Tidak Masalah Tak Punya Teman Sekantor ...Dulu kupikir setelah keluar dari tempat kerja yang sudah menggajiku selama lebih dari lima tahun, tak akan ada yang banyak berubah untuk soal pertemanan. Apalagi di zaman internet dan telepon begini, kurasa gampang-gampang saja kalau mau meneruskan obrolan yang biasa kami lakukan ketika masih satu ruangan. Kupikir kami masih bisa sering
chatting atau sekadar mengobrol ngalor-ngidul dengan memanfaatkan tarif telepon yang cukup murah.
Hmm ... sesederhana itukah?
Ow ... ternyata tidak, Sodara-sodara. Biarpun bisa
chatting, bertelepon, atau kirim SMS, relasi pertemanan itu tidak sekental jika kita bertemu setiap hari. Bagaimanapun, jarak bisa memudarkan kedekatan. Lagi pula ini hanyalah pertemanan, bukan kisah dua orang muda-mudi yang lagi kasmaran. Beda ceritanya, Bung! Awalnya sih dulu aku masih suka menyapa teman-teman kantorku dulu via telepon,
email, atau SMS. Tapi lama-lama garing juga. Tak ada bahan pembicaraan yang cukup gayeng. Bagaimanapun dunianya sudah mulai berbeda. Mereka dengan dunia kerja dan segala keruwetan, sedangkan aku dengan dunia
freelancer dan seputar rumah tangga. Tantangannya berbeda. Kadang-kadang ada persinggungannya sih, tapi ya biasanya hanya melulu soal pekerjaan. Tidak seakrab dulu lah menurutku.
Apalagi kemudian aku pindah ke Jakarta, beradaptasi di lingkungan yang baru. Ya, memang ada sih teman-temanku yang di Jakarta. Tapi kan kami tidak bisa ketemu setiap hari. Mereka masing-masing punya kesibukan sendiri. Apalagi dunia kerja di Jakarta ini begitu memakan waktu. Berangkat pagi, pulang malam. Sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan beraktivitas di rumah. Dan bepergian di Jakarta ini menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya ongkos. Jadi, kalau mau menghemat ketiga hal itu biasanya aku di rumah saja. Toh memang aku bekerja di rumah.
Jadi, akhirnya mulailah aku rajin ke warnet. (Untung ada warnet di dekat tempat tinggalku.) Entah itu untuk update blog, blogwalking, membuka situs-situs berita, membuka email, mengirim hasil pekerjaan, dan sebagainya. Dan itu semakin sering kulakukan ketika kami sudah berlangganan internet. Rasanya dunia internet jadi dunia yang sangat menyenangkan bagiku. Yah, walaupun koneksi internet di rumah kami sering lemot, tak apalah.
Dan akhirnya, internet menjadi teman kerjaku selama kira-kira setahun belakangan ini. Dari pertemananku dengan internet, hal yang paling sering kulakukan adalah update blog dan blogwalking. Nah, salah satu blog yang cukup sering kukunjungi adalah
TE alias Twilight Express milik Mbak Imelda. Aku sering ke situ awalnya karena pengin membaca cerita tentang kedua anaknya, Riku dan Kai, (yang dari fotonya tampak menggemaskan) dan cerita tentang kehidupannya selama di Jepang. Lagi pula, dia sering posting tulisan baru. Jadi, kalau absen beberapa hari, kadang aku sudah ketinggalan cerita.
Singkat cerita, akhirnya ketika Mbak Imelda mudik ke Jakarta tempo hari, kami pun kopdar. Kebetulan saat itu
Nana--yang dulu pernah satu asrama dan satu unit denganku--bersama
Bro Neo ada di Jakarta. Jadilah kami kopdar bersama. Cerita sepanjang kopdar itu gado-gado. Karena aku, Nana, dan Bro Neo dulu di Jogja, maka kami kadang bercerita soal teman-teman kami semasa di Jogja dulu. Kadang Mbak Imelda cerita tentang makanan di Jepang. Kadang
Oni, suamiku, cerita soal kampung halamannya, Belitung. Macam-macam deh! Dan terus terang aku lupa-lupa ingat apa tepatnya yang kami obrolkan. Hihi. Tetapi kesan kopdar pertama itu: MENYENANGKAN.
Kupikir kopdar pertama itu selesai begitu saja. E, ternyata tidak. Beberapa hari kemudian Mbak Imelda menjawilku untuk ke Museum Tekstil. Cerita soal itu sudah kutuliskan di
sini.
Dari beberapa postingan di blog dan FBnya selama dia di Jakarta, tampaknya jadwal kopdarnya cukup padat. Hehe. Jadi kupikir cukuplah aku kopdar dua kali. Tapi ketika Mbak Imelda posting soal Mie Janda di FB, aku jadi bertanya-tanya. Dasarnya aku penggemar mie, maka ketika mendengar istilah Mie Janda, rasa penasaranku kumat. Mie apa pula itu? Dan dari rasa penasaranku itu, aku pun dijawil untuk ikut menikmati Mie Janda. Yuuhuuu! Siapa yang sanggup menolak? Tentu tidak dong! Hehehe.

Akhirnya, pada hari Kamis 13 Agustus lalu, aku bersama Mbak Imelda (plus Riku dan Kai, tentunya) dan
Eka meluncur ke Cibinong untuk bertemu
Aa Achoey, sang penggagas Mie Janda itu. Bagiku hari itu terasa menyenangkan. Pertama, hari itu aku bertemu dua orang blogger lain yang baru kukenal: Eka dan Aa Achoey. Aku pernah mengunjungi blog mereka. Tapi seingatku belum pernah meninggalkan jejak di sana deh. Hehehe. Kedua, setelah menikmati Mie Janda, aku mengunjungi Taman Safari lagi (setelah sekian belas tahun lamanya). Ketiga, aku bertemu lagi dengan teman asramaku dulu, Galuh.
Yah, hari itu rasanya waktu berjalan begitu cepat. Pertemuan dengan teman-teman baru dan seorang teman lama memberikan suatu kenangan menyenangkan tersendiri bagiku. Kesanku, teman-teman blogger ini unik. Biarpun baru pertama kali bertemu, tak jarang kami sudah bisa mengobrol dengan cukup enak. Kecanggungan karena pertama kali bertemu biasanya mudah mencair. Mungkin itu karena kami sudah biasa saling membaca tulisan di blog. Dan malamnya, setelah mengantar Mbak Imelda pulang ke rumahnya, aku melanjutkan obrolan di mobil bersama Eka. Hey, ternyata kami bisa mengobrol panjang lebar loh! Hehehe. Asyik juga :)
Dari pengalamanku beberapa minggu kemarin sekarang aku berpikir begini: Biarpun aku tak punya teman sekantor yang bisa diajak ngobrol, itu tak masalah ... selama masih bisa ngeblog dan kopdar! :D
*Foto diambil dari akun FB Mbak Imelda. Maklum, ndak punya kamera sendiri, jadi ya nunut dipotretin aja :p