Wednesday, July 22, 2009

Buku yang Mubazir?


Salah satu naskah terjemahan yang paling aku sukai adalah buku cerita anak. Sebenarnya itu karena aku suka melihat gambarnya yang bagus-bagus, sih. Mungkin juga karena aku belum kesampaian menulis buku cerita untuk anak. Hehehe. Jadi, ya setidaknya menerjemahkan buku anak-anak dulu deh.

Suatu kali aku mendapatkan buku cerita anak yang membahas sampah dan daur ulang sampah. Di situ diceritakan pertama-tama sampah dipilah lalu setelah itu dilakukan daur ulang sesuai dengan jenisnya. Penjelasannya juga sangat mudah dipahami bagi anak-anak. Apalagi dengan adanya gambar-gambar yang lucu-lucu itu, kurasa anak-anak bakal senang membacanya. Pokoknya keren deh! Sayangnya, buku itu adalah buatan orang dari negara yang berada nun jauh di sana.

Lalu kenapa kalau itu buku impor? Bagiku, hal itu bermasalah. Bukan ... bukannya mau bilang isi buku jelek. Buku itu bagus kok. Dan memang seharusnya begitu. Masalahnya, di Indonesia kan tidak seperti itu. Masyarakat membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu. Paling-paling yang memilah justru para pemulung yang dengan rajinnya mengaduk-aduk bak sampah. Kalau begitu, bagaimana anak-anak akan menerapkan apa yang sudah dibacanya?

Suatu kali aku mengatakan hal tersebut kepada editor yang memberiku buku terjemahan itu. "Mbak, buku-buku tentang sampah dan daur ulang itu bagus. Tapi sepertinya anak-anak akan kesulitan untuk menerapkannya," kataku.
"Iya sih. Tapi ya semoga anak-anak itu kalau sudah besar bisa menerapkannya," begitu jawab editor itu.

Rasanya geli juga mendengar jawaban tersebut. Tapi yah, mungkin itu jawaban terbaik yang bisa dia berikan. Coba pikir, kalau sejak kecil seseorang sudah terbiasa untuk tidak memilah sampah, apakah ketika dia beranjak dewasa, dia akan serta merta memilah sampah dan melakukan daur ulang? Kurasa pemilahan sampah dan daur ulang sulit dilakukan jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang konkret. Ya, memang kadang di beberapa tempat ada dua tempat sampah: untuk sampah kering dan sampah basah. Tapi sampah di situ juga masih bercampur. Jadi, dua macam tempat sampah itu rasanya kok mubazir ya?

Aku sendiri tak tahu bagaimana mengurai masalah sampah ini. Katakanlah kita mengajari anak-anak supaya memilah sampah, tapi jika orang dewasa di sekitar mereka tidak melakukannya, akhirnya ajaran itu tak ubahnya seperti slogan-slogan di spanduk pinggir jalan. Tidak ada artinya apa-apa. Tapi bagaimana orang-orang dewasa di negeri ini bisa meniru warga di negara maju yang sudah mulai mengolah sampah jika tidak ada sistem yang membuat kita melakukan hal itu? Menunggu pemerintah? Terlalu lama rasanya, dan sepertinya pemerintah tidak ada kepedulian akan hal itu.

Akhirnya, aku tak tahu buku-buku anak tentang sampah dan daur ulang itu mubazir atau tidak. Semoga saja tidak.

11 comments:

Ikkyu_san a.k.a imelda on 12:56 AM said...

di rumahku di jkt ini, kita sendiri yang memilah sampah yang bisa terbakar (sisa makanan) dan sampah plastik, kemudian sampai barang tua, supaya pemulung hanya ambil yang sampah plastik dan barang saja, dan tidak mengaduk-aduk sisa makanan sehingga mengotori sekitar tempat sampah. Awalnya sih tetap aja diaduk-aduk...lama-lama ngerti juga kok pemulungnya. Memang kita yang harus mulai sendiri.

EM

Yusahrizal on 2:02 AM said...

Setelah anak2 yg baca besar dan menerapkannya?

maksudnya, kalau anak2 itu dewasa, bisa jadi pemulung?? pemulung yang baik dan benar hehehehe....

krismariana widyaningsih on 4:48 AM said...

@Mbak Imelda: Iya betul, Mbak. Harus mulai dari kita sendiri. Hanya saja, kok sptnya blm banyak rumah tangga yg sampahnya dipilah ya? Aku juga selalu memilah sampah di rumah. Hanya saja aku tidak selalu memasukkan sampah basah ke komposter. Dan aku biasanya memberikan barang2 plastik ke pemulung yg lewat di depan rumah.

@Yusahrizal: Setidaknya, jadi managernya para pemulung. Hehehe

DV on 3:50 PM said...

Nek menurutku, apapun yang kita lakukan asal untuk kebaikan itu ya udah lebih dari cukup.
Mubazir atau nggaknya di masa yang akan datang bukan lagi urusan kita, Nik :)

Kuwi nek menurutku sih :)

Anonymous said...

aku jd ingat di rumahku dulu, sampah diolah sendiri. gali lubang, masukkan sampah disitu. setelah kering, sampah dibakar.
lha kalau di kota (Jakarta dan Balikpapan) gak mungkin mengolah sampah sendiri. kalo pake acara bakar sampah malah bisa2 diprotes orang, blm lagi resiko kebakaran krn rumah yg dempet2 gitu...

Bayu Probo on 1:41 AM said...

Sampah fenomena menarik. Orang Indonesia belum terpikir sampai segiu mbak. Mereka masih berpikir seputar bagaimana cara mengisi perut setiap hari. Belum sampai cara membuangnya.

edratna on 2:31 AM said...

Sampah saya dibedakan antara bekas makanan dan sampah lain...dan baru disampaikan ke depan rumah jika pak sampah menggedor pagar...habis kalau nggak begitu cuma diaduk pemulung dan berceceran....

krismariana widyaningsih on 7:13 AM said...

@DV: Ya memang, tapi kurasa anak-anak itu butuh mempraktikkan apa yang mereka baca/pelajari. Anak-anak itu pembelajar yg hebat soalnya. Jadi kurasa praktik itu perlu.

@Nana: Mungkin jk lahan sempit bisa diatasi dg membuat lubang biopori. Tapi di Jkt ini banyak rumah yg sudah tdk punya tanah. Sayang memang, padahal itu utk kepentingan warga juga.

@Bayu Probo: Padahal jika warga bisa memanfaatkan sampah, bisa jadi duit jg lo. Kan lumayan utk nambah pemasukan rumah tangga :)

@Edratna: Iya Bu, sampah organik dan nonorganik sebaiknya dipisah. Apalagi kalau di rumah masih punya halaman, mungkin yg sampah organik bisa dimasukkan ke lubang biopori :) Btw, terima kasih sudah mampir ke blog saya, Bu Enny! :)

Tuti Nonka on 9:34 PM said...

Sebenarnya kebiasaan memisahkan sampah ini sudah mulai banyak disosialisasikan. Di Yogya, bak sampah yang disediakan di pinggir jalan sudah dibuat dua macam dalam dua warna, untuk sampah kering (kertas, plastik, dll) dan sampah basah (sisa makanan). Di rumah, saya juga sudah mengajari pembantu untuk memisahkan sampah. Rasanya nggak tega membayangkan pemulung yang nantinya harus mengais plastik di antara sampah makanan yang pasti baunya sudah sangat busuk ...

Anonymous said...

Tertohok :D

aku lom pisahin sampah
haduuuuuuuuuh

*garuk2 kepala

btw... walopun skr belum bisa diterapkan mbak, paling tidak ada ilmu yang bisa diambil dari bukunya :)

krismariana widyaningsih on 12:15 AM said...

@Tuti Nonka: wah bagus sekali tuh Bu kalau sudah memisahkan sampah kering dan sampah basah di rumah. semoga semakin banyak yg mengikuti jejak Bu Tuti

@Eka: kalau bisa, mulailah memilah sampah. setidaknya kalau dipisah, baunya tidak terlalu menyengat sehingga tdk mengganggu hidung kita. coba saja :)