Antara Akreditasi dan Tukibul
Pas di asrama dulu, kami masing-masing dianugerahi nama unik, sesuai dengan karakteristiknya. Salah satu nama unik temanku adalah Tukibul. Kenapa diberi nama begitu? Karena dia memang tukang kibul. Saudara sepupunya pun mengakui kelihaiannya dalam kibul mengibul.
Nah, sekarang apa hubungannya antara akreditasi dan tukibul? Ternyata, akreditasi memiliki unsur tukibul. Ceritanya, semalam suamiku yang baru saja pulang langsung mengungkapkan bahwa seorang temannya sedang stres. Teman suamiku adalah dosen di PTS cukup besar di Jakarta. "Memangnya kenapa dia stres?" tanyaku. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengan temannya itu. Tapi namanya sudah cukup akrab di telingaku.
"Dia dapat surat edaran di kampusnya."
"Lha surat edaran kan sudah biasa to?"
"Isinya itu lo yang enggak biasa."
"Apa isinya?" Aku bertanya-tanya apakah surat edaran itu diselipi telor dadar ya? Hi hi hi.
"Katanya dia enggak boleh ngasih nilai di bawah B. Dan kalau ngasih bimbingan skripsi, dalam 3 bulan harus sudah selesai."
"Kalau mahasiswanya dodol bagaimana?"
"Tauk deh. Kamu tahu sendiri, mahasiswa kan banyak juga yang dodol."
"Lha memang kenapa sih tidak boleh memberi nilai di bawah B dan bimbingan skripsinya harus selesai dalam 3 bulan?"
"Biar penilaian akreditasinya tidak turun."
Horo toyoh, bagaimana itu? (Horo toyoh itu apa ya terjemahannya yang pas dalam bahasa Indonesia?)
Lha kalau begitu caranya, perguruan tinggi apakah masih bisa dipercaya ya? Memang sih, mana ada anak yang tidak senang nilainya A dan B semua? IP-nya selalu 3? Hebat kan? Jadi, tak ada yang namanya mahasiswa yang bodoh.
Ah, sebenarnya bukan mahasiswa bodoh. Tetapi lebih tepatnya, mahasiswa itu dituntut untuk belajar lebih tekun lagi. Misalnya aku nih, aku akan dengan serta merta masuk dalam golongan mahasiswa bodoh kalau untuk mata kuliah kimia. (Lha wong pas ujian kimia di SMA aku selalu keringat dingin, dan sudah seneng banget kalau nilaiku cuma 6.) Eh tapi sebentar, memangnya di Sastra Inggris ada mata kuliah kimia ya? Ha ha ha. Ya enggak, sih. Tapi gampangannya ya begitu deh. Aku memang lemah untuk mata pelajaran tertentu. Jadi jangan heran kalau aku yang pas SMA termasuk anak A1 trus mak bedunduk masuk jurusan Sastra Inggris. Alasan awalnya cuma satu: biar tidak ketemu matematika dan teman-temannya. He he he.
Tapi bagaimanapun, kupikir mahasiswa butuh penilaian yang jujur. Kalau memang dia pantas dapat nilai A, ya kasihlah nilai A. Kalau memang dia hanya pantas dikasih nilai D, ya jangan dikatrol jadi C. Apa bagusnya jika nilai A atau B itu katrolan atau yang lebih parah lagi cuma bohong-bohongan, dan itu dilakukan hanya semata-mata agar universitas yang bersangkutan bisa mendapatkan akreditasi A? Dan sudah bisa ditebak, apa gunanya akreditasi A itu? Yak betul, untuk mendapatkan mahasiswa banyak-banyak. Mahasiswa yang banyak berarti uang yang masuk semakin banyak pula. Akreditasi itu semacam label yang menunjukkan bahwa universitas X itu bagus; nilainya A. Ibarat barang, dia itu kualitas nomer 1 lah. Jadi kalau sampeyan masuk ke situ, nantinya sampeyan jadi pinter, laku di dunia kerja (halah, kaya barang dagangan saja). Begitulah.
Hal itu sebenarnya tak hanya merugikan mahasiswa, tetapi dosen juga ikut mumet. Suami dan kakakku adalah tenaga pengajar alias dosen. Jadi, aku tahulah betapa stresnya mereka kalau para mahasiswanya dapat nilai jelek, padahal bahan yang diujikan sudah pernah disampaikan semua. Kuliah tambahan juga diberikan dengan murah hatinya. E, lha kok nilai mahasiswanya masih jeblok? Piye to?
Dulu pas aku kuliah, kalau semua bahan kuliah dipelajari dengan baik alias bisa dikuasai, nilai A atau B itu gampang didapat. Enggak aneh-aneh lah. Tapi ya memang tidak semua temanku trus langsung dapat A atau B. Ada saja yang dapat C atau D. Apalagi kalau yang ketahuan nyontek, langsung dapat D. Tapi itu kira-kira 13 tahun yang lalu. (Hi hi hi. Ketahuan deh tuanya.) Enggak tahu ya kalau sekarang.
Aku akhirnya hanya berpikir, kalau lembaga pendidikan saja sudah jadi tukibul, bagaimana jadinya bangsa ini ya? Kalau semua ujung-ujungnya duit, bisa hancur semuanya nih. Tinggal tunggu waktu saja.
Wednesday, April 29, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:4:44 PM
|
Category :
akreditasi,
duit,
Jakarta,
kuliah,
universitas
|
Pilih Buku Bermutu atau Buku Laris?
Aku senang sekali jika ada kesempatan ke toko buku. Entah itu toko buku yang menjual buku-buku bahasa Indonesia, maupun buku bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Rasanya seperti masuk ke dunia yang memelukku erat-erat. Menyenangkan sekali. Buku-buku itu seperti ribuan pintu yang membawaku ke mana saja.
Nah, tapi belakangan ini ketika aku ke toko buku lokal, aku kadang bertanya-tanya, kenapa ya buku-buku yang nampang di toko buku sekarang kok agak-agak membosankan. Misalnya nih, jenisnya tuh ya buku-buku motivasional, buku-buku lucu, buku fiksi macam teenlit begitu, atau buku jenis how to. Dan itulah yang sepertinya paling laku (mengingat begitu banyak buku semacam itu yang bertebaran di mana-mana). Berbeda dengan toko buku-buku asing, biarpun tokonya kecil, kesannya yang ditampilkan begitu beragam dan banyak yang menarik. Mau cari buku apa saja ada. Dari tema yang remeh-temeh sampai yang membuat kening berkerut.
Memang sekarang ada saja penerbit yang hanya menerbitkan buku-buku tren. Dan sepertinya penerbit-penerbit seperti itulah yang banyak meraih untung. Lha buku-bukunya laku kok. Berbeda dengan penerbit-penerbit yang sepertinya sangat pemilih. Biasanya mereka menerbitkan yang bermutu. Betul-betul mengisi otak dan memperkaya wawasan. Tapi yah, untuk penerbit yang semacam itu, biasanya buku-bukunya tidak terlalu laku.
Masyarakat kita memang seleranya gampang-gampang susah. Aku sendiri yang sudah beberapa tahun ini berkecimpung di dunia buku kadang kesulitan untuk menebak apakah buku X bakal laku atau tidak. Yang kukira bakal laku, ternyata jeblok di pasaran. Aku juga bingung jika ada buku yang menurutku biasa banget (dan bahkan cenderung kubilang jelek), e... malah laku keras dan penulisnya sekarang menjadi seleb. Bingung. Aku cuma berpikir, orang-orang yang menyanjung buku-buku itu apa nggak pernah baca buku yang lebih bagus ya?
Mengikuti selera pasar. Tampaknya itulah yang sekarang dipegang penerbit. Gampangnya nih, kalau masyarakat pengin masuk sumur, nah penerbit-penerbit yang cuma mengikuti selera pasar tuh ya membuatkan sumur. Dodol kan? Nah, kapan ya penerbit di Indonesia bisa benar-benar mendidik pasar? Dan bagi penulis, tinggal pilih saja, mau jadi penulis buku laris atau penulis buku bermutu. Buku laris biasanya jarang ada yang bermutu (karena penulisannya biasanya "kejar tayang"). Kalau mau nulis buku yang bermutu, biasanya butuh penelitian serius. Tapi yang kaya begini, biasanya jarang-jarang ada yang laku banget. Nah, sekarang tinggal pilih saja, mau jadi penulis yang seperti apa. Jadi blogger aja kali ya yang gampang? Hehehe.
Aku senang sekali jika ada kesempatan ke toko buku. Entah itu toko buku yang menjual buku-buku bahasa Indonesia, maupun buku bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Rasanya seperti masuk ke dunia yang memelukku erat-erat. Menyenangkan sekali. Buku-buku itu seperti ribuan pintu yang membawaku ke mana saja.
Nah, tapi belakangan ini ketika aku ke toko buku lokal, aku kadang bertanya-tanya, kenapa ya buku-buku yang nampang di toko buku sekarang kok agak-agak membosankan. Misalnya nih, jenisnya tuh ya buku-buku motivasional, buku-buku lucu, buku fiksi macam teenlit begitu, atau buku jenis how to. Dan itulah yang sepertinya paling laku (mengingat begitu banyak buku semacam itu yang bertebaran di mana-mana). Berbeda dengan toko buku-buku asing, biarpun tokonya kecil, kesannya yang ditampilkan begitu beragam dan banyak yang menarik. Mau cari buku apa saja ada. Dari tema yang remeh-temeh sampai yang membuat kening berkerut.
Memang sekarang ada saja penerbit yang hanya menerbitkan buku-buku tren. Dan sepertinya penerbit-penerbit seperti itulah yang banyak meraih untung. Lha buku-bukunya laku kok. Berbeda dengan penerbit-penerbit yang sepertinya sangat pemilih. Biasanya mereka menerbitkan yang bermutu. Betul-betul mengisi otak dan memperkaya wawasan. Tapi yah, untuk penerbit yang semacam itu, biasanya buku-bukunya tidak terlalu laku.
Masyarakat kita memang seleranya gampang-gampang susah. Aku sendiri yang sudah beberapa tahun ini berkecimpung di dunia buku kadang kesulitan untuk menebak apakah buku X bakal laku atau tidak. Yang kukira bakal laku, ternyata jeblok di pasaran. Aku juga bingung jika ada buku yang menurutku biasa banget (dan bahkan cenderung kubilang jelek), e... malah laku keras dan penulisnya sekarang menjadi seleb. Bingung. Aku cuma berpikir, orang-orang yang menyanjung buku-buku itu apa nggak pernah baca buku yang lebih bagus ya?
Mengikuti selera pasar. Tampaknya itulah yang sekarang dipegang penerbit. Gampangnya nih, kalau masyarakat pengin masuk sumur, nah penerbit-penerbit yang cuma mengikuti selera pasar tuh ya membuatkan sumur. Dodol kan? Nah, kapan ya penerbit di Indonesia bisa benar-benar mendidik pasar? Dan bagi penulis, tinggal pilih saja, mau jadi penulis buku laris atau penulis buku bermutu. Buku laris biasanya jarang ada yang bermutu (karena penulisannya biasanya "kejar tayang"). Kalau mau nulis buku yang bermutu, biasanya butuh penelitian serius. Tapi yang kaya begini, biasanya jarang-jarang ada yang laku banget. Nah, sekarang tinggal pilih saja, mau jadi penulis yang seperti apa. Jadi blogger aja kali ya yang gampang? Hehehe.
Monday, April 27, 2009
Home Sweet Home
Pulang ke Jogja memang selalu membuatku semangat, karena itu berarti aku lepas dari polusi Jakarta yang membuatku terbatuk-batuk. Dan lagi, entah kenapa, aku rasanya sayang banget dengan rumah Jogja. Mungkin rasa sayang itu pula yang membuatku tak pernah "diganggu" kalau tidur di kamar depan. Hi hi hi. Kata kakakku (sang pemilik kamar yang sebenarnya), dia sering tindihan kalau tidur di situ. Dan aku saksinya. Jadi, dulu aku sering menemaninya sampai dia benar-benar tidur pulas. Soalnya, pas menjelang dia pulas, hampir selalu tindihan. Jadi, aku mesti membangunkannya. Hal itu makin parah setelah aku ke Jakarta, katanya. Karena itu, akhirnya dia pindah ke kamar sebelah belakang. Trus, suatu kali , pacar kakakku tidur di kamar depan. Tiba-tiba dia terbangun karena rasanya ada duduk di sebelahnya. Padahal kenyataannya, tak ada siapa-siapa! Hiiii. Kakak sepupuku dulu juga tak pernah bisa tidur di kamar situ. Mimpi buruk terus katanya.
Bagaimana dengan aku? Sama sekali tak pernah diganggu tuh! Hebat kan? Dulu suamiku juga pernah diganggu. Tapi katanya setelah "berkenalan", dia tak pernah diganggu lagi. Akhirnya, kamar itu selalu kosong, kecuali jika ada tamu. Hahaha. Jadi, siap-siap tak bisa tidur ya kalau mau nginep di rumahku.
Jadi, ceritanya pas Pemilu kemarin aku pulang. Apesnya, kereta Fajar Utama yang biasanya cukup nyaman, kali itu penuh banget! Dan panasnya nggak ketulungan. Akhirnya aku sukses masuk angin. Dan seperti biasa, kalau masuk angin parah, aku jadi diare dan nggak bisa makan karena mual banget!
Akhirnya, karena perutku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kram, aku pun meluncur saja ke Panti Rapih. Akhirnya ... akhirnya aku pun nginep di sana selama 2 malam. Huh! :( Yang paling mengganggu adalah infus. Hiks! Aku paling benci diinfus. Nyut-nyutan rasanya. Budeku sampai bilang begini, "Pulang ke Jogja, kok yang dikangeni kamarnya (yang di Panti Rapih)." Huuu... maunya sih nggak opname, Bude. Sebenarnya setelah nginep 1 malam, aku sudah merasa sehat. Tapi dokter memaksaku untuk tidur semalam lagi di sana. Betul-betul liburan di rumah sakit deh. Aku tak bisa misa Paskah sama sekali. Aku akhirnya cuma bisa membayangkan Yesus meninabobokkan aku. "Tak lelo-lelo ledung..." Untunglah di Panti Rapih tiap malam dapat kiriman hosti.
Gara-gara opname itulah, liburan kali ini suamiku akhirnya lebih banyak menemani aku alias tidak ke mana-mana. Kasihan dia. Padahal sudah ada daftar beberapa makanan yang harus disantap kalau di Jogja. Untunglah kakakku berbaik hati membelikan kami Mi Jawa Pak Paino di Bintaran. Wah, uenak tenan! Di Jakarta sini susah betul cari Mi Jawa. Kalaupun ada, Mi Jawa-nya gadungan, karena tidak pakai telor bebek dan dagingnya bukan ayam kampung.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku baru bisa ngeluyur ketemu teman-teman. Ke Kanisius dan mampir ke kantorku yang lama. Banyak dapat cerita plus wawasan. Hmmm...
Akhirnya, setelah seminggu lebih di Jogja, aku pun balik ke Jakarta. Saat itu, suamiku berencana menyekolahkan komputer kami, alias menginstall ulang. Wah, ternyata ribet juga! Dan setelah melewati masa-masa disconnected, hari ini aku kembali muncul ke dunia maya. Nanti ya aku cerita-cerita lagi. Hehehe!
*foto rumah Jogjaku itu kuambil pada pagi hari 17 April '09, sebelum berangkat kembali ke Jakarta. Harap maklum kalau tidak jelas, wong fotografer amatiran.
Tuesday, April 07, 2009
Menolong dengan Tulisan
Beberapa waktu yang lalu, aku dikirimi beberapa tulisan oleh temanku. Akhir-akhir ini dia memang rajin menulis, dan karena itu dia pengin minta komentarku atas tulisan-tulisan yang dibuatnya. Sebagian besar tulisannya berupa hasil permenungannya. Ada yang tentang refleksinya saat berdoa, pengalaman hidupnya di dalam komunitas, teman-temannya, dan masih banyak lagi. Aku sih senang-senang saja membaca tulisannya. Dan memang ada beberapa tulisannya yang rasanya pas betul dengan hatiku. Pas membaca tuh rasanya mak ... nyeeesss. Adem. Tentrem.
Iseng-iseng aku bertanya kepadanya, "Apa alasanmu menulis?" Dia menjawab, "Menurutku dengan menulis, aku bisa menolong orang lain."
"Menolong orang lain?"
"Iya, dengan menulis, aku bisa membagikan pengalaman rohaniku. Dan aku pikir, aku bisa menolong orang lain untuk bisa bertumbuh secara rohani."
Wah, bahasanya itu lo! Harap maklum, temanku ini seorang suster. Jadi, yang dia tuliskan dan jawabannya adalah seputar kehidupan rohaninya. Tapi jika memang itu salah satu tujuannya menulis, setidaknya aku sudah "merasakan bantuannya" saat membaca beberapa tulisannya. Dan jujur saja, jawaban temanku itu terngiang-ngiang saat aku mulai membuat tulisan. Rasanya indah sekali ya jika kita bisa menolong orang lain dengan tulisan-tulisan yang kita buat.
Beberapa waktu yang lalu, aku dikirimi beberapa tulisan oleh temanku. Akhir-akhir ini dia memang rajin menulis, dan karena itu dia pengin minta komentarku atas tulisan-tulisan yang dibuatnya. Sebagian besar tulisannya berupa hasil permenungannya. Ada yang tentang refleksinya saat berdoa, pengalaman hidupnya di dalam komunitas, teman-temannya, dan masih banyak lagi. Aku sih senang-senang saja membaca tulisannya. Dan memang ada beberapa tulisannya yang rasanya pas betul dengan hatiku. Pas membaca tuh rasanya mak ... nyeeesss. Adem. Tentrem.
Iseng-iseng aku bertanya kepadanya, "Apa alasanmu menulis?" Dia menjawab, "Menurutku dengan menulis, aku bisa menolong orang lain."
"Menolong orang lain?"
"Iya, dengan menulis, aku bisa membagikan pengalaman rohaniku. Dan aku pikir, aku bisa menolong orang lain untuk bisa bertumbuh secara rohani."
Wah, bahasanya itu lo! Harap maklum, temanku ini seorang suster. Jadi, yang dia tuliskan dan jawabannya adalah seputar kehidupan rohaninya. Tapi jika memang itu salah satu tujuannya menulis, setidaknya aku sudah "merasakan bantuannya" saat membaca beberapa tulisannya. Dan jujur saja, jawaban temanku itu terngiang-ngiang saat aku mulai membuat tulisan. Rasanya indah sekali ya jika kita bisa menolong orang lain dengan tulisan-tulisan yang kita buat.
Friday, April 03, 2009

Kangen (Antara Mbah Kung dan Sampah)
Entah kenapa kok tiba-tiba aku kangen pada mendiang kakekku (ayah dari ibuku)--Mbah Kung.
Dalam ingatanku, Mbah Kung adalah orang yang sangat rapi. Agak mengherankan karena biasanya laki-laki kan agak ceroboh dan tidak rapi (hmmm ... kaya siapa ya?). Tapi Mbah Kung tidak. Hal ini bisa dilihat dari deretan buku yang tertata rapi di raknya. Rapiiii banget. Tak ada satu pun buku yang tercecer. Setiap kali mengambil buku, dia selalu mengembalikannya lagi dengan tetap menjaga kerapian.
Kekangenanku ini biasanya muncul saat aku membuang sampah. Aneh ya? Sebenarnya tak terlalu aneh jika kalian mengenal Mbah Kung. Zaman aku masih SD--di mana waktu itu global warming masih belum banyak dibicarakan orang--Mbah Kung sudah memilah sampah. Dan daun-daun yang rontok di halaman rumahnya dikumpulkan di sebuah lubang, lalu dibuat pupuk. Bahkan cangkang telur pun dipakai buat pupuk oleh Mbah Kung. Jadi, cangkang telur itu dihancurkan dan ditaburkan begitu saja di pot-pot bunga yang berjajar rapi di serambi depan. Aku tak tahu, apakah tanaman di halaman rumah Mbah Kung itu subur-subur karena pupuk buatannya sendiri atau karena memang "dicintai". Maklum, Mbah Kung itu bisa berjam-jam mengurus tanaman. Bisa dari pagi sampai siang. Trus tidur siang sebentar, sorenya melanjutkan lagi mengurus tanaman. Bagaimana nggak subur tanamannya? Wong ditunggui dan dirawat tiap hari. Seingatku tak pernah kulihat rumput liar yang sempat tumbuh di halaman rumahnya.
Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Mbah Kung jika saat ini Mbah Kung tinggal bersamaku. Rumah yang kutempati ini bisa dibilang tak punya halaman. Ada sih, tapi cuma kira-kira 1,5 meter. Itu pun sudah dipasangi keramik. Jadi, sama sekali tak ada tanah.
Setiap kali membuang sampah, aku kadang merasa agak "sedih". (Aku sebenarnya bingung, apakah kata "sedih" itu tepat untuk menggambarkan perasaanku. Yang jelas sih rasanya gimanaa gitu. Nggak puas, nggak lega, merasa bersalah, campur aduk lah!) Walaupun sudah kupilah sampahnya, aku sebenarnya merindukan halaman yang cukup luas, yang tidak dibeton atau dikeramik. Aku ingin mengikuti jejak Mbah Kung yang bisa membuat pupuk sendiri di pojok halamannya. Memang di depan rumah aku punya komposter, tetapi kok rasanya lebih enak kalau punya tanah sendiri ya? Jadi bisa kubuat lubang pembuangan sampah, dan sampah-sampah organik itu bisa terurai dengan lebih alami--tentunya sampah yang tak bisa busuk tidak ikut dicemplungkan di situ.
Rasanya aku pengen bercakap dengan Mbah Kung. Aku pengin tahu bagaimana solusinya dalam mengolah sampah jika Mbah Kung harus tinggal di Jakarta, di rumah yang tak berhalaman. "Niki pripun, Mbah?"
*foto diambil dari http://hartonok-fam.blogspot.com/
Wednesday, April 01, 2009
Apakah Sudah Sebegitu Beratnya?
Kemarin pas turun dari bus Trans Jakarta, mau tak mau aku mesti mendesakkan tubuhku di antara orang-orang yang berjubel di pintu halte. Agak gemetar juga sih, wong aku mesti gerak cepat dan jangan sampai terjatuh. Batas antara pintu bus dan pintu halte lumayan lebar dan tinggi. Dan bayangkan, begitu aku harus melompat ke halte, hampir-hampir tak ada ruang untuk menjejakkan kaki. Deretan orang begitu berjubel dan hampir tak ada celah. Orang-orang yang bergerombol di pintu halte sama sekali tak memberi jalan. Mereka tetap berada di posisi semula walaupun aku dan seorang temanku jelas-jelas butuh jalan.
Dan hup! Aku melompat dengan sangat hati-hati. Mau tak mau kuselipkan tubuhku di antara gerombolan orang-orang itu. Sedikit kutabrak, karena aku butuh jalan. Pilihannya adalah jatuh terperosok atau menabrak mereka.
Aku akhirnya selamat bisa keluar dari halte. Leganyaaa ....
Tapi satu hal yang aku herankan dari kejadian itu adalah, apakah tekanan hidup di kota ini begitu berat ya, sampai-sampai orang-orang di sini tak mau memberi jalan sedikiiit saja. Bergeser pun tidak! Sepertinya kok yang dipikir hanya kepentingan mereka sendiri, ya?
Kemarin pas turun dari bus Trans Jakarta, mau tak mau aku mesti mendesakkan tubuhku di antara orang-orang yang berjubel di pintu halte. Agak gemetar juga sih, wong aku mesti gerak cepat dan jangan sampai terjatuh. Batas antara pintu bus dan pintu halte lumayan lebar dan tinggi. Dan bayangkan, begitu aku harus melompat ke halte, hampir-hampir tak ada ruang untuk menjejakkan kaki. Deretan orang begitu berjubel dan hampir tak ada celah. Orang-orang yang bergerombol di pintu halte sama sekali tak memberi jalan. Mereka tetap berada di posisi semula walaupun aku dan seorang temanku jelas-jelas butuh jalan.
Dan hup! Aku melompat dengan sangat hati-hati. Mau tak mau kuselipkan tubuhku di antara gerombolan orang-orang itu. Sedikit kutabrak, karena aku butuh jalan. Pilihannya adalah jatuh terperosok atau menabrak mereka.
Aku akhirnya selamat bisa keluar dari halte. Leganyaaa ....
Tapi satu hal yang aku herankan dari kejadian itu adalah, apakah tekanan hidup di kota ini begitu berat ya, sampai-sampai orang-orang di sini tak mau memberi jalan sedikiiit saja. Bergeser pun tidak! Sepertinya kok yang dipikir hanya kepentingan mereka sendiri, ya?
Tuesday, March 31, 2009
Mau Menulis Apa?
Pernah nggak pas kita pengin nulis, kita masih saja bertanya-tanya, "Mau nulis apa ya?" Mungkin pernah, mungkin sering, mungkin jarang. Kalau aku sih kadang-kadang bertanya begitu dalam hati. Aneh ya? Pengin nulis, tapi masih bingung mau nulis apa. Rasanya seperti ingin membuat kue, tapi tak tahu kue apa yang mau dibuat.
Kupikir-pikir, untuk menulis kita perlu semacam "bahan baku". Apa itu? Yang jelas sih, ide. Menurutku ide adalah "barang berharga" alias bahan baku utama. Ide itu biarpun hanya satu kalimat, harganya mahal. Suatu kali aku pernah menyaksikan acara di televisi yang mengumumkan bahwa PH acara tersebut menerima sumbangan ide cerita. Buat seorang penulis (apalagi penulis profesional--alias hidupnya ditopang oleh hasil tulisannya), ide tak akan dihambur-hamburkan begitu saja. Apalagi mau dibagikan gratisan. Bisa saja dia membagikan ide, tapi tentu sebagian kecil saja.
Nah, di mana kita bisa mendapatkan ide? Wah, macam-macam. Dari pengalamanku sendiri, ide itu kudapat saat sedang membaca buku, di sela-sela obrolan dengan teman, saat melamun sendirian. Sebenarnya tidak benar-benar melamun, tetapi semacam mengamati: orang yang berpapasan dengan kita, anjing yang sedang duduk santai di halaman orang, cover sebuah majalah/buku, dll. Macam-macam deh. Ide itu ibarat makhluk yang beterbangan di sekitar kita, dan kita mesti pintar-pintar menangkapnya. Karena itu, biasanya di seminar-seminar penulisan, kita biasanya disarankan untuk membawa buku catatan kecil dan bolpen, sehingga bisa langsung menuliskan ide begitu mendapatkannya. Jadi, begitu sampai rumah ide itu bisa dituangkan dalam tulisan yang lebih panjang.
Salah satu hal penting yang mengimbangi kegiatan menulis adalah membaca. Sepertinya mustahil deh, orang bisa menghasilkan tulisan yang bermutu tanpa pernah membaca bacaan yang bermutu. Kedua hal itu berjalan beriringan.
Nah, setelah mendapat ide dan banyak membaca, biasanya mau tak mau aku merasa "kebelet" menulis, eh ... lebih tepatnya mengetik di komputer ding! :) Bagaimana dengan kalian?
Pernah nggak pas kita pengin nulis, kita masih saja bertanya-tanya, "Mau nulis apa ya?" Mungkin pernah, mungkin sering, mungkin jarang. Kalau aku sih kadang-kadang bertanya begitu dalam hati. Aneh ya? Pengin nulis, tapi masih bingung mau nulis apa. Rasanya seperti ingin membuat kue, tapi tak tahu kue apa yang mau dibuat.
Kupikir-pikir, untuk menulis kita perlu semacam "bahan baku". Apa itu? Yang jelas sih, ide. Menurutku ide adalah "barang berharga" alias bahan baku utama. Ide itu biarpun hanya satu kalimat, harganya mahal. Suatu kali aku pernah menyaksikan acara di televisi yang mengumumkan bahwa PH acara tersebut menerima sumbangan ide cerita. Buat seorang penulis (apalagi penulis profesional--alias hidupnya ditopang oleh hasil tulisannya), ide tak akan dihambur-hamburkan begitu saja. Apalagi mau dibagikan gratisan. Bisa saja dia membagikan ide, tapi tentu sebagian kecil saja.
Nah, di mana kita bisa mendapatkan ide? Wah, macam-macam. Dari pengalamanku sendiri, ide itu kudapat saat sedang membaca buku, di sela-sela obrolan dengan teman, saat melamun sendirian. Sebenarnya tidak benar-benar melamun, tetapi semacam mengamati: orang yang berpapasan dengan kita, anjing yang sedang duduk santai di halaman orang, cover sebuah majalah/buku, dll. Macam-macam deh. Ide itu ibarat makhluk yang beterbangan di sekitar kita, dan kita mesti pintar-pintar menangkapnya. Karena itu, biasanya di seminar-seminar penulisan, kita biasanya disarankan untuk membawa buku catatan kecil dan bolpen, sehingga bisa langsung menuliskan ide begitu mendapatkannya. Jadi, begitu sampai rumah ide itu bisa dituangkan dalam tulisan yang lebih panjang.
Salah satu hal penting yang mengimbangi kegiatan menulis adalah membaca. Sepertinya mustahil deh, orang bisa menghasilkan tulisan yang bermutu tanpa pernah membaca bacaan yang bermutu. Kedua hal itu berjalan beriringan.
Nah, setelah mendapat ide dan banyak membaca, biasanya mau tak mau aku merasa "kebelet" menulis, eh ... lebih tepatnya mengetik di komputer ding! :) Bagaimana dengan kalian?
Sunday, March 29, 2009

Tua di Jalan
Hari Kamis kemarin, aku dan suamiku berkunjung ke rumah omku yang di Bekasi. Mumpung tanggal merah dan kami punya waktu yang cukup longgar. Lagi pula, dengan ada kereta ke Bekasi, perjalanan tak butuh waktu lama. Cuma 15 menit. Sungguh, kereta api (KRL) memang terbukti menghemat waktu.
Sesampainya di sana, aku bertemu dengan para sepupuku yang rasanya kok sudah tambah besar saja ya? Seingatku, mereka dulu masih SD lo. E ... lha kok sekarang sudah kuliah? Pas makan bersama, aku mengobrol dengan Dita, adik sepupuku yang baru masuk kuliah.
"Sekarang kuliah di mana, Dit?"
Dia kemudian menyebutkan sebuah universitas yang lumayan elit di daerah Grogol. Aku langsung teringat perjalananku ke Grogol dengan seorang temanku. Rasanya, rumahku yang di Jakarta Timur dengan Grogol itu ibarat perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Hehehe, berlebihan ya? Pokoknya jauuuuh bangeeet! Padahal rumah omku itu kan di Bekasi, lebih timur lagi dari rumahku. Biuh! Tak terbayangkan berapa lama perjalanan untuk ke sana. Belum lagi kalau kena macet dan terpapar polusi; capeknya kayak apa ya?
"Berapa lama perjalanan ke sana?" tanyaku lagi.
"Dua setengah jam," katanya enteng.
Ya ampun! Dua setengah jam? Itu ibarat perjalanan dari Madiun ke Solo dengan naik kendaraan umum. Aku membayangkan, seandainya dulu aku nglaju dari Madiun ke Solo tiap hari untuk kuliah, bisa capek lahir batin deh! Dan mana sempet belajar? Harus diakui, stamina sepupuku itu luar biasa. Tepuk tangan deh buat Dita.
Dari obrolan singkat itu, aku berpikir bahwa Jakarta ini sangat tidak efisien dalam hal waktu. Aku yakin, tak hanya sepupuku yang bolak-balik Bekasi-Grogol dan menghabiskan waktu total 5 jam untuk perjalanan. Lima jam, Sodara-sodara! Dan waktu sebanyak itu hanya digunakan untuk duduk di dalam kendaraan. Mungkin bisa diisi dengan membaca buku, makan, menelepon (itu kalau dia nggak nyupir sendiri), dandan (?). Mungkin sesekali dia mengerjakan tugas atau tidur. Tapi yang jelas di dalam mobil (apa lagi kendaraan umum) tak bisa disambi mandi atau masak kan? Hihihi.
Coba hitung, kalau sebulan dia masuk sampai hari Jumat, berarti dia menghabiskan waktu di jalan: 5 jam x 20 = 100 jam = kurang lebih 4 hari duduk manis di dalam kendaraan. Biyuh ... biyuh! Hal seperti itu membuatku makin teguh untuk tidak kerja kantoran di Jakarta. Benar-benar bisa tua di jalan.
Sunday, March 22, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:4:25 PM
|
Category :
Jakarta,
kualitas hidup,
mimpi,
pekerjaan
|
Mimpi Jakarta
Aku tak tahu, dari sekian banyak orang di Indonesia, berapa banyak ya yang punya mimpi Jakarta? Mimpi Jakarta apa itu? Mimpi untuk tinggal di Jakarta? Tidak selalu begitu. Kurang lebih keinginan untuk bergaya ala orang-orang di kota besar: bisa bekerja di kantor yang ber-AC, kalau sih kantornya yang keren punya, di gedung-gedung yang tinggi, jadi kalau pas pergi sama saudara-saudara sekampung bisa ngomong begini: "Itu tuh kantorku" sambil menunjuk gedung bagus dan mereka akan melongo takjub; punya mobil bagus seperti iklan-iklan di televisi, punya rumah besar dan buagus di kompleks perumahan mewah, kalau belanja tak perlu mikirin duit karena uang tinggal metik kayak daun, kalau malam minggu bisa hangout di kafe atau mal, dan masih buanyak lagi!
Apa salahnya punya mimpi seperti itu?
Ya, setiap orang berhak punya mimpi--tak terkecuali mimpi yang aku labeli dengan "mimpi Jakarta" itu. Tapi bagaimana jika sebagian besar orang punya mimpi seperti itu? Mungkin nggak sih jika setiap kota kecil akhirnya disulap jadi Jakarta kecil? (Duh, mimpi buruk deh!)
Kota kelahiranku, Madiun, adalah sebuah kota kecil yang cukup nyaman menurutku. Tapi belakangan ini aku menjadi terbengong-bengong saat melihat ada beberapa toko kelontong besar mulai bermunculan di sana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, di kota sekecil Madiun sudah ada Giant, Carrefour, Matahari, Sri Ratu. Dan yang mengenaskan bagiku, pasar besar Madiun sudah dua kali terbakar dalam selang waktu kurang dari 5 tahun. Orang-orang kecil yang biasa kami temui di dalam pasar mau tak mau tergusur. Beberapa pedagang akhirnya berjualan di rumahnya masing-masing. Tapi coba hitung berapa kerugian yang harus diderita? Belum lagi mereka harus bersaing dengan toko-toko kelontong superbesar itu. Pasti tidak gampang dong.
Tapi balik lagi ke mimpi Jakarta tadi, aku pikir salah satu alasan Jakarta menjadi sangat padat penduduk ini adalah karena mimpi Jakarta itu tadi. Selain itu pemerintah juga setengah hati untuk benar-benar membangun daerah lain. Kabarnya 80% uang (Indonesia) beredar di Jakarta. Akibatnya ya roda ekonomi muternya ya di situ-situ saja. Trus ... trus, orang-orang muda yang potensial akhirnya tersedot ke Jakarta. (Dan tentunya tak mudah menyuruh pulang orang-orang yang sudah sekian puluh tahun bekerja di Jakarta.) Tentu mereka yang hijrah ke Jakarta tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Lha wong cari kerja di daerah lain sulitnya minta ampun kok! Lihat saja lowongan pekerjaan yang dimuat KOMPAS tiap hari Sabtu dan Minggu, rasanya 70% adalah kebutuhan kerja di Jakarta.
Rasanya belum banyak orang muda yang berani untuk membangun daerah kelahirannya sendiri. Berkarya di kota kecil memang butuh kegilaan sendiri. Itu berarti melawan arus. Aku jadi ingat kata-kata tanteku, "Masmu kan tidak tahan banting tinggal di Jakarta." Harap tahu saja, kakakku adalah orang yang memupuskan mimpi Jakartanya. Dia pulang dan akhirnya menetap di Jogja karena tak tahan bekerja di Jakarta. Dulu dia tiap hari bekerja dari pagi sampai malam, tapi gajinya tak seberapa. Tanteku menganggap dia tak tahan banting. Mungkin ada benarnya kata-kata Tante, tapi bukankah bekerja di luar Jakarta juga punya tantangan yang tidak kecil? Dan bagaimana jika setiap orang memaksakan diri untuk bertahan di Jakarta? Bagaimana nggak penuh kota ini?
Aku pikir, daerah lain berhak mendapatkan sumber daya manusia yang bagus. Hanya saja mungkin orang-orang "bagus" itu tak mendapat wadah untuk menyalurkan kemampuan mereka jika tetap bertahan di daerahnya. Sebagian alasan orang-orang yang akhirnya hijrah ke Jakarta adalah karena mereka ingin meningkatkan kemampuan, ingin maju, ingin berkembang, ingin semakin banyak pendapatannya, dan sebagainya. Tapi apa iya sih, semua itu harus di Jakarta? Kalau aku sih lebih suka bekerja dan menetap di kota kecil, lo; yang masih lapang dan polusinya tidak membuat sakit. Mungkin duitnya tak sebanyak jika di Jakarta, tapi buat apa uang banyak jika kualitas hidup buruk?
Aku tak tahu, dari sekian banyak orang di Indonesia, berapa banyak ya yang punya mimpi Jakarta? Mimpi Jakarta apa itu? Mimpi untuk tinggal di Jakarta? Tidak selalu begitu. Kurang lebih keinginan untuk bergaya ala orang-orang di kota besar: bisa bekerja di kantor yang ber-AC, kalau sih kantornya yang keren punya, di gedung-gedung yang tinggi, jadi kalau pas pergi sama saudara-saudara sekampung bisa ngomong begini: "Itu tuh kantorku" sambil menunjuk gedung bagus dan mereka akan melongo takjub; punya mobil bagus seperti iklan-iklan di televisi, punya rumah besar dan buagus di kompleks perumahan mewah, kalau belanja tak perlu mikirin duit karena uang tinggal metik kayak daun, kalau malam minggu bisa hangout di kafe atau mal, dan masih buanyak lagi!
Apa salahnya punya mimpi seperti itu?
Ya, setiap orang berhak punya mimpi--tak terkecuali mimpi yang aku labeli dengan "mimpi Jakarta" itu. Tapi bagaimana jika sebagian besar orang punya mimpi seperti itu? Mungkin nggak sih jika setiap kota kecil akhirnya disulap jadi Jakarta kecil? (Duh, mimpi buruk deh!)
Kota kelahiranku, Madiun, adalah sebuah kota kecil yang cukup nyaman menurutku. Tapi belakangan ini aku menjadi terbengong-bengong saat melihat ada beberapa toko kelontong besar mulai bermunculan di sana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, di kota sekecil Madiun sudah ada Giant, Carrefour, Matahari, Sri Ratu. Dan yang mengenaskan bagiku, pasar besar Madiun sudah dua kali terbakar dalam selang waktu kurang dari 5 tahun. Orang-orang kecil yang biasa kami temui di dalam pasar mau tak mau tergusur. Beberapa pedagang akhirnya berjualan di rumahnya masing-masing. Tapi coba hitung berapa kerugian yang harus diderita? Belum lagi mereka harus bersaing dengan toko-toko kelontong superbesar itu. Pasti tidak gampang dong.
Tapi balik lagi ke mimpi Jakarta tadi, aku pikir salah satu alasan Jakarta menjadi sangat padat penduduk ini adalah karena mimpi Jakarta itu tadi. Selain itu pemerintah juga setengah hati untuk benar-benar membangun daerah lain. Kabarnya 80% uang (Indonesia) beredar di Jakarta. Akibatnya ya roda ekonomi muternya ya di situ-situ saja. Trus ... trus, orang-orang muda yang potensial akhirnya tersedot ke Jakarta. (Dan tentunya tak mudah menyuruh pulang orang-orang yang sudah sekian puluh tahun bekerja di Jakarta.) Tentu mereka yang hijrah ke Jakarta tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Lha wong cari kerja di daerah lain sulitnya minta ampun kok! Lihat saja lowongan pekerjaan yang dimuat KOMPAS tiap hari Sabtu dan Minggu, rasanya 70% adalah kebutuhan kerja di Jakarta.
Rasanya belum banyak orang muda yang berani untuk membangun daerah kelahirannya sendiri. Berkarya di kota kecil memang butuh kegilaan sendiri. Itu berarti melawan arus. Aku jadi ingat kata-kata tanteku, "Masmu kan tidak tahan banting tinggal di Jakarta." Harap tahu saja, kakakku adalah orang yang memupuskan mimpi Jakartanya. Dia pulang dan akhirnya menetap di Jogja karena tak tahan bekerja di Jakarta. Dulu dia tiap hari bekerja dari pagi sampai malam, tapi gajinya tak seberapa. Tanteku menganggap dia tak tahan banting. Mungkin ada benarnya kata-kata Tante, tapi bukankah bekerja di luar Jakarta juga punya tantangan yang tidak kecil? Dan bagaimana jika setiap orang memaksakan diri untuk bertahan di Jakarta? Bagaimana nggak penuh kota ini?
Aku pikir, daerah lain berhak mendapatkan sumber daya manusia yang bagus. Hanya saja mungkin orang-orang "bagus" itu tak mendapat wadah untuk menyalurkan kemampuan mereka jika tetap bertahan di daerahnya. Sebagian alasan orang-orang yang akhirnya hijrah ke Jakarta adalah karena mereka ingin meningkatkan kemampuan, ingin maju, ingin berkembang, ingin semakin banyak pendapatannya, dan sebagainya. Tapi apa iya sih, semua itu harus di Jakarta? Kalau aku sih lebih suka bekerja dan menetap di kota kecil, lo; yang masih lapang dan polusinya tidak membuat sakit. Mungkin duitnya tak sebanyak jika di Jakarta, tapi buat apa uang banyak jika kualitas hidup buruk?
Thursday, March 19, 2009
Bahasa Indonesia, Pentingkah?
Dulu, salah satu pelajaran sekolah yang nilaiku selalu bagus adalah Bahasa Indonesia. Tentu saja hal itu bukan suatu hal yang membanggakan. Biasa. Tak ada yang istimewa. Toh banyak anak juga nilainya bagus--setidaknya sedikit yang nilainya di bawah 7.
Hal itu berbeda dengan mereka yang selalu dapat nilai di atas 8 untuk matematika. Begitu nilai 8, 9, 10 tertera di lembar ujian Matematika, anak itu langsung mendapat label "si anak pintar". Lalu mulai deh, dia mendapat kepercayaan macam-macam dari guru, entah itu jadi ketua kelas, wakil lomba cerdas cermat di kabupaten, dan lain-lain.
Tapi bagi anak yang nilai bahasa Indonesianya bagus? Yaaa, biasa-biasa saja lah. Tak akan mendapat label "anak yang istimewa". Tapi memang rasanya kebangetan kalau nilai bahasa Indonesia jelek. Paling-paling kita hanya diminta untuk menulis contoh kalimat dengan awalan me-, ke-, di-, dll. Atau kita diminta untuk menjelaskan arti peribahasa, menghafal macam-macam angkatan kesustraan di Indonesia plus nama-nama pujangga. Dan bagaimana rasanya belajar bahasa Indonesia? Ah, menjemukan!
Walaupun dapat nilai bagus, aku tidak mengganggap penting (pelajaran) bahasa Indonesia. (Kalau tidak penting, ngapain masuk jadi pelajaran sekolah ya? Hi hi hi.) Aku tidak merasa ada kaitan yang sangat penting antara pelajaran bahasa Indonesia dengan hidup sehari-hari. Toh aku mengobrol dengan teman pakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia yang tidak EYD banget, malah sepertinya teman-teman lebih senang menggunakan bahasa Indonesia gaul ala anak Jakarta. Jadi, aku tak tahu apa gunanya belajar peribahasa, misalnya. Dalam hidup sehari-hari tidak dipakai, kok. Kan tidak mungkin aku banyak menyisipkan banyak peribahasa saat mengobrol dengan teman-teman. Bisa diketawain tujuh hari tujuh malam!
Setelah berkutat dengan naskah, buku, dan dunia tulis-menulis, aku jadi tahu bahwa bahasa Indonesia itu penting dan rupanya selama ini bahasa Indonesia tidak terlalu mendapat tempat di masyarakat. Orang lebih suka belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sementara mereka belum menguasai betul bahasa Indonesia. Paling terasa adalah saat membandingkan kamus bahasa Indonesia dengan kamus bahasa Inggris. Dalam kamus bahasa Inggris (Inggris-Inggris), satu kata biasanya akan dijelaskan artinya, tidak hanya diberikan sinonimnya. Selain itu di kamus Inggris-Inggris, ada akar katanya juga, kata itu biasa digunakan pada konteks apa, tahun kapan, dan tak jarang jika kata itu menyangkut benda, ada gambarnya. Pokoknya komplet!
Mungkin karena bahasa Indonesia tidak dianggap penting, tidak terlalu banyak naskah dari penulis kita yang sudah bagus penyampaian idenya. Itu dari pengalamanku lo. Entah ya kalau di penerbit lain. Pernah aku membaca tulisan seorang dosen yang bahasanya belepotan, sampai aku bingung, "Dia mau nulis apa sih?"
Aku pikir, kita masih kurang menggali bahasa Indonesia saat di sekolah. Kurang menarik pula penyampaiannya. Sampai sekarang, rasanya aku baru membaca Sitti Nurbaya untuk buku sastra Indonesia zaman lalu. Jangan tanya deh buku-buku yang lain. Pas SD saja aku lebih suka baca Lupus, kok. He he he. Padahal tuh kalau kita melongok amazon [dot] com, kita bisa mendapatkan buku "Pride and Prejudice" untuk anak usia 4-8 tahun! Di Indonesia? Rasanya aku belum menemukan buku-buku karya sastra karya pujangga kita yang disederhanakan sehingga bisa diperkenalkan untuk anak-anak. Buku-buku yang ada sekarang pun lebih banyak buku hiburan dengan bahasa gaul. Sebenarnya boleh-boleh saja ada buku-buku semacam itu, tapi rasanya kurang bagus deh kalau itu mendominasi.
Kita lupa bahwa kita memiliki Armyn Pane, H.B. Jasin, dan para pujangga besar lainnya.Padahal dari mereka kita bisa belajar banyak lo. Kita bisa belajar sejarah bangsa kita, perkembangannya, cara berpikir masyarakat, dll. Trus, kalau kita belajar bahasa Inggris saja bisa menarik karena banyak sekali permainan yang bisa digunakan, tentunya belajar bahasa Indonesia juga bisa dong. Lagi pula, belajar bahasa itu menarik sekali. Ada banyak sisi yang bisa memperkaya kita.
Dulu, salah satu pelajaran sekolah yang nilaiku selalu bagus adalah Bahasa Indonesia. Tentu saja hal itu bukan suatu hal yang membanggakan. Biasa. Tak ada yang istimewa. Toh banyak anak juga nilainya bagus--setidaknya sedikit yang nilainya di bawah 7.
Hal itu berbeda dengan mereka yang selalu dapat nilai di atas 8 untuk matematika. Begitu nilai 8, 9, 10 tertera di lembar ujian Matematika, anak itu langsung mendapat label "si anak pintar". Lalu mulai deh, dia mendapat kepercayaan macam-macam dari guru, entah itu jadi ketua kelas, wakil lomba cerdas cermat di kabupaten, dan lain-lain.
Tapi bagi anak yang nilai bahasa Indonesianya bagus? Yaaa, biasa-biasa saja lah. Tak akan mendapat label "anak yang istimewa". Tapi memang rasanya kebangetan kalau nilai bahasa Indonesia jelek. Paling-paling kita hanya diminta untuk menulis contoh kalimat dengan awalan me-, ke-, di-, dll. Atau kita diminta untuk menjelaskan arti peribahasa, menghafal macam-macam angkatan kesustraan di Indonesia plus nama-nama pujangga. Dan bagaimana rasanya belajar bahasa Indonesia? Ah, menjemukan!
Walaupun dapat nilai bagus, aku tidak mengganggap penting (pelajaran) bahasa Indonesia. (Kalau tidak penting, ngapain masuk jadi pelajaran sekolah ya? Hi hi hi.) Aku tidak merasa ada kaitan yang sangat penting antara pelajaran bahasa Indonesia dengan hidup sehari-hari. Toh aku mengobrol dengan teman pakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia yang tidak EYD banget, malah sepertinya teman-teman lebih senang menggunakan bahasa Indonesia gaul ala anak Jakarta. Jadi, aku tak tahu apa gunanya belajar peribahasa, misalnya. Dalam hidup sehari-hari tidak dipakai, kok. Kan tidak mungkin aku banyak menyisipkan banyak peribahasa saat mengobrol dengan teman-teman. Bisa diketawain tujuh hari tujuh malam!
Setelah berkutat dengan naskah, buku, dan dunia tulis-menulis, aku jadi tahu bahwa bahasa Indonesia itu penting dan rupanya selama ini bahasa Indonesia tidak terlalu mendapat tempat di masyarakat. Orang lebih suka belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sementara mereka belum menguasai betul bahasa Indonesia. Paling terasa adalah saat membandingkan kamus bahasa Indonesia dengan kamus bahasa Inggris. Dalam kamus bahasa Inggris (Inggris-Inggris), satu kata biasanya akan dijelaskan artinya, tidak hanya diberikan sinonimnya. Selain itu di kamus Inggris-Inggris, ada akar katanya juga, kata itu biasa digunakan pada konteks apa, tahun kapan, dan tak jarang jika kata itu menyangkut benda, ada gambarnya. Pokoknya komplet!
Mungkin karena bahasa Indonesia tidak dianggap penting, tidak terlalu banyak naskah dari penulis kita yang sudah bagus penyampaian idenya. Itu dari pengalamanku lo. Entah ya kalau di penerbit lain. Pernah aku membaca tulisan seorang dosen yang bahasanya belepotan, sampai aku bingung, "Dia mau nulis apa sih?"
Aku pikir, kita masih kurang menggali bahasa Indonesia saat di sekolah. Kurang menarik pula penyampaiannya. Sampai sekarang, rasanya aku baru membaca Sitti Nurbaya untuk buku sastra Indonesia zaman lalu. Jangan tanya deh buku-buku yang lain. Pas SD saja aku lebih suka baca Lupus, kok. He he he. Padahal tuh kalau kita melongok amazon [dot] com, kita bisa mendapatkan buku "Pride and Prejudice" untuk anak usia 4-8 tahun! Di Indonesia? Rasanya aku belum menemukan buku-buku karya sastra karya pujangga kita yang disederhanakan sehingga bisa diperkenalkan untuk anak-anak. Buku-buku yang ada sekarang pun lebih banyak buku hiburan dengan bahasa gaul. Sebenarnya boleh-boleh saja ada buku-buku semacam itu, tapi rasanya kurang bagus deh kalau itu mendominasi.
Kita lupa bahwa kita memiliki Armyn Pane, H.B. Jasin, dan para pujangga besar lainnya.Padahal dari mereka kita bisa belajar banyak lo. Kita bisa belajar sejarah bangsa kita, perkembangannya, cara berpikir masyarakat, dll. Trus, kalau kita belajar bahasa Inggris saja bisa menarik karena banyak sekali permainan yang bisa digunakan, tentunya belajar bahasa Indonesia juga bisa dong. Lagi pula, belajar bahasa itu menarik sekali. Ada banyak sisi yang bisa memperkaya kita.
Friday, March 13, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:3:32 AM
|
Category :
curhat,
gloria,
kenangan,
pekerjaan,
teman
|

Nostalgia
Tak terasa sudah setahun aku tidak bekerja kantoran. Ya setahun. Rasanya cepat juga. Dulu, kalau pulang kerja, aku biasanya tidak langsung pulang. Entah kenapa, aku suka berlama-lama di kantor. Tapi itu pun kalau masih ada teman. Kalau di ruanganku sudah sepi, ya aku pulang. Tapi kok ya biasanya ada saja yang masih tinggal di kantor. Dulu paling cepat aku sampai rumah pukul enam petang. Setelah jam bubaran kantor aku biasanya berlama-lama berselancar di internet, setelah itu kadang ngeluyur belanja, main ke kos teman, atau makan malam bersama temanku, Tesa.
Teman-teman seruanganku dulu anak-anak muda semua. Usia kami sebaya. Dan yang menikah baru Kak Tina, Susan, dan Aat. Yang lain sih, masih single. Ada yang pacarnya jauh (kaya aku dan Tesa dulu), ada yang nggak punya pacar, ada yang punya pacar tapi nggak jelas (hehehe, siapa ya?). Ada yang kalau bubaran kantor punya seambreg kegiatan, ada yang cuma kaya aku dan Tesa--yang isinya makan terus :D, ada yang langsung kencan sama suami atau istrinya.
Waktu itu aku bekerja rasanya tanpa beban. Belakangan, aku merasa ke kantor adalah untuk main--bersenang-senang, mengobrol dengan teman-teman dan bercanda (trus kapan kerjanya ya?). Dan lagi kami ke kantor biasanya tidak mengenakan baju seragam yang formal. Bebas rapi saja patokannya. Aku saja masih pakai ransel kok. Hampir tak ada yang dandan menor, sampai ada sekretaris.
Saat ini, kenangan yang melekat di benakku adalah kenangan saat kami biasa mengobrol di sela-sela pekerjaan. Ada yang curhat soal pacarnya yang tak pernah SMS dan menelepon, soal kegiatan di gereja, soal teman kos yang punya kebiasaan beda-beda, soal ganjelan di sana-sini. Macam-macam deh. Namanya juga hidup dan berkarya bersama, iya kan?
Hari pertama aku keluar dari pekerjaan, aku merasa agak aneh. Bayangkan selama hampir tujuh tahun aku bangun pagi tak boleh lewat dari jam 6, dan sekarang aku bisa bangun semaunya. Tak perlu ngebut naik motor menyusuri Jalan Kaliurang karena sudah hampir pukul 8.00. Tak perlu lagi risau melihat tinta merah di kartu absen karena terlambat satu detik saja. Tak perlu lagi bingung saat di gantungan baju ternyata tak ada baju yang sudah disetrika. Tak perlu sarapan buru-buru. Ah, alangkah nyamannya.
Ketika aku keluar kerja, aku pun membiasakan bekerja sendiri. Tak ada teman bicara kecuali membiarkan radio terus menyala. Awalnya aku kangen juga mengobrol dengan teman-teman di kantor. Jadi waktu itu, aku masih sering main ke kantor.
Tapi lama-lama aku sadar aku tidak lagi bagian dari mereka. Duniaku sudah agak berbeda dari mereka. Mereka pun punya dunia yang berbeda. Aku kadang tak bisa mengikuti canda mereka, karena aku tidak mengikuti keseharian mereka lagi. Ada kejadian-kejadian lucu yang terlewat dariku. Kadang aku merasa seperti berdiri dari balik pintu kaca dan aku tak bisa lagi masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka tertawakan dan sepertinya tak ada cerita yang cukup menarik untuk kubagikan bersama mereka. Apa menariknya cerita keseharianku di atas loteng mengerjakan naskah dengan ditemani sebuah radio, suara ternak milik tetangga, dan desau rumpun bambu? Dan sekarang setelah di Jakarta, apakah cerita tentang pedagang yang bersliweran di depan rumahku cukup indah bagi mereka?
Aku juga tak lagi terlibat dengan rencana buku-buku yang harus terbit--padahal hal itu biasanya sudah menjadi bagian dari pekerjaanku sehari-hari. Sebagai editor dan penerjemah lepas, aku cuma terima naskah dari mereka dan kukerjakan di rumah. Mereka sudah terima jadi. Paling-paling aku memberi laporan saja bahwa naskah ini kekurangan dan kelebihannya begini ... begitu. Atau aku memberitahu kepada mereka bahwa penerjemah ini kurang teliti, ketikannya masih belepotan, dan sebagainya.
Dulu aku senang sekali ketika datang kiriman buku-buku dari penerbit luar negeri. Bau kertas daur ulang yang mereka pakai seolah mengajakku untuk semakin banyak menulis dan tak perlu lagi cemberut ketika membaca tulisan yang kurang menarik. Buku-buku baru itu bagaikan telaga yang menyegarkan. Aku tak pernah bosan menyusuri halaman-halaman mereka, dan berharap suatu saat kami bisa menerbitkan buku sebagus itu--atau suatu saat buku tulisanku juga bisa menjadi telaga yang menyejukkan orang lain.
Jam dan hari sudah terjalin menjadi kumpulan waktu bernama satu tahun. Sekarang aku menikmati keseharianku menjadi pekerja lepas--suatu hal yang aku cita-citakan sejak beberapa tahun yang lalu. Suka duka pasti ada. Kini aku bisa merasakan betul apa artinya kebebasan untuk tidak terlalu terikat pada satu instansi, apa artinya tidak hanya bergantung pada satu pemberi honor, apa artinya honor yang terlambat dibayarkan, dan lain-lain. Dulu aku tak terlalu menghargai apa arti sapaan terhadap orang-orang yang bekerja sama dengan kami, entah editor, penerjemah, atau penulis. Tapi aku kini mengerti bahwa sapaan pun memiliki makna yang dalam. Aku ingat, dulu aku hanya mengontak para freelancer hanya saat ada buku yang harus dikerjakan. Ah, betapa sebenarnya aku bisa melakukan yang lebih dari itu. Dan jika seorang freelancer tidak kami pakai lagi, betapa sebenarnya kami kehilangan satu mutiara. Mungkin pekerjaan mereka kurang bagus, tetapi sebagai pribadi, mereka bagaikan sumur yang tak habis ditimba. Relasi itu memudar seiring dengan buku atau naskah yang tak lagi diberikan. Betapa sebenarnya berkawan dan menjalin relasi yang hangat dengan para pekerja lepas--meskipun sudah tak lagi dipakai--bukan hal yang tabu.
Sekarang, setahun sudah berlalu. Ada kerinduan yang dalam untuk melihat penerbitan tempat kerjaku dulu menjadi lebih baik--buku-buku yang diterbitkan semakin berkualitas, semakin banyak buku dari penulis lokal, menjadi penerbit yang lebih percaya diri dan benar-benar bisa menjadi cahaya bagi masyarakat. Dan kiranya doa yang tiap pagi dan sore mereka panjatkan benar-benar menjadi jiwa dari seluruh pelayanan yang mereka lakukan, tak hanya sekadar rutinitas yang kadang aku pertanyakan maknanya terhadap masing-masing pribadi.
Kini aku akan meletakkan masa-masa kerjaku yang dulu dalam sebuah bingkai kenangan. Sesekali akan kupandang. Sesekali mungkin masih ada keinginan untuk ikut tertawa lagi bersama mereka. Tapi baiklah jika aku tak berlama-lama memandanginya. Sudah waktunya bagiku untuk melanjutkan langkah dan berkemas meraih harapan dan cita-cita.
*Kalender di atas adalah kalender buatan Lena, salah satu teman yg sama-sama memilih mencari sesuap nasi di tempat lain. Kami manis-manis kan? hehehe
Wednesday, March 11, 2009
Zero Mistake
Kalau pas naik kereta api, aku selalu teringat pada wejangan bos pertamaku saat mengedit buku. Dia pengen buku yang terbit sama sekali tak ada kesalahan alias zero mistake. "Target kita adalah zero mistake," begitu katanya. Dan karena itu, aku selalu lamaaaa sekali kalau mengedit buku. Proofreading juga lamaaaa banget. Sebisa mungkin jangan sampai ada salah ketik satu huruf sekalipun!
Dan ternyata zero mistake sulit sekali. Bener. Susah banget. Padahal mataku sudah kujembreng lebar-lebar (hehehe, gimana sih bentuknya mata yang dijembreng? serem amat), tetep saja ada yang salah. Kadang titiknya kelebihan. Kadang hurufnya kurang. Yah, walaupun dari seluruh buku setebal 200 halaman paling cuma satu kesalahan, tetap saja itu nggak zero mistake, kan? Dan kalau buku itu sudah dicetak, penyesalan karena kesalahan yang seuprit itu dalam banget.
Lalu apa hubungan antara naik kereta api dengan zero mistake?
Begini, aku mikir, bekerja di perkereta apian itu mestinya nggak boleh ada kesalahan. Misalnya, kalau ada petugas yang kelupaan nutup palang kereta, kan nyawa orang bisa melayang. Bagi seorang petugas yang kerjaannya nongkrongin palang pintu kereta, pekerjaan itu sama sekali tidak boleh ada kesalahan kan?
Aku pernah membaca artikel di majalah FAMILIA (majalah keluarganya KANISIUS yang sudah nggak terbit lagi) dan koran hari mingguan (aku lupa apa namanya). Di situ ada cerita tentang petugas kereta api yang tugasnya ngencengin mur bautnya rel kereta. Tiap malam dia menyusuri rel kereta sejauh 5km dan mengencangkan mur-mur yang sudah kendor. Tak pernah absen. Tak pernah telat. Aku bilang, orang itu hebat lo. Lha wong gaji nggak seberapa, tugasnya berat, nggak pernah absen lagi. Kalau salah sedikit, kan bisa parah akibatnya.
Kadang kalau kubandingkan dengan pekerjaanku, pekerjaan bapak-bapak itu jauh lebih mulia. Dan tuntutan mereka untuk zero mistake jauh lebih besar. Taruhannya nyawa.
Tapi toh aku tetep ingin sebisa mungkin naskah yang aku kerjakan zero mistake... biarpun taruhannya bukan nyawa.
(Btw, aku mau nulis apa sih sebenarnya?)
Kalau pas naik kereta api, aku selalu teringat pada wejangan bos pertamaku saat mengedit buku. Dia pengen buku yang terbit sama sekali tak ada kesalahan alias zero mistake. "Target kita adalah zero mistake," begitu katanya. Dan karena itu, aku selalu lamaaaa sekali kalau mengedit buku. Proofreading juga lamaaaa banget. Sebisa mungkin jangan sampai ada salah ketik satu huruf sekalipun!
Dan ternyata zero mistake sulit sekali. Bener. Susah banget. Padahal mataku sudah kujembreng lebar-lebar (hehehe, gimana sih bentuknya mata yang dijembreng? serem amat), tetep saja ada yang salah. Kadang titiknya kelebihan. Kadang hurufnya kurang. Yah, walaupun dari seluruh buku setebal 200 halaman paling cuma satu kesalahan, tetap saja itu nggak zero mistake, kan? Dan kalau buku itu sudah dicetak, penyesalan karena kesalahan yang seuprit itu dalam banget.
Lalu apa hubungan antara naik kereta api dengan zero mistake?
Begini, aku mikir, bekerja di perkereta apian itu mestinya nggak boleh ada kesalahan. Misalnya, kalau ada petugas yang kelupaan nutup palang kereta, kan nyawa orang bisa melayang. Bagi seorang petugas yang kerjaannya nongkrongin palang pintu kereta, pekerjaan itu sama sekali tidak boleh ada kesalahan kan?
Aku pernah membaca artikel di majalah FAMILIA (majalah keluarganya KANISIUS yang sudah nggak terbit lagi) dan koran hari mingguan (aku lupa apa namanya). Di situ ada cerita tentang petugas kereta api yang tugasnya ngencengin mur bautnya rel kereta. Tiap malam dia menyusuri rel kereta sejauh 5km dan mengencangkan mur-mur yang sudah kendor. Tak pernah absen. Tak pernah telat. Aku bilang, orang itu hebat lo. Lha wong gaji nggak seberapa, tugasnya berat, nggak pernah absen lagi. Kalau salah sedikit, kan bisa parah akibatnya.
Kadang kalau kubandingkan dengan pekerjaanku, pekerjaan bapak-bapak itu jauh lebih mulia. Dan tuntutan mereka untuk zero mistake jauh lebih besar. Taruhannya nyawa.
Tapi toh aku tetep ingin sebisa mungkin naskah yang aku kerjakan zero mistake... biarpun taruhannya bukan nyawa.
(Btw, aku mau nulis apa sih sebenarnya?)
Tuesday, March 10, 2009
Takut Komitmen?
Kemarin aku mendapat email dari seorang teman yang ujung-unjungnya dia mengatakan bahwa dia takut berkomitmen dengan pacarnya sekarang. Sebenarnya agak membingungkan juga, soalnya beberapa waktu lalu dia mengatakan akan menikah. Tapi kok masih takut untuk berkomitmen ya?
Memang sih, menikah adalah keputusan yang besar. Setelah kita mengatakan "Saya bersedia" atau "Yes, I do", tak ada jalan untuk kembali. Itu menurutku lo. Menikah ya sekali saja. Nggak tahu ya kalau dari awal sudah niat kawin lagi? Nah, saat itulah cinta membutuhkan komitmen (halah) dan tidak hanya menggombal, "Kaulah segalanya. Gunung kan kuseberangi, laut kan kudaki" kebalik ya? Orang kalau lagi mabuk kan ngomongnya suka kebalik-balik. Hehehe. Ah, pokoknya begitu deh. Gombal abis!
Teman saya itu mengatakan teman-temannya sudah membesarkan hatinya dan mendorong-dorong "Menikah saja, deh!" Dia menanyakan bagaimana caranya supaya tidak takut untuk berkomitmen.
Nah jadi, bagaimana caranya?
Menurutku yang perlu ditanyakan adalah "Mengapa menikah?" Tidak ada undang-undang yang mengatakan bahwa setiap orang harus menikah. Tidak ada yang mengharuskan. Kalau dia mau melajang terus, ya boleh-boleh saja--asal tidak mengganggu kepentingan umum kayak kasusnya Ryan begitu. Kalau mau menikah, ya dia sendiri secara sadar memang mau menikah dengan kekasih pilihan hatinya. Maksudnya, menikah memang betul-betul pilihannya. Barangkali, teman dan orang-orang terdekat sudah mendorong-dorong. Tapi masak hanya karena sudah didorong-dorong orang lain sih? Nggak seru ah! Menurutku menikah itu tidak karena semua teman sudah menikah, sudah dianggap sudah cukup umur untuk menikah, dll. Mesti ada niat dari diri sendiri (dan pacarnya tentu saja, dong!).
Kalau memang dia cuma pengen TTM saja, atau pacaran tanpa berniat menikahi perempuan itu, mbok lebih baik ngomong saja terus-terang di awal kepada pacarnya itu, "Kamu mau nggak kita pacaran tapi tidak usah menikah. Aku takut untuk menikah dan berkomiten nih." Nah, soal ceweknya nanti mencak-mencak, ya itu resiko yang harus dia tanggung. Jangan sudah pacaran lamaaaa tapi ujung-ujungnya si cewek "digantung" alias nggak jelas mau dinikahi atau tidak. Kalau si cewek dari awal pacaran sudah pengen menikah dalam waktu 1-2 tahun, tapi ternyata setelah lebih dari 4 tahun tak ada tanda-tanda akan dinikahi, kan bisa bikin stres? Apalagi kalau sudah sama-sama berumur, sudah mapan semua. Tapi rasanya memang keberanian untuk berkomiten tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemapanan seseorang. Ada lo, temanku yang belum lulus kuliah berani menghamili pacarnya supaya boleh menikah. Memang itu konyol sih. Tapi kurasa dia lebih berani berkomitmen lo. Tanggung jawab.
Tapi aku sendiri tak tahu kenapa temanku itu takut berkomitmen. Rasanya kalau dia sudah enjoy dengan dirinya sendiri, alias dia nggak bermasalah, menikah dan berkomitmen itu wajar kok. Kalau yang pernah aku baca-baca, seseorang bisa untuk takut berkomitmen karena punya masalah keluarga. Misalnya, dia pernah melihat orang tuanya bercerai. Nah, kalau kaya gitu, mesti diberesi dulu masalahnya. Bagaimanapun, jika masalah itu belum dibereskan sebelum menikah, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan ruwet lagi.
Kawan, menikah memang butuh kedewasaan.... (hihihi, ngomongnya sok dewasa banget sih! mentang-mentang udah nikah.)
Kemarin aku mendapat email dari seorang teman yang ujung-unjungnya dia mengatakan bahwa dia takut berkomitmen dengan pacarnya sekarang. Sebenarnya agak membingungkan juga, soalnya beberapa waktu lalu dia mengatakan akan menikah. Tapi kok masih takut untuk berkomitmen ya?Memang sih, menikah adalah keputusan yang besar. Setelah kita mengatakan "Saya bersedia" atau "Yes, I do", tak ada jalan untuk kembali. Itu menurutku lo. Menikah ya sekali saja. Nggak tahu ya kalau dari awal sudah niat kawin lagi? Nah, saat itulah cinta membutuhkan komitmen (halah) dan tidak hanya menggombal, "Kaulah segalanya. Gunung kan kuseberangi, laut kan kudaki" kebalik ya? Orang kalau lagi mabuk kan ngomongnya suka kebalik-balik. Hehehe. Ah, pokoknya begitu deh. Gombal abis!
Teman saya itu mengatakan teman-temannya sudah membesarkan hatinya dan mendorong-dorong "Menikah saja, deh!" Dia menanyakan bagaimana caranya supaya tidak takut untuk berkomitmen.
Nah jadi, bagaimana caranya?
Menurutku yang perlu ditanyakan adalah "Mengapa menikah?" Tidak ada undang-undang yang mengatakan bahwa setiap orang harus menikah. Tidak ada yang mengharuskan. Kalau dia mau melajang terus, ya boleh-boleh saja--asal tidak mengganggu kepentingan umum kayak kasusnya Ryan begitu. Kalau mau menikah, ya dia sendiri secara sadar memang mau menikah dengan kekasih pilihan hatinya. Maksudnya, menikah memang betul-betul pilihannya. Barangkali, teman dan orang-orang terdekat sudah mendorong-dorong. Tapi masak hanya karena sudah didorong-dorong orang lain sih? Nggak seru ah! Menurutku menikah itu tidak karena semua teman sudah menikah, sudah dianggap sudah cukup umur untuk menikah, dll. Mesti ada niat dari diri sendiri (dan pacarnya tentu saja, dong!).
Kalau memang dia cuma pengen TTM saja, atau pacaran tanpa berniat menikahi perempuan itu, mbok lebih baik ngomong saja terus-terang di awal kepada pacarnya itu, "Kamu mau nggak kita pacaran tapi tidak usah menikah. Aku takut untuk menikah dan berkomiten nih." Nah, soal ceweknya nanti mencak-mencak, ya itu resiko yang harus dia tanggung. Jangan sudah pacaran lamaaaa tapi ujung-ujungnya si cewek "digantung" alias nggak jelas mau dinikahi atau tidak. Kalau si cewek dari awal pacaran sudah pengen menikah dalam waktu 1-2 tahun, tapi ternyata setelah lebih dari 4 tahun tak ada tanda-tanda akan dinikahi, kan bisa bikin stres? Apalagi kalau sudah sama-sama berumur, sudah mapan semua. Tapi rasanya memang keberanian untuk berkomiten tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemapanan seseorang. Ada lo, temanku yang belum lulus kuliah berani menghamili pacarnya supaya boleh menikah. Memang itu konyol sih. Tapi kurasa dia lebih berani berkomitmen lo. Tanggung jawab.
Tapi aku sendiri tak tahu kenapa temanku itu takut berkomitmen. Rasanya kalau dia sudah enjoy dengan dirinya sendiri, alias dia nggak bermasalah, menikah dan berkomitmen itu wajar kok. Kalau yang pernah aku baca-baca, seseorang bisa untuk takut berkomitmen karena punya masalah keluarga. Misalnya, dia pernah melihat orang tuanya bercerai. Nah, kalau kaya gitu, mesti diberesi dulu masalahnya. Bagaimanapun, jika masalah itu belum dibereskan sebelum menikah, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan ruwet lagi.
Kawan, menikah memang butuh kedewasaan.... (hihihi, ngomongnya sok dewasa banget sih! mentang-mentang udah nikah.)
Sunday, March 08, 2009
Review Seputar Java Jazz Festival 2009 (7/3/2009)
Minggu kemarin (7/3/2009), sejak pagi aku sudah membayangkan bahwa nanti sore sampai malam aku akan memanjakan mata dan telingaku untuk menikmati musik-musik jazz yang membuatku takjub. Wah, bakal tertakjub-takjub nih! Dan siang itu, pukul 11.30 aku dan suami meluncur ke JHCC untuk datang ke Java Jazz Festival 2009.
Begitu menyusuri area Senayan, kami sudah disapa oleh beberapa bapak-bapak setengah baya, "Tiketnya, Bos." Kami menggeleng sambil memanis-maniskan muka. "Atau kelebihan tiket ya? Nanti saya bayar." Sekali lagi kami menggeleng dan terus melangkah. Ternyata sepanjang jalan itu banyak calo! Dan di serambi JHCC itu calo-calo itu menjajakan karcisnya. Bahkan mereka menjualnya di depan panitia lo. Rata-rata mereka mematok harga 500 ribu.
Akhirnya kami pun masuk pukul 14.00. Dan untuuuung banget, roti sobek plus air minum kami tidak disita. He he he. Makasih ya Mbak. Mungkin karena dua benda itu agak mojok di dalam tas. Atau mbaknya kasihan melihat tampangku yang ndeso ini? Ha ha ha! Entahlah. Dua benda itu pertolongan pertama kalau haus dan lapar je. Kalau beli di tempat pertunjukan kan mahal. Teh aja 10 ribu, nasi goreng 40 ribu. Huh!
Jadwal pertunjukan yang dijual
Memasuki ruangan, hidungku yang sensitif terhadap bau rokok ini sudah mulai mencium tanda-tanda kehadiran rokok di ruangan ber-AC itu. Para pengunjung belum banyak sih. Tapi di loby sudah ada penyanyi yang pentas. Tapi ya baru satu itu. Para penyanyi yang lain rupanya masih jam 3-an mulai manggungnya. Kami lalu datang ke bagian informasi untuk menanyakan jadwal pertunjukan. Dan ternyata, brosur yang selembar itu DIJUAL! Bukan, bukan bagian informasi yang menjualnya, tetapi AXIS yang sekalian jualan kartu perdana seharga 6 ribu. Dan ada pula majalah MUSIC yang diedarkan plus jadwal pertunjukan. Harganya? 20 ribu. Rupanya itu adalah kekecewaan tahap pertama. Brosur setengah halaman A4 saja kok dijual. Padahal dengan harga tiket Java Jazz yang cukup mahal, mestinya brosur semacam itu bisa dibagikan gratis. Walaupun awam di bidang cetak-mencetak, aku tahu semakin banyak brosur yang dicetak akan semakin murah. Apalagi ada sponsornya.
Pertunjukan yang kami tonton
Pertama-tama kami menonton pertunjukan Gamelan Shokbreker, pukul 15.00. Penonton tidak terlalu berjubel dan duduk lesehan. Wah, boleh juga nih. Rupanya itu musik gamelan bernuansa Sunda. Musiknya mantap. Pemain kendangnya jago. Gamelan Shokbreker adalah kolaborasi musik antara Patrick Shaw Iversen and Ismet Ruchimat (Norwegia dan Indonesia). Setelah dari situ kami menonton Jakarta Broadway Singers. Tapi sayang kami cuma kebagian buntutnya. Bagus sih. Dan gaya mereka yang centil-centil itu lumayan menghibur. Menjelang akhir pertunjukan tampil Barry Likumahua, anak Benny Likumahua. Wah, permainan basnya boleh juga.
Setelah dari situ, kami muter-muter lagi dan menunggu penampilan Tom Scott jam 6. Karena masih agak lama, kami niatnya mau ketemu teman yang nonton Slank. Tapi biuuuuh... aku nggak tahan dengan suaranya. Kenceeeeng banget. (Lah iya lah, namanya juga konser!). Tapi yang agak aneh, kok enggak ada kesan jazzy-nya ya? Lha ini mah, mending mereka konser di stadion terbuka saja. He he he.
Akhirnya kami duduk-duduk di lantai atas. Dan aku sempat mampir di toilet. Rupanya, dari tiga ruang toilet, cuma 1 yang bisa ditutup pintunya!
Setengah jam sebelum Tom Scott tampil kami sudah ngantri. Dan ampuuun, antriannya sangat tidak rapi. Tapi untung kami berdiri agak depan, jadi pas begitu pintu dibuka, langsung dapat duduk. Dan penampilan Tom Scott sangat prima! Jazz banget. Aduh, baru sekali ini menonton Tom Scott. Rasanya seperti terbius.
Karena mau nonton Tompi, kami terpaksa tidak selesai menonton Tom Scott. Dan aku menyesal, meninggalkan Tom Scott. Soalnya yang menonton Tompi berjubel buanget! Wah, padahal Tompi adalah salah 1 artis yang sudah kutunggu-tunggu. Sakin berjubelnya penonton, panitia pun kewalahan. Bahkan pas aku mencoba ikut berdesak-desakan, aku mendengar percakapan panitia: "Kalau sudah nggak muat, penontonnya distop dong, jangan boleh masuk!" Panitia rupanya tidak bisa memprediksi jumlah penonton yg membludak. (Alangkah bodohnya panitia! Tompi gitu loh! Masak nggak ngerti kalau fans-nya banyak?)
Selanjutnya, kami menonton Tohpati. Wah, sumpah! Ini keren abis. Dasarnya aku suka banget sama permainan gitar. Apalagi baru kali ini menyaksikan Tohpati tampil live. Permainan gitarnya tidak diragukan lagi deh. Bikin hatiku ikut menari-nari. (Dan kenapa ya, setiap pemain gitar, terutama yang klasik, tuh tampak cakep di mataku? Hihihi.)
Terakhir kami menonton Ivan Lins. Yang terakhir ini memang dewanya penyanyi jazz. Sepertinya aku sudah tak sanggup berkata-kata lagi saat menyaksikannya. Nyanyinya bagus buanget! Dan pas dia nyanyi dia memainkan alat musik kecil entah apa namanya, yg menyempurnakan penampilannya. Rasanya tidak ada kata yg cukup untuk menggambarkan penampilannya. Tema lagu-lagu yang dia bawakan juga tidak norak: tentang kampung halamannya, tentang pantai, dll. Bagus kan? Nggak kaya d' Massiv yang melolong-lolong karena patah hati. Cuih!
Kesan terhadap panitia
Para pemusik dan penyanyi yang kemarin kutonton memang bagus-bagus. Tapi aduh, kok rasanya aku sangat tidak puas dengan kerja panitianya ya? Begini, kemarin itu penonton membludak! Yang aku herankan, kenapa tiket terus dijual ya? Padahal mereka seharusnya tahu dong, berapa kapasitas ruangan. Masak sih nonton jazz mahal kok kayak nonton band biasa di stadion? Desek-desekan nggak karuan. Mau masuk ke ruangan saja dorongan-dorongan. Dulu pas nonton jazz di Jogja rapi banget. Penuh sih, tapi nggak desek-desekan.
Trus lagi, sebagian sound systemnya jelek! Yang aku heran, Tohpati dan Ivan Lins memakai ruangan yg sama. Tapi kenapa sound-nya Tohpati tidak sejernih Ivan Lins? Trus, panggung di loby, sama sekali tidak bagus soundnya. Ada 3 panggung lagi. Lha buat apa? Masak ketiganya mau dipakai? Mau denger bareng-bareng? Ya nggak bisa lah!
Selain itu, penonton masih suka buang sampah sembarangan! Padahal di bagian depan ada stand "ZERO WASTE". Zero Waste dari Hongkong! Yang paling parah sampah di dekat food hall. Segunung! Malu nggak sih pasang stand ZERO WASTE tapi sampahnya berceceran?
Yang paling parah adalah ROKOK DI MANA-MANA. Kupikir sopir angkutan umum dan orang-orang kecil saja yang nggak tahu aturan soal rokok. Orang-orang yang mampu beli tiket Java Jazz itu juga sangat tidak tahu aturan. Sudah tahu ruangan ber-AC, orang diperbolehkan merokok. Security dan polisi yang ada di situ tidak menindak para perokok yang tidak tahu aturan itu. Mereka seharusnya tahu dong, di ruangan ber-AC kan tidak boleh merokok. Dan orang-orang itu merokok seenaknya. Apakah warga Jakarta memang kesadarannya sangat rendah ya--termasuk aparat yg seharusnya bisa menindak mereka?
Yang terakhir, masak sih nonton jazz aku ditawarin beli asuransi, pasang indovision, kartu kredit, internet. Mbok yang lebih elegan dikit, napa sih? Jangan cuma cari untung dong ....
Minggu kemarin (7/3/2009), sejak pagi aku sudah membayangkan bahwa nanti sore sampai malam aku akan memanjakan mata dan telingaku untuk menikmati musik-musik jazz yang membuatku takjub. Wah, bakal tertakjub-takjub nih! Dan siang itu, pukul 11.30 aku dan suami meluncur ke JHCC untuk datang ke Java Jazz Festival 2009.
Begitu menyusuri area Senayan, kami sudah disapa oleh beberapa bapak-bapak setengah baya, "Tiketnya, Bos." Kami menggeleng sambil memanis-maniskan muka. "Atau kelebihan tiket ya? Nanti saya bayar." Sekali lagi kami menggeleng dan terus melangkah. Ternyata sepanjang jalan itu banyak calo! Dan di serambi JHCC itu calo-calo itu menjajakan karcisnya. Bahkan mereka menjualnya di depan panitia lo. Rata-rata mereka mematok harga 500 ribu.
Akhirnya kami pun masuk pukul 14.00. Dan untuuuung banget, roti sobek plus air minum kami tidak disita. He he he. Makasih ya Mbak. Mungkin karena dua benda itu agak mojok di dalam tas. Atau mbaknya kasihan melihat tampangku yang ndeso ini? Ha ha ha! Entahlah. Dua benda itu pertolongan pertama kalau haus dan lapar je. Kalau beli di tempat pertunjukan kan mahal. Teh aja 10 ribu, nasi goreng 40 ribu. Huh!
Jadwal pertunjukan yang dijual
Memasuki ruangan, hidungku yang sensitif terhadap bau rokok ini sudah mulai mencium tanda-tanda kehadiran rokok di ruangan ber-AC itu. Para pengunjung belum banyak sih. Tapi di loby sudah ada penyanyi yang pentas. Tapi ya baru satu itu. Para penyanyi yang lain rupanya masih jam 3-an mulai manggungnya. Kami lalu datang ke bagian informasi untuk menanyakan jadwal pertunjukan. Dan ternyata, brosur yang selembar itu DIJUAL! Bukan, bukan bagian informasi yang menjualnya, tetapi AXIS yang sekalian jualan kartu perdana seharga 6 ribu. Dan ada pula majalah MUSIC yang diedarkan plus jadwal pertunjukan. Harganya? 20 ribu. Rupanya itu adalah kekecewaan tahap pertama. Brosur setengah halaman A4 saja kok dijual. Padahal dengan harga tiket Java Jazz yang cukup mahal, mestinya brosur semacam itu bisa dibagikan gratis. Walaupun awam di bidang cetak-mencetak, aku tahu semakin banyak brosur yang dicetak akan semakin murah. Apalagi ada sponsornya.
Pertunjukan yang kami tonton
Pertama-tama kami menonton pertunjukan Gamelan Shokbreker, pukul 15.00. Penonton tidak terlalu berjubel dan duduk lesehan. Wah, boleh juga nih. Rupanya itu musik gamelan bernuansa Sunda. Musiknya mantap. Pemain kendangnya jago. Gamelan Shokbreker adalah kolaborasi musik antara Patrick Shaw Iversen and Ismet Ruchimat (Norwegia dan Indonesia). Setelah dari situ kami menonton Jakarta Broadway Singers. Tapi sayang kami cuma kebagian buntutnya. Bagus sih. Dan gaya mereka yang centil-centil itu lumayan menghibur. Menjelang akhir pertunjukan tampil Barry Likumahua, anak Benny Likumahua. Wah, permainan basnya boleh juga.
Setelah dari situ, kami muter-muter lagi dan menunggu penampilan Tom Scott jam 6. Karena masih agak lama, kami niatnya mau ketemu teman yang nonton Slank. Tapi biuuuuh... aku nggak tahan dengan suaranya. Kenceeeeng banget. (Lah iya lah, namanya juga konser!). Tapi yang agak aneh, kok enggak ada kesan jazzy-nya ya? Lha ini mah, mending mereka konser di stadion terbuka saja. He he he.
Akhirnya kami duduk-duduk di lantai atas. Dan aku sempat mampir di toilet. Rupanya, dari tiga ruang toilet, cuma 1 yang bisa ditutup pintunya!
Setengah jam sebelum Tom Scott tampil kami sudah ngantri. Dan ampuuun, antriannya sangat tidak rapi. Tapi untung kami berdiri agak depan, jadi pas begitu pintu dibuka, langsung dapat duduk. Dan penampilan Tom Scott sangat prima! Jazz banget. Aduh, baru sekali ini menonton Tom Scott. Rasanya seperti terbius.
Karena mau nonton Tompi, kami terpaksa tidak selesai menonton Tom Scott. Dan aku menyesal, meninggalkan Tom Scott. Soalnya yang menonton Tompi berjubel buanget! Wah, padahal Tompi adalah salah 1 artis yang sudah kutunggu-tunggu. Sakin berjubelnya penonton, panitia pun kewalahan. Bahkan pas aku mencoba ikut berdesak-desakan, aku mendengar percakapan panitia: "Kalau sudah nggak muat, penontonnya distop dong, jangan boleh masuk!" Panitia rupanya tidak bisa memprediksi jumlah penonton yg membludak. (Alangkah bodohnya panitia! Tompi gitu loh! Masak nggak ngerti kalau fans-nya banyak?)
Selanjutnya, kami menonton Tohpati. Wah, sumpah! Ini keren abis. Dasarnya aku suka banget sama permainan gitar. Apalagi baru kali ini menyaksikan Tohpati tampil live. Permainan gitarnya tidak diragukan lagi deh. Bikin hatiku ikut menari-nari. (Dan kenapa ya, setiap pemain gitar, terutama yang klasik, tuh tampak cakep di mataku? Hihihi.)
Terakhir kami menonton Ivan Lins. Yang terakhir ini memang dewanya penyanyi jazz. Sepertinya aku sudah tak sanggup berkata-kata lagi saat menyaksikannya. Nyanyinya bagus buanget! Dan pas dia nyanyi dia memainkan alat musik kecil entah apa namanya, yg menyempurnakan penampilannya. Rasanya tidak ada kata yg cukup untuk menggambarkan penampilannya. Tema lagu-lagu yang dia bawakan juga tidak norak: tentang kampung halamannya, tentang pantai, dll. Bagus kan? Nggak kaya d' Massiv yang melolong-lolong karena patah hati. Cuih!
Kesan terhadap panitia
Para pemusik dan penyanyi yang kemarin kutonton memang bagus-bagus. Tapi aduh, kok rasanya aku sangat tidak puas dengan kerja panitianya ya? Begini, kemarin itu penonton membludak! Yang aku herankan, kenapa tiket terus dijual ya? Padahal mereka seharusnya tahu dong, berapa kapasitas ruangan. Masak sih nonton jazz mahal kok kayak nonton band biasa di stadion? Desek-desekan nggak karuan. Mau masuk ke ruangan saja dorongan-dorongan. Dulu pas nonton jazz di Jogja rapi banget. Penuh sih, tapi nggak desek-desekan.
Trus lagi, sebagian sound systemnya jelek! Yang aku heran, Tohpati dan Ivan Lins memakai ruangan yg sama. Tapi kenapa sound-nya Tohpati tidak sejernih Ivan Lins? Trus, panggung di loby, sama sekali tidak bagus soundnya. Ada 3 panggung lagi. Lha buat apa? Masak ketiganya mau dipakai? Mau denger bareng-bareng? Ya nggak bisa lah!
Selain itu, penonton masih suka buang sampah sembarangan! Padahal di bagian depan ada stand "ZERO WASTE". Zero Waste dari Hongkong! Yang paling parah sampah di dekat food hall. Segunung! Malu nggak sih pasang stand ZERO WASTE tapi sampahnya berceceran?
Yang paling parah adalah ROKOK DI MANA-MANA. Kupikir sopir angkutan umum dan orang-orang kecil saja yang nggak tahu aturan soal rokok. Orang-orang yang mampu beli tiket Java Jazz itu juga sangat tidak tahu aturan. Sudah tahu ruangan ber-AC, orang diperbolehkan merokok. Security dan polisi yang ada di situ tidak menindak para perokok yang tidak tahu aturan itu. Mereka seharusnya tahu dong, di ruangan ber-AC kan tidak boleh merokok. Dan orang-orang itu merokok seenaknya. Apakah warga Jakarta memang kesadarannya sangat rendah ya--termasuk aparat yg seharusnya bisa menindak mereka?
Yang terakhir, masak sih nonton jazz aku ditawarin beli asuransi, pasang indovision, kartu kredit, internet. Mbok yang lebih elegan dikit, napa sih? Jangan cuma cari untung dong ....
Wednesday, March 04, 2009
Pak Kantor Pajak, Bisakah Lebih Mudah Pelaporannya?
Tahun kemarin, waktu masih berstatus sebagai karyawan, urusan laporan pajak tidak menjadi masalah besar buatku karena sebagian besar sudah diurus oleh bagian HRD. Tapi sekarang beda. Karena aku seorang pekerja lepas, maka urusan laporan pajak, mesti mengurus sendiri. Dan ternyata, puyeng oi!
Di form yang harus kuisi, ada beberapa istilah yang tidak jelas bagiku. Yang paling depan saja deh, apa maksudnya form 1770 SS itu. Trus istilah PPh terutang, kredit pajak, dll. Wah embuh!
Kolom-kolom yang ada di situ agak memusingkan bagiku. Entah aku yang bodo, entah mereka yang kurang bisa membahasakannya dengan sederhana.
Yang membuatku heran, lha zaman komputer dan internet begini lo, kok laporan pajak nggak bisa online. Dan kita masih harus mengisi form dengan tulisan tangan atau mesin ketik. Menurut pemikiranku, akan jauh lebih mudah jika kita bisa mengisi laporan pajak via online. Rasanya pakai program excel bisa deh. Anggaplah seperti kalau kita sign up ke Yahoo! Kan gampang. Bahasanya nggak sulit, tinggal klik-klik di komputer, beres deh.
Lagi pula, mereka yang butuh, kok kita yang dibuat pusing ya?
Tahun kemarin, waktu masih berstatus sebagai karyawan, urusan laporan pajak tidak menjadi masalah besar buatku karena sebagian besar sudah diurus oleh bagian HRD. Tapi sekarang beda. Karena aku seorang pekerja lepas, maka urusan laporan pajak, mesti mengurus sendiri. Dan ternyata, puyeng oi!
Di form yang harus kuisi, ada beberapa istilah yang tidak jelas bagiku. Yang paling depan saja deh, apa maksudnya form 1770 SS itu. Trus istilah PPh terutang, kredit pajak, dll. Wah embuh!
Kolom-kolom yang ada di situ agak memusingkan bagiku. Entah aku yang bodo, entah mereka yang kurang bisa membahasakannya dengan sederhana.
Yang membuatku heran, lha zaman komputer dan internet begini lo, kok laporan pajak nggak bisa online. Dan kita masih harus mengisi form dengan tulisan tangan atau mesin ketik. Menurut pemikiranku, akan jauh lebih mudah jika kita bisa mengisi laporan pajak via online. Rasanya pakai program excel bisa deh. Anggaplah seperti kalau kita sign up ke Yahoo! Kan gampang. Bahasanya nggak sulit, tinggal klik-klik di komputer, beres deh.
Lagi pula, mereka yang butuh, kok kita yang dibuat pusing ya?
Monday, March 02, 2009
Ayo Memasak!
Menurutku, salah satu keterampilan penting yang perlu dipunyai saat seseorang menikah adalah memasak. Kenapa? Kan banyak warung makanan? Tinggal beli saja. Lebih gampang.
Iya sih. Aku dulu juga begitu. Eit, itu jauh sebelum aku menikah lo. Tapi coba baca dulu ceritaku.
Waktu aku masih kecil, aku senang sekali jika disuruh bantu-bantu di dapur. Dan salah satu keahlianku dulu adalah menyiangi sayur yang akan dimasak. Hi hi hi! Keahlian yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi kadang kala ada jenis sayur yang tidak bisa asal potong saja. Labu siam misalnya. Getahnya banyak sekali, jadi setelah dibelah dua, kedua potongan labu itu perlu digesek-gesekkan dulu sehingga getahnya keluar.
Tapi rasanya aku cuma rajin bantu-bantu di dapur ketika masih kecil saja. Waktu aku sudah agak besar (sudah mulai sekolah), mulai tumbuh deh rasa malasnya. Kalau disuruh untuk menggoreng tempe atau tahu masih belum berani. Serem deh kayaknya. Suara yang mendesis saat tahu atau tempe dimasukkan ke dalam wajan membuatku takut. Selain itu sepertinya minyak yang di dalam wajan itu muncrat semua. Padahal sih sebenarnya kalau kita memasukkan dengan hati-hati, tak akan kecipratan minyak kok. Hanya karena aku sudah keder duluan, maka aku selalu menolak jika diminta menggoreng lauk.
Kalau diminta memasak sayur? Nah, itu dia! Aku tidak bisa. Ha ha ha! Pernah suatu kali, pas aku masih SMA, ibuku memintaku memasak sayur asem. "Mumpung kamu libur," begitu kata ibuku. Lha masalahnya, aku tidak tahu bumbu sayur asem itu apa saja. Aku cuma tahu, pakai asem. Tapi yang lain? Nggak tahu, deh. Tahu apa yang aku lakukan? Setelah ibuku berangkat ke kantor, aku langsung ke rumah temanku, Joanna, yang aku tahu pintar memasak. Aku rayu dia supaya mau ke rumahku dan memasak sayur asem. Hahaha! Beres deh.
Aku semakin jauh dari dapur ketika aku kuliah. Namanya juga tinggal di asrama, jadi makan, ya tinggal makan. Di asrama aku makan tiga kali sehari, dan semuanya tinggal ambil saja. Tak perlu repot-repot memasak. Pernah sih dulu teman-teman seunitku kumpul dan masak sup bareng-bareng. Tapi seingatku waktu itu masak sup gampang banget. Tinggal beli kaldu instan, lalu masukkan sayurannya. Sudah. Cuma begitu. Dan kami makan rame-rame. Seingatku rasanya enak-enak saja. (Tapi sekarang aku berusaha sebisa mungkin tidak memakai kaldu instan. Biar lebih sehat!)
Masalah soal dapur dan makanan mulai muncul ketika aku lulus dan tinggal di rumah Nenek. Waktu itu Nenek sudah meninggal. Jadi, aku tinggal di sana dengan kakakku. Awalnya sih aku nebeng dimasakin oleh Likku (tante) yang tinggal di situ juga. Tapi aku kok kurang cocok ya dengan masakannya. Mungkin karena dia penderita diabetes, jadi masakannya pun hambar. Lalu, aku mulai sering beli makan di warung makan di sekitar rumah Nenek. Lama-lama bosen juga. menu di warung makan ya begitu-begitu saja: tumis kangkung, telor dadar, ikan goreng, sup. Aku kangen orak-arik. Itu lo, wortel yang diiris tipis-tipis lalu dimasak sama telor. Lalu aku mulai memasak sendiri.
Tapi bagaimana? Wong enggak punya alat masak. Setelah Nenek meninggal, semua alat masak dimasukkan semua ke lemari. Yang ada di dapur cuma panci yang biasa dipakai untuk menjerang air buat mandi. Mau pinjam Likku, kok rasanya malas ya. Dia kan pakai juga. Jadi, aku pun mulai membeli alat-alat masak seadanya. Mulai dari pisau sampai wajan. Setelah itu, aku mulai memasak. Awalnya ya masak orak-arik saja. He he he. Nggak pernah masak lain-lain, soalnya nggak tahu bumbunya.
Setelah aku mulai belajar masak, kakakku (kakakku cowok) mulai belajar masak juga. E, rupanya malah dia yang lebih jago masak. Pasalnya, dia lebih berani memasukkan bumbu. Tidak
seperti aku yang takut-takut dalam memakai bumbu. Takut salah, takut tidak enak. Tapi kalau kakakku prinsipnya, banyakin saja bumbunya. Pasti enak! Waktu itu kami berusaha untuk tidak
menggunakan penyedap rasa. Dan rupanya kalau kita memakai bumbu yang banyak, tak perlu pakai penyedap rasa lo! Cobain aja!
Kini, setelah aku menikah, aku merasa keterampilan memasak itu perlu. Memang sih, kita bisa beli makanan yang sudah jadi di warung. Tapi toh makan masakan sendiri itu suatu kenikmatan tersendiri lo. Dan kadang lebih murah kalau masak sendiri.
Aku rasa dengan belajar memasak kita belajar banyak hal. Kalau aku sih, dengan memasak aku belajar untuk lebih berani: Berani mencoba memasak makanan baru dan menggunakan bumbu yang belum pernah dicoba. Ada tantangan tersendiri untuk dapat menyajikan masakan yang enak. Kalau masakanku dipuji suami, rasanya seneng banget. Hi hi hi. Padahal cuma sayur asem lo. Jadi, aku rasa belajar memasak itu perlu--walaupun hanya memasak makanan yang sederhana dan simpel :)
Menurutku, salah satu keterampilan penting yang perlu dipunyai saat seseorang menikah adalah memasak. Kenapa? Kan banyak warung makanan? Tinggal beli saja. Lebih gampang.
Iya sih. Aku dulu juga begitu. Eit, itu jauh sebelum aku menikah lo. Tapi coba baca dulu ceritaku.
Waktu aku masih kecil, aku senang sekali jika disuruh bantu-bantu di dapur. Dan salah satu keahlianku dulu adalah menyiangi sayur yang akan dimasak. Hi hi hi! Keahlian yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi kadang kala ada jenis sayur yang tidak bisa asal potong saja. Labu siam misalnya. Getahnya banyak sekali, jadi setelah dibelah dua, kedua potongan labu itu perlu digesek-gesekkan dulu sehingga getahnya keluar.
Tapi rasanya aku cuma rajin bantu-bantu di dapur ketika masih kecil saja. Waktu aku sudah agak besar (sudah mulai sekolah), mulai tumbuh deh rasa malasnya. Kalau disuruh untuk menggoreng tempe atau tahu masih belum berani. Serem deh kayaknya. Suara yang mendesis saat tahu atau tempe dimasukkan ke dalam wajan membuatku takut. Selain itu sepertinya minyak yang di dalam wajan itu muncrat semua. Padahal sih sebenarnya kalau kita memasukkan dengan hati-hati, tak akan kecipratan minyak kok. Hanya karena aku sudah keder duluan, maka aku selalu menolak jika diminta menggoreng lauk.
Kalau diminta memasak sayur? Nah, itu dia! Aku tidak bisa. Ha ha ha! Pernah suatu kali, pas aku masih SMA, ibuku memintaku memasak sayur asem. "Mumpung kamu libur," begitu kata ibuku. Lha masalahnya, aku tidak tahu bumbu sayur asem itu apa saja. Aku cuma tahu, pakai asem. Tapi yang lain? Nggak tahu, deh. Tahu apa yang aku lakukan? Setelah ibuku berangkat ke kantor, aku langsung ke rumah temanku, Joanna, yang aku tahu pintar memasak. Aku rayu dia supaya mau ke rumahku dan memasak sayur asem. Hahaha! Beres deh.
Aku semakin jauh dari dapur ketika aku kuliah. Namanya juga tinggal di asrama, jadi makan, ya tinggal makan. Di asrama aku makan tiga kali sehari, dan semuanya tinggal ambil saja. Tak perlu repot-repot memasak. Pernah sih dulu teman-teman seunitku kumpul dan masak sup bareng-bareng. Tapi seingatku waktu itu masak sup gampang banget. Tinggal beli kaldu instan, lalu masukkan sayurannya. Sudah. Cuma begitu. Dan kami makan rame-rame. Seingatku rasanya enak-enak saja. (Tapi sekarang aku berusaha sebisa mungkin tidak memakai kaldu instan. Biar lebih sehat!)
Masalah soal dapur dan makanan mulai muncul ketika aku lulus dan tinggal di rumah Nenek. Waktu itu Nenek sudah meninggal. Jadi, aku tinggal di sana dengan kakakku. Awalnya sih aku nebeng dimasakin oleh Likku (tante) yang tinggal di situ juga. Tapi aku kok kurang cocok ya dengan masakannya. Mungkin karena dia penderita diabetes, jadi masakannya pun hambar. Lalu, aku mulai sering beli makan di warung makan di sekitar rumah Nenek. Lama-lama bosen juga. menu di warung makan ya begitu-begitu saja: tumis kangkung, telor dadar, ikan goreng, sup. Aku kangen orak-arik. Itu lo, wortel yang diiris tipis-tipis lalu dimasak sama telor. Lalu aku mulai memasak sendiri.
Tapi bagaimana? Wong enggak punya alat masak. Setelah Nenek meninggal, semua alat masak dimasukkan semua ke lemari. Yang ada di dapur cuma panci yang biasa dipakai untuk menjerang air buat mandi. Mau pinjam Likku, kok rasanya malas ya. Dia kan pakai juga. Jadi, aku pun mulai membeli alat-alat masak seadanya. Mulai dari pisau sampai wajan. Setelah itu, aku mulai memasak. Awalnya ya masak orak-arik saja. He he he. Nggak pernah masak lain-lain, soalnya nggak tahu bumbunya.
Setelah aku mulai belajar masak, kakakku (kakakku cowok) mulai belajar masak juga. E, rupanya malah dia yang lebih jago masak. Pasalnya, dia lebih berani memasukkan bumbu. Tidak
seperti aku yang takut-takut dalam memakai bumbu. Takut salah, takut tidak enak. Tapi kalau kakakku prinsipnya, banyakin saja bumbunya. Pasti enak! Waktu itu kami berusaha untuk tidak
menggunakan penyedap rasa. Dan rupanya kalau kita memakai bumbu yang banyak, tak perlu pakai penyedap rasa lo! Cobain aja!
Kini, setelah aku menikah, aku merasa keterampilan memasak itu perlu. Memang sih, kita bisa beli makanan yang sudah jadi di warung. Tapi toh makan masakan sendiri itu suatu kenikmatan tersendiri lo. Dan kadang lebih murah kalau masak sendiri.
Aku rasa dengan belajar memasak kita belajar banyak hal. Kalau aku sih, dengan memasak aku belajar untuk lebih berani: Berani mencoba memasak makanan baru dan menggunakan bumbu yang belum pernah dicoba. Ada tantangan tersendiri untuk dapat menyajikan masakan yang enak. Kalau masakanku dipuji suami, rasanya seneng banget. Hi hi hi. Padahal cuma sayur asem lo. Jadi, aku rasa belajar memasak itu perlu--walaupun hanya memasak makanan yang sederhana dan simpel :)
Wednesday, February 25, 2009
Yang Terkenang dari Slumdog Millionaire dan The Kingdom
Tidak, tidak ... aku tidak akan membahas dua film itu. Slumdog Millionaire memang keren. Membuatku terkekeh-kekeh, terharu, dan ikut berbunga-bunga.
Dan The Kingdom? Ugh! Bunyi dar ... der ... dor yang memenuhi ruangan komputer kami membuatku terbangun. Itulah risiko punya suami yang gemar menonton film he he he. Apalagi hari ini dia libur mengajar. Jadi, pagi-pagi dia sudah nongkrong di depan komputer untuk menyetel film The Kingdom. Aku tidak menonton sejak awal--karena belum bangun. He he he. Tapi aku sempat melihat klimaks cerita film itu.
Tahu bagaimana yang aku rasakan saat melihat adegan-adegan di film itu? Jantungku berdebar kencang, dan biuh ... kakiku lemes bo! Sial! Dan aku mendadak merasa jadi orang bodoh. Lha wong cuma film lo, kok sampai deg-degan dan lemas lo? He he he. Keterlaluan.
Kembali ke film Slumdog Millionaire, sampai saat ini aku masih ingat satu potongan kalimat di film itu. Ketika Jamal ditanya kenapa dia bisa menjawab pertanyaan apa yang dipegang Rama di tangan kanannya, dia langsung teringat kematian ibunya yang mengenaskan. Dia bilang, "Jika bukan karena Rama dan Allah, aku masih punya ibu sampai saat ini."
Di film itu dikisahkan ibu Jamal tewas di tengah pertikaian agama--Hindu dan Islam. (Kata kakakku yang pernah tinggal di India selama beberapa bulan, di sana hubungan antara Hindu dan Islam memang tidak manis. Menegangkan. Agama yang dominan biasanya memang suka menekan. Ini terjadi di mana saja lo. Jadi bukan soal mau menjelekkan suatu agama tertentu.) Saat itu Jamal, Salim (kakaknya), dan ibu mereka sedang mencuci di sebuah sungai. E, tiba-tiba mereka diserang. Tanpa ampun, ibu Jamal yang panik langsung dipukul sampai mati. Tragis. Dan Jamal dan Salim yang masih kecil akhirnya kabur menyelamatkan diri. Nah, di tengah pelariannya itu, dia melihat patung (atau anak kecil ya?) yang berkostum Rama. Kejadian itu terekam betul di benaknya, plus si Rama kecil tersebut. Jadi, dia ingat betul apa yang ada di tangan kanan Rama.
Pertikaian antar agama kerap kali memang menyakitkan. Tak jarang sampai berdarah-darah dan sampai mati. Ya ampun! Kenapa sih?
Dan tadi pagi, saat melihat film The Kingdom, lagi-lagi aku melihat pertikaian yang membuat orang tak bersalah mati. Inti ceritanya sih tentang teroris di Arab Saudi yang melakukan pengeboman di daerah permukiman orang-orang kulit putih yang bekerja di perminyakan. Di film itu digambarkan bagaimana sekelompok teroris membuat bom. Mengerikan. Banyak orang mati. Dan salah satu korbannya justru kepala polisi Arab Saudi yang masih punya anak kecil. Hiks ... menyedihkan. Jangan tanya detail film itu ya? Aku sudah lemes duluan waktu nonton adegan tembak-tembakannya!
Kadang tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa agamalah yang menjadi sumber masalah. Orang yang beragama X membunuh orang beragama Y. Alasannya? Ya, karena mereka beda
agama, masing-masing memegang keyakinannya sendiri. Akhir-akhir ini rasanya semakin meruncing saja kecenderungan orang untuk menolak orang yang berbeda dengannya. Dan kadang-kadang seseorang melakukan itu untuk membela Tuhan. Please deh! Ngapain Tuhan dibela? Kalau kita mengakui Dia mahakuasa, Dia bisa membela diri-Nya sendiri. Kuasa-Nya yang melebihi apa pun itu bisa menggulingkan kita dengan sekali tiup.
Tapi aku pikir, kenapa ada saja kebencian yang tumbuh terhadap orang yang berbeda agama dengan kita. Kenapa? Karena kita kurang mengasihi mereka. Kita menganggap orang yang berbeda itu musuh yang harus ditumpas. Padahal musuh bisa dikasihi, kok. Tergantung kita, mau berbesar hati atau tidak. Lagi pula, kenapa harus memakai memberi label musuh kepada mereka?
Ah, embuhlah! Nggak tahu aku. Aku bosan mendengar orang saling membunuh, mengebom, karena alasan agama. Kenapa mereka tidak kalian anggap sebagai saudara yang pantas dikasihi, kawan?
Tidak, tidak ... aku tidak akan membahas dua film itu. Slumdog Millionaire memang keren. Membuatku terkekeh-kekeh, terharu, dan ikut berbunga-bunga.
Dan The Kingdom? Ugh! Bunyi dar ... der ... dor yang memenuhi ruangan komputer kami membuatku terbangun. Itulah risiko punya suami yang gemar menonton film he he he. Apalagi hari ini dia libur mengajar. Jadi, pagi-pagi dia sudah nongkrong di depan komputer untuk menyetel film The Kingdom. Aku tidak menonton sejak awal--karena belum bangun. He he he. Tapi aku sempat melihat klimaks cerita film itu.
Tahu bagaimana yang aku rasakan saat melihat adegan-adegan di film itu? Jantungku berdebar kencang, dan biuh ... kakiku lemes bo! Sial! Dan aku mendadak merasa jadi orang bodoh. Lha wong cuma film lo, kok sampai deg-degan dan lemas lo? He he he. Keterlaluan.
Kembali ke film Slumdog Millionaire, sampai saat ini aku masih ingat satu potongan kalimat di film itu. Ketika Jamal ditanya kenapa dia bisa menjawab pertanyaan apa yang dipegang Rama di tangan kanannya, dia langsung teringat kematian ibunya yang mengenaskan. Dia bilang, "Jika bukan karena Rama dan Allah, aku masih punya ibu sampai saat ini."
Di film itu dikisahkan ibu Jamal tewas di tengah pertikaian agama--Hindu dan Islam. (Kata kakakku yang pernah tinggal di India selama beberapa bulan, di sana hubungan antara Hindu dan Islam memang tidak manis. Menegangkan. Agama yang dominan biasanya memang suka menekan. Ini terjadi di mana saja lo. Jadi bukan soal mau menjelekkan suatu agama tertentu.) Saat itu Jamal, Salim (kakaknya), dan ibu mereka sedang mencuci di sebuah sungai. E, tiba-tiba mereka diserang. Tanpa ampun, ibu Jamal yang panik langsung dipukul sampai mati. Tragis. Dan Jamal dan Salim yang masih kecil akhirnya kabur menyelamatkan diri. Nah, di tengah pelariannya itu, dia melihat patung (atau anak kecil ya?) yang berkostum Rama. Kejadian itu terekam betul di benaknya, plus si Rama kecil tersebut. Jadi, dia ingat betul apa yang ada di tangan kanan Rama.
Pertikaian antar agama kerap kali memang menyakitkan. Tak jarang sampai berdarah-darah dan sampai mati. Ya ampun! Kenapa sih?
Dan tadi pagi, saat melihat film The Kingdom, lagi-lagi aku melihat pertikaian yang membuat orang tak bersalah mati. Inti ceritanya sih tentang teroris di Arab Saudi yang melakukan pengeboman di daerah permukiman orang-orang kulit putih yang bekerja di perminyakan. Di film itu digambarkan bagaimana sekelompok teroris membuat bom. Mengerikan. Banyak orang mati. Dan salah satu korbannya justru kepala polisi Arab Saudi yang masih punya anak kecil. Hiks ... menyedihkan. Jangan tanya detail film itu ya? Aku sudah lemes duluan waktu nonton adegan tembak-tembakannya!
Kadang tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa agamalah yang menjadi sumber masalah. Orang yang beragama X membunuh orang beragama Y. Alasannya? Ya, karena mereka beda
agama, masing-masing memegang keyakinannya sendiri. Akhir-akhir ini rasanya semakin meruncing saja kecenderungan orang untuk menolak orang yang berbeda dengannya. Dan kadang-kadang seseorang melakukan itu untuk membela Tuhan. Please deh! Ngapain Tuhan dibela? Kalau kita mengakui Dia mahakuasa, Dia bisa membela diri-Nya sendiri. Kuasa-Nya yang melebihi apa pun itu bisa menggulingkan kita dengan sekali tiup.
Tapi aku pikir, kenapa ada saja kebencian yang tumbuh terhadap orang yang berbeda agama dengan kita. Kenapa? Karena kita kurang mengasihi mereka. Kita menganggap orang yang berbeda itu musuh yang harus ditumpas. Padahal musuh bisa dikasihi, kok. Tergantung kita, mau berbesar hati atau tidak. Lagi pula, kenapa harus memakai memberi label musuh kepada mereka?
Ah, embuhlah! Nggak tahu aku. Aku bosan mendengar orang saling membunuh, mengebom, karena alasan agama. Kenapa mereka tidak kalian anggap sebagai saudara yang pantas dikasihi, kawan?
Monday, February 23, 2009

Layanan Sederhana yang Membuat Tersenyum
Setelah beberapa bulan puasa menyantap salad bar di American Grill (Amgril), beberapa hari yang lalu aku dan suamiku akhirnya ke Amgril lagi. Kami berdua sesama penyuka salad. Dan di mana lagi kita bisa menikmati salad sepuasnya kalau tidak ke Amgril? Sebenarnya menurut kantong kami agak mahal sih, tapi karena sudah lama banget tidak menikmati salad, tak ada salahnya dong jika kami memanjakan lidah ke sana :)
Seperti biasa, kami berlama-lama di restoran itu. Yah, namanya juga all you can eat (salad saja), gitu lo! Dan, benar-benar puas deh. Sayurnya banyak. Dressingnya juga macam-macam. Belum lagi es krimnya bisa nambah sebanyak apa pun! Whew! (Gimana nggak tambah gendut, Kris? Hi hi hi.)
Saking lamanya di situ, aku tidak sadar kalau di luar mendung. Dan, hujan pun turun dengan derasnya. Waduh! Gimana ya? Padahal tadi rencananya setelah dari Amgril (di Kelapa Gading), kami akan belanja ke Tip Top di Rawamangun. Kalau mau belanja di Farmers kayaknya mahal deh. Tapi kalau hujan begini, bagaimana dong? Males banget kalau mesti berdiri di pinggir jalan mencari angkot ke Rawamangun.
Akhirnya kami memutuskan ke Farmers saja, yang satu kompleks dengan Amgril. Tetapi biar sekompleks, toh kami harus mengeluarkan payung supaya tidak basah kuyup. Jaraknya sih dekat, paling cuma beberapa meter. Nah, pas mau masuk mal tempat Farmers, seorang petugas berkata kepada suamiku, "Pak, maaf payungnya saya masukkan plastik dulu." Petugas itu lalu membuka plastik cukup panjang, yang pas untuk segulungan payung lipat. Dengan begitu, air hujan yang membasahi payung kami tidak menetes sepanjang. Dan yang pasti, ringkas!
Layanan yang simpel itu membuat suamiku tersenyum. "Sederhana sih layanannya, tapi ini cukup membantu orang yang mau masuk dan belanja di sini," begitu katanya. Iya, betul. Kalau di rumah sendiri sih, biasanya aku membuka lebar-lebar payung yang masih basah, dan kuangin-anginkan di teras depan. Kalau di mal, mana bisa begitu? Untungnya petugas mal cukup "cerdas" dengan menyediakan plastik untuk payung. Lagi pula itu dengan begitu, mereka tak perlu terlalu repot mengepel lantai yang basah kuyup karena tetesan air hujan dari payung para pelanggan.
Layanan yang sederhana, hal-hal kecil yang dilakukan untuk mempermudah pelanggan, akan sangat dihargai pelanggan. Senyuman ramah yang hangat, ucapan selamat ulang tahun, sapaan yang hangat, adalah hal-hal kecil yang membuat pelanggan Anda tersenyum. Menjalin pertemanan dengan para pelanggan juga tak ada salahnya. Toh, relasi yang baik dan hangat akan lebih menguntungkan, kan?
Sunday, February 22, 2009

Hare Gene Masih Idealis??
Jumat kemarin aku dicurhati temanku via SMS yang sedang BT dengan teman kerjanya. Dia adalah guru SD di ujung timur Jakarta.
Begini SMS-nya:
Aku kesel banget sama temanku. Aku pengen orang tua yang anaknya brekele (baca: malas dan nilainya jelek) dipanggil ke sekolah. biar mereka siap-siap ngajari belajar anaknya di rumah. tapi temanku nggak mau. katanya anak-anak yg brekele dinaikin kelas aja, biar ortu ngasih dana (uang) ke kita. sedih, deh. kok moral guru kaya gitu ya? katanya, kalau aku idealis, selamanya aku akan kere, jadi umar bakre ...
Dari beberapa temanku yang jadi guru, aku tahu bahwa ada beberapa orangtua murid yang memberi uang atau kado saat anaknya naik kelas dan/atau mendapat nilai bagus. Jumlah uangnya bervariasi. Kalau tidak salah minimal seratus ribu (setidaknya ini di Jakarta, lo). Kadang memberi kado, misalnya tas, voucer pulsa, dll.
Memang sih, ada guru yang menolak saat dikasih kado atau uang. Dan temanku adalah salah satu dari guru semacam itu. Kalau kadonya tidak berlebihan, kadang dia masih mau. Sedangkan jika uang yang ditawarkan, dia nggak mau. Tapi ya tetap saja masih ada saja guru yang dengan senang hati menerima uang ekstra atau kado dari orang tua murid. Ya, guru tersebut punya banyak kebutuhan kali ya? Mesti bayar cicilan rumah, cicilan sepeda motor, beli susu buat anaknya, belanja kebutuhan sehari-hari, dll. Jadi, dia akhirnya mau-mau saja menerima "derma" dari orangtua murid.
Aku berpikir, guru, apalagi guru SD, mestinya idealis. Kalau tidak idealis, bagaimana anak-anak bisa memiliki prinsip yang kokoh untuk bekal hidupnya nanti? Tapi memang biasanya, orang idealis tidak punya banyak duit. He he he. Jadi bagaimana teman-teman, masih mau idealis? Mesti siap-siap nggak punya duit lo! :)
Saturday, February 21, 2009
Ana
Suatu siang di hari Minggu beberapa tahun yang lalu.
Aku :"Na, mbok aku pinjem motormu ya."
Ana :"Lha mbok pinjem saja. Tapi ..."
Aku :"Wis, bensinnya tak isi penuh nanti."
Ana :"Ora ngono. Motorku ini setangnya agak miring. Kamu ati-ati ya?"
Aku :"Oh, cuma setangnya to? Beres lah."
Dan siang itu aku melaju ke rumah temanku di pucuk Jogja sana dengan motor pinjaman dari Ana. Sebetulnya aku tidak terlalu dekat dengan Ana. Aku mengenalnya sebagai mahasiswa kakakku. Dia cuma satu tahun di bawahku.
Menurutku Ana adalah seorang anak yang manis. Imut. Kalem. Dan karena itu aku suka menggoda seorang temanku yang beberapa kali kepergok sedang jalan bareng Ana. "Wis to, karo Ana wae! Hehehe," kataku. Tapi temanku itu ternyata cuma senang PDKT saja. Dasar!
Dan beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar satu atau dua tahun yang lalu, aku dan kakakku dapat undangan pernikahan Ana. "Weh, cepet tenan arek iki," batinku. Setelah menikah beberapa kali dia masih suka main ke kantorku untuk menemui Dian, temanku di departemen lain.
Setahuku Dian memang dekat dengan Ana. Karena itu, tampaknya Ana cukup prihatin melihat Dian yang tidak segera menyelesaikan skripsi. "Mbak, aku tuh sudah berulang kali bilang ke Dian, kalau dia butuh bantuan untuk skripsi, tak bantu deh. Tapi kok dia kayaknya aras-arasen (enggan) ya mengerjakan skripsi?" Hehehe, ya mana aku tahu to Na?
Aku lupa kapan terakhir bertemu Ana. Seingatku sih beberapa waktu sebelum aku keluar dari tempat kerjaku yang lama. Dia menjual tempat HP yang sampai sekarang masih sering kupakai. "Berapaan, Na?" tanyaku waktu itu ketika ia membawa satu tas kresek besar berisi tempat HP. "Lima ribu saja," katanya.
"Wah, murah. Aku beli dua, ya!"
Aku memilih dua kantong HP warna cokelat--biar nggak cepat kelihatan kotor. Hehehe.
"Na, mbok ditawarkan ke teman-teman."
"Wah, isin aku Mbak!"
"Yo wis, sini, aku bawa masuk. Aku tawarkan ke mereka."
Lumayan, beberapa temanku akhirnya beli tempat HP yang dibawa Ana.
Tadi siang, ketika bangun tidur, aku menjumpai SMS di HPku dari temanku, Lena. "Kris, Ana meninggal. Barusan aku di-SMS Dian."
He? Ana? Ana yang kecil dan manis itu?
Ternyata memang Ana sudah meninggal. Katanya dia stres memikirkan suaminya yang sakit parah. Kata Dian, suami Ana sudah sebulan ini dirawat di rumah sakit. Radang otak atau apa lah.
Nggak jelas sakitnya. E, lha kok Ana duluan yang dipanggil Gusti.
Na, aku yakin kamu sudah tenang di sisi Bapa. Tapi kok rasanya kamu cepat sekali pergi to? Wis, Na ... sore ini aku tak misa dulu. Aku doain kamu nanti. Dan semoga suamimu, Leo, dan semua keluargamu tabah.
Aku kok mendadak pengin nangis ya?
Suatu siang di hari Minggu beberapa tahun yang lalu.
Aku :"Na, mbok aku pinjem motormu ya."
Ana :"Lha mbok pinjem saja. Tapi ..."
Aku :"Wis, bensinnya tak isi penuh nanti."
Ana :"Ora ngono. Motorku ini setangnya agak miring. Kamu ati-ati ya?"
Aku :"Oh, cuma setangnya to? Beres lah."
Dan siang itu aku melaju ke rumah temanku di pucuk Jogja sana dengan motor pinjaman dari Ana. Sebetulnya aku tidak terlalu dekat dengan Ana. Aku mengenalnya sebagai mahasiswa kakakku. Dia cuma satu tahun di bawahku.
Menurutku Ana adalah seorang anak yang manis. Imut. Kalem. Dan karena itu aku suka menggoda seorang temanku yang beberapa kali kepergok sedang jalan bareng Ana. "Wis to, karo Ana wae! Hehehe," kataku. Tapi temanku itu ternyata cuma senang PDKT saja. Dasar!
Dan beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar satu atau dua tahun yang lalu, aku dan kakakku dapat undangan pernikahan Ana. "Weh, cepet tenan arek iki," batinku. Setelah menikah beberapa kali dia masih suka main ke kantorku untuk menemui Dian, temanku di departemen lain.
Setahuku Dian memang dekat dengan Ana. Karena itu, tampaknya Ana cukup prihatin melihat Dian yang tidak segera menyelesaikan skripsi. "Mbak, aku tuh sudah berulang kali bilang ke Dian, kalau dia butuh bantuan untuk skripsi, tak bantu deh. Tapi kok dia kayaknya aras-arasen (enggan) ya mengerjakan skripsi?" Hehehe, ya mana aku tahu to Na?
Aku lupa kapan terakhir bertemu Ana. Seingatku sih beberapa waktu sebelum aku keluar dari tempat kerjaku yang lama. Dia menjual tempat HP yang sampai sekarang masih sering kupakai. "Berapaan, Na?" tanyaku waktu itu ketika ia membawa satu tas kresek besar berisi tempat HP. "Lima ribu saja," katanya.
"Wah, murah. Aku beli dua, ya!"
Aku memilih dua kantong HP warna cokelat--biar nggak cepat kelihatan kotor. Hehehe.
"Na, mbok ditawarkan ke teman-teman."
"Wah, isin aku Mbak!"
"Yo wis, sini, aku bawa masuk. Aku tawarkan ke mereka."
Lumayan, beberapa temanku akhirnya beli tempat HP yang dibawa Ana.
Tadi siang, ketika bangun tidur, aku menjumpai SMS di HPku dari temanku, Lena. "Kris, Ana meninggal. Barusan aku di-SMS Dian."
He? Ana? Ana yang kecil dan manis itu?
Ternyata memang Ana sudah meninggal. Katanya dia stres memikirkan suaminya yang sakit parah. Kata Dian, suami Ana sudah sebulan ini dirawat di rumah sakit. Radang otak atau apa lah.
Nggak jelas sakitnya. E, lha kok Ana duluan yang dipanggil Gusti.
Na, aku yakin kamu sudah tenang di sisi Bapa. Tapi kok rasanya kamu cepat sekali pergi to? Wis, Na ... sore ini aku tak misa dulu. Aku doain kamu nanti. Dan semoga suamimu, Leo, dan semua keluargamu tabah.
Aku kok mendadak pengin nangis ya?
Subscribe to:
Posts (Atom)