Bagaimana Mengatasi Kemacetan Jakarta?
Ini sebuah petikan obrolanku dengan seorang teman beberapa hari yang lalu:
T (teman): Dulu pas kamu di Jogja, perjalanan dari rumah ke kantor berapa lama?
A (aku): Yaaa, kira-kira 20-30 menit lah. Emang kenapa, Mbak?
T: Sekarang aku baru merasakan beratnya jadi komuter di Jakarta. Perjalanan naik motor dari rumah ke kantor sekitar 24 km, dan memakan waktu kira-kira 50 menit. Itu kalau berangkat pagi, dan jalanan tidak terlalu macet. Duh, mana lagi mabok hamil, kena asap motor. Capek.
Ya, ya, aku bisa paham betul beratnya jadi komuter di Jakarta. Menjadi komuter di Jakarta berarti siap menembus jalanan yang penuh polusi, macet, panas. Dan sungguh, aku tidak bisa menikmati hal seperti itu. Masih mending kalau naik bus TransJakarta, tidak terlalu kena macet dan bebas asap rokok. Tapi jangan tanya seberapa penderitaannya kalau kita harus mengantre bus itu pas jam pulang kantor ya!
Dulu, ketika masih di Jogja, aku menganggap jarak antara rumah dan kantor sudah jauuuh sekali. Waktu itu aku harus menempuh jarak kira-kira 11 km dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Bagiku itu jarak yang lumayan jauh dan perjalanan yang memakan waktu. Tapi sekarang, semua itu menjadi tidak ada artinya. Perjalanan selama 30 menit di Jakarta itu adalah hitungan waktu untuk jarak dekat. Jadi, kalau dulu temanku bilang, "Ah, deket kok. Cuma setengah jam paling dari sini" itu memang benar. Setengah jam di Jakarta itu dekat sekali.
Menanggapi keluhan temanku itu aku mengatakan begini, "Sebenarnya kemacetan Jakarta itu bisa diatasi dengan mudah." "Bagaimana caranya?" tanyanya. Caranya kupikir adalah membatasi penduduk Jakarta. Ini tidak bisa tidak. Bagaimanapun yang membuat macet adalah kita-kita yang ada di Jakarta ini. Jakarta sudah kebanyakan orang! Jadi, kalau setengah penduduk Jakarta ini dipindahkan ke luar Jakarta, kurasa kemacetan akan berkurang. Tentunya orang-orang itu tidak asal dipindahkan begitu saja. Perlu dilakukan kerjasama antara pemerintah Jakarta dan pemerintah daerah. Kenapa orang-orang banyak yang datang ke Jakarta? Karena Jakarta identik dengan banyaknya lapangan pekerjaan. Selain itu pembangunan di Jakarta dan di daerah lain memang "njomplang", tidak seimbang. Jadi, di daerah mesti dibuka lapangan kerja seluas-luasnya agar orang-orang tidak "gembrudug" alias berbondong-bondong datang ke Jakarta.
Aku sadar, semua yang kutuliskan di atas memang cuma teori. Aku yakin sebenarnya bapak-bapak yang duduk di pemerintahan itu sudah tahu apa saja yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kota Jakarta dan daerah-daerah lain. Tapi, tahu dan melaksanakan adalah dua hal yang berbeda, kan?
Showing posts with label lalulintas. Show all posts
Showing posts with label lalulintas. Show all posts
Tuesday, June 02, 2009
Sunday, May 17, 2009
Dari Sabang Sampai Merauke Ala Jakarta
Dulu waktu akan hijrah ke Jakarta, aku berpikir, wah ... kayaknya bisa nih tiap minggu muter-muter Jakarta. Nanti bulan ini ketemu si X, berikutnya ketemu si Y, bulan ini menginap di rumah Tante, bulan berikutnya ke rumah Om, trus ke rumah saudara Bapak. Lalu nanti minggu pertama misa di Katedral, lalu minggu-minggu berikutnya ke Theresia agar tetap bisa misa bahasa Inggris.
Tapiii ... tahu apa yang terjadi? Hehehe, mabok aja kalau aku muter-muter Jakarta tiap minggu. Yang jelas sih, berat di ongkos--ongkos transport dan ongkos makan. Dan kedua, kualitas transportasi di Jakarta ini bikin aku terbatuk-batuk. Polusi yang pekat selalu membuatku batuk setiap kali sampai di rumah. Belum lagi kalau mesti naik angkutan umum yang sopirnya mantan pembalap. Sepanjang jalan wusss ... wusss .... selip sini, selip sana. Atau yang lebih parah lagi adalah jika di dalam angkot ada perokok yang dengan murah hatinya memberikan asap beracun itu ke tiap paru-paru orang yang ada di dalam bus. Jadi, aku harus puas untuk misa di kapel dekat rumah yang bisa terjangkau dengan jalan kaki. Dan jangan heran kalau sampai sekarang aku belum bertemu dengan teman-teman atau para kerabatku. Aku masih mikir jika harus menghabiskan banyak waktu di jalanan.
Sekarang sudah setahun aku tinggal di Jakarta. Jadi, kini aku sudah tahu bahwa jika diukur dari rumahku, ke Tangerang itu ibarat melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Jauuuh! Depok juga ibarat ke pucuk gunung. Bekasi cukup jauh, tetapi masih bisa terjangkau dengan mudah jika naik KRL dari stasiun di depan kompleks. Bogor? Jangan ditanya.
Nah, beberapa waktu yang lalu, aku menelepon temanku. Di dalam obrolan kami, dia menceritakan bahwa suatu kali ia menghubungi seorang agen yang biasa mengurusi kontrak buku luar negeri. Dia berharap mereka bisa bertemu di Istora. Tapi ternyata mereka tak jadi bertemu. Aku lalu bertanya, "Memangnya bapak itu posisinya di mana?" Temanku menjawab, "Di Tangerang." Ealah .... Lha itu kan ibarat si bapak rumahnya di Magelang trus disuruh datang ke Kotabaru, Jogja. Ampuuun deh! Bagiku, jarak Tangerang ke Istora itu jauh. Tapi mungkin lain bagi orang yang sudah biasa pulang menempuh perjalanan sejauh itu. Aku tak tahu seberapa jauhnya, tetapi percayalah, segitu itu jauh!
Rasa-rasanya Jakarta ini kota yang paling tidak efisien. Di sini waktu terasa lebih pendek karena banyak waktu yang terbuang percuma di jalan karena kena macet. Dan jangan pernah bermimpi Jakarta tidak macet! Ya, jangan pernah. Selain itu, jarak antara satu tempat ke tempat lain itu jauh. Jadi, jangan heran jika aku terbengong-bengong ketika diberitahu bahwa seorang kawan selalu minta dijemput dari Bandara Soekarno-Hatta setiap kali tugas di Jakarta. Ampun deh! Mungkin aku bisa maklum kalau yang dijemput lebih dari lima orang. Tapi kalau yang dijemput cuma dia atau dia dan satu orang temannya? Wah, apa nggak sayang ongkos bensinnya? Padahal naik bus Damri dari bandara kan bisa? Apalagi kantor yang ia tuju tak jauh dari Terminal Rawamangun. Menurutku tidak susah deh kalau dia naik bus Damri yang jurusan Rawamangun, dan kalaupun minta dijemput di Terminal Rawamangun, itu cukup masuk akal. Lagi pula, setahuku kantornya tak memiliki sopir khusus. Dari pengalamanku, naik bus Damri cukup cepat kok (karena lewat tol) dan ongkosnya pun masih terjangkau. Daripada mesti mengganggu jam kerja rekan kerjanya dan merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos bensin mobil, kan lebih baik dia naik angkutan bandara yang memang sudah ada? Mungkin kawanku yang satu (atau dua) itu, mesti tinggal di Jakarta setidaknya 1 tahun, plus tidak manja dan ke mana-mana naik angkot, jadi biar tahu seperti apa "Sabang sampai Merauke ala Jakarta" itu.
Duh, Teman ... mikir dikit dong kalau di Jakarta!
Dulu waktu akan hijrah ke Jakarta, aku berpikir, wah ... kayaknya bisa nih tiap minggu muter-muter Jakarta. Nanti bulan ini ketemu si X, berikutnya ketemu si Y, bulan ini menginap di rumah Tante, bulan berikutnya ke rumah Om, trus ke rumah saudara Bapak. Lalu nanti minggu pertama misa di Katedral, lalu minggu-minggu berikutnya ke Theresia agar tetap bisa misa bahasa Inggris.
Tapiii ... tahu apa yang terjadi? Hehehe, mabok aja kalau aku muter-muter Jakarta tiap minggu. Yang jelas sih, berat di ongkos--ongkos transport dan ongkos makan. Dan kedua, kualitas transportasi di Jakarta ini bikin aku terbatuk-batuk. Polusi yang pekat selalu membuatku batuk setiap kali sampai di rumah. Belum lagi kalau mesti naik angkutan umum yang sopirnya mantan pembalap. Sepanjang jalan wusss ... wusss .... selip sini, selip sana. Atau yang lebih parah lagi adalah jika di dalam angkot ada perokok yang dengan murah hatinya memberikan asap beracun itu ke tiap paru-paru orang yang ada di dalam bus. Jadi, aku harus puas untuk misa di kapel dekat rumah yang bisa terjangkau dengan jalan kaki. Dan jangan heran kalau sampai sekarang aku belum bertemu dengan teman-teman atau para kerabatku. Aku masih mikir jika harus menghabiskan banyak waktu di jalanan.
Sekarang sudah setahun aku tinggal di Jakarta. Jadi, kini aku sudah tahu bahwa jika diukur dari rumahku, ke Tangerang itu ibarat melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Jauuuh! Depok juga ibarat ke pucuk gunung. Bekasi cukup jauh, tetapi masih bisa terjangkau dengan mudah jika naik KRL dari stasiun di depan kompleks. Bogor? Jangan ditanya.
Nah, beberapa waktu yang lalu, aku menelepon temanku. Di dalam obrolan kami, dia menceritakan bahwa suatu kali ia menghubungi seorang agen yang biasa mengurusi kontrak buku luar negeri. Dia berharap mereka bisa bertemu di Istora. Tapi ternyata mereka tak jadi bertemu. Aku lalu bertanya, "Memangnya bapak itu posisinya di mana?" Temanku menjawab, "Di Tangerang." Ealah .... Lha itu kan ibarat si bapak rumahnya di Magelang trus disuruh datang ke Kotabaru, Jogja. Ampuuun deh! Bagiku, jarak Tangerang ke Istora itu jauh. Tapi mungkin lain bagi orang yang sudah biasa pulang menempuh perjalanan sejauh itu. Aku tak tahu seberapa jauhnya, tetapi percayalah, segitu itu jauh!
Rasa-rasanya Jakarta ini kota yang paling tidak efisien. Di sini waktu terasa lebih pendek karena banyak waktu yang terbuang percuma di jalan karena kena macet. Dan jangan pernah bermimpi Jakarta tidak macet! Ya, jangan pernah. Selain itu, jarak antara satu tempat ke tempat lain itu jauh. Jadi, jangan heran jika aku terbengong-bengong ketika diberitahu bahwa seorang kawan selalu minta dijemput dari Bandara Soekarno-Hatta setiap kali tugas di Jakarta. Ampun deh! Mungkin aku bisa maklum kalau yang dijemput lebih dari lima orang. Tapi kalau yang dijemput cuma dia atau dia dan satu orang temannya? Wah, apa nggak sayang ongkos bensinnya? Padahal naik bus Damri dari bandara kan bisa? Apalagi kantor yang ia tuju tak jauh dari Terminal Rawamangun. Menurutku tidak susah deh kalau dia naik bus Damri yang jurusan Rawamangun, dan kalaupun minta dijemput di Terminal Rawamangun, itu cukup masuk akal. Lagi pula, setahuku kantornya tak memiliki sopir khusus. Dari pengalamanku, naik bus Damri cukup cepat kok (karena lewat tol) dan ongkosnya pun masih terjangkau. Daripada mesti mengganggu jam kerja rekan kerjanya dan merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos bensin mobil, kan lebih baik dia naik angkutan bandara yang memang sudah ada? Mungkin kawanku yang satu (atau dua) itu, mesti tinggal di Jakarta setidaknya 1 tahun, plus tidak manja dan ke mana-mana naik angkot, jadi biar tahu seperti apa "Sabang sampai Merauke ala Jakarta" itu.
Duh, Teman ... mikir dikit dong kalau di Jakarta!
Sunday, March 29, 2009

Tua di Jalan
Hari Kamis kemarin, aku dan suamiku berkunjung ke rumah omku yang di Bekasi. Mumpung tanggal merah dan kami punya waktu yang cukup longgar. Lagi pula, dengan ada kereta ke Bekasi, perjalanan tak butuh waktu lama. Cuma 15 menit. Sungguh, kereta api (KRL) memang terbukti menghemat waktu.
Sesampainya di sana, aku bertemu dengan para sepupuku yang rasanya kok sudah tambah besar saja ya? Seingatku, mereka dulu masih SD lo. E ... lha kok sekarang sudah kuliah? Pas makan bersama, aku mengobrol dengan Dita, adik sepupuku yang baru masuk kuliah.
"Sekarang kuliah di mana, Dit?"
Dia kemudian menyebutkan sebuah universitas yang lumayan elit di daerah Grogol. Aku langsung teringat perjalananku ke Grogol dengan seorang temanku. Rasanya, rumahku yang di Jakarta Timur dengan Grogol itu ibarat perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Hehehe, berlebihan ya? Pokoknya jauuuuh bangeeet! Padahal rumah omku itu kan di Bekasi, lebih timur lagi dari rumahku. Biuh! Tak terbayangkan berapa lama perjalanan untuk ke sana. Belum lagi kalau kena macet dan terpapar polusi; capeknya kayak apa ya?
"Berapa lama perjalanan ke sana?" tanyaku lagi.
"Dua setengah jam," katanya enteng.
Ya ampun! Dua setengah jam? Itu ibarat perjalanan dari Madiun ke Solo dengan naik kendaraan umum. Aku membayangkan, seandainya dulu aku nglaju dari Madiun ke Solo tiap hari untuk kuliah, bisa capek lahir batin deh! Dan mana sempet belajar? Harus diakui, stamina sepupuku itu luar biasa. Tepuk tangan deh buat Dita.
Dari obrolan singkat itu, aku berpikir bahwa Jakarta ini sangat tidak efisien dalam hal waktu. Aku yakin, tak hanya sepupuku yang bolak-balik Bekasi-Grogol dan menghabiskan waktu total 5 jam untuk perjalanan. Lima jam, Sodara-sodara! Dan waktu sebanyak itu hanya digunakan untuk duduk di dalam kendaraan. Mungkin bisa diisi dengan membaca buku, makan, menelepon (itu kalau dia nggak nyupir sendiri), dandan (?). Mungkin sesekali dia mengerjakan tugas atau tidur. Tapi yang jelas di dalam mobil (apa lagi kendaraan umum) tak bisa disambi mandi atau masak kan? Hihihi.
Coba hitung, kalau sebulan dia masuk sampai hari Jumat, berarti dia menghabiskan waktu di jalan: 5 jam x 20 = 100 jam = kurang lebih 4 hari duduk manis di dalam kendaraan. Biyuh ... biyuh! Hal seperti itu membuatku makin teguh untuk tidak kerja kantoran di Jakarta. Benar-benar bisa tua di jalan.
Thursday, February 05, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:7:17 PM
|
Category :
curhat,
Jakarta,
kendaraan umum,
lalulintas
|
Macet ... Macet ... Macet!
Rasanya semua orang sudah tahu jika salah satu "trade mark" Jakarta adalah kemacetan lalu lintas. Ya, betul. Kemacetan adalah hal yang sudah sangat amat biasa di sini. Bahkan aku sering menggunakan alasan ini kalau datang terlambat ke suatu tempat. Hihi ... buka kartu.
Tetapi mungkin lebih tepatnya adalah aku masih belum bisa beradaptasi dengan lalu lintas Jakarta. Aku selalu lupa bahwa ketika di Jakarta aku menggantungkan diriku pada angkot--entah itu metromini, KWK, busway, atau kereta (naik kereta baru sekali ding!). Dan ini tentu berbeda sekali jika dibandingkan ketika masih di Jogja, aku selalu naik motor ke mana-mana. Di sana, belum tentu aku naik angkot setahun sekali. Dan angkot di Jakarta ini tabiatnya macam-macam; mulai dari sebentar-sebentar ngetem sampai kebut-kebutan di jalan. Trus mereka juga tidak kebal dengan kemacetan lalu lintas (Kecuali kereta atau busway kali ya?) Dan bodohnya lagi, aku selalu lupa dengan hal itu! :p
Sederhananya sih, di Jakarta ini kita tak bisa memprediksi apa yang terjadi di jalan. Jalanan bisa macet, jalanan bisa banyak genangan (karena hujan datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan menimbulkan genangan di mana-mana), dan angkot bisa sering ngetem.
Tapi satu hal yang aku amati adalah jalanan di Jakarta ini sering penuh oleh kendaraan pribadi. Dan yang lebih menyebalkan adalah kendaraan pribadi itu paling-paling isinya cuma satu dua orang. Kadang cuma sopir aja. Dan kita yang berada di dalam kendaraan umum berjubel enggak karu-karuan. Ugh! Pengen nonjok! (Shhh! Tenaaaang ... jangan emosi dulu!)
Jadi, sebenarnya sangat masuk akal jika orang-orang yang mampu beli kendaraan pribadi akhirnya memilih untuk naik kendaraannya sendiri. Naik angkot? Oh no! Lha uang masih berlebih kok untuk beli bensin, bayar pajak kendaraan, bayar sopir, servis mobil, dll. Kalau uang cuma pas-pasan, ya nikmatilah naik kendaraan umum. Ya, nikmatilah. Semua ada hikmahnya. (Huuuu! Basi!)
Berapa orang ya yang memintaku untuk menikmati Jakarta? Rata-rata orang yang berkata kepadaku supaya menikmati Jakarta adalah orang yang tidak setiap hari mencicipi kemacetan Jakarta (biasanya sih orang yang tinggal di luar Jakarta) atau orang yang punya kendaraan sendiri. Jenis orang yang terakhir ini kan kalau macet biar dongkol masih bisa menikmati karena ia berada di dalam kendaraannya sendiri yang ber-AC, tidak berjubel dan tidak bau keringat, ada musiknya, dll. Bandingkan saja jika mereka naik kendaraan umum yang berjubel dan masih saja ada orang yang merokok. (Kadang aku pengen menempeli mulut para perokok itu dengan lakban agar tidak sembarangan klepas-klepus. Bau, tauk! Bikin sesak napas dan pusing kepala. Heran, deh, kenapa orang tidak sadar ya bahwa merokok itu merugikan? Tapi meminta orang untuk sadar ibarat meminta surga turun dengan segera. Butuh waktu dan sabaaaaar!) Aku rasa orang yang sudah terbiasa dengan kenyamanan kendaraan pribadi akan nangis-nangis jika harus naik kendaraan umum yang enggak karuan itu.
Aku kadang berpikir, jika saja ada kendaraan umum yang nyaman, murah, dan bisa diandalkan ketepatan waktunya, pasti orang-orang yang naik kendaraan pribadi akan meninggalkan kendaraannya di rumah. Apalagi kalau pajak kendaraan pribadi tinggi banget. Kenapa mesti beli kendaraan pribadi jika kendaraan umum sudah enak? Tapi rasanya ini masih sulit diterapkan. Soalnya tak ada political will untuk melakukannya. Apakah kita perlu usul ke pemeritah ya, bahwa kita mau kok untuk iuran seribu atau lima ribu rupiah per orang agar tercipta kendaraan umum yang nyaman, murah, dan bisa diandalkan. Tapi, kurang apa enggak ya urunan duit segitu? Dan apakah harus sampai segitunya?
Rasanya semua orang sudah tahu jika salah satu "trade mark" Jakarta adalah kemacetan lalu lintas. Ya, betul. Kemacetan adalah hal yang sudah sangat amat biasa di sini. Bahkan aku sering menggunakan alasan ini kalau datang terlambat ke suatu tempat. Hihi ... buka kartu.
Tetapi mungkin lebih tepatnya adalah aku masih belum bisa beradaptasi dengan lalu lintas Jakarta. Aku selalu lupa bahwa ketika di Jakarta aku menggantungkan diriku pada angkot--entah itu metromini, KWK, busway, atau kereta (naik kereta baru sekali ding!). Dan ini tentu berbeda sekali jika dibandingkan ketika masih di Jogja, aku selalu naik motor ke mana-mana. Di sana, belum tentu aku naik angkot setahun sekali. Dan angkot di Jakarta ini tabiatnya macam-macam; mulai dari sebentar-sebentar ngetem sampai kebut-kebutan di jalan. Trus mereka juga tidak kebal dengan kemacetan lalu lintas (Kecuali kereta atau busway kali ya?) Dan bodohnya lagi, aku selalu lupa dengan hal itu! :p
Sederhananya sih, di Jakarta ini kita tak bisa memprediksi apa yang terjadi di jalan. Jalanan bisa macet, jalanan bisa banyak genangan (karena hujan datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan menimbulkan genangan di mana-mana), dan angkot bisa sering ngetem.
Tapi satu hal yang aku amati adalah jalanan di Jakarta ini sering penuh oleh kendaraan pribadi. Dan yang lebih menyebalkan adalah kendaraan pribadi itu paling-paling isinya cuma satu dua orang. Kadang cuma sopir aja. Dan kita yang berada di dalam kendaraan umum berjubel enggak karu-karuan. Ugh! Pengen nonjok! (Shhh! Tenaaaang ... jangan emosi dulu!)
Jadi, sebenarnya sangat masuk akal jika orang-orang yang mampu beli kendaraan pribadi akhirnya memilih untuk naik kendaraannya sendiri. Naik angkot? Oh no! Lha uang masih berlebih kok untuk beli bensin, bayar pajak kendaraan, bayar sopir, servis mobil, dll. Kalau uang cuma pas-pasan, ya nikmatilah naik kendaraan umum. Ya, nikmatilah. Semua ada hikmahnya. (Huuuu! Basi!)
Berapa orang ya yang memintaku untuk menikmati Jakarta? Rata-rata orang yang berkata kepadaku supaya menikmati Jakarta adalah orang yang tidak setiap hari mencicipi kemacetan Jakarta (biasanya sih orang yang tinggal di luar Jakarta) atau orang yang punya kendaraan sendiri. Jenis orang yang terakhir ini kan kalau macet biar dongkol masih bisa menikmati karena ia berada di dalam kendaraannya sendiri yang ber-AC, tidak berjubel dan tidak bau keringat, ada musiknya, dll. Bandingkan saja jika mereka naik kendaraan umum yang berjubel dan masih saja ada orang yang merokok. (Kadang aku pengen menempeli mulut para perokok itu dengan lakban agar tidak sembarangan klepas-klepus. Bau, tauk! Bikin sesak napas dan pusing kepala. Heran, deh, kenapa orang tidak sadar ya bahwa merokok itu merugikan? Tapi meminta orang untuk sadar ibarat meminta surga turun dengan segera. Butuh waktu dan sabaaaaar!) Aku rasa orang yang sudah terbiasa dengan kenyamanan kendaraan pribadi akan nangis-nangis jika harus naik kendaraan umum yang enggak karuan itu.
Aku kadang berpikir, jika saja ada kendaraan umum yang nyaman, murah, dan bisa diandalkan ketepatan waktunya, pasti orang-orang yang naik kendaraan pribadi akan meninggalkan kendaraannya di rumah. Apalagi kalau pajak kendaraan pribadi tinggi banget. Kenapa mesti beli kendaraan pribadi jika kendaraan umum sudah enak? Tapi rasanya ini masih sulit diterapkan. Soalnya tak ada political will untuk melakukannya. Apakah kita perlu usul ke pemeritah ya, bahwa kita mau kok untuk iuran seribu atau lima ribu rupiah per orang agar tercipta kendaraan umum yang nyaman, murah, dan bisa diandalkan. Tapi, kurang apa enggak ya urunan duit segitu? Dan apakah harus sampai segitunya?
Subscribe to:
Posts (Atom)