyamuk daripada mengobati bentol-bentol gatal karena gigitan nyamuk. Dan yang lebih bagus lagi adalah jika kita bisa membasmi sarang nyamuk, yaitu uget-uget atau jentik nyamuk yang masih tidak berdaya itu. Pencegahan itu sebenarnya sudah kulakukan dengan menaburi bak mandi dengan Abate dan memasang kasa nyamuk. Tapi tetap saja masih ada nyamuk nakal yang berhasil menerobos rumah. Huh!

Perburuan nyamuk nakal itu mengingatkanku pada perburuan teroris yang punya hobi mengebom dan mencelakakan orang lain. Hobi yang aneh, ya? Tapi mau bagaimana lagi? Mereka masih saja ada. Biar beberapa kali sudah dilakukan penggrebekan di rumah-rumah yang ternyata menyimpan bom itu, kaum teroris itu masih gentayangan seperti drakula.

Dan Sabtu lalu (8/8/09) aku sempat menyaksikan di televisi acara penggrebekan rumah di Temanggung itu. Tapi aku tidak menyaksikan sampai habis dan aku sering mengganti-ganti channel untuk melihat Bara Patirawajane yang dengan lihainya memasak. Enak bener. Saat melihat acara penggrebekan di Temanggung itu aku sempat berpikir, kok kalau dipikir-pikir, kok rada aneh ya menggrebek sarang teroris dengan persenjataan lengkap? Lah lalu bagaimana?

Begini, menurutku perburuan teroris itu tak selamanya bisa dilakukan dengan mengandalkan senjata. Bagaimanapun alasan mengapa mereka melakukan pengeboman itu sarangnya ada di dalam otak dan hati mereka. Sekarang mari kita bandingkan dua tindakan ini:
1. Apa yang membuat kita langsung menarik tangan saat jari kita terkena panasnya api? Karena kita tak ingin terluka. Itu adalah gerak refleks--gerakan yang tidak membutuhkan perenungan atau pemikiran.
2. Apa yang membuat kita pergi ke bank dan menyisihkan gaji kita untuk ditabung? Karena kita sadar bahwa mungkin ada kebutuhan tak terduga di masa mendatang atau untuk jaminan hari tua kita. Tindakan ini membutuhkan suatu kesadaran dan pemikiran.

Jelas kan apa yang mendasari kita bertindak? Yang satu karena biologis, yang satu lagi karena pertimbangan dan pemikiran.

Nah, sekarang mengapa para teroris itu mengebom? Itu kurasa karena apa yang tersimpan di dalam pikiran mereka mendorong untuk melakukan itu. Sebenarnya yang tersimpan di dalam pikiran manusia bentuknya adalah kata-kata. Kata-kata itu bisa muncul karena pengalaman kita sendiri atau orang lain; karena kita melihat, mendengar, merasakan, atau membaca sesuatu. Jadi, sebenarnya awalnya adalah kata-kata yang bergema di dalam kepala.

Aku tak tahu persis apa yang bercokol di kepala para teroris yang tega melakukan pengeboman itu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aneh juga kenapa mereka sampai tega melakukan hal itu. Coba pikir, saat kita tidak terdesak atau hidup kita tidak berada di ujung tanduk, kita pasti tidak akan melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan orang lain, kan? Berbeda dengan orang yang sedang berhadapan dengan maling lalu dia melihat pisau, maka dia mungkin bisa menusukkan pisau itu. Jadi kalau mereka tega mengebom, mungkin mereka merasa keberadaan mereka terdesak, dan karena itu harus menghabisi musuh. Siapa musuhnya? Katanya sih orang kafir. Tentu kafir menurut mereka, ya?

Nah, jadi kupikir kalau kita hendak memberantas teroris, sebenarnya itu bisa dilakukan dengan beradu argumentasi dengan mereka. Atau, dengan kata lain, ubahlah isi kepala mereka. Dan semua itu amunisinya adalah kata-kata--bisa dalam bentuk lisan atau tulisan. Jika isi kepala mereka bisa diubah, kurasa pengeboman itu bisa dikurangi banyak. Rasanya ini seperti memberantas sarang nyamuk, yaitu menghilangkan bibit permusuhan sebelum dia berkembang menjadi pemikiran yang mengerikan dan membuat kita semua celaka. Lebih baik mencegah (dengan kata-kata) daripada mengobati (korban bom).

Saturday, August 08, 2009

Serpihan dari Film 3 Doa 3 Cinta

Menonton film selalu membuat pikiranku berkelana. Begitu pula ketika aku menonton film 3 Doa 3 Cinta ini. Sudah lama aku dan suamiku mengincar film ini untuk kami tonton bersama. Seingatku film ini tayang di bioskop sekitar tahun baru lalu. Tapi rupanya film ini tidak terlalu lama tayangnya dan kami ketinggalan menontonnya. Jadi, akhirnya suamiku kemarin membeli DVD-nya dan kami baru menonton tadi (8/8/09).

Film ini mengangkat kisah kehidupan para santri di pesantren tradisional. Bagi aku seorang nonmuslim, penggambaran kehidupan mereka itu menarik. Aku belum pernah melihat secara langsung kehidupan di dalam pesantren. Dan film itu memperkaya pemahamanku tentang kehidupan teman-teman muslim--terutama yang pernah menjadi santri.

Film ini mengingatkanku tentang keluarga besarku, tentang pengalamanku kemarin sore, dan tentang kejadian akhir-akhir ini. Tiga hal itu rasanya menempel begitu kuat tatkala menyaksikan adegan demi adegan di film itu. Hmmm ... begini ceritanya ... sebenarnya aku sudah lama ingin menuliskan keberagaman di dalam keluarga besarku. Keluarga besarku mayoritas muslim (dan menurut yang kulihat, ada yang abangan dan ada yang tidak). Lalu ada juga yang menganut aliran kepercayaan. Dan ada pula yang Kristen. Keluargaku sendiri beragama Katolik. Oleh karena itu, aku sudah biasa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama denganku. (Dalam tulisan ini aku tidak akan membahas bagaimana keluarga besarku bisa terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan.)

Kemarin sore, aku sengaja menginap di rumah Tante di Pondok Aren. Sebenarnya ini adalah alasan praktis untuk memfasilitasi keinginan suamiku sih. Karena tempat tinggal kami cukup jauh dari tempat berlangsungnya acara itu, kami memilih menginap di rumah Tante yang rumahnya relatif lebih dekat dari Pondok Indah. Kemarin suamiku ingin ikut acara di masjid Pondok Indah. Dia bilang dia ingin ikut acara pengajian di sana. Loh? Rupanya pengajian yang dimaksud berasal dari kata kaji, yang artinya di sana akan diadakan pembahasan suatu topik. Kali ini topik yang diangkat adalah bedah buku terbitan Serambi. Aku lupa apa judul bukunya. Yang jelas, tema yang dibahas kemarin adalah “Agama-agama Ibrahimi: Titik Temu dan Titik Seteru antara Yahudi, Kristen dan Islam”. Pembahasnya adalah Pdt. Dr. Stanley R. Rambitan (Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta) dan Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer (Dosen UIN Jakarta). Soal bagaimana pembahasannya, tanya langsung pada suamiku ya! Hehe. Wong aku tidak ikut acaranya :p Tapi dari ceritanya sih, acaranya bagus. Diskusinya bisa mendalam dan masing-masing pihak bisa berdiskusi dengan kepala dingin.

Nah, ceritanya suamiku langsung menuju masjid Pondok Indah sepulangnya dari tempat kerja, sedangkan aku ikut mobil Tante. Tanteku ini muslim. Lalu karena hendak menjemput anaknya yang sekolah di Al-Azhar serta sudah waktunya sholat maghrib, kami pun berhenti di masjid agung. "Tante nanti sholat dulu ya," kata Tante. Dan ketika turun dari mobil, Tante mengajakku. Oh, Tante tentu tidak mengajakku untuk sembahyang bersamanya. Tetapi daripada aku sendirian di dalam mobil, lebih baik aku "mengintil" dia dan aku pun duduk-duduk di undak-undakan depan pintu masjid. Saat itulah aku teringat peristiwa ketika aku dan kakakku menikah. Waktu acara pemberkatan nikah di gereja, om, tante, pakde, budeku yang beragama lain ikut masuk ke dalam gereja dan memberikan doa restu. Aku tak tahu bagaimana pandangan orang lain ketika melihat di dalam gereja ada saudara-saudaraku yang mengenakan pakaian muslim ikut masuk. Bagiku tidak masalah. Dan aku bangga kepada mereka karena kesediaan mereka untuk itu. Lagi pula, seekor burung yang masuk ke kandang ayam, tidak otomatis menjadi ayam, bukan? Begitu pula, orang non-Katolik yang masuk ke dalam gereja tidak akan otomatis membuat mereka menjadi Katolik. Dan kali ini akulah yang ikut Tante ke masjid. Hehehe.

Kembali ke film 3 Doa 3 Cinta tadi. Di film itu digambarkan tentang dua macam kyai. Yang satu aliran fundamentalis garis keras, yang satu lagi Kyai Wahab yang mengajarkan toleransi serta menghargai agama dan budaya lain. Lewat film ini, Nurman Hakim selaku sutradara, penulis skenario, dan produser hendak mengatakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memiliki pendirian seperti Kyai Wahab. Aku sendiri percaya akan hal itu, mengingat kebersamaan seperti yang aku rasakan dalam keluarga besarku.

Belum lama ini Hotel JW Marriot terkena bom lagi. Menyedihkan memang. Aku tak tahu ada berapa banyak orang yang lalu menuding umat Islam berada di balik pengeboman ini. Aku sendiri berpikir kurasa mayoritas umat Islam di Indonesia tak akan suka digebyah uyah, atau disamaratakan sebagai pengikut aliran yang suka mengebom itu. Lagi pula, agama mana sih yang mengatakan membunuh orang lain adalah baik? Jadi bagaimana? Kurasa untuk menyikapi hal-hal yang merusak kesatuan Indonesia, kita semua--apa pun agamanya dan kepercayaan--perlu bergandengan tangan untuk mempererat persaudaraan. Aku percaya, orang yang benar-benar beriman akan lebih bijak dan bisa saling memahami orang yang berbeda. Hmm ... bagaimana menurutmu?

Wednesday, August 05, 2009


Belajar Membatik di Museum Tekstil Jakarta

Beberapa hari belakangan ini aku pengen banget menyepi. Ya, betul-betul pergi ke tempat yang cukup sunyi, terlepas dari hiruk-pikuk ibu kota ini. Rasanya capek betul mendengar kebisingan yang sepertinya jamak sekali kujumpai di Jakarta: bunyi lalu lalang penjual makanan yang lewat di depan rumah, para pemakai jalan yang rajin membunyikan klakson, orang-orang yang terus berbincang. Jakarta memang gaduh. Tapi di Jakarta ini, biar sudah mengumpet di dalam rumah, tetap saja aku bisa mendengar hiruk-pikuknya Jakarta dari balik jendela.

Jadi, ke mana aku bisa menyelamatkan kupingku dari polusi suara itu?

Rabu lalu (5/8/09) aku menemukan salah satu tempatnya, yaitu di Museum Tekstil. Museum itu memang terletak di daerah yang cukup ramai. Tapi begitu masuk ke pelatarannya, suasana luar yang hiruk pikuk itu rasanya langsung teredam oleh banyaknya pepohonan, halaman yang luas, dan suasana khas bangunan tua. Rasanya seperti bukan berada di Jakarta! Sebenarnya aku ke sana setelah janjian dengan Mbak Imelda sih. Kalau tidak, barangkali setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, aku ya tidak akan sampai ke sana. Dia dan dua anaknya, Riku dan Kai akan berkunjung ke sana. Jadi, mumpung ada teman, sekalian saja aku ke sana.

Awalnya aku tak tahu di mana letak Museum Tekstil itu. Dan mulailah aku bertanya ke temanku yang sudah lama tinggal di Jakarta. Tapi apa jawabnya? "Museum Tekstil? Mana itu?" Gubrak! Welhadalah, dia sudah sepuluh tahun tinggal di Jakarta tapi tidak tahu letak Museum Tekstil. Ah, Jakarta memang terlalu luas. Dan banyak warga Jakarta yang tidak tahu tentang museum dan tempat-tempat semacam itu. Apalagi pendatang kaya aku yang lebih banyak tinggal di rumah daripada keliling Jakarta? Ya jelas tak tahulah. Dan rupanya ... Mbak Imelda yang besar di Jakarta juga tidak tahu tempatnya. Hi hi. Jadi, daripada kesasar tidak karuan, lebih baik aku menunggu mereka di depan Diknas.

Ketika sudah di dalam taksi, kami meminta pak supir mengantarkan ke tempat yang dituju. Tapi ternyata supir taksi itu pun tidak tahu di mana letak Museum Tekstil. Duh! Orang buta menuntun orang buta deh. Yang kami tahu museum itu letaknya di Jl. K.S Tubun 2, Tanah Abang. Tapi di mana tepatnya, yaaa ... mene ketehe? Agak menyesal juga kenapa aku tidak membawa peta milik suamiku. Tapi supir taksi itu cukup pintar juga dalam mencari info. Dia bertanya ke penjual handuk di pinggir jalan, dan mengantarkan kami ke sana tanpa perlu kesasar.

Taraaa...! Akhirnya sampailah kami ke sebuah bangunan tua yang cukup besar dan berhalaman luas dengan beberapa pohon cukup tinggi. Lalu kami pun mulai menjelajahi museum. Tapi sayang koleksi di sana sedikit sekali. Aku agak kurang bisa menikmati suasana dalam museum karena di dalam ruangan itu kesanku baunya apek. Sebenarnya aku lumayan suka bangunan tua, tetapi kalau baunya apek, aku jadi malas. Hmmm ...

Setelah melihat-lihat koleksi museum, kami menuju bangunan kayu yang berada di bagian belakang museum untuk membatik. Yuuhuuu! Akhirnya kesampaian juga aku untuk berlatih membatik. Selama ini aku hanya pernah melihat orang membatik, tapi belum pernah benar-benar memegang canting dan menorehkan malam panas di atas kain. Awalnya Riku dan aku saja yang akan membatik. Tapi rupanya ketika melihat kami asyik menggambar di atas kain, Mbak Imelda jadi tertarik juga. Sebenarnya aku sudah berpikir, nanti kalau kami bertiga membatik, siapa yang menemani Kai? Kai masih terlalu kecil untuk ikut membatik. Aku berharap dia tidak bosan menunggui kami.

Setelah kami selesai menggambar pola gambar di atas kain kira-kira selebar sapu tangan, mbak petugas museum menerangkan do and don'ts saat membatik. Yang agak repot adalah ketika si mbak hendak menerangkan pada Riku yang lebih fasih berbahasa Jepang daripada berbahasa Indonesia. Dan karena aku tidak tahu seberapa banyak kosakata bahasa Indonesia yang diketahui Riku, aku mengatakan supaya menunggu Mbak Imelda saja untuk membantu menjelaskan ke putra tercinta.

Tak lama, mulailah kami membatik. Asyik banget. Mungkin karena gambar pola yang kupilih cukup mudah ya, jadi rasanya gampang-gampang saja. Sembari membatik aku tanya-tanya ke mbak petugas yang ternyata lulusan ISI Jogja. Rupanya di situ banyak juga yang tertarik belajar membatik. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tidak jarang ada serombongan anak SD yang belajar membatik bersama-sama di situ. Lalu, saat kami di situ, datang tiga (atau dua ya?) orang turis Jepang yang ingin belajar membatik. Untuk membatik di atas kain kira-kira selebar sapu tangan, kita cukup membayar Rp 35 ribu rupiah (itu sudah termasuk harga karcis museum). Kalau untuk membatik kain panjang (jarik), biayanya Rp 200 ribu rupiah. Untuk membatik, ukurannya bukan waktu, tapi lebar kainnya. Jadi, kalau mau membatik untuk kain panjang, tak harus selesai satu hari. Selain itu di sana bisa belajar membuat gerabah juga katanya si mbak petugas.

"Selesai, Mbak!" kataku setelah semua garis kuberi malam. Tapi ternyata si mbak mengatakan, "Bagian belakangnya juga diberi lilin. Sama persis dengan yang bagian depannya, ya!" Aih ... rupanya aku baru setengah jalan to. Dan membubuhi lilin di sisi belakang ini lebih sulit, karena harus sama persis dengan yang bagian belakang. Ugh, capek juga ya. Mungkin karena sudah agak capek, lilin panas itu sempat tumpah dan kena jari telunjukku. Wew! Panas banget! Mbak petugas museum segera memberiku salep untuk luka bakar. Aku berharap cuma aku yang mengalami kecelakaan itu.

Eee ... tapi rupanya Mbak Imelda "ketiban sampur" juga. Karena Kai bosan dia mendekati mamanya yang sedang memegang canting. Entah bagaimana malam panas itu melayang dan mengenai kelopak mata kiri Mbak Imelda. Mak tratap! Jantungku sepertinya mau lepas saat melihat kejadian itu. Dan aku mendadak bengong tak tahu mesti bagaimana. Tapi untunglah petugas di museum itu cukup sigap, dan langsung memberikan salep untuk luka bakar.

Akhirnya setelah kami selesai membubuhkan malam, dimulailah proses pewarnaan. Kali ini yang melakukan proses itu adalah mbak petugas dari museum. Jadi, kami hanya menonton saja hehe.

Oiya, kalau ingin tahu lebih banyak soal Museum Tekstil ini, Mbak Retty Hakim sudah menuliskannya agak panjang di sini.

*Foto di atas diambil oleh Mbak Imelda.

Monday, August 03, 2009


Merindukan (Kepemimpinan A la) Purvis

Entah apa yang membuatku mengatakan iya ketika suamiku bertanya, "Mau nonton Public Enemies, nggak?" Aneh. Biasanya aku malas sekali menonton film yang penuh adegan tembak-tembakan. Aku tidak tertarik melihat darah berceceran yang sering muncul di dalam film semacam itu. Dari judulnya saja sudah jelas bakal ada adegan tembak menembak.

Apakah karena Jonny Deep menunjukkan aksinya di film ini? Ah tidak juga. Aku bukan penggemar berat Jonny Deep. Iya, iya dia memang cakep, tapi bukan seleraku banget hihi. (Kayak dia mau sama aku aja :p) Yah, pokoknya tiba-tiba aku pengin nonton saja.

Akhirnya, senin sore itu aku nonton bersama suami dan dua orang teman kami. Dan bisa ditebak, aku yang lebih suka menonton film animasi, merinding ketika menonton film itu. Adegan tembak-tembakannya itu lo, mantep banget. Saking mantepnya, membuatku beberapa kali harus menutup mata kalau melihat darah sudah mulai berleleran. Dooooh ...!

Tidak, aku tidak akan mengulas film Public Enemies ini. Kalau mau tahu review-nya, lebih baik baca di sini saja. Suamiku sudah menuliskannya dengan baik. Hehehe. (Ni, ini aku promosiin blogmu lagi nih!) Di film ini yang mengesankan bagiku adalah penampilan Christian Bale. Gile, cakep! Yang cakepnya kaya gini nih, yang termasuk seleraku. Dan dia memerankan Melvin Purvis, agen FBI yang tugasnya memang mengejar John Dillinger yang licin bak belut itu.

Sebenarnya C. Bale terlalu tinggi untuk memerankan Purvis. Soalnya pas aku membuka-buka arsipnya om Wiki, Purvis ini ternyata "pendekar" alias pendek kekar. Tapi tak apalah, untuk memanjakan mata penonton seperti aku, C. Bale itu sangatlah menghibur. Hihi.

Jadi, ceritanya aku ini terinspirasi sekali oleh gaya kepemimpinan Melvin Purvis. Di awal kepemimpinannya, ada anak buahnya yang tewas saat mengendus jejak gerombolan Dillinger. Lalu, dia tanpa ragu mengakui bahwa dia tidak sanggup menangkap Dillinger jika tanpa dukungan anak buah yang bisa diandalkan. Dia mengatakan lebih baik mundur daripada menyerahkan anak buahnya satu per satu tewas disosor peluru dari gerombolan Dillinger. Aku mengacungkan jempol untuk kerendahan hatinya mengakui kelemahan. Tidak ada ceritanya tuh dia memarahi anak-anak buahnya untuk menutupi kelemahannya.

Lalu, yang aku salut banget adalah ketika ia menegur anak buahnya karena memperlakukan pacar Dillinger dengan kejam sampai-sampai perempuan cantik itu tidak sanggup jalan ke toilet. Tahukah kalian apa yang dilakukannya ketika Frechette dengan terbata-bata berkata, "Aku tak sanggup berjalan...."? Purvis itu menggendongnya! Tak ada kesan dia ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyentuh perempuan cantik itu, tapi semata-mata karena begitulah seharusnya memperlakukan wanita. Meskipun dia termasuk dalam komplotan penjahat, tapi tidak boleh ditampar dan dipukul.

Kemudian, ketika timnya sedang baku tembak dengan gerombolan Dillinger di Litte Bohemia. Waktu mengejar gerombolan Dillinger yang kabur, Purvis berdiri di sebelah luar mobil yang membawanya sambil terus menembak. Dia tidak masuk dan bersembunyi di dalam mobil. Di adegan itu aku melihat dia memang pemberani, dia seolah-olah mengatakan, "Aku akan melindungi anak buahku." Di situ dia juga menunjukkan bahwa dia percaya pada anak buahnya yang menyetir mobilnya. Bayangkan jika anak buahnya kurang terampil menyetir, salah-salah Purvis-lah yang kena sasaran tembak kelompok Dillinger.

Sungguh aku kagum pada Purvis. Dan aku merindukan kepempimpinan seperti itu. Kapan ya aku punya pemimpin yang seganteng dan secerdik Purvis? :)

Sunday, July 26, 2009

Belajar Mandiri dengan Pulang Sekolah Sendiri

Di Jakarta ini aku adalah salah satu pengguna transportasi publik. Itu istilah kerennya dari angkot sebenarnya hehe. Berhubung aku tidak bekerja kantoran, aku hampir tidak pernah naik angkot di pagi hari. Tapi suamiku yang seringnya berangkat kerja ketika matahari masih malu-malu menampakkan kegarangannya, tahu betul apa bedanya naik angkot di masa liburan sekolah anak-anak dan masa sekolah seperti ini. Katanya sih, begitu anak-anak masuk sekolah, jalanan Jakarta pada pagi hari lebih padat.

Yang aku tahu sih, kalau naik metromini di siang hari jam bubaran anak sekolah, seputaran Jalan Pemuda dekat SD Tarakanita dan Labschool biasanya memang macet. Kendaraan yang lewat di situ serasa merayap. Kepadatan itu disebabkan anak-anak sekolah yang sudah pulang menghambur di pinggir jalan untuk membeli jajan di beberapa penjual makanan depan sekolah, plus banyaknya kendaraan yang parkir di depan sekolah. Sepertinya itu kendaraan para penjemput anak-anak itu.

Melihat anak-anak yang sedang bubaran sekolah itu mau tak mau mengingatkan aku ketika masih sekolah dulu. Aku tak ingat, kapan aku mulai pulang sekolah sendiri. Mungkin mulai kelas 3 SD, atau malah kelas 2 SD ya? Yang jelas, ketika masih TK dan kelas 1 SD, aku masih dijemput oleh orang2 rumah; entah itu saudara yang tinggal di rumahku atau Bapak. Yang aku ingat, di hari ketika aku mulai pulang sekolah sendiri, aku diberi uang untuk naik becak. Dulu, ongkos becak dari sekolah ke rumah cuma tiga ratus rupiah. Kalau sekarang sih mungkin sudah naik jadi sekitar lima ribu. Jarak dari sekolah ke rumah mungkin sekitar 1,5-2 kilometer. Kalau jalan kaki paling lama 30 menitan lah. Nah, waktu itu uang tiga ratus rupiah itu banyaaak banget. Harga jajanan waktu itu hanya 25 rupiah, jadi kalau sehari dapat uang saku 50 rupiah saja, itu sudah cukup. Kalau mau jajan agak mewah, 100 rupiah cukup deh. Jadi, kalau 300 rupiah, itu sudah bisa jajan banyaaaak banget. Hahaha.

Seingatku, ada seorang tukang becak yang wajahnya sudah cukup familier bagiku, dan aku kadang naik becaknya. Biarpun sudah cukup kenal, aku kadang masih tanya berapa ongkos becak ke rumah, dan kadang menawar. (Hihi, lucu juga ya kalau membayangkan aku yang masih kelas 2 SD menawar becak.) Tapi bisa dibilang aku jarang sekali pulang sekolah naik becak.Ya, seingatku aku lebih sering jalan kaki pulang ke rumah. Rasanya senang bisa berhemat dengan tidak naik becak. Dengan begitu, siangnya aku bisa jajan di warung depan rumah hehehe.

Kalau kupikir-pikir, aku kok berani ya pulang sendiri waktu itu? Untuk ukuran anak kecil dan ukuran warga di kotaku, jarak antara sekolahku (SD) dan rumahku itu cukup jauh. Mungkin itu karena aku merasa aman di kotaku, ya? Lagi pula, di kota sekecil Madiun, tak ada bus kota yang suka ngebut dan tentunya tak ada kemacetan. Aku cukup berani menyeberang Jalan Pahlawan yang cukup lebar itu. Sendiri loh! Soalnya kebanyakan temanku dijemput. Dan tak ada teman yang rumahnya searah denganku. Waktu itu biasanya aku berjalan kaki lewat jalan yang cukup sepi dan teduh, kadang lewat gang-gang kecil yang kukenal. Kadang ada beberapa becak yang menawari supaya aku naik becak, tapi aku lebih suka menggeleng dan meneruskan langkah.

Acara jalan kaki pulang sekolah itu berakhir ketika aku naik kelas 4 SD. Ketika duduk di kelas 4 aku sudah bisa naik sepeda. Jadi, berangkat dan pulang sekolah, aku naik sepeda sendiri.

Di Jakarta ini, aku jarang bertemu anak SD yang pulang sekolah sendiri dengan naik angkot. Biasanya yang sudah berani pulang sekolah naik angkot sendiri adalah anak SMP. Anak SD masih banyak yang diantar jemput oleh orang tuanya atau ikut mobil antar jemput. Mungkin itu karena orang tua mereka tidak tega membiarkan anak mereka menyusuri lalu lintas Jakarta yang ganas ini seorang diri. Belum lagi tampaknya isu tentang penculikan anak juga masih ada saja. Btw, waktu itu aku kok nggak kepikir bakal diculik ya? Halah, lagian siapa yang mau menculik bocah kurus dan hitam kaya aku ini? Hihi.

Wednesday, July 22, 2009

Buku yang Mubazir?


Salah satu naskah terjemahan yang paling aku sukai adalah buku cerita anak. Sebenarnya itu karena aku suka melihat gambarnya yang bagus-bagus, sih. Mungkin juga karena aku belum kesampaian menulis buku cerita untuk anak. Hehehe. Jadi, ya setidaknya menerjemahkan buku anak-anak dulu deh.

Suatu kali aku mendapatkan buku cerita anak yang membahas sampah dan daur ulang sampah. Di situ diceritakan pertama-tama sampah dipilah lalu setelah itu dilakukan daur ulang sesuai dengan jenisnya. Penjelasannya juga sangat mudah dipahami bagi anak-anak. Apalagi dengan adanya gambar-gambar yang lucu-lucu itu, kurasa anak-anak bakal senang membacanya. Pokoknya keren deh! Sayangnya, buku itu adalah buatan orang dari negara yang berada nun jauh di sana.

Lalu kenapa kalau itu buku impor? Bagiku, hal itu bermasalah. Bukan ... bukannya mau bilang isi buku jelek. Buku itu bagus kok. Dan memang seharusnya begitu. Masalahnya, di Indonesia kan tidak seperti itu. Masyarakat membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu. Paling-paling yang memilah justru para pemulung yang dengan rajinnya mengaduk-aduk bak sampah. Kalau begitu, bagaimana anak-anak akan menerapkan apa yang sudah dibacanya?

Suatu kali aku mengatakan hal tersebut kepada editor yang memberiku buku terjemahan itu. "Mbak, buku-buku tentang sampah dan daur ulang itu bagus. Tapi sepertinya anak-anak akan kesulitan untuk menerapkannya," kataku.
"Iya sih. Tapi ya semoga anak-anak itu kalau sudah besar bisa menerapkannya," begitu jawab editor itu.

Rasanya geli juga mendengar jawaban tersebut. Tapi yah, mungkin itu jawaban terbaik yang bisa dia berikan. Coba pikir, kalau sejak kecil seseorang sudah terbiasa untuk tidak memilah sampah, apakah ketika dia beranjak dewasa, dia akan serta merta memilah sampah dan melakukan daur ulang? Kurasa pemilahan sampah dan daur ulang sulit dilakukan jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang konkret. Ya, memang kadang di beberapa tempat ada dua tempat sampah: untuk sampah kering dan sampah basah. Tapi sampah di situ juga masih bercampur. Jadi, dua macam tempat sampah itu rasanya kok mubazir ya?

Aku sendiri tak tahu bagaimana mengurai masalah sampah ini. Katakanlah kita mengajari anak-anak supaya memilah sampah, tapi jika orang dewasa di sekitar mereka tidak melakukannya, akhirnya ajaran itu tak ubahnya seperti slogan-slogan di spanduk pinggir jalan. Tidak ada artinya apa-apa. Tapi bagaimana orang-orang dewasa di negeri ini bisa meniru warga di negara maju yang sudah mulai mengolah sampah jika tidak ada sistem yang membuat kita melakukan hal itu? Menunggu pemerintah? Terlalu lama rasanya, dan sepertinya pemerintah tidak ada kepedulian akan hal itu.

Akhirnya, aku tak tahu buku-buku anak tentang sampah dan daur ulang itu mubazir atau tidak. Semoga saja tidak.

Monday, July 20, 2009

KRL: Salah Satu Kemewahan di Jakarta

"Salah satu kemewahan di Jakarta adalah KRL," begitu kata kakakku beberapa waktu lalu. Waktu itu kami sedang berbincang-bincang tentang pengalaman tinggal di Jakarta. Setelah kakakku lulus, dia sempat tinggal dan bekerja di Jakarta. Eh, sebenarnya kerjanya di Tangerang ding. Tapi dia tinggal di Jakarta Selatan, di rumah Tante. Aku lupa berapa lama tepatnya dia menetap di ibu kota, tapi kurasa tidak sampai satu tahun.

Aku ingat betul ketika dia bekerja di Tangerang, aku sering meneleponnya pagi-pagi benar, pukul 05.00. Selain memanfaatkan tarif SLJJ yang cukup murah, jika kesiangan sedikit, bisa jadi aku tidak bisa bercakap dengannya. Pukul 05.30 dia harus sudah berangkat dari rumah supaya tidak kena macet di jalan.

Aku ingat ketika menyambanginya di rumah Tante. Saat itu aku datang ke Jakarta bersama Ibu. Kami sampai di rumah Tante kira-kira sore hari. Aku berharap tak lama aku meletakkan tas, aku akan segera bertemu kakakku. Tapi kok lama banget ya dia nggak muncul? Beberapa kali aku menanyakan kepada Tante kok kakakku belum kelihatan juga. Rupanya dia biasa datang pukul 20.00 atau 21.00. Duh, malam amat pikirku.

Dan akhirnya ketika aku sudah terkantuk-kantuk, kakakku pun datang. Kami berbincang sebentar sampai akhirnya mata sudah lengket. E, pagi-pagi betul, ketika aku masih enak-enaknya memeluk guling, Ibu membangunkan aku dengan bertanya, "Mau nganter kakakmu sampai ke depan kompleks nggak?" Aku langsung mengiyakan. Dan pagi itu kami bertiga berjalan menyusuri kompleks. Perasaan, ujung depan kompleks itu jauh amat. Mungkin karena masih agak gelap dan aku sendiri masih mengantuk, ya?

Hmm ... tapi begitulah. Sejak hari itu aku jadi ikut merasakan betapa "ribet"-nya kerja di Jakarta. Harus bangun dan berangkat ke tempat kerja pagi-pagi benar dan pulangnya ketika sudah mendekati jam tidur. Bayanganku, gaji kakakku gede banget. Tapi ternyata gajinya tak banyak kalau tak mau dibilang minim. Hari Sabtu dia masih masuk pula. Jadi, ya ... lumayan capek deh. Pengennya sih dia cari kerja di tempat lain, tapi nggak dapat-dapat. Untung dia akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di Jogja dengan menjadi pengajar di sebuah universitas swasta.

Mengenang hari-hari itu, dia mengatakan bahwa salah satu alat transportasi yang sangat membantunya adalah kereta atau KRL. Jika dia beruntung, dia bisa pulang dengan naik kereta dan waktu untuk perjalanan pulang bisa terpangkas hampir separonya. Ongkosnya pun lumayan murah jika dibandingkan dengan naik bus.

Ya, memang KRL di Jakarta sangat membantu. Itu kurasakan juga. Aku akan sangat senang jika suamiku bisa pulang naik kereta. Itu berarti dia bisa sampai rumah dengan cepat. Hmm, siapa sih yang tidak senang suaminya pulang cepat? He he. Dan kemarin aku main ke Bekasi ke rumah omku. Aku dan suamiku naik KRL dari stasiun yang tak jauh dari tempat tinggalku. Perjalanan dari Klender sampai Bekasi paling cuma butuh 15 menit dengan naik kereta. Asyik kan? Jika naik bus, belum tentu 30 menit kami bisa sampai Bekasi. Apalagi para sopir bus itu rajin sekali ngetem untuk mencari penumpang. Belum lagi kalau sial terkena macet. Waktu akan habis di jalan.

Kupikir, salah satu alternatif alat transportasi umum di Jakarta yang baik jika dikembangkan adalah KRL. Ongkosnya pun tak terlalu mahal. Jika naik KRL ekonomi non AC, kami cukup membayar Rp 1.500 untuk sampai Bekasi (dari Klender). Jika mau yang lebih nyaman sedikit dengan tambahan AC, ongkosnya Rp 4.500. (Bandingkan dengan ongkos metromini: Rp 2.000 dan ongkos KWK yang sampai Rp 3.000). KRL itu sekali angkut bisa memuat penumpang lebih banyak dibandingkan bus patas yang segede bagong itu. Secara kasat mata bisa dilihat penumpang yang bisa diangkut dengan sebuah metromini lebih sedikit dengan jumlah penumpang dalam satu gerbong kereta. Padahal KRL itu punya berapa gerbong? Kurasa lebih dari 5 gerbong. Dari hitungan jumlah penumpang yang bisa terangkut saja, KRL lebih efisien. Belum lagi jika membandingkan luas badan jalan yang dibutuhkan sebuah bis dan lebar rel kereta api. Bisa membayangkan sendiri kan?

Sayangnya, kok sepertinya pemerintah sepertinya lebih suka membangun jalan tol ketimbang mengembangkan jalur kereta ya? Padahal aku yakin, jika jalur kereta ditambah; KRL tidak sering terlambat; frekuensi keberangkatan kereta semakin banyak; kemacetan di jalan raya itu bisa berkurang. Dengan kereta, ongkos perjalanan bisa dikurangi, waktu selama di jalan juga semakin singkat dan itu berarti waktu untuk orang-orang tercinta jadi semakin banyak :)

*Gambar diambil dari sini

Wednesday, July 15, 2009

Jangan Sakit!
Mendingan Uangnya untuk Makan Daripada untuk Bayar Dokter


"Butuh kuitansi?" tanya lelaki tua di depanku dengan suara parau yang berat.
"Enggak usah, Dok," jawab suamiku.
"Kalau begitu, seratus tujuh pulu ribu."
Konsultasi dan pemeriksaan yang paling hanya memakan waktu sekitar lima belas menit itu memakan biaya 170 ribu. Ya, tiga lembar uang lima puluh ribuan dan selembar dua puluh ribuan saja.

S-A-J-A?

Sebetulnya kalau mau jujur, berat juga mengangsurkan lembaran-lembaran biru itu ke tangan lelaki tua yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis itu. Tapi mau bagaimana lagi? Memang segitu dia mematok harga untuk konsultasi dan pemeriksaan. Tak usah menyebut berapa uang yang mesti kusetor waktu menebus resepnya di apotik ya?

Kadang aku bingung mengapa dokter mematok harga setinggi itu. Mungkin itu "harga Jakarta". Sejak tinggal di Jakarta, dompetku memang harus menyesuaikan diri. Semasa di Jogja, untuk berobat di dokter spesialis, paling mahal aku "cukup" mengangsurkan uang sebesar enam puluh ribu. Kalau dokter umum dekat rumah, dua puluh ribu sudah dengan obat selama tiga sampai lima hari. Tetapi rasanya di Jakarta ini tak mungkin aku cukup membawa uang lima puluh ribu ketika hendak ke dokter. Begitu pula ketika hendak ke dokter di daerah Pulomas itu, rupanya uang seratus ribu tak cukup untuk menukar waktu dan konsultasi dengannya. Huh!

Bulan lalu, ketika aku kumpul-kumpul dengan keluarga besarku, aku sempat mengobrol dengan keponakanku yang sudah jadi dokter, Sita. Waktu itu kasus Prita masih menghangat. Menanggapi hal itu dia bercerita, "Sebenarnya, salahnya RS OMNI Internasional sendiri juga sih, kenapa mereka menuntut Prita. Sekarang kabarnya rumah sakit itu sepi banget. Nggak ada pasien. Yang ada di parkiran cuma ada mobil dokter saja."

"Oya? Sampai segitunya ya?" kataku.

"Iya," lanjutnya. "Dan semakin rumah sakit atau dokter itu money oriented, makin banyak kasus seperti Prita itu."

Hmm... jadi UUD to? Ujung-ujungnya Duit.

Dari obrolan dengan keponakanku tadi, aku tahu bahwa biaya untuk sekolah dokter spesialis itu muahaaal banget. Bisa sekitar 300-an juta. Maaf aku lupa-lupa ingat itu untuk dokter spesialis apa dan apakah untuk biaya masuk saja atau biaya selama kuliah. Tapi kira-kira segitu deh, dan bisa bisa lebih. Lalu ketika seseorang mengambil pendidikan dokter spesialis, ia tak boleh berpraktik sebagai dokter. Jadi ya mesti melulu sekolah saja. Bisa dibilang tak ada pemasukan lagi, dan itu yang kadang dirasa memberatkan. Bagi orang yang benar-benar berduit, itu tak masalah. Tapi untuk orang-orang pas-pasan, ya berat juga.

Mengingat hal itu, aku jadi berpikir ya pantas saja dokter-dokter (terutama dokter spesialis) mematok tarif yang mahal. Wong sekolahnya saja mahal. Jadi, jangan sakit deh! Ibuku bilang mendingan uangnya untuk makan daripada untuk bayar dokter :)