Mimpi Jakarta
Aku tak tahu, dari sekian banyak orang di Indonesia, berapa banyak ya yang punya mimpi Jakarta? Mimpi Jakarta apa itu? Mimpi untuk tinggal di Jakarta? Tidak selalu begitu. Kurang lebih keinginan untuk bergaya ala orang-orang di kota besar: bisa bekerja di kantor yang ber-AC, kalau sih kantornya yang keren punya, di gedung-gedung yang tinggi, jadi kalau pas pergi sama saudara-saudara sekampung bisa ngomong begini: "Itu tuh kantorku" sambil menunjuk gedung bagus dan mereka akan melongo takjub; punya mobil bagus seperti iklan-iklan di televisi, punya rumah besar dan buagus di kompleks perumahan mewah, kalau belanja tak perlu mikirin duit karena uang tinggal metik kayak daun, kalau malam minggu bisa hangout di kafe atau mal, dan masih buanyak lagi!
Apa salahnya punya mimpi seperti itu?
Ya, setiap orang berhak punya mimpi--tak terkecuali mimpi yang aku labeli dengan "mimpi Jakarta" itu. Tapi bagaimana jika sebagian besar orang punya mimpi seperti itu? Mungkin nggak sih jika setiap kota kecil akhirnya disulap jadi Jakarta kecil? (Duh, mimpi buruk deh!)
Kota kelahiranku, Madiun, adalah sebuah kota kecil yang cukup nyaman menurutku. Tapi belakangan ini aku menjadi terbengong-bengong saat melihat ada beberapa toko kelontong besar mulai bermunculan di sana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, di kota sekecil Madiun sudah ada Giant, Carrefour, Matahari, Sri Ratu. Dan yang mengenaskan bagiku, pasar besar Madiun sudah dua kali terbakar dalam selang waktu kurang dari 5 tahun. Orang-orang kecil yang biasa kami temui di dalam pasar mau tak mau tergusur. Beberapa pedagang akhirnya berjualan di rumahnya masing-masing. Tapi coba hitung berapa kerugian yang harus diderita? Belum lagi mereka harus bersaing dengan toko-toko kelontong superbesar itu. Pasti tidak gampang dong.
Tapi balik lagi ke mimpi Jakarta tadi, aku pikir salah satu alasan Jakarta menjadi sangat padat penduduk ini adalah karena mimpi Jakarta itu tadi. Selain itu pemerintah juga setengah hati untuk benar-benar membangun daerah lain. Kabarnya 80% uang (Indonesia) beredar di Jakarta. Akibatnya ya roda ekonomi muternya ya di situ-situ saja. Trus ... trus, orang-orang muda yang potensial akhirnya tersedot ke Jakarta. (Dan tentunya tak mudah menyuruh pulang orang-orang yang sudah sekian puluh tahun bekerja di Jakarta.) Tentu mereka yang hijrah ke Jakarta tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Lha wong cari kerja di daerah lain sulitnya minta ampun kok! Lihat saja lowongan pekerjaan yang dimuat KOMPAS tiap hari Sabtu dan Minggu, rasanya 70% adalah kebutuhan kerja di Jakarta.
Rasanya belum banyak orang muda yang berani untuk membangun daerah kelahirannya sendiri. Berkarya di kota kecil memang butuh kegilaan sendiri. Itu berarti melawan arus. Aku jadi ingat kata-kata tanteku, "Masmu kan tidak tahan banting tinggal di Jakarta." Harap tahu saja, kakakku adalah orang yang memupuskan mimpi Jakartanya. Dia pulang dan akhirnya menetap di Jogja karena tak tahan bekerja di Jakarta. Dulu dia tiap hari bekerja dari pagi sampai malam, tapi gajinya tak seberapa. Tanteku menganggap dia tak tahan banting. Mungkin ada benarnya kata-kata Tante, tapi bukankah bekerja di luar Jakarta juga punya tantangan yang tidak kecil? Dan bagaimana jika setiap orang memaksakan diri untuk bertahan di Jakarta? Bagaimana nggak penuh kota ini?
Aku pikir, daerah lain berhak mendapatkan sumber daya manusia yang bagus. Hanya saja mungkin orang-orang "bagus" itu tak mendapat wadah untuk menyalurkan kemampuan mereka jika tetap bertahan di daerahnya. Sebagian alasan orang-orang yang akhirnya hijrah ke Jakarta adalah karena mereka ingin meningkatkan kemampuan, ingin maju, ingin berkembang, ingin semakin banyak pendapatannya, dan sebagainya. Tapi apa iya sih, semua itu harus di Jakarta? Kalau aku sih lebih suka bekerja dan menetap di kota kecil, lo; yang masih lapang dan polusinya tidak membuat sakit. Mungkin duitnya tak sebanyak jika di Jakarta, tapi buat apa uang banyak jika kualitas hidup buruk?
Showing posts with label kualitas hidup. Show all posts
Showing posts with label kualitas hidup. Show all posts
Sunday, March 22, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:4:25 PM
|
Category :
Jakarta,
kualitas hidup,
mimpi,
pekerjaan
|
Subscribe to:
Posts (Atom)