Belajar Mandiri dengan Pulang Sekolah Sendiri
Di Jakarta ini aku adalah salah satu pengguna transportasi publik. Itu istilah kerennya dari angkot sebenarnya hehe. Berhubung aku tidak bekerja kantoran, aku hampir tidak pernah naik angkot di pagi hari. Tapi suamiku yang seringnya berangkat kerja ketika matahari masih malu-malu menampakkan kegarangannya, tahu betul apa bedanya naik angkot di masa liburan sekolah anak-anak dan masa sekolah seperti ini. Katanya sih, begitu anak-anak masuk sekolah, jalanan Jakarta pada pagi hari lebih padat.
Yang aku tahu sih, kalau naik metromini di siang hari jam bubaran anak sekolah, seputaran Jalan Pemuda dekat SD Tarakanita dan Labschool biasanya memang macet. Kendaraan yang lewat di situ serasa merayap. Kepadatan itu disebabkan anak-anak sekolah yang sudah pulang menghambur di pinggir jalan untuk membeli jajan di beberapa penjual makanan depan sekolah, plus banyaknya kendaraan yang parkir di depan sekolah. Sepertinya itu kendaraan para penjemput anak-anak itu.
Melihat anak-anak yang sedang bubaran sekolah itu mau tak mau mengingatkan aku ketika masih sekolah dulu. Aku tak ingat, kapan aku mulai pulang sekolah sendiri. Mungkin mulai kelas 3 SD, atau malah kelas 2 SD ya? Yang jelas, ketika masih TK dan kelas 1 SD, aku masih dijemput oleh orang2 rumah; entah itu saudara yang tinggal di rumahku atau Bapak. Yang aku ingat, di hari ketika aku mulai pulang sekolah sendiri, aku diberi uang untuk naik becak. Dulu, ongkos becak dari sekolah ke rumah cuma tiga ratus rupiah. Kalau sekarang sih mungkin sudah naik jadi sekitar lima ribu. Jarak dari sekolah ke rumah mungkin sekitar 1,5-2 kilometer. Kalau jalan kaki paling lama 30 menitan lah. Nah, waktu itu uang tiga ratus rupiah itu banyaaak banget. Harga jajanan waktu itu hanya 25 rupiah, jadi kalau sehari dapat uang saku 50 rupiah saja, itu sudah cukup. Kalau mau jajan agak mewah, 100 rupiah cukup deh. Jadi, kalau 300 rupiah, itu sudah bisa jajan banyaaaak banget. Hahaha.
Seingatku, ada seorang tukang becak yang wajahnya sudah cukup familier bagiku, dan aku kadang naik becaknya. Biarpun sudah cukup kenal, aku kadang masih tanya berapa ongkos becak ke rumah, dan kadang menawar. (Hihi, lucu juga ya kalau membayangkan aku yang masih kelas 2 SD menawar becak.) Tapi bisa dibilang aku jarang sekali pulang sekolah naik becak.Ya, seingatku aku lebih sering jalan kaki pulang ke rumah. Rasanya senang bisa berhemat dengan tidak naik becak. Dengan begitu, siangnya aku bisa jajan di warung depan rumah hehehe.
Kalau kupikir-pikir, aku kok berani ya pulang sendiri waktu itu? Untuk ukuran anak kecil dan ukuran warga di kotaku, jarak antara sekolahku (SD) dan rumahku itu cukup jauh. Mungkin itu karena aku merasa aman di kotaku, ya? Lagi pula, di kota sekecil Madiun, tak ada bus kota yang suka ngebut dan tentunya tak ada kemacetan. Aku cukup berani menyeberang Jalan Pahlawan yang cukup lebar itu. Sendiri loh! Soalnya kebanyakan temanku dijemput. Dan tak ada teman yang rumahnya searah denganku. Waktu itu biasanya aku berjalan kaki lewat jalan yang cukup sepi dan teduh, kadang lewat gang-gang kecil yang kukenal. Kadang ada beberapa becak yang menawari supaya aku naik becak, tapi aku lebih suka menggeleng dan meneruskan langkah.
Acara jalan kaki pulang sekolah itu berakhir ketika aku naik kelas 4 SD. Ketika duduk di kelas 4 aku sudah bisa naik sepeda. Jadi, berangkat dan pulang sekolah, aku naik sepeda sendiri.
Di Jakarta ini, aku jarang bertemu anak SD yang pulang sekolah sendiri dengan naik angkot. Biasanya yang sudah berani pulang sekolah naik angkot sendiri adalah anak SMP. Anak SD masih banyak yang diantar jemput oleh orang tuanya atau ikut mobil antar jemput. Mungkin itu karena orang tua mereka tidak tega membiarkan anak mereka menyusuri lalu lintas Jakarta yang ganas ini seorang diri. Belum lagi tampaknya isu tentang penculikan anak juga masih ada saja. Btw, waktu itu aku kok nggak kepikir bakal diculik ya? Halah, lagian siapa yang mau menculik bocah kurus dan hitam kaya aku ini? Hihi.
Showing posts with label masa kecil. Show all posts
Showing posts with label masa kecil. Show all posts
Sunday, July 26, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:9:44 PM
|
Category :
Jakarta,
macet,
Madiun,
masa kecil,
nostalgia,
sekolah dasar
|
Subscribe to:
Posts (Atom)