
Tua di Jalan
Hari Kamis kemarin, aku dan suamiku berkunjung ke rumah omku yang di Bekasi. Mumpung tanggal merah dan kami punya waktu yang cukup longgar. Lagi pula, dengan ada kereta ke Bekasi, perjalanan tak butuh waktu lama. Cuma 15 menit. Sungguh, kereta api (KRL) memang terbukti menghemat waktu.
Sesampainya di sana, aku bertemu dengan para sepupuku yang rasanya kok sudah tambah besar saja ya? Seingatku, mereka dulu masih SD lo. E ... lha kok sekarang sudah kuliah? Pas makan bersama, aku mengobrol dengan Dita, adik sepupuku yang baru masuk kuliah.
"Sekarang kuliah di mana, Dit?"
Dia kemudian menyebutkan sebuah universitas yang lumayan elit di daerah Grogol. Aku langsung teringat perjalananku ke Grogol dengan seorang temanku. Rasanya, rumahku yang di Jakarta Timur dengan Grogol itu ibarat perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Hehehe, berlebihan ya? Pokoknya jauuuuh bangeeet! Padahal rumah omku itu kan di Bekasi, lebih timur lagi dari rumahku. Biuh! Tak terbayangkan berapa lama perjalanan untuk ke sana. Belum lagi kalau kena macet dan terpapar polusi; capeknya kayak apa ya?
"Berapa lama perjalanan ke sana?" tanyaku lagi.
"Dua setengah jam," katanya enteng.
Ya ampun! Dua setengah jam? Itu ibarat perjalanan dari Madiun ke Solo dengan naik kendaraan umum. Aku membayangkan, seandainya dulu aku nglaju dari Madiun ke Solo tiap hari untuk kuliah, bisa capek lahir batin deh! Dan mana sempet belajar? Harus diakui, stamina sepupuku itu luar biasa. Tepuk tangan deh buat Dita.
Dari obrolan singkat itu, aku berpikir bahwa Jakarta ini sangat tidak efisien dalam hal waktu. Aku yakin, tak hanya sepupuku yang bolak-balik Bekasi-Grogol dan menghabiskan waktu total 5 jam untuk perjalanan. Lima jam, Sodara-sodara! Dan waktu sebanyak itu hanya digunakan untuk duduk di dalam kendaraan. Mungkin bisa diisi dengan membaca buku, makan, menelepon (itu kalau dia nggak nyupir sendiri), dandan (?). Mungkin sesekali dia mengerjakan tugas atau tidur. Tapi yang jelas di dalam mobil (apa lagi kendaraan umum) tak bisa disambi mandi atau masak kan? Hihihi.
Coba hitung, kalau sebulan dia masuk sampai hari Jumat, berarti dia menghabiskan waktu di jalan: 5 jam x 20 = 100 jam = kurang lebih 4 hari duduk manis di dalam kendaraan. Biyuh ... biyuh! Hal seperti itu membuatku makin teguh untuk tidak kerja kantoran di Jakarta. Benar-benar bisa tua di jalan.