Buku yang Mubazir?
Salah satu naskah terjemahan yang paling aku sukai adalah buku cerita anak. Sebenarnya itu karena aku suka melihat gambarnya yang bagus-bagus, sih. Mungkin juga karena aku belum kesampaian menulis buku cerita untuk anak. Hehehe. Jadi, ya setidaknya menerjemahkan buku anak-anak dulu deh.
Suatu kali aku mendapatkan buku cerita anak yang membahas sampah dan daur ulang sampah. Di situ diceritakan pertama-tama sampah dipilah lalu setelah itu dilakukan daur ulang sesuai dengan jenisnya. Penjelasannya juga sangat mudah dipahami bagi anak-anak. Apalagi dengan adanya gambar-gambar yang lucu-lucu itu, kurasa anak-anak bakal senang membacanya. Pokoknya keren deh! Sayangnya, buku itu adalah buatan orang dari negara yang berada nun jauh di sana.
Lalu kenapa kalau itu buku impor? Bagiku, hal itu bermasalah. Bukan ... bukannya mau bilang isi buku jelek. Buku itu bagus kok. Dan memang seharusnya begitu. Masalahnya, di Indonesia kan tidak seperti itu. Masyarakat membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu. Paling-paling yang memilah justru para pemulung yang dengan rajinnya mengaduk-aduk bak sampah. Kalau begitu, bagaimana anak-anak akan menerapkan apa yang sudah dibacanya?
Suatu kali aku mengatakan hal tersebut kepada editor yang memberiku buku terjemahan itu. "Mbak, buku-buku tentang sampah dan daur ulang itu bagus. Tapi sepertinya anak-anak akan kesulitan untuk menerapkannya," kataku.
"Iya sih. Tapi ya semoga anak-anak itu kalau sudah besar bisa menerapkannya," begitu jawab editor itu.
Rasanya geli juga mendengar jawaban tersebut. Tapi yah, mungkin itu jawaban terbaik yang bisa dia berikan. Coba pikir, kalau sejak kecil seseorang sudah terbiasa untuk tidak memilah sampah, apakah ketika dia beranjak dewasa, dia akan serta merta memilah sampah dan melakukan daur ulang? Kurasa pemilahan sampah dan daur ulang sulit dilakukan jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang konkret. Ya, memang kadang di beberapa tempat ada dua tempat sampah: untuk sampah kering dan sampah basah. Tapi sampah di situ juga masih bercampur. Jadi, dua macam tempat sampah itu rasanya kok mubazir ya?
Aku sendiri tak tahu bagaimana mengurai masalah sampah ini. Katakanlah kita mengajari anak-anak supaya memilah sampah, tapi jika orang dewasa di sekitar mereka tidak melakukannya, akhirnya ajaran itu tak ubahnya seperti slogan-slogan di spanduk pinggir jalan. Tidak ada artinya apa-apa. Tapi bagaimana orang-orang dewasa di negeri ini bisa meniru warga di negara maju yang sudah mulai mengolah sampah jika tidak ada sistem yang membuat kita melakukan hal itu? Menunggu pemerintah? Terlalu lama rasanya, dan sepertinya pemerintah tidak ada kepedulian akan hal itu.
Akhirnya, aku tak tahu buku-buku anak tentang sampah dan daur ulang itu mubazir atau tidak. Semoga saja tidak.
Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Wednesday, July 22, 2009
Monday, February 02, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:4:26 PM
|
Category :
bahasa Indonesia,
bahasa Inggris,
terjemahan
|
Susah-susah Gampangnya Menerjemahkan Teks
Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia
Pernah bekerja di sebuah penerbitan buku membuatku jadi tahu apa yang dikerjakan sebelum sebuah buku terbit. Dulu tahunya cuma beli buku trus baca sampai habis. Gitu aja. Dan sebelum kerja di penerbitan, aku juga tidak terlalu memerhatikan bahasa. Baru setelah sedikit-sedikit menulis artikel, aku jadi mulai memerhatikan susunan kalimat, hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf, tanda baca, dll. Itu adalah hal-hal sepele, tapi penting. Ibarat memasak masakan, hal-hal itu seperti bumbu. Kalau masakan kebanyakan garam, kan tidak enak :)
Nah, biasanya yang memerhatikan hal-hal itu adalah orang yang memang sudah biasa menulis atau dia adalah seorang penulis. Minimal orang yang suka membaca. Yang lain? Wah, jangan terlalu banyak berharap.
Suatu kali aku ditelepon kakakku. Berikut ini adalah kutipan obrolan kami.
Kakak: "Kemarin aku butuh orang untuk menerjemahkan angket, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dosenku minta yang menerjemahkan adalah orang yang benar-benar pernah tinggal di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Dan dia minta yang menerjemahkan nggak cuma satu orang. Supaya bisa dibandingkan. Jadi, aku pakai dua orang. Tapi kok hasilnya nggak bagus ya? Lebih bagus waktu aku minta kamu yg menerjemahkan."
Aku: (Hihihi ... GR juga nih dibilang terjemahanku bagus.) "Yah, emang begitu kok."
Kakak: "Begitu piye to?"
Aku: "Orang yang nggak biasa dengan bahasa tulis, belum tentu bisa menerjemahkan dengan baik. Mungkin dia mengerti apa maksud teks aslinya, tetapi dia belum tentu bisa menuliskan terjemahan itu dengan baik. Biasanya sih menuliskan terjemahannya asal."
Kakak: "Asal bagaimana?"
Aku: "Ya, asal. Apa yang muncul di kepala langsung ditulis. Kalimatnya tidak ditata. Orang yang enggak bisa menulis, memang tidak biasa menyusun kalimat. Menyusun kalimat butuh keterampilan tersendiri. Pilihan kata yang dipakai juga belum tentu bagus."
Kakak: "Oh gitu ya? Kalau begitu, aku kayaknya butuh orang yang bisa merapikan terjemahan itu deh. Kamu ada teman nggak?"
Aku: "Ada. Bla ... bla ... bla."
Obrolan selanjutnya nggak perlu dituliskan ya. Kepanjangan nanti :)
Menurutku, orang Indonesia yang bisa cas cis cus bahasa Inggris, belum tentu bisa menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan baik. Tidak jaminan. Kalau dia bukan pembaca atau penulis yang baik, biasanya sih ... nggak usah ngarepin deh. Penerjemah yang bagus biasanya juga penulis yang bagus pula. Misalnya, Sapardi, HB. Yasin, Pramoedya, dll. Bahasa lisan dan bahasa tulis itu berbeda. Dan sayangnya di Indonesia, bahasa tulis memang belum terlalu bagus.
Penerjemahan bukan soal menerjemahkan kata per kata, tetapi nuansa yang terkandung di dalamnya harus ikut diterjemahkan. Diksi atau pilihan kata merupakan hal yang mutlak harus diperhatikan. Hal-hal seperti itu diasah lewat kebiasaan membaca dan menulis :)
Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia
Pernah bekerja di sebuah penerbitan buku membuatku jadi tahu apa yang dikerjakan sebelum sebuah buku terbit. Dulu tahunya cuma beli buku trus baca sampai habis. Gitu aja. Dan sebelum kerja di penerbitan, aku juga tidak terlalu memerhatikan bahasa. Baru setelah sedikit-sedikit menulis artikel, aku jadi mulai memerhatikan susunan kalimat, hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf, tanda baca, dll. Itu adalah hal-hal sepele, tapi penting. Ibarat memasak masakan, hal-hal itu seperti bumbu. Kalau masakan kebanyakan garam, kan tidak enak :)
Nah, biasanya yang memerhatikan hal-hal itu adalah orang yang memang sudah biasa menulis atau dia adalah seorang penulis. Minimal orang yang suka membaca. Yang lain? Wah, jangan terlalu banyak berharap.
Suatu kali aku ditelepon kakakku. Berikut ini adalah kutipan obrolan kami.
Kakak: "Kemarin aku butuh orang untuk menerjemahkan angket, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dosenku minta yang menerjemahkan adalah orang yang benar-benar pernah tinggal di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Dan dia minta yang menerjemahkan nggak cuma satu orang. Supaya bisa dibandingkan. Jadi, aku pakai dua orang. Tapi kok hasilnya nggak bagus ya? Lebih bagus waktu aku minta kamu yg menerjemahkan."
Aku: (Hihihi ... GR juga nih dibilang terjemahanku bagus.) "Yah, emang begitu kok."
Kakak: "Begitu piye to?"
Aku: "Orang yang nggak biasa dengan bahasa tulis, belum tentu bisa menerjemahkan dengan baik. Mungkin dia mengerti apa maksud teks aslinya, tetapi dia belum tentu bisa menuliskan terjemahan itu dengan baik. Biasanya sih menuliskan terjemahannya asal."
Kakak: "Asal bagaimana?"
Aku: "Ya, asal. Apa yang muncul di kepala langsung ditulis. Kalimatnya tidak ditata. Orang yang enggak bisa menulis, memang tidak biasa menyusun kalimat. Menyusun kalimat butuh keterampilan tersendiri. Pilihan kata yang dipakai juga belum tentu bagus."
Kakak: "Oh gitu ya? Kalau begitu, aku kayaknya butuh orang yang bisa merapikan terjemahan itu deh. Kamu ada teman nggak?"
Aku: "Ada. Bla ... bla ... bla."
Obrolan selanjutnya nggak perlu dituliskan ya. Kepanjangan nanti :)
Menurutku, orang Indonesia yang bisa cas cis cus bahasa Inggris, belum tentu bisa menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan baik. Tidak jaminan. Kalau dia bukan pembaca atau penulis yang baik, biasanya sih ... nggak usah ngarepin deh. Penerjemah yang bagus biasanya juga penulis yang bagus pula. Misalnya, Sapardi, HB. Yasin, Pramoedya, dll. Bahasa lisan dan bahasa tulis itu berbeda. Dan sayangnya di Indonesia, bahasa tulis memang belum terlalu bagus.
Penerjemahan bukan soal menerjemahkan kata per kata, tetapi nuansa yang terkandung di dalamnya harus ikut diterjemahkan. Diksi atau pilihan kata merupakan hal yang mutlak harus diperhatikan. Hal-hal seperti itu diasah lewat kebiasaan membaca dan menulis :)
Subscribe to:
Posts (Atom)