Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Tuesday, March 10, 2009

Takut Komitmen?


Kemarin aku mendapat email dari seorang teman yang ujung-unjungnya dia mengatakan bahwa dia takut berkomitmen dengan pacarnya sekarang. Sebenarnya agak membingungkan juga, soalnya beberapa waktu lalu dia mengatakan akan menikah. Tapi kok masih takut untuk berkomitmen ya?

Memang sih, menikah adalah keputusan yang besar. Setelah kita mengatakan "Saya bersedia" atau "Yes, I do", tak ada jalan untuk kembali. Itu menurutku lo. Menikah ya sekali saja. Nggak tahu ya kalau dari awal sudah niat kawin lagi? Nah, saat itulah cinta membutuhkan komitmen (halah) dan tidak hanya menggombal, "Kaulah segalanya. Gunung kan kuseberangi, laut kan kudaki" kebalik ya? Orang kalau lagi mabuk kan ngomongnya suka kebalik-balik. Hehehe. Ah, pokoknya begitu deh. Gombal abis!

Teman saya itu mengatakan teman-temannya sudah membesarkan hatinya dan mendorong-dorong "Menikah saja, deh!" Dia menanyakan bagaimana caranya supaya tidak takut untuk berkomitmen.

Nah jadi, bagaimana caranya?

Menurutku yang perlu ditanyakan adalah "Mengapa menikah?" Tidak ada undang-undang yang mengatakan bahwa setiap orang harus menikah. Tidak ada yang mengharuskan. Kalau dia mau melajang terus, ya boleh-boleh saja--asal tidak mengganggu kepentingan umum kayak kasusnya Ryan begitu. Kalau mau menikah, ya dia sendiri secara sadar memang mau menikah dengan kekasih pilihan hatinya. Maksudnya, menikah memang betul-betul pilihannya. Barangkali, teman dan orang-orang terdekat sudah mendorong-dorong. Tapi masak hanya karena sudah didorong-dorong orang lain sih? Nggak seru ah! Menurutku menikah itu tidak karena semua teman sudah menikah, sudah dianggap sudah cukup umur untuk menikah, dll. Mesti ada niat dari diri sendiri (dan pacarnya tentu saja, dong!).

Kalau memang dia cuma pengen TTM saja, atau pacaran tanpa berniat menikahi perempuan itu, mbok lebih baik ngomong saja terus-terang di awal kepada pacarnya itu, "Kamu mau nggak kita pacaran tapi tidak usah menikah. Aku takut untuk menikah dan berkomiten nih." Nah, soal ceweknya nanti mencak-mencak, ya itu resiko yang harus dia tanggung. Jangan sudah pacaran lamaaaa tapi ujung-ujungnya si cewek "digantung" alias nggak jelas mau dinikahi atau tidak. Kalau si cewek dari awal pacaran sudah pengen menikah dalam waktu 1-2 tahun, tapi ternyata setelah lebih dari 4 tahun tak ada tanda-tanda akan dinikahi, kan bisa bikin stres? Apalagi kalau sudah sama-sama berumur, sudah mapan semua. Tapi rasanya memang keberanian untuk berkomiten tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemapanan seseorang. Ada lo, temanku yang belum lulus kuliah berani menghamili pacarnya supaya boleh menikah. Memang itu konyol sih. Tapi kurasa dia lebih berani berkomitmen lo. Tanggung jawab.

Tapi aku sendiri tak tahu kenapa temanku itu takut berkomitmen. Rasanya kalau dia sudah enjoy dengan dirinya sendiri, alias dia nggak bermasalah, menikah dan berkomitmen itu wajar kok. Kalau yang pernah aku baca-baca, seseorang bisa untuk takut berkomitmen karena punya masalah keluarga. Misalnya, dia pernah melihat orang tuanya bercerai. Nah, kalau kaya gitu, mesti diberesi dulu masalahnya. Bagaimanapun, jika masalah itu belum dibereskan sebelum menikah, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan ruwet lagi.

Kawan, menikah memang butuh kedewasaan.... (hihihi, ngomongnya sok dewasa banget sih! mentang-mentang udah nikah.)

Wednesday, February 18, 2009


Tak Cukup Hanya Perasaan

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan teman asramaku dulu, Nana. Ngobrol ngalor ngidul. Kangen-kangenan. Kami sudah lama tidak bertemu--seingatku sejak tahun 2001. Atau lebih? Ah, lupa.

Seperti biasa, teman asrama selalu "nyantol di hati". Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin karena kami dulu serumah. Tiap hari bertemu; mulai dari bangun tidur sampai mau tidur. Ya, kuliah memang bisa beda-beda. Tapi setiap kami pulang kuliah atau beraktivitas, ketemunya ya mereka-mereka itu. Dan pada pertemuan kemarin itu kami bernostalgia. Mengingat teman-teman yang dulu sekamar dan yang beda unit.

Salah satu yang kami bicarakan adalah kekecewaan Nana karena "ditolak" untuk bertemu dengan seorang teman kami --sebut saja--namanya Lila. Entah kenapa Lila tidak mau bertemu Nana lagi. Padahal dulu mereka kadang sering bareng. Lalu mengalirlah cerita dari mulut Nana, bahwa dulu Lila itu pernah bermasalah dengan pacarnya. Menurut Nana sih, cowoknya itu sikapnya keras banget. Jadi sering memaksakan kehendak. (Yee ... baru pacaran sudah sering maksa.)

Akhirnya mereka pun putus. Dan Nana jadi tumpahan curhat si Lila. Setelah putus, si Lila masih saja menyayangkan putusnya mereka dan pengin balik lagi. Nana, yang kenal betul watak si cowok, berkali-kali mengatakan bahwa keputusan mereka untuk putus itu sudah benar. Tapi ya ... mungkin karena masih sayang atau bagaimana, Lila ngotot ingin balik. Lha, terang saja Nana jadi sewot. "Lha belum jadi suami saja sudah sering maksa gitu, masak mau diterusin?"

Menurutku Nana benar. Setelah putus, kita mungkin ingin balik lagi ke mantan pacar, padahal kita sadar betul kalau mantan cowok kita ini begini, begini, begitu, begitu. Enggak cocoklah gampangnya. Kalau dari awal sudah ada ganjelan yang tidak bisa diselesaikan, jangan pernah percaya bahwa ganjelan itu bisa hilang dengan sendirinya setelah menikah.

Tapi kalau masih sayang?

Hmmm ... menurutku, sayang itu adalah perasaan. Bagaimana pun memilih pasangan hidup itu tidak hanya membutuhkan perasaan, tetapi juga logika. Perasaan sih perlu, tapi kayaknya perasaan bisa pudar. Karena itu, pertimbangan akal sehat sangatlah dibutuhkan. So, sah-sah saja kita pilih-pilih pasangan. Walaupun sudah didorong kanan kiri untuk segera menikah, keputusan ada di tangan kita. Toh, nantinya kita sendiri yang menjalani hidup pernikahan. Orang-orang yang sering bertanya, "Kapan nikah?" itu hanyalah penonton. Mereka tidak benar-benar terlibat dalam hidup pernikahan kita.

Jadi teman-teman, silahkan pilih-pilih dan beranilah mengambil keputusan dengan disertai pertimbangan akal sehat ;)

Monday, October 13, 2008

SUVENIR
(hal kecil yang dianggap penting, yang sebenarnya sama sekali nggak penting)

Bagi yang sedang mempersiapkan pernikahan atau yang sudah menikah, barangkali sudah pernah merasakan pusingnya menemukan suvenir yang pas. Ya pas duitnya, pas fungsinya. Kalau bisa sih nemu suvenir yang murah, bagus, tidak gampang rusak, tidak kelihatan murahan, unik, dan berguna. Ukuran harga yang murah itu perlu. Kecuali bagi mereka yang duitnya sisa banyak, yaaa ... barangkali syarat "murah" itu tidak masuk hitungan.

Kemarin waktu aku menikah, aku sebenarnya tidak akan menyediakan suvenir. Kenapa? Sebenarnya sih aku ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa pernikahan tanpa suvenir itu tetap sah. Dan itu, tidak masalah. Kalau pun "dirasani" orang, berapa lama sih mereka bakal mempergunjingkan kami? Lama-lama gunjingan mereka toh akan berhenti. Kalau tidak berhenti, ya tebalkan telinga saja. Gampang. Lagi pula, beberapa kali aku mendapatkan suvenir "instan", alias baru dipakai sekali, langsung rusak. Sayang banget. Daripada duit dihambur-hambur untuk menyediakan suvenir yang (ternyata) mutunya jelek, lebih baik tak ada suvenir sama sekali. Iya, kan?

Tapi yah, mempertahankan pendapat di depan orangtua, ternyata tidak mudah. Awalnya ibuku setuju kalau tidak pakai suvenir. Tapi satu bulan menjelang hari H, ibuku mulai ribut. Duuuh! Pusing juga lama-lama. Akhirnya aku pun mencari suvenir yang murah dan berguna. Hmm ... apa ya? Notes! Itu saja. Aku bilang ke temanku supaya membuatkan cover, lalu aku memesan notes mungil ke sebuah percetakan kecil yang kata temanku cukup murah. Aku lupa berapa lama notes itu jadi. Tapi seingatku cepat juga kok. Dan harganya pun tidak mahal. Aku sengaja memilih notes sebagai suvenir karena kupikir toh banyak orang masih menulis. Dan notes itu kan bisa dipakai buat menulis pesan, daftar belanjaan, agenda harian, dll. Dan sekali lagi, harga cetak notes itu tidak mahal. Asal, ndak neko-neko lo. Enggak pakai cover dengan kertas bagus atau bagian dalamnya disablon. Lagi pula, kalau kita langsung pesan ke percetakan, jatuhnya tidak mahal.

Ngomong-ngomong soal suvenir, aku jadi berpikir, sebenarnya siapa sih yang "mengharuskan" kita untuk memberi suvenir. Maksudku, sebenarnya apa pendorong terbesarnya? Karena semua orang memberi suvenir? Apakah suvenir itu suatu keharusan yang diberikan sebagai tanda terima kasih? Apakah ucapan terima kasih itu tidak cukup jika berupa suguhan makanan yang banyak macamnya pas resepsi? Apakah kita datang ke resepsi pernikahan teman atau famili kita karena menginginkan suvenirnya? Bagi sebagian perempuan, aku kira memang memiliki rasa "penasaran" bakal mendapat suvenir apa. Tapi kurasa, itu terjadi karena setiap kali datang ke acara pernikahan, mereka mendapat suvenir. Coba kalau masyarakat kita tidak membudayakan suvenir, tentu tak akan ada rasa penasaran itu.

Bagiku, pendorong terbesar yang membuatku mengadakan suvenir adalah permintaan ibuku. Tak lebih. Lha kalau aku tidak menyediakan suvenir, ibuku bakal berlelah-lelah membuat pernak-pernik sendiri. Wah! Aku tentu tidak tega melihat ibuku pontang-panting, dong. Jadi, daripada ribut, mending aku merelakan beberapa ratus ribu untuk menyediakan notes-notes mungil. Lagi pula, tahu kan bagaimana ribetnya dan seberapa tinggi tingkat stres di seputar acara pernikahan? Ada banyak hal yang mendadak meminta perhatian kita. Mulai dari usulan anggota keluarga kita, undangan yang belum tersebar dengan merata, jenis makanan kecil yang akan dihidangkan, dll. Fiuuuh!

Aku sering heran, kenapa sepertinya masyarakat kita lebih mementingkan hal-hal remeh--seperti suvenir? Padahal untuk acara pernikahan, menurutku ada hal yang lebih penting daripada suvenir. Kesannya pas acara kawinan itu yang penting adalah hal yang tampak: dekornya bagus apa enggak, makanannya ada berapa macam, riasan pengantinnya bagus apa enggak. (Padahal tahu nggak, sanggul pengantin perempuan itu berat, lo. Dan lama-lama bikin pusing! Di balik kepusingan pengantin, orang-orang bertepuk tangan dan merasa senang. Is it what you looking for, huh?)

Aku kadang ingin melihat acara pernikahan yang benar-benar sakral. Tidak neko-neko; tidak diadakan gede-gedean supaya tampak "wah"; pengantin dan keluarganya bisa tersenyum lebar karena tidak memikirkan utang yang harus diangsur setelah ini; orang-orang yang datang pun bisa merasakan "nyes"-nya acara itu. Tak ada pergunjingan. Tak ada celaan. Dan, semuanya bahagia.