Kopdar
Kopdar. Kopi darat. Istilah itu mulai kukenal ketika aku mulai menulis di dunia maya. Dulu, ketika menulis, aku sama sekali tidak terbayang untuk kopdar dengan pembaca tulisanku. Soalnya nggak PD, masak sih ada yang mau membaca tulisanku? Tulisanku kan ibarat omongan orang yang ceblang-ceblung alias tidak jelas juntrungannya. Seringnya cuma curhat, dan kadang-kadang saja aku menuliskan isi pikiranku yang kurang bermutu ini. Tapi aku tetap menulis di dunia maya. Yah, daripada nggrundel tidak jelas, kan lebih baik posting tulisan to? Syukur-syukur ada yang menanggapi. Nggak ditanggapi ya tidak apa-apa. Toh aku bukan siapa-siapa.
Lalu, kapan aku mulai kopdar? Kapan ya persisnya? Aku lupa-lupa ingat. Tapi mungkin sekitar 4 tahun yang lalu. Mungkin nanti aku perlu konfirmasi kepda yang bersangkutan. Yang jelas, aku kopdar pertama kali dengan Donny Verdian alias DV. Singkat cerita, kami bertemu di Cafe Djendelo, lantai 2 Toga Mas Jogja. Dasar wong ndeso yang tidak pernah ke kafe, aku pun clingak-clinguk ketika pertama kali menjejakkan kaki ke sana. Waduh, nggon opo to iki? (Waduh, tempat apa to ini?) pikirku. Lha biasanya aku kalau keluar makan ya ke tempat makan biasa, je. Nggak pernah aku ke tempat yang berjenis kafe seperti itu. Dan aku waktu itu juga tidak tahu DV itu seperti apa sosoknya. Tapi setelah celingak-celinguk beberapa saat, akhirnya aku bertemu juga dengan DV. Oh, iki to sing jenenge Donny. Kesan pertamaku: Hmmm ... kayaknya anak gaul nih! Hihihi. Aku yang waktu itu baru pulang dari kantor merasa “salah kostum” berada di situ dan bertemu dengan DV yang anak gaul. Tapi biarlah. Anggap saja ini pengalaman pertama dengan sesama penulis di dunia maya. Akhirnya kami pun ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari obrolan soal tulisan sampai pertanyaan: “Wis duwe yang po durung?” (Sudah punya pacar apa belum?) Halah!
Pulang dari kopdar itu, aku jadi mikir, “Oh, begitu to yang namanya kopdar.” Asyik juga bisa bertemu dengan teman baru dari dunia yang baru pula. Selama ini teman-temanku ya seputar teman kantor. Sebenarnya pengen juga ikut kegiatan di sana-sini. Tapi waktu itu aku masih agak-agak trauma ikut kegiatan di luar, karena sekalinya ikut, e... malah sering dapat SMS yang tidak jelas. Huh! Mending aku menghabiskan waktu untuk menulis, membaca, atau mengerjakan terjemahan. Lebih jelas. Jelas dapat duit, maksudnya! Hahaha.
Selain dengan DV, aku kopdar dengan siapa lagi? Pertama, dengan seorang teman yang sama-sama berasal dari Madiun tetapi kini bekerja di Jakarta. Sebenarnya dia teman kakakku sih, tapi waktu masih di Madiun, kami malah tidak saling kenal. Lalu beberapa waktu lalu juga kopdar dengan Bang Eben, si pemilik blog Sarimatondang yang pandai bercerita. Selain itu, Oni yang sekarang menjadi suamiku juga kukenal lewat milis penulisan dunia maya dan dilanjutkan dengan kopdar :)
Nah, kemarin waktu aku pulang ke Jogja, aku mengontak Bu Tuti Nonka. Siapa tahu kami bisa kopdar, begitu pikirku. Dan ternyata Bu Tuti bersedia menyempatkan diri di tengah kesibukannya untuk kopdar dengan aku! Yey! Kami janjian bertemu di Bumbu Desa, Sagan, Jogja. Awalnya aku bingung, Bumbu Desa itu mana sih? Daerah Sagan itu kan daerah yang sering aku lewati dulu. Masak aku sampai tidak tahu kalau ada tempat makan Bumbu Desa di situ? Kebangetan! Rupanya Bumbu Desa baru dibangun kira-kira setahun belakangan ini. Wooo ... jadi masuk akal kalau aku tidak terlalu ngeh. Wong setahun terakhir ini aku kan lebih banyak di Jakarta ketimbang keluyuran di Jogja. (Huuu .... Alasan!)
Hari Sabtu siang itu, aku dan suamiku meluncur ke Bumbu Desa sekitar pukul 12.30 dari rumah. Walaupun belum pernah ketemu Bu Tuti, tidak sulit mengenali beliau. Di blognya kan banyak banget fotonya, jadi sekali lihat langsung tahu deh! Hehehe. Ternyata cantik aslinya daripada yang di foto, lo! Sesampainya di sana, kulihat Bu Tuti sedang menikmati minuman yang dipesannya. Rupanya Bu Tuti juga mengundang Uda Vizon (dan istri) dan Muzda untuk ikut kopdar. Asyik juga bertemu dan mengobrol dengan teman-teman baru. Yang lebih asyik lagi, Bu Tuti waktu itu membagikan novel karyanya kepada kami yang berjudul Keberangkatan. Salut deh dengan Bu Tuti! Tulisannya sudah bertebaran di mana-mana rupanya! Tapi sebenarnya aku malu juga saat itu soalnya kami (aku dan suamiku) makannya paling lama karena mengambil lauk kebanyakan. Duuuh! Aku jadi tidak enak dengan Bu Tuti nih. Maafkan kami ya, Bu Tuti ....
Kami menghabiskan waktu di sana kira-kira sekitar 1 jam. Mendung yang menggantung di langit Jogja akhirnya menghantar kepulangan kami masing-masing.
Hmmm ... berikutnya aku kopdar dengan siapa lagi ya?
Showing posts with label jogja. Show all posts
Showing posts with label jogja. Show all posts
Wednesday, June 24, 2009
Thursday, May 07, 2009
Author: krismariana widyaningsih
|
at:10:34 PM
|
Category :
bersyukur,
gloria,
jogja,
mbah kung,
mbah putri,
pakel
|

Kangen
Rumah kakek-nenekku di Pakel, Umbulharjo, Jogja, sebenarnya salah satu rumah yang nyaman bagiku. Tapi itu duluuu. Dulu, sebelum Mbah Kung meninggal, sebelum Mbah Putri mulai sakit-sakitan, sebelum gempa di bulan Mei 2006 melibasnya habis. Masih terekam dalam ingatanku, rumah itu selalu tampak hijau. Berbagai tanaman menyapaku dengan hangat begitu aku masuk ke halaman rumah itu.
Dulu di pinggir halaman itu ada pohon jambu bol. (Duh, apa ya bahasa Indonesianya? Aku agak geli sebenarnya menyebut nama jambu itu. Hihihi) Lalu di sebelahnya ada kolam kecil. Awalnya diisi ikan lele, tapi kemudian diganti dengan ikan mas. Aku paling suka kalau kolam itu dikuras. Itu berarti aku bisa masuk dan keceh di situ sambil menangkapi ikan-ikan untuk dimasukkan ke dalam ember. Atau kadang, saat semuanya tidur siang, aku akan mengambil sepotong roti tawar dari lemari makan, lalu aku akan berlari ke pinggiran kolam itu dan memecah-mecah roti untuk dijadikan pakan ikan. Akhirnya kolam yang sudah bersih itu pun jadi kotor lagi dan sepertinya ikan-ikan di situ jadi tak berselera makan lagi. Ha ha ha.
Rumah Pakel menjadi agak kurang terurus ketika Mbah Putri mulai sakit-sakitan. Rumah itu mulai berdebu. Tanaman di halaman juga mulai berkurang. Kini, rumah itu ambruk dan belum diperbaiki lagi setelah diterjang gempa.
Jujur saja, aku merindukan rumah Pakel yang dulu. Yang masih asri dan terawat dengan baik. Tapi bagaimana mungkin aku menghadirkan rumah Pakel yang dulu? Mbah Kung dan Mbah Putri sudah meninggal. Dan sejak mereka tiada, rumah itu seperti kehilangan rohnya. Belakangan, sebelum kena gempa, rumah itu sangat tidak terurus. Apalagi sekarang, rumah itu hanya tinggal puing-puing. Tak ada yang bisa mengembalikan keceriaan rumah itu sepertinya.
Rumah Pakel mengingatkanku bahwa masa lalu kadang hanya bisa dikenang tapi tak bisa dikembalikan lagi. Bahkan ketika aku kembali mengunjungi tempat yang menyimpan masa lalu itu, semuanya sudah berubah.
Hal itu mengingatkanku akan hal lain, yaitu kenangan saat aku masih sebagai seorang karyawan biasa di sebuah penerbitan kecil di Jogja. Kadang aku kangen ikut tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman yang suka bercanda. Kadang aku kangen mengobrol dengan teman sebelahku--mengobrolkan resep masakan sampai soal pasangan hidup hehe. Tapi itu dulu. Aku sekarang merasa semuanya berubah. Ada yang hilang. Ada yang kemudian tak bisa dibicarakan lagi--tampaknya.
Aku kangen sebenarnya. Tapi jika yang dikangeni sudah berubah, mau bagaimana lagi? Mungkin lebih baik aku merayakan saat ini--saat yang ada depan mataku. Semuanya harus disyukuri kan?
#Gambar diambil dari sini
Monday, April 27, 2009
Home Sweet Home
Pulang ke Jogja memang selalu membuatku semangat, karena itu berarti aku lepas dari polusi Jakarta yang membuatku terbatuk-batuk. Dan lagi, entah kenapa, aku rasanya sayang banget dengan rumah Jogja. Mungkin rasa sayang itu pula yang membuatku tak pernah "diganggu" kalau tidur di kamar depan. Hi hi hi. Kata kakakku (sang pemilik kamar yang sebenarnya), dia sering tindihan kalau tidur di situ. Dan aku saksinya. Jadi, dulu aku sering menemaninya sampai dia benar-benar tidur pulas. Soalnya, pas menjelang dia pulas, hampir selalu tindihan. Jadi, aku mesti membangunkannya. Hal itu makin parah setelah aku ke Jakarta, katanya. Karena itu, akhirnya dia pindah ke kamar sebelah belakang. Trus, suatu kali , pacar kakakku tidur di kamar depan. Tiba-tiba dia terbangun karena rasanya ada duduk di sebelahnya. Padahal kenyataannya, tak ada siapa-siapa! Hiiii. Kakak sepupuku dulu juga tak pernah bisa tidur di kamar situ. Mimpi buruk terus katanya.
Bagaimana dengan aku? Sama sekali tak pernah diganggu tuh! Hebat kan? Dulu suamiku juga pernah diganggu. Tapi katanya setelah "berkenalan", dia tak pernah diganggu lagi. Akhirnya, kamar itu selalu kosong, kecuali jika ada tamu. Hahaha. Jadi, siap-siap tak bisa tidur ya kalau mau nginep di rumahku.
Jadi, ceritanya pas Pemilu kemarin aku pulang. Apesnya, kereta Fajar Utama yang biasanya cukup nyaman, kali itu penuh banget! Dan panasnya nggak ketulungan. Akhirnya aku sukses masuk angin. Dan seperti biasa, kalau masuk angin parah, aku jadi diare dan nggak bisa makan karena mual banget!
Akhirnya, karena perutku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kram, aku pun meluncur saja ke Panti Rapih. Akhirnya ... akhirnya aku pun nginep di sana selama 2 malam. Huh! :( Yang paling mengganggu adalah infus. Hiks! Aku paling benci diinfus. Nyut-nyutan rasanya. Budeku sampai bilang begini, "Pulang ke Jogja, kok yang dikangeni kamarnya (yang di Panti Rapih)." Huuu... maunya sih nggak opname, Bude. Sebenarnya setelah nginep 1 malam, aku sudah merasa sehat. Tapi dokter memaksaku untuk tidur semalam lagi di sana. Betul-betul liburan di rumah sakit deh. Aku tak bisa misa Paskah sama sekali. Aku akhirnya cuma bisa membayangkan Yesus meninabobokkan aku. "Tak lelo-lelo ledung..." Untunglah di Panti Rapih tiap malam dapat kiriman hosti.
Gara-gara opname itulah, liburan kali ini suamiku akhirnya lebih banyak menemani aku alias tidak ke mana-mana. Kasihan dia. Padahal sudah ada daftar beberapa makanan yang harus disantap kalau di Jogja. Untunglah kakakku berbaik hati membelikan kami Mi Jawa Pak Paino di Bintaran. Wah, uenak tenan! Di Jakarta sini susah betul cari Mi Jawa. Kalaupun ada, Mi Jawa-nya gadungan, karena tidak pakai telor bebek dan dagingnya bukan ayam kampung.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku baru bisa ngeluyur ketemu teman-teman. Ke Kanisius dan mampir ke kantorku yang lama. Banyak dapat cerita plus wawasan. Hmmm...
Akhirnya, setelah seminggu lebih di Jogja, aku pun balik ke Jakarta. Saat itu, suamiku berencana menyekolahkan komputer kami, alias menginstall ulang. Wah, ternyata ribet juga! Dan setelah melewati masa-masa disconnected, hari ini aku kembali muncul ke dunia maya. Nanti ya aku cerita-cerita lagi. Hehehe!
*foto rumah Jogjaku itu kuambil pada pagi hari 17 April '09, sebelum berangkat kembali ke Jakarta. Harap maklum kalau tidak jelas, wong fotografer amatiran.
Monday, February 16, 2009

Menonton Jagad X Code, Nonton Sekaligus Nostalgia
Beberapa waktu lalu, sewaktu akan nonton Happy Go Lucky dengan suami dan Adel, suamiku menunjuk sebuah poster film. "Eh kayaknya lucu nih!" Film itu berjudul Jagad X Code. Bagi beberapa orang, judul film itu memang agak menyesatkan. Emma, temanku, mengira judul itu dibaca: "Jagad Eks Kod" (baca: pengucapannya), bukan "Jagad Kali Code". Tapi tak apalah, dimaklumi. Kesalahpengertian itu mestinya sudah diantisipasi oleh sang pembuat (judul) film.
Nah, minggu kemarin, di hari liburnya, suamiku mengajak nonton Jagad X Code. Aku sih mau-mau aja, wong dibayari. Hehehe. Lagi pula, menilik beberapa pemainnya seperti Yati Pesek, Didik Nini Towok, dan Marwoto, aku menebak ini pasti film lucu-lucuan yang mengambil setting Jogja. Dan benarlah dugaanku.
Film itu mengambil setting di pinggiran Kali Code, Jogja. Bagiku, menonton film itu seperti nostalgia. Wong, pengambilan gambarnya itu sekitar kantorku dulu (kantorku dulu memang di pinggir Kali Code :p). Kalau nggak salah sih pengambilan gambar itu dilakukan di kios ban-ban di sebelah utara gedung kantorku, di jembatan Kali Code di dekat McDonald jalan Sudirman (jembatan itu sering kami lewati pas mau makan siang di warung Padang dekat Tio Ciu), lalu Malioboro, alun-alun, Pasar Ngasem, Taman Sari, dan kalau nggak salah sih di sekitar Sagan, belakang Super Indo.
Film itu mengisahkan Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwiensyah), dan Gareng (Opie Bahtiar), tiga anak Code yang masih lontang-lantung. Di tengah masa pengangguran mereka yang nggak jelas itu, mereka bertemu dengan Semsar, seorang preman Malioboro yang menyuruh mereka mencari flask disk di tas seorang perempuan. Sayangnya, mereka itu benar-benar polos dan gaptek sehingga tidak tahu flask disk itu benda macam apa. Akhirnya mereka berhasil menjambret tas dari perempuan yg dimaksud oleh Semsar. Setelah mengeluarkan isi tas itu, mereka akhirnya mengambil sebuah benda yang mereka yakini sebagai flask disk. Film itu kemudian bergulir di seputar usaha mereka untuk menyerahkan benda tersebut kepada Semsar, perkenalan mereka dengan Regina (Tika Putri), seorang gadis klepto, anak pengusaha kaya di Jogja, dan usaha mereka untuk mendapatkan uang/pekerjaan.
Sebagai sebuah film untuk menyegarkan suasana, film ini lumayan sebenarnya. Tetapi menurutku film ini kurang "Jogja". Mungkin karena pemain utamanya justru bukan orang Jogja (Ringgo dan kedua temannya). Ke-Jogja-an di film itu diisi oleh Butet, Djaduk, Didik Nini Towok, Marwoto, dan Yati Pesek. Menurutku film itu akan lebih mantap kalau salah satu pemain utamanya adalah orang Jogja atau orang yang sudah lama bermukim di Jogja (yang sudah fasih berbahasa Jawa ala anak-anak muda Jogja). Rasanya Donny Verdian atau Aat Poank (teman kantorku dulu), pas deh kalau ikut jadi pemain utama. Hehehe. (Don, tampangmu kan wis koyo Cino, ora ndeso-ndeso banget lah. Nek mung ngganteni Ringgo ketoke iso kok. Atau, kowe At, tampangmu kan wis sering muncul neng TV jadi, tur kowe kan nek ngomong medok banget, jadi ketok le asli Jogja hehehe. Ora mung ngem-ce ae At. Gek dadi artis hehehehe. Sopo ngerti iso luwih terkenal mbanganne bosmu lo :p)
Salah satu alasanku menonton film itu adalah karena musiknya Djaduk. Menurutku sih keren :)
Tuesday, September 25, 2007
Jogja Kota (Ter)Pelajar?
Beberapa hari ini aku sengaja pulang selewat jam buka puasa. Soalnya, aku males banget kalau harus mengarungi kemacetan yang terjadi di seputar UGM dan sekitar Gejayan. Kalau yang memenuhi jalanan itu sepeda ontel dan becak, mungkin masih mending. (Mungkin lo! Soalnya mereka kan enggak mengeluarkan asap knalpot yang bikin sesak napas? Paling-paling cuma bau keringat, yang bakal hilang baunya kalau diguyur air plus sabun ketika mandi hehehe.) Masalahnya, yang berjubel di jalanan itu justru bus kota, mobil, dan sepeda motor. Asap dari knalpot2 itu membuat udara menjadi semakin panas. Dan sepertinya hidungku ini mendadak perlu disambungkan dengan tabung oksigen. Duh, berat di ongkos kan kalau naik motor saja perlu beli tabung oksigen? :p
Kemacetan itu kupikir disebabkan oleh banyaknya motor yang diparkir di seputar bunderan UGM. Motor-motor dan orang-orang yang nongkrong di situ sampai menutupi hampir separo jalan! Ditambah lagi berpuluh gerobak penjual makanan juga ikut nangkring di situ. Sampai-sampai aku heran, kenapa justru di bulan puasa justru makin banyak penjual makanan ya? Kayaknya kok enggak cocok banget dengan tujuan puasa itu sendiri. Ya memang sih, jualannya menjelang buka puasa di mana orang butuh membeli makanan untuk berbuka. Tapi apa enggak bisa sih makan seperti biasa? Kenapa mesti berjubel dalam rangka berjual-beli sehingga membuat repot orang lain?
Eh, sampai mana tadi? Oiya ... begini, yang aku herankan adalah kenapa kemacetan itu terjadi di sekitar kampus (dalam hal ini UGM)? Mestinya kan kalau di "daerah intelek" seperti itu, keadaan sekitarnya jadi kecipratan "intelek" juga dong. Begitu logika bodohnya. Tapi kok ya, justru di sekitar itu justru terjadi kemacetan yang amat sangat? Apa yang salah sih? Kenapa para mahasiswa di situ tidak bisa membuat perbedaan yang membuat orang di sekitarnya menjadi lebih nyaman?
Dan kalau menilik keadaan lalu lintas secara lebih lebar lagi, Jogja yang menyandang predikat kota pelajar, tidak menunjukkan "keterpelajarannya". Jogja mulai macet dan banyak pengendara motor yang ugal-ugalan.
Mungkin bisa saja dibilang bahwa predikat kota pelajar ini karena di Jogja terdapat banyak kampus. Tetapi kan kalau banyak kampus, semakin banyak orang yang menikmati pendidikan. Dan idealnya, jika pendidikan itu di sekolah formal itu ada dampak positifnya, paling enggak keadaan di masyarakat sekitar menjadi semakin baik dong. Tapi ternyata kok enggak ya? (Lalu apa gunanya sekolah dong?)
Beberapa hari ini aku sengaja pulang selewat jam buka puasa. Soalnya, aku males banget kalau harus mengarungi kemacetan yang terjadi di seputar UGM dan sekitar Gejayan. Kalau yang memenuhi jalanan itu sepeda ontel dan becak, mungkin masih mending. (Mungkin lo! Soalnya mereka kan enggak mengeluarkan asap knalpot yang bikin sesak napas? Paling-paling cuma bau keringat, yang bakal hilang baunya kalau diguyur air plus sabun ketika mandi hehehe.) Masalahnya, yang berjubel di jalanan itu justru bus kota, mobil, dan sepeda motor. Asap dari knalpot2 itu membuat udara menjadi semakin panas. Dan sepertinya hidungku ini mendadak perlu disambungkan dengan tabung oksigen. Duh, berat di ongkos kan kalau naik motor saja perlu beli tabung oksigen? :p
Kemacetan itu kupikir disebabkan oleh banyaknya motor yang diparkir di seputar bunderan UGM. Motor-motor dan orang-orang yang nongkrong di situ sampai menutupi hampir separo jalan! Ditambah lagi berpuluh gerobak penjual makanan juga ikut nangkring di situ. Sampai-sampai aku heran, kenapa justru di bulan puasa justru makin banyak penjual makanan ya? Kayaknya kok enggak cocok banget dengan tujuan puasa itu sendiri. Ya memang sih, jualannya menjelang buka puasa di mana orang butuh membeli makanan untuk berbuka. Tapi apa enggak bisa sih makan seperti biasa? Kenapa mesti berjubel dalam rangka berjual-beli sehingga membuat repot orang lain?
Eh, sampai mana tadi? Oiya ... begini, yang aku herankan adalah kenapa kemacetan itu terjadi di sekitar kampus (dalam hal ini UGM)? Mestinya kan kalau di "daerah intelek" seperti itu, keadaan sekitarnya jadi kecipratan "intelek" juga dong. Begitu logika bodohnya. Tapi kok ya, justru di sekitar itu justru terjadi kemacetan yang amat sangat? Apa yang salah sih? Kenapa para mahasiswa di situ tidak bisa membuat perbedaan yang membuat orang di sekitarnya menjadi lebih nyaman?
Dan kalau menilik keadaan lalu lintas secara lebih lebar lagi, Jogja yang menyandang predikat kota pelajar, tidak menunjukkan "keterpelajarannya". Jogja mulai macet dan banyak pengendara motor yang ugal-ugalan.
Mungkin bisa saja dibilang bahwa predikat kota pelajar ini karena di Jogja terdapat banyak kampus. Tetapi kan kalau banyak kampus, semakin banyak orang yang menikmati pendidikan. Dan idealnya, jika pendidikan itu di sekolah formal itu ada dampak positifnya, paling enggak keadaan di masyarakat sekitar menjadi semakin baik dong. Tapi ternyata kok enggak ya? (Lalu apa gunanya sekolah dong?)
Subscribe to:
Posts (Atom)