Wednesday, April 01, 2009

Apakah Sudah Sebegitu Beratnya?

Kemarin pas turun dari bus Trans Jakarta, mau tak mau aku mesti mendesakkan tubuhku di antara orang-orang yang berjubel di pintu halte. Agak gemetar juga sih, wong aku mesti gerak cepat dan jangan sampai terjatuh. Batas antara pintu bus dan pintu halte lumayan lebar dan tinggi. Dan bayangkan, begitu aku harus melompat ke halte, hampir-hampir tak ada ruang untuk menjejakkan kaki. Deretan orang begitu berjubel dan hampir tak ada celah. Orang-orang yang bergerombol di pintu halte sama sekali tak memberi jalan. Mereka tetap berada di posisi semula walaupun aku dan seorang temanku jelas-jelas butuh jalan.

Dan hup! Aku melompat dengan sangat hati-hati. Mau tak mau kuselipkan tubuhku di antara gerombolan orang-orang itu. Sedikit kutabrak, karena aku butuh jalan. Pilihannya adalah jatuh terperosok atau menabrak mereka.

Aku akhirnya selamat bisa keluar dari halte. Leganyaaa ....

Tapi satu hal yang aku herankan dari kejadian itu adalah, apakah tekanan hidup di kota ini begitu berat ya, sampai-sampai orang-orang di sini tak mau memberi jalan sedikiiit saja. Bergeser pun tidak! Sepertinya kok yang dipikir hanya kepentingan mereka sendiri, ya?

7 comments:

utaminingtyazzzz on 7:24 AM said...

untung badanku besar.. jadi kalo pada ga mau kasih jalan, aku sodok ajah :)

tapi bukan berarti asal sodok lho yaa... kalo emang si penghalang itu kecepit ya aku bilang 'permisi' dengan kenceng

bayu probo on 5:55 PM said...

Saya tidak tahu jawaban atas pertanyaan Mbak, sebab saya sendiri harus berjuang untuk tidak larut dalam tekanan kota itu

AndoRyu on 1:33 AM said...

Pakai taktik aja sambil teriak, "awaaassss, setrika'aaannnn!!"
Wakakakak.....:D

*btw, masih mempan gak taktik jaman batu ini?*

krismariana widyaningsih on 1:54 AM said...

@ utaminingtyazzzz
badanku nggak gede2 amat mbak... hiks :(

@ bayu probo:
lbh enak di jogja ya mas? :D

@ Yusahrizal:
emang zaman batu udah ada setrikaan ya? hihihi :P

Anonymous said...

Ya ... gimana, ya Mbak. Saya berat mengatakan "begitulah Jakarta". Namun, nyatanya (mungkin) memang demikian. Rasanya lebih baik kalau memilih untuk "tidak larut", seperti yang dikatakan Mas Bayu, dalam arti jangan menyaingi mereka.

krismariana widyaningsih on 5:10 PM said...

@Indonesiasaram:
iya memang sebaiknya tidak larut. lagi pula kalau utk menyaingi mereka, enggak sanggup saya

edratna on 10:43 PM said...

Kalau badan kecil bukannya malah mudah nyempil, tas ditaruh di depan badan, pasang siku-siku di kedua tangan...dan sodok kanan kiri..pasti dibukakan jalan....hehehe