Friday, September 11, 2009

Buku Bestseller?

Aku tak ingat sejak kapan aku tidak lagi percaya begitu saja dengan label BESTSELLER yang dicantumkan di depan sebuah sampul buku. Begitu pula aku tidak langsung membeli buku hanya karena membaca endorsement atau pujian yang diberikan oleh seorang tokoh masyarakat yang tercantum di sampul depan suatu buku. Apalagi kalau buku itu sedang heboh di masyarakat, wah ... aku malah akan berpikir ratusan kali untuk membeli buku tersebut. Setiap kali melihat buku yang sedang heboh di pasaran, aku justru enggan melirik atau membeli buku tersebut.

Mungkin ketidakpercayaanku itu mulai timbul beberapa tahun lalu saat ada sebuah buku yang heboh sekali di pasaran. Tak sedikit orang yang mengatakan bahwa buku itu bagus sekali. Dan bahkan sampai sekarang buku itu masih jadi bahan pembicaraan banyak orang. Karena penasaran dan kupikir buku itu bakal membuatku terpesona, tanpa pikir panjang aku pun membelinya. Sesampainya di rumah, tak sabar kubaca halaman demi halaman. Lima halaman pertama, yah ... lumayan. Saat kuteruskan lagi, kok rasanya tidak semenarik yang kuharapkan ya? Begitu-begitu saja. Membosankan. Dan sepertinya si penulis suka melebih-lebihkan ceritanya. Pluk! Kututup buku itu dan sampai sekarang aku tak pernah membaca kelanjutan ceritanya. Begitu pun ketika si penulis mengeluarkan buku-buku karyanya lagi, aku tak pernah tertarik membelinya. Banyak orang masih mengatakan bahwa buku karya si X bagus luar biasa. Tapi maaf, mungkin seleraku berbeda. Ada buku-buku lain yang menurutku kualitasnya jauh lebih baik dari buku itu—baik dari segi penulisan, penyuntingan, dan isinya. Nah, sejak itulah aku tak pernah lagi percaya pada embel-embel bestseller atau endorsement yang tercantum di sampul buku.

Saking banyaknya orang yang menyukai buku tersebut, aku kadang terdiam beberapa saat jika ada orang yang menanyaiku apakah aku membaca buku itu. Biasanya aku akan bertanya balik, “Kenapa?” atau “Kamu baca juga ya?” Aku tak ingin terjebak. Tapi syukurlah selama ini orang yang bertanya kepadaku, rata-rata juga tidak menyukai buku tersebut. He he he. Yang kadang aku herankan adalah kenapa suara-suara orang yang tidak menyukai buku itu tidak pernah muncul di media ya? Yang justru keras suaranya adalah suara orang-orang yang menyukainya. Aku tak tahu kenapa fenomena ini terjadi. Aku bertanya-tanya, apakah ini terjadi karena masyarakat kita tidak biasa menyatakan suatu yang berbeda ya? Atau semua itu melulu karena selera?

Ah, aku tak tahu kenapa hal itu terjadi. Tapi yang jelas, aku membeli buku rata-rata karena aku sudah tahu kualitas penulisnya. Selain itu, kalau ada teman sesama pembaca buku yang seleranya sama denganku mengatakan bahwa suatu buku bagus, biasanya aku percaya. Ngomong-ngomong, pertimbangan apa yang kalian pakai saat membeli buku?

Monday, September 07, 2009

Mencari Tuhan di Balik Cinta

Pernah punya pacar beda agama?

Bagaimana rasanya? Pusing menghadapi orang-orang di sekitarmu yang kadang tanpa diminta ikut urun rembug soal relasi kalian? Menyebalkan memang. Dan di negara ini memang sepertinya masih sedikit celahnya untuk orang yang beda agama bisa menikah dengan lancar. Kadang salah satu harus "mengalah" dengan berpindah agama. Kenapa harus pindah? Orang bilang, kalau di dalam satu rumah ada dua nakhoda, kan kasihan anak-anaknya.

Hmmm ... Sulit.

Aku sendiri tak bisa mengatakan pindah agama mengikuti salah satu pasangan itu baik atau benar. Dan aku tidak mengatakan bahwa sebaiknya begitu. Tapi begini, aku pernah dengan seorang lelaki yang seagama denganku, tetapi untuk urusan yang namanya agama, pikiran kami tidak nyambung. Aneh? Ya aneh. Dulu kupikir kalau seagama ya akan lancar-lancar saja. Tapi dari pengalamanku, tidak begitu. Ada saja yang kami perdebatkan untuk urusan di balik agama ini, dan kami tidak nyambung. Jadi, sudahlah ... bubar saja. Dari situ aku berpikir, mendapatkan pasangan yang seagama tidak selalu mempermudah hubungan.

Beberapa waktu lalu, di radio aku mendengar cuplikan dialog tentang sebuah film yang menggambarkan sebuah relasi antara laki-laki dan perempuan yang beda agama. Mungkin karena penasaran plus punya pengalaman pernah patah hati lantaran masalah serupa, aku pun mengajak suamiku untuk menyaksikan film itu. Judulnya CIN(T)A. Kupikir film itu diputar di semua jaringan bioskop 21. Tapi rupanya tidak, hanya di Blitz Megaplex saja film itu ditayangkan. Dan kata suamiku, Blitz yang di MOI (Kelapa Gading), tidak memutarnya. Jadi, harus segera nonton nih sebelum film ini hilang dari bioskop.

Sebenarnya aku tidak terlalu berharap akan mendapatkan suguhan film yang apik. Yah, selama ini film Indonesia kan tidak jauh-jauh dari pocong, kuntilanak, dan film komedi yang tidak jelas itu. Kalau film ini jelek, ya sudah ... namanya juga Indonesia (kok jadi nggak percaya sama buatan Indonesia sih? Duh!).

Ternyata aku salah. Film ini betul-betul menarik perhatianku. Kalau dipikir-pikir film ini cuma dua pemainnya. Pemain yang lain cuma dihadirkan lewat suara atau foto. Kalaupun ada orang yang tampil, wajahnya tidak ditunjukkan. Cuma kelihatan punggung atau tampil setengah badan. Pokoknya yang benar-benar tampil utuh, ya cuma Cina dan Annisa. Yang paling keren adalah pengambilan gambar dua jari yang melambangkan kedua tokohnya. Ih, keren. Kayaknya mesra banget. Padahal itu dua jari tok til. Tapi kereeen!

Yang membuatku menyukai film ini adalah dialog-dialognya yang cerdas. Buat orang yang tak pernah puas dengan satu penjelasan dan tak mau dikerangkeng oleh sebuah dogma, kalimat-kalimat yang diucapkan di film ini membuatku merasa "punya teman". Oh, jadi nggak cuma aku to yang berpikir begitu. Salah satu kalimat yang kusukai adalah kalimat yang diucapkan Annisa: "Kamu pikir kenapa Tuhan menciptakan atheis? Capek lagi jadi Tuhan yang selalu dipuja dan disembah. Kenapa tidak mencintai Tuhan apa adanya saja?" (Koreksi jika aku keliru mengutip kalimat itu, tapi seingatku kurang lebih begitu.)

Satu hal lagi yang menarik di film ini adalah cuplikan wawancara dua orang yang menjalin relasi beda agama. Cuplikan itu ditayangkan secara hitam putih. Sepertinya cuplikan-cuplikan hendak menjadi penopang bahwa di dunia nyata banyak sekali orang yang pacaran dan menikah beda agama. Mereka seolah terbentur dinding yang keras, dan mungkin tidak sedikit yang melarang hubungan mereka. Ya ... ya ... aku bisa mengerti. Tapi itu mungkin sebenarnya akar masalahnya cukup dalam dan tidak mudah terurai. Relasi mereka harus terbentur oleh sebuah misteri yang tidak mudah dipecahkan oleh akal manusia.

Menurutku, orang-orang di balik pembuatan film ini patut diacungi jempol atas keberanian mereka mengangkat isu yang cukup sensitif ini menjadi sebuah film. Jarang ada film yang "seberani" ini. Biasanya film yang membahas pasangan beda agama ujung-ujungnya adalah salah satu di antara mereka pindah agama. Akhir cerita semacam itu terlalu menyederhanakan masalah menurutku. Kurang dalam. Dan aku puas dengan film ini. Mungkin karena film ini tidak melihat agama secara hitam putih, tidak menganggap yang satu lebih benar dan yang lainnya salah.

*Gambar di ambil dari sini
Jika ingin mengetahui seluk beluk film ini lebih jauh, klik saja di sini

Wednesday, September 02, 2009

Karena Kita Tak Tahu Kapan Bumi Berguncang

Kemarin, setelah beberapa jam menghabiskan waktu di luar rumah untuk bertemu seorang teman, aku kembali ke rumah dengan perut keroncongan. Untung aku sudah memasak nasi, tetapi belum punya lauk. Beberapa hari ini aku malas memasak. Untungnya lagi, tetangga depan rumahku memasak dan menjual makanan untuk buka puasa. Akhirnya setelah beli lauk aku pun menyendok nasi dari rice cooker. Mendadak badanku seperti bergerak-gerak sendiri maju mundur. Duh sakit apa lagi nih? Masak baru lapar sedikit aku sudah pusing begini? Kupikir, nanti setelah makan dan minum pasti sembuhan. Tapi kok kepalaku nggak sakit ya?

Sesaat kemudian kudengar dari depan rumah beberapa orang berteriak, "Gempa ... gempa!" Sekilas kulihat lampu gantung di ruang tamu bergoyang cukup kencang. Oh, gempa to. Syukurlah. Ternyata aku tidak sakit.

Duh, makilah aku karena mungkin aku terdengar tidak cukup simpatik dengan gempa kemarin yang sempat mampir di Jakarta. Tapi bagiku, gempa kemarin guncangannya tidak sehebat gempa yang kualami 27 Mei 2006 silam. Gempa di Jakarta kemarin paling cuma sepersepuluh gempa di Jogja. Maaf, bukan maksudku mengecilkan, lo. Seorang teman menuliskan bahwa gempa di Jogja dulu ibarat seperti ada naga yang melintas di bawah tanah. Bahkan suara gempa yang kudengar itu dulu seperti suara truk. Gruduk...gruduk... gruduk! Kemarin gempanya nyaris tanpa suara, paling yang kedengaran adalah suara orang-orang yang berlarian dan berteriak-teriak.

Dan, aku maklum sekali jika orang-orang pun panik. Gempa selama kurang lebih 2 menit itu memang membuat banyak orang keluar rumah.

Tapi dari gempa kemarin itu, aku mendapati suatu fakta yang cukup melegakan bagiku: aku tidak panik. *Duh sombongnya!* Harap tahu saja, selama setahun setelah gempa 27 Mei 2006, setiap kali ada gempa kecil, kakiku ini susah sekali untuk ditahan supaya tidak berlari. Setidaknya aku langsung deg-degan dan bangkit dari tempat duduk. Dan dalam hitungan detik, pasti aku segera berlari. Rasanya itu sudah menjadi gerak refleks. Tapi kemarin, aku tidak seperti itu lagi. Hehehe.

Dari kejadian gempa Jakarta kemarin, aku melihat potensi timbulnya korban yang lebih besar jika di Jakarta terjadi suatu bencana. Bukannya mau menakut-nakuti. Tetapi gempa seperti itu saja orang sudah panik luar biasa, apalagi kalau terjadi yang lebih buruk lagi? Satu hal yang perlu dilatih dalam menghadapi bencana adalah menjaga diri supaya tidak panik. Dan hal lain yang penting juga adalah kesigapan masyarakat. Sayangnya, di sini tidak biasa diadakan latihan menghadapi bencana. Jadi, bisa terbayang olehku orang2 akan berlarian tidak karuan jika terjadi suatu bencana. Setidaknya memang perlu dibuat petunjuk oleh pemerintah setempat tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat timbul bencana. Misalnya, kalau terjadi gempa, masyarakat mesti bagaimana, tetap di dalam rumah, atau kalau mau lari, lari ke mana. Jadi tidak saling bertubrukan. Serem lo kalau semua orang panik dan kita tak tahu apa yang harus dilakukan. Rasa panik itu menular soalnya--terutama kepada orang yang tidak tahu apa-apa. Bisa ikut arus dan melakukan hal-hal konyol.

Harus kuakui, dulu aku dan kakakku melakukan hal konyol sesaat setelah gempa di Jogja. Tak lama setelah gempa, orang-orang banyak yang menyerukan isu tsunami. Dan kakakku langsung mengajakku naik motor ke arah utara. Saat itu aku cuma pakai baju tidur, Sodara! Kami menuju jalan Kaliurang, dan jalan itu penuh. Macet semacet-macetnya! Padahal kalau dipikir-pikir, tsunami itu pasti tak akan sampai rumah kami yang memang sudah berada di wilayah Jogja utara. Sekarang setelah kupikir-pikir, itu tindakan yang konyol sih. Walaupun bisa dikatakan kami ini cukup berpendidikan, tapi toh kurangnya pengetahuan dan karena dilanda kepanikan, jadi malah ikut arus. Memalukan ya!

Mengingat hal itulah aku pikir, (warga) Jakarta bisa mengalami hal serupa dan mungkin lebih parah lagi. Apalagi Jakarta ini penduduknya buanyak! Bisa kubayangkan, jika di Jakarta terjadi gempa hebat, bisa jadi akan korbannya akan lebih banyak lagi. Kenapa? Pertama, di sini banyak sekali perumahan yang padat penduduk. Rumah-rumah berdempetan, dan tak sedikit rumah yang asal bisa berdiri. Tidak dirancang untuk tahan gempa. Bisa terbayangkan, rumah seperti itu akan mudah rubuh jika dihantam gempa besar. Dan karena padat penduduk--dan bisa jadi mereka juga kurang pengetahuan--akan banyak pula orang yang jadi korban. Korban yang timbul akibat gempa sebagian besar karena mereka tertimpa runtuhan bangunan. Kedua, banyak penduduk yang panik. Kepanikan itu bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, orang yang berlarian tak tentu arah, bisa menimbulkan kecelakaan di jalan. Atau orang bisa meninggalkan rumah tanpa menguncinya, sehingga terjadi kemalingan. Jangan salah lo, banyak orang mengambil kesempatan di antara kesempitan.

Mungkin gempa kemarin bisa menjadi shock therapy yang baik bagi warga Jakarta. Aku berharap pemerintah segera melakukan pelatihan tanggap bencana kepada warganya. Kita tak tahu kapan bumi akan berguncang, kan? Lebih baik berjaga-jaga dan menambah wawasan daripada mati konyol.

Tuesday, September 01, 2009


Nggak Usah Pakai Plastik, Mbak ...

Aku lupa sejak kapan aku selalu membawa ransel jika bepergian. Aku membawa ransel bukan hanya saat bepergian ke luar kota loh, tapi juga waktu jalan-jalan keliling kota, atau sekadar main bersama suami atau teman. Selain itu, ransel adalah salah satu kado yang paling aku apresiasi selain buku dan teh yang enak. Hehehe. Karena memang ransel atau tas yang bisa kucangklong di punggunglah yang membuatku nyaman. Beban jadi lebih imbang di kedua bahu jadi salah satu pundakku tidak terlalu pegal.

Bagiku menyandang ransel itu pas betul jika di Jakarta ini. Kenapa? Karena di kota ini ada beberapa barang yang selalu kubawa. Pertama, botol air minum yang minimal kuisi setengahnya, jika aku tahu di tempat tujuan aku bisa minta air untuk mengisi botol minumku ini hihihi. Botol minumku ini cukup besar, kira-kira isinya hampir 1 liter. Dulu aku pikir bawa botol yang kecil saja, tetapi kalau mau irit ya mesti bawa botol yang besar. Kalau beli di pedagang kaki lima, mahal! Air mineral kemasan 600ml harganya bisa Rp 2.500,00 sampai Rp 3.000,00. Padahal harga normalnya paling cuma Rp 1.500,00-an. Selisih harganya lumayan kan? Hehehe, maaf kalau terlalu itung-itungan. Maklum, emak-emak :D Kalau mau praktis sih, apalah arti selisih harga seribu perak itu. Tapi buatku, selama bisa membawa air minum sendiri dari rumah, buat apa beli?

Alasan lain kenapa aku suka memakai ransel adalah tas ransel itu bisa menampung lebih banyak barang. *Emang mau pindahan, Neng?* Ketika sedang bepergian, kadang mendadak aku merasa perlu belanja sesuatu. Dan alangkah praktisnya kalau aku membawa ransel. Barang-barang belanjaan itu bisa masuk ke dalamnya sehingga aku tak perlu menjinjing beberapa kantong belanjaan. Praktis--menurutku.

Ngomong-ngomong soal belanja, ada benda yang hampir selalu terselip di dalam tas ranselku. Pertama adalah kantong plastik, yang kedua tas kain. Dua benda itu cukup tipis dan tidak memakan tempat. Bisa diambil sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Tapi yang jelas dua benda itu membantuku untuk mengurangi pemakaian kantong plastik saat belanja. Dan jujur saja aku lupa sejak kapan aku sering membawa tas sendiri dari rumah untuk berbelanja. Mungkin aku ikut-ikutan "latah" untuk ramah lingkungan. Yah walaupun mungkin ini tindakan yang tidak berarti dibandingkan para aktivis Green Peace atau WWF, tapi kupikir ini tak ada salahnya.

Memang membawa kantong sendiri dari rumah rasanya tidak cukup praktis. Lebih enak melenggang keluar rumah tanpa membawa apa-apa karena toh nanti di toko petugas akan memberi kita kantong plastik. Hampir semua orang melakukan hal itu. Bahkan suatu kali aku pernah ditegur satpam swalayan besar di Jakarta T** T** karena saat masuk swalayan besar itu aku membawa kantong kosong yang cukup besar (karena aku memang mau belanja banyak). "Mbak, tasnya dititipkan saja," kata pak satpam itu. Karena merasa benar, aku ngeyel dong, "Pak, ini nanti buat bawa barang belanjaan kok. Ini tidak ada isinya." Mungkin karena satpam itu takut aku mengutil atau nyolong, dia bilang, "Nanti kan dari sini dapat kantong plastik." Lagi-lagi aku ngeyel, "Saya nggak mau pakai kantong plastik dari sini. Pak, kalau Bapak tidak percaya sama saya, Bapak bisa ikuti saya saat berbelanja dan bisa nanti cek saja barang belanjaan saya." Hehehe. Hebat kan gaya ngeyelku?

Rasanya memang masih sedikit supermarket yang mengapresiasi pembeli yang membawa kantong sendiri. Dari sekian banyak supermarket yang ada di sini, aku baru menjumpai Superindo yang memberi apresiasi lebih untuk pembeli macam aku ini. Mereka memberikan stiker yang ditempel di sebuah kertas setiap kita berbelanja Rp 10.000 dan kelipatannya. Setelah terkumpul sampai 70 stiker, kita bisa mendapatkan kantong belanja yang bisa dipakai ulang. Buatku yang belanjanya sedikit-sedikit, mengumpulkan 70 stiker itu lamaaaa sekali. Selain di Superindo, ada sebuah toko roti di dekat rumahku yang petugasnya sudah hapal denganku. Setiap kali ke situ untuk membeli roti tawar aku selalu bilang, "Nggak usah pakai kantong plastik, Mbak." Bahkan mbak berambut panjang dan berbehel itu memperingatkan temannya supaya tak usah memberiku kantong plastik saat aku datang dan tampak membawa kantong belanja sendiri :)

Aku tak tahu apakah tindakanku membawa ransel dan kantong belanja sendiri ini memberi dampak besar bagi lingkungan. Tapi setidaknya aku sudah melakukan bagianku. Dan memang sangat sedikit orang yang membawa kantong sendiri saat berbelanja. Selama ini aku belum pernah "mendapat teman" yang sama-sama membawa kantong belanja sendiri saat sedang berbelanja di toko swalayan. Nah, adakah di antara kalian yang mau menjadi kawanku dalam hal kantong belanja ini? ;)

gambar diambil dari: educationforsustainability.files.wordpress.com

Wednesday, August 26, 2009

Aku Tidak Pulang ke Jawa


Ini petikan percakapanku dengan seorang teman di YM:
Teman (T) : Besok lebaran kamu pulang ke Jawa?
Aku (A) : Pulang ke Jawa?
T: Iya, kamu nggak pulang ke Jawa?
A: Emang Jakarta itu di dasar laut ya? Atau Jakarta itu suatu pulau sendiri?
T: He he
A: Aku pulang ke Jogja atau ke Madiun, bukan pulang ke Jawa

Ya, aku risi kalau ditanyai: "Mau pulang ke Jawa, ya?" atau "Kapan pulang ke Jawa?" Dan pertanyaan itu hanya dilontarkan kepadaku saat aku berada di Jakarta--oleh warga Jakarta. Biasanya sih yang melontarkan pertanyaan seperti itu adalah orang yang cukup lama tinggal di Jakarta. Jujur, pertanyaan itu malas sekali kujawab. Kenapa? Soalnya bagiku pertanyaan itu semacam meremehkan Jawa Tengah, Jogja, atau Jawa Timur. Padahal orang-orang yang akan pulang ke daerah Jawa Barat tidak ditanyai seperti itu. Biasanya mereka langsung menyebut nama daerahnya, misalnya pulang ke Kuningan, ke Pandeglang, dan sebagainya.

Kepada orang-orang yang lebih tua dan cukup kuhormati, biasanya untuk menjawab pertanyaan seperti itu aku akan mengatakan, "Saya mau pulang ke Jogja, Pak/Bu." Aku tidak mengiyakan begitu saja. Dan kepada orang yang bisa diajak bercanda, aku akan mengatakan seperti kepada temanku di YM tadi, "Memangnya Jakarta itu di dasar laut ya? Atau Jakarta itu suatu pulau sendiri?" Hehe. Please deh, Jakarta ini kan masih di Pulau Jawa. Jadi kenapa kalimat pertanyaannya seperti itu? Apakah orang-orang itu secara tidak langsung hendak menyatakan, "Ini lo gue orang Jakarta. Jadi, gue lebih tinggi derajatnya daripada elu yang orang daerah." Huh! Semoga saja tidak begitu.

Aku sampai sekarang masih bertanya-tanya apa yang membuat warga Jakarta memilih istilah pulang ke Jawa. Kenapa sih? Apa susahnya menyebut nama daerah atau kota yang dituju? Salah satu perkiraanku adalah, orang yang bertanya seperti itu cuma latah memakai istilah pulang ke Jawa. Maksudku, mereka asal saja dalam memakai istilah tersebut. Mereka tidak berpikir dulu sebelum menggunakan istilah itu. Duh! :(

Ngomong-ngomong, adakah yang tahu bagaimana sejarahnya sampai orang-orang Jakarta ini memakai istilah pulang ke Jawa?

Saturday, August 22, 2009

Tidak Masalah Tak Punya Teman Sekantor ...

Dulu kupikir setelah keluar dari tempat kerja yang sudah menggajiku selama lebih dari lima tahun, tak akan ada yang banyak berubah untuk soal pertemanan. Apalagi di zaman internet dan telepon begini, kurasa gampang-gampang saja kalau mau meneruskan obrolan yang biasa kami lakukan ketika masih satu ruangan. Kupikir kami masih bisa sering chatting atau sekadar mengobrol ngalor-ngidul dengan memanfaatkan tarif telepon yang cukup murah.

Hmm ... sesederhana itukah?

Ow ... ternyata tidak, Sodara-sodara. Biarpun bisa chatting, bertelepon, atau kirim SMS, relasi pertemanan itu tidak sekental jika kita bertemu setiap hari. Bagaimanapun, jarak bisa memudarkan kedekatan. Lagi pula ini hanyalah pertemanan, bukan kisah dua orang muda-mudi yang lagi kasmaran. Beda ceritanya, Bung! Awalnya sih dulu aku masih suka menyapa teman-teman kantorku dulu via telepon, email, atau SMS. Tapi lama-lama garing juga. Tak ada bahan pembicaraan yang cukup gayeng. Bagaimanapun dunianya sudah mulai berbeda. Mereka dengan dunia kerja dan segala keruwetan, sedangkan aku dengan dunia freelancer dan seputar rumah tangga. Tantangannya berbeda. Kadang-kadang ada persinggungannya sih, tapi ya biasanya hanya melulu soal pekerjaan. Tidak seakrab dulu lah menurutku.

Apalagi kemudian aku pindah ke Jakarta, beradaptasi di lingkungan yang baru. Ya, memang ada sih teman-temanku yang di Jakarta. Tapi kan kami tidak bisa ketemu setiap hari. Mereka masing-masing punya kesibukan sendiri. Apalagi dunia kerja di Jakarta ini begitu memakan waktu. Berangkat pagi, pulang malam. Sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan beraktivitas di rumah. Dan bepergian di Jakarta ini menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya ongkos. Jadi, kalau mau menghemat ketiga hal itu biasanya aku di rumah saja. Toh memang aku bekerja di rumah.

Jadi, akhirnya mulailah aku rajin ke warnet. (Untung ada warnet di dekat tempat tinggalku.) Entah itu untuk update blog, blogwalking, membuka situs-situs berita, membuka email, mengirim hasil pekerjaan, dan sebagainya. Dan itu semakin sering kulakukan ketika kami sudah berlangganan internet. Rasanya dunia internet jadi dunia yang sangat menyenangkan bagiku. Yah, walaupun koneksi internet di rumah kami sering lemot, tak apalah.

Dan akhirnya, internet menjadi teman kerjaku selama kira-kira setahun belakangan ini. Dari pertemananku dengan internet, hal yang paling sering kulakukan adalah update blog dan blogwalking. Nah, salah satu blog yang cukup sering kukunjungi adalah TE alias Twilight Express milik Mbak Imelda. Aku sering ke situ awalnya karena pengin membaca cerita tentang kedua anaknya, Riku dan Kai, (yang dari fotonya tampak menggemaskan) dan cerita tentang kehidupannya selama di Jepang. Lagi pula, dia sering posting tulisan baru. Jadi, kalau absen beberapa hari, kadang aku sudah ketinggalan cerita.

Singkat cerita, akhirnya ketika Mbak Imelda mudik ke Jakarta tempo hari, kami pun kopdar. Kebetulan saat itu Nana--yang dulu pernah satu asrama dan satu unit denganku--bersama Bro Neo ada di Jakarta. Jadilah kami kopdar bersama. Cerita sepanjang kopdar itu gado-gado. Karena aku, Nana, dan Bro Neo dulu di Jogja, maka kami kadang bercerita soal teman-teman kami semasa di Jogja dulu. Kadang Mbak Imelda cerita tentang makanan di Jepang. Kadang Oni, suamiku, cerita soal kampung halamannya, Belitung. Macam-macam deh! Dan terus terang aku lupa-lupa ingat apa tepatnya yang kami obrolkan. Hihi. Tetapi kesan kopdar pertama itu: MENYENANGKAN.

Kupikir kopdar pertama itu selesai begitu saja. E, ternyata tidak. Beberapa hari kemudian Mbak Imelda menjawilku untuk ke Museum Tekstil. Cerita soal itu sudah kutuliskan di sini.

Dari beberapa postingan di blog dan FBnya selama dia di Jakarta, tampaknya jadwal kopdarnya cukup padat. Hehe. Jadi kupikir cukuplah aku kopdar dua kali. Tapi ketika Mbak Imelda posting soal Mie Janda di FB, aku jadi bertanya-tanya. Dasarnya aku penggemar mie, maka ketika mendengar istilah Mie Janda, rasa penasaranku kumat. Mie apa pula itu? Dan dari rasa penasaranku itu, aku pun dijawil untuk ikut menikmati Mie Janda. Yuuhuuu! Siapa yang sanggup menolak? Tentu tidak dong! Hehehe.


Akhirnya, pada hari Kamis 13 Agustus lalu, aku bersama Mbak Imelda (plus Riku dan Kai, tentunya) dan Eka meluncur ke Cibinong untuk bertemu Aa Achoey, sang penggagas Mie Janda itu. Bagiku hari itu terasa menyenangkan. Pertama, hari itu aku bertemu dua orang blogger lain yang baru kukenal: Eka dan Aa Achoey. Aku pernah mengunjungi blog mereka. Tapi seingatku belum pernah meninggalkan jejak di sana deh. Hehehe. Kedua, setelah menikmati Mie Janda, aku mengunjungi Taman Safari lagi (setelah sekian belas tahun lamanya). Ketiga, aku bertemu lagi dengan teman asramaku dulu, Galuh.

Yah, hari itu rasanya waktu berjalan begitu cepat. Pertemuan dengan teman-teman baru dan seorang teman lama memberikan suatu kenangan menyenangkan tersendiri bagiku. Kesanku, teman-teman blogger ini unik. Biarpun baru pertama kali bertemu, tak jarang kami sudah bisa mengobrol dengan cukup enak. Kecanggungan karena pertama kali bertemu biasanya mudah mencair. Mungkin itu karena kami sudah biasa saling membaca tulisan di blog. Dan malamnya, setelah mengantar Mbak Imelda pulang ke rumahnya, aku melanjutkan obrolan di mobil bersama Eka. Hey, ternyata kami bisa mengobrol panjang lebar loh! Hehehe. Asyik juga :)

Dari pengalamanku beberapa minggu kemarin sekarang aku berpikir begini: Biarpun aku tak punya teman sekantor yang bisa diajak ngobrol, itu tak masalah ... selama masih bisa ngeblog dan kopdar! :D

*Foto diambil dari akun FB Mbak Imelda. Maklum, ndak punya kamera sendiri, jadi ya nunut dipotretin aja :p

Wednesday, August 19, 2009


Pak Wahyo: Pemijat Tunanetra yang Ceria

Namanya Pak Wahyo. Aku tidak tahu nama lengkapnya, tapi begitulah ayahku menyebutnya. Perkenalanku dengannya dimulai ketika suamiku (waktu itu masih pacar sih) datang ke rumahku di Madiun dan dia mengeluh badannya pegal-pegal karena capek selama di perjalanan.

"Aku pengin pijit," katanya.
"Wah, pijit ke mana ya? Aku tidak punya tukang pijit langganan," jawabku.
Waktu aku masih kecil, aku memang biasa dipijit oleh tetanggaku. Tetapi setelah sudah agak besar, aku tidak pernah pijit lagi. Lagi pula, waktu aku masih kecil, tukang pijit itu sudah tua. Kalau dulu saja sudah tua, jangan-jangan sekarang mbah pijit itu sudah meninggal.

"Eh, tapi tunggu sebentar, seingatku Bapak punya langganan tukang pijit. Aku tanyakan ya," kataku lagi. Dan benar, Bapak lalu memberiku nomor telepon Pak Wahyo. Aku langsung menelepon dan membuat janji untuk pijit.

Keesokan harinya, pagi-pagi, kami bersepeda mencari rumah Pak Wahyo sesuai dengan ancer-ancer yang sudah diberikan oleh Bapak. Rumah Pak Wahyo terletak di ujung gang yang penghuninya cukup padat. Rumah tanpa halaman itu itu tampak kecil sekali dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Aku tak tahu berapa ukuran rumahnya, tetapi begitu kami memasuki rumah itu, rumah itu jadi terasa sangat penuh. Padahal, kami cuma datang berdua. Selain ranjang untuk memijit pasien, di ruangan depan rumah itu hanya ada satu kursi dan meja plastik. Di atasnya ada sebuah tape dan kipas angin tua. Sangat sederhana.

Bayanganku tentang Pak Wahyo sangat berbeda dengan kenyataannya. Kupikir dia orang yang tidak banyak bicara dan kaku, tetapi ternyata tidak lo. Dia sangat ramah dan pandai bercerita! Bahkan menurutku dia pandai melucu. Ada saja yang dia ceritakan.

Sambil memijit, dia bercerita panjang lebar bagaimana dia bisa buta dan akhirnya menjadi tukang pijit seperti sekarang. Rupanya dia tidak terlahir sebagai tuna netra. Waktu masih kecil dia sakit panas dan akhirnya membuat dia menjadi buta. Awalnya dia sangat frustrasi. Dia kesal kenapa hidupnya jadi seperti itu, bahkan dia sempat berusaha untuk bunuh diri. Tetapi teman-temannya datang menghibur sehingga ia mengurungkan niatnya. Suatu kali ia mendapat "penglihatan". Entah bagaimana, ia merasa ada seorang pria mendatanginya lalu mengatakan supaya ia jangan takut dan jangan putus asa; pasti akan ada jalan dan pertolongan. Sim salabim! Sejak "kedatangan lelaki misterius" itu semua pemikiran negatif dalam benak Wahyo kecil itu sirna. Akhirnya ia bersekolah SLB dan kemudian melanjutkan sekolah untuk menjadi pemijat profesional. Katanya, orang buta lebih peka sehingga lebih bisa mendeteksi bagian yang sakit.

Pak Wahyo mengatakan dia tak ingin dikasihani. Maka, dia suka "menjajal" keberanian. Dia bahkan berani lo pergi ke luar kota tanpa teman dengan naik bus! Dia hanya yakin, pasti akan ada orang yang menolong. Benar saja, selama perjalanan hidupnya, ada banyak orang yang menolongnya tanpa disangka-sangka. Misalnya, waktu dia naik bus, ia bertemu dengan temannya semasa SD yang kemudian menolongnya. "Nah, jadi saya ndak pernah takut, Mbak. Tuhan pasti memberi pertolongan. Benar itu!" begitu katanya dengan penuh semangat.

Dalam sehari, Pak Wahyo bisa memijat 3-4 orang. Sekali memijit, dia mendapat uang sekitar Rp 30.000,00. (Aku tak tahu tarifnya sudah naik atau belum.) "Selalu saja ada orang yang datang atau meminta saya datang," tambahnya. Dalam memijit Pak Wahyo tidak berpatokan pada waktu. Tetapi rata-rata 1,5-2 jam. Dia baru selesai memijit jika semua otot si pasien sudah lemas, atau bisa dibilang, dia memijit sampai tuntas. Bahkan jika si pasien tertidur, dia tak membangunkannya. Dia ingin si pasien puas dengan pelayanannya.

Dari obrolan dengannya aku tahu bahwa Pak Wahyo kini sudah menjadi duda. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu karena kanker. "Padahal sudah saya pijitin tiap hari lo, Mbak," ujarnya. "Tapi kata dokter sudah stadium lanjut. Jadi ya sudah tidak bisa tertolong lagi." Mataku mendadak berkaca-kaca mendengar ceritanya.

Langganan Pak Wahyo bervariasi, mulai dari orang biasa sampai para pejabat dan pelaku bisnis. Tak jarang ada pelanggannya yang mau mengajaknya ke kota besar dan hendak memfasilitasi Pak Wahyo untuk membuka panti pijat yang lebih besar. "Tapi saya tidak mau, Mbak," katanya. "Saya di sini saja. Lebih bebas. Tidak perlu ikut orang." Dan kulihat hidup Pak Wahyo itu cukup menyenangkan. Jika tak ada pasien, tak jarang dia pergi ke toko kaset untuk membeli kaset-kaset lagu lama kesukaannya. Banyak lo koleksi kasetnya, dan dia hapal semua lagu sekaligus penyanyi aslinya. Dia memang hobi menyanyi dan dulu ada sebuah stasiun radio di mana ia bisa bernyanyi di situ. Di dinding rumahnya juga kulihat ada foto dia sedang bernyanyi di atas panggung.

Sekarang kalau kami pulang ke Madiun, suamiku merasa belum lengkap jika belum dipijit Pak Wahyo. Aku pun dengan senang hati mengantarkannya karena sembari memijit suamiku Pak Wahyo akan banyak bercerita. Dan ceritanya yang lucu-lucu itu menyegarkan hati lo! Tak percaya? Coba saja!

Monday, August 10, 2009

Memburu Teroris, Melawan dengan Kata-kata

Akhir-akhir ini hampir setiap malam aku dan suamiku berburu nyamuk. Entah mengapa semakin malam, semakin banyak nyamuk yang datang. Padahal kalau siang bisa dikatakan tempat tinggal kami hampir tak ada nyamuk. Tapi begitu hari mulai gelap, suara denging nyamuk plus gigitannya itu mengganggu sekali. Bekal kami adalah raket listrik untuk menyetrum nyamuk. Dan rasanya kami senang sekali mendengar suara PLETAK ...! diiringi bau nyamuk yang terbakar karena kesetrum. Lebih senang lagi kalau kami dapat nyamuk yang perutnya buncit berisi darah. Hhh, mati lu! Rasakan pembalasanku!

Kalau kupikir-pikir sebenarnya lebih baik mendapatkan nyamuk yang masih kurus. Kenapa? Soalnya, nyamuk kurus itu kan belum sempat menggigitku. Jadi, bisa dikatakan itu tindakan preventif alias lebih baik mencegah gigitan nyamuk daripada mengobati bentol-bentol gatal karena gigitan nyamuk. Dan yang lebih bagus lagi adalah jika kita bisa membasmi sarang nyamuk, yaitu uget-uget atau jentik nyamuk yang masih tidak berdaya itu. Pencegahan itu sebenarnya sudah kulakukan dengan menaburi bak mandi dengan Abate dan memasang kasa nyamuk. Tapi tetap saja masih ada nyamuk nakal yang berhasil menerobos rumah. Huh!

Perburuan nyamuk nakal itu mengingatkanku pada perburuan teroris yang punya hobi mengebom dan mencelakakan orang lain. Hobi yang aneh, ya? Tapi mau bagaimana lagi? Mereka masih saja ada. Biar beberapa kali sudah dilakukan penggrebekan di rumah-rumah yang ternyata menyimpan bom itu, kaum teroris itu masih gentayangan seperti drakula.

Dan Sabtu lalu (8/8/09) aku sempat menyaksikan di televisi acara penggrebekan rumah di Temanggung itu. Tapi aku tidak menyaksikan sampai habis dan aku sering mengganti-ganti channel untuk melihat Bara Patirawajane yang dengan lihainya memasak. Enak bener. Saat melihat acara penggrebekan di Temanggung itu aku sempat berpikir, kok kalau dipikir-pikir, kok rada aneh ya menggrebek sarang teroris dengan persenjataan lengkap? Lah lalu bagaimana?

Begini, menurutku perburuan teroris itu tak selamanya bisa dilakukan dengan mengandalkan senjata. Bagaimanapun alasan mengapa mereka melakukan pengeboman itu sarangnya ada di dalam otak dan hati mereka. Sekarang mari kita bandingkan dua tindakan ini:
1. Apa yang membuat kita langsung menarik tangan saat jari kita terkena panasnya api? Karena kita tak ingin terluka. Itu adalah gerak refleks--gerakan yang tidak membutuhkan perenungan atau pemikiran.
2. Apa yang membuat kita pergi ke bank dan menyisihkan gaji kita untuk ditabung? Karena kita sadar bahwa mungkin ada kebutuhan tak terduga di masa mendatang atau untuk jaminan hari tua kita. Tindakan ini membutuhkan suatu kesadaran dan pemikiran.

Jelas kan apa yang mendasari kita bertindak? Yang satu karena biologis, yang satu lagi karena pertimbangan dan pemikiran.

Nah, sekarang mengapa para teroris itu mengebom? Itu kurasa karena apa yang tersimpan di dalam pikiran mereka mendorong untuk melakukan itu. Sebenarnya yang tersimpan di dalam pikiran manusia bentuknya adalah kata-kata. Kata-kata itu bisa muncul karena pengalaman kita sendiri atau orang lain; karena kita melihat, mendengar, merasakan, atau membaca sesuatu. Jadi, sebenarnya awalnya adalah kata-kata yang bergema di dalam kepala.

Aku tak tahu persis apa yang bercokol di kepala para teroris yang tega melakukan pengeboman itu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aneh juga kenapa mereka sampai tega melakukan hal itu. Coba pikir, saat kita tidak terdesak atau hidup kita tidak berada di ujung tanduk, kita pasti tidak akan melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan orang lain, kan? Berbeda dengan orang yang sedang berhadapan dengan maling lalu dia melihat pisau, maka dia mungkin bisa menusukkan pisau itu. Jadi kalau mereka tega mengebom, mungkin mereka merasa keberadaan mereka terdesak, dan karena itu harus menghabisi musuh. Siapa musuhnya? Katanya sih orang kafir. Tentu kafir menurut mereka, ya?

Nah, jadi kupikir kalau kita hendak memberantas teroris, sebenarnya itu bisa dilakukan dengan beradu argumentasi dengan mereka. Atau, dengan kata lain, ubahlah isi kepala mereka. Dan semua itu amunisinya adalah kata-kata--bisa dalam bentuk lisan atau tulisan. Jika isi kepala mereka bisa diubah, kurasa pengeboman itu bisa dikurangi banyak. Rasanya ini seperti memberantas sarang nyamuk, yaitu menghilangkan bibit permusuhan sebelum dia berkembang menjadi pemikiran yang mengerikan dan membuat kita semua celaka. Lebih baik mencegah (dengan kata-kata) daripada mengobati (korban bom).

Saturday, August 08, 2009

Serpihan dari Film 3 Doa 3 Cinta

Menonton film selalu membuat pikiranku berkelana. Begitu pula ketika aku menonton film 3 Doa 3 Cinta ini. Sudah lama aku dan suamiku mengincar film ini untuk kami tonton bersama. Seingatku film ini tayang di bioskop sekitar tahun baru lalu. Tapi rupanya film ini tidak terlalu lama tayangnya dan kami ketinggalan menontonnya. Jadi, akhirnya suamiku kemarin membeli DVD-nya dan kami baru menonton tadi (8/8/09).

Film ini mengangkat kisah kehidupan para santri di pesantren tradisional. Bagi aku seorang nonmuslim, penggambaran kehidupan mereka itu menarik. Aku belum pernah melihat secara langsung kehidupan di dalam pesantren. Dan film itu memperkaya pemahamanku tentang kehidupan teman-teman muslim--terutama yang pernah menjadi santri.

Film ini mengingatkanku tentang keluarga besarku, tentang pengalamanku kemarin sore, dan tentang kejadian akhir-akhir ini. Tiga hal itu rasanya menempel begitu kuat tatkala menyaksikan adegan demi adegan di film itu. Hmmm ... begini ceritanya ... sebenarnya aku sudah lama ingin menuliskan keberagaman di dalam keluarga besarku. Keluarga besarku mayoritas muslim (dan menurut yang kulihat, ada yang abangan dan ada yang tidak). Lalu ada juga yang menganut aliran kepercayaan. Dan ada pula yang Kristen. Keluargaku sendiri beragama Katolik. Oleh karena itu, aku sudah biasa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama denganku. (Dalam tulisan ini aku tidak akan membahas bagaimana keluarga besarku bisa terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan.)

Kemarin sore, aku sengaja menginap di rumah Tante di Pondok Aren. Sebenarnya ini adalah alasan praktis untuk memfasilitasi keinginan suamiku sih. Karena tempat tinggal kami cukup jauh dari tempat berlangsungnya acara itu, kami memilih menginap di rumah Tante yang rumahnya relatif lebih dekat dari Pondok Indah. Kemarin suamiku ingin ikut acara di masjid Pondok Indah. Dia bilang dia ingin ikut acara pengajian di sana. Loh? Rupanya pengajian yang dimaksud berasal dari kata kaji, yang artinya di sana akan diadakan pembahasan suatu topik. Kali ini topik yang diangkat adalah bedah buku terbitan Serambi. Aku lupa apa judul bukunya. Yang jelas, tema yang dibahas kemarin adalah “Agama-agama Ibrahimi: Titik Temu dan Titik Seteru antara Yahudi, Kristen dan Islam”. Pembahasnya adalah Pdt. Dr. Stanley R. Rambitan (Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta) dan Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer (Dosen UIN Jakarta). Soal bagaimana pembahasannya, tanya langsung pada suamiku ya! Hehe. Wong aku tidak ikut acaranya :p Tapi dari ceritanya sih, acaranya bagus. Diskusinya bisa mendalam dan masing-masing pihak bisa berdiskusi dengan kepala dingin.

Nah, ceritanya suamiku langsung menuju masjid Pondok Indah sepulangnya dari tempat kerja, sedangkan aku ikut mobil Tante. Tanteku ini muslim. Lalu karena hendak menjemput anaknya yang sekolah di Al-Azhar serta sudah waktunya sholat maghrib, kami pun berhenti di masjid agung. "Tante nanti sholat dulu ya," kata Tante. Dan ketika turun dari mobil, Tante mengajakku. Oh, Tante tentu tidak mengajakku untuk sembahyang bersamanya. Tetapi daripada aku sendirian di dalam mobil, lebih baik aku "mengintil" dia dan aku pun duduk-duduk di undak-undakan depan pintu masjid. Saat itulah aku teringat peristiwa ketika aku dan kakakku menikah. Waktu acara pemberkatan nikah di gereja, om, tante, pakde, budeku yang beragama lain ikut masuk ke dalam gereja dan memberikan doa restu. Aku tak tahu bagaimana pandangan orang lain ketika melihat di dalam gereja ada saudara-saudaraku yang mengenakan pakaian muslim ikut masuk. Bagiku tidak masalah. Dan aku bangga kepada mereka karena kesediaan mereka untuk itu. Lagi pula, seekor burung yang masuk ke kandang ayam, tidak otomatis menjadi ayam, bukan? Begitu pula, orang non-Katolik yang masuk ke dalam gereja tidak akan otomatis membuat mereka menjadi Katolik. Dan kali ini akulah yang ikut Tante ke masjid. Hehehe.

Kembali ke film 3 Doa 3 Cinta tadi. Di film itu digambarkan tentang dua macam kyai. Yang satu aliran fundamentalis garis keras, yang satu lagi Kyai Wahab yang mengajarkan toleransi serta menghargai agama dan budaya lain. Lewat film ini, Nurman Hakim selaku sutradara, penulis skenario, dan produser hendak mengatakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memiliki pendirian seperti Kyai Wahab. Aku sendiri percaya akan hal itu, mengingat kebersamaan seperti yang aku rasakan dalam keluarga besarku.

Belum lama ini Hotel JW Marriot terkena bom lagi. Menyedihkan memang. Aku tak tahu ada berapa banyak orang yang lalu menuding umat Islam berada di balik pengeboman ini. Aku sendiri berpikir kurasa mayoritas umat Islam di Indonesia tak akan suka digebyah uyah, atau disamaratakan sebagai pengikut aliran yang suka mengebom itu. Lagi pula, agama mana sih yang mengatakan membunuh orang lain adalah baik? Jadi bagaimana? Kurasa untuk menyikapi hal-hal yang merusak kesatuan Indonesia, kita semua--apa pun agamanya dan kepercayaan--perlu bergandengan tangan untuk mempererat persaudaraan. Aku percaya, orang yang benar-benar beriman akan lebih bijak dan bisa saling memahami orang yang berbeda. Hmm ... bagaimana menurutmu?

Wednesday, August 05, 2009


Belajar Membatik di Museum Tekstil Jakarta

Beberapa hari belakangan ini aku pengen banget menyepi. Ya, betul-betul pergi ke tempat yang cukup sunyi, terlepas dari hiruk-pikuk ibu kota ini. Rasanya capek betul mendengar kebisingan yang sepertinya jamak sekali kujumpai di Jakarta: bunyi lalu lalang penjual makanan yang lewat di depan rumah, para pemakai jalan yang rajin membunyikan klakson, orang-orang yang terus berbincang. Jakarta memang gaduh. Tapi di Jakarta ini, biar sudah mengumpet di dalam rumah, tetap saja aku bisa mendengar hiruk-pikuknya Jakarta dari balik jendela.

Jadi, ke mana aku bisa menyelamatkan kupingku dari polusi suara itu?

Rabu lalu (5/8/09) aku menemukan salah satu tempatnya, yaitu di Museum Tekstil. Museum itu memang terletak di daerah yang cukup ramai. Tapi begitu masuk ke pelatarannya, suasana luar yang hiruk pikuk itu rasanya langsung teredam oleh banyaknya pepohonan, halaman yang luas, dan suasana khas bangunan tua. Rasanya seperti bukan berada di Jakarta! Sebenarnya aku ke sana setelah janjian dengan Mbak Imelda sih. Kalau tidak, barangkali setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, aku ya tidak akan sampai ke sana. Dia dan dua anaknya, Riku dan Kai akan berkunjung ke sana. Jadi, mumpung ada teman, sekalian saja aku ke sana.

Awalnya aku tak tahu di mana letak Museum Tekstil itu. Dan mulailah aku bertanya ke temanku yang sudah lama tinggal di Jakarta. Tapi apa jawabnya? "Museum Tekstil? Mana itu?" Gubrak! Welhadalah, dia sudah sepuluh tahun tinggal di Jakarta tapi tidak tahu letak Museum Tekstil. Ah, Jakarta memang terlalu luas. Dan banyak warga Jakarta yang tidak tahu tentang museum dan tempat-tempat semacam itu. Apalagi pendatang kaya aku yang lebih banyak tinggal di rumah daripada keliling Jakarta? Ya jelas tak tahulah. Dan rupanya ... Mbak Imelda yang besar di Jakarta juga tidak tahu tempatnya. Hi hi. Jadi, daripada kesasar tidak karuan, lebih baik aku menunggu mereka di depan Diknas.

Ketika sudah di dalam taksi, kami meminta pak supir mengantarkan ke tempat yang dituju. Tapi ternyata supir taksi itu pun tidak tahu di mana letak Museum Tekstil. Duh! Orang buta menuntun orang buta deh. Yang kami tahu museum itu letaknya di Jl. K.S Tubun 2, Tanah Abang. Tapi di mana tepatnya, yaaa ... mene ketehe? Agak menyesal juga kenapa aku tidak membawa peta milik suamiku. Tapi supir taksi itu cukup pintar juga dalam mencari info. Dia bertanya ke penjual handuk di pinggir jalan, dan mengantarkan kami ke sana tanpa perlu kesasar.

Taraaa...! Akhirnya sampailah kami ke sebuah bangunan tua yang cukup besar dan berhalaman luas dengan beberapa pohon cukup tinggi. Lalu kami pun mulai menjelajahi museum. Tapi sayang koleksi di sana sedikit sekali. Aku agak kurang bisa menikmati suasana dalam museum karena di dalam ruangan itu kesanku baunya apek. Sebenarnya aku lumayan suka bangunan tua, tetapi kalau baunya apek, aku jadi malas. Hmmm ...

Setelah melihat-lihat koleksi museum, kami menuju bangunan kayu yang berada di bagian belakang museum untuk membatik. Yuuhuuu! Akhirnya kesampaian juga aku untuk berlatih membatik. Selama ini aku hanya pernah melihat orang membatik, tapi belum pernah benar-benar memegang canting dan menorehkan malam panas di atas kain. Awalnya Riku dan aku saja yang akan membatik. Tapi rupanya ketika melihat kami asyik menggambar di atas kain, Mbak Imelda jadi tertarik juga. Sebenarnya aku sudah berpikir, nanti kalau kami bertiga membatik, siapa yang menemani Kai? Kai masih terlalu kecil untuk ikut membatik. Aku berharap dia tidak bosan menunggui kami.

Setelah kami selesai menggambar pola gambar di atas kain kira-kira selebar sapu tangan, mbak petugas museum menerangkan do and don'ts saat membatik. Yang agak repot adalah ketika si mbak hendak menerangkan pada Riku yang lebih fasih berbahasa Jepang daripada berbahasa Indonesia. Dan karena aku tidak tahu seberapa banyak kosakata bahasa Indonesia yang diketahui Riku, aku mengatakan supaya menunggu Mbak Imelda saja untuk membantu menjelaskan ke putra tercinta.

Tak lama, mulailah kami membatik. Asyik banget. Mungkin karena gambar pola yang kupilih cukup mudah ya, jadi rasanya gampang-gampang saja. Sembari membatik aku tanya-tanya ke mbak petugas yang ternyata lulusan ISI Jogja. Rupanya di situ banyak juga yang tertarik belajar membatik. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tidak jarang ada serombongan anak SD yang belajar membatik bersama-sama di situ. Lalu, saat kami di situ, datang tiga (atau dua ya?) orang turis Jepang yang ingin belajar membatik. Untuk membatik di atas kain kira-kira selebar sapu tangan, kita cukup membayar Rp 35 ribu rupiah (itu sudah termasuk harga karcis museum). Kalau untuk membatik kain panjang (jarik), biayanya Rp 200 ribu rupiah. Untuk membatik, ukurannya bukan waktu, tapi lebar kainnya. Jadi, kalau mau membatik untuk kain panjang, tak harus selesai satu hari. Selain itu di sana bisa belajar membuat gerabah juga katanya si mbak petugas.

"Selesai, Mbak!" kataku setelah semua garis kuberi malam. Tapi ternyata si mbak mengatakan, "Bagian belakangnya juga diberi lilin. Sama persis dengan yang bagian depannya, ya!" Aih ... rupanya aku baru setengah jalan to. Dan membubuhi lilin di sisi belakang ini lebih sulit, karena harus sama persis dengan yang bagian belakang. Ugh, capek juga ya. Mungkin karena sudah agak capek, lilin panas itu sempat tumpah dan kena jari telunjukku. Wew! Panas banget! Mbak petugas museum segera memberiku salep untuk luka bakar. Aku berharap cuma aku yang mengalami kecelakaan itu.

Eee ... tapi rupanya Mbak Imelda "ketiban sampur" juga. Karena Kai bosan dia mendekati mamanya yang sedang memegang canting. Entah bagaimana malam panas itu melayang dan mengenai kelopak mata kiri Mbak Imelda. Mak tratap! Jantungku sepertinya mau lepas saat melihat kejadian itu. Dan aku mendadak bengong tak tahu mesti bagaimana. Tapi untunglah petugas di museum itu cukup sigap, dan langsung memberikan salep untuk luka bakar.

Akhirnya setelah kami selesai membubuhkan malam, dimulailah proses pewarnaan. Kali ini yang melakukan proses itu adalah mbak petugas dari museum. Jadi, kami hanya menonton saja hehe.

Oiya, kalau ingin tahu lebih banyak soal Museum Tekstil ini, Mbak Retty Hakim sudah menuliskannya agak panjang di sini.

*Foto di atas diambil oleh Mbak Imelda.

Monday, August 03, 2009


Merindukan (Kepemimpinan A la) Purvis

Entah apa yang membuatku mengatakan iya ketika suamiku bertanya, "Mau nonton Public Enemies, nggak?" Aneh. Biasanya aku malas sekali menonton film yang penuh adegan tembak-tembakan. Aku tidak tertarik melihat darah berceceran yang sering muncul di dalam film semacam itu. Dari judulnya saja sudah jelas bakal ada adegan tembak menembak.

Apakah karena Jonny Deep menunjukkan aksinya di film ini? Ah tidak juga. Aku bukan penggemar berat Jonny Deep. Iya, iya dia memang cakep, tapi bukan seleraku banget hihi. (Kayak dia mau sama aku aja :p) Yah, pokoknya tiba-tiba aku pengin nonton saja.

Akhirnya, senin sore itu aku nonton bersama suami dan dua orang teman kami. Dan bisa ditebak, aku yang lebih suka menonton film animasi, merinding ketika menonton film itu. Adegan tembak-tembakannya itu lo, mantep banget. Saking mantepnya, membuatku beberapa kali harus menutup mata kalau melihat darah sudah mulai berleleran. Dooooh ...!

Tidak, aku tidak akan mengulas film Public Enemies ini. Kalau mau tahu review-nya, lebih baik baca di sini saja. Suamiku sudah menuliskannya dengan baik. Hehehe. (Ni, ini aku promosiin blogmu lagi nih!) Di film ini yang mengesankan bagiku adalah penampilan Christian Bale. Gile, cakep! Yang cakepnya kaya gini nih, yang termasuk seleraku. Dan dia memerankan Melvin Purvis, agen FBI yang tugasnya memang mengejar John Dillinger yang licin bak belut itu.

Sebenarnya C. Bale terlalu tinggi untuk memerankan Purvis. Soalnya pas aku membuka-buka arsipnya om Wiki, Purvis ini ternyata "pendekar" alias pendek kekar. Tapi tak apalah, untuk memanjakan mata penonton seperti aku, C. Bale itu sangatlah menghibur. Hihi.

Jadi, ceritanya aku ini terinspirasi sekali oleh gaya kepemimpinan Melvin Purvis. Di awal kepemimpinannya, ada anak buahnya yang tewas saat mengendus jejak gerombolan Dillinger. Lalu, dia tanpa ragu mengakui bahwa dia tidak sanggup menangkap Dillinger jika tanpa dukungan anak buah yang bisa diandalkan. Dia mengatakan lebih baik mundur daripada menyerahkan anak buahnya satu per satu tewas disosor peluru dari gerombolan Dillinger. Aku mengacungkan jempol untuk kerendahan hatinya mengakui kelemahan. Tidak ada ceritanya tuh dia memarahi anak-anak buahnya untuk menutupi kelemahannya.

Lalu, yang aku salut banget adalah ketika ia menegur anak buahnya karena memperlakukan pacar Dillinger dengan kejam sampai-sampai perempuan cantik itu tidak sanggup jalan ke toilet. Tahukah kalian apa yang dilakukannya ketika Frechette dengan terbata-bata berkata, "Aku tak sanggup berjalan...."? Purvis itu menggendongnya! Tak ada kesan dia ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyentuh perempuan cantik itu, tapi semata-mata karena begitulah seharusnya memperlakukan wanita. Meskipun dia termasuk dalam komplotan penjahat, tapi tidak boleh ditampar dan dipukul.

Kemudian, ketika timnya sedang baku tembak dengan gerombolan Dillinger di Litte Bohemia. Waktu mengejar gerombolan Dillinger yang kabur, Purvis berdiri di sebelah luar mobil yang membawanya sambil terus menembak. Dia tidak masuk dan bersembunyi di dalam mobil. Di adegan itu aku melihat dia memang pemberani, dia seolah-olah mengatakan, "Aku akan melindungi anak buahku." Di situ dia juga menunjukkan bahwa dia percaya pada anak buahnya yang menyetir mobilnya. Bayangkan jika anak buahnya kurang terampil menyetir, salah-salah Purvis-lah yang kena sasaran tembak kelompok Dillinger.

Sungguh aku kagum pada Purvis. Dan aku merindukan kepempimpinan seperti itu. Kapan ya aku punya pemimpin yang seganteng dan secerdik Purvis? :)

Sunday, July 26, 2009

Belajar Mandiri dengan Pulang Sekolah Sendiri

Di Jakarta ini aku adalah salah satu pengguna transportasi publik. Itu istilah kerennya dari angkot sebenarnya hehe. Berhubung aku tidak bekerja kantoran, aku hampir tidak pernah naik angkot di pagi hari. Tapi suamiku yang seringnya berangkat kerja ketika matahari masih malu-malu menampakkan kegarangannya, tahu betul apa bedanya naik angkot di masa liburan sekolah anak-anak dan masa sekolah seperti ini. Katanya sih, begitu anak-anak masuk sekolah, jalanan Jakarta pada pagi hari lebih padat.

Yang aku tahu sih, kalau naik metromini di siang hari jam bubaran anak sekolah, seputaran Jalan Pemuda dekat SD Tarakanita dan Labschool biasanya memang macet. Kendaraan yang lewat di situ serasa merayap. Kepadatan itu disebabkan anak-anak sekolah yang sudah pulang menghambur di pinggir jalan untuk membeli jajan di beberapa penjual makanan depan sekolah, plus banyaknya kendaraan yang parkir di depan sekolah. Sepertinya itu kendaraan para penjemput anak-anak itu.

Melihat anak-anak yang sedang bubaran sekolah itu mau tak mau mengingatkan aku ketika masih sekolah dulu. Aku tak ingat, kapan aku mulai pulang sekolah sendiri. Mungkin mulai kelas 3 SD, atau malah kelas 2 SD ya? Yang jelas, ketika masih TK dan kelas 1 SD, aku masih dijemput oleh orang2 rumah; entah itu saudara yang tinggal di rumahku atau Bapak. Yang aku ingat, di hari ketika aku mulai pulang sekolah sendiri, aku diberi uang untuk naik becak. Dulu, ongkos becak dari sekolah ke rumah cuma tiga ratus rupiah. Kalau sekarang sih mungkin sudah naik jadi sekitar lima ribu. Jarak dari sekolah ke rumah mungkin sekitar 1,5-2 kilometer. Kalau jalan kaki paling lama 30 menitan lah. Nah, waktu itu uang tiga ratus rupiah itu banyaaak banget. Harga jajanan waktu itu hanya 25 rupiah, jadi kalau sehari dapat uang saku 50 rupiah saja, itu sudah cukup. Kalau mau jajan agak mewah, 100 rupiah cukup deh. Jadi, kalau 300 rupiah, itu sudah bisa jajan banyaaaak banget. Hahaha.

Seingatku, ada seorang tukang becak yang wajahnya sudah cukup familier bagiku, dan aku kadang naik becaknya. Biarpun sudah cukup kenal, aku kadang masih tanya berapa ongkos becak ke rumah, dan kadang menawar. (Hihi, lucu juga ya kalau membayangkan aku yang masih kelas 2 SD menawar becak.) Tapi bisa dibilang aku jarang sekali pulang sekolah naik becak.Ya, seingatku aku lebih sering jalan kaki pulang ke rumah. Rasanya senang bisa berhemat dengan tidak naik becak. Dengan begitu, siangnya aku bisa jajan di warung depan rumah hehehe.

Kalau kupikir-pikir, aku kok berani ya pulang sendiri waktu itu? Untuk ukuran anak kecil dan ukuran warga di kotaku, jarak antara sekolahku (SD) dan rumahku itu cukup jauh. Mungkin itu karena aku merasa aman di kotaku, ya? Lagi pula, di kota sekecil Madiun, tak ada bus kota yang suka ngebut dan tentunya tak ada kemacetan. Aku cukup berani menyeberang Jalan Pahlawan yang cukup lebar itu. Sendiri loh! Soalnya kebanyakan temanku dijemput. Dan tak ada teman yang rumahnya searah denganku. Waktu itu biasanya aku berjalan kaki lewat jalan yang cukup sepi dan teduh, kadang lewat gang-gang kecil yang kukenal. Kadang ada beberapa becak yang menawari supaya aku naik becak, tapi aku lebih suka menggeleng dan meneruskan langkah.

Acara jalan kaki pulang sekolah itu berakhir ketika aku naik kelas 4 SD. Ketika duduk di kelas 4 aku sudah bisa naik sepeda. Jadi, berangkat dan pulang sekolah, aku naik sepeda sendiri.

Di Jakarta ini, aku jarang bertemu anak SD yang pulang sekolah sendiri dengan naik angkot. Biasanya yang sudah berani pulang sekolah naik angkot sendiri adalah anak SMP. Anak SD masih banyak yang diantar jemput oleh orang tuanya atau ikut mobil antar jemput. Mungkin itu karena orang tua mereka tidak tega membiarkan anak mereka menyusuri lalu lintas Jakarta yang ganas ini seorang diri. Belum lagi tampaknya isu tentang penculikan anak juga masih ada saja. Btw, waktu itu aku kok nggak kepikir bakal diculik ya? Halah, lagian siapa yang mau menculik bocah kurus dan hitam kaya aku ini? Hihi.

Wednesday, July 22, 2009

Buku yang Mubazir?


Salah satu naskah terjemahan yang paling aku sukai adalah buku cerita anak. Sebenarnya itu karena aku suka melihat gambarnya yang bagus-bagus, sih. Mungkin juga karena aku belum kesampaian menulis buku cerita untuk anak. Hehehe. Jadi, ya setidaknya menerjemahkan buku anak-anak dulu deh.

Suatu kali aku mendapatkan buku cerita anak yang membahas sampah dan daur ulang sampah. Di situ diceritakan pertama-tama sampah dipilah lalu setelah itu dilakukan daur ulang sesuai dengan jenisnya. Penjelasannya juga sangat mudah dipahami bagi anak-anak. Apalagi dengan adanya gambar-gambar yang lucu-lucu itu, kurasa anak-anak bakal senang membacanya. Pokoknya keren deh! Sayangnya, buku itu adalah buatan orang dari negara yang berada nun jauh di sana.

Lalu kenapa kalau itu buku impor? Bagiku, hal itu bermasalah. Bukan ... bukannya mau bilang isi buku jelek. Buku itu bagus kok. Dan memang seharusnya begitu. Masalahnya, di Indonesia kan tidak seperti itu. Masyarakat membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu. Paling-paling yang memilah justru para pemulung yang dengan rajinnya mengaduk-aduk bak sampah. Kalau begitu, bagaimana anak-anak akan menerapkan apa yang sudah dibacanya?

Suatu kali aku mengatakan hal tersebut kepada editor yang memberiku buku terjemahan itu. "Mbak, buku-buku tentang sampah dan daur ulang itu bagus. Tapi sepertinya anak-anak akan kesulitan untuk menerapkannya," kataku.
"Iya sih. Tapi ya semoga anak-anak itu kalau sudah besar bisa menerapkannya," begitu jawab editor itu.

Rasanya geli juga mendengar jawaban tersebut. Tapi yah, mungkin itu jawaban terbaik yang bisa dia berikan. Coba pikir, kalau sejak kecil seseorang sudah terbiasa untuk tidak memilah sampah, apakah ketika dia beranjak dewasa, dia akan serta merta memilah sampah dan melakukan daur ulang? Kurasa pemilahan sampah dan daur ulang sulit dilakukan jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang konkret. Ya, memang kadang di beberapa tempat ada dua tempat sampah: untuk sampah kering dan sampah basah. Tapi sampah di situ juga masih bercampur. Jadi, dua macam tempat sampah itu rasanya kok mubazir ya?

Aku sendiri tak tahu bagaimana mengurai masalah sampah ini. Katakanlah kita mengajari anak-anak supaya memilah sampah, tapi jika orang dewasa di sekitar mereka tidak melakukannya, akhirnya ajaran itu tak ubahnya seperti slogan-slogan di spanduk pinggir jalan. Tidak ada artinya apa-apa. Tapi bagaimana orang-orang dewasa di negeri ini bisa meniru warga di negara maju yang sudah mulai mengolah sampah jika tidak ada sistem yang membuat kita melakukan hal itu? Menunggu pemerintah? Terlalu lama rasanya, dan sepertinya pemerintah tidak ada kepedulian akan hal itu.

Akhirnya, aku tak tahu buku-buku anak tentang sampah dan daur ulang itu mubazir atau tidak. Semoga saja tidak.

Monday, July 20, 2009

KRL: Salah Satu Kemewahan di Jakarta

"Salah satu kemewahan di Jakarta adalah KRL," begitu kata kakakku beberapa waktu lalu. Waktu itu kami sedang berbincang-bincang tentang pengalaman tinggal di Jakarta. Setelah kakakku lulus, dia sempat tinggal dan bekerja di Jakarta. Eh, sebenarnya kerjanya di Tangerang ding. Tapi dia tinggal di Jakarta Selatan, di rumah Tante. Aku lupa berapa lama tepatnya dia menetap di ibu kota, tapi kurasa tidak sampai satu tahun.

Aku ingat betul ketika dia bekerja di Tangerang, aku sering meneleponnya pagi-pagi benar, pukul 05.00. Selain memanfaatkan tarif SLJJ yang cukup murah, jika kesiangan sedikit, bisa jadi aku tidak bisa bercakap dengannya. Pukul 05.30 dia harus sudah berangkat dari rumah supaya tidak kena macet di jalan.

Aku ingat ketika menyambanginya di rumah Tante. Saat itu aku datang ke Jakarta bersama Ibu. Kami sampai di rumah Tante kira-kira sore hari. Aku berharap tak lama aku meletakkan tas, aku akan segera bertemu kakakku. Tapi kok lama banget ya dia nggak muncul? Beberapa kali aku menanyakan kepada Tante kok kakakku belum kelihatan juga. Rupanya dia biasa datang pukul 20.00 atau 21.00. Duh, malam amat pikirku.

Dan akhirnya ketika aku sudah terkantuk-kantuk, kakakku pun datang. Kami berbincang sebentar sampai akhirnya mata sudah lengket. E, pagi-pagi betul, ketika aku masih enak-enaknya memeluk guling, Ibu membangunkan aku dengan bertanya, "Mau nganter kakakmu sampai ke depan kompleks nggak?" Aku langsung mengiyakan. Dan pagi itu kami bertiga berjalan menyusuri kompleks. Perasaan, ujung depan kompleks itu jauh amat. Mungkin karena masih agak gelap dan aku sendiri masih mengantuk, ya?

Hmm ... tapi begitulah. Sejak hari itu aku jadi ikut merasakan betapa "ribet"-nya kerja di Jakarta. Harus bangun dan berangkat ke tempat kerja pagi-pagi benar dan pulangnya ketika sudah mendekati jam tidur. Bayanganku, gaji kakakku gede banget. Tapi ternyata gajinya tak banyak kalau tak mau dibilang minim. Hari Sabtu dia masih masuk pula. Jadi, ya ... lumayan capek deh. Pengennya sih dia cari kerja di tempat lain, tapi nggak dapat-dapat. Untung dia akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di Jogja dengan menjadi pengajar di sebuah universitas swasta.

Mengenang hari-hari itu, dia mengatakan bahwa salah satu alat transportasi yang sangat membantunya adalah kereta atau KRL. Jika dia beruntung, dia bisa pulang dengan naik kereta dan waktu untuk perjalanan pulang bisa terpangkas hampir separonya. Ongkosnya pun lumayan murah jika dibandingkan dengan naik bus.

Ya, memang KRL di Jakarta sangat membantu. Itu kurasakan juga. Aku akan sangat senang jika suamiku bisa pulang naik kereta. Itu berarti dia bisa sampai rumah dengan cepat. Hmm, siapa sih yang tidak senang suaminya pulang cepat? He he. Dan kemarin aku main ke Bekasi ke rumah omku. Aku dan suamiku naik KRL dari stasiun yang tak jauh dari tempat tinggalku. Perjalanan dari Klender sampai Bekasi paling cuma butuh 15 menit dengan naik kereta. Asyik kan? Jika naik bus, belum tentu 30 menit kami bisa sampai Bekasi. Apalagi para sopir bus itu rajin sekali ngetem untuk mencari penumpang. Belum lagi kalau sial terkena macet. Waktu akan habis di jalan.

Kupikir, salah satu alternatif alat transportasi umum di Jakarta yang baik jika dikembangkan adalah KRL. Ongkosnya pun tak terlalu mahal. Jika naik KRL ekonomi non AC, kami cukup membayar Rp 1.500 untuk sampai Bekasi (dari Klender). Jika mau yang lebih nyaman sedikit dengan tambahan AC, ongkosnya Rp 4.500. (Bandingkan dengan ongkos metromini: Rp 2.000 dan ongkos KWK yang sampai Rp 3.000). KRL itu sekali angkut bisa memuat penumpang lebih banyak dibandingkan bus patas yang segede bagong itu. Secara kasat mata bisa dilihat penumpang yang bisa diangkut dengan sebuah metromini lebih sedikit dengan jumlah penumpang dalam satu gerbong kereta. Padahal KRL itu punya berapa gerbong? Kurasa lebih dari 5 gerbong. Dari hitungan jumlah penumpang yang bisa terangkut saja, KRL lebih efisien. Belum lagi jika membandingkan luas badan jalan yang dibutuhkan sebuah bis dan lebar rel kereta api. Bisa membayangkan sendiri kan?

Sayangnya, kok sepertinya pemerintah sepertinya lebih suka membangun jalan tol ketimbang mengembangkan jalur kereta ya? Padahal aku yakin, jika jalur kereta ditambah; KRL tidak sering terlambat; frekuensi keberangkatan kereta semakin banyak; kemacetan di jalan raya itu bisa berkurang. Dengan kereta, ongkos perjalanan bisa dikurangi, waktu selama di jalan juga semakin singkat dan itu berarti waktu untuk orang-orang tercinta jadi semakin banyak :)

*Gambar diambil dari sini

Wednesday, July 15, 2009

Jangan Sakit!
Mendingan Uangnya untuk Makan Daripada untuk Bayar Dokter


"Butuh kuitansi?" tanya lelaki tua di depanku dengan suara parau yang berat.
"Enggak usah, Dok," jawab suamiku.
"Kalau begitu, seratus tujuh pulu ribu."
Konsultasi dan pemeriksaan yang paling hanya memakan waktu sekitar lima belas menit itu memakan biaya 170 ribu. Ya, tiga lembar uang lima puluh ribuan dan selembar dua puluh ribuan saja.

S-A-J-A?

Sebetulnya kalau mau jujur, berat juga mengangsurkan lembaran-lembaran biru itu ke tangan lelaki tua yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis itu. Tapi mau bagaimana lagi? Memang segitu dia mematok harga untuk konsultasi dan pemeriksaan. Tak usah menyebut berapa uang yang mesti kusetor waktu menebus resepnya di apotik ya?

Kadang aku bingung mengapa dokter mematok harga setinggi itu. Mungkin itu "harga Jakarta". Sejak tinggal di Jakarta, dompetku memang harus menyesuaikan diri. Semasa di Jogja, untuk berobat di dokter spesialis, paling mahal aku "cukup" mengangsurkan uang sebesar enam puluh ribu. Kalau dokter umum dekat rumah, dua puluh ribu sudah dengan obat selama tiga sampai lima hari. Tetapi rasanya di Jakarta ini tak mungkin aku cukup membawa uang lima puluh ribu ketika hendak ke dokter. Begitu pula ketika hendak ke dokter di daerah Pulomas itu, rupanya uang seratus ribu tak cukup untuk menukar waktu dan konsultasi dengannya. Huh!

Bulan lalu, ketika aku kumpul-kumpul dengan keluarga besarku, aku sempat mengobrol dengan keponakanku yang sudah jadi dokter, Sita. Waktu itu kasus Prita masih menghangat. Menanggapi hal itu dia bercerita, "Sebenarnya, salahnya RS OMNI Internasional sendiri juga sih, kenapa mereka menuntut Prita. Sekarang kabarnya rumah sakit itu sepi banget. Nggak ada pasien. Yang ada di parkiran cuma ada mobil dokter saja."

"Oya? Sampai segitunya ya?" kataku.

"Iya," lanjutnya. "Dan semakin rumah sakit atau dokter itu money oriented, makin banyak kasus seperti Prita itu."

Hmm... jadi UUD to? Ujung-ujungnya Duit.

Dari obrolan dengan keponakanku tadi, aku tahu bahwa biaya untuk sekolah dokter spesialis itu muahaaal banget. Bisa sekitar 300-an juta. Maaf aku lupa-lupa ingat itu untuk dokter spesialis apa dan apakah untuk biaya masuk saja atau biaya selama kuliah. Tapi kira-kira segitu deh, dan bisa bisa lebih. Lalu ketika seseorang mengambil pendidikan dokter spesialis, ia tak boleh berpraktik sebagai dokter. Jadi ya mesti melulu sekolah saja. Bisa dibilang tak ada pemasukan lagi, dan itu yang kadang dirasa memberatkan. Bagi orang yang benar-benar berduit, itu tak masalah. Tapi untuk orang-orang pas-pasan, ya berat juga.

Mengingat hal itu, aku jadi berpikir ya pantas saja dokter-dokter (terutama dokter spesialis) mematok tarif yang mahal. Wong sekolahnya saja mahal. Jadi, jangan sakit deh! Ibuku bilang mendingan uangnya untuk makan daripada untuk bayar dokter :)

Thursday, July 09, 2009


Menjadi Pemimpin Itu ... Susah

Rasanya aku masih bisa merasakan debaran itu. Debar-debar di dada campur keringat dingin saat lembaran-lembaran kertas kecil itu dibuka dan nama yang tertulis di situ dibacakan. Ada dua nama yang beberapa kali disebut. Tapi belakangan, satu nama itu yang terus terbaca. Dan temanku di yang berada di depan papan tulis dengan riangnya terus membuat garis pendek-pendek yang menandakan jumlah anak yang sudah memilih nama itu. Semua anak tertawa riang, berceloteh ramai. Aku memaksakan untuk tersenyum meskipun kurasakan ujung bibirku gemetar. Tampaknya semua senang dan hanya aku yang kecut.

Ya, itulah hari pemilihan ketua kelas. Aku baru beberapa hari menempati bangku baruku di kelas 3 dan dalam beberapa hari itu pula kami harus memutuskan siapa yang akan menjadi ketua kelas. Entah mengapa, itulah saat yang paling menakutkan buatku. Aku tak ingin menjadi siapa-siapa di kelas itu. Tapi hari itu terasa berbeda. Dan rupanya firasatku benar, aku terpilih menjadi ketua kelas. Duh!

Sumpah, aku tak tahu kenapa teman-teman memilihku. Padahal aku mudah salah tingkah jika berdiri di depan kelas. Padahal aku sama nakalnya dengan mereka dan suka ramai di kelas jika guru tak ada. Padahal aku lebih suka usil mengganggu teman-teman daripada mengerjakan tugas saat guru tak ada. Ya, biar begitu toh waktu itu aku yang baru saja duduk di bangku kelas 3 SD sudah menjadi ketua kelas. Aku tak tahu apakah teman-temanku kemudian sadar bahwa mereka sudah salah pilih. Tapi yah, toh itu hanya ketua kelas, dan kami hanya anak kecil yang baru belajar untuk menjadi dewasa.

Mungkin dari sekian banyak orang, aku adalah orang yang tak pernah bercita-cita untuk mendapatkan kekuasaan. Sejak kelas 3 SD sampai aku menjadi karyawan di sebuah penerbitan, aku sama sekali tak ingin menjadi pemimpin. Bagiku menjadi pemimpin itu berat. Kenapa? Ibarat pohon, menjadi pemimpin itu adalah pucuknya. Pemimpinlah yang pertama kali disorot, dicari, dan dimintai pertanggungjawaban. Padahal, aku tak suka menjadi pusat perhatian. Aku lebih suka duduk di belakang, mengamati, dan akan dengan senang hati memberikan usulan-usulan yang menurutku berharga. Aku tak suka dicari-cari, karena aku lebih senang ngeluyur sendiri. Dan menjadi pemimpin berarti mengemban banyak tanggung jawab. Aku lebih suka bertanggung jawab atas diriku sendiri, bukannya mengayomi sekian banyak orang dan berusaha membuat mereka tersenyum.

Dalam benakku, menjadi pemimpin itu harus menjadi pribadi yang ideal. Karena itu aku terheran-heran ketika kujumpai beberapa orang pemimpin yang kujumpai menunjukkan tanda-tanda kepemimpinan yang aneh. Ada yang tidak tegas, ada yang gila hormat, ada yang suka pilih kasih, ada yang tak suka dikritik, ada yang sok gaya dan pamer kuasa. Huh! Rasanya dari sekian banyak pemimpin yang kujumpai sedikit sekali yang punya integritas. Sedih melihat orang-orang yang seperti itu justru menjadi pemimpin. Kalau menurut pengalamanku sih, yang menanggung ketidakbecusan seorang pemimpin adalah puluhan bahkan ratusan orang yang menjadi bawahannya. Dan yah, sangat tidak enak menjadi bawahan yang tidak bisa berbuat banyak selain mengamini kata-kata atasan. Mau protes terhadap atasan? Siap-siap tidak gajian bulan depan atau siap-siap diturunkan jabatannya. Peraturannya adalah (1) atasan tak bisa salah, (2) jika atasan melakukan kesalahan, lihat aturan nomor 1. Hehe. Itu mungkin guyonan biasa, tapi dalam kenyataannya aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri.

Memilih seseorang menjadi pemimpin itu sulit. Betul kata Bu Tuti Nonka yang bilang lebih mudah memilih suami daripada memilih presiden. Hehe. Kalau memilih suami kan bisa pakai acara pedekate, pacaran, berteman dekat, atau apalah namanya. Dan dari situ akan ketahuan bagaimana belangnya orang itu. Kalau tidak cocok, ya sudah. Apakah mau bertaruh mau menghabiskan hidup dengan orang yang hanya membuat hidup kita kacau dan tidak bahagia? No way! Tapi kalau memilih presiden? Kita mesti rajin-rajin mengikuti berita, mesti baca juga pendapat kaum oposisi. Dan alangkah sulitnya mendapatkan berita yang objektif. Dan pas kampanye semua berusaha tampil manis. Padahal para capres dan cawapres itu tetep punya kedodolan masing-masing. Dan kedodolan mereka harus kita tanggung jika mereka menjadi pemimpin. Dooooh!

Tanggal 8 Juli kemarin pemilu pilpres sudah digelar. Dan dengar-dengar Pak BeYe yang dulu pernah bermimpi bisa mengubah air menjadi BBM terpilih lagi. Ya sutra lah ... Aku cuma berharap bapak yang satu itu tidak diam saja ketika ada golongan yang terpinggirkan, semoga pluralitas Indonesia tetap terjaga, semoga dia tak banyak utang, semoga dia tidak merepotkan rakyat (soalnya kampanye terakhirnya membuat jalan seputar Senayan maceeeet! Dan ini sangat ... sangat ... merepotkan masyarakat.)

Sunday, July 05, 2009

Mi Tarik yang Tak Lagi Menarik

Entah aku lupa kapan tepatnya aku suka dengan mi. Yang jelas, aku masih ingat betul harum bau mi rebus buatan Mak'e, pengasuhku sejak kecil. Aroma mi rebus campur telur, suwiran ayam, kubis, daun bawang, dan wortel itu selalu membuatku buru-buru mengambil piring dan segera mengangsurkannya kepada Mak'e ketika mi rebus itu sudah matang. Lalu pyur ... pyur ... tangan Mak'e yang gemuk itu akan menaburkan bawang goreng. Duh, tak sabar aku duduk dan menyantap mi rebus itu sampai ludes.

Ketika Mak'e sudah meninggal dan aku beranjak dewasa, aku yang masih awam dengan bumbu dapur, akhirnya harus puas dengan mi instan. Bagaimana tidak awam? Wong dari lahir ceprot sampai SMP aku tinggal duduk manis di meja makan dan tinggal makan masakan Mak'e yang tak pernah mengecewakan lidahku. Dan begitu dia meninggal, aku kehilangan masakan nikmat hasil racikannya, salah satunya ya mi buatan Mak'e. Jadi, akhirnya untuk memuaskan kerinduanku akan mi, aku berpaling pada mi instan.

Sebenarnya aku lumayan suka dengan mi instan itu. Tetapi belakangan aku sangat menghindarinya. Setidaknya sudah hampir tiga tahun ini aku tak pernah menyentuh mi instan. Sejak dokter menemukan adanya kista cokelat di indung telurku dan aku harus menjalani pengobatan yang cukup menguras tabungan, aku jadi sangat mengurangi apa yang namanya MSG dan semacamnya. Dan itu termasuk mi instan. Uh, awalnya sulit, booo! Dulu biasanya kalau malas ke pasar, aku tinggal membuka lemari persediaan bahan makanan dan plung ... plung ... kucemplungkan mi instan ke dalam panci yang berisi air mendidih itu. Hmmm, aku masih ingat betul bau harumnya lo. Tapi sudahlah, itu masa lalu :)

Aku belum mencoba bermacam-macam mi. Yang kucoba baru seputar mi jawa, mi aceh, mi bangka, mi belitung (aku lupa apa namanya, tapi mi itu kunikmati saat aku liburan ke rumah suamiku di Tanjung Pandan, Belitung Barat), spageti, mi cina. Aku sebenarnya agak bingung dengan istilah mi cina itu. Itu istilahku sendiri dan tak berniat untuk memasukkan unsur SARA. Yang jelas, mi itu kujumpai di restoran cina. Dan kurasa sudah banyak orang yang mengenalnya. Mana yang paling aku sukai? Bingung kalau suruh memilih. Aku suka semua. Tapi belakangan aku suka mi aceh. Bagi orang yang mengenalku mungkin merasa aneh ketika mengetahui aku suka mi aceh. Pasalnya aku kan tidak terlalu suka pedas. Aneh kan? Padahal mi aceh itu cukup menyengat di lidah. Ini gara-gara suamiku sih sebenarnya. Dia itu kan suka sekali menjajal menu baru, dan apa yang dibilang enak oleh suamiku biasanya aku sih setuju-setuju saja. Dan suamikulah yang "mengajariku" menikmati mi aceh. Awalnya terasa aneh di lidah, tetapi lama-lama enak kok!

Nah, salah satu mi yang membuatku penasaran adalah mi tarik. Pertama kali aku mengenal mi tarik ini dari kakakku. Suatu kali sewaktu dia pulang dari Jakarta, dia berkata, "Aku ditraktir makan mi tarik di Jakarta." Mi tarik? Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Minya bikinnya di situ. Ditarik-tarik sampai panjang."
Aku masih tak bisa membayangkan seperti apa mi tarik itu. Dulu waktu masih kecil ibuku punya alat untuk membuat mi. Dan itu tidak ditarik-tarik. Hanya dibanting-banting dan dimasukkan ke alat itu, lalu jadilah mi.
"Rasanya bagaimana?"
"Biasa saja."
Aku tak percaya. Ceritanya membuatku penasaran.

Rasa penasaranku tak langsung terpenuhi ketika aku tinggal di Jakarta. Dan baru Sabtu kemarin, sepulangnya dari JBF, aku dan suamiku menuruti rasa penasaranku. Kami pun melangkahkan kaki ke Plaza Senayan (eh atau Senayan City ya? Pokoknya di seputar Senayan situ deh) dan mencari mi tarik. "Kamu pesen sendiri ya," kata suamiku. "Aku mau pesan yang lain saja."

Well, sejak awal aku mengantri untuk mendapatkan mi tarik, aku agak kecewa. Soalnya tak seperti bayanganku. Kupikir di situ akan terjadi atraksi heboh seperti membanting-banting adonan. E, ternyata tidak. Masnya yang membuat mi itu hanya menarik-narik adonan saja, dan itu tak berlangsung lama. Tidak dibanting-banting. Hmmm jadi cuma begitu ya, pikirku. Lalu bagaimana rasanya? Uh, tak sesuai dengan harapanku. Aku di Jogja biasa makan mi jawa (mi jawa rebus) yang racikannya pakai ayam kampung dan telor bebek. Dan kalau dibandingkan dengan mi tarik, skornya hanya separonya. Selesai makan, aku mendadak merasa geli. Bayangkan, orang-orang di Jakarta ini membayar mahal untuk mi yang kurang enak di lidah. Kasihan kan? Tempat makan boleh bagus, tapi soal rasa? Jangan berharap deh. Hmm, lidahku cukup terlatih membedakan mana mi yang enak dan mana yang tidak.

Thursday, July 02, 2009


Buku Diktat yang Ratusan Ribu Itu ...

Sore aja gimana? Biar siangnya aku bisa tidur sebentar?
Begitu jawaban SMS-ku ke temanku, Adel, untuk mengajakku jalan ke ITC Cempaka Mas. Pagi itu aku masih ngantuuuuk banget. Itu gara-gara malamnya aku sulit tidur karena hidungku mampet dan panasnya Jakarta tak mereda walaupun kipas angin di kamarku masih setia menjalankan tugasnya. Aku harus menebus tidurku yang kurang siang itu kalau tak ingin ambruk lagi karena flu.

Sebenarnya dari tempat tinggal Adel ke ITC cukup dekat--untuk ukuran Jakarta. Hanya naik angkot dua kali. Tapi suaminya rupanya tak mengizinkan istrinya yang sedang hamil anak pertama itu pergi sendiri. Dan aku pikir, tak ada salahnya aku menemani "adikku" ini mumpung aku bisa. Di Jakarta, dialah teman yang sering jalan bareng aku. Dia memang seperti adikku sendiri sejak kami di asrama dulu. Dan pas di Jakarta, kebetulan tempat tinggal kami tak terlalu jauh, jadi kami pun sering main bareng.

Nah, kemarin sore akhirnya kami pun ketemu. Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan di ITC, kami akhirnya pulang dan memilih makan di dekat tempat tinggalnya--Bakmi Golek belakang Arion. Sebenarnya aku pengen makan bebek goreng, tapi apa daya, tenggorokanku masih belum bisa menerima gelontoran makanan berminyak. Dan lagi, kalau pengen ngobrol santai, Bakmi Golek lantai 2 cukup enak karena bebas bau rokok.

Seperti biasa, salah satu pokok pembicaraan "wajib" kami adalah tentang keponakannya, Ayu. "Kemarin untuk buku diktat Ayu habis uang 650 ribu," katanya. Uang sejumlah itu dirasa cukup banyak bagi keluarga Adel. Karena itu Adel dan dua kakaknya mesti iuran untuk membeli buku diktat keponakan tersayang. Beuh ... zaman sekarang duit untuk beli buku sekolah anak SD saja sampai segitu banyak ya? Dulu pas zamanku sekolah, kami masih mendapatkan pinjaman buku-buku diktat dari perpustakaan sekolah. Masing-masing anak dapat satu buku. Kalau tidak, aku masih bisa "melungsur" alias memakai buku kakakku. Walaupun beda empat tahun, beberapa bukunya masih bisa aku pakai. Jadi, lumayan irit. Dengan sampul cokelat baru, jadilah buku jadul itu tak kelihatan usang. Kurasa dengan begitu, orangtuaku tak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk membelikan buku diktatku.

Ucapan Adel membuatku teringat pada seorang temanku, Joanna, yang akhir-akhir ini pusing untuk membeli buku untuk anaknya yang naik kelas 4 SD. Sebagai orangtua tunggal, dialah yang kini pontang-panting keliling toko buku untuk beli buku anaknya. "Memangnya tidak bisa beli lewat sekolah?" tanyaku. "Bisa, sih. Tapi selisih harganya bisa sampai ratusan ribu jika dibandingkan kalau aku beli sendiri di toko buku. Masalahnya di toko buku sulit sekali mencari bukunya anakku." Aku sebenarnya agak heran dengan penjelasan temanku. Aku memang tak terlalu banyak tahu soal aturan distribusi buku, tetapi setahuku jika penerbit bisa menjual langsung, katakanlah ke sekolah, mereka bisa memberikan diskon cukup banyak. Aku saja nih ya, kalau mau beli buku terbitan penerbit X, aku kadang menghubungi temanku si A yang bekerja di penerbit tersebut supaya bisa dapat diskon minimal 20%, kadang bisa sampai 40%. Masing-masing penerbit punya kebijakan sendiri-sendiri. (Jadi, teman-teman, begitulah salah satu trik untuk bisa beli buku diskon hihihi.) Nah, mestinya penerbit menjual buku secara langsung ke sekolah, murid bisa mendapatkan harga miring. Tapi sekali lagi aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pendistribusian buku ke sekolah.

Kadang kalau kupikir-pikir agak "mubazir" juga buku-buku diktat itu. Kenapa? Soalnya biasanya buku-buku itu akhirnya akan disingkirkan begitu anak-anak naik kelas. Aku membayangkan buku-buku diktat itu kemasannya lebih menarik, misalnya dikemas dalam bentuk komik, picture book, atau gabungan antara ilmu pengetahuan dan fiksi. Kebetulan aku menerjemahkan buku pengetahuan anak-anak dalam kemasan picture book yang sangat menarik. Wong aku saja seneng bacanya, hehehe. Jadi, kalau buku-buku diktat itu menarik, setelah anak-anak naik kelas, buku-buku itu bisa tetap dibaca-baca lagi untuk menyegarkan ingatan. Tapi yah, semubazir-mubazirnya buku diktat itu, semoga anak-anak tambah pinter aja deh!

Monday, June 29, 2009


Nge-Teh

Ketika di asrama dulu, ada beberapa teman yang aku tahu suka sekali minum teh. Salah satunya adalah Mbak Tutik. Seingatku, hampir setiap sore dia membuat teh hangat. Dan tak jarang dia menawariku, "Gelem teh ra?" (Mau teh nggak?) Ya, begitulah rezeki kecil saat di asrama. Tawaran dibuatkan teh manis kok nolak? Jelas tidak dong. Apalagi kalau ada tempe mendoan atau tahu isi hasil perburuan di Sagan.

Dari Mbak Tutiklah aku tahu beberapa merek teh yang menurutnya enak. Terus terang aku lupa merek-merek teh yang enak menurut dia, tapi salah satunya kalau tidak salah adalah Teh Catoet (semoga tidak salah tulis). Bagaimana enaknya? Tidak tahu. Hahaha.

Memang lidahku ini bodoh, tak bisa membedakan teh mana yang benar-benar enak, dan mana teh yang hanya memberi warna cokelat biasa--tanpa rasa teh yang asli. Jadi, dulu kalau di asrama ada dua tempat air besar satu berisi air putih dan satu lagi berisi teh, maka aku tak bisa membedakan rasanya. Yang satu bening, yang satu cokelat. Tapi soal rasa, sama saja tuh!

Bagiku, kenikmatan yang melekat dari acara ngeteh sore adalah kedekatan kami. Obrolan yang tak jelas juntrungannya. Kadang membicarakan teman-teman di kampus, kadang membicarakan si A, kadang cerita soal masa kecil, dan tentunya ... cerita soal cowok dong! Hihihi. Dan kegiatan ongkang-ongkang di sore hari itu pun kami akhiri karena kami satu per satu harus mandi dan ikut makan malam bersama di asrama.

Ketika aku bekerja kantoran, OB di kantorku, Pak Mar, pintar membuat teh manis. Jika Pak Mar tidak masuk, biasanya teh yang terhidang di meja kami kurang nikmat. Tak bisa aku menggambarkannya. Yang jelas kekentalannya kurang, dan gulanya kebanyakan menurutku. Lidahku bisa membedakan mana teh buatan Pak Mar dan mana yang bukan. Sayang, ketika aku sudah tak berkantor lagi di sana, aku dicuekin Pak Mar ketika minta teh manis. Huuu :(

Ketika menikah, ndilalah ... aku bersuamikan lelaki yang suka wedangan alias menikmati minuman hangat. Salah satu minuman hangat kesukaannya adalah teh. Tapi kali ini aku belajar membedakan mana teh yang enak dan mana yang sekadar memberi warna cokelat. Dulu aku tak pernah ambil pusing ketika minum teh. Tapi sekarang? Jangan tanya. Aku tahu lo, kalau teh celup merek S*** W**** itu tak enak. Harumnya juga kurang. Tak ada rasa teh yang melekat di lidah saat kita meminumnya.

Suamiku yang penikmat teh itu mengajariku bagaimana membuat teh yang enak. Tapi tetap saja aku tak bisa menyamai teh buatannya. Teh buatannya selalu yang paling pas di lidah. Dia selalu tahu seberapa banyak jumputan daun teh dan takaran gula yang pas untuk satu cangkir teh. Dan teh pilihannya pun tak pernah mengecewakan di lidah. Darinya aku tahu rasa teh yang sebenarnya: segar, wangi, dan ada rasa pahit di ujung lidah. Kami biasanya memilih jenis teh hijau atau teh oolong. Kadang ketika main ke Bandung, kami menyempatkan mencari teh Upet yang mudah sekali ditemui di sana. Biar hanya teh celup, teh Upet ini cukup nikmat dibandingkan teh celup lainnya. Harganya pun cukup miring jika dibandingkan teh Dilma atau teh bermerek lainnya.

Kadang aku berpikir, di Indonesia ini ada banyak sekali perkebunan teh. Tapi kenapa ya masih jarang orang Indonesia yang tahu mana teh yang enak dan mana yang biasa-biasa saja. Kita terbuai begitu saja dengan iklan-iklan teh di media massa, dan membeli teh hanya karena iklan. Padahal produk teh yang sering diiklankan di televisi itu tidak enak lo. Percayalah. Kurasa teh terbaik kita larinya ke luar negeri, diekspor. Sebenarnya tak masalah jika kita mengekspornya. Tapi kalau anak negeri sendiri jadi tak kenal teh yang enak, sayang kan?

Friday, June 26, 2009

Bagaimana Beradaptasi Atas Kesenjangan Ini?


Ada satu hal yang membuatku tidak nyaman di Jakarta ini, yaitu begitu jelasnya kesenjangan sosial terhampar di depan mata. Di sini, aku dengan mudah menjumpai mobil merek Alphard atau Jaguar yang rasanya biar sampai mati seorang buruh pabrik di Pulogadung tak akan mampu membelinya. Atau, aku akan mudah menjumpai rumah-rumah semi permanen yang tak layak huni di pinggiran rel kereta, sementara itu ada saja orang yang dengan mudahnya membangun rumah gedong bagai istana. Gumun, jan gumun tenan aku. Aku heran sekali melihat hal ini. Dan jujur, melihat hal ini kok rasanya hatiku clekit-clekit, ya? Aku tak tahu adaptasi macam apa yang harus kulihat saat melihat kesenjangan seperti itu. Menutup mata seolah-olah semua itu bukan urusanku? Menganggap biasa dan wajar-wajar saja? Menggerutu? Menuliskannya di blog?

Setiap kali keluar rumah, pemandangan yang kontras semacam itu mau tak mau harus "kunikmati". Di sini aku bisa melihat pemandangan orang yang melarat benar-benar melarat dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mati konyol. Selain itu, orang di kalangan sosial yang lebih tinggi ada yang berusaha menutup mata melihat kenyataan ini, ada yang "take for granted", ada yang berusaha naik ke tingkat sosial yang lebih tinggi dengan menjadi "social climber".

Beberapa waktu lalu aku terbengong bengong saat mendengar di radio bahwa gaji Boediono semasa menjabat sebagai Gubernur BI kabarnya mencapai 150 juta. Ya... ya... mungkin itu jumlah wajar mengingat kapasitas dan posisinya. Tapi tetap saja, aku tak habis pikir, gaji segitu tiap bulan buat apa saja ya? Buat beli rumah tiap bulan sih rasanya mampu lo. Padahal para buruh itu harus berdemo di bawah terik matahari hanya untuk memperjuangkan UMR yang jumlahnya mungkin hanya dianggap "uang kecil" bagi beberapa petinggi perusahaan. Sementara itu, para buruh itu mungkin tak sanggup beli rumah yang cukup sehat untuk dihuni atau menyekolahkan anak mereka di sekolah yang bagus. Nah, kesenjangan semacam itu jamak terjadi di sini.

Ya ... memang, gaji seorang buruh tak bisa sama dengan gaji direkturnya. Setiap orang mendapatkan upah sesuai dengan kapasitasnya. Mungkin ada yang bilang buruh atau orang-orang kecil itu bekerja dengan hanya dengan menggunakan modal tenaga, sedangkan para manajer atau petinggi perusahaan mesti bekerja dengan menggunakan pikiran dan mereka pun bekerja keras agar perusahaannya yang menopang hajat hidup orang banyak tidak gulung tikar. Tapi kurasa, kita tak bisa mengecilkan arti pekerjaan yang dilakukan dengan hanya bermodalkan tenaga. Kalau tak percaya, cobalah untuk menarik gerobak sampah yang penuh muatan. Ciumlah bau sampah yang aduhai itu dan nikmatilah beratnya mengangkut sampah. Bagaimana? Mudahkah? Suatu pekerjaan yang menyenangkan?

Aku tak tahu bagaimana baiknya mengatasi kesenjangan sosial itu. Tapi yang kuperhatikan di sini adalah tampaknya kebanyakan orang membangun kenyamanan bagi diri mereka sendiri. Jarang sekali ada yang mengusahakan kenyamanan bersama. Dan ini memang sulit, kecuali bagi mereka yang mau melepaskan kepentingan pribadi dan punya pengaruh yang cukup besar. Pertanyaannya: Siapa yang mau melakukan hal itu?

Memang mau tak mau kita harus menerima bahwa ada orang yang berpendapatan amat banyak dan ada pula yang sangat sedikit. Tapi kurasa, orang-orang kecil yang berpenghasilan minim itu berhak memperoleh akses untuk mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang baik. Masalahnya kan, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang baik di Indonesia ini adalah barang mewah. Lha wong berobat ke dokter umum untuk sakit flu, kita harus menyiapkan uang minimal 100 ribu, lo. (Aku bahkan pernah "dikemplang" oleh sebuah apotik yang merangkap klinik di dekat tempat tinggalku untuk terpaksa mengeluarkan uang sebanyak 300 ribu lebih hanya untuk berobat sakit flu! Huh!) Coba pikir, jika seorang buruh yang katakanlah gajinya 1 juta sebulan, bagaimana dia mau berobat ke dokter spesialis yang mungkin akan membuatnya merogoh kantong sampai 400 ribu? Dan uang sebanyak itu harus ia usahakan sendiri. Mau mengandalkan askeskin alias askes untuk orang-orang miskin? Belum tentu bisa lo.

Sebenarnya, aku rela membayar pajak lebih banyak, asal uang pajak itu dipakai untuk benar-benar menyejahterakan rakyat. Misalnya, dengan uang rakyat itu sekolah benar-benar gratis, jadi tak ada pungutan uang gedung dan semacamnya; semua rakyat bisa berobat gratis dan obat pun tidak mahal; dibangun perpustakaan yang bagus sehingga setiap orang bisa memperoleh informasi dan pengetahuan yang dapat membuatnya semakin utuh sebagai manusia.

Nah, teman-teman, setelah kulontarkan uneg-uneg ini ... tolong katakan padaku, adaptasi macam apa yang harus kulakukan saat melihat kesenjangan yang membuat otakku tak berhenti bertanya-tanya ini. It's always painful when I see this reality and I do nothing.