Monday, March 31, 2008

Klise

Kadang kupikir kita ini dikelilingi banyak hal klise yang begitu kuat. Klise yang kumaksud di sini bukan film negatif lo, tetapi suatu gagasan yang sering dipakai. Misalnya, gagasan bahwa orang miskin itu selalu tulus, orang kaya itu nyebelin dan sombong, dsb.

Klise yang paling banyak berhamburan sih di layar kaca--terutama sih di sinetron-sinetron. Biasanya di situ orang-orang miskin digambarkan sebagai orang yang bodoh, tulus, tahunya cuma nrimo dan nrimo. Atau, orang kaya digambarkan sebagai orang yang culas, serakah, dan pengen menang sendiri.

Tapi ya, namanya juga cerita. Kenyataan yang kita jumpai kadang berbicara lain. Misalnya, sudah bukan rahasia lagi kalau banyak pengemis yang sengaja membebat kaki mereka dengan perban yang sudah dituangi obat merah banyak-banyak. Kalau seperti itu kan bisa dikatakan bahwa biar miskin, mereka suka menipu juga. Dan pas hari Minggu kemarin (30/3/08), aku sempat melihat tayangan SIGI di SCTV. Di situ ditayangkan ada orang yang sengaja membuat sabun dan sampo palsu. Walaupun wajah si pembuat itu dikaburkan, tapi kalau ditilik dari cara pembuatannya yang seadanya, dan bagaimana ia memasarkan barang-barang palsu itu, sepertinya dia bukan orang yang kaya. Waktu menontonnya, aku sempat sebel sih! Kok ada ya orang yang tega melakukan hal-hal seperti itu?

Bagiku sendiri, aku masih perlu belajar untuk melihat seseorang dari hatinya. Tidak cuma melihat tampang dan penampilan. Tidak juga cuma percaya begitu saja apa kata orang tentang si A, si B, si C. Mungkin si pembuat sampo dan sabun palsu dan pengemis yang menipu itu menyebalkan dan merugikan banyak orang, tetapi apakah ada gunanya ya kalau kita membencinya?

Friday, March 28, 2008

Kecanduan

Aku merasa akhir-akhir ini nggak bisa lepas dari yang namanya k-o-m-p-u-t-e-r. Mungkin kalo Mbah Kung--yang seorang petani itu--kehilangan paculnya, begini juga rasanya.

Paskah kemarin aku pulang ke Madiun. Rencananya sih nggak lama2 di rumah. Tapi karena satu dan lain hal (halah, koyo opo ae sih!), aku akhirnya berlama-lama di rumah. Alasan utamanya sih karena aku sakit perut. Biasalah ... perempuan. Jadi, daripada aku meringis-meringis di kereta, kan mending aku bobok manis di rumah to?

Nah, selama di rumah itu aku tidak bersentuhan dengan komputer babar blas! Padahal aku masih ada tanggungan mengerjakan terjemahan, plus satu "pesanan" tulisan. Aku sebenarnya sudah membawa sebuah buku agar aku bisa meneruskan terjemahanku. Tapi kok rasanya tidak lancar ya? Ada yang kurang, gitu rasanya. Sepertinya jari-jariku lebih luwes kalo menyentuh keyboard komputer. Akibatnya, aku jadi malas melanjutkan pekerjaan.

Di saat-saat seperti itu, rasanya kebutuhan untuk punya laptop tuh gedeeee banget. Serasa nggak tertahankan. Tapi kok ya duit di rekening belum juga bertambah. Apa bisa beli laptop pake krikil yg kukumpulkan di depan rumah? Hehehe. Duh ...! Apa di surga ada pabrik laptop ya? Kalau minta dikirimi satuuuuu aja dari sana, apa bisa ya?

Beginilah kalau aku sudah kecanduan komputer....

Wednesday, March 19, 2008

Pengumuman di Hari Terakhir

Ini hari terakhirku sebagai karyawan tetap di sebuah penerbitan. Memang, memang sudah lama aku gembar-gembor kalau aku pengen jadi freelancer. Sebenarnya, rencananya baru bulan Mei aku "kerja serabutan", dan mulai pertengahan Maret sampai pertengahan April aku jadi part timer. Tapi karena setelah dipikir-pikir lebih "menguntungkan" kalau aku langsung jadi freelancer saja, aku pun memutuskan bahwa minggu depan aku akan jadi freelancer.

Kerjaannya sih nggak jauh-jauh dari aktivitasku selama ini: mengedit, menulis, menerjemahkan. Seputar itulah. Pengennya sih, setelah jadi freelancer, jadi tambah teman, dan semoga tambah duit juga hehehe.

Tapi tahu nggak, hari ini kok rasanya agak2 aneh ya. Aku tersadar bahwa di bulan-bulan depan sudah tidak ada lagi yang menggajiku setiap tanggal 28. Duit yang masuk ke rekeningku semuanya tergantung pada usaha dan keprigelanku dalam memenuhi deadline. Setelah enam tahun jadi pekerja kantoran, baru kali ini aku akan lepas dari kungkungan ruangan ber-AC dan meninggalkan teman-teman seruangan konyol bin ajaib (terutama kalau para bos sedang tindak-tindak atau berkencan he he he).

Lalu, minggu depan aku akan benar-benar mulai bekerja sendiri. Terserah deh mau ngapain. Mau duduk sambil baca buku, ya boleh. Mau nulis-nulis yang nggak mutu, ya oke-oke saja. Mau ngebut cari duit? Boleh-boleh saja.

Jadi ya, sekarang aku umumkan kepada khalayak ramai: "Minggu depan saya jadi freelancer lo! Kalau membutuhkan saya dan mau menawarkan kerja sama, silahkan lo. Monggo. Kontak saya di krismariana@yahoo.com. Oke?"

Tuesday, March 18, 2008

Ketika Hari Hujan

Sebenarnya aku ini suka hujan--tapi kalau sedang di rumah. Aku suka dinginnya. Apalagi kalau di rumah berlimpah makanan. Wah, enaaaak! Trus, apalagi kalau ada temen ngobrol yang asyik markosip. Betul-betul mak nyus tuh!

Tapi lain soal kalau harus menembus hujan. Payahnya, hal inilah yang belakangan ini aku alami. Mau nggak mau aku harus menerobos curahan air hujan. Lha mau gimana lagi kalau setelah hujan itu aku tongkrongin, ternyata ndak berhenti juga, apakah aku harus menginap di kantor tercinta ini?

Akhirnya, aku selalu menyiapkan benda-benda ini di dalam tasku:
-celana pendek (untuk ganti celana panjangku, biar besok masih bisa dipakai)
-handuk (kalau-kalau harus mandi di kantor atau di kos tesa)
-sabun cair (kalau mandi, mesti pakai sabun kan?)

Oiya, selain itu aku juga selalu pakai sandal jepit ding! Murah meriah. Jadi sepatu sandal yang bagus tetap awet karena enggak kehujanan....

Friday, March 14, 2008

Kenapa Ya?

Kenapa ya, kita ini sulit menerima perbedaan?

Hayo? Kenapa hayooo?

Aku nggak tahu. Tapi memang kadang merasa tidak enak saja kalau berbeda. Dulu perasaan tidak enak itu sangat kuat, tetapi entah mengapa sekarang aku merasa perasaan tidak enak itu tidak sekuat dahulu. Bahkan aku justru merasa aneh dengan orang-orang yang tidak bisa menerima perbedaan.

Kupikir-pikir, perasaan tidak enak itu muncul karena kita diomongin negatif oleh orang lain. Orang memberi cap bahwa kita adalah orang yang aneh, tidak umum. Dan ujung-ujungnya, berbeda itu tidak boleh. Misalnya nih, untuk urusan kawinan. Orang tua biasanya merasa tidak nyaman kalau kita para generasi muda ini ingin sesuatu yang berbeda. Contohnya: tidak perlu lah kita mengundang orang sekampung atau dua kampung untuk meramaikan pernikahan. Orang muda mikirnya: Memangnya, yang sederhana saja nggak bisa?
Orang tua mikirnya: Nanti apa kata tetangga-tetangga? Mantu kok diam-diam. Anggaplah ini sebagai suatu kebanggaan.

Padahal tuh ya, kalau mengundang banyak orang tuh kan mesti sedia banyak duit? Kalau orang muda sih mikirnya, ya... temen-temen dekat saja lah yang diundang. Kenapa mesti bapak itu, atau ibu anu ikut diundang? Toh kita nggak kenal-kenal banget. (Dan lagian, kenapa kalau si A atau si B tidak diundang, mereka menjadi tersinggung?) Daripada duit dihambur-hamburkan untuk memberi makan orang sekampung yang nggak kekurangan duit, lebih baik duitnya digunakan untuk hal yang lebih berguna, kan?

Lagian kenapa sih, kita mesti takut diomongin orang hanya karena kita berbeda?

Wednesday, March 05, 2008

Mari Kita Bicara

Kadang kupikir, aku ini termasuk orang yang agak susah kalau mau ngomong apa adanya. Itu terjadi terutama kalau ada masalah dengan teman. Aku takut si lawan bicara jadi tersinggung, trus ujung-ujungnya suasana makin kacau. Padahal, kalau nggak diomongkan, masalah nggak akan segera selesai. Malah jadi gerundelan. Sakit hati akut deh!

Mungkin karena itulah aku jadi suka dengan iklannya Teh Sari Wangi. Ajakan minum teh dijadikan sarana untuk bicara dari hati ke hati. Memang, untuk sampai ke pokok masalah, kita mesti pinter-pinter bicara. Trus, harus hati-hati juga dalam memilih kata-kata.

Seingatku, dulu waktu pelajaran Bahasa Indonesia di SMP (atau SD, ya?), ada pelajaran bagaimana menyampaikan uneg-uneg. Kupikir, selain berkaitan dengan budaya, ini juga berkaitan dengan bagaimana kita bisa mengendalikan emosi. Nah, masalahnya, zaman sekolah dulu hal-hal yang seperti ini jarang dipelajari. Yang dianggap jenius adalah anak yang jago matematika atau fisika. Jadinya, pelajaran bahasa, budi pekerti, etika dianggap sesuatu yang bakal dimengerti dengan sendiri. Padahal kan nyatanya tidak begitu.

Dari iklan Teh Sari Wangi itu, aku belajar bahwa untuk bisa bicara dari hati ke hati diperlukan keberanian. Kadang kita cuma bisa nggerundel atau malah "ngempet". Selain itu, kita perlu juga mencari waktu yang pas, memilih kata-kata yang tidak menyutkan lawan bicara. Dengan begitu, win-win solution semoga bisa tercapai. Jadi, mari kita bicara ;)

Monday, February 25, 2008

Bike to Work Ala Pak Tumiji dan Mas Kopingho

Empat belas Februari ternyata enggak cuma hari Valentine. Hari itu adalah peringatan ultahnya Pak Tumiji--seorang OB di kantor kami. Seperti biasa, kalau di kantor kami ada yang berulang tahun, maka kami akan beramai-ramai mengerubutinya, bernyanyi-nyanyi "Selamat Ulangtahun" sampai suara kami serak, dan berdoa bareng. Bagiku sendiri, hal itu adalah kado tersendiri: tanda bahwa kita diperhatikan. (Katanya sih, dikasihi dan diperhatikan itu adalah salah satu hal yang dibutuhkan agar kita tetap waras, hehehe.)

Lalu, sebelum kami mendoakan Pak Tumiji, dia ditanya, "Pengennya apa, Pak?"

Jawaban yang sederhana pun meluncur dari mulutnya, "Saya pengen sepeda motor. Sepertinya menyenangkan kalau bisa ke kantor ini naik motor." Hmmm .... Bagi seorang Pak Tumiji, membeli sepeda motor pasti tidak gampang. Mungkin dia perlu puasa beberapa bulan hanya makan nasi dan kecap supaya cukup membayar uang muka dan cicilan motor.

Aku sebenarnya terharu mendengar permintaan Pak Tumiji ini. Lalu aku ingat dengan Mas Kopingho, seorang petugas bersih-bersih di asramaku dulu. Dia juga selalu naik sepeda "federal"-nya yang butut menyusuri jalan Kaliurang untuk menuju asrama. Dibandingkan Pak Tumiji yang perlu 2 jam bersepeda untuk sampai kantorku, Mas Kopingho mungkin hanya butuh waktu 45 menit untuk sampai Syantikara. Tapi kalau dibandingkan aku? Aku sebenarnya cukup enak karena nggak perlu ngos-ngosan bertarung dengan bus kota atau motor lain untuk sampai di kantor. Aku cukup mengatur gas motorku, dan tanpa berkeringat serta kepanasan, aku sampai di kantor dalam waktu 20 menit.

Kalau dipikir-pikir Pak Tumiji dan Mas Kopingho sebenarnya adalah anggota komunitas Bike To Work. Hanya saja, mereka tidak naik sepeda bermerek yang enteng genjotannya, apalagi pakai helm plus kacamata penahan sinar matahari. Jauh sebelum komunitas mengumumkan keberadaannya, mereka sudah bersepeda untuk ke tempat kerja--karena hanya itu transportasi yang mereka punya. Bukan, alasannya bukan untuk sekalian berolahraga sebelum ngantor. Alasannya pasti juga bukan untuk membantu mengurangi polusi yang akhir-akhir ini sudah sangat mengganggu. Aku yakin, alasannya karena naik sepeda itu murah. Dengan naik sepeda mereka tidak perlu keluar duit untuk bensin--sehingga tidak perlu mengurangi jatah lauk dan nasi sekeluarga.

Thursday, February 21, 2008

Nothing to Lose *)

Harus kuakui aku suka nge-game. (Apa ya istilah bahasa Indonesianya yang pas?) Dan sekarang aku masih lumayan kecanduan dengan si Chicken Invaders. Kurang kerjaan banget kan, kalo perempuan seumurku masih suka ngejar-ngejar ayam di antara (mantan) planet Pluto sampai matahari?

Nah, meskipun sudah memainkannya selama berbulan-bulan, tapi baru beberapa waktu terakhir ini aku bisa ... menaaaaang! Hore! Aku bisa memecahkan telor raksasa yang mengejarku sambil menembakkan peluru ajaibnya.

Mau tahu rahasianya? Senjata yang ampuh? Mouse yang enak?

Hal-hal itu memang mendukung kemenanganku. Tapi sebenarnya bukan itu kunci utamanya. Kuncinya adalah sikap nothing to lose. Aku betul-betul melepaskan keinginan untuk menang. "Ah, ini kan cuma mainan. Menang atau kalah nggak pengaruh apa-apa sama gajiku." Hehehe. Dan aku jadi lebih tenang menggeser-geser mouse-ku supaya dapat menghindari tembakan si telur raksasa tadi.

Kupikir-pikir, banyak hal dalam hidup ini perlu disikapi dengan nothing to lose. Dilepasin aja, gitu gampangnya. Lepaskan perasaan selalu ingin menang. Lepaskan juga keinginan untuk selalu dipuji. Lepaskan keinginan-keinginan yang justru menghambat kita. Rileks. Tenang. Biasanya sih, dari pengalamanku, kalau aku bersikap seperti itu, aku malah mendapatkan yang kuinginkan lo!

Sebenarnya ini sesuatu yang paradoks. Maksudku gini, kita memang perlu yakin bahwa kita mampu meraih cita-cita atau mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi di sisi lain, kita juga perlu berpasrah diri. Serahkan semua keinginan kita kepada Dia yang selalu memelihara kita sampai sekarang. Aku yakin, setiap hari kita ini dicukupkan rejekinya.

(Jadi gitu, Em .... Santai sajalah. Kalau emang pekerjaan itu buat kamu, nanti juga akan datang sendiri. Toh, kamu sudah berusaha kan? Semua rejeki itu datangnya dari Gusti. Orang-orang di sekelilingmu itu cuma jadi penghantar.)

*) sebuah catatan utk temanku, sureman ....

Tuesday, February 19, 2008

Sungkan

Tau kan apa arti judul di atas? Itu rasa yang muncul ketika kita merasa tidak nyaman saat harus berhadapan dengan orang yang kedudukannya lebih tinggi, lebih berpengaruh, atau saat berhadapan dengan orang yang baru kita kenal.

Sebagai orang Jawa, aku sepertinya menyandang rasa sungkan sejak lahir. Kadang aku ini merasa tidak enak saat harus menegur orang yang tampaknya "lebih tinggi" dibandingkan aku. Juga, aku merasa sungkan ketika aku harus ngomong apa adanya terhadap orang lain. Takut nanti dijotak, dirasani, dijauhi, atau hubungan kami menjadi tidak harmonis lagi. (Belum lagi takut kalo jangan-jangan gaji ikut terpotong ;))

Padahal kalau dipikir-pikir, menegur orang yang salah, atau ngomong apa adanya itu penting. Kalau kita menyimpan sesuatu yang "ngganjel", biasanya lama kelamaan hubungan itu akan jadi hubungan yang basa-basi. Lalu, tumbuh deh, apa yang disebut prasangka, sakit hati, dll. Nggak enak kan?

Kalau kita mau jujur, kita perlu belajar berkomunikasi dengan baik deh. Tapi, gimana caranya ya?

Monday, February 18, 2008

Mengobrol*)

Semalam aku, Tesa, dan Ema (hayo, yg cowok yg mana?) makan-makan. Ceritanya kami mau mengobrol untuk kesekian kalinya. Semoga ini bukan yang terakhir. Walaupun beberapa saat lagi, jelas kami akan sulit berkumpul dan "nggambleh"--ngobrol ngalor-ngidul, tapi aku yakin kami bakal punya waktu lagi untuk ngrumpi.

Kalau kurasa-rasakan, memang mengobrol dengan teman-teman dekat itu adalah aktivitas yang menyenangkan. Rasanya sepulang dari mengobrol kemarin itu, aku jadi bersemangat. Aku tidak merasa sendirian di belantara alam semesta ini.

Sungguh, aku berharap ... nanti aku akan bertemu dengan teman-teman baru yang menyenangkan, tapi juga nggak lupa dengan teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam "pembentukanku" selama ini. Tulisan ini memang pendek, tapi ini adalah salah satu bentuk ucapan terima kasihku buat teman-teman yang sudah dan akan meninggalkan meja kerja.

*) sebuah ucapan terima kasih buat teman-teman.
Sebuah Pelajaran

Belum lama ini aku mendapat kabar kalo seorang temanku mengidap kista di organ reproduksinya. Hhh! Kabar itu mengingatkanku akan pengalamanku beberapa waktu lalu, ketika aku akhirnya memutuskan untuk operasi (setelah didorong2 oleh beberapa orang di sekelilingku). Ada kista dalam perutku. dengan berbagai pertimbangan, aku akhirnya manut untuk dibedah.

Hiks!

Kalau ingat itu, aku jadi paranoid dengan dokter SpOG. Rasanya aku jadi pesakitan yang serba salah di depan bapak-bapak dokter itu. Tidak ada jalan keluar yang benar-benar memuaskan.

Trus, beberapa waktu lalu, aku telpon-telponan dg temanku. Ternyata dia dulu kena kista juga. Bedanya, dia ke sinshe dan sembuh. Mahal sih obatnya. Dan biayanya tidak bisa diganti oleh kantor tempat dia bekerja. Ini pula yang dulu jadi pertimbanganku.

Kadang kalau melihat bekas operasi di perutku ini, aku jadi menyesal. Masih ada rasa tidak terima, takut, sebel saat mengingatnya. Gimana gitu rasanya :( Coba dulu aku lebih rajin mencari pengobatan alternatif. Seandainya aku tidak begitu saja mau didorong2 oleh orang di sekelilingku... Ah!

Tapi sudahlah. Bagaimanapun ada pelajaran-pelajaran penting yg aku dapatkan ketika kista itu masih ada di perutku dan aku memutusan untuk operasi. Pelajaran untuk lebih bersyukur, lebih terbuka akan kehendak Tuhan, untuk empati pada orang-orang sakit.

Friday, February 15, 2008

Perpisahan Kecil

Sore ini acaraku adalah makan-makan dg teman-teman seruangan. Horeeee! Acara makan-makan ini diawali dengan berfoto bersama. Wah, kalau udah begini, heboh banget. Ketawa teruuuuussss! Rasanya kalau begini, hidup ini enteng banget. Seneng. Gembira. Suasana kantor menyenangkan banget.

Tapi tau kenapa aku dan temen2 kaya begini? Karena Ema dan Lena sudah mau pindah. Besok Lena sudah berangkat ke Jakarta. Ema hari Selasa depan sudah nggak akan duduk di bangku pojok lagi. Di detik-detik terakhir ini, rasanya kita kok jadi menikmati kebersamaan banget ya. Tapi kalau inget mereka berdua bakal hengkang dari ruangan akuarium tercinta ini, rasanya jadi sedih. Hiks :(( Satu per satu dari kami akan mengundurkan diri. Kami hendak melanjutkan hidup masing-masing; memenuhi panggilan hidup. Bulan ini baru dua orang, dan beberapa bulan lagi masih ada lagi dari kami yang pergi. Termasuk aku.

Yah, akhirnya kami harus berpisah.

Tapi yang membuatku merasa agak "lega" adalah, Lena dan Ema akan kerja ke Jakarta. Di sana juga aku akan memenuhi panggilan hidup beberapa bulan ke depan. Aku sih berharap besok di Jakarta kami masih akan sering ketemu. Masih sering ngobrol ....

Oke deh ... terus berjuang kawan!

Thursday, February 14, 2008

Dicari: Tukang Parkir Idaman

Kemarin sore aku kelupaan ambil duit di bank langgananku (hehe, kaya tukang bakso langganan aja sebutannya). Akhirnya, aku mampir di ATM di daerah Gejayan. Aku sejak awal sangat sadar bahwa kalau aku mengambil duit di ATM situ, berarti aku harus membayar ongkos parkir. Lima ratus rupiah. Jumlah yang nggak banyak memang. Tapi aku lupa2 ingat, di dompetku masih ada nggak ya receh gopekan?

Dan benar, sekeluarnya aku dari ruang ATM, pak parkir sudah menungguiku mengulurkan duit lima ratus. Karena nggak ada uang pas, akhirnya aku mengulurkan uang seribuan. Oh, rupanya si bapak sudah siap dengan kembalian lima ratusannya. Setelah itu, dia pun ngeloyor pergi.

Dalam hati aku bingung, apa bedanya dia sama pengamen yang bersuara fals di perempatan jalan ya? Apa coba? Malah rasanya dia "menodongku". Harus ngasih duit. Nggak bisa nggak. Padahal kalau dipikir2, dia nggak memberiku jasa apa2. Wong aku mengeluarkan motor sendiri, kok. Dia sama sekali nggak membantuku. Seingatku dia cuma menyentuh jok motorku untuk meletakkan kupon parkir. (Halah, kalau cuma gitu sih, anak kecil aja bisa Pak!)

Trus apa gunanya ada petugas parkir ya?

Kayaknya perlu deh dipasang pengumuman lowongan pekerjaan:

DICARI: PETUGAS PARKIR IDAMAN.

JOB DESKRIPSI:
-MENGATUR MOTOR YANG DIPARKIR DENGAN BENAR DAN IKHLAS
-MEMBANTU PENGENDARA MOTOR UNTUK MENGELUARKAN SEPEDA MOTORNYA DARI TEMPAT PARKIR

SYARAT:
-RAMAH
-TIDAK MATA DUITAN
-MAU BEKERJA KERAS

Gimana? Setuju nggak?

Wednesday, February 13, 2008

Ya Ampun!

Ya ampun, sekarang ternyata sudah Februari. Sudah Februari pertengahan lagi. Itu berarti ada beberapa teman yang sudah ancang2 untuk meninggalkan meja kerjanya di ruangan kerjaku.

Dan aku?

Sebenarnya aku pun mulai menghitung hari ... untuk menjadi freelancer. (Udah mantep belum ya?) Menjadi freelancer sebenarnya hal yang kuimpikan beberapa waktu terakhir ini. Hmmm ... kadang aku merasa sayang juga meninggalkan meja kerjaku sebagai editor yang kusambangi hampir setiap hari selama 6 tahun belakangan ini. E-n-a-m t-a-h-u-n! Kok nggak terasa ya?

Halo ... halo! Bulan depan aku akan jadi freelancer lo! Kalau ada yg butuh sentuhan tangan dan pikiranku, let me know ya! (Hehehe, promosi nih ceritanya)

Thursday, January 31, 2008

Pengennya Apa?

Iya, pengennya apa sih? Bingung kan, ujug2 tanya "Pengen apa?". Tapi sebenarnya apa sih yang sedang diomongkan?

Begini, kemarin sore aku sudah mancal sepeda motorku dan siap pulang. Tapi aku harus bersabar sebentar karena ada mobil yang akan lewat. Rupanya penumpang mobil itu baru saja mampir dari kantor sebelah, alias Mirota Bakery. Cari luar jendela mereka terlihat sebuah kardus kecil wadah kue. Lalu, si penumpang satu mencomot sebuah kue dan memasukkannya ke mulut. Nyam! Enak pasti. Roti yang dijual di Mirota memang enak, tetapi cukup mahal untuk ukuran kantongku. Untuk satu roti yg ukuran sedang, harganya hampir setara dengan jatah makan siangku. Padahal kalo makan kue saja, mana kenyang? Aku berpikir, wah enaknya makan kue sore-sore begini. Apalagi ndak usah pake mancal motor menembus angin sore yg dingin. Pasti seneng ya?

Kadang aku suka mengamati orang-orang yang ada di dalam mobil. Atau orang-orang yang bersliweran di jalan raya. Ada yang tertawa dengan kawan sebelahnya. Ada yg merengut. Ada yang tanpa ekspresi. Tapi kalau melihat orang yang tertawa, aku jadi ikut merasa senang. Lha, tapi kalau aku sendirian naik motor, aku kan ndak bisa tertawa. Maksudku, kalo aku tertawa sendiri, bisa-bisa dikira orang ndak waras nanti.

Nah, kupikir-pikir, kita ini sebenarnya kan cuma pengen seneng. Hidup senang. Bahagia. Kalau bisa, semuanya lancar. Pekerjaan lancar. Cari jodoh juga lancar. Kita pengen bisa tertawa lepas. Kita pengen bisa tersenyum tanpa ada yang disembunyikan di belakang. Lalu ketika melihat orang yang tertawa lepas dengan memakai baju bagus, mobil keluaran terbaru, kita berpikir, "Wah kayaknya enak ya kalau punya barang2 bagus. Aku pasti bahagia."

Tapi apa bener begitu?

Tadi pagi, aku baca artikel yang mengatakan bahwa pendorong yang paling sehat dalam hidup ini adalah Tuhan. Maksudnya, jadikanlah Tuhan itu sebagai gembala kita. Kita cukup mengarahkan hidup demi dan semata-mata hanya untuk Dia.

Wah, kok kayaknya hidup ini jadi paradoks ya? Lalu, sebenarnya aku ini pengen apa sih? Apa sih yang jadi pendorong terbesarku? Apa coba?

(Padahal aku baru saja merasa agak-agak jealous dengan temanku yang kariernya cemerlang kaya bintang di atas langit sono .... Hehehe. Kenapa rasanya itu terasa penting, ya? Tapi apakah itu memang penting? Apakah nanti aku bisa membanggakan diri di hadapan Tuhan bahwa aku sudah bekerja di ...., gajiku sudah segini lo, Tuhan. Apa ada gunanya ya?)

Monday, January 28, 2008

Membela Tuhan?

Beberapa waktu yang lalu, aku membuka sebuah blog. Isinya sempat membuatku bergidik. Gimana nggak merinding, kalau yang ditulis di situ isinya memojokkan iman. Di situ tertulis beberapa hal yang mendiskreditkan kepercayaanku.

Aku sempat berpikir, "Wah kok kayaknya semakin banyak saja ya, orang yang fundamentalis. Fanatik. Dan saking fanatiknya, mereka akhirnya menjelek-jelekkan kepercayaan orang lain. Lagi pula, di negara ini, sepertinya jarang banget keadilan ditegakkan. Salah-salah kita yang ndak tau apa-apa ini malah kena hukuman."

Aku masih memelototi blog itu. Lalu, aku tergelitik dengan sebuah tampilan komentar yang sepertinya ditulis oleh orang beragama X (kalau dilihat dari namanya). Dan sepertinya dia orang beragama X beneran menilik dari isi komentarnya. Tapi yang justru membuatku geli campur sebel adalah, dia menulis komentar yang isinya balas menjelek-jelekkan.

Lha terus, apa bedanya antara si pemberi komentar dengan si penulis artikel?

Di situ aku tidak menemukan kasih. Merasakannya barang secuil pun tidak. Padahal, jika dilihat sekilas, keduanya menganut agama tertentu. Lha, kok ternyata yang ada malah perang mulut eh, perang tulisan ding! Debat kusir. Duh, capek deh!

Jika ditelusuri lebih jauh, apakah mereka enggak pernah belajari untuk berbuat kasih ya? Untuk saling mengasihi musuh. Untuk menghormati orang yang memiliki pendapat atau keyakinan berbeda. Apakah mereka mau membela Tuhan? Kalau itu maksudnya, kayaknya percuma deh. Soalnya Tuhan itu ibarat samudra raya, dan kita cuma titik-titik air. Kalau mau membela Dia, apakah bisa? Tuhan kurasa tidak perlu dibela. Dia sudah jauh lebih berkuasa daripada kita. Kalau Dia mau, Dia bisa langsung menghukum orang yang justru berbuat merendahkan sesamanya. PR besar kita adalah hidup selaras dengan kehendak-Nya. Hidup saling mengasihi. Toh, kita ini kan sodara satu sama lain.

Bagiku, ini adalah kegelisahan yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku percaya bahwa di Indonesia tercinta ini orangnya baik-baik. Aku percaya, bahwa hampir semua dari kita percaya akan adanya Tuhan. Tapi kok bisa dibilang tidak terjadi perubahan yang positif di masyarakat ya? Orang masih saja cuek dengan lingkungan dan sesama, boros, tidak empati, dan sebagainya. Intinya sih, orang tidak lagi tumbuh dalam takut akan Tuhan. Tuhan cuma ada pada hari-hari besar keagamaan atau saat kita berdoa, melakukan ritual keagamaan. Selanjutnya? Taruh saja Tuhan di sudut meja tempat kita meletakkan Kitab Suci atau buku doa kita.

Yah, kata orang kalau menginginkan perubahan, kita sendiri dulu yang mesti berubah. Jadi, hari ini, aku mungkin perlu "kaca besar" untuk bercermin, apa saja yang perlu dibenahi dari diriku, sehingga aku nggak cuma bisa nulis dan mengeluh terus, hehehe.

Btw, yuk kita introspeksi bareng-bareng :D

Wednesday, January 23, 2008

Fotonya "Jupe"

Beberapa waktu lalu aku mendapat sebuah suvenir pernikahan. Bentuknya kalender meja. Seperti biasa, di suvenir itu terpasang foto kedua mempelai. Yah, seperti layaknya para temanten lain yang sengaja foto prewedding, di foto itu mereka berdandan ala pangeran dan putri. Mungkin mau meniru dongeng-dongeng ala Cinderella, gitu lah.

Nah, karena aku sudah punya kalender meja, akhirnya kalender itu kuberikan ke temanku. So far, kalender itu jadi salah satu "penghias" meja kerja.

Tapi, ketika beberapa teman mampir, keluarlah komentar macam-macam. Kebanyakan sih menyayangkan baju mempelai wanita. Hehehe, memang rada kurang bahan sih bagian atasnya. Jadi belahan dadanya cukup terlihat. Dan dasar temen-temenku rada kreatif saat melontarkan "pujian", lalu keluarlah ucapan yang sebenarnya bentuknya tidak lagi berupa pujian, tapi ... justru menyayangkan dan mempertanyakan kenapa dia mau berfoto dengan baju seperti itu.

Wah, ini jadi pelajaran penting nih buatku dan cewek-cewek lain, dan juga para pasangan yang mau mejeng untuk prewedding. Ati-ati kalau pakai baju. Bagaimanapun kita masih orang timur, jadi sebagian orang masih belum bisa menerima saat melihat orang yang memakai baju yang bahannya "kurang". Lagi pula, kalo itu buat suvenir ... kan yang nerima nggak cuma orang muda saja. Tapi juga orang-orang yang sudah tua. Kesannya jadi kurang sopan.

Jadi? Intinya hati-hati kalau mau mejeng di dalam foto hehehe. Tentunya nggak ada yang mau jadi bahan ejekan, bukan? :D


Saturday, December 22, 2007

Spanduk Ucapan

Hampir setiap hari aku melewati perempatan Kentungan--sekitar Jalan Kaliurang km 6. Dan kalau lampu merah sedang menyala, bisa dipastikan kepalaku langsung menengok kiri-kanan. Jadi, aku cukup bisa mengenali spanduk mana yang baru terpasang, dan mana yang sudah lama nangkring di sana.

Nah, beberapa waktu lalu, aku melihat ada spanduk bertuliskan SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU. Sponsornya KOMPAS. Jujur, saja ... walaupun aku merayakan Natal, rasa-rasanya kok aku tidak tersentuh sedikit pun dengan spanduk ucapan dari KOMPAS itu ya? Tidak ada getaran yang kurasakan babar blas!

Ini aneh nggak sih?

Tapi setelah aku tanya beberapa teman, rupanya mereka juga tidak merasakan apa-apa saat membaca spanduk-spanduk ucapan seperti itu. Kami semua mengamini itu adalah iklan. Ya, betul itu semata-mata cuma iklan. Tidak ada nilai lebih dari itu. Tidak ada muatan informasi di situ. (Lha wong kita semua sudah tahu kan kalau sebentar lagi Natal akan tiba dan pergantian tahun tinggal dalam hitungan hari.) Layout-nya juga biasa. Font yang dipakai di spanduk itu pun tidak istimewa. Ndak ada yang khusus, unik, alias biasa saja.

Lalu? Ya itu adalah iklan. Tidak kurang dan tidak lebih.

Nah, selain spanduk ucapan selamat Natal itu, aku juga sempat melihat spanduk ucapan Selamat Idul Adha. Komentarku sih sama. Itu lagi-lagi iklan yang dibuat oleh Karita--toko busana muslim yang ada di sekitar Terban. Uucapan itu ditulis dalam sebuah banner yang terbuat dari plastik. Ini memang sedang marak. Maksudku, sekarang orang lebih suka menggunakan banner yg terbuat dari plastik (selain lebih awet, jatuhnya lebih murah). Yang membuatku agak "ngganjel" waktu melihatnya sih terutama karena banner itu terbuat dari plastik.

Kita kan sedang berusaha menangani pemanasan global. Lha kalau banner itu terbuat dari plastik, itu kan sama saja kita menambah sampah yang sulit untuk didaur ulang oleh bumi. Dengan kata lain, ini sebenarnya--disadari atau tidak--menambah masalah.

Sebenarnya, ucapan-ucapan itu semua untuk siapa sih? Kalau kami yang membacanya tidak merasakan dampaknya, tidak juga merasa bergetar saat membacanya, lalu buat apa?

Tapi waktu aku cerita hal ini ke seorang temanku, si Aat Poank, presenter acara SANTAP di RBTV, dia bilang begini, "Untuk semua perasaan tidak enak yang kamu rasakan itu, kayaknya kamu yang salah deh." Hehehe ... mungkin aku yang salah. Tapi kalau dari kacamataku, aku bilang spanduk-spanduk itu USELESS. (Sorry ya At, walaupun kita sama-sama Gemini, kali ini kita berbeda pendapat :D Nggak apa-apa kan?)

Tuesday, December 18, 2007

Kepercayaan

Sebenarnya masalah kepercayaan itu simpel. Ini seperti ketika kita memutar keran dan yakin seyakin-yakinnya bahwa air bakal mengucur. Atau semudah kita meletakkan pantat ke sebuah kursi dan percaya bahwa kursi itu cukup kuat menahan berat tubuh kita.

Tapi rupanya kepercayaan itu gampang-gampang susah. Nggak semudah membuka kulkas dan lampu kuning di dalamnya langsung menyala. Seringnya aku malah berpikir terlalu lama untuk memercayai sesuatu. Percaya ke orang salah satunya.

Dan yang jadi soal adalah, ketidakpercayaanku ini berlaku pada orang yang memiliki kuasa terhadap aku. Tepatnya yang bekerja sama denganku--kalau mau pakai istilah yang lebih "terhormat". Rasanya belakangan ini kepercayaanku semakin tipis--setipis tisu yang kena air langsung hancur.

Duh!

My dear friend(s), I really do not understand what's in your head!

Monday, December 17, 2007

Wajib Belajar?

Entah kenapa baru-baru ini aku jadi "ngganjel" kalo merenungkan slogan WAJIB BELAJAR. Aku lupa siapa yg mencanangkan slogan ini. Entah pemerintah. Entah departemen pendidikan. Atau cuma Pak Lurah. Suer, lupa.

Kenapa aku ngganjel?

Begini, aku bertanya-tanya, "Apakah belajar itu wajib?" Memang, setiap orang itu butuh belajar. Tapi apakah itu wajib? Aku terus-terang agak alergi sama istilah "wajib". Kesannya maksa. Tapi betul aku akui bahwa setiap orang butuh terus belajar. Itu sebenarnya sudah menjadi "panggilan" hidup masing-masing orang.

Tapi masalahnya, proses belajar itu tidak selamanya gampang. Mudah. Mulus. Kadang-kadang (atau malah sering, ya?) tidak enak. Belajar berarti mendobrak kenyamanan kita. Salah satu konsekuensi dari belajar adalah menerapkan apa yg kita pelajari, mengubah diri menjadi pribadi yg lebih baik. Ini kan nggak mudah. Orang kudu menghancurkan kebiasaan2 buruk yang bisa menghambat diri sendiri dan orang lain. Nah, yg begini ini yg nggak bisa diwajibkan. Soalnya, nggak semua orang mau. Nggak semua orang mau melewati proses yg "menyakitkan".

Kalau kemudian belajar menjadi "wajib" ... akhirnya orang hanya terpaku pada hasil--pada "Berapa IP-mu?", "Kamu juara apa enggak?". Itu semua tidak membuat orang menjadi pribadi yg lebih baik. Tidak membuat orang menjadi lebih bijaksana.

Setiap orang memang perlu belajar. Itu kebutuhan. Tapi tidak bisa dipaksakan. Ibarat kalau orang perlu makan, tetapi kalau kita dipaksa makan, itu kan tidak enak, to?

Itu semua pendapatku lo... Orang lain boleh punya pendapat yg lain.