Sunday, July 05, 2009

Mi Tarik yang Tak Lagi Menarik

Entah aku lupa kapan tepatnya aku suka dengan mi. Yang jelas, aku masih ingat betul harum bau mi rebus buatan Mak'e, pengasuhku sejak kecil. Aroma mi rebus campur telur, suwiran ayam, kubis, daun bawang, dan wortel itu selalu membuatku buru-buru mengambil piring dan segera mengangsurkannya kepada Mak'e ketika mi rebus itu sudah matang. Lalu pyur ... pyur ... tangan Mak'e yang gemuk itu akan menaburkan bawang goreng. Duh, tak sabar aku duduk dan menyantap mi rebus itu sampai ludes.

Ketika Mak'e sudah meninggal dan aku beranjak dewasa, aku yang masih awam dengan bumbu dapur, akhirnya harus puas dengan mi instan. Bagaimana tidak awam? Wong dari lahir ceprot sampai SMP aku tinggal duduk manis di meja makan dan tinggal makan masakan Mak'e yang tak pernah mengecewakan lidahku. Dan begitu dia meninggal, aku kehilangan masakan nikmat hasil racikannya, salah satunya ya mi buatan Mak'e. Jadi, akhirnya untuk memuaskan kerinduanku akan mi, aku berpaling pada mi instan.

Sebenarnya aku lumayan suka dengan mi instan itu. Tetapi belakangan aku sangat menghindarinya. Setidaknya sudah hampir tiga tahun ini aku tak pernah menyentuh mi instan. Sejak dokter menemukan adanya kista cokelat di indung telurku dan aku harus menjalani pengobatan yang cukup menguras tabungan, aku jadi sangat mengurangi apa yang namanya MSG dan semacamnya. Dan itu termasuk mi instan. Uh, awalnya sulit, booo! Dulu biasanya kalau malas ke pasar, aku tinggal membuka lemari persediaan bahan makanan dan plung ... plung ... kucemplungkan mi instan ke dalam panci yang berisi air mendidih itu. Hmmm, aku masih ingat betul bau harumnya lo. Tapi sudahlah, itu masa lalu :)

Aku belum mencoba bermacam-macam mi. Yang kucoba baru seputar mi jawa, mi aceh, mi bangka, mi belitung (aku lupa apa namanya, tapi mi itu kunikmati saat aku liburan ke rumah suamiku di Tanjung Pandan, Belitung Barat), spageti, mi cina. Aku sebenarnya agak bingung dengan istilah mi cina itu. Itu istilahku sendiri dan tak berniat untuk memasukkan unsur SARA. Yang jelas, mi itu kujumpai di restoran cina. Dan kurasa sudah banyak orang yang mengenalnya. Mana yang paling aku sukai? Bingung kalau suruh memilih. Aku suka semua. Tapi belakangan aku suka mi aceh. Bagi orang yang mengenalku mungkin merasa aneh ketika mengetahui aku suka mi aceh. Pasalnya aku kan tidak terlalu suka pedas. Aneh kan? Padahal mi aceh itu cukup menyengat di lidah. Ini gara-gara suamiku sih sebenarnya. Dia itu kan suka sekali menjajal menu baru, dan apa yang dibilang enak oleh suamiku biasanya aku sih setuju-setuju saja. Dan suamikulah yang "mengajariku" menikmati mi aceh. Awalnya terasa aneh di lidah, tetapi lama-lama enak kok!

Nah, salah satu mi yang membuatku penasaran adalah mi tarik. Pertama kali aku mengenal mi tarik ini dari kakakku. Suatu kali sewaktu dia pulang dari Jakarta, dia berkata, "Aku ditraktir makan mi tarik di Jakarta." Mi tarik? Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Minya bikinnya di situ. Ditarik-tarik sampai panjang."
Aku masih tak bisa membayangkan seperti apa mi tarik itu. Dulu waktu masih kecil ibuku punya alat untuk membuat mi. Dan itu tidak ditarik-tarik. Hanya dibanting-banting dan dimasukkan ke alat itu, lalu jadilah mi.
"Rasanya bagaimana?"
"Biasa saja."
Aku tak percaya. Ceritanya membuatku penasaran.

Rasa penasaranku tak langsung terpenuhi ketika aku tinggal di Jakarta. Dan baru Sabtu kemarin, sepulangnya dari JBF, aku dan suamiku menuruti rasa penasaranku. Kami pun melangkahkan kaki ke Plaza Senayan (eh atau Senayan City ya? Pokoknya di seputar Senayan situ deh) dan mencari mi tarik. "Kamu pesen sendiri ya," kata suamiku. "Aku mau pesan yang lain saja."

Well, sejak awal aku mengantri untuk mendapatkan mi tarik, aku agak kecewa. Soalnya tak seperti bayanganku. Kupikir di situ akan terjadi atraksi heboh seperti membanting-banting adonan. E, ternyata tidak. Masnya yang membuat mi itu hanya menarik-narik adonan saja, dan itu tak berlangsung lama. Tidak dibanting-banting. Hmmm jadi cuma begitu ya, pikirku. Lalu bagaimana rasanya? Uh, tak sesuai dengan harapanku. Aku di Jogja biasa makan mi jawa (mi jawa rebus) yang racikannya pakai ayam kampung dan telor bebek. Dan kalau dibandingkan dengan mi tarik, skornya hanya separonya. Selesai makan, aku mendadak merasa geli. Bayangkan, orang-orang di Jakarta ini membayar mahal untuk mi yang kurang enak di lidah. Kasihan kan? Tempat makan boleh bagus, tapi soal rasa? Jangan berharap deh. Hmm, lidahku cukup terlatih membedakan mana mi yang enak dan mana yang tidak.

20 comments:

Riris Ernaeni on 7:38 PM said...

aku salah satu dari sekian banyak penikmat Mie, Kris. Tapi sayangnya gak terlalu peduli dengan proses pembuatannya. Asal mie..apalagi digoreng..pasti enak di lidahku..hihiii...

Ikkyu_san a.k.a imelda on 8:18 PM said...

wahhh makan makanan tradisional ya jangan di mall dong mbak hehehe.
Mie ya...aku paling suka mie. Apa saja sebetulnya, tapi aku belum pernah coba yang namanya kamu sebutkan di atas. Memang aku makannya cuma mie restoran sih. Jadi selain bakmie GM, kayaknya susah mau nawarin kamu makan mie di Jkt hehehe.
Tapi boleh loh kalau kita mau hunting mie di jkt, aku temenin ;)

Kalau aku pernah kecewa dengan salah satu merek bakwan S*b*g*, soalnya jauuuh banget dengan perkiraanku.

AndoRyu on 7:50 AM said...

Wahh... Mie Belitung yang mana? Mie rebus yang pake udang berlemak-lemak itu? Pampi rebus yang pake daging kepiting disuwir2 itu? nyam nyam nyam, jadi kepengen.........

Mie aceh??? Hehehe, dulu sering makan bareng oni dekat kost-an nya dia di depok. rasanya bikin melayang kayak dikasih bumbu drug... hihihi.... bercanda doank.

Anonymous said...

mie enak?
ya buatan sendiri...pasti bersihnya, tanpa MSG. dan yg asyik, karena masak sendiri, jd kl suami yg menikmati, ikut seneng juga kan?

aku pernah menggoda suamiku dgn mi godhog buatanku. malam2, dingin, dia udah tidur, aku bikin mie godhog. eh,wkt kubangunin, dia semangat bgt makannya.
yg kedua, pas dia lg serius bgt dgn laptopnya. hihihi..dia langsung terima sepiring mie godhog. trus, dia nambah lagi...hehehe

DV on 3:53 PM said...

Aku penggemar mie, Kris! Dan menurutku tak ada yang bisa menyaingi:

1. Mie Mbah Mo (mBantul)
2. Mie Kadin (Bintaran)
3. Mie Pele (Alun-alun)

Walau sampe ke ujung dunia, selama masih nyaut soal mie, aku tak bisa membandingkan apapun dengan ketiganya :)

edratna on 6:49 PM said...

Aku suka segala makanan yang pake mie...tapi kalau punya kista di perut sebaiknya memang menghindari makanan olahan, termasuk sejenis mie instan.
Kalau mau masak sendiri, dengan merebus dulu mie nya dan kemudian diberi bumbu sendiri.

krismariana widyaningsih on 7:10 PM said...

@Riris: Aku benernya jg gak terlalu peduli dengan pembuatannya. Tapi krn penasaran ya kucobain. Kupikir enak, ternyata ... :(

@Imelda: Memang itu salahnya Mbak, di mall jgn terlalu harap dapat makanan yg enak. Bakmi GM rasanya standar. Enak tp gak enak banget. Itu menurutku sih hehehe. Tapi boleh deh kpn2 hunting mi di Jkt.

@Yusahrizal: Iya, yg pake udang itu. Yg dibungkus pakai daun simpor. Enak banget! Jadi pengen pulang ke tempat Oni nih...

@Nanaharmanto: Aku kurang jago bikin mi, Na. Apalagi kalau dibandingkan dg mi buatan neneknya suamiku. Nggak ada apa2nya ... Pengen deh bisa masak mi yg enak.

@DV: Don ... jatuk'o dewe le kopdar ndisik neng Bakmi Kadin yo? Hehehe. Aku sik penasaran Mi Mbah Mo (Bantul), durung tekan kono. Jare antrine akeh buanget yo?

nh18 on 7:14 PM said...

Mi Tarik ???
hehehe
kok kayak Teh ya ...

(BTW aku belum pernah merasakan Mi Tarik ini ...)

Salam saya

kawanlama95 on 8:31 PM said...

wah kalo makanan tradisional aku paling seneng Mie Aceh tapi yang di medan. mie aceh yang di depok,Blok M , Bogor, Cibinong.
pokonya yang Di MEdan Top Markotop dah.

krismariana widyaningsih on 1:32 AM said...

@Edratna: Iya, Bu. Mesti hati2 nih kalau makan. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

@nh18: Kalau suruh milih sekarang lebih milih teh tarik, Pak.

@kawanlama95: Iya, kabarnya yg di Medan enak banget mi acehnya. Duh kapan ya bisa nyobain? Terima kasih sudah mampir ya :)

IESP93 on 11:36 AM said...

wah...jadi inget beli alat bikin mie, setelah beberapa waktu terkatung2 belinya...ntar kalo jadi tak kirimin mienya...yang pasti bebas dari bahan pengawet...btw aku masih punya teh prenjak...mau?

Alberto-the bro neo- on 4:17 AM said...

wah aku jg seneng mie
mie bangka, mie irian, mie pangsit mie...mie...mieee.....!!!

btw bagiku gak ada mie yang tdk enak, lha wong aku kenalnya enak sama enak banget he..he... (sesuai dengan body dong)

MUHAMMAD YULIAN MA'MUN on 2:16 AM said...

Mas Kris ni ternyata pendekar kuliner juga :)

krismariana widyaningsih on 5:23 AM said...

@kikis: alat utk bikin mi kepunyaan ibuku jg udah gak tahu gimana kabarnya sekarang. teh prenjak? hehehe, mahal ongkos kirimnya nanti. let me find it in jakarta... :)

@alberto: mi irian? hmm... baru dengar. carinya di mana? jd penasaran. klo soal selera sesuai bodi, percaya deh mas! :)

@m. yulian: sebelumnya mau ngoreksi dikit mas, saya perempuan, jd bukan mas kris :) iya lumayan suka jalan dan berburu kuliner

Muzda on 7:21 AM said...

Bakmi Jawa emang yang paling top ya, Mbak Kris ..
Hehee :)
Malah itu Bakmi Mbah Mo yang di Bantul. Awalnya aku heran kok orang dari mana-mana rela ke tempat mblasuk begitu cuma karna bakmi, ternyata sepadan.
:D

Jadi, ke Mbah Mo yuukk...

Suka mie juga on 10:10 PM said...

Biasa makan bakmi godhog campur endog bebek ya, mbak?

krismariana widyaningsih on 10:33 PM said...

@Muzda: Yuuuk! Belum pernah nyicipin bakmi bikinan Mbah Mo nih

@Suka Mie Juga: Iya, Mbak Indah. Yang paling cocok di lidahku ternyata mi jawa di Jogja..

Tuti Nonka on 7:26 AM said...

Saya juga penggemar mie! Jadi ayo kita bikin klub MPM (Manusia Pemakan Mie). Ketuanya Mbak Imel, wakilnya DV, sekretaris Kris, bendahara Muzda. Saya anggota merangkap bagian icip-icip ...

Tuti Nonka on 7:27 AM said...

Ohya, saua baru saja mencoba mie Aceh di rumah makan "Bungong Jeumpa" di Jetis, belakang Borobudur Plaza. Memang enak, tapi pedeess ... hah hah ...

krismariana widyaningsih on 7:40 AM said...

@Tuti Nonka: Setuju dgn klub MPM. Tapi kalau icip-icipnya di rumah bu ketua kan kejauhan bu... :))

Di dekat tempat tinggal saya di Jkt ada mi aceh lumayan enak bu. Lumayan pedes sih. Tp bikin ketagihan :p