<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611</id><updated>2012-02-01T11:36:51.287-08:00</updated><category term='nostalgia'/><category term='terjemahan'/><category term='duit'/><category term='java jazz 2009'/><category term='Cibinong'/><category term='mbah putri'/><category term='teroris'/><category term='pindahan'/><category term='KRL'/><category term='sekolah dasar'/><category term='beda agama'/><category term='layanan umum'/><category term='nonton'/><category term='rumah sakit'/><category term='ngobrol'/><category term='pajak'/><category term='rokok'/><category term='public enemies'/><category term='pulang'/><category term='bencana'/><category term='lalulintas'/><category term='SBY'/><category term='simbah'/><category term='outsource'/><category term='Madiun'/><category term='pasar'/><category term='om'/><category term='kuliah'/><category term='melvin purvis'/><category term='asrama syantikara'/><category term='toko buku'/><category term='idealisme'/><category term='transportasi'/><category term='bersyukur'/><category term='membaca'/><category term='Jakarta'/><category term='pekerjaan'/><category term='kesenjangan sosial'/><category term='macet'/><category term='mbah kung'/><category term='makan'/><category term='keluarga'/><category term='pemimpin'/><category term='saudara'/><category term='universitas'/><category term='bahasa Inggris'/><category term='diare'/><category term='editor'/><category term='selingkuh'/><category term='kopdar'/><category term='jogja'/><category term='belajar'/><category term='CIN(T)A'/><category term='obrolan'/><category term='akreditasi'/><category term='gempa jakarta'/><category term='pertikaian'/><category term='sakit'/><category term='angkot'/><category term='perkawinan'/><category term='ransel'/><category term='jajan'/><category term='love'/><category term='pilihan hidup'/><category term='pijat tunanetra'/><category term='ketua kelas'/><category term='jazz'/><category term='bahasa jawa'/><category term='mimpi'/><category term='pendidikan'/><category term='banjir'/><category term='selamatkan lingkungan'/><category term='curhat'/><category term='bestseller'/><category term='penerbitan'/><category term='gempa Jogja'/><category term='teman'/><category term='Taman Safari'/><category term='pengeboman'/><category term='resepsi'/><category term='pakel'/><category term='orang kecil'/><category term='sampah'/><category term='rumah tangga'/><category term='menulis'/><category term='waktu'/><category term='kendaraan umum'/><category term='keterampilan'/><category term='agama'/><category term='sahabat'/><category term='pelatihan tanggap bencana'/><category term='kualitas hidup'/><category term='bahasa Indonesia'/><category term='komitmen'/><category term='televisi'/><category term='petani'/><category term='bumbu desa'/><category term='kesehatan'/><category term='komputer'/><category term='belanja'/><category term='gloria'/><category term='kantong plastik'/><category term='kenangan'/><category term='lebaran'/><category term='buku'/><category term='blogger'/><category term='pilpres'/><category term='bos'/><category term='masa kecil'/><category term='film'/><category term='gramedia'/><category term='naskah'/><category term='tulis-menulis'/><category term='pernikahan'/><category term='dokter'/><category term='memasak'/><title type='text'>My Writings</title><subtitle type='html'>silakan menikmati "camilan" berupa tulisan saya. selamat menikmati. beri komentar bila perlu. :)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>163</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7254330042288511777</id><published>2009-10-22T04:07:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T04:10:10.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pindahan'/><title type='text'></title><content type='html'>Saya memutuskan untuk pindah ke rumah baru: &lt;br /&gt;&lt;b&gt;http://blognyakrismariana.wordpress.com&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Silakan dikunjungi :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7254330042288511777?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7254330042288511777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7254330042288511777' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7254330042288511777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7254330042288511777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/10/saya-memutuskan-untuk-pindah-ke-rumah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-282104980374615094</id><published>2009-09-29T03:17:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T03:29:42.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madiun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sahabat?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu HP-ku berbunyi. Nomor tak dikenal. Siapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo...," terdengar suara seorang laki-laki dari seberang sana. Aku merasa kenal dengan suara itu, apalagi kemudian dia menyebutkan nama kecilku. Ya ... ya ... itu pasti teman lama. Tapi siapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ternyata dia T, teman SMP-ku dulu. Tak lama kami pun bernostalgia sejenak. Berkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;, aku akhirnya terhubung dengan teman-teman lama. Menyenangkan. Dua pertanyaan yang sering saling diajukan saat aku bernostalgia dengan teman-teman lama adalah: (1) Masih sering pulang ke Madiun? (2) Sekarang paling sering kontak dengan siapa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertanyaan pertama, jawabanku biasanya: Masih. Walaupun sudah di Jakarta, aku tetap suka pulang. Hehe. Untuk pertanyaan kedua, aku biasanya menyebutkan dua orang teman SMP-ku yang sampai sekarang masih berkontak: J dan P. Setelah aku menyebutkan dua nama itu, T lalu bertanya, kamu nggak pernah ketemu lagi sama M?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ow, tidak," jawabku.&lt;br /&gt;"Kan dia dulu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soulmate&lt;/span&gt;-mu," katanya. Hahaha. Aku tertawa mendengar istilah yang dia pakai. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Soulmate&lt;/span&gt;? Kami memang sering sebangku dulu. Tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soulmate&lt;/span&gt;? Ah, rasanya enggak segitunya deh. Pertanyaan T soal M itu mau tak mau membuatku terlempar ke masa lalu. Perlahan-lahan kenanganku dengan M kembali muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal M ketika pertama kali masuk SMP. Sebenarnya orang tuaku kadang menceritakan soal M. Maklum, M adalah putri teman orangtuaku. Dan ketika kami masuk SMP yang sama, entah bagaimana kami langsung dekat. Kadang aku main ke rumahnya. Tapi dia jarang sekali main ke rumahku. Seingatku dia malah baru sekali ke rumahku. Memang rumah kami agak jauh. Dan waktu itu sepertinya dia ke mana-mana naik becak atau diantar orangtuanya, sedangkan aku lebih suka keluyuran naik sepeda. Jadi, biar jauh, aku datangi juga rumahnya. Kalau kupikir-pikir orang tuanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;overprotected &lt;/span&gt;terhadap anak perempuannya itu. Entah kenapa. Bisa jadi karena lokasi rumahnya yang cukup jauh itu. Dan jalan ke rumahnya cukup ramai. Seingatku, waktu itu jalan menuju rumahnya dilewati bus antar kota. Tapi aku yang memang hobi bersepeda, menganggap jalanan yang ramai itu tak masalah. Lagi pula Madiun kan kota kecil, jalanan yang ramai itu tidak ramai-ramai banget (jika dibandingkan dengan jalan raya di kota besar seperti Jogja atau bahkan Jakarta). Aku yakin bisa berhati-hati kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menganggap kami bersahabat. Tapi kalau ditanyakan kepadaku, aku tak tahu apa jawabnya. Mungkin iya, mungkin tidak. Di satu sisi, aku sebenarnya suka berbagi cerita dengannya. Tapi  kok sepertinya dia enggan banyak cerita denganku ya? Satu hal yang aku ingat betul dan hal itu seperti "menamparku" adalah ketika entah bagaimana aku tahu ada seorang anak laki-laki yang suka padanya. Waktu itu, dia tak menceritakan hal itu kepadaku. Dia lebih suka menceritakan hal itu kepada teman kami yang duduknya di belakangku. Aku mendengar gosip tentang hal itu dari teman lain. Waktu kutanya, dia diam saja. Aku merasa sedih karena dia sama sekali tidak bercerita kepadaku soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, aku sedih. Karena aku biasa menceritakan apa saja kepadanya, tetapi dia tidak melakukan hal yang sebaliknya kepadaku. Saat itu aku memang masih berpikir bahwa yang namanya bersahabat adalah jika kami sama-sama berbagi apa pun itu. Ya, kenyataan itu seperti "menamparku" karena aku merasa hubungan kami tidak seimbang. Sepertinya aku lebih banyak menceritakan rahasiaku kepadanya, tetapi dia tidak mencuilkan rahasianya sedikit pun kepadaku. Rasanya kok gimanaaa gitu. Dan sejak itu aku jadi agak jauh dengan M. Kami hampir tak pernah bertemu lagi sejak lulus SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau dipikir-pikir, M memang berhak memilih teman lain (selain aku). Sah-sah saja dia menceritakan rahasianya kepada teman lain. Lagi pula, apa hakku mengharuskannya menceritakan kepadaku semua hal tentang dirinya? Tidak kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara teman-teman lain masih mengira kami bersahabat, aku mulai mendefinisikan ulang arti persahabatan dan apa artinya persahabatanku dengan M. Sejak saat itu aku tidak dengan mudahnya menganggap orang yang saat ini dekat denganku sebagai sahabat. Bagiku, sahabat itu tak bisa kupilih. Seorang sahabat itu terdefinisi dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Waktulah yang akan menjawab siapa sebenarnya sahabatku. Waktu akan menguji siapa teman yang tulus, siapa yang bersedia dijadikan tempat berbagi cerita, siapa yang tetap mau meluangkan waktu dan tenaga untuk memupuk relasi, siapa yang masih mau menyapa walaupun jarak terbentang. Dan aku akan senang sekali saat menemukan orang yang bisa menjadi sahabat :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-282104980374615094?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/282104980374615094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=282104980374615094' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/282104980374615094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/282104980374615094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/sahabat-sore-itu-hp-ku-berbunyi.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1511474099431095189</id><published>2009-09-25T03:28:00.003-07:00</published><updated>2009-09-25T03:48:45.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asrama syantikara'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Menumbuhkan Kesadaran untuk Beres-beres Rumah? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat ceritaku waktu lebaran kemarin? Nah salah satu bahan perbincanganku bersama tante-tanteku adalah soal ribetnya bersih-bersih dan pembagian kerja di rumah. Maklum, selama libur lebaran ini, para tanteku itu harus merelakan para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pembentes&lt;/span&gt; mereka alias para asisten rumah tangga mereka untuk libur. Jadilah mereka yang biasanya jarang menengok dapur dan beres-beres rumah, mau tak mau akhirnya beberes rumah. Plus masak tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, ada empat orang perempuan berkumpul--termasuk aku. Saat mereka saling bercerita bagaimana capeknya beres-beres rumah, aku cuma diam saja. Lha emang mau bagaimana? Aku lupa sudah berapa lama aku tak punya asisten rumah tangga. Jadi urusan rumah itu ibarat makanan sehari-hari. Dan karena tahu betapa capeknya kalau menginginkan rumah yang rapi dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kinclong&lt;/span&gt;, aku tak pernah memaksa diri untuk beres-beres. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Hey, memang kerjaanku cuma beres-beres rumah doang? Enggak kan?*&lt;/span&gt; Lagi pula dengan bekerja di rumah begini, urusan pekerjaan dan beres-beres rumah semuanya bercampur menjadi satu. Sekarang prioritasnya apa dulu? Kalau mementingkan pekerjaan yang masih nangkring di komputer, ya nyapunya nanti saja. Setidaknya sudah cuci piring. Jadi, kalau mau makan tak perlu grubak-grubuk mencari piring bersih. Duh ketahuan malasnya ya? Hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kurasa pekerjaan rumah itu tak ada habisnya. Coba pikir, kita makan tiga kali sehari. Dan tiap kali makan, berarti itu ada piring, sendok, dan gelas yang kotor. Belum lagi kalau kita masak sendiri, pasti ketambahan penggorengan dan panci yang kotor. Lalu, jika kita ganti baju setiap hari, berarti cucian kotor itu akan selalu ada! Setelah kita mencuci baju, tentu baju-baju itu akan mengantre untuk disetrika. Belum lagi lantai berdebu yang menuntut untuk disapu dan dipel. Masih kurang? Tak perlu kujelaskan bahwa rak buku dan meja itu harus dirapikan bukan? Belum lagi kamar mandi juga perlu dibersihkan. Duh, kalau mengingat itu semua, aku tak akan bisa ngeblog ... eh menyelesaikan editan dan terjemahan dong! Padahal kalau sudah tenggelam dalam naskah, rasanya malas banget untuk beranjak dari depan komputer. Jadi, kalau suamiku libur, aku biasanya akan meminta dia membantu mencuci piring atau paling tidak menyapu. Bantuan untuk dua hal itu saja sudah sangat membantu loh! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Jadi, hai kalian para suami dan laki-laki, bantuan kalian untuk mengerjakan pekerjan rumah tangga itu sangat berharga bagi kami kaum perempuan ini!*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, kembali ke obrolan para tanteku tadi. Akhir-akhir ini yang jadi keprihatian mereka adalah bagaimana caranya supaya anak-anak mereka sadar akan pekerjaan rumah? Dengan kata lain, bagaimana caranya membuat mereka dengan sukarela mau membantu sang ibu? Aku kan belum lama keluar dari masa remaja seperti sepupu-sepupuku itu, jadi sepertinya pertanyaan itu pantas diajukan ke aku. Di masa remaja itu, anak-anak eh aku ding sering merasa malas untuk beres-beres rumah. Akibatnya, kalau di rumah lebih suka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;goler-goler &lt;/span&gt;dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; nguap-nguap &lt;/span&gt;seperti singa di Taman Safari yang tak punya kerjaan itu. Setelah seminggu sekolah, boleh dong kalau di hari Minggu kita bersantai sejenak? Tapi para ibu memang sepertinya lebih suka mengajak kita berolahraga untuk membuat rumah tampak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kinclong&lt;/span&gt;. Duh, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plis deh Mam! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, keluargaku juga punya semacam asisten rumah tangga. Aku sebut "semacam" karena tidak betul-betul asisten. Mereka masih saudara, dan tidak semua pekerjaan dilakukan oleh mereka. Tapi banyak juga sih yang mereka kerjakan. Ah, ribet menjelaskannya. Pokoknya begitu aja deh. Dan aku yang masih nakal ini kadang malas banget kalau disuruh bantu-bantu. Maunya cuma setrika saja. Atau mengepel dan mencuci baju sendiri. Kerjaan yang lain? Ah, nanti juga ada yang membereskan. Huuu ... kurang ajar sekali kan aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi akhirnya sampailah aku pada suatu masa di mana aku mendapat tanggung jawab untuk beres-beres. Kapan itu? Tepatnya sih saat aku di asrama--saat aku kuliah. Saat tinggal di Asrama Syantikara, kami masing-masing punya tugas untuk bersih-bersih. Yang wajib sih setiap hari secara bergiliran kami menyapu dan mengepel unit. Yang dimaksud dengan unit adalah semacam rumah kecil yang kami tempati berdelapan. Ya, betul ... satu unit itu ditempati oleh 8 orang. (Bisa kebayang kalau kami berantem?) Eh, tapi ada juga yang ditempati 4 orang. Tapi rata-rata 8 orang. Selain bergiliran menyapu dan mengepel unit, dalam seminggu kami juga bergiliran untuk membersihkan wastafel (yang entah bagaimana dalam seminggu selalu ditumbuhi lumut tipis); membersihkan kamar mandi atas dan kamar mandi bawah (maksudnya, menguras bak dan menyikat lantai kamar mandi); membersihkan kaca; membereskan lemari tempat kami menyimpan susu, teh, mi instan, dan berbagai bahan logistik lainnya; membereskan rak sepatu, membersihkan kompor ... hmmm ... apalagi ya? Tapi kurang lebih begitu deh. Dan untuk urusan kami masing-masing, ya kami harus mencuci dan setrika baju sendiri. Biasanya anak-anak yang punya uang saku lebih, mereka menggunakan jasa laundri yang banyak tersebar di daerah kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dari asrama tidak berarti aku bisa leyeh-leyeh. Setelah dari situ ... aku tinggal bersama kakakku dan selain beres-beres rumah, kami harus mulai belajar memasak. Duh, anak-anak mami ini mau tak mau harus turun ke dapur, hahaha! Yang dulunya cuma tahu masak air, sekarang paling enggak belajar masak sayur bening deh! Ya, akhirnya mau tak mau kami belajar untuk mengenal pekerjaan rumah. Mau tak mau? Lah iya. Entah mengapa aku dan kakakku kok merasa agak bagaimanaaa gitu kalau harus mempekerjakan asisten rumah. Aku sendiri sampai sekarang merasa lebih memilih mengerjakan semuanya sendiri. Paling-paling dibantu suamiku. Tapi yah, lagi-lagi aku tidak memaksa diri untuk mengerjakan semuanya. Lagi pula, kalau disuruh memilih, aku lebih memilih untuk mengerjakan terjemahan atau keluyuran bersama suamiku. Hehehe, hidup nggak harus melulu untuk beres-beres rumah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada orang tua yang bertanya bagaimana caranya membuat anak-anak mereka lebih sadar pekerjaan rumah tangga? Jawabannya: masukkan mereka ke Asrama Syantikara hihihi! Tapi intinya sih, jangan dimanja deh dan beri tanggung jawab. Nanti lama-lama juga sadar kok. Atau ada yang punya tips lain?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1511474099431095189?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1511474099431095189/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1511474099431095189' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1511474099431095189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1511474099431095189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/bagaimana-menumbuhkan-kesadaran-untuk.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7209956593359032076</id><published>2009-09-21T23:31:00.000-07:00</published><updated>2009-09-22T01:17:19.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='obrolan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebaran'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Televisi VS Mengobrol&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata suamiku, dulu waktu lebaran, film-film yang diputar di televisi adalah film Warkop. Lho kok pakai istilah "kata suamiku"? Memangnya nggak pernah lihat televisi? Memang sejak kecil, aku hampir tak pernah menonton acara televisi sewaktu lebaran. Aneh ya? Sebenarnya enggak juga. Sejak kecil, aku dan keluargaku selalu pergi ke rumah Kakek di desa beberapa hari menjelang hari Idul Fitri. Seingatku, aku tak pernah absen pergi ke sana. Kadang bosan juga sih tiap lebaran kok mesti pergi ke luar kota. Dan bepergian dengan kendaraan umum menjelang lebaran itu tidak terlalu menyenangkan buatku. Terminal yang penuh dan harus berdesak-desakan di dalam bus bukan suatu pilihan yang kusukai. Tapi mau bagaimana lagi? Itu suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga masih bocah, dulu aku selalu sebal karena tahu aku tidak bisa menyaksikan acara televisi yang bagus-bagus semasa lebaran. Maklum, rumah kakekku itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt; banget. Tak ada televisi. Bahkan aku masih ingat, dulu tak ada listrik di sana. Baru ketika aku sudah agak besar, ada listrik masuk desa. Senangnya! Ketika sudah ada listrik, di rumah kakekku tidak serta merta ada televisi seperti rumah-rumah tetangganya. Rumah kakekku baru ada televisi setelah orangtuaku di Madiun membeli televisi berwarna dan televisi hitam putih yang selama ini kami pakai dihibahkan kepada Kakek. Seingatku, orangtuaku membeli televisi berwarna ketika aku sudah SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika lebaran di tempat Kakek, dulu aku berharap bisa menonton acara televisi. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi ya ... harus diakui dulu aku masih kecanduan televisi. Hihi. Jadi, kalau ada acara yang bagus sedikit saja, pasti segera nongkrong di depan televisi. Tapi itu dulu lo! Soalnya sekarang sudah tidak lagi. Wong di Jakarta ini aku nggak punya televisi kok. Mau nyandu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemarin saat lebaran hari pertama, aku dan suamiku berkumpul di rumah Om Agus, seorang adik ibuku yang tinggal di Bekesong ... eh, Bekasi maksudku. Di sana suasana cukup ramai. Maklum, empat keluarga berkumpul, plus para keponakan juga rame-rame ke sana semua. Nah, di rumah omku itu, televisi sepertinya tak pernah istirahat. Seingatku sih begitu, ya. Setidaknya kemarin televisi kabel yang menayangkan film-film dari luar negeri itu terus menerus membius para keponakan yang sepertinya sakau kalau tidak menonton tipi.  Apalagi di depan televisi disediakan berbagai macam kue plus minuman bersoda yang tentunya tak bisa dilewatkan begitu saja, maka kami semua rame-rame menatap kotak ajaib itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebenarnya aku agak bosan juga. Mungkin karena filmnya kurang menarik bagiku, dan ketika aku datang filmnya sudah berjalan separuhnya. Jadi, makin malas saja aku menontonnya. Tapi, mau ngapain lagi ya? Akhirnya kue-kue yang disajikan itu kucoba satu persatu. Setelah bosan, aku mulai melirik anggur dan jeruk. Hihihi. Akhirnya, salah seorang tanteku berseru, "Hey ... mbok ngobrol to! Mosok udah jauh-jauh datang ke sini cuma nonton tivi saja?" Wah, rupanya ada yang bosan juga kaya aku :D Tapi toh, yang menanggapi omongan tanteku itu cuma empat orang termasuk aku. Kami akhirnya memisahkan diri dan mengobrol sendiri. Yang lainnya sih masih asyik memelototi televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti itu tentu tidak terjadi saat kami berlebaran di desa kakekku. Dulu saat kami berkumpul, tak ada televisi yang menyala. Dan kami pun menobrol dan bercanda dengan gayeng. Acara televisi ibarat jadi salah satu "makanan" yang disajikan oleh tuan rumah. Biasanya para penikmat acara televisi ini jadi terbius dan tidak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Kupikir-pikir televisi kadang memang tidak membuat kita jadi semakin dekat satu sama lain, karena justru dengan menonton televisi kebanyakan orang akhirnya malas mengobrol dengan orang di sekitarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7209956593359032076?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7209956593359032076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7209956593359032076' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7209956593359032076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7209956593359032076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/televisi-vs-mengobrol-kata-suamiku-dulu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3517066852052994658</id><published>2009-09-19T16:08:00.002-07:00</published><updated>2009-09-19T16:55:43.260-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pasar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebaran'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepotong "Jakarta Kecil" Menjelang Lebaran&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi, seperti biasa hampir selalu ada SMS dari temanku, Joanna, "Mau ke pasar nggak?" Dia temanku semasa SMP dulu yang sudah lama merantau di Jakarta ini. Rumah kami hanya berjarak dua gang. Memang hampir setiap pagi kami ke pasar bersama. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Wong cuma ke pasar tradisional loh, kok ya selalu berdua. Hihi. Sejarahnya dimulai ketika aku pertama kali tinggal di Jakarta dan masih asing dengan lingkungan sekitar tempat tinggalku, dialah yang mengenalkanku pada pasar tradisional di dekat rumah. Sebenarnya ada pedagang sayuran yang tiap pagi lewat depan rumah, tetapi kata dia, "Mahal itu. Mendingan ke pasar." Dan pasarnya memang tak seberapa jauh dari rumah. Hanya keluar kompleks sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali ke pasar tradisional sendiri, aku berencana membeli ayam dan sayuran untuk masak sup. Pertama kali kudatangi penjual ayam. "Beli seperempat kilo saja ya, Bu," kataku. "Nggak bisa Mbak, belinya mesti satu ekor atau setengahnya." Waduh! Setengah ekor itu banyak banget bagiku. Dan pasti tidak habis nanti. Lagi pula saat itu aku belum punya lemari es. Akhirnya aku urung membeli ayam. Menu hari itu tak jadi sup ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingunganku berbelanja di pasar itu kuceritakan kepada Joanna. Akhirnya, ketika akhir minggu tiba, kami ke pasar bersama. Dia membantuku "beradaptasi" dengan kebiasaan pedagang-pedagang di sini. Dialah yang memperkenalkanku pada beberapa pedagang yang sudah menjadi langganannya. Kalau beli ayam di ibu-ibu yang kiosnya di tengah pasar, "Ayamnya lebih bagus daripada pedagang lainnya," katanya. Dan memang penjual ayam potong itu selalu dikerumuni lebih banyak orang daripada yang lainnya. Kalau mau beli sayur agak murah, datanglah lebih pagi ke pasar karena di pinggir jalan ada seorang ibu-ibu setengah baya yang menjual sayur secara "grosiran". Harganya lebih miring dibandingkan jika kita membeli di dalam pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sabtu kemarin kami ke pasar lagi. Awalnya aku pikir aku belanja setelah lebaran saja. Tapi kata Joanna, sekitar tiga hari setelah lebaran harga barang-barang di pasar biasanya justru lebih mahal. Masih banyak pedagang yang libur, sehingga oleh pedagang yang ada harga barang justru dinaikkan setinggi langit. Okelah kalau begitu. Aku percaya kata-katanya karena toh dia sudah lama tinggal di sini. Akhirnya aku ke pasar bersamanya untuk membeli sedikit tambahan persediaan sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Sodara-sodara, pasarnya puenuuuuuh! Kalau istilah ibuku: "ora iso dipiyak" yang artinya tidak bisa disibakkan. Orang-orang berjubel di lorong pasar sehingga hampir tak ada jalan. Di beberapa titik kami harus berjalan sangat pelan dan berdesak-desakan. Jangan tanya berapa kali aku harus membiarkan kakiku terkena sandal orang lain yang kotor dan didorong-dorong dengan cukup kuat dari belakang saat mencari jalan. Dan ada banyak pedagang musiman--kebanyakan sih pedagang ayam, kelapa, dan baju. Aku cepat-cepat memutuskan sayur apa saja yang hendak kubeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku berpisah dengan Joanna karena dia akan mengantri membeli ayam di pedangang langganannya. Ya, dia harus antri cukup lama karena pembeli ayam berjubel banyak sekali! Aku akhirnya menunggunya di tempat yang agak lapang sambil meneruskan belanja sawi. Dan dia lamaaaa sekali. Duh, sudah tak sabar aku. Rasanya aku pengin pulang duluan saja. Dan menyaksikan pasar yang hiruk pikuk tak karuan itu membuatku pusing. Tempat parkir yang biasanya hanya memakan satu lajur, sekarang jadi dua lajur. Itu masih ditambah dengan adanya kios-kios pedagang musiman. Uh, hampir tak ada tempat untuk berdiri. Dan memang rasanya aku seperti orang dodol berdiri begitu saja di keramaian dan orang yang wira-wiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas kudengar percakapan seorang pengendara mobil dengan petugas parkir, "Bang kok penuh begini? Mau parkir di mana, nih? Tau gini saya kan nggak masuk ke sini," kata si supir.&lt;br /&gt;"Memang di depan nggak dikasih tahu kalau penuh, Pak?" tanya petugas parkir.&lt;br /&gt;"Enggak." Nadanya sedikit ketus. "Lain kali dikasih tahu dong, Bang! Jalanan udah sempit begini tetep saja mobil dikasih masuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... "Jakarta kecil", pikirku. Lahan yang ada cuma segitu-gitu saja, tetapi orang-orang yang datang semakin banyak karena di situlah roda ekonomi berputar. Tempat memang sudah semakin sempit, jadi, ya mesti mau empet-empetan. Di saat-saat yang hiruk pikuk seperti itu, orang akhirnya hanya memikirkan dirinya sendiri. Tak heran orang mencari kesempatan di antara kesempitan. Intinya sih, kalau bisa mengambil untung banyak-banyak, kenapa tidak? Kalau bisa memanfaatkan orang lain, kenapa tidak? Saat itulah orang mencari selamat bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran sudah mengintip. Semua orang berbelanja. Semua ingin merayakan lebaran dengan berpesta. Tapi aku tak ingin berlama-lama di pasar. Untung kulihat Joanna sudah mendapatkan ayam potong. Lega rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada teman-teman yang merayakan Idul Fitri, saya mengucapkan selamat merayakan kemenangan, ya! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3517066852052994658?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3517066852052994658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3517066852052994658' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3517066852052994658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3517066852052994658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/sepotong-jakarta-kecil-menjelang.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8563097708196692409</id><published>2009-09-16T18:55:00.001-07:00</published><updated>2009-09-17T01:17:44.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SrHkaIkXuYI/AAAAAAAAAF4/NlpYDvl9p5o/s1600-h/keyboard.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 96px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SrHkaIkXuYI/AAAAAAAAAF4/NlpYDvl9p5o/s320/keyboard.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382334167312218498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik Menulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu mendadak teleponku berdering. Nomornya tak dikenal. Agak ragu juga mau kuangkat. Tetapi siapa tahu ada tawaran pekerjaan? Yah, nanti kalau aneh-aneh, tinggal matikan saja. Beres kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar suara seorang lelaki di seberang sana. Duh, siapa pula ini? Suaranya agak serak. Hampir saja mau kumatikan telepon itu karena aku tak kenal. Owh, tunggu dulu ... rupanya dia seorang pengurus sebuah kegiatan di sebuah gereja. Katanya dia mengenalku dari seorang teman kantorku dulu. Oke ... oke. Lalu? Dia memintaku untuk menjadi narasumber di acara pemuda gereja tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku? Enggak salah nih?&lt;br /&gt;Memangnya acara apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang, mereka akan mengadakan kegiatan yang membahas teknik(?) penulisan. Yah, kurang lebih begitu informasi yang nyantol di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... rasanya salah memilih orang deh. Aku bukan seorang pembicara yang baik. Apalagi kalau harus berhadapan dengan banyak orang. Ow ... ow ... bisa mati berdiri nanti. Kasihan kan kalau mereka harus kerepotan mengurusi aku yang langsung deg-degan tidak karuan kalau berdiri di depan umum. Ugh, aku tak pernah menikmati menjadi pembicara di muka umum. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suwer dikewer-kewer.&lt;/span&gt; Daripada mengecewakan mereka, lebih baik tidak. Kalau bicara di kelompok kecil yang tak lebih dari lima orang, bolehlah. Tapi kalau lebih dari itu? Oh, no! Dan tentunya salah satu alasanku memilih menjadi seorang pengotak-atik kata di belakang layar adalah karena aku tak suka berdiri di depan umum. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Please deh&lt;/span&gt;, cari orang lain saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang belakangan ini sekolah penulisan memang cukup marak. Dan sebetulnya kalau mau mencoba jadi pembicara, aku bisa dapat uang saku tambahan. Tapi tidak ah. Aku kurang tertarik dengan sekolah penulisan. Dulu, beberapa tahun lalu, aku kadang mengikuti kegiatan seperti itu. Tentunya sebagai peserta, dong. Nggak mungkin aku yang bukan siapa-siapa ini dijual namanya sebagai pembicara. Hehe. Dan setelah beberapa kali mengikuti acara-acara tersebut, lama-lama bosan juga. Isinya kurang lebih sama. Begitu-begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya kalau ditanya apa sih bagaimana teknik menulis itu? Jawabanku cuma satu: Banyak-banyak membaca. Wis. Itu saja. Itu kalau menurut aku lo, ya. Kurasa seseorang akan memiliki penulis favorit. Dan biasanya tulisan yang kita buat sedikit banyak akan "mencontek" gaya penulis favorit kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masak cuma dengan banyak membaca kita jadi bisa langsung menulis? Kalau dari pengalamanku, memang cuma begitu. Dan banyak mengamati, ding. Kalau mau bikin tulisan berbobot, ya mesti mau bersusah-susah melakukan penelitian. Jangan lupa pintar-pintar cari sponsor yang bisa mendanai penerbitan buku tersebut. Kalau mau menerbitkan buku yang laris manis, bikin saja buku yang isinya kocak, lucu, atau mengaduk-aduk perasaan. Nggak ada isinya ya, tidak apa-apa. Toh banyak orang yang butuh hiburan kok. Tapi kalau bisa sih, ya tambahkan informasi yang bisa memperkaya pembaca. Tulisan bergaya motivasional juga sedang laris. Jangan lupa promosi ke sana-kemari. Silakan saja mau menulis macam apa. Mau menulis dengan hati boleh, mau cari uang juga boleh. Sah-sah saja. Tapi kalau boleh usul, tulislah sesuatu yang bisa menimbulkan pemikiran atau perubahan positif--tentunya dengan bahasa yang enak dibaca ya, biar editor dan pembacanya tidak perlu mengerutkan kening karena tidak mudeng dengan apa yang tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis itu ibarat naik sepeda. Awalnya memang masih tidak lancar. Tapi coba ... coba ... dan coba lagi. Nanti lama-lama akan merasakan keasyikan sendiri dalam menulis. Kalau sudah dicoba tetapi tidak bisa menikmati, ya barangkali panggilanmu bukan menjadi penulis. Jadi pembaca (dan pembeli buku) saja. Itu juga menyenangkan kok ... setidaknya bagi penulis yang bukunya kalian beli. Lumayan bisa sedikit nambah royalti atau honor. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar, tulisanku sendiri tidak terlalu berbobot. Biasa saja. Banyak tulisan orang lain yang lebih berbobot, informatif, dan memberikan pencerahan. Jadi, memang harus lebih banyak membaca lagi nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Foto diambil dari &lt;a href="http://www.myefficientassistant.com/services.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.myefficientassistant.com/services.html"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8563097708196692409?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8563097708196692409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8563097708196692409' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8563097708196692409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8563097708196692409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/teknik-menulis-malam-itu-mendadak.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SrHkaIkXuYI/AAAAAAAAAF4/NlpYDvl9p5o/s72-c/keyboard.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8340923460667892557</id><published>2009-09-14T22:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T23:28:28.376-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mbah kung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebaran'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengenang Lebaran di Kayuwangi ...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika aku masih belum tinggal di Jakarta, lebaran adalah hari yang cukup sibuk. Meskipun tidak merayakannya, aku dan keluargaku ikut meramaikan Lebaran. Maklum, keluarga besarku banyak yang berlebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku mau bercerita soal lebaran di kampung halaman kakekku. Kami biasanya melewatkan Lebaran hari pertama di kampung halaman ayahku, di desa Kayuwangi di kaki Gunung Gajah, di Ambarawa sana. Sebenarnya aku agak bingung, kampungnya ayahku itu masuk Salatiga atau Ambarawa, ya? Menurutku sih tengah-tengah, hehe. Dan di sana lebaran itu ramai sekali. Keluarga-keluarga yang tidak merayakan Idul Fitri tetap memajang kue-kue dan tak sedikit orang yang datang ke rumah mereka untuk bersilaturahmi. Untuk orang yang sudah tua, rumah mereka pasti tak pernah sepi. Pasti banyak yang datang untuk sungkem. Begitu pula dengan kakekku. Banyak sekali yang datang mengunjungi kakek, bahkan saudara-saudara yang rumahnya entah di mana (saking jauhnya dari kampung Kakek) akan datang dan sungkem pada Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah begitu, kami-kami yang masih muda ini harus segera tanggap. Kami harus siap menyediakan minum dan makan berat--ketupat, sayur, dan segala macam lauk. Setelah para tamu mengudap makanan kecil seperti peyek kacang hijau, kue-kue kering, kacang, jenang ... kami biasanya mempersilakan tamu-tamu itu untuk makan ketupat. Tapi tidak semua tamu bersedia makan. Soalnya mereka kadang sudah mendatangi beberapa rumah sebelumnya. Jadi, pas sampai di rumah Kakek, mereka sudah cukup kenyang. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku kurang begitu kenal dengan para tamu yang berdatangan itu. Ya, ya ... semua itu masih terbilang saudara dengan ayahku. Tapi karena hampir tak pernah ketemu, ya akhirnya lupa deh. Paling hanya ingat wajah. Dan sebenarnya ini agak menggelikan, karena tidak pernah bertemu ... e, tiba-tiba minta maaf. Hehe. Lha kan mereka tidak punya salah padaku. ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sungkem dengan Mbah Kakung dan menjamu tamu yang datang, aku dan sekeluarga (tanpa Kakek), akan keliling kampung untuk bersilaturahmi. Biasanya kami akan mengunjungi para pakde atau paklik ayahku. Dasar aku ini pelupa, aku panggil saja semuanya Simbah hihi. Aku tak begitu tahu silsilahnya. Intinya sih, semua masih saudara. Acara keliling-keliling ini cukup melelahkan buatku karena kampung kakekku jalannya naik turun dan ada jalanan yang masih berbatu. Tapi yang menyenangkan adalah, sesampainya di rumah saudara, kami bisa makan kenyang ;) Dan aku paling suka kalau ada peyek kacang hijau. Kriyuk ... kriyuk. Gurih sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak hanya mengunjungi keluarga yang merayakan lebaran saja. Beberapa saudara ayahku ada yang Katolik seperti keluarga kami, Kristen, dan Buddha. Semua kami sambangi. Dan rasanya sih seneng-seneng saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sq8yTP92jrI/AAAAAAAAAFw/Ufr_u7drmZ0/s1600-h/mbah+kung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 182px; height: 253px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sq8yTP92jrI/AAAAAAAAAFw/Ufr_u7drmZ0/s320/mbah+kung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381575386015895218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Salah satu aspek Lebaran bagiku adalah reuni keluarga dan melimpahnya makanan. Dua hal itu memang menyenangkan. Tapi ada satu hal yang biasanya membuatku sebal. Apa? Yang tidak aku sukai adalah perjalanan mudik. Karena tidak punya kendaraan pribadi, kami harus rela &lt;span style="font-style: italic;"&gt;umpel-umpelan&lt;/span&gt; alias berdesak-desakan di dalam bus. Tak jarang kami harus berdiri cukup lama sebelum akhirnya mendapat tempat duduk. Pegel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bok&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya lebaran di kampung Kakek akan tinggal kenangan saja bagi kami sekeluarga. Sejak Kakek jatuh dan patah tulang, sekarang beliau tinggal bersama orangtuaku di Madiun. Jadi kami tak perlu jauh-jauh kalau mau sungkem dengan Mbah Kakung, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ngomong-ngomong kok mendadak aku jadi pengen peyek kacang hijau ya? :D Dan sekarang Lebaran sudah tinggal hitungan hari ini. Enaknya ke mana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Foto: Mbah Kung yang sedang kangen kampung halamannya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8340923460667892557?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8340923460667892557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8340923460667892557' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8340923460667892557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8340923460667892557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/mengenang-lebaran-di-kayuwangi.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sq8yTP92jrI/AAAAAAAAAFw/Ufr_u7drmZ0/s72-c/mbah+kung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1812544301568365430</id><published>2009-09-11T01:45:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T01:53:08.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bestseller'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku Bestseller? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingat sejak kapan aku tidak lagi percaya begitu saja dengan label BESTSELLER yang dicantumkan di depan sebuah sampul buku. Begitu pula aku tidak langsung membeli buku hanya karena membaca endorsement atau pujian yang diberikan oleh seorang tokoh masyarakat yang tercantum di sampul depan suatu buku. Apalagi kalau buku itu sedang heboh di masyarakat, wah ... aku malah akan berpikir ratusan kali untuk membeli buku tersebut. Setiap kali melihat buku yang sedang heboh di pasaran, aku justru enggan melirik atau membeli buku tersebut.    &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Mungkin ketidakpercayaanku itu mulai timbul beberapa tahun lalu saat ada sebuah buku yang heboh sekali di pasaran. Tak sedikit orang yang mengatakan bahwa buku itu bagus sekali. Dan bahkan sampai sekarang buku itu masih jadi bahan pembicaraan banyak orang. Karena penasaran dan kupikir buku itu bakal membuatku terpesona, tanpa pikir panjang aku pun membelinya. Sesampainya di rumah, tak sabar kubaca halaman demi halaman. Lima halaman pertama, yah ... lumayan. Saat kuteruskan lagi, kok rasanya tidak semenarik yang kuharapkan ya? Begitu-begitu saja. Membosankan. Dan sepertinya si penulis suka melebih-lebihkan ceritanya. Pluk! Kututup buku itu dan sampai sekarang aku tak pernah membaca kelanjutan ceritanya. Begitu pun ketika si penulis mengeluarkan buku-buku karyanya lagi, aku tak pernah tertarik membelinya. Banyak orang masih mengatakan bahwa buku karya si X bagus luar biasa. Tapi maaf, mungkin seleraku berbeda. Ada buku-buku lain yang menurutku kualitasnya jauh lebih baik dari buku itu—baik dari segi penulisan, penyuntingan, dan isinya. Nah, sejak itulah aku tak pernah lagi percaya pada embel-embel bestseller atau endorsement yang tercantum di sampul buku.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Saking banyaknya orang yang menyukai buku tersebut, aku kadang terdiam beberapa saat jika ada orang yang menanyaiku apakah aku membaca buku itu. Biasanya aku akan bertanya balik, “Kenapa?” atau “Kamu baca juga ya?” Aku tak ingin terjebak. Tapi syukurlah selama ini orang yang bertanya kepadaku, rata-rata juga tidak menyukai buku tersebut. He he he. Yang kadang aku herankan adalah kenapa suara-suara orang yang tidak menyukai buku itu tidak pernah muncul di media ya? Yang justru keras suaranya adalah suara orang-orang yang menyukainya. Aku tak tahu kenapa fenomena ini terjadi. Aku bertanya-tanya, apakah ini terjadi karena masyarakat kita tidak biasa menyatakan suatu yang berbeda ya? Atau semua itu melulu karena selera?  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Ah, aku tak tahu kenapa hal itu terjadi. Tapi yang jelas, aku membeli buku rata-rata karena aku sudah tahu kualitas penulisnya. Selain itu, kalau ada teman sesama pembaca buku yang seleranya sama denganku mengatakan bahwa suatu buku bagus, biasanya aku percaya. Ngomong-ngomong, pertimbangan apa yang kalian pakai saat membeli buku?   &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1812544301568365430?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1812544301568365430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1812544301568365430' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1812544301568365430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1812544301568365430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/buku-bestseller-aku-tak-ingat-sejak.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1080240026360298066</id><published>2009-09-07T22:54:00.001-07:00</published><updated>2009-09-08T00:20:54.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CIN(T)A'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beda agama'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencari Tuhan di Balik Cinta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah punya pacar beda agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya? Pusing menghadapi orang-orang di sekitarmu yang kadang tanpa diminta ikut urun rembug soal relasi kalian? Menyebalkan memang. Dan di negara ini memang sepertinya masih sedikit celahnya untuk orang yang beda agama bisa menikah dengan lancar. Kadang salah satu harus "mengalah" dengan berpindah agama. Kenapa harus pindah? Orang bilang, kalau di dalam satu rumah ada dua nakhoda, kan kasihan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... Sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tak bisa mengatakan pindah agama mengikuti salah satu pasangan itu baik atau benar. Dan aku tidak mengatakan bahwa sebaiknya begitu. Tapi begini, aku pernah dengan seorang lelaki yang seagama denganku, tetapi untuk urusan yang namanya agama, pikiran kami tidak nyambung. Aneh? Ya aneh. Dulu kupikir kalau seagama ya akan lancar-lancar saja. Tapi dari pengalamanku, tidak begitu.  Ada saja yang kami perdebatkan untuk urusan di balik agama ini, dan kami tidak nyambung. Jadi, sudahlah ... bubar saja. Dari situ aku berpikir, mendapatkan pasangan yang seagama tidak selalu mempermudah hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, di radio aku mendengar cuplikan dialog tentang sebuah film yang menggambarkan sebuah relasi antara laki-laki dan perempuan yang beda agama. Mungkin karena penasaran plus punya pengalaman pernah patah hati lantaran masalah serupa, aku pun mengajak suamiku untuk menyaksikan film itu. Judulnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CIN(T)A&lt;/span&gt;. Kupikir film itu diputar di semua jaringan bioskop 21. Tapi rupanya tidak, hanya di Blitz Megaplex saja film itu ditayangkan. Dan kata suamiku, Blitz yang di MOI (Kelapa Gading), tidak memutarnya. Jadi, harus segera nonton nih sebelum film ini hilang dari bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tidak terlalu berharap akan mendapatkan suguhan film yang apik. Yah, selama ini film Indonesia kan tidak jauh-jauh dari pocong, kuntilanak, dan film komedi yang tidak jelas itu. Kalau film ini jelek, ya sudah ... namanya juga Indonesia (kok jadi nggak percaya sama buatan Indonesia sih? Duh!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SqYDsXe1xAI/AAAAAAAAAFo/qyT079qx2K0/s1600-h/cinta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SqYDsXe1xAI/AAAAAAAAAFo/qyT079qx2K0/s320/cinta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378990865693131778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata aku salah. Film ini betul-betul menarik perhatianku. Kalau dipikir-pikir film ini cuma dua pemainnya. Pemain yang lain cuma dihadirkan lewat suara atau foto. Kalaupun ada orang yang tampil, wajahnya tidak ditunjukkan. Cuma kelihatan punggung atau tampil setengah badan. Pokoknya yang benar-benar tampil utuh, ya cuma Cina dan Annisa. Yang paling keren adalah pengambilan gambar dua jari yang melambangkan kedua tokohnya. Ih, keren. Kayaknya mesra banget. Padahal itu dua jari tok til. Tapi kereeen!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatku menyukai film ini adalah dialog-dialognya yang cerdas. Buat orang yang tak pernah puas dengan satu penjelasan dan tak mau dikerangkeng oleh sebuah dogma, kalimat-kalimat yang diucapkan di film ini membuatku merasa "punya teman". Oh, jadi nggak cuma aku to yang berpikir begitu. Salah satu kalimat yang kusukai adalah kalimat yang diucapkan Annisa: "Kamu pikir kenapa Tuhan menciptakan atheis? Capek lagi jadi Tuhan yang selalu dipuja dan disembah. Kenapa tidak mencintai Tuhan apa adanya saja?" (Koreksi jika aku keliru mengutip kalimat itu, tapi seingatku kurang lebih begitu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang menarik di film ini adalah cuplikan wawancara dua orang yang menjalin relasi beda agama. Cuplikan itu ditayangkan secara hitam putih. Sepertinya cuplikan-cuplikan hendak menjadi penopang bahwa di dunia nyata banyak sekali orang yang pacaran dan menikah beda agama. Mereka seolah terbentur dinding yang keras, dan mungkin tidak sedikit yang melarang hubungan mereka. Ya ... ya ... aku bisa mengerti. Tapi itu mungkin sebenarnya akar masalahnya cukup dalam dan tidak mudah terurai. Relasi mereka harus terbentur oleh sebuah misteri yang tidak mudah dipecahkan oleh akal manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, orang-orang di balik pembuatan film ini patut diacungi jempol atas keberanian mereka mengangkat isu yang cukup sensitif ini menjadi sebuah film. Jarang ada film yang "seberani" ini. Biasanya film yang membahas pasangan beda agama ujung-ujungnya adalah salah satu di antara mereka pindah agama. Akhir cerita semacam itu terlalu menyederhanakan masalah menurutku. Kurang dalam. Dan aku puas dengan film ini. Mungkin karena film ini tidak melihat agama secara hitam putih, tidak menganggap yang satu lebih benar dan yang lainnya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Gambar di ambil dari &lt;a href="http://godisadirector.com/En/gallery_movie_still.html#"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin mengetahui seluk beluk film ini lebih jauh, klik saja &lt;a href="http://godisadirector.com/"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1080240026360298066?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1080240026360298066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1080240026360298066' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1080240026360298066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1080240026360298066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/mencari-tuhan-di-balik-cinta-pernah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SqYDsXe1xAI/AAAAAAAAAFo/qyT079qx2K0/s72-c/cinta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3352335858606117388</id><published>2009-09-02T22:42:00.001-07:00</published><updated>2009-09-03T06:56:08.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gempa jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelatihan tanggap bencana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gempa Jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bencana'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karena Kita Tak Tahu Kapan Bumi Berguncang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, setelah beberapa jam menghabiskan waktu di luar rumah untuk bertemu seorang teman, aku kembali ke rumah dengan perut keroncongan. Untung aku sudah memasak nasi, tetapi belum punya lauk. Beberapa hari ini aku malas memasak. Untungnya lagi, tetangga depan rumahku memasak dan menjual makanan untuk buka puasa. Akhirnya setelah beli lauk aku pun menyendok nasi dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rice cooker&lt;/span&gt;. Mendadak badanku seperti bergerak-gerak sendiri maju mundur. Duh sakit apa lagi nih? Masak baru lapar sedikit aku sudah pusing begini? Kupikir, nanti setelah makan dan minum pasti sembuhan. Tapi kok kepalaku nggak sakit ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian kudengar dari depan rumah beberapa orang berteriak, "Gempa ... gempa!" Sekilas kulihat lampu gantung di ruang tamu bergoyang cukup kencang. Oh, gempa to. Syukurlah. Ternyata aku tidak sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, makilah aku karena mungkin aku terdengar tidak cukup simpatik dengan gempa kemarin yang sempat mampir di Jakarta. Tapi bagiku, gempa kemarin guncangannya tidak sehebat gempa yang kualami 27 Mei 2006 silam. Gempa di Jakarta kemarin paling cuma sepersepuluh gempa di Jogja. Maaf, bukan maksudku mengecilkan, lo. Seorang teman menuliskan bahwa gempa di Jogja dulu ibarat seperti ada naga yang melintas di bawah tanah. Bahkan suara gempa yang kudengar itu dulu seperti suara truk. Gruduk...gruduk... gruduk! Kemarin gempanya nyaris tanpa suara, paling yang kedengaran adalah suara orang-orang yang berlarian dan berteriak-teriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, aku maklum sekali jika orang-orang pun panik. Gempa selama kurang lebih 2 menit itu memang membuat banyak orang keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari gempa kemarin itu, aku mendapati suatu fakta yang cukup melegakan bagiku: aku tidak panik. *&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Duh sombongnya!&lt;/span&gt;* Harap tahu saja, selama setahun setelah gempa 27 Mei 2006, setiap kali ada gempa kecil, kakiku ini susah sekali untuk ditahan supaya tidak berlari. Setidaknya aku langsung deg-degan dan bangkit dari tempat duduk. Dan dalam hitungan detik, pasti aku segera berlari. Rasanya itu sudah menjadi gerak refleks. Tapi kemarin, aku tidak seperti itu lagi. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejadian gempa Jakarta kemarin, aku melihat potensi timbulnya korban yang lebih besar jika di Jakarta terjadi suatu bencana. Bukannya mau menakut-nakuti. Tetapi gempa seperti itu saja orang sudah panik luar biasa, apalagi kalau terjadi yang lebih buruk lagi? Satu hal yang perlu dilatih dalam menghadapi bencana adalah menjaga diri supaya tidak panik. Dan hal lain yang penting juga adalah kesigapan masyarakat. Sayangnya, di sini tidak biasa diadakan latihan menghadapi bencana. Jadi, bisa terbayang olehku orang2 akan berlarian tidak karuan jika terjadi suatu bencana. Setidaknya memang perlu dibuat petunjuk oleh pemerintah setempat tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat timbul bencana. Misalnya, kalau terjadi gempa, masyarakat mesti bagaimana, tetap di dalam rumah, atau kalau mau lari, lari ke mana. Jadi tidak saling bertubrukan. Serem lo kalau semua orang panik dan kita tak tahu apa yang harus dilakukan. Rasa panik itu menular soalnya--terutama kepada orang yang tidak tahu apa-apa. Bisa ikut arus dan melakukan hal-hal konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kuakui, dulu aku dan kakakku melakukan hal konyol sesaat setelah gempa di Jogja. Tak lama setelah gempa, orang-orang banyak yang menyerukan isu tsunami. Dan kakakku langsung mengajakku naik motor ke arah utara. Saat itu aku cuma pakai baju tidur, Sodara! Kami menuju jalan Kaliurang, dan jalan itu penuh. Macet semacet-macetnya! Padahal kalau dipikir-pikir, tsunami itu pasti tak akan sampai rumah kami yang memang sudah berada di wilayah Jogja utara. Sekarang setelah kupikir-pikir, itu tindakan yang konyol sih. Walaupun bisa dikatakan kami ini cukup berpendidikan, tapi toh kurangnya pengetahuan dan karena dilanda kepanikan, jadi malah ikut arus. Memalukan ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat hal itulah aku pikir, (warga) Jakarta bisa mengalami hal serupa dan mungkin lebih parah lagi. Apalagi Jakarta ini penduduknya buanyak! Bisa kubayangkan, jika di Jakarta terjadi gempa hebat, bisa jadi akan korbannya akan lebih banyak lagi. Kenapa? &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, di sini banyak sekali perumahan yang padat penduduk. Rumah-rumah berdempetan, dan tak sedikit rumah yang asal bisa berdiri. Tidak dirancang untuk tahan gempa. Bisa terbayangkan, rumah seperti itu akan mudah rubuh jika dihantam gempa besar. Dan karena padat penduduk--dan bisa jadi mereka juga kurang pengetahuan--akan banyak pula orang yang jadi korban. Korban yang timbul akibat gempa sebagian besar karena mereka tertimpa runtuhan bangunan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, banyak penduduk yang panik. Kepanikan itu bisa memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, orang yang berlarian tak tentu arah, bisa menimbulkan kecelakaan di jalan. Atau orang bisa meninggalkan rumah tanpa menguncinya, sehingga terjadi kemalingan. Jangan salah lo, banyak orang mengambil kesempatan di antara kesempitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin gempa kemarin bisa menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shock therapy &lt;/span&gt;yang baik bagi warga Jakarta. Aku berharap pemerintah segera melakukan pelatihan tanggap bencana kepada warganya. Kita tak tahu kapan bumi akan berguncang, kan? Lebih baik berjaga-jaga dan menambah wawasan daripada mati konyol.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3352335858606117388?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3352335858606117388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3352335858606117388' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3352335858606117388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3352335858606117388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/karena-kita-tak-tahu-kapan-bumi.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2506039802955174752</id><published>2009-09-01T19:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T19:34:42.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='belanja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kantong plastik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ransel'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sp3ZQbmKQII/AAAAAAAAAFg/fSzXIG246BE/s1600-h/kantong+plastik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 118px; height: 118px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sp3ZQbmKQII/AAAAAAAAAFg/fSzXIG246BE/s320/kantong+plastik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376692406459187330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nggak Usah Pakai Plastik, Mbak ...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa sejak kapan aku selalu membawa ransel jika bepergian. Aku membawa ransel bukan hanya saat bepergian ke luar kota loh, tapi juga waktu jalan-jalan keliling kota, atau sekadar main bersama suami atau teman. Selain itu, ransel adalah salah satu kado yang paling aku apresiasi selain buku dan teh yang enak. Hehehe. Karena memang ransel atau tas yang bisa kucangklong di punggunglah yang membuatku nyaman. Beban jadi lebih imbang di kedua bahu jadi salah satu pundakku tidak terlalu pegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku menyandang ransel itu pas betul jika di Jakarta ini. Kenapa? Karena di kota ini ada beberapa barang yang selalu kubawa. Pertama, botol air minum yang minimal kuisi setengahnya, jika aku tahu di tempat tujuan aku bisa minta air untuk mengisi botol minumku ini hihihi. Botol minumku ini cukup besar, kira-kira isinya hampir 1 liter. Dulu aku pikir bawa botol yang kecil saja, tetapi kalau mau irit ya mesti bawa botol yang besar. Kalau beli di pedagang kaki lima, mahal! Air mineral kemasan 600ml harganya bisa Rp 2.500,00 sampai Rp 3.000,00. Padahal harga normalnya paling cuma Rp 1.500,00-an. Selisih harganya lumayan kan? Hehehe, maaf kalau terlalu itung-itungan. Maklum, emak-emak :D Kalau mau praktis sih, apalah arti selisih harga seribu perak itu. Tapi buatku, selama bisa membawa air minum sendiri dari rumah, buat apa beli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain kenapa aku suka memakai ransel adalah tas ransel itu bisa menampung lebih banyak barang. *&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emang mau pindahan, Neng?&lt;/span&gt;* Ketika sedang bepergian, kadang mendadak aku merasa perlu belanja sesuatu. Dan alangkah praktisnya kalau aku membawa ransel. Barang-barang belanjaan itu bisa masuk ke dalamnya sehingga aku tak perlu menjinjing beberapa kantong belanjaan. Praktis--menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal belanja, ada benda yang hampir selalu terselip di dalam tas ranselku. Pertama adalah kantong plastik, yang kedua tas kain. Dua benda itu cukup tipis dan tidak memakan tempat. Bisa diambil sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Tapi yang jelas dua benda itu membantuku untuk mengurangi pemakaian kantong plastik saat belanja. Dan jujur saja aku lupa sejak kapan aku sering membawa tas sendiri dari rumah untuk berbelanja. Mungkin aku ikut-ikutan "latah" untuk ramah lingkungan. Yah walaupun mungkin ini tindakan yang tidak berarti dibandingkan para aktivis Green Peace atau WWF, tapi kupikir ini tak ada salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang membawa kantong sendiri dari rumah rasanya tidak cukup praktis. Lebih enak melenggang keluar rumah tanpa membawa apa-apa karena toh nanti di toko petugas akan memberi kita kantong plastik. Hampir semua orang melakukan hal itu. Bahkan suatu kali aku pernah ditegur satpam swalayan besar di Jakarta T** T** karena saat masuk swalayan besar itu aku membawa kantong kosong yang cukup besar (karena aku memang mau belanja banyak). "Mbak, tasnya dititipkan saja," kata pak satpam itu. Karena merasa benar, aku ngeyel dong, "Pak, ini nanti buat bawa barang belanjaan kok. Ini tidak ada isinya." Mungkin karena satpam itu takut aku mengutil atau nyolong, dia bilang, "Nanti kan dari sini dapat kantong plastik." Lagi-lagi aku ngeyel, "Saya nggak mau pakai kantong plastik dari sini. Pak, kalau Bapak tidak percaya sama saya, Bapak bisa ikuti saya saat berbelanja dan bisa nanti cek saja barang belanjaan saya." Hehehe. Hebat kan gaya ngeyelku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya memang masih sedikit supermarket yang mengapresiasi pembeli yang membawa kantong sendiri. Dari sekian banyak supermarket yang ada di sini, aku baru menjumpai Superindo yang memberi apresiasi lebih untuk pembeli macam aku ini. Mereka memberikan stiker yang ditempel di sebuah kertas setiap kita berbelanja Rp 10.000 dan kelipatannya. Setelah terkumpul sampai 70 stiker, kita bisa mendapatkan kantong belanja yang bisa dipakai ulang. Buatku yang belanjanya sedikit-sedikit, mengumpulkan 70 stiker itu lamaaaa sekali. Selain di Superindo, ada sebuah toko roti di dekat rumahku yang petugasnya sudah hapal denganku. Setiap kali ke situ untuk membeli roti tawar aku selalu bilang, "Nggak usah pakai kantong plastik, Mbak." Bahkan mbak berambut panjang dan berbehel itu memperingatkan temannya supaya tak usah memberiku kantong plastik saat aku datang dan tampak membawa kantong belanja sendiri :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apakah tindakanku membawa ransel dan kantong belanja sendiri ini memberi dampak besar bagi lingkungan. Tapi setidaknya aku sudah melakukan bagianku. Dan memang sangat sedikit orang yang membawa kantong sendiri saat berbelanja. Selama ini aku belum pernah "mendapat teman" yang sama-sama membawa kantong belanja sendiri saat sedang berbelanja di toko swalayan. Nah, adakah di antara kalian yang mau menjadi kawanku dalam hal kantong belanja ini? ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gambar diambil dari: &lt;span style="color: green; font-style: italic;"&gt;educationforsustainability.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2506039802955174752?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2506039802955174752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2506039802955174752' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2506039802955174752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2506039802955174752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/09/nggak-usah-pakai-plastik-mbak.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sp3ZQbmKQII/AAAAAAAAAFg/fSzXIG246BE/s72-c/kantong+plastik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-557472251554588319</id><published>2009-08-26T02:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-26T02:52:32.409-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pulang'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aku Tidak Pulang ke Jawa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini petikan percakapanku dengan seorang teman di YM:&lt;br /&gt;Teman (T) : Besok lebaran kamu pulang ke Jawa?&lt;br /&gt;Aku (A) : Pulang ke Jawa?&lt;br /&gt;T: Iya, kamu nggak pulang ke Jawa?&lt;br /&gt;A: Emang Jakarta itu di dasar laut ya? Atau Jakarta itu suatu pulau sendiri?&lt;br /&gt;T: He he&lt;br /&gt;A: Aku pulang ke Jogja atau ke Madiun, bukan pulang ke Jawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku risi kalau ditanyai: "Mau pulang ke Jawa, ya?" atau "Kapan pulang ke Jawa?" Dan pertanyaan itu hanya dilontarkan kepadaku saat aku berada di Jakarta--oleh warga Jakarta. Biasanya sih yang melontarkan pertanyaan seperti itu adalah orang yang cukup lama tinggal di Jakarta. Jujur, pertanyaan itu malas sekali kujawab. Kenapa? Soalnya bagiku pertanyaan itu semacam meremehkan Jawa Tengah, Jogja, atau Jawa Timur. Padahal orang-orang yang akan pulang ke daerah Jawa Barat tidak ditanyai seperti itu. Biasanya mereka langsung menyebut nama daerahnya, misalnya pulang ke Kuningan, ke Pandeglang, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang-orang yang lebih tua dan cukup kuhormati, biasanya untuk menjawab pertanyaan seperti itu aku akan mengatakan, "Saya mau pulang ke Jogja, Pak/Bu." Aku tidak mengiyakan begitu saja. Dan kepada orang yang bisa diajak bercanda, aku akan mengatakan seperti kepada temanku di YM tadi, "Memangnya Jakarta itu di dasar laut ya? Atau Jakarta itu suatu pulau sendiri?" Hehe. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Please deh, &lt;/span&gt;Jakarta ini kan masih di Pulau Jawa. Jadi kenapa kalimat pertanyaannya seperti itu? Apakah orang-orang itu secara tidak langsung hendak menyatakan, "Ini lo gue orang Jakarta. Jadi, gue lebih tinggi derajatnya daripada elu yang orang daerah." Huh! Semoga saja tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai sekarang masih bertanya-tanya apa yang membuat warga Jakarta memilih istilah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pulang ke Jawa&lt;/span&gt;. Kenapa sih? Apa susahnya menyebut nama daerah atau kota yang dituju? Salah satu perkiraanku adalah, orang yang bertanya seperti itu cuma latah memakai istilah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pulang ke Jawa&lt;/span&gt;. Maksudku, mereka asal saja dalam memakai istilah tersebut. Mereka tidak berpikir dulu sebelum menggunakan istilah itu. Duh! :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, adakah yang tahu bagaimana sejarahnya sampai orang-orang Jakarta ini memakai istilah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pulang ke Jawa&lt;/span&gt;?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-557472251554588319?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/557472251554588319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=557472251554588319' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/557472251554588319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/557472251554588319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/aku-tidak-pulang-ke-jawa-ini-petikan.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-13190629061726969</id><published>2009-08-22T09:34:00.000-07:00</published><updated>2009-08-24T02:23:13.512-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kopdar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Taman Safari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cibinong'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Tidak Masalah Tak Punya Teman Sekantor ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kupikir setelah keluar dari tempat kerja yang sudah menggajiku selama lebih dari lima tahun, tak akan ada yang banyak berubah untuk soal pertemanan. Apalagi di zaman internet dan telepon begini, kurasa gampang-gampang saja kalau mau meneruskan obrolan yang biasa kami lakukan ketika masih satu ruangan. Kupikir kami masih bisa sering &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt; atau sekadar mengobrol ngalor-ngidul dengan memanfaatkan tarif telepon yang cukup murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm ... sesederhana itukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ow ... ternyata tidak, Sodara-sodara. Biarpun bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt;, bertelepon, atau kirim SMS, relasi pertemanan itu tidak sekental jika kita bertemu setiap hari. Bagaimanapun, jarak bisa memudarkan kedekatan. Lagi pula ini hanyalah pertemanan, bukan kisah dua orang muda-mudi yang lagi kasmaran. Beda ceritanya, Bung! Awalnya sih dulu aku masih suka menyapa teman-teman kantorku dulu via telepon, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;email&lt;/span&gt;, atau SMS. Tapi lama-lama garing juga. Tak ada bahan pembicaraan yang cukup gayeng. Bagaimanapun dunianya sudah mulai berbeda. Mereka dengan dunia kerja dan segala keruwetan, sedangkan aku dengan dunia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelancer&lt;/span&gt; dan seputar rumah tangga. Tantangannya berbeda. Kadang-kadang ada persinggungannya sih, tapi ya biasanya hanya melulu soal pekerjaan. Tidak seakrab dulu lah menurutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kemudian aku pindah ke Jakarta, beradaptasi di lingkungan yang baru. Ya, memang ada sih teman-temanku yang di Jakarta. Tapi kan kami tidak bisa ketemu setiap hari. Mereka masing-masing punya kesibukan sendiri. Apalagi dunia kerja di Jakarta ini begitu memakan waktu. Berangkat pagi, pulang malam. Sementara aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan beraktivitas di rumah. Dan bepergian di Jakarta ini menghabiskan waktu, tenaga, dan tentunya ongkos. Jadi, kalau mau menghemat ketiga hal itu biasanya aku di rumah saja. Toh memang aku bekerja di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, akhirnya mulailah aku rajin ke warnet. (Untung ada warnet di dekat tempat tinggalku.) Entah itu untuk update blog, blogwalking, membuka situs-situs berita, membuka email, mengirim hasil pekerjaan, dan sebagainya. Dan itu semakin sering kulakukan ketika kami sudah berlangganan internet. Rasanya dunia internet jadi dunia yang sangat menyenangkan bagiku. Yah, walaupun koneksi internet di rumah kami sering lemot, tak apalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, internet menjadi teman kerjaku selama kira-kira setahun belakangan ini. Dari pertemananku dengan internet, hal yang paling sering kulakukan adalah update blog dan blogwalking. Nah, salah satu blog yang cukup sering kukunjungi adalah &lt;a href="http://imelda.coutrier.com/"&gt;TE&lt;/a&gt; alias Twilight Express milik Mbak Imelda. Aku sering ke situ awalnya karena pengin membaca cerita tentang kedua anaknya, Riku dan Kai, (yang dari fotonya tampak menggemaskan) dan cerita tentang kehidupannya selama di Jepang. Lagi pula, dia sering posting tulisan baru. Jadi, kalau absen beberapa hari, kadang aku sudah ketinggalan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, akhirnya ketika Mbak Imelda mudik ke Jakarta tempo hari, kami pun kopdar. Kebetulan saat itu &lt;a href="http://nanaharmanto.wordpress.com/"&gt;Nana&lt;/a&gt;--yang dulu pernah satu asrama dan satu unit denganku--bersama &lt;a href="http://albertobroneo.wordpress.com/"&gt;Bro Neo&lt;/a&gt; ada di Jakarta. Jadilah kami kopdar bersama. Cerita sepanjang kopdar itu gado-gado. Karena aku, Nana, dan Bro Neo dulu di Jogja, maka kami kadang bercerita soal teman-teman kami semasa di Jogja dulu. Kadang Mbak Imelda cerita tentang makanan di Jepang. Kadang &lt;a href="http://onisur.wordpress.com/"&gt;Oni&lt;/a&gt;, suamiku, cerita soal kampung halamannya, Belitung. Macam-macam deh! Dan terus terang aku lupa-lupa ingat apa tepatnya yang kami obrolkan. Hihi. Tetapi kesan kopdar pertama itu: MENYENANGKAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir kopdar pertama itu selesai begitu saja. E, ternyata tidak. Beberapa hari kemudian Mbak Imelda menjawilku untuk ke Museum Tekstil. Cerita soal itu sudah kutuliskan di &lt;a href="http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/belajar-membatik-di-museum-tekstil.html"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa postingan di blog dan FBnya selama dia di Jakarta, tampaknya jadwal kopdarnya cukup padat. Hehe. Jadi kupikir cukuplah aku kopdar dua kali. Tapi ketika Mbak Imelda posting soal Mie Janda di FB, aku jadi bertanya-tanya. Dasarnya aku penggemar mie, maka ketika mendengar istilah Mie Janda, rasa penasaranku kumat. Mie apa pula itu? Dan dari rasa penasaranku itu, aku pun dijawil untuk ikut menikmati Mie Janda. Yuuhuuu! Siapa yang sanggup menolak? Tentu tidak dong! Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SpJbpG4Di4I/AAAAAAAAAE4/mG1o2lZN04k/s1600-h/mi+janda4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SpJbpG4Di4I/AAAAAAAAAE4/mG1o2lZN04k/s320/mi+janda4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373458067184913282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada hari Kamis 13 Agustus lalu, aku bersama Mbak Imelda (plus Riku dan Kai, tentunya) dan &lt;a href="http://ceritaeka.com/"&gt;Eka&lt;/a&gt; meluncur ke Cibinong untuk bertemu &lt;a href="http://cucuharis.wordpress.com/"&gt;Aa Achoey&lt;/a&gt;, sang penggagas Mie Janda itu. Bagiku hari itu terasa menyenangkan. Pertama, hari itu aku bertemu dua orang blogger lain yang baru kukenal: Eka dan Aa Achoey. Aku pernah mengunjungi blog mereka. Tapi seingatku belum pernah meninggalkan jejak di sana deh. Hehehe. Kedua, setelah menikmati Mie Janda, aku mengunjungi Taman Safari lagi (setelah sekian belas tahun lamanya). Ketiga, aku bertemu lagi dengan teman asramaku dulu, Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, hari itu rasanya waktu berjalan begitu cepat. Pertemuan dengan teman-teman baru dan seorang teman lama memberikan suatu kenangan menyenangkan tersendiri bagiku. Kesanku, teman-teman blogger ini unik. Biarpun baru pertama kali bertemu, tak jarang kami sudah bisa mengobrol dengan cukup enak. Kecanggungan karena pertama kali bertemu biasanya mudah mencair. Mungkin itu karena kami sudah biasa saling membaca tulisan di blog. Dan malamnya, setelah mengantar Mbak Imelda pulang ke rumahnya, aku melanjutkan obrolan di mobil bersama Eka. Hey, ternyata kami bisa mengobrol panjang lebar loh! Hehehe. Asyik juga :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalamanku beberapa minggu kemarin sekarang aku berpikir begini: Biarpun aku tak punya teman sekantor yang bisa diajak ngobrol, itu tak masalah ... selama masih bisa ngeblog dan kopdar! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Foto diambil dari akun FB Mbak Imelda. Maklum, ndak punya kamera sendiri, jadi ya nunut dipotretin aja :p&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-13190629061726969?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/13190629061726969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=13190629061726969' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/13190629061726969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/13190629061726969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/tidak-masalah-tak-punya-teman-sekantor.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SpJbpG4Di4I/AAAAAAAAAE4/mG1o2lZN04k/s72-c/mi+janda4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1371593330489259337</id><published>2009-08-19T19:37:00.000-07:00</published><updated>2009-08-19T20:12:30.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pijat tunanetra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madiun'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Soy7ICmudII/AAAAAAAAADo/8kVwaSneSTg/s1600-h/pak+wahyo.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Soy7ICmudII/AAAAAAAAADo/8kVwaSneSTg/s320/pak+wahyo.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371874202358805634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pak Wahyo: Pemijat Tunanetra yang Ceria&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Pak Wahyo. Aku tidak tahu nama lengkapnya, tapi begitulah ayahku menyebutnya. Perkenalanku dengannya dimulai ketika suamiku (waktu itu masih pacar sih) datang ke rumahku di Madiun dan dia mengeluh badannya pegal-pegal karena capek selama di perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pengin pijit," katanya.&lt;br /&gt;"Wah, pijit ke mana ya? Aku tidak punya tukang pijit langganan," jawabku.&lt;br /&gt;Waktu aku masih kecil, aku memang biasa dipijit oleh tetanggaku. Tetapi setelah sudah agak besar, aku tidak pernah pijit lagi. Lagi pula, waktu aku masih kecil, tukang pijit itu sudah tua. Kalau dulu saja sudah tua, jangan-jangan sekarang mbah pijit itu sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, tapi tunggu sebentar, seingatku Bapak punya langganan tukang pijit. Aku tanyakan ya," kataku lagi. Dan benar, Bapak lalu memberiku nomor telepon Pak Wahyo. Aku langsung menelepon dan membuat janji untuk pijit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, pagi-pagi, kami bersepeda mencari rumah Pak Wahyo sesuai dengan ancer-ancer yang sudah diberikan oleh Bapak. Rumah Pak Wahyo terletak di ujung gang yang penghuninya cukup padat. Rumah tanpa halaman itu itu tampak kecil sekali dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Aku tak tahu berapa ukuran rumahnya, tetapi begitu kami memasuki rumah itu, rumah itu jadi terasa sangat penuh. Padahal, kami cuma datang berdua. Selain ranjang untuk memijit pasien, di ruangan depan rumah itu hanya ada satu kursi dan meja plastik. Di atasnya ada sebuah tape dan kipas angin tua. Sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayanganku tentang Pak Wahyo sangat berbeda dengan kenyataannya. Kupikir dia orang yang tidak banyak bicara dan kaku, tetapi ternyata tidak lo. Dia sangat ramah dan pandai bercerita! Bahkan menurutku dia pandai melucu. Ada saja yang dia ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memijit, dia bercerita panjang lebar bagaimana dia bisa buta dan akhirnya menjadi tukang pijit seperti sekarang. Rupanya dia tidak terlahir sebagai tuna netra. Waktu masih kecil dia sakit panas dan akhirnya membuat dia menjadi buta. Awalnya dia sangat frustrasi. Dia kesal kenapa hidupnya jadi seperti itu, bahkan dia sempat berusaha untuk bunuh diri. Tetapi teman-temannya datang menghibur sehingga ia mengurungkan niatnya. Suatu kali ia mendapat "penglihatan". Entah bagaimana, ia merasa ada seorang pria mendatanginya lalu mengatakan supaya ia jangan takut dan jangan putus asa; pasti akan ada jalan dan pertolongan. Sim salabim! Sejak "kedatangan lelaki misterius" itu semua pemikiran negatif dalam benak Wahyo kecil itu sirna. Akhirnya ia bersekolah SLB dan kemudian melanjutkan sekolah untuk menjadi pemijat profesional. Katanya, orang buta lebih peka sehingga lebih bisa mendeteksi bagian yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wahyo mengatakan dia tak ingin dikasihani. Maka, dia suka "menjajal" keberanian. Dia bahkan berani lo pergi ke luar kota tanpa teman dengan naik bus! Dia hanya yakin, pasti akan ada orang yang menolong. Benar saja, selama perjalanan hidupnya, ada banyak orang yang menolongnya tanpa disangka-sangka. Misalnya, waktu dia naik bus, ia bertemu dengan temannya semasa SD yang kemudian menolongnya. "Nah, jadi saya ndak pernah takut, Mbak. Tuhan pasti memberi pertolongan. Benar itu!" begitu katanya dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sehari, Pak Wahyo bisa memijat 3-4 orang. Sekali memijit, dia mendapat uang sekitar Rp 30.000,00. (Aku tak tahu tarifnya sudah naik atau belum.) "Selalu saja ada orang yang datang atau meminta saya datang," tambahnya. Dalam memijit Pak Wahyo tidak berpatokan pada waktu. Tetapi rata-rata 1,5-2 jam. Dia baru selesai memijit jika semua otot si pasien sudah lemas, atau bisa dibilang, dia memijit sampai tuntas. Bahkan jika si pasien tertidur, dia tak membangunkannya. Dia ingin si pasien puas dengan pelayanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan dengannya aku tahu bahwa Pak Wahyo kini sudah menjadi duda. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu karena kanker. "Padahal sudah saya pijitin tiap hari lo, Mbak," ujarnya. "Tapi kata dokter sudah stadium lanjut. Jadi ya sudah tidak bisa tertolong lagi." Mataku mendadak berkaca-kaca mendengar ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langganan Pak Wahyo bervariasi, mulai dari orang biasa sampai para pejabat dan pelaku bisnis. Tak jarang ada pelanggannya yang mau mengajaknya ke kota besar dan hendak memfasilitasi Pak Wahyo untuk membuka panti pijat yang lebih besar. "Tapi saya tidak mau, Mbak," katanya. "Saya di sini saja. Lebih bebas. Tidak perlu ikut orang." Dan kulihat hidup Pak Wahyo itu cukup menyenangkan. Jika tak ada pasien, tak jarang dia pergi ke toko kaset untuk membeli kaset-kaset lagu lama kesukaannya. Banyak lo koleksi kasetnya, dan dia hapal semua lagu sekaligus penyanyi aslinya. Dia memang hobi menyanyi dan dulu ada sebuah stasiun radio di mana ia bisa bernyanyi di situ. Di dinding rumahnya juga kulihat ada foto dia sedang bernyanyi di atas panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kalau kami pulang ke Madiun, suamiku merasa belum lengkap jika belum dipijit Pak Wahyo. Aku pun dengan senang hati mengantarkannya karena sembari memijit suamiku Pak Wahyo akan banyak bercerita. Dan ceritanya yang lucu-lucu itu menyegarkan hati lo! Tak percaya? Coba saja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1371593330489259337?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1371593330489259337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1371593330489259337' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1371593330489259337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1371593330489259337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/pak-wahyo-pemijat-tunanetra-yang-ceria.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Soy7ICmudII/AAAAAAAAADo/8kVwaSneSTg/s72-c/pak+wahyo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7578095066113546093</id><published>2009-08-10T00:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-12T10:19:53.617-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengeboman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teroris'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Memburu Teroris, Melawan dengan Kata-kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini hampir setiap malam aku dan suamiku berburu nyamuk. Entah mengapa semakin malam, semakin banyak nyamuk yang datang. Padahal kalau siang bisa dikatakan tempat tinggal kami hampir tak ada nyamuk. Tapi begitu hari mulai gelap, suara denging nyamuk plus gigitannya itu mengganggu sekali. Bekal kami adalah raket listrik untuk menyetrum nyamuk. Dan rasanya kami senang sekali mendengar suara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;PLETAK ...!&lt;/span&gt; diiringi bau nyamuk yang terbakar karena kesetrum. Lebih senang lagi kalau kami dapat nyamuk yang perutnya buncit berisi darah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hhh, mati lu!&lt;/span&gt; Rasakan pembalasanku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kupikir-pikir sebenarnya lebih baik mendapatkan nyamuk yang masih kurus. Kenapa? Soalnya, nyamuk kurus itu kan belum sempat menggigitku. Jadi, bisa dikatakan itu tindakan preventif alias lebih baik mencegah gigitan nyamuk daripada mengobati bentol-bentol gatal karena gigitan nyamuk. Dan yang lebih bagus lagi adalah jika kita bisa membasmi sarang nyamuk, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uget-uget&lt;/span&gt; atau jentik nyamuk yang masih tidak berdaya itu. Pencegahan itu sebenarnya sudah kulakukan dengan menaburi bak mandi dengan Abate dan memasang kasa nyamuk. Tapi tetap saja masih ada nyamuk nakal yang berhasil menerobos rumah. Huh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan nyamuk nakal itu mengingatkanku pada perburuan teroris yang punya hobi mengebom dan mencelakakan orang lain. Hobi yang aneh, ya? Tapi mau bagaimana lagi? Mereka masih saja ada. Biar beberapa kali sudah dilakukan penggrebekan di rumah-rumah yang ternyata menyimpan bom itu, kaum teroris itu masih gentayangan seperti drakula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sabtu lalu (8/8/09) aku sempat menyaksikan di televisi acara penggrebekan rumah di Temanggung itu. Tapi aku tidak menyaksikan sampai habis dan aku sering mengganti-ganti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;channel &lt;/span&gt;untuk melihat Bara Patirawajane yang dengan lihainya memasak. Enak bener. Saat melihat acara penggrebekan di Temanggung itu aku sempat berpikir, kok kalau dipikir-pikir, kok rada aneh ya menggrebek sarang teroris dengan persenjataan lengkap? Lah lalu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, menurutku perburuan teroris itu tak selamanya bisa dilakukan dengan mengandalkan senjata. Bagaimanapun alasan mengapa mereka melakukan pengeboman itu sarangnya ada di dalam otak dan hati mereka. Sekarang mari kita bandingkan dua tindakan ini:&lt;br /&gt;1. Apa yang membuat kita langsung menarik tangan saat jari kita terkena panasnya api? Karena kita tak ingin terluka. Itu adalah gerak refleks--gerakan yang tidak membutuhkan perenungan atau pemikiran.&lt;br /&gt;2. Apa yang membuat kita pergi ke bank dan menyisihkan gaji kita untuk ditabung? Karena kita sadar bahwa mungkin ada kebutuhan tak terduga di masa mendatang atau untuk jaminan hari tua kita. Tindakan ini membutuhkan suatu kesadaran dan pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas kan apa yang mendasari kita bertindak? Yang satu karena biologis, yang satu lagi karena pertimbangan dan pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang mengapa para teroris itu mengebom? Itu kurasa karena apa yang tersimpan di dalam pikiran mereka mendorong untuk melakukan itu. Sebenarnya yang tersimpan di dalam pikiran manusia bentuknya adalah kata-kata. Kata-kata itu bisa muncul karena pengalaman kita sendiri atau orang lain; karena kita melihat, mendengar, merasakan, atau membaca sesuatu. Jadi, sebenarnya awalnya adalah kata-kata yang bergema di dalam kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu persis apa yang bercokol di kepala para teroris yang tega melakukan pengeboman itu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aneh juga kenapa mereka sampai tega melakukan hal itu. Coba pikir, saat kita tidak terdesak atau hidup kita tidak berada di ujung tanduk, kita pasti tidak akan melakukan hal-hal yang bisa mencelakakan orang lain, kan? Berbeda dengan orang yang sedang berhadapan dengan maling lalu dia melihat pisau, maka dia mungkin bisa menusukkan pisau itu. Jadi kalau mereka tega mengebom, mungkin mereka merasa keberadaan mereka terdesak, dan karena itu harus menghabisi musuh. Siapa musuhnya? Katanya sih orang kafir. Tentu kafir menurut mereka, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi kupikir kalau kita hendak memberantas teroris, sebenarnya itu bisa dilakukan dengan beradu argumentasi dengan mereka. Atau, dengan kata lain, ubahlah isi kepala mereka. Dan semua itu amunisinya adalah kata-kata--bisa dalam bentuk lisan atau tulisan. Jika isi kepala mereka bisa diubah, kurasa pengeboman itu bisa dikurangi banyak. Rasanya ini seperti memberantas sarang nyamuk, yaitu menghilangkan bibit permusuhan sebelum dia berkembang menjadi pemikiran yang mengerikan dan membuat kita semua celaka. Lebih baik mencegah (dengan kata-kata) daripada mengobati (korban bom).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7578095066113546093?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7578095066113546093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7578095066113546093' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7578095066113546093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7578095066113546093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/memburu-teoris-melawan-dengan-kata-kata.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-9164088993451797850</id><published>2009-08-08T10:37:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T01:33:09.576-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Serpihan dari Film 3 Doa 3 Cinta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton film selalu membuat pikiranku berkelana. Begitu pula ketika aku menonton film &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 Doa 3  Cinta&lt;/span&gt; ini. Sudah lama aku dan suamiku mengincar film ini untuk kami tonton bersama. Seingatku film ini tayang di bioskop sekitar tahun baru lalu. Tapi rupanya film ini tidak terlalu lama tayangnya dan kami ketinggalan menontonnya. Jadi, akhirnya suamiku kemarin membeli DVD-nya dan kami baru menonton tadi (8/8/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini mengangkat kisah kehidupan para santri di pesantren tradisional. Bagi aku seorang nonmuslim, penggambaran kehidupan mereka itu menarik. Aku belum pernah melihat secara langsung kehidupan di dalam pesantren. Dan film itu memperkaya pemahamanku tentang kehidupan teman-teman muslim--terutama yang pernah menjadi santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini mengingatkanku tentang keluarga besarku, tentang pengalamanku kemarin sore, dan tentang kejadian akhir-akhir ini. Tiga hal itu rasanya menempel begitu kuat tatkala menyaksikan adegan demi adegan di film itu. Hmmm ... begini ceritanya ... sebenarnya aku sudah lama ingin menuliskan keberagaman di dalam keluarga besarku. Keluarga besarku mayoritas muslim (dan menurut yang kulihat, ada yang abangan dan ada yang tidak). Lalu ada juga yang menganut aliran kepercayaan. Dan ada pula yang Kristen. Keluargaku sendiri beragama Katolik. Oleh karena itu, aku sudah biasa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama denganku. (Dalam tulisan ini aku tidak akan membahas bagaimana keluarga besarku bisa terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, aku sengaja menginap di rumah Tante di Pondok Aren. Sebenarnya ini adalah alasan praktis untuk memfasilitasi keinginan suamiku sih. Karena tempat tinggal kami cukup jauh dari tempat berlangsungnya acara itu, kami memilih menginap di rumah Tante yang rumahnya relatif lebih dekat dari Pondok Indah. Kemarin suamiku ingin ikut acara di masjid Pondok Indah. Dia bilang dia ingin ikut acara pengajian di sana. Loh? Rupanya pengajian yang dimaksud berasal dari kata kaji, yang artinya di sana akan diadakan pembahasan suatu topik. Kali ini topik yang diangkat adalah bedah buku terbitan Serambi. Aku lupa apa judul bukunya. Yang jelas, tema yang dibahas kemarin adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Agama-agama Ibrahimi: Titik Temu dan Titik Seteru antara Yahudi, Kristen dan Islam”.&lt;/span&gt; Pembahasnya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pdt. Dr. Stanley R. Rambitan (Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer (Dosen UIN Jakarta).&lt;/span&gt; Soal bagaimana pembahasannya, tanya langsung pada suamiku ya! Hehe. Wong aku tidak ikut acaranya :p Tapi dari ceritanya sih, acaranya bagus. Diskusinya bisa mendalam dan masing-masing pihak bisa berdiskusi dengan kepala dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ceritanya suamiku langsung menuju masjid Pondok Indah sepulangnya dari tempat kerja, sedangkan aku ikut mobil Tante. Tanteku ini muslim. Lalu karena hendak menjemput anaknya yang sekolah di Al-Azhar serta sudah waktunya sholat maghrib, kami pun berhenti di masjid agung. "Tante nanti sholat dulu ya," kata Tante. Dan ketika turun dari mobil, Tante mengajakku. Oh, Tante tentu tidak mengajakku untuk sembahyang bersamanya. Tetapi daripada aku sendirian di dalam mobil, lebih baik aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"mengintil"&lt;/span&gt; dia dan aku pun duduk-duduk di undak-undakan depan pintu masjid. Saat itulah aku teringat peristiwa ketika aku dan kakakku menikah. Waktu acara pemberkatan nikah di gereja, om, tante, pakde, budeku yang beragama lain ikut masuk ke dalam gereja dan memberikan doa restu. Aku tak tahu bagaimana pandangan orang lain ketika melihat di dalam gereja ada saudara-saudaraku yang mengenakan pakaian muslim ikut masuk. Bagiku tidak masalah. Dan aku bangga kepada mereka karena kesediaan mereka untuk itu. Lagi pula, seekor burung yang masuk ke kandang ayam, tidak otomatis menjadi ayam, bukan? Begitu pula, orang non-Katolik yang masuk ke dalam gereja tidak akan otomatis membuat mereka menjadi Katolik. Dan kali ini akulah yang ikut Tante ke masjid. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke film 3 Doa 3 Cinta tadi. Di film itu digambarkan tentang dua macam kyai. Yang satu aliran fundamentalis garis keras, yang satu lagi Kyai Wahab yang mengajarkan toleransi serta menghargai agama dan budaya lain. Lewat film ini, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nurman Hakim&lt;/span&gt; selaku sutradara, penulis skenario, dan produser hendak mengatakan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memiliki pendirian seperti Kyai Wahab. Aku sendiri percaya akan hal itu, mengingat kebersamaan seperti yang aku rasakan dalam keluarga besarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini Hotel JW Marriot terkena bom lagi. Menyedihkan memang. Aku tak tahu ada berapa banyak orang yang lalu menuding umat Islam berada di balik pengeboman ini. Aku sendiri berpikir kurasa mayoritas umat Islam di Indonesia tak akan suka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;digebyah uyah, &lt;/span&gt;atau disamaratakan sebagai pengikut aliran yang suka mengebom itu. Lagi pula, agama mana sih yang mengatakan membunuh orang lain adalah baik? Jadi bagaimana? Kurasa untuk menyikapi hal-hal yang merusak kesatuan Indonesia, kita semua--apa pun agamanya dan kepercayaan--perlu bergandengan tangan untuk mempererat persaudaraan. Aku percaya, orang yang benar-benar beriman akan lebih bijak dan bisa saling memahami orang yang berbeda. Hmm ... bagaimana menurutmu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-9164088993451797850?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/9164088993451797850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=9164088993451797850' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/9164088993451797850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/9164088993451797850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/serpihan-dari-film-3-doa-3-cinta.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2325002933188706562</id><published>2009-08-05T08:51:00.000-07:00</published><updated>2009-08-06T23:04:00.617-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SnvDGzbCxVI/AAAAAAAAADg/d4vMrYKAdIM/s1600-h/membatik2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SnvDGzbCxVI/AAAAAAAAADg/d4vMrYKAdIM/s200/membatik2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367097902592345426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar Membatik di Museum Tekstil Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari belakangan ini aku pengen banget menyepi. Ya, betul-betul pergi ke tempat yang cukup sunyi, terlepas dari hiruk-pikuk ibu kota ini. Rasanya capek betul mendengar kebisingan yang sepertinya jamak sekali kujumpai di Jakarta: bunyi lalu lalang penjual makanan yang lewat di depan rumah, para pemakai jalan yang rajin membunyikan klakson, orang-orang yang terus berbincang. Jakarta memang gaduh. Tapi di Jakarta ini, biar sudah mengumpet di dalam rumah, tetap saja aku bisa mendengar hiruk-pikuknya Jakarta dari balik jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ke mana aku bisa menyelamatkan kupingku dari polusi suara itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu lalu (5/8/09) aku menemukan salah satu tempatnya, yaitu di Museum Tekstil. Museum itu memang terletak di daerah yang cukup ramai. Tapi begitu masuk ke pelatarannya, suasana luar yang hiruk pikuk itu rasanya langsung teredam oleh banyaknya pepohonan, halaman yang luas, dan suasana khas bangunan tua. Rasanya seperti bukan berada di Jakarta! Sebenarnya aku ke sana setelah janjian dengan &lt;a href="http://imelda.coutrier.com/"&gt;Mbak Imelda&lt;/a&gt; sih. Kalau tidak, barangkali setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, aku ya tidak akan sampai ke sana. Dia dan dua anaknya, Riku dan Kai akan berkunjung ke sana. Jadi, mumpung ada teman, sekalian saja aku ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku tak tahu di mana letak Museum Tekstil itu. Dan mulailah aku bertanya ke temanku yang sudah lama tinggal di Jakarta. Tapi apa jawabnya? "Museum Tekstil? Mana itu?" Gubrak! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Welhadalah&lt;/span&gt;, dia sudah sepuluh tahun tinggal di Jakarta tapi tidak tahu letak Museum Tekstil. Ah, Jakarta memang terlalu luas. Dan banyak warga Jakarta yang tidak tahu tentang museum dan tempat-tempat semacam itu. Apalagi pendatang kaya aku yang lebih banyak tinggal di rumah daripada keliling Jakarta? Ya jelas tak tahulah. Dan rupanya ... Mbak Imelda yang besar di Jakarta juga tidak tahu tempatnya. Hi hi. Jadi, daripada kesasar tidak karuan, lebih baik aku menunggu mereka di depan Diknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah di dalam taksi, kami meminta pak supir mengantarkan ke tempat yang dituju. Tapi ternyata supir taksi itu pun tidak tahu di mana letak Museum Tekstil. Duh! Orang buta menuntun orang buta deh. Yang kami tahu museum itu letaknya di Jl. K.S Tubun 2, Tanah Abang. Tapi di mana tepatnya, yaaa ... mene ketehe? Agak menyesal juga kenapa aku tidak membawa peta milik suamiku. Tapi supir taksi itu cukup pintar juga dalam mencari info. Dia bertanya ke penjual handuk di pinggir jalan, dan mengantarkan kami ke sana tanpa perlu kesasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taraaa...! Akhirnya sampailah kami ke sebuah bangunan tua yang cukup besar dan berhalaman luas dengan beberapa pohon cukup tinggi. Lalu kami pun mulai menjelajahi museum. Tapi sayang koleksi di sana sedikit sekali. Aku agak kurang bisa menikmati suasana dalam museum karena di dalam ruangan itu kesanku baunya apek. Sebenarnya aku lumayan suka bangunan tua, tetapi kalau baunya apek, aku jadi malas. Hmmm ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat-lihat koleksi museum, kami menuju bangunan kayu yang berada di bagian belakang museum untuk membatik. Yuuhuuu! Akhirnya kesampaian juga aku untuk berlatih membatik. Selama ini aku hanya pernah melihat orang membatik, tapi belum pernah benar-benar memegang canting dan menorehkan malam panas di atas kain. Awalnya Riku dan aku saja yang akan membatik. Tapi rupanya ketika melihat kami asyik menggambar di atas kain, Mbak Imelda jadi tertarik juga. Sebenarnya aku sudah berpikir, nanti kalau kami bertiga membatik, siapa yang menemani Kai? Kai masih terlalu kecil untuk ikut membatik. Aku berharap dia tidak bosan menunggui kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami selesai menggambar pola gambar di atas kain kira-kira selebar sapu tangan, mbak petugas museum menerangkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;do and don'ts &lt;/span&gt;saat membatik. Yang agak repot adalah ketika si mbak hendak menerangkan pada Riku yang lebih fasih berbahasa Jepang daripada berbahasa Indonesia. Dan karena aku tidak tahu seberapa banyak kosakata bahasa Indonesia yang diketahui Riku, aku mengatakan supaya menunggu Mbak Imelda saja untuk membantu menjelaskan ke putra tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, mulailah kami membatik. Asyik banget. Mungkin karena gambar pola yang kupilih cukup mudah ya, jadi rasanya gampang-gampang saja. Sembari membatik aku tanya-tanya ke mbak petugas yang ternyata lulusan ISI Jogja. Rupanya di situ banyak juga yang tertarik belajar membatik. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tidak jarang ada serombongan anak SD yang belajar membatik bersama-sama di situ. Lalu, saat kami di situ, datang tiga (atau dua ya?) orang turis Jepang yang ingin belajar membatik. Untuk membatik di atas kain kira-kira selebar sapu tangan, kita cukup membayar Rp 35 ribu rupiah (itu sudah termasuk harga karcis museum). Kalau untuk membatik kain panjang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jarik&lt;/span&gt;), biayanya Rp 200 ribu rupiah. Untuk membatik, ukurannya bukan waktu, tapi lebar kainnya. Jadi, kalau mau membatik untuk kain panjang, tak harus selesai satu hari. Selain itu di sana bisa belajar membuat gerabah juga katanya si mbak petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selesai, Mbak!" kataku setelah semua garis kuberi malam. Tapi ternyata si mbak mengatakan, "Bagian belakangnya juga diberi lilin. Sama persis dengan yang bagian depannya, ya!" Aih ... rupanya aku baru setengah jalan to. Dan membubuhi lilin di sisi belakang ini lebih sulit, karena harus sama persis dengan yang bagian belakang. Ugh, capek juga ya. Mungkin karena sudah agak capek, lilin panas itu sempat tumpah dan kena jari telunjukku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wew!&lt;/span&gt; Panas banget! Mbak petugas museum segera memberiku salep untuk luka bakar. Aku berharap cuma aku yang mengalami kecelakaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eee ... tapi rupanya Mbak Imelda "ketiban sampur" juga. Karena Kai bosan dia mendekati mamanya yang sedang memegang canting. Entah bagaimana malam panas itu melayang dan mengenai kelopak mata kiri Mbak Imelda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mak tratap! &lt;/span&gt;Jantungku sepertinya mau lepas saat melihat kejadian itu. Dan aku mendadak bengong tak tahu mesti bagaimana. Tapi untunglah petugas di museum itu cukup sigap, dan langsung memberikan salep untuk luka bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah kami selesai membubuhkan malam, dimulailah proses pewarnaan. Kali ini yang melakukan proses itu adalah mbak petugas dari museum. Jadi, kami hanya menonton saja hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, kalau ingin tahu lebih banyak soal Museum Tekstil ini, Mbak Retty Hakim sudah menuliskannya agak panjang &lt;a href="http://khazanahpikir.blogspot.com/2009/03/textile-museum-forgotten-jewel-of-tanah.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Foto di atas diambil oleh Mbak Imelda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2325002933188706562?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2325002933188706562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2325002933188706562' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2325002933188706562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2325002933188706562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/belajar-membatik-di-museum-tekstil.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SnvDGzbCxVI/AAAAAAAAADg/d4vMrYKAdIM/s72-c/membatik2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8714663747453862030</id><published>2009-08-03T20:05:00.001-07:00</published><updated>2009-08-08T00:02:21.848-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='public enemies'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melvin purvis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SneqEt0DJnI/AAAAAAAAADY/MRnPCxIsJKA/s1600-h/bale.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 93px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SneqEt0DJnI/AAAAAAAAADY/MRnPCxIsJKA/s320/bale.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365944479029339762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Merindukan (Kepemimpinan A la) Purvis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang membuatku mengatakan iya ketika suamiku bertanya, "Mau nonton Public Enemies, nggak?" Aneh. Biasanya aku malas sekali menonton film yang penuh adegan tembak-tembakan. Aku tidak tertarik melihat darah berceceran yang sering muncul di dalam film semacam itu. Dari judulnya saja sudah jelas bakal ada adegan tembak menembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena Jonny Deep menunjukkan aksinya di film ini? Ah tidak juga. Aku bukan penggemar berat Jonny Deep. Iya, iya dia memang cakep, tapi bukan seleraku banget hihi. (Kayak dia mau sama aku aja :p) Yah, pokoknya tiba-tiba aku pengin nonton saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, senin sore itu aku nonton bersama suami dan dua orang teman kami. Dan bisa ditebak, aku yang lebih suka menonton film animasi, merinding ketika menonton film itu. Adegan tembak-tembakannya itu lo, mantep banget. Saking mantepnya, membuatku beberapa kali harus menutup mata kalau melihat darah sudah mulai berleleran. Dooooh ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, aku tidak akan mengulas film Public Enemies ini. Kalau mau tahu review-nya, lebih baik baca di &lt;a href="http://semuareview.wordpress.com/2009/07/28/public-enemies/"&gt;sini&lt;/a&gt; saja. Suamiku sudah menuliskannya dengan baik. Hehehe. (Ni, ini aku promosiin blogmu lagi nih!) Di film ini yang mengesankan bagiku adalah penampilan Christian Bale. Gile, cakep! Yang cakepnya kaya gini nih, yang termasuk seleraku. Dan dia memerankan Melvin Purvis, agen FBI yang tugasnya memang mengejar John Dillinger yang licin bak belut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya C. Bale terlalu tinggi untuk memerankan Purvis. Soalnya pas aku membuka-buka &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Melvin_Purvis"&gt;arsipnya om Wiki&lt;/a&gt;, Purvis ini ternyata "pendekar" alias pendek kekar. Tapi tak apalah, untuk memanjakan mata penonton seperti aku, C. Bale itu sangatlah menghibur. Hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ceritanya aku ini terinspirasi sekali oleh gaya kepemimpinan Melvin Purvis. Di awal kepemimpinannya, ada anak buahnya yang tewas saat mengendus jejak gerombolan Dillinger. Lalu, dia tanpa ragu mengakui bahwa dia tidak sanggup menangkap Dillinger jika tanpa dukungan anak buah yang bisa diandalkan. Dia mengatakan lebih baik mundur daripada menyerahkan anak buahnya satu per satu tewas disosor peluru dari gerombolan Dillinger. Aku mengacungkan jempol untuk kerendahan hatinya mengakui kelemahan. Tidak ada ceritanya tuh dia memarahi anak-anak buahnya untuk menutupi kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, yang aku salut banget adalah ketika ia menegur anak buahnya karena memperlakukan pacar Dillinger dengan kejam sampai-sampai perempuan cantik itu tidak sanggup jalan ke toilet. Tahukah kalian apa yang dilakukannya ketika Frechette dengan terbata-bata berkata, "Aku tak sanggup berjalan...."? Purvis itu menggendongnya! Tak ada kesan dia ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyentuh perempuan cantik itu, tapi semata-mata karena begitulah seharusnya memperlakukan wanita. Meskipun dia termasuk dalam komplotan penjahat, tapi tidak boleh ditampar dan dipukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika timnya sedang baku tembak dengan gerombolan Dillinger di Litte Bohemia. Waktu mengejar gerombolan Dillinger yang kabur, Purvis berdiri di sebelah luar mobil yang membawanya sambil terus menembak. Dia tidak masuk dan bersembunyi di dalam mobil. Di adegan itu aku melihat dia memang pemberani, dia seolah-olah mengatakan, "Aku akan melindungi anak buahku." Di situ dia juga menunjukkan bahwa dia percaya pada anak buahnya yang menyetir mobilnya. Bayangkan jika anak buahnya kurang terampil menyetir, salah-salah Purvis-lah yang kena sasaran tembak kelompok Dillinger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku kagum pada Purvis. Dan aku merindukan kepempimpinan seperti itu. Kapan ya aku punya pemimpin yang seganteng dan secerdik Purvis? :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8714663747453862030?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8714663747453862030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8714663747453862030' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8714663747453862030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8714663747453862030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/08/merindukan-kepemimpinan-la-purvis-entah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SneqEt0DJnI/AAAAAAAAADY/MRnPCxIsJKA/s72-c/bale.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4467224991921811229</id><published>2009-07-26T21:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T06:55:06.692-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Madiun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='macet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah dasar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nostalgia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='masa kecil'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belajar Mandiri dengan Pulang Sekolah Sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta ini aku adalah salah satu pengguna transportasi publik. Itu istilah kerennya dari angkot sebenarnya hehe. Berhubung aku tidak bekerja kantoran, aku hampir tidak pernah naik angkot di pagi hari. Tapi suamiku yang seringnya berangkat kerja ketika matahari masih malu-malu menampakkan kegarangannya, tahu betul apa bedanya naik angkot di masa liburan sekolah anak-anak dan masa sekolah seperti ini. Katanya sih, begitu anak-anak masuk sekolah, jalanan Jakarta pada pagi hari lebih padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu sih, kalau naik metromini di siang hari jam bubaran anak sekolah, seputaran Jalan Pemuda dekat SD Tarakanita dan Labschool biasanya memang macet. Kendaraan yang lewat di situ serasa merayap. Kepadatan itu disebabkan anak-anak sekolah yang sudah pulang menghambur di pinggir jalan untuk membeli jajan di beberapa penjual makanan depan sekolah, plus banyaknya kendaraan yang parkir di depan sekolah. Sepertinya itu kendaraan para penjemput anak-anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat anak-anak yang sedang bubaran sekolah itu mau tak mau mengingatkan aku ketika masih sekolah dulu. Aku tak ingat, kapan aku mulai pulang sekolah sendiri. Mungkin mulai kelas 3 SD, atau malah kelas 2 SD ya? Yang jelas, ketika masih TK dan kelas 1 SD, aku masih dijemput oleh orang2 rumah; entah itu saudara yang tinggal di rumahku atau Bapak. Yang aku ingat, di hari ketika aku mulai pulang sekolah sendiri, aku diberi uang untuk naik becak. Dulu, ongkos becak dari sekolah ke rumah cuma tiga ratus rupiah. Kalau sekarang sih mungkin sudah naik jadi sekitar lima ribu. Jarak dari sekolah ke rumah mungkin sekitar 1,5-2 kilometer. Kalau jalan kaki paling lama 30 menitan lah. Nah, waktu itu uang tiga ratus rupiah itu banyaaak banget. Harga jajanan waktu itu hanya 25 rupiah, jadi kalau sehari dapat uang saku 50 rupiah saja, itu sudah cukup. Kalau mau jajan agak mewah, 100 rupiah cukup deh. Jadi, kalau 300 rupiah, itu sudah bisa jajan banyaaaak banget. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, ada seorang tukang becak yang wajahnya sudah cukup familier bagiku, dan aku kadang naik becaknya. Biarpun sudah cukup kenal, aku kadang masih tanya berapa ongkos becak ke rumah, dan kadang menawar. (Hihi, lucu juga ya kalau membayangkan aku yang masih kelas 2 SD menawar becak.) Tapi bisa dibilang aku jarang sekali pulang sekolah naik becak.Ya, seingatku aku lebih sering jalan kaki pulang ke rumah. Rasanya senang bisa berhemat dengan tidak naik becak. Dengan begitu, siangnya aku bisa jajan di warung depan rumah hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kupikir-pikir, aku kok berani ya pulang sendiri waktu itu? Untuk ukuran anak kecil dan ukuran warga di kotaku, jarak antara sekolahku (SD) dan rumahku itu cukup jauh. Mungkin itu karena aku merasa aman di kotaku, ya? Lagi pula, di kota sekecil Madiun, tak ada bus kota yang suka ngebut dan tentunya tak ada kemacetan. Aku cukup berani menyeberang Jalan Pahlawan yang cukup lebar itu. Sendiri loh! Soalnya kebanyakan temanku dijemput. Dan tak ada teman yang rumahnya searah denganku. Waktu itu biasanya aku berjalan kaki lewat jalan yang cukup sepi dan teduh, kadang lewat gang-gang kecil yang kukenal. Kadang ada beberapa becak yang menawari supaya aku naik becak, tapi aku lebih suka menggeleng dan meneruskan langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara jalan kaki pulang sekolah itu berakhir ketika aku naik kelas 4 SD. Ketika duduk di kelas 4 aku sudah bisa naik sepeda. Jadi, berangkat dan pulang sekolah, aku naik sepeda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta ini, aku jarang bertemu anak SD yang pulang sekolah sendiri dengan naik angkot. Biasanya yang sudah berani pulang sekolah naik angkot sendiri adalah anak SMP. Anak SD masih banyak yang diantar jemput oleh orang tuanya atau ikut mobil antar jemput. Mungkin itu karena orang tua mereka tidak tega membiarkan anak mereka menyusuri lalu lintas Jakarta yang ganas ini seorang diri. Belum lagi tampaknya isu tentang penculikan anak juga masih ada saja. Btw, waktu itu aku kok nggak kepikir bakal diculik ya? Halah, lagian siapa yang mau menculik bocah kurus dan hitam kaya aku ini? Hihi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4467224991921811229?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4467224991921811229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4467224991921811229' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4467224991921811229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4467224991921811229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/belajar-mandiri-dengan-pulang-sekolah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-6603187828107772894</id><published>2009-07-22T21:54:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T22:39:27.700-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sampah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku yang Mubazir?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu naskah terjemahan yang paling aku sukai adalah buku cerita anak. Sebenarnya itu karena aku suka melihat gambarnya yang bagus-bagus, sih. Mungkin juga karena aku belum kesampaian menulis buku cerita untuk anak. Hehehe. Jadi, ya setidaknya menerjemahkan buku anak-anak dulu deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku mendapatkan buku cerita anak yang membahas sampah dan daur ulang sampah. Di situ diceritakan pertama-tama sampah dipilah lalu setelah itu dilakukan daur ulang sesuai dengan jenisnya. Penjelasannya juga sangat mudah dipahami bagi anak-anak. Apalagi dengan adanya gambar-gambar yang lucu-lucu itu, kurasa anak-anak bakal senang membacanya. Pokoknya  keren deh! Sayangnya, buku itu adalah buatan orang dari negara yang berada nun jauh di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa kalau itu buku impor? Bagiku, hal itu bermasalah. Bukan ... bukannya mau bilang isi buku jelek. Buku itu bagus kok. Dan memang seharusnya begitu. Masalahnya, di Indonesia kan tidak seperti itu. Masyarakat membuang sampah tanpa memilahnya terlebih dahulu. Paling-paling yang memilah justru para pemulung yang dengan rajinnya mengaduk-aduk bak sampah. Kalau begitu, bagaimana anak-anak akan menerapkan apa yang sudah dibacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku mengatakan hal tersebut kepada editor yang memberiku buku terjemahan itu. "Mbak, buku-buku tentang sampah dan daur ulang itu bagus. Tapi sepertinya anak-anak akan kesulitan untuk menerapkannya," kataku.&lt;br /&gt;"Iya sih. Tapi ya semoga anak-anak itu kalau sudah besar bisa menerapkannya," begitu jawab editor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya geli juga mendengar jawaban tersebut. Tapi yah, mungkin itu jawaban terbaik yang bisa dia berikan. Coba pikir, kalau sejak kecil seseorang sudah terbiasa untuk tidak memilah sampah, apakah ketika dia beranjak dewasa, dia akan serta merta memilah sampah dan melakukan daur ulang? Kurasa pemilahan sampah dan daur ulang sulit dilakukan jika pemerintah tidak melakukan tindakan yang konkret. Ya, memang kadang di beberapa tempat ada dua tempat sampah: untuk sampah kering dan sampah basah. Tapi sampah di situ juga masih bercampur. Jadi, dua macam tempat sampah itu rasanya kok mubazir ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tak tahu bagaimana mengurai masalah sampah ini. Katakanlah kita mengajari anak-anak supaya memilah sampah, tapi jika orang dewasa di sekitar mereka tidak melakukannya, akhirnya ajaran itu tak ubahnya seperti slogan-slogan di spanduk pinggir jalan. Tidak ada artinya apa-apa. Tapi bagaimana orang-orang dewasa di negeri ini bisa meniru warga di negara maju yang sudah mulai mengolah sampah jika tidak ada sistem yang membuat kita melakukan hal itu? Menunggu pemerintah? Terlalu lama rasanya, dan sepertinya pemerintah tidak ada kepedulian akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku tak tahu buku-buku anak tentang sampah dan daur ulang itu mubazir atau tidak. Semoga saja tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-6603187828107772894?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/6603187828107772894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=6603187828107772894' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6603187828107772894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6603187828107772894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/buku-yang-mubazir-salah-satu-naskah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2079658674138195194</id><published>2009-07-20T19:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T21:41:01.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KRL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='transportasi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SmUrXvMHXvI/AAAAAAAAADQ/H3VAaVx5Tus/s1600-h/KRL.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 122px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SmUrXvMHXvI/AAAAAAAAADQ/H3VAaVx5Tus/s320/KRL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360738618258710258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KRL: Salah Satu Kemewahan di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah satu kemewahan di Jakarta adalah KRL," begitu kata kakakku beberapa waktu lalu. Waktu itu kami sedang berbincang-bincang tentang pengalaman tinggal di Jakarta. Setelah kakakku lulus, dia sempat tinggal dan bekerja di Jakarta. Eh, sebenarnya kerjanya di Tangerang ding. Tapi dia tinggal di Jakarta Selatan, di rumah Tante. Aku lupa berapa lama tepatnya dia menetap di ibu kota, tapi kurasa tidak sampai satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat betul ketika dia bekerja di Tangerang, aku sering meneleponnya pagi-pagi benar, pukul 05.00. Selain memanfaatkan tarif SLJJ yang cukup murah, jika kesiangan sedikit, bisa jadi aku tidak bisa bercakap dengannya. Pukul 05.30 dia harus sudah berangkat dari rumah supaya tidak kena macet di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat ketika menyambanginya di rumah Tante. Saat itu aku datang ke Jakarta bersama Ibu. Kami sampai di rumah Tante kira-kira sore hari. Aku berharap tak lama aku meletakkan tas, aku akan segera bertemu kakakku. Tapi kok lama banget ya dia nggak muncul? Beberapa kali aku menanyakan kepada Tante kok kakakku belum kelihatan juga. Rupanya dia biasa datang pukul 20.00 atau 21.00. Duh, malam amat pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya ketika aku sudah terkantuk-kantuk, kakakku pun datang. Kami berbincang sebentar sampai akhirnya mata sudah lengket. E, pagi-pagi betul, ketika aku masih enak-enaknya memeluk guling, Ibu membangunkan aku dengan bertanya, "Mau nganter kakakmu sampai ke depan kompleks nggak?" Aku langsung mengiyakan. Dan pagi itu kami bertiga berjalan menyusuri kompleks. Perasaan, ujung depan kompleks itu jauh amat. Mungkin karena masih agak gelap dan aku sendiri masih mengantuk, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm ... tapi begitulah. Sejak hari itu aku jadi ikut merasakan betapa "ribet"-nya kerja di Jakarta. Harus bangun dan berangkat ke tempat kerja pagi-pagi benar dan pulangnya ketika sudah mendekati jam tidur. Bayanganku, gaji kakakku gede banget. Tapi ternyata gajinya tak banyak kalau tak mau dibilang minim. Hari Sabtu dia masih masuk pula. Jadi, ya ... lumayan capek deh. Pengennya sih dia cari kerja di tempat lain, tapi nggak dapat-dapat. Untung dia akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di Jogja dengan menjadi pengajar di sebuah universitas swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang hari-hari itu, dia mengatakan bahwa salah satu alat transportasi yang sangat membantunya adalah kereta atau KRL. Jika dia beruntung, dia bisa pulang dengan naik kereta dan waktu untuk perjalanan pulang bisa terpangkas hampir separonya. Ongkosnya pun lumayan murah jika dibandingkan dengan naik bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang KRL di Jakarta sangat membantu. Itu kurasakan juga. Aku akan sangat senang jika suamiku bisa pulang naik kereta. Itu berarti dia bisa sampai rumah dengan cepat. Hmm, siapa sih yang tidak senang suaminya pulang cepat? He he. Dan kemarin aku main ke Bekasi ke rumah omku. Aku dan suamiku naik KRL dari stasiun yang tak jauh dari tempat tinggalku. Perjalanan dari Klender sampai Bekasi paling cuma butuh 15 menit dengan naik kereta. Asyik kan? Jika naik bus, belum tentu 30 menit kami bisa sampai Bekasi. Apalagi para sopir bus itu rajin sekali ngetem untuk mencari penumpang. Belum lagi kalau sial terkena macet.  Waktu akan habis di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir, salah satu alternatif alat transportasi umum di Jakarta yang baik jika dikembangkan adalah KRL. Ongkosnya pun tak terlalu mahal. Jika naik KRL ekonomi non AC, kami cukup membayar Rp 1.500 untuk sampai Bekasi (dari Klender). Jika mau yang lebih nyaman sedikit dengan tambahan AC, ongkosnya Rp 4.500. (Bandingkan dengan ongkos metromini: Rp 2.000 dan ongkos KWK yang sampai Rp 3.000). KRL itu sekali angkut bisa memuat penumpang lebih banyak dibandingkan bus patas yang segede bagong itu. Secara kasat mata bisa dilihat penumpang yang bisa diangkut dengan sebuah metromini lebih sedikit dengan jumlah penumpang dalam satu gerbong kereta. Padahal KRL itu punya berapa gerbong? Kurasa lebih dari 5 gerbong. Dari hitungan jumlah penumpang yang bisa terangkut saja, KRL lebih efisien. Belum lagi jika membandingkan luas badan jalan yang dibutuhkan sebuah bis dan lebar rel kereta api. Bisa membayangkan sendiri kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kok sepertinya pemerintah sepertinya lebih suka membangun jalan tol ketimbang mengembangkan jalur kereta ya? Padahal aku yakin, jika jalur kereta ditambah; KRL tidak sering terlambat; frekuensi keberangkatan kereta semakin banyak; kemacetan di jalan raya itu bisa berkurang. Dengan kereta, ongkos perjalanan bisa dikurangi, waktu selama di jalan juga semakin singkat dan itu berarti waktu untuk orang-orang tercinta jadi semakin banyak :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Gambar diambil dari &lt;a href="http://www.beritajakarta.com/v_ind/berita_detail.asp?idwil=0&amp;amp;nNewsId=31920"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2079658674138195194?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2079658674138195194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2079658674138195194' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2079658674138195194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2079658674138195194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/krl-salah-satu-kemewahan-di-jakarta.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SmUrXvMHXvI/AAAAAAAAADQ/H3VAaVx5Tus/s72-c/KRL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1979863511094659461</id><published>2009-07-15T17:46:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T17:55:08.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sakit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dokter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah sakit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Sakit!&lt;br /&gt;Mendingan Uangnya untuk Makan Daripada untuk Bayar Dokter&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Butuh kuitansi?" tanya lelaki tua di depanku dengan suara parau yang berat.&lt;br /&gt;"Enggak usah, Dok," jawab suamiku.&lt;br /&gt;"Kalau begitu, seratus tujuh pulu ribu."&lt;br /&gt;Konsultasi dan pemeriksaan yang paling hanya memakan waktu sekitar lima belas menit itu memakan biaya 170 ribu. Ya, tiga lembar uang lima puluh ribuan dan selembar dua puluh ribuan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-A-J-A?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya kalau mau jujur, berat juga mengangsurkan lembaran-lembaran biru itu ke tangan lelaki tua yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis itu. Tapi mau bagaimana lagi? Memang segitu dia mematok harga untuk konsultasi dan pemeriksaan. Tak usah menyebut berapa uang yang mesti kusetor waktu menebus resepnya di apotik ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku bingung mengapa dokter mematok harga setinggi itu. Mungkin itu "harga Jakarta". Sejak tinggal di Jakarta, dompetku memang harus menyesuaikan diri. Semasa di Jogja, untuk berobat di dokter spesialis, paling mahal aku "cukup" mengangsurkan uang sebesar enam puluh ribu. Kalau dokter umum dekat rumah, dua puluh ribu sudah dengan obat selama tiga sampai lima hari. Tetapi rasanya di Jakarta ini tak mungkin aku cukup membawa uang lima puluh ribu ketika hendak ke dokter. Begitu pula ketika hendak ke dokter di daerah Pulomas itu, rupanya uang seratus ribu tak cukup untuk menukar waktu dan konsultasi dengannya. Huh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu, ketika aku kumpul-kumpul dengan keluarga besarku, aku sempat mengobrol dengan keponakanku yang sudah jadi dokter, Sita. Waktu itu kasus Prita masih menghangat. Menanggapi hal itu dia bercerita, "Sebenarnya, salahnya RS OMNI Internasional sendiri juga sih, kenapa mereka menuntut Prita. Sekarang kabarnya rumah sakit itu sepi banget. Nggak ada pasien. Yang ada di parkiran cuma ada mobil dokter saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oya? Sampai segitunya ya?" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya," lanjutnya. "Dan semakin rumah sakit atau dokter itu money oriented, makin banyak kasus seperti Prita itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... jadi UUD to? Ujung-ujungnya Duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan dengan keponakanku tadi, aku tahu bahwa biaya untuk sekolah dokter spesialis itu muahaaal banget. Bisa sekitar 300-an juta. Maaf aku lupa-lupa ingat itu untuk dokter spesialis apa dan apakah untuk biaya masuk saja atau biaya selama kuliah. Tapi kira-kira segitu deh, dan bisa bisa lebih. Lalu ketika seseorang mengambil pendidikan dokter spesialis, ia tak boleh berpraktik sebagai dokter. Jadi ya mesti melulu sekolah saja. Bisa dibilang tak ada pemasukan lagi, dan itu yang kadang dirasa memberatkan. Bagi orang yang benar-benar berduit, itu tak masalah. Tapi untuk orang-orang pas-pasan, ya berat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat hal itu, aku jadi berpikir ya pantas saja dokter-dokter (terutama dokter spesialis) mematok tarif yang mahal. Wong sekolahnya saja mahal. Jadi, jangan sakit deh! Ibuku bilang mendingan uangnya untuk makan daripada untuk bayar dokter :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1979863511094659461?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1979863511094659461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1979863511094659461' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1979863511094659461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1979863511094659461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/jangan-sakit-mendingan-uangnya-untuk.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4797787328182098758</id><published>2009-07-09T21:05:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T21:22:43.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SBY'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemimpin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ketua kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pilpres'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SlbBo-s2niI/AAAAAAAAACk/yAykCng5g_k/s1600-h/pohon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 123px; height: 96px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SlbBo-s2niI/AAAAAAAAACk/yAykCng5g_k/s320/pohon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356681716573838882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Pemimpin Itu ... Susah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku masih bisa merasakan debaran itu. Debar-debar di dada campur keringat dingin saat lembaran-lembaran kertas kecil itu dibuka dan nama yang tertulis di situ dibacakan. Ada dua nama yang beberapa kali disebut. Tapi belakangan, satu nama itu yang terus terbaca. Dan temanku di yang berada di depan papan tulis dengan riangnya terus membuat garis pendek-pendek yang menandakan jumlah anak yang sudah memilih nama itu. Semua anak tertawa riang, berceloteh ramai. Aku memaksakan untuk tersenyum meskipun kurasakan ujung bibirku gemetar. Tampaknya semua senang dan hanya aku yang kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itulah hari pemilihan ketua kelas. Aku baru beberapa hari menempati bangku baruku di kelas 3 dan dalam beberapa hari itu pula kami harus memutuskan siapa yang akan menjadi ketua kelas. Entah mengapa, itulah saat yang paling menakutkan buatku. Aku tak ingin menjadi siapa-siapa di kelas itu. Tapi hari itu terasa berbeda. Dan rupanya firasatku benar, aku terpilih menjadi ketua kelas. Duh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah, aku tak tahu kenapa teman-teman memilihku. Padahal aku mudah salah tingkah jika berdiri di depan kelas. Padahal aku sama nakalnya dengan mereka dan suka ramai di kelas jika guru tak ada. Padahal aku lebih suka usil mengganggu teman-teman daripada mengerjakan tugas saat guru tak ada. Ya, biar begitu toh waktu itu aku yang baru saja duduk di bangku kelas 3 SD sudah menjadi ketua kelas. Aku tak tahu apakah teman-temanku kemudian sadar bahwa mereka sudah salah pilih. Tapi yah, toh itu hanya ketua kelas, dan kami hanya anak kecil yang baru belajar untuk menjadi dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dari sekian banyak orang, aku adalah orang yang tak pernah bercita-cita untuk mendapatkan kekuasaan. Sejak kelas 3 SD sampai aku menjadi karyawan di sebuah penerbitan, aku sama sekali tak ingin menjadi pemimpin. Bagiku menjadi pemimpin itu berat. Kenapa? Ibarat pohon, menjadi pemimpin itu adalah pucuknya. Pemimpinlah yang pertama kali disorot, dicari, dan dimintai pertanggungjawaban. Padahal, aku tak suka menjadi pusat perhatian. Aku lebih suka duduk di belakang, mengamati, dan akan dengan senang hati memberikan usulan-usulan yang menurutku berharga. Aku tak suka dicari-cari, karena aku lebih senang ngeluyur sendiri. Dan menjadi pemimpin berarti mengemban banyak tanggung jawab. Aku lebih suka bertanggung jawab atas diriku sendiri, bukannya mengayomi sekian banyak orang dan berusaha membuat mereka tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benakku, menjadi pemimpin itu harus menjadi pribadi yang ideal. Karena itu aku terheran-heran ketika kujumpai beberapa orang pemimpin yang kujumpai menunjukkan tanda-tanda kepemimpinan yang aneh. Ada yang tidak tegas, ada yang gila hormat, ada yang suka pilih kasih, ada yang tak suka dikritik, ada yang sok gaya dan pamer kuasa. Huh! Rasanya dari sekian banyak pemimpin yang kujumpai sedikit sekali yang punya integritas. Sedih melihat orang-orang yang seperti itu justru menjadi pemimpin. Kalau menurut pengalamanku sih, yang menanggung ketidakbecusan seorang pemimpin adalah puluhan bahkan ratusan orang yang menjadi bawahannya. Dan yah, sangat tidak enak menjadi bawahan yang tidak bisa berbuat banyak selain mengamini kata-kata atasan. Mau protes terhadap atasan? Siap-siap tidak gajian bulan depan atau siap-siap diturunkan jabatannya. Peraturannya adalah (1) atasan tak bisa salah, (2) jika atasan melakukan kesalahan, lihat aturan nomor 1. Hehe. Itu mungkin guyonan biasa, tapi dalam kenyataannya aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih seseorang menjadi pemimpin itu sulit. Betul kata Bu &lt;a href="http://tutinonka.wordpress.com/2009/07/08/pilih-1-2-atau-3/"&gt;Tuti Nonka&lt;/a&gt; yang bilang lebih mudah memilih suami daripada memilih presiden. Hehe. Kalau memilih suami kan bisa pakai acara pedekate, pacaran, berteman dekat, atau apalah namanya. Dan dari situ akan ketahuan bagaimana belangnya orang itu. Kalau tidak cocok, ya sudah. Apakah mau bertaruh mau menghabiskan hidup dengan orang yang hanya membuat hidup kita kacau dan tidak bahagia? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;No way! &lt;/span&gt;Tapi kalau memilih presiden? Kita mesti rajin-rajin mengikuti berita, mesti baca juga pendapat kaum oposisi. Dan alangkah sulitnya mendapatkan berita yang objektif. Dan pas kampanye semua berusaha tampil manis. Padahal para capres dan cawapres itu tetep punya kedodolan masing-masing. Dan kedodolan mereka harus kita tanggung jika mereka menjadi pemimpin. Dooooh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 8 Juli kemarin pemilu pilpres sudah digelar. Dan dengar-dengar Pak BeYe yang dulu pernah bermimpi bisa mengubah air menjadi BBM terpilih lagi. Ya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sutra&lt;/span&gt; lah ... Aku cuma berharap bapak yang satu itu tidak diam saja ketika ada golongan yang terpinggirkan, semoga pluralitas Indonesia tetap terjaga, semoga dia tak banyak utang, semoga dia tidak merepotkan rakyat (soalnya kampanye terakhirnya membuat jalan seputar Senayan maceeeet! Dan ini sangat ... sangat ... merepotkan masyarakat.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4797787328182098758?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4797787328182098758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4797787328182098758' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4797787328182098758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4797787328182098758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/menjadi-pemimpin-itu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SlbBo-s2niI/AAAAAAAAACk/yAykCng5g_k/s72-c/pohon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5792222379352574192</id><published>2009-07-05T18:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T18:57:59.466-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mi Tarik yang Tak Lagi Menarik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah aku lupa kapan tepatnya aku suka dengan mi. Yang jelas, aku masih ingat betul harum bau mi rebus buatan Mak'e, pengasuhku sejak kecil. Aroma mi rebus campur telur, suwiran ayam, kubis, daun bawang, dan wortel itu selalu membuatku buru-buru mengambil piring dan segera mengangsurkannya kepada Mak'e ketika mi rebus itu sudah matang. Lalu pyur ... pyur ... tangan Mak'e yang gemuk itu akan menaburkan bawang goreng. Duh, tak sabar aku duduk dan menyantap mi rebus itu sampai ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mak'e sudah meninggal dan aku beranjak dewasa, aku yang masih awam dengan bumbu dapur, akhirnya harus puas dengan mi instan. Bagaimana tidak awam? Wong dari lahir ceprot sampai SMP aku tinggal duduk manis di meja makan dan tinggal makan masakan Mak'e yang tak pernah mengecewakan lidahku. Dan begitu dia meninggal, aku kehilangan masakan nikmat hasil racikannya, salah satunya ya mi buatan Mak'e. Jadi, akhirnya untuk memuaskan kerinduanku akan mi, aku berpaling pada mi instan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku lumayan suka dengan mi instan itu. Tetapi belakangan aku sangat menghindarinya. Setidaknya sudah hampir tiga tahun ini aku tak pernah menyentuh mi instan. Sejak dokter menemukan adanya kista cokelat di indung telurku dan aku harus menjalani pengobatan yang cukup menguras tabungan, aku jadi sangat mengurangi apa yang namanya MSG dan semacamnya. Dan itu termasuk mi instan. Uh, awalnya sulit, booo! Dulu biasanya kalau malas ke pasar, aku tinggal membuka lemari persediaan bahan makanan dan plung ... plung ... kucemplungkan mi instan ke dalam panci yang berisi air mendidih itu. Hmmm, aku masih ingat betul bau harumnya lo. Tapi sudahlah, itu masa lalu :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum mencoba bermacam-macam mi. Yang kucoba baru seputar mi jawa, mi aceh, mi bangka, mi belitung (aku lupa apa namanya, tapi mi itu kunikmati saat aku liburan ke rumah suamiku di Tanjung Pandan, Belitung Barat), spageti, mi cina. Aku sebenarnya agak bingung dengan istilah mi cina itu. Itu istilahku sendiri dan tak berniat untuk memasukkan unsur SARA. Yang jelas, mi itu kujumpai di restoran cina. Dan kurasa sudah banyak orang yang mengenalnya. Mana yang paling aku sukai? Bingung kalau suruh memilih. Aku suka semua. Tapi belakangan aku suka mi aceh. Bagi orang yang mengenalku mungkin merasa aneh ketika mengetahui aku suka mi aceh. Pasalnya aku kan tidak terlalu suka pedas. Aneh kan? Padahal mi aceh itu cukup menyengat di lidah. Ini gara-gara suamiku sih sebenarnya. Dia itu kan suka sekali menjajal menu baru, dan apa yang dibilang enak oleh suamiku biasanya aku sih setuju-setuju saja. Dan suamikulah yang "mengajariku" menikmati mi aceh. Awalnya terasa aneh di lidah, tetapi lama-lama enak kok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, salah satu mi yang membuatku penasaran adalah mi tarik. Pertama kali aku mengenal mi tarik ini dari kakakku. Suatu kali sewaktu dia pulang dari Jakarta, dia berkata, "Aku ditraktir makan mi tarik di Jakarta." Mi tarik? Apa itu?" tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;"Minya bikinnya di situ. Ditarik-tarik sampai panjang."&lt;br /&gt;Aku masih tak bisa membayangkan seperti apa mi tarik itu. Dulu waktu masih kecil ibuku punya alat untuk membuat mi. Dan itu tidak ditarik-tarik. Hanya dibanting-banting dan dimasukkan ke alat itu, lalu jadilah mi.&lt;br /&gt;"Rasanya bagaimana?"&lt;br /&gt;"Biasa saja."&lt;br /&gt;Aku tak percaya. Ceritanya membuatku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaranku tak langsung terpenuhi ketika aku tinggal di Jakarta. Dan baru Sabtu kemarin, sepulangnya dari JBF, aku dan suamiku menuruti rasa penasaranku. Kami pun melangkahkan kaki ke Plaza Senayan (eh atau Senayan City ya? Pokoknya di seputar Senayan situ deh) dan mencari mi tarik. "Kamu pesen sendiri ya," kata suamiku. "Aku mau pesan yang lain saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sejak awal aku mengantri untuk mendapatkan mi tarik, aku agak kecewa. Soalnya tak seperti bayanganku. Kupikir di situ akan terjadi atraksi heboh seperti membanting-banting adonan. E, ternyata tidak. Masnya yang membuat mi itu hanya menarik-narik adonan saja, dan itu tak berlangsung lama. Tidak dibanting-banting. Hmmm jadi cuma begitu ya, pikirku. Lalu bagaimana rasanya? Uh, tak sesuai dengan harapanku. Aku di Jogja biasa makan mi jawa (mi jawa rebus) yang racikannya pakai ayam kampung dan telor bebek. Dan kalau dibandingkan dengan mi tarik, skornya hanya separonya. Selesai makan, aku mendadak merasa geli. Bayangkan, orang-orang di Jakarta ini membayar mahal untuk mi yang kurang enak di lidah. Kasihan kan? Tempat makan boleh bagus, tapi soal rasa? Jangan berharap deh. Hmm, lidahku cukup terlatih membedakan mana mi yang enak dan mana yang tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5792222379352574192?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5792222379352574192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5792222379352574192' title='20 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5792222379352574192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5792222379352574192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/mi-tarik-yang-tak-lagi-menarik-entah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5657046347862362565</id><published>2009-07-02T17:20:00.002-07:00</published><updated>2009-07-02T20:43:03.900-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sk14MVyp6NI/AAAAAAAAACc/Bepf18AP9O0/s1600-h/buku+diktat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 88px; height: 87px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sk14MVyp6NI/AAAAAAAAACc/Bepf18AP9O0/s320/buku+diktat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354067685416757458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diktat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; yang Ratusan Ribu Itu ...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore aja gimana? Biar siangnya aku bisa tidur sebentar?&lt;/span&gt; Begitu jawaban SMS-ku ke temanku, Adel, untuk mengajakku jalan ke ITC Cempaka Mas. Pagi itu aku masih ngantuuuuk banget. Itu gara-gara malamnya aku sulit tidur karena hidungku mampet dan panasnya Jakarta tak mereda walaupun kipas angin di kamarku masih setia menjalankan tugasnya. Aku harus menebus tidurku yang kurang siang itu kalau tak ingin ambruk lagi karena flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dari tempat tinggal Adel ke ITC cukup dekat--untuk ukuran Jakarta. Hanya naik angkot dua kali. Tapi suaminya rupanya tak mengizinkan istrinya yang sedang hamil anak pertama itu pergi sendiri. Dan aku pikir, tak ada salahnya aku menemani "adikku" ini mumpung aku bisa. Di Jakarta, dialah teman yang sering jalan bareng aku. Dia memang seperti adikku sendiri sejak kami di asrama dulu. Dan pas di Jakarta, kebetulan tempat tinggal kami tak terlalu jauh, jadi kami pun sering main bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemarin sore akhirnya kami pun ketemu. Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan di ITC, kami akhirnya pulang dan memilih makan di dekat tempat tinggalnya--Bakmi Golek belakang Arion. Sebenarnya aku pengen makan bebek goreng, tapi apa daya, tenggorokanku masih belum bisa menerima gelontoran makanan berminyak. Dan lagi, kalau pengen ngobrol santai, Bakmi Golek lantai 2 cukup enak karena bebas bau rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, salah satu pokok pembicaraan "wajib" kami adalah tentang keponakannya, Ayu. "Kemarin untuk buku diktat Ayu habis uang 650 ribu," katanya. Uang sejumlah itu dirasa cukup banyak bagi keluarga Adel. Karena itu Adel dan dua kakaknya mesti iuran untuk membeli buku diktat keponakan tersayang. Beuh ... zaman sekarang duit untuk beli buku sekolah anak SD saja sampai segitu banyak ya? Dulu pas zamanku sekolah, kami masih mendapatkan pinjaman buku-buku diktat dari perpustakaan sekolah. Masing-masing anak dapat satu buku. Kalau tidak, aku masih bisa "melungsur" alias memakai buku kakakku. Walaupun beda empat tahun, beberapa bukunya masih bisa aku pakai. Jadi, lumayan irit. Dengan sampul cokelat baru, jadilah buku jadul itu tak kelihatan usang. Kurasa dengan begitu, orangtuaku tak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk membelikan buku diktatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Adel membuatku teringat pada seorang temanku, Joanna, yang akhir-akhir ini pusing untuk membeli buku untuk anaknya yang naik kelas 4 SD.  Sebagai orangtua tunggal, dialah yang kini pontang-panting keliling toko buku untuk beli buku anaknya. "Memangnya tidak bisa beli lewat sekolah?" tanyaku. "Bisa, sih. Tapi selisih harganya bisa sampai ratusan ribu jika dibandingkan kalau aku beli sendiri di toko buku. Masalahnya di toko buku sulit sekali mencari bukunya anakku." Aku sebenarnya agak heran dengan penjelasan temanku. Aku memang tak terlalu banyak tahu soal aturan distribusi buku, tetapi setahuku jika penerbit bisa menjual langsung, katakanlah ke sekolah, mereka bisa memberikan diskon cukup banyak. Aku saja nih ya, kalau mau beli buku terbitan penerbit X, aku kadang menghubungi temanku si A yang bekerja di penerbit tersebut supaya bisa dapat diskon minimal 20%, kadang bisa sampai 40%. Masing-masing penerbit punya kebijakan sendiri-sendiri. (Jadi, teman-teman, begitulah salah satu trik untuk bisa beli buku diskon hihihi.) Nah, mestinya penerbit menjual buku secara langsung ke sekolah, murid bisa mendapatkan harga miring. Tapi sekali lagi aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pendistribusian buku ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kalau kupikir-pikir agak "mubazir" juga buku-buku diktat itu. Kenapa? Soalnya biasanya buku-buku itu akhirnya akan disingkirkan begitu anak-anak naik kelas. Aku membayangkan buku-buku diktat itu kemasannya lebih menarik, misalnya dikemas dalam bentuk komik, picture book, atau gabungan antara ilmu pengetahuan dan fiksi. Kebetulan aku menerjemahkan buku pengetahuan anak-anak dalam kemasan picture book yang sangat menarik. Wong aku saja seneng bacanya, hehehe. Jadi, kalau buku-buku diktat itu menarik, setelah anak-anak naik kelas, buku-buku itu bisa tetap dibaca-baca lagi untuk menyegarkan ingatan. Tapi yah, semubazir-mubazirnya buku diktat itu, semoga anak-anak tambah pinter aja deh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5657046347862362565?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5657046347862362565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5657046347862362565' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5657046347862362565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5657046347862362565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/07/buku-diktat-yang-ratusan-ribu-itu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/Sk14MVyp6NI/AAAAAAAAACc/Bepf18AP9O0/s72-c/buku+diktat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1391651798624514975</id><published>2009-06-29T17:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T05:14:58.314-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SkoBGblB8cI/AAAAAAAAACU/q2SRE-D72X8/s1600-h/teh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 90px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SkoBGblB8cI/AAAAAAAAACU/q2SRE-D72X8/s320/teh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353092317077172674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nge-Teh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di asrama dulu, ada beberapa teman yang aku tahu suka sekali minum teh. Salah satunya adalah Mbak Tutik. Seingatku, hampir setiap sore dia membuat teh hangat. Dan tak jarang dia menawariku, "Gelem teh ra?" (Mau teh nggak?) Ya, begitulah rezeki kecil saat di asrama. Tawaran dibuatkan teh manis kok nolak? Jelas tidak dong. Apalagi kalau ada tempe mendoan atau tahu isi hasil perburuan di Sagan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mbak Tutiklah aku tahu beberapa merek teh yang menurutnya enak. Terus terang aku lupa merek-merek teh yang enak menurut dia, tapi salah satunya kalau tidak salah adalah Teh Catoet (semoga tidak salah tulis). Bagaimana enaknya? Tidak tahu. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang lidahku ini bodoh, tak bisa membedakan teh mana yang benar-benar enak, dan mana teh yang hanya memberi warna cokelat biasa--tanpa rasa teh yang asli. Jadi, dulu kalau di asrama ada dua tempat air besar satu berisi air putih dan satu lagi berisi teh, maka aku tak bisa membedakan rasanya. Yang satu bening, yang satu cokelat. Tapi soal rasa, sama saja tuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, kenikmatan yang melekat dari acara ngeteh sore adalah kedekatan kami. Obrolan yang tak jelas juntrungannya. Kadang membicarakan teman-teman di kampus, kadang membicarakan si A, kadang cerita soal masa kecil, dan tentunya ... cerita soal cowok dong! Hihihi. Dan kegiatan ongkang-ongkang di sore hari itu pun kami akhiri karena kami satu per satu harus mandi dan ikut makan malam bersama di asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku bekerja kantoran, OB di kantorku, Pak Mar, pintar membuat teh manis. Jika Pak Mar tidak masuk, biasanya teh yang terhidang di meja kami kurang nikmat. Tak bisa aku menggambarkannya. Yang jelas kekentalannya kurang, dan gulanya kebanyakan menurutku. Lidahku bisa membedakan mana teh buatan Pak Mar dan mana yang bukan. Sayang, ketika aku sudah tak berkantor lagi di sana, aku dicuekin Pak Mar ketika minta teh manis. Huuu :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menikah, ndilalah ... aku bersuamikan lelaki yang suka wedangan alias menikmati minuman hangat. Salah satu minuman hangat kesukaannya adalah teh. Tapi kali ini aku belajar membedakan mana teh yang enak dan mana yang sekadar memberi warna cokelat. Dulu aku tak pernah ambil pusing ketika minum teh. Tapi sekarang? Jangan tanya. Aku tahu lo, kalau teh celup merek S*** W**** itu tak enak. Harumnya juga kurang. Tak ada rasa teh yang melekat di lidah saat kita meminumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku yang penikmat teh itu mengajariku bagaimana membuat teh yang enak. Tapi tetap saja aku tak bisa menyamai teh buatannya. Teh buatannya selalu yang paling pas di lidah. Dia selalu tahu seberapa banyak jumputan daun teh dan takaran gula yang pas untuk satu cangkir teh. Dan teh pilihannya pun tak pernah mengecewakan di lidah. Darinya aku tahu rasa teh yang sebenarnya: segar, wangi, dan ada rasa pahit di ujung lidah. Kami biasanya memilih jenis teh hijau atau teh oolong. Kadang ketika main ke Bandung, kami menyempatkan mencari teh Upet yang mudah sekali ditemui di sana. Biar hanya teh celup, teh Upet ini cukup nikmat dibandingkan teh celup lainnya. Harganya pun cukup miring jika dibandingkan teh Dilma atau teh bermerek lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku berpikir, di Indonesia ini ada banyak sekali perkebunan teh. Tapi kenapa ya masih jarang orang Indonesia yang tahu mana teh yang enak dan mana yang biasa-biasa saja. Kita terbuai begitu saja dengan iklan-iklan teh di media massa, dan membeli teh hanya karena iklan. Padahal produk teh yang sering diiklankan di televisi itu tidak enak lo. Percayalah. Kurasa teh terbaik kita larinya ke luar negeri, diekspor. Sebenarnya tak masalah jika kita mengekspornya. Tapi kalau anak negeri sendiri jadi tak kenal teh yang enak, sayang kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1391651798624514975?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1391651798624514975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1391651798624514975' title='19 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1391651798624514975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1391651798624514975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/06/nge-teh-ketika-di-asrama-dulu-ada.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SkoBGblB8cI/AAAAAAAAACU/q2SRE-D72X8/s72-c/teh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>19</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7067154683994383505</id><published>2009-06-26T07:55:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T08:12:26.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesenjangan sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Beradaptasi Atas Kesenjangan Ini?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang membuatku tidak nyaman di Jakarta ini, yaitu begitu jelasnya kesenjangan sosial terhampar di depan mata. Di sini, aku dengan mudah menjumpai mobil merek Alphard atau Jaguar yang rasanya biar sampai mati seorang buruh pabrik di Pulogadung tak akan mampu membelinya. Atau, aku akan mudah menjumpai rumah-rumah semi permanen yang tak layak huni di pinggiran rel kereta, sementara itu ada saja orang yang dengan mudahnya membangun rumah gedong bagai istana. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gumun, jan gumun tenan aku. &lt;/span&gt;Aku heran sekali melihat hal ini. Dan jujur, melihat hal ini kok rasanya hatiku clekit-clekit, ya? Aku tak tahu adaptasi macam apa yang harus kulihat saat melihat kesenjangan seperti itu. Menutup mata seolah-olah semua itu bukan urusanku? Menganggap biasa dan wajar-wajar saja? Menggerutu? Menuliskannya di blog?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali keluar rumah, pemandangan yang kontras semacam itu mau tak mau harus "kunikmati". Di sini aku bisa melihat pemandangan orang yang melarat benar-benar melarat dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mati konyol. Selain itu, orang di kalangan sosial yang lebih tinggi ada yang berusaha menutup mata melihat kenyataan ini, ada yang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "take for granted"&lt;/span&gt;, ada yang berusaha naik ke tingkat sosial yang lebih tinggi dengan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"social climber". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu aku terbengong bengong saat mendengar di radio bahwa gaji Boediono semasa menjabat sebagai Gubernur BI kabarnya mencapai 150 juta. Ya... ya... mungkin itu jumlah wajar mengingat kapasitas dan posisinya. Tapi tetap saja, aku tak habis pikir, gaji segitu tiap bulan buat apa saja ya? Buat beli rumah tiap bulan sih rasanya mampu lo. Padahal para buruh itu harus berdemo di bawah terik matahari hanya untuk memperjuangkan UMR yang jumlahnya mungkin hanya dianggap "uang kecil" bagi beberapa petinggi perusahaan. Sementara itu, para buruh itu mungkin tak sanggup beli rumah yang cukup sehat untuk dihuni atau menyekolahkan anak mereka di sekolah yang bagus. Nah, kesenjangan semacam itu jamak terjadi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ... memang, gaji seorang buruh tak bisa sama dengan gaji direkturnya. Setiap orang mendapatkan upah sesuai dengan kapasitasnya. Mungkin ada yang bilang buruh atau orang-orang kecil itu bekerja dengan hanya dengan menggunakan modal tenaga, sedangkan para manajer atau petinggi perusahaan mesti bekerja dengan menggunakan pikiran dan mereka pun bekerja keras agar perusahaannya yang menopang hajat hidup orang banyak tidak gulung tikar. Tapi kurasa, kita tak bisa mengecilkan arti pekerjaan yang dilakukan dengan hanya bermodalkan tenaga. Kalau tak percaya, cobalah untuk menarik gerobak sampah yang penuh muatan. Ciumlah bau sampah yang aduhai itu dan nikmatilah beratnya mengangkut sampah. Bagaimana? Mudahkah? Suatu pekerjaan yang menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu bagaimana baiknya mengatasi kesenjangan sosial itu. Tapi yang kuperhatikan di sini adalah tampaknya kebanyakan orang membangun kenyamanan bagi diri mereka sendiri. Jarang sekali ada yang mengusahakan kenyamanan bersama. Dan ini memang sulit, kecuali bagi mereka yang mau melepaskan kepentingan pribadi dan punya pengaruh yang cukup besar. Pertanyaannya: Siapa yang mau melakukan hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang mau tak mau kita harus menerima bahwa ada orang yang berpendapatan amat banyak dan ada pula yang sangat sedikit. Tapi kurasa, orang-orang kecil yang berpenghasilan minim itu berhak memperoleh akses untuk mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang baik. Masalahnya kan, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang baik di Indonesia ini adalah barang mewah. Lha wong berobat ke dokter umum untuk sakit flu, kita harus menyiapkan uang minimal 100 ribu, lo. (Aku bahkan pernah "dikemplang" oleh sebuah apotik yang merangkap klinik di dekat tempat tinggalku untuk terpaksa mengeluarkan uang sebanyak 300 ribu lebih hanya untuk berobat sakit flu! Huh!) Coba pikir, jika seorang buruh yang katakanlah gajinya 1 juta sebulan, bagaimana dia mau berobat ke dokter spesialis yang mungkin akan membuatnya merogoh kantong sampai 400 ribu? Dan uang sebanyak itu harus ia usahakan sendiri. Mau mengandalkan askeskin alias askes untuk orang-orang miskin? Belum tentu bisa lo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku rela membayar pajak lebih banyak, asal uang pajak itu dipakai untuk benar-benar menyejahterakan rakyat. Misalnya, dengan uang rakyat itu sekolah benar-benar gratis, jadi tak ada pungutan uang gedung dan semacamnya; semua rakyat bisa berobat gratis dan obat pun tidak mahal; dibangun perpustakaan yang bagus sehingga setiap orang bisa memperoleh informasi dan pengetahuan yang dapat membuatnya semakin utuh sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, teman-teman, setelah kulontarkan uneg-uneg ini ... tolong katakan padaku, adaptasi macam apa yang harus kulakukan saat melihat kesenjangan yang membuat otakku tak berhenti bertanya-tanya ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;It's always painful when I see this reality and I do nothing.   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7067154683994383505?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7067154683994383505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7067154683994383505' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7067154683994383505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7067154683994383505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/06/bagaimana-beradaptasi-atas-kesenjangan.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5773835188004622224</id><published>2009-06-24T09:37:00.003-07:00</published><updated>2009-06-25T04:15:27.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kopdar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='blogger'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bumbu desa'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Kopdar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopdar. Kopi darat. Istilah itu mulai kukenal ketika aku mulai menulis di dunia maya. Dulu, ketika menulis, aku sama sekali tidak terbayang untuk kopdar dengan pembaca tulisanku. Soalnya nggak PD, masak sih ada yang mau membaca tulisanku? Tulisanku kan ibarat omongan orang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ceblang-ceblung&lt;/span&gt; alias tidak jelas juntrungannya. Seringnya cuma curhat, dan kadang-kadang saja aku menuliskan isi pikiranku yang kurang bermutu ini. Tapi aku tetap menulis di dunia maya. Yah, daripada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggrundel&lt;/span&gt; tidak jelas, kan lebih baik posting tulisan to? Syukur-syukur ada yang menanggapi. Nggak ditanggapi ya tidak apa-apa. Toh aku bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kapan aku mulai kopdar? Kapan ya persisnya? Aku lupa-lupa ingat. Tapi mungkin sekitar 4 tahun yang lalu. Mungkin nanti aku perlu konfirmasi kepda yang bersangkutan. Yang jelas, aku kopdar pertama kali dengan &lt;a href="http://www.donnyverdian.net/"&gt;Donny Verdian&lt;/a&gt; alias DV. Singkat cerita, kami bertemu di Cafe Djendelo, lantai 2 Toga Mas Jogja. Dasar wong ndeso yang tidak pernah ke kafe, aku pun clingak-clinguk ketika pertama kali menjejakkan kaki ke sana. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Waduh, nggon opo to iki?&lt;/span&gt; (Waduh, tempat apa to ini?) pikirku. Lha biasanya aku kalau keluar makan ya ke tempat makan biasa, je. Nggak pernah aku ke tempat yang berjenis kafe seperti itu. Dan aku waktu itu juga tidak tahu DV itu seperti apa sosoknya. Tapi setelah celingak-celinguk beberapa saat, akhirnya aku bertemu juga dengan DV. Oh, iki to sing jenenge Donny. Kesan pertamaku: Hmmm ... kayaknya anak gaul nih! Hihihi. Aku yang waktu itu baru pulang dari kantor merasa “salah kostum” berada di situ dan bertemu dengan DV yang anak gaul. Tapi biarlah. Anggap saja ini pengalaman pertama dengan sesama penulis di dunia maya. Akhirnya kami pun ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari obrolan soal tulisan sampai pertanyaan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wis duwe yang po durung?”&lt;/span&gt; (Sudah punya pacar apa belum?) Halah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari kopdar itu, aku jadi mikir, “Oh, begitu to yang namanya kopdar.” Asyik juga bisa bertemu dengan teman baru dari dunia yang baru pula. Selama ini teman-temanku ya seputar teman kantor. Sebenarnya pengen juga ikut kegiatan di sana-sini. Tapi waktu itu aku masih agak-agak trauma ikut kegiatan di luar, karena sekalinya ikut, e... malah sering dapat SMS yang tidak jelas. Huh! Mending aku menghabiskan waktu untuk menulis, membaca, atau mengerjakan terjemahan. Lebih jelas. Jelas dapat duit, maksudnya! Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan DV, aku kopdar dengan siapa lagi? Pertama, dengan seorang teman yang sama-sama berasal dari Madiun tetapi kini bekerja di Jakarta. Sebenarnya dia teman kakakku sih, tapi waktu masih di Madiun, kami malah tidak saling kenal. Lalu beberapa waktu lalu juga kopdar dengan &lt;a href="http://mysarimatondang.blogspot.com"&gt;Bang Eben&lt;/a&gt;, si pemilik blog Sarimatondang yang pandai bercerita. Selain itu, &lt;a href="http://onisur.wordpress.com/"&gt;Oni &lt;/a&gt;yang sekarang menjadi suamiku juga kukenal lewat milis penulisan dunia maya dan dilanjutkan dengan kopdar :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemarin waktu aku pulang ke Jogja, aku mengontak &lt;a href="http://tutinonka.wordpress.com/"&gt;Bu Tuti Nonka&lt;/a&gt;. Siapa tahu kami bisa kopdar, begitu pikirku. Dan ternyata Bu Tuti bersedia menyempatkan diri di tengah kesibukannya untuk kopdar dengan aku! Yey! Kami janjian bertemu di Bumbu Desa, Sagan, Jogja. Awalnya aku bingung, Bumbu Desa itu mana sih? Daerah Sagan itu kan daerah yang sering aku lewati dulu. Masak aku sampai tidak tahu kalau ada tempat makan Bumbu Desa di situ? Kebangetan! Rupanya Bumbu Desa baru dibangun kira-kira setahun belakangan ini. Wooo ... jadi masuk akal kalau aku tidak terlalu ngeh. Wong setahun terakhir ini aku kan lebih banyak di Jakarta ketimbang keluyuran di Jogja. (Huuu .... Alasan!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu siang itu, aku dan suamiku meluncur ke Bumbu Desa sekitar pukul 12.30 dari rumah. Walaupun belum pernah ketemu Bu Tuti, tidak sulit mengenali beliau. Di blognya kan banyak banget fotonya, jadi sekali lihat langsung tahu deh! Hehehe. Ternyata cantik aslinya daripada yang di foto, lo! Sesampainya di sana, kulihat Bu Tuti sedang menikmati minuman yang dipesannya. Rupanya Bu Tuti juga mengundang &lt;a href="http://surauinyiak.wordpress.com/"&gt;Uda Vizon&lt;/a&gt; (dan istri) dan &lt;a href="http://muzdalifah-muhlan.blogspot.com/"&gt;Muzda&lt;/a&gt; untuk ikut kopdar. Asyik juga bertemu dan mengobrol dengan teman-teman baru. Yang lebih asyik lagi, Bu Tuti waktu itu membagikan novel karyanya kepada kami yang berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keberangkatan&lt;/span&gt;. Salut deh dengan Bu Tuti! Tulisannya sudah bertebaran di mana-mana rupanya! Tapi sebenarnya aku malu juga saat itu soalnya kami (aku dan suamiku) makannya paling lama karena mengambil lauk kebanyakan. Duuuh! Aku jadi tidak enak dengan Bu Tuti nih. Maafkan kami ya, Bu Tuti ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghabiskan waktu di sana kira-kira sekitar 1 jam. Mendung yang menggantung di langit Jogja akhirnya menghantar kepulangan kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... berikutnya aku kopdar dengan siapa lagi ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5773835188004622224?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5773835188004622224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5773835188004622224' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5773835188004622224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5773835188004622224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/06/kopdar-kopdar.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3202447416540243024</id><published>2009-06-02T07:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T08:34:42.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lalulintas'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Mengatasi Kemacetan Jakarta?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebuah petikan obrolanku dengan seorang teman beberapa hari yang lalu:&lt;br /&gt;T (teman): Dulu pas kamu di Jogja, perjalanan dari rumah ke kantor berapa lama?&lt;br /&gt;A (aku): Yaaa, kira-kira 20-30 menit lah. Emang kenapa, Mbak?&lt;br /&gt;T: Sekarang aku baru merasakan beratnya jadi komuter di Jakarta. Perjalanan naik motor dari rumah ke kantor sekitar 24 km, dan memakan waktu kira-kira 50 menit. Itu kalau berangkat pagi, dan jalanan tidak terlalu macet. Duh, mana lagi mabok hamil, kena asap motor. Capek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, aku bisa paham betul beratnya jadi komuter di Jakarta. Menjadi komuter di Jakarta berarti siap menembus jalanan yang penuh polusi, macet, panas. Dan sungguh, aku tidak bisa menikmati hal seperti itu. Masih mending kalau naik bus TransJakarta, tidak terlalu kena macet dan bebas asap rokok. Tapi jangan tanya seberapa penderitaannya kalau kita harus mengantre bus itu pas jam pulang kantor ya! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika masih di Jogja, aku menganggap jarak antara rumah dan kantor sudah jauuuh sekali. Waktu itu aku harus menempuh jarak kira-kira 11 km dengan waktu tempuh sekitar 20-30 menit. Bagiku itu jarak yang lumayan jauh dan perjalanan yang memakan waktu. Tapi sekarang, semua itu menjadi tidak ada artinya. Perjalanan selama 30 menit di Jakarta itu adalah hitungan waktu untuk jarak dekat. Jadi, kalau dulu temanku bilang, "Ah, deket kok. Cuma setengah jam paling dari sini" itu memang benar. Setengah jam di Jakarta itu dekat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi keluhan temanku itu aku mengatakan begini, "Sebenarnya kemacetan Jakarta itu bisa diatasi dengan mudah." "Bagaimana caranya?" tanyanya. Caranya kupikir adalah membatasi penduduk Jakarta. Ini tidak bisa tidak. Bagaimanapun yang membuat macet adalah kita-kita yang ada di Jakarta ini. Jakarta sudah kebanyakan orang! Jadi, kalau setengah penduduk Jakarta ini dipindahkan ke luar Jakarta, kurasa kemacetan akan berkurang. Tentunya orang-orang itu tidak asal dipindahkan begitu saja. Perlu dilakukan kerjasama antara pemerintah Jakarta dan pemerintah daerah. Kenapa orang-orang banyak yang datang ke Jakarta? Karena Jakarta identik dengan banyaknya lapangan pekerjaan. Selain itu pembangunan di Jakarta dan di daerah lain memang "njomplang", tidak seimbang. Jadi, di daerah mesti dibuka lapangan kerja seluas-luasnya agar orang-orang tidak "gembrudug" alias berbondong-bondong datang ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar, semua yang kutuliskan di atas memang cuma teori. Aku yakin sebenarnya bapak-bapak yang duduk di pemerintahan itu sudah tahu apa saja yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kota Jakarta dan daerah-daerah lain. Tapi, tahu dan melaksanakan adalah dua hal yang berbeda, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3202447416540243024?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3202447416540243024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3202447416540243024' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3202447416540243024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3202447416540243024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/06/bagaimana-mengatasi-kemacetan-jakarta.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8228779960215675138</id><published>2009-06-01T09:05:00.001-07:00</published><updated>2009-06-01T09:18:33.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penerbitan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketika Editor Bergelut dengan Naskah&lt;br /&gt;(Sebuah Cerita dan Tips Singkat)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, kupikir menyunting naskah tulisan orang Indonesia akan lebih mudah daripada menyunting naskah terjemahan. Tapi ternyata sulit juga, euy! Cukup membuat aku geregetan dan bertanya-tanya, "Penulis ini mau ngomong apa sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang temanku pernah mengatakan bahwa menyunting naskah tulisan orang lokal itu susah karena "tidak ada contekannya". Hihihi. Begini maksudnya, kalau kita menyunting naskah terjemahan, kita kan sudah memegang buku aslinya. Nah, jadi kalau ada salah terjemahan, kan tinggal lihat buku aslinya. Tapi yah, masing-masing ada kesulitan dan kemudahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa hari ini aku "ketiban sampur" untuk menyunting naskah lokal. Sebenarnya bukan serta merta ketiban sampur, soalnya aku yang minta kerjaan. Hehehe. Memang begini kalau jadi pekerja lepas, kadang-kadang aku perlu "meminta" pekerjaan dari penerbit. Selain untuk menambah jumlah angka di rekeningku, juga untuk menjaga relasi :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kali ini aku mendapat naskah hasil tulisan penulis lokal berupa renungan. Ketika pertama kali memegang naskah setebal 90-an halaman itu dan membaca sekilas, aku membatin, "Ah, gampang nih! Paling tiga hari jadi." Tapi, wee ... jare sopo? Kata siapa tiga hari bakal kelar? Sebenarnya bisa-bisa saja, tapi itu berarti aku tidak ke pasar, tidak mencuci baju, tidak mencuci piring, tidak menyapu dan mengepel rumah. Hmmm ... seandainya bisa begitu ya? Hehehe, tapi lha wong aku ini editor lepas yang nyambi ibu rumah tangga je. Jadi, ya begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata naskah renungan itu membuatku merenung kenapa penulis ini sepertinya mengajak "berantem" denganku. Lho kok begitu? Iya, soalnya aku kadang harus mengernyitkan dahi karena tidak mudeng dengan apa yang dia tulis. Kadang aku pengen bertanya langsung dengan sang penulis karena sepertinya dia begitu cepat mengambil kesimpulan. Nulisnya asal! Tak jarang idenya melompat-lompat. Wah, padahal ini kan menyunting naskah, bukan mainan lompat tali. Hehehe. Jadi, aku akhirnya harus memotong kalimat-kalimat yang tidak perlu, terpaksa usul agar beberapa tulisan tidak dimuat, dan menambah kata atau kalimat supaya tulisan itu enak dibaca. Dan akhirnya ... selesailah aku menyunting naskah itu hari ini. Horrreeee!!! Aku merayakannya dengan membeli martabak manis di depan gang. Nyam! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, begini ya teman-teman, kalau kalian mengajukan naskah ke penerbit, tolong baca lagi tulisan kalian. Jangan menyusahkan editor ya? Hehehe. Tapi sebenarnya bagaimana sih naskah yang disenangi editor? Yang pertama, editor suka dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;naskah yang rapi&lt;/span&gt;. Setidaknya tidak keliru dalam menempatkan tanda baca dan spasinya cukup longgar jadi enak dibaca. Yang kedua, editor suka dengan naskah yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;memuat hal-hal yang baru&lt;/span&gt;. Tema mungkin bisa sama dengan penulis lain, tapi tiap kepala dan kreativitas masing-masing orang kan beda-beda. Misalnya, ada banyak cerita tentang orang yang sedang jatuh cinta, tapi kisahnya sangat beragam to? Tinggal pinter-pinternya penulis mengemas tulisannya sehingga bisa menarik perhatian editor. Ketiga, kalau bisa sih penulis &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sudah tahu pasar tulisannya dengan jelas&lt;/span&gt;. Jadi, begitu diterbitkan bukunya akan langsung dijual ke pasar yang bersangkutan. Setidaknya tiga itu dulu deh. Intinya sih, curilah hati eh, perhatian editor. Selamat mencoba! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8228779960215675138?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8228779960215675138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8228779960215675138' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8228779960215675138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8228779960215675138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/06/ketika-editor-bergelut-dengan-naskah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1005921615152697767</id><published>2009-05-29T22:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T22:35:11.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='belanja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gramedia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SiDFFRjHnrI/AAAAAAAAACM/zbHyNDpsbb4/s1600-h/story+of+philosopy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SiDFFRjHnrI/AAAAAAAAACM/zbHyNDpsbb4/s320/story+of+philosopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341485852462128818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana (Aku) Memilih Buku?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kali aku menyambangi Gramedia Grand Indonesia (GI) selama sepekan ini. Mumpung sedang digelar diskon 30% untuk semua item kecuali barang elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama aku datang ke sana hari Selasa tgl 26 Mei 09 lalu. Dari rumah aku sudah mengangan-angankan beberapa buku yang akan kubeli. Tidak banyak, paling tiga, begitu pikirku. Yang pertama, aku memilih buku &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerajaan Aceh&lt;/span&gt; karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Denys Lombard&lt;/span&gt;. Belakangan ini aku suka membaca buku sejarah. Dan dari pengalamanku, tulisan Denys Lombard ini enak dibaca, apalagi dia memang ahli sejarah. Karyanya yang sudah banyak dikenal barangkali adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nusa Jawa Silang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budaya&lt;/span&gt;, seri 1-3. Keren deh! Yang kedua, aku pengen membeli &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Botchan&lt;/span&gt;. Buku ini mengisahkan sesuatu yang tidak biasa, yaitu soal guru muda di Jepang yang memberontak terhadap "sistem" di sekolah. Sepertinya menarik, pikirku. Yang ketiga, aku pengen menambah koleksiku untuk karya-karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Astrid Lindgren&lt;/span&gt;. Aku sudah lama pengen membeli &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karlson, Manusia Atap&lt;/span&gt;. Sepertinya lucu. Dan memang aku suka tulisan-tulisan Astrid Lindgren. Biasanya dia bercerita tentang kenakalan anak-anak kecil yang sama sekali tak terpikirkan olehku. Kadang memang sepertinya keterlaluan, tapi lucu aja sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas sampai di Gramedia, aku langsung mencomot tiga buku itu. Lalu, mulailah aku berkeliling-keliling. Waktu itu, aku datang sekitar pukul 14.00, jadi tidak terlalu ramai, karena masih jam kantor. Aku pikir, inilah salah satu keuntungan orang yang tidak kerja kantoran :) Tapi aku tidak boleh terlena, karena pukul 16.00 jalan Sudirman akan mulai padat dan jangan sampai terjebak kemacetan! Akhirnya aku mengambil buku anak-anak seri &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Detektif Daisy &amp;amp; Ridley&lt;/span&gt;  berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hilangnya Jenderal Jefferson dan 40 Kasus Singkat untuk Kalian Pecahkan&lt;/span&gt;. Sub judulnya menarik: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Uji Logika dan Ketelitian Kalian! &lt;/span&gt;Asyik kan? Sudah lama aku tidak menemukan buku teka-teki semacam ini. Aku berkeliling lagi ke bagian buku-buku sejarah. Aku menemukan buku yang beberapa kali mencuri hatiku tapi entah kenapa urung kubeli. Judulnya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Batavia Awal Abad 20&lt;/span&gt;, karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H. C. C. Clockener Brousson&lt;/span&gt;, terbitan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masup Jakarta&lt;/span&gt;. Membayangkan Jakarta yang jadul sepertinya asyik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang kupertimbangkan dalam memilih buku. Yang pertama adalah siapa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penulisnya&lt;/span&gt;. Ada beberapa penulis yang karya-karyanya selalu kupilih karena aku tak pernah kecewa membaca tulisan mereka. Dua di antaranya adalah Denys Lombard dan Astrid Lingdren. Jadi, biasanya aku membeli buku-buku tulisan mereka. Biasanya lo, tidak selalu. Karena kadang aku kurang suka beberapa topiknya. Yang kedua, aku selalu melihat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penerbitnya&lt;/span&gt;. Terus terang ada beberapa penerbit yang sudah ku-blacklist. Biasanya itu adalah penerbit yang tidak teliti dalam proses penyuntingan. Pernah aku membeli buku terbitan penerbit X (penerbit ini sekarang sudah cukup punya nama dan lumayan besar), tetapi aku hanya tahan membaca paling pol 10 halaman. Kenapa? Karena aku sering menemui salah cetak--misalnya ada huruf yang hilang. Aku sebenarnya bisa maklum jika sesekali ada huruf yang tercecer (namanya juga manusia, kadang kan ada salahnya), tetapi kalau terlalu sering? Wah, aku curiga, jangan-jangan ini naskah dari penerjemah atau penulis yang langsung dicetak begitu saja tanpa dilakukan proof. Yang ketiga, tentu saja aku melihat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;temanya&lt;/span&gt;. Kalau menarik, ya beli; kalau tidak, ya lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku datang lagi ke Gramedia GI. Kali ini aku datang bersama suamiku. Dan sebagian besar buku yang kali beli adalah buku-buku pilihannya. Kemarin kami membawa pulang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Story of Philosophy&lt;/span&gt; terbitan Kanisius. Buku itu segede gaban, penuh ilustrasi yang menarik, dan cocok untuk pemula seperti aku yang pengen belajar tentang filsafat. Selain itu, kami membeli dua buku matematika untuk latihan menuju olimpiade (maklum, suamiku guru matematika), seri Detektif Daisy &amp;amp; Ridley lainnya terbitan Elex Media Komputindo, dan buku terbitan Masup Jakarta yang berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keadaan Jakarta Tempo Doeloe&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm lumayan menguras kantong juga belanja buku. Nah, sekarang aku tergoda membaca buku-buku itu. Tapi kok kerjaanku belum selesai ya? Jadi ... terpaksa kembali ke PC! Ayo kerja lagi :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1005921615152697767?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1005921615152697767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1005921615152697767' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1005921615152697767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1005921615152697767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/bagaimana-aku-memilih-buku-dua-kali-aku.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SiDFFRjHnrI/AAAAAAAAACM/zbHyNDpsbb4/s72-c/story+of+philosopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5649807230067310343</id><published>2009-05-26T00:20:00.000-07:00</published><updated>2009-05-26T01:17:40.850-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='outsource'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Editor Itu Ngapain Aja Sih?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, aku sok tahu ketika melamar kerja menjadi editor di sebuah penerbitan di Jogja. Namanya juga pengacara--pengangguran banyak acara--tiap ada lowongan, ya sabet saja. Iseng-iseng berhadiah adalah moto yang kupegang ketika mengirimkan surat lamaran kerja plus CV. Aku lupa persyaratan apa saja yang diminta untuk jabatan editor itu. Yang jelas, aku diminta untuk menerjemahkan sebagai tes masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah ada batas waktu untuk menerjemahkan?" tanyaku ketika disodori beberapa teks untuk diterjemahkan.&lt;br /&gt;"Tidak ada. Yang penting, terjemahkan sebaik-baiknya. Dan boleh membawa kamus."&lt;br /&gt;Okelah. Sip! Tesnya gampang, pikirku. Cuma menerjemahkan dan boleh pakai kamus. Cihuy! Kayaknya bisa pulang cepet nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well, &lt;/span&gt;ternyata menerjemahkan naskah seuprit itu susaaah. Yang pertama, aku takut salah. Kedua, ternyata biar sudah berbekal kamus, menemukan padanan kata yang pas untuk menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia itu tidak semudah menyeruput teh hangat. Bahasa Inggrisnya sih mudeng, tapi menuliskan terjemahannya itu butuh waktu lo. Dan apalagi waktu itu yang kuterjemahkan adalah naskah renungan, jadi aku mesti membuat terjemahannya cukup enak dibaca. Kalau pas merenung tersandung tatanan kalimat yang njelimet mana enak? Waktu terus berjalan, cacing-cacing di dalam perutku sudah mulai melakukan pemberontakan. Duh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah lima jam bergelut dengan urusan kata dan kalimat, aku menyerahkan hasil terjemahanku. Pasrah deh. Penginnya sih diterima biar tidak tiap hari lontang-lantung tidak jelas, tetapi yah, aku tahu diri. Siapa tahu sainganku lebih bagus hasil tesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan syukurlah, aku akhirnya lulus tes dan diterima masuk sebagai editor. Eh sebentar, jadi editor itu ngapain aja sih? Aku tidak tahu apa persisnya tugasku ketika aku masuk untuk pertama kalinya. Tetapi setelah enam tahun duduk di meja dan kursi yang itu-itu saja kini aku mencoba merekonstruksi ulang (halah) apa pekerjaan editor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, editor itu teman sejatinya adalah naskah, kalimat, kamus, ensiklopedi, internet, dan syukur-syukur penulis. Naskah dari penulis favorit biasanya ditunggu-tunggu oleh editor. Biasanya penulis favorit itu sudah jago dalam menulis--kalimatnya sudah bagus, idenya tidak melompat-lompat, dan yang paling asyik adalah jika penulis itu bisa memaparkan sesuatu yang baru dan penting dengan bahasa yang mengalir dan mudah dimengerti. Nah, untuk mengolah naskah, editor membutuhkan kamus, ensiklopedi, dan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku banyak memegang naskah terjemahan. Jadi, tidak heran jika tesku waktu itu adalah tes terjemahan. Kadang aku bisa kerja cepat, kadang lama. Kenapa bisa begitu? Kalau kerja cepat itu biasanya naskah aslinya memang mudah dan si penerjemah sudah bagus banget dalam menerjemahkan. Dan sebaliknya, aku kerjaku bisa lambat karena naskahnya memang sulit, dan kadang menemui penerjemah yang membuatku kurus mendadak karena terjemahannya yang buruk dan membuatku mau tak mau harus menerjemahkan ulang. Nangis-nangis deh kalau sudah begitu. Apalagi kalau teksnya mengandung teori tertentu atau butuh pemahaman ekstra, mau tak mau aku mesti banyak belajar dan tanya sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk mengantisipasi hal-hal yang seperti di atas, editor mau tidak mau harus terus belajar. Belajar apa? Terutama sih belajar bidang yang memang sering dijumpai dalam pekerjaan. Kalau editor buku-buku rohani, misalnya, kurasa penting untuk belajar teologi, sejarah, dan filsafat. Mungkin yang dipelajari itu tidak langsung dipakai, tetapi ibarat lapangan yang luas, seorang editor mesti tahu batas-batasnya dan pengetahuan yang luas sangat penting untuk mengetahui batasan itu. Bagaimanapun, editor perlu terus belajar untuk menambah wawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Editor memang kesannya selalu berada di belakang meja. Mestinya tidak begitu. Idealnya, editor itu selain jago mengutak-atik naskah, dia juga bisa menjadi seorang luwes dalam menjalin relasi dengan penulis, para outsource. Kenapa begitu? Apakah duduk di belakang meja saja tidak cukup? Kalau kurenungkan perjalananku sebagai editor dulu dan sebagai pekerja lepas sekarang, aku pikir perlu juga seorang editor untuk cukup akrab dengan penulis dan para outsource (desainer grafis, layouter, penerjemah, editor lepas, dll). Walaupun orang-orang itu tidak ikut "ngantor" dengan editor, mereka tetap perlu "diikutsertakan" dan "diuwongke" (bahasa Jawa, artinya dihargai keberadaannya). Uang alias honor saja tidak cukup lo! Bagaimanapun mereka adalah manusia biasa yang membutuhkan perhatian. Bagaimanapun hubungan yang hangat antara editor-penulis-para outsource itu sangat menguntungkan bagi editor kantoran itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, editor juga dituntut untuk tahu tentang perkembangan pasar. Sering-sering berdiskusi dengan marketing dan jalan-jalan ke toko buku adalah salah satu cara untuk meng&lt;span style="font-style: italic;"&gt;up-date&lt;/span&gt; tentang perkembangan buku yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmff ... capek juga menulis sepanjang ini. Rasanya segini dulu deh, kalau ada yang perlu ditanyakan atau memberi masukan, boleh lo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5649807230067310343?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5649807230067310343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5649807230067310343' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5649807230067310343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5649807230067310343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/editor-itu-ngapain-aja-sih-jujur-saja.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4077661327261437405</id><published>2009-05-21T18:57:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T19:29:11.802-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/ShYNAJbpmqI/AAAAAAAAACE/B6aNQ_otZ8s/s1600-h/rumah+madiun.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/ShYNAJbpmqI/AAAAAAAAACE/B6aNQ_otZ8s/s320/rumah+madiun.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338468704477354658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah "Surga" Kecil&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi Ibu meneleponku. Berkali-kali suara di seberang sana menanyakan kapan tepatnya aku pulang menjelang pernikahan kakakku bulan depan. Aku sih akan dengan senang hati pulang ke Jogja atau Madiun. Tapi yang membuatku malas adalah jika aku harus pergi ke Senen atau Jatinegara untuk membeli tiket. Rasanya malaaaas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pagi ini aku melongok ke &lt;a href="http://hartonok-fam.blogspot.com/"&gt;blog keluarga besarku&lt;/a&gt; dan aku menemukan sebuah foto yang mengaduk-aduk perasaan. Cuma foto sebuah rumah kuno, tetapi setiap kali memandanginya, sepertinya ada sayap maya yang perlahan-lahan muncul di pundakku. Sayap yang menerbangkanku ke masa kecilku, surga kecilku, masa-masa remaja tak terlupakan, kenakalan-kenakalanku, tangisanku, tawa, teman-teman yang mengisi hari-hariku. Yah, di rumah itulah aku dibesarkan. Dan jika aku pulang, ke sanalah aku pergi (selain rumah Jogja, tentunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, aku kangen sekali ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Foto diambil dari &lt;a href="http://hartonok-fam.blogspot.com/2009/05/rumah-madiun-di-sinilah-sebagaian-besar.html"&gt;sini&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4077661327261437405?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4077661327261437405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4077661327261437405' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4077661327261437405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4077661327261437405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/sebuah-surga-kecil-tadi-pagi-ibu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/ShYNAJbpmqI/AAAAAAAAACE/B6aNQ_otZ8s/s72-c/rumah+madiun.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8956430867974018124</id><published>2009-05-18T19:06:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T07:26:59.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah dasar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='belajar'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang Perlu Dipelajari Anak SD?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini kutulis karena beberapa hal yang kulihat, kudengar, dan kubaca beberapa waktu belakangan ini. Pertama, beberapa minggu lalu, aku ke rumah temanku dan sempat menyaksikan acara "Are You Smarter Than Fifth Grader"? Kalau tidak salah, begitu judul acaranya. Acara itu ditayangkan oleh Global TV, pembawa acaranya Tantowi Yahya. Kedua, beberapa minggu (atau hari) yang lalu, aku mendengar di I-Radio, di acara Pagi-pagi, ada pendengar yang anaknya akan ujian akhir kelas 6, menanyakan apa itu mimikri. Ternyata banyak tuh yang lupa apa itu mimikri :) Ketiga, waktu aku membaca blognya &lt;a href="http://imelda.coutrier.com/2009/05/17/kembali-ke-masa-lalu/"&gt;Mbak Imelda&lt;/a&gt; dan dia menceritakan anak sulungnya, Riku, yang tidak mau belajar di SD. Sepertinya Riku mulai merasa bosan dan menganggap sekolah tidak menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku berpikir, apakah semua pelajaran di bangku SD yang kudapat itu penting? Ya, aku ingat aku belajar tentang mimikri waktu SD. Ya, aku ingat, aku menghapal semua nama ibu kota di dunia ini--dan merasa menjadi anak paling pintar ketika bisa menghapal seluruh buku berjudul RPUL. Aku lupa apa kepanjangan RPUL itu, tetapi itu kumpulan nama-nama penting dan aku selalu tertawa ketika melihat buku itu sekarang. Tetapi, kok rasa-rasanya apa yang aku pelajari itu tidak terlalu penting bagi hidupku sekarang ya? Dan nilai-nilai bagus dari ujian di bangku sekolah dulu akhirnya hanya menjadi kebanggaan semu. Semua tak berarti apa-apa--menurutku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi berpikir, apa sih yang sebaiknya dipelajari di Sekolah Dasar? Begini, namanya juga Sekolah Dasar, berarti yang dipelajari di sana adalah semua hal mendasar yang bisa menjadi fondasi pembelajaran selanjutnya. Ibaratnya, Sekolah Dasar itu menumbuhkan tangan dan kaki seorang anak agar selanjutnya dia bisa melangkah dan menjulurkan tangan sendiri untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak di kemudian hari. Nah, jadi dengan kata lain, di masa SD itulah seorang anak mulai dirangsang minatnya untuk belajar--bahwa belajar itu menyenangkan dan berguna bagi kehidupannya di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat, belajar di masa sekolah dulu rasanya kok kurang menyenangkan ya? Buku yang dipakai adalah buku-buku diktat yang bahasanya kaku, tidak mengalir. Dan yang menyebalkan, semua itu harus dihapal supaya bisa mendapat nilai bagus. Ugh! Capek deh. Akibatnya ketika melihat tumpukan buku diktat, mulai deh muncul rasa malasku. Padahal sekarang ini, ketika aku sudah sebesar dan setua ini, buku pelajaran atau buku yang memuat pengetahuan itu bisa dibuat lebih menarik dan menyenangkan lo! Di toko-toko buku sekarang mulai banyak komik tentang fisika, kimia, matematika, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa waktu lalu, aku menerjemahkan buku-buku anak yang sangat menarik. Buku-buku itu konsepnya cerita bergambar yang membahas air, sampah, iklim di bumi, dan masih banyak lagi. Dan sungguh, kemasan buku itu sangat menarik bagi anak-anak. Gambarnya warna-warni,  dialog-dialognya tidak menggurui, dan pengetahuan yang disampaikan juga mudah dimengerti. Mudah dimengerti lo, bukan mudah dihapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekarang pertanyaan, "Are you smarter than fifth grader?" (Apakah Anda lebih pintar daripada anak kelas 5?) masih relevan? Aku rasa tidak. Lha, yang dipelajari saat kelas 5 tidak kita pakai di hidup kita sekarang kok. Dan kadang aku bertanya-tanya, apakah jangan-jangan aku hanya membuang waktu selama enam tahun untuk belajar sesuatu yang tidak penting? Duuuh ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa, pelajaran penting yang perlu diajarkan ketika SD adalah pelajaran bahasa, kemapuan berlogika, dan berhitung. Menurutku, ketiga hal itu adalah fondasi bagi seseorang agar bisa belajar secara mandiri. Dan yang penting lagi, semuanya diberikan secara menarik dan dalam suasana yang menyenangkan. Jadi, setiap anak tak perlu dipaksa untuk belajar. Hmm ... bagaimana menurut kalian?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8956430867974018124?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8956430867974018124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8956430867974018124' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8956430867974018124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8956430867974018124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/apa-yang-perlu-dipelajari-anak-sd.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1012402618029252484</id><published>2009-05-17T22:27:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T22:31:57.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lalulintas'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Sabang Sampai Merauke Ala Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu akan hijrah ke Jakarta, aku berpikir, wah ... kayaknya bisa nih tiap minggu muter-muter Jakarta. Nanti bulan ini ketemu si X, berikutnya ketemu si Y, bulan ini menginap di rumah Tante, bulan berikutnya ke rumah Om, trus ke rumah saudara Bapak. Lalu nanti minggu pertama misa di Katedral, lalu minggu-minggu berikutnya ke Theresia agar tetap bisa misa bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapiii ... tahu apa yang terjadi? Hehehe, mabok aja kalau aku muter-muter Jakarta tiap minggu. Yang jelas sih, berat di ongkos--ongkos transport dan ongkos makan. Dan kedua, kualitas transportasi di Jakarta ini bikin aku terbatuk-batuk. Polusi yang pekat selalu membuatku batuk setiap kali sampai di rumah. Belum lagi kalau mesti naik angkutan umum yang sopirnya mantan pembalap. Sepanjang jalan wusss ... wusss .... selip sini, selip sana. Atau yang lebih parah lagi adalah jika di dalam angkot ada perokok yang dengan murah hatinya memberikan asap beracun itu ke tiap paru-paru orang yang ada di dalam bus. Jadi, aku harus puas untuk misa di kapel dekat rumah yang bisa terjangkau dengan jalan kaki. Dan jangan heran kalau sampai sekarang aku belum bertemu dengan teman-teman atau para kerabatku. Aku masih mikir jika harus menghabiskan banyak waktu di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah setahun aku tinggal di Jakarta. Jadi, kini aku sudah tahu bahwa jika diukur dari rumahku, ke Tangerang itu ibarat melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Jauuuh! Depok juga ibarat ke pucuk gunung. Bekasi cukup jauh, tetapi masih bisa terjangkau dengan mudah jika naik KRL dari stasiun di depan kompleks. Bogor? Jangan ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, beberapa waktu yang lalu, aku menelepon temanku. Di dalam obrolan kami, dia menceritakan bahwa suatu kali ia menghubungi seorang agen yang biasa mengurusi kontrak buku luar negeri. Dia berharap mereka bisa bertemu di Istora. Tapi ternyata mereka tak jadi bertemu. Aku lalu bertanya, "Memangnya bapak itu posisinya di mana?" Temanku menjawab, "Di Tangerang." Ealah .... Lha itu kan ibarat si bapak rumahnya di Magelang trus disuruh datang ke Kotabaru, Jogja. Ampuuun deh! Bagiku, jarak Tangerang ke Istora itu jauh. Tapi mungkin lain bagi orang yang sudah biasa pulang menempuh perjalanan sejauh itu. Aku tak tahu seberapa jauhnya, tetapi percayalah, segitu itu jauh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa-rasanya Jakarta ini kota yang paling tidak efisien. Di sini waktu terasa lebih pendek karena banyak waktu yang terbuang percuma di jalan karena kena macet. Dan jangan pernah bermimpi Jakarta tidak macet! Ya, jangan pernah. Selain itu, jarak antara satu tempat ke tempat lain itu jauh. Jadi, jangan heran jika aku terbengong-bengong ketika diberitahu bahwa seorang kawan selalu minta dijemput dari Bandara Soekarno-Hatta setiap kali tugas di Jakarta. Ampun deh! Mungkin aku bisa maklum kalau yang dijemput lebih dari lima orang. Tapi kalau yang dijemput cuma dia atau dia dan satu orang temannya? Wah, apa nggak sayang ongkos bensinnya? Padahal naik bus Damri dari bandara kan bisa? Apalagi kantor yang ia tuju tak jauh dari Terminal Rawamangun. Menurutku tidak susah deh kalau dia naik bus Damri yang jurusan Rawamangun, dan kalaupun minta dijemput di Terminal Rawamangun, itu cukup masuk akal. Lagi pula, setahuku kantornya tak memiliki sopir khusus. Dari pengalamanku, naik bus Damri cukup cepat kok (karena lewat tol) dan ongkosnya pun masih terjangkau. Daripada mesti mengganggu jam kerja rekan kerjanya dan merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos bensin mobil, kan lebih baik dia naik angkutan bandara yang memang sudah ada? Mungkin kawanku yang satu (atau dua) itu, mesti tinggal di Jakarta setidaknya 1 tahun, plus tidak manja dan ke mana-mana naik angkot, jadi biar tahu seperti apa "Sabang sampai Merauke ala Jakarta" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, Teman ... mikir dikit dong kalau di Jakarta!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1012402618029252484?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1012402618029252484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1012402618029252484' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1012402618029252484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1012402618029252484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/dari-sabang-sampai-merauke-ala-jakarta.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8879932381573759787</id><published>2009-05-10T05:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T06:31:11.917-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Buat Calon Anakku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu malam kemarin, aku dan suami mengikuti suatu acara di Kuningan. Kebetulan malam itu ada teman dari WWF, Nazla, yang membawakan materi tentang perusakan lingkungan. Dia tidak ngomong banyak, tetapi film pendek dan iklan-iklan tentang lingkungan yang dibawakannya sudah menggedor hati orang-orang yang hadir di situ. Dan jujur saja, aku tak kuasa menahan mataku yang tiba-tiba memanas karena mendadak air mataku seakan mau tumpah begitu saja. Malu dong kalau ketahuan menangis he he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah film pendek berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;What A Wonderful World&lt;/span&gt; (kalau tidak salah begitu judulnya), digambarkan bumi ini yang sudah mulai hancur. Ya, tentu kita tahu (tapi mungkin belum sadar) bahwa bumi yang cuma satu ini sudah mulai rusak. Di film itu ada gambar bunglon yang kebingungan saat pohon tempatnya berlabuh mulai ikut terbakar dalam kebakaran hutan. Lalu ada burung--entah apa namanya, tapi mungkin sejenis bangau kayaknya--yang bulunya menghitam karena terkena tumpahan minyak di laut. Huu... huuu... sedih deh. Tapi di bagian ujung film itu ditunjukkan suatu harapan bahwa masih saja orang yang peduli terhadap bumi yang mulai hancur ini. Bagaimanapun aku tak kuasa melihat kenyataan bahwa sebagai manusia, kita ini sudah terlalu tamak dan tidak lagi peduli akan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kalau mengingat kenyataan ini, aku jadi berpikir seperti apa ya nasib anak-anak di masa depan? Aku saat ini belum memiliki anak, tetapi aku tak membayangkan jika keturunanku besok mungkin hanya bisa mendengar cerita bahwa duluuu bumi ini punya kutub utara dan kutub selatan, tetapi karena pemanasan global, semuanya itu jadi tinggal cerita. Aku tak tahu bagaimana buruknya iklim di beberapa tahun ke depan, yang jelas, saat ini aku sudah mulai merasakan betapa makin panasnya lingkungan di sekitarku. Jadi jangan heran kalau sekarang penyakit demam berdarah sudah tak lagi musiman. Selalu saja ada orang yang kena DBD. Lha wong panasnya kaya gini lo, bagaimana nyamuk nggak berkembang biak dengan penuh suka cita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menyaksikan film dan iklan-iklan tentang lingkungan itu aku jadi pengin menulis surat kepada calon anakku, yang entah kapan akan datang ke dunia ini. Kadang aku merasa berdosa jika aku nantinya melahirkan anak ke dunia yang sudah rusak ini. Kasihan kan? Bagaimanapun dia berhak mendapatkan bumi yang bersih dan indah, tetapi hanya orang-orang di zaman sebelum dia terlalu rakus, akhirnya dia terpaksa hidup di atas bumi yang mungkin tak layak huni. Tapi begini kira-kira isi suratnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nak, bagaimana kabarmu? Semoga kamu selalu sehat. Bagaimanapun Ibu selalu ingin kamu sehat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nak, lewat surat yang pendek ini, Ibu ingin meminta maaf. Ketika kamu belum lahir, dulu Ibu masih saja sering lupa membawa tas belanja sendiri dari rumah, sehingga akhirnya Ibu terpaksa menerima begitu saja penjual sayur yang memasukkan sayur-mayur ke dalam tas plastik. Akibatnya, tas kresek di rumah kita menumpuk banyak dan tak tahu harus dikemanakan lagi. Mungkin waktu itu Ibu berpikir, toh ini demi kepraktisan. Tetapi Ibu lupa, bahwa suatu saat nanti kamulah yang akan menanggung akibatnya. Plastik itu tak bisa terurai dan justru mencemari tanah. Ibu lupa bahwa butuh waktu 450 tahun agar plastik itu bisa terurai. Tak kaubayangkan kan bahwa barang seringkih itu butuh waktu ratusan tahun agar bisa lenyap? Maafkan Ibu ya Nak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nak, Ibu kadang lalai membiarkan air di bak mandi kita meluber dan lupa mematikan keran. Seharusnya saat itu Ibu ingat, bahwa suatu saat nanti, kamu pun masih membutuhkan air bersih. Tapi duh, Ibu lupa betul akan hal itu, dan membiarkan air bersih itu akhirnya terbuang percuma ke dalam saluran pembuangan. Ibu hanya berharap  saat kamu besar sudah ada teknologi yang cukup canggih, yang bisa menyaring air paling kotor untuk bisa dijadikan air minum. Ah, andai saja Ibu bisa mengajakmu mengunjungi sumber air di pegunungan ya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nak, masih banyak kelalaian Ibu yang belum disebutkan. Maafkan Ibu ya. Karena kelalaian itu, kamu jadi tak bisa lagi menikmati bumi dengan alam yang masih bersih. Semoga kamu memiliki hati yang cukup lapang dan kamu bersama teman-temanmu bisa menyelamatkan dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salam, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibumu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8879932381573759787?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8879932381573759787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8879932381573759787' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8879932381573759787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8879932381573759787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/surat-buat-calon-anakku-hari-sabtu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5595122814385897154</id><published>2009-05-07T22:34:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T19:31:18.364-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bersyukur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mbah kung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gloria'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pakel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mbah putri'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/ShYIiQ-uInI/AAAAAAAAAB8/DjUZv-YJLrw/s1600-h/JOGJA-GEMPA.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/ShYIiQ-uInI/AAAAAAAAAB8/DjUZv-YJLrw/s320/JOGJA-GEMPA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338463793060913778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kangen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kakek-nenekku di Pakel, Umbulharjo, Jogja, sebenarnya salah satu rumah yang nyaman bagiku. Tapi itu duluuu. Dulu, sebelum Mbah Kung meninggal, sebelum Mbah Putri mulai sakit-sakitan, sebelum gempa di bulan Mei 2006 melibasnya habis. Masih terekam dalam ingatanku, rumah itu selalu tampak hijau. Berbagai tanaman menyapaku dengan hangat begitu aku masuk ke halaman rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu di pinggir halaman itu ada pohon jambu bol. (Duh, apa ya bahasa Indonesianya? Aku agak geli sebenarnya menyebut nama jambu itu. Hihihi) Lalu di sebelahnya ada kolam kecil. Awalnya diisi ikan lele, tapi kemudian diganti dengan ikan mas. Aku paling suka kalau kolam itu dikuras. Itu berarti aku bisa masuk dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; keceh&lt;/span&gt; di situ sambil menangkapi ikan-ikan untuk dimasukkan ke dalam ember. Atau kadang, saat semuanya tidur siang, aku akan mengambil sepotong roti tawar dari lemari makan, lalu aku akan berlari ke pinggiran kolam itu dan memecah-mecah roti untuk dijadikan pakan ikan. Akhirnya kolam yang sudah bersih itu pun jadi kotor lagi dan sepertinya ikan-ikan di situ jadi tak berselera makan lagi. Ha ha ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pakel menjadi agak kurang terurus ketika Mbah Putri mulai sakit-sakitan. Rumah itu mulai berdebu. Tanaman di halaman juga mulai berkurang. Kini, rumah itu ambruk dan belum diperbaiki lagi setelah diterjang gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, aku merindukan rumah Pakel yang dulu. Yang masih asri dan terawat dengan baik. Tapi bagaimana mungkin aku menghadirkan rumah Pakel yang dulu? Mbah Kung dan Mbah Putri sudah meninggal. Dan sejak mereka tiada, rumah itu seperti kehilangan rohnya. Belakangan, sebelum kena gempa, rumah itu sangat tidak terurus. Apalagi sekarang, rumah itu hanya tinggal puing-puing. Tak ada yang bisa mengembalikan keceriaan rumah itu sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Pakel mengingatkanku bahwa masa lalu kadang hanya bisa dikenang tapi tak bisa dikembalikan lagi. Bahkan ketika aku kembali mengunjungi tempat yang menyimpan masa lalu itu, semuanya sudah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu mengingatkanku akan hal lain, yaitu kenangan saat aku masih sebagai seorang karyawan biasa di sebuah penerbitan kecil di Jogja. Kadang aku kangen ikut tertawa terbahak-bahak dengan teman-teman yang suka bercanda. Kadang aku kangen mengobrol dengan teman sebelahku--mengobrolkan resep masakan sampai soal pasangan hidup hehe. Tapi itu dulu. Aku sekarang merasa semuanya berubah. Ada yang hilang. Ada yang kemudian tak bisa dibicarakan lagi--tampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kangen sebenarnya. Tapi jika yang dikangeni sudah berubah, mau bagaimana lagi? Mungkin lebih baik aku merayakan saat ini--saat yang ada depan mataku. Semuanya harus disyukuri kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Gambar diambil dari &lt;a href="http://hartonok-fam.blogspot.com/"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5595122814385897154?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5595122814385897154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5595122814385897154' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5595122814385897154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5595122814385897154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/kangen-rumah-kakek-nenekku-di-pakel.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/ShYIiQ-uInI/AAAAAAAAAB8/DjUZv-YJLrw/s72-c/JOGJA-GEMPA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1417122925228487658</id><published>2009-05-05T17:43:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T20:35:33.314-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selingkuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Curhat ... Ujung-ujungnya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak di Jakarta ini, tak lama setelah bangun tidur aku biasanya akan menghidupkan komputer plus menghidupkan radio. Ketika suamiku sarapan dan siap-siap mau berangkat kerja, aku asyik membuka file kerjaan dan mendengarkan I-radio yang sedang siaran Pagi-pagi. Dan rasanya mendengarkan siaran Pagi-pagi itu sudah menjadi semacam "kewajiban". Penyiarnya, Rafiq dan Poetri, bener-bener konyol deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ceritanya dua hari ini yang dibahas soal perselingkuhan. Seru deh. Serunya karena orang-orang yang selingkuh itu ada yang telepon. Jadi bisa mendengarkan cerita mereka langsung. Seperti yang kemarin tuh, ada perempuan single yang cerita bahwa dia selama ini sudah pernah pacaran sama suami orang sampai dua kali. Dan tahu nggak, dia itu pengennya kalo dapat suami ya yang bekas suami orang gitu. Dia tidak tertarik dengan laki-laki single. Duh ... gawat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, kenapa sih orang bisa selingkuh? Rata-rata awalnya adalah curhat. Iya, curhat biasa gitulah. Tapi kali ini curhatnya ke lawan jenis alias suami atau istri orang. Nah, dari yang awalnya curhat biasa, akhirnya keterusan deh. Mulai timbul rasa simpati, pengen melindungi, pengen memberi kelegaan, trus ... trus ... akhirnya kencan berdua. Dan akhirnya, tanpa disadari akhirnya timbullah perselingkuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur pernikahan kami baru satu tahun. Dan aku tak ingin rumah tangga kami hancur hanya gara-gara orang ketiga. So, pelajaran agar tidak curhat ke sembarang orang mesti kami perhatikan baik-baik. Begitu pula kalau ada lawan jenis yang mau curhat, mesti pintar-pintar memberi pengertian kepada orang yang bersangkutan. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Iya, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1417122925228487658?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1417122925228487658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1417122925228487658' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1417122925228487658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1417122925228487658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/curhat.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2747762889889059201</id><published>2009-05-04T18:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-04T19:56:56.174-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Telaga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; di Tengah Kepekatan Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta ini, apa yang aku lakukan saat naik kendaraan umum? Sebenarnya mau baca buku, tapi kok aku selalu tergoda untuk melihat keadaan sekelilingku ya? Dan jadilah aku mengedarkan pandanganku ke mana-mana. Memperhatikan jalanan yang macet, pengendara motor yang berusaha menyalip bus, kakek yang menggoda anak kecil yang duduk di depannya, para penumpang yang sibuk dengan HP-nya, dan jangan salahkan aku kalau ikut mendengar pembicaraan orang di dekatku. Hehehe. Makanya, jangan ngomongin hal rahasia di kendaraan umum ya! Itu ibarat tayangan infotainment--hanya saja kali ini lakonnya adalah Anda atau teman Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saat aku naik bus transJakarta, aku menjumpai ada seorang bapak-bapak yang selalu sibuk dengan HP-nya. Kadang dia SMS, kadang cuma dipandangi saja tuh HP (mungkin mendengarkan musik ya?). Dan di sebelahku ada seorang mbak-mbak yang sedang asyik mengobrol memakai HP walaupun sinyalnya kurang bagus. "Besok gue mau ke ITC belanja HP. ... Apa? ... Kamu kalau ngomong yang jelas dong, sinyalnya putus-putus nih. ... Oh, iya hari ini aku sibuk banget nih. Capek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah, di kota inilah, di tempat hampir semua orang memiliki HP, fenomena seperti di atas bisa terjadi. Ini berbeda sekali dengan pengalaman masa kecilku waktu ikut mudik ayahku ke lereng Gunung Gajah. Nggak tahu kan Gunung Gajah di mana? Itu termasuk Kabupaten Semarang, dekat Salatiga dan Ambarawa sana. Waktu itu istilah HP rasanya belum pernah didengar deh. Dan sewaktu kami naik kendaraan umum, apa yang dilakukan para penumpang? Saling mengobrol! Apa pun bisa diperbincangkan. Mulai dari arah yang dituju, hasil panen, atau basa-basi sekadarnya. Dan obrolan di kendaraan umum itu bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gayeng&lt;/span&gt; kalau kita berjumpa dengan orang yang suka mengobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di sini? Sepertinya HP sudah menjadi semacam telaga di tengah hiruk-pikuk suasana jalanan dan polusi yang pekat. Orang-orang mencoba untuk lepas dari realita yang menyesakkan. Karena itulah sebuah provider GSM menawarkan internet gratisan supaya tidak mati gaya. Karena itu pula HP banyak yang menawarkan sarana untuk mendengarkan musik atau radio. Mereka menawarkan telaga yang memberi kita jarak pada realita yang pekat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2747762889889059201?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2747762889889059201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2747762889889059201' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2747762889889059201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2747762889889059201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/05/telaga-di-tengah-kepekatan-jakarta-di.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4914018375832092980</id><published>2009-04-29T16:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-29T17:43:19.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='universitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='duit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akreditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuliah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Akreditasi dan Tukibul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas di asrama dulu, kami masing-masing dianugerahi nama unik, sesuai dengan karakteristiknya. Salah satu nama unik temanku  adalah Tukibul. Kenapa diberi nama begitu? Karena dia memang tukang kibul. Saudara sepupunya pun mengakui kelihaiannya dalam kibul mengibul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang apa hubungannya antara akreditasi dan tukibul? Ternyata, akreditasi memiliki unsur tukibul. Ceritanya, semalam suamiku yang baru saja pulang langsung mengungkapkan bahwa seorang temannya sedang stres. Teman suamiku adalah dosen di PTS cukup besar di Jakarta. "Memangnya kenapa dia stres?" tanyaku. Aku sebenarnya tidak terlalu kenal dengan temannya itu. Tapi namanya sudah cukup akrab di telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia dapat surat edaran di kampusnya."&lt;br /&gt;"Lha surat edaran kan sudah biasa to?"&lt;br /&gt;"Isinya itu lo yang enggak biasa."&lt;br /&gt;"Apa isinya?" Aku bertanya-tanya apakah surat edaran itu diselipi telor dadar ya? Hi hi hi.&lt;br /&gt;"Katanya dia enggak boleh ngasih nilai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di bawah B&lt;/span&gt;. Dan kalau ngasih bimbingan skripsi, dalam 3 bulan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;harus &lt;/span&gt;sudah selesai."&lt;br /&gt;"Kalau mahasiswanya dodol bagaimana?"&lt;br /&gt;"Tauk deh. Kamu tahu sendiri, mahasiswa kan banyak juga yang dodol."&lt;br /&gt;"Lha memang kenapa sih tidak boleh memberi nilai di bawah B dan bimbingan skripsinya harus selesai dalam 3 bulan?"&lt;br /&gt;"Biar penilaian akreditasinya tidak turun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Horo toyoh&lt;/span&gt;, bagaimana itu? (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Horo toyoh &lt;/span&gt;itu apa ya terjemahannya yang pas dalam bahasa Indonesia?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha kalau begitu caranya, perguruan tinggi apakah masih bisa dipercaya ya? Memang sih, mana ada anak yang tidak senang nilainya A dan B semua? IP-nya selalu 3? Hebat kan? Jadi, tak ada yang namanya mahasiswa yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sebenarnya bukan mahasiswa bodoh. Tetapi lebih tepatnya, mahasiswa itu dituntut untuk belajar lebih tekun lagi. Misalnya aku nih, aku akan dengan serta merta masuk dalam golongan mahasiswa bodoh kalau untuk mata kuliah kimia. (Lha wong pas ujian kimia di SMA  aku selalu keringat dingin, dan sudah seneng banget kalau nilaiku cuma 6.)   Eh tapi sebentar, memangnya di Sastra Inggris ada mata kuliah kimia ya? Ha ha ha. Ya enggak, sih. Tapi gampangannya ya begitu deh. Aku memang lemah untuk mata pelajaran tertentu. Jadi jangan heran kalau aku yang pas SMA termasuk anak A1 trus mak bedunduk masuk jurusan Sastra Inggris.  Alasan awalnya cuma satu: biar tidak ketemu matematika dan teman-temannya. He he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun, kupikir mahasiswa butuh penilaian yang jujur. Kalau memang dia pantas dapat nilai A, ya kasihlah nilai A. Kalau memang dia hanya pantas dikasih nilai D, ya jangan dikatrol jadi C. Apa bagusnya jika nilai A atau B itu katrolan atau yang lebih parah lagi cuma bohong-bohongan, dan itu dilakukan hanya semata-mata agar universitas yang bersangkutan bisa mendapatkan akreditasi A? Dan sudah bisa ditebak, apa gunanya akreditasi A itu? Yak betul, untuk mendapatkan mahasiswa banyak-banyak. Mahasiswa yang banyak berarti uang yang masuk semakin banyak pula. Akreditasi itu semacam label yang menunjukkan bahwa universitas X itu bagus; nilainya A. Ibarat barang, dia itu kualitas nomer 1 lah. Jadi kalau sampeyan masuk ke situ, nantinya sampeyan jadi pinter, laku di dunia kerja (halah, kaya barang dagangan saja). Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu sebenarnya tak hanya merugikan mahasiswa, tetapi dosen juga ikut mumet. Suami dan kakakku adalah tenaga pengajar alias dosen. Jadi, aku tahulah betapa stresnya mereka kalau para mahasiswanya dapat nilai jelek, padahal bahan yang diujikan sudah pernah disampaikan semua. Kuliah tambahan juga diberikan dengan murah hatinya. E, lha kok nilai mahasiswanya masih jeblok? Piye to?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pas aku kuliah, kalau semua bahan kuliah dipelajari dengan baik alias bisa dikuasai, nilai A atau B itu gampang didapat. Enggak aneh-aneh lah. Tapi ya memang tidak semua temanku trus langsung dapat A atau B. Ada saja yang dapat C atau D. Apalagi kalau yang ketahuan nyontek, langsung dapat D. Tapi itu kira-kira 13 tahun yang lalu. (Hi hi hi. Ketahuan deh tuanya.) Enggak tahu ya kalau sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akhirnya hanya berpikir, kalau lembaga pendidikan saja sudah jadi tukibul, bagaimana jadinya bangsa ini ya? Kalau semua ujung-ujungnya duit, bisa hancur semuanya nih. Tinggal tunggu waktu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4914018375832092980?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4914018375832092980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4914018375832092980' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4914018375832092980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4914018375832092980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/04/antara-akreditasi-dan-tukibul-pas-di.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8312023848101864935</id><published>2009-04-29T02:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-29T16:42:58.741-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='toko buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pilih Buku Bermutu atau Buku Laris?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang sekali jika ada kesempatan ke toko buku. Entah itu toko buku yang menjual buku-buku bahasa Indonesia, maupun buku bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Rasanya seperti masuk ke dunia yang memelukku erat-erat. Menyenangkan sekali. Buku-buku itu seperti ribuan pintu yang membawaku ke mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tapi belakangan ini ketika aku ke toko buku lokal, aku kadang bertanya-tanya, kenapa ya buku-buku yang nampang di toko buku sekarang kok agak-agak membosankan. Misalnya nih, jenisnya tuh ya buku-buku motivasional, buku-buku lucu, buku fiksi macam teenlit begitu, atau buku jenis how to. Dan itulah yang sepertinya paling laku (mengingat begitu banyak buku semacam itu yang bertebaran di mana-mana). Berbeda dengan toko buku-buku asing, biarpun tokonya kecil, kesannya yang ditampilkan begitu beragam dan banyak yang menarik. Mau cari buku apa saja ada. Dari tema yang remeh-temeh sampai yang membuat kening berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sekarang ada saja penerbit yang hanya menerbitkan buku-buku tren. Dan sepertinya penerbit-penerbit seperti itulah yang banyak meraih untung. Lha buku-bukunya laku kok. Berbeda dengan penerbit-penerbit yang sepertinya sangat pemilih. Biasanya mereka menerbitkan yang bermutu. Betul-betul mengisi otak dan memperkaya wawasan. Tapi yah, untuk penerbit yang semacam itu, biasanya buku-bukunya tidak terlalu laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita memang seleranya gampang-gampang susah. Aku sendiri yang sudah beberapa tahun ini berkecimpung di dunia buku kadang kesulitan untuk menebak apakah buku X bakal laku atau tidak. Yang kukira bakal laku, ternyata jeblok di pasaran. Aku juga bingung jika ada buku yang menurutku biasa banget (dan bahkan cenderung kubilang jelek), e... malah laku keras dan penulisnya sekarang menjadi seleb. Bingung. Aku cuma berpikir, orang-orang yang menyanjung buku-buku itu apa nggak pernah baca buku yang lebih bagus ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti selera pasar. Tampaknya itulah yang sekarang dipegang penerbit. Gampangnya nih, kalau masyarakat pengin masuk sumur, nah penerbit-penerbit yang cuma mengikuti selera pasar tuh ya membuatkan sumur. Dodol kan? Nah, kapan ya penerbit di Indonesia bisa benar-benar mendidik pasar? Dan bagi penulis, tinggal pilih saja, mau jadi penulis buku laris atau penulis buku bermutu. Buku laris biasanya jarang ada yang bermutu (karena penulisannya biasanya "kejar tayang"). Kalau mau nulis buku yang bermutu, biasanya butuh penelitian serius. Tapi yang kaya begini, biasanya jarang-jarang ada yang laku banget. Nah, sekarang tinggal pilih saja, mau jadi penulis yang seperti apa. Jadi blogger aja kali ya yang gampang? Hehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8312023848101864935?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8312023848101864935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8312023848101864935' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8312023848101864935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8312023848101864935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/04/pilih-buku-bermutu-atau-buku-laris-aku.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7146147024675393552</id><published>2009-04-27T20:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T20:58:47.531-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komputer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah sakit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diare'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SfZ9Tz_Ip_I/AAAAAAAAAB0/l4dnDfH7e3M/s1600-h/100_1904.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SfZ9Tz_Ip_I/AAAAAAAAAB0/l4dnDfH7e3M/s320/100_1904.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329584988365563890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Home Sweet Home&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pulang ke Jogja memang selalu membuatku semangat, karena itu berarti aku lepas dari polusi Jakarta yang membuatku terbatuk-batuk. Dan lagi, entah kenapa, aku rasanya sayang banget dengan rumah Jogja. Mungkin rasa sayang itu pula yang membuatku tak pernah "diganggu" kalau tidur di kamar depan. Hi hi hi. Kata kakakku (sang pemilik kamar yang sebenarnya), dia sering tindihan kalau tidur di situ. Dan aku saksinya. Jadi, dulu aku sering menemaninya sampai dia benar-benar tidur pulas. Soalnya, pas menjelang dia pulas, hampir selalu tindihan. Jadi, aku mesti membangunkannya. Hal itu makin parah setelah aku ke Jakarta, katanya. Karena itu, akhirnya dia pindah ke kamar sebelah belakang. Trus, suatu kali , pacar kakakku tidur di kamar depan. Tiba-tiba dia terbangun karena rasanya ada duduk di sebelahnya. Padahal kenyataannya, tak ada siapa-siapa! Hiiii. Kakak sepupuku dulu juga tak pernah bisa tidur di kamar situ. Mimpi buruk terus katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan aku? Sama sekali tak pernah diganggu tuh! Hebat kan? Dulu suamiku juga pernah diganggu. Tapi katanya setelah "berkenalan", dia tak pernah diganggu lagi. Akhirnya, kamar itu selalu kosong, kecuali jika ada tamu. Hahaha. Jadi, siap-siap tak bisa tidur ya kalau mau nginep di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ceritanya pas Pemilu kemarin aku pulang. Apesnya, kereta Fajar Utama yang biasanya cukup nyaman, kali itu penuh banget! Dan panasnya nggak ketulungan. Akhirnya aku sukses masuk angin. Dan seperti biasa, kalau masuk angin parah, aku jadi diare dan nggak bisa makan karena mual banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, karena perutku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kram, aku pun meluncur saja ke Panti Rapih. Akhirnya ... akhirnya aku pun nginep di sana selama 2 malam. Huh! :( Yang paling mengganggu adalah infus. Hiks! Aku paling benci diinfus. Nyut-nyutan rasanya. Budeku sampai bilang begini, "Pulang ke Jogja, kok yang dikangeni kamarnya (yang di Panti Rapih)." Huuu... maunya sih nggak opname, Bude. Sebenarnya setelah nginep 1 malam, aku sudah merasa sehat. Tapi dokter memaksaku untuk tidur semalam lagi di sana. Betul-betul liburan di rumah sakit deh. Aku tak bisa misa Paskah sama sekali. Aku akhirnya cuma bisa membayangkan Yesus meninabobokkan aku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tak lelo-lelo ledung..." &lt;/span&gt;Untunglah di Panti Rapih tiap malam dapat kiriman hosti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara opname itulah, liburan kali ini suamiku akhirnya lebih banyak menemani aku alias tidak ke mana-mana. Kasihan dia. Padahal sudah ada daftar beberapa makanan yang harus disantap kalau di Jogja. Untunglah kakakku berbaik hati membelikan kami Mi Jawa Pak Paino di Bintaran. Wah, uenak tenan! Di Jakarta sini susah betul cari Mi Jawa. Kalaupun ada, Mi Jawa-nya gadungan, karena tidak pakai telor bebek dan dagingnya bukan ayam kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dari rumah sakit, aku baru bisa ngeluyur ketemu teman-teman. Ke Kanisius dan mampir ke kantorku yang lama. Banyak dapat cerita plus wawasan. Hmmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah seminggu lebih di Jogja, aku pun balik ke Jakarta.  Saat itu, suamiku berencana menyekolahkan komputer kami, alias menginstall ulang. Wah, ternyata ribet juga! Dan setelah melewati masa-masa disconnected, hari ini aku kembali muncul ke dunia maya. Nanti ya aku cerita-cerita lagi. Hehehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*foto rumah Jogjaku itu kuambil pada pagi hari 17 April '09, sebelum berangkat kembali ke Jakarta. Harap maklum kalau tidak jelas, wong fotografer amatiran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7146147024675393552?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7146147024675393552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7146147024675393552' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7146147024675393552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7146147024675393552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/04/home-sweet-home-pulang-ke-jogja-memang.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SfZ9Tz_Ip_I/AAAAAAAAAB0/l4dnDfH7e3M/s72-c/100_1904.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-187355933042591522</id><published>2009-04-07T23:36:00.001-07:00</published><updated>2009-04-07T23:58:41.971-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menolong dengan Tulisan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, aku dikirimi beberapa tulisan oleh temanku. Akhir-akhir ini dia memang rajin menulis, dan karena itu dia pengin minta komentarku atas tulisan-tulisan yang dibuatnya. Sebagian besar tulisannya berupa hasil permenungannya. Ada yang tentang refleksinya saat berdoa, pengalaman hidupnya di dalam komunitas, teman-temannya, dan masih banyak lagi. Aku sih senang-senang saja membaca tulisannya. Dan memang ada beberapa tulisannya yang rasanya pas betul dengan hatiku. Pas membaca tuh rasanya mak ... nyeeesss. Adem. Tentrem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng aku bertanya kepadanya, "Apa alasanmu menulis?" Dia menjawab, "Menurutku dengan menulis, aku bisa menolong orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menolong orang lain?"&lt;br /&gt;"Iya, dengan menulis, aku bisa membagikan pengalaman rohaniku. Dan aku pikir, aku bisa menolong orang lain untuk bisa bertumbuh secara rohani."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, bahasanya itu lo! Harap maklum, temanku ini seorang suster. Jadi, yang dia tuliskan dan jawabannya adalah seputar kehidupan rohaninya. Tapi jika memang itu salah satu tujuannya menulis, setidaknya aku sudah "merasakan bantuannya" saat membaca beberapa tulisannya. Dan jujur saja, jawaban temanku itu terngiang-ngiang saat aku mulai membuat tulisan. Rasanya indah sekali ya jika kita bisa menolong orang lain dengan tulisan-tulisan yang kita buat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-187355933042591522?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/187355933042591522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=187355933042591522' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/187355933042591522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/187355933042591522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/04/menolong-dengan-tulisan-beberapa-waktu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4367363045194157879</id><published>2009-04-03T02:03:00.001-07:00</published><updated>2009-04-03T02:46:08.572-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='simbah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sampah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdXacygPkiI/AAAAAAAAABs/uAQ2M1_c9rM/s1600-h/HartonoBPKIBU.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 172px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdXacygPkiI/AAAAAAAAABs/uAQ2M1_c9rM/s320/HartonoBPKIBU.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320398722936312354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kangen&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Antara Mbah Kung dan Sampah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa kok tiba-tiba aku kangen pada mendiang kakekku (ayah dari ibuku)--Mbah Kung.&lt;br /&gt;Dalam ingatanku, Mbah Kung adalah orang yang sangat rapi. Agak mengherankan karena biasanya laki-laki kan agak ceroboh dan tidak rapi (hmmm ... kaya siapa ya?). Tapi Mbah Kung tidak. Hal ini bisa dilihat dari deretan buku yang tertata rapi di raknya. Rapiiii banget. Tak ada satu pun buku yang tercecer. Setiap kali mengambil buku, dia selalu mengembalikannya lagi dengan tetap menjaga kerapian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekangenanku ini biasanya muncul saat aku membuang sampah. Aneh ya? Sebenarnya tak terlalu aneh jika kalian mengenal Mbah Kung. Zaman aku masih SD--di mana waktu itu global warming masih belum banyak dibicarakan orang--Mbah Kung sudah memilah sampah. Dan daun-daun yang rontok di halaman rumahnya dikumpulkan di sebuah lubang, lalu dibuat pupuk. Bahkan cangkang telur pun dipakai buat pupuk oleh Mbah Kung. Jadi, cangkang telur itu dihancurkan dan ditaburkan begitu saja di pot-pot bunga yang berjajar rapi di serambi depan. Aku tak tahu, apakah tanaman di halaman rumah Mbah Kung itu subur-subur karena pupuk buatannya sendiri atau karena memang "dicintai". Maklum, Mbah Kung itu bisa berjam-jam mengurus tanaman. Bisa dari pagi sampai siang. Trus tidur siang sebentar, sorenya melanjutkan lagi mengurus tanaman. Bagaimana nggak subur tanamannya? Wong ditunggui dan dirawat tiap hari. Seingatku tak pernah kulihat rumput liar yang sempat tumbuh di halaman rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Mbah Kung jika saat ini Mbah Kung tinggal bersamaku. Rumah yang kutempati ini bisa dibilang tak punya halaman. Ada sih, tapi cuma kira-kira 1,5 meter. Itu pun sudah dipasangi keramik. Jadi, sama sekali tak ada tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali membuang sampah, aku kadang merasa agak "sedih". (Aku sebenarnya bingung, apakah kata "sedih" itu tepat untuk menggambarkan perasaanku. Yang jelas sih rasanya gimanaa gitu. Nggak puas, nggak lega, merasa bersalah, campur aduk lah!) Walaupun sudah kupilah sampahnya, aku sebenarnya merindukan halaman yang cukup luas, yang tidak dibeton atau dikeramik. Aku ingin mengikuti jejak Mbah Kung yang bisa membuat pupuk sendiri di pojok halamannya. Memang di depan rumah aku punya komposter, tetapi kok rasanya lebih enak kalau punya tanah sendiri ya? Jadi bisa kubuat lubang pembuangan sampah, dan sampah-sampah organik itu bisa terurai dengan lebih alami--tentunya sampah yang tak bisa busuk tidak ikut dicemplungkan di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aku pengen bercakap dengan Mbah Kung. Aku pengin tahu bagaimana solusinya dalam mengolah sampah jika Mbah Kung harus tinggal di Jakarta, di rumah yang tak berhalaman. "Niki pripun, Mbah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*foto diambil dari http://hartonok-fam.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4367363045194157879?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4367363045194157879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4367363045194157879' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4367363045194157879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4367363045194157879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/04/kangen-antara-mbah-kung-dan-sampah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdXacygPkiI/AAAAAAAAABs/uAQ2M1_c9rM/s72-c/HartonoBPKIBU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1988999659924720825</id><published>2009-04-01T18:48:00.001-07:00</published><updated>2009-04-01T19:10:04.106-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Sudah Sebegitu Beratnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pas turun dari bus Trans Jakarta, mau tak mau aku mesti mendesakkan tubuhku di antara orang-orang yang berjubel di pintu halte. Agak gemetar juga sih, wong aku mesti gerak cepat dan jangan sampai terjatuh. Batas antara pintu bus dan pintu halte lumayan lebar dan tinggi. Dan bayangkan, begitu aku harus melompat ke halte, hampir-hampir tak ada ruang untuk menjejakkan kaki. Deretan orang begitu berjubel dan hampir tak ada celah. Orang-orang yang bergerombol di pintu halte sama sekali tak memberi jalan. Mereka tetap berada di posisi semula walaupun aku dan seorang temanku jelas-jelas butuh jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hup! Aku melompat dengan sangat hati-hati. Mau tak mau kuselipkan tubuhku di antara gerombolan orang-orang itu. Sedikit kutabrak, karena aku butuh jalan. Pilihannya adalah jatuh terperosok atau menabrak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akhirnya selamat bisa keluar dari halte. Leganyaaa ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal yang aku herankan dari kejadian itu adalah, apakah tekanan hidup di kota ini begitu berat ya, sampai-sampai orang-orang di sini tak mau memberi jalan sedikiiit saja. Bergeser pun tidak! Sepertinya kok yang dipikir hanya kepentingan mereka sendiri, ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1988999659924720825?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1988999659924720825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1988999659924720825' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1988999659924720825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1988999659924720825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/04/apakah-sudah-sebegitu-beratnya-kemarin.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4547059080626376219</id><published>2009-03-31T16:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T17:46:39.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mau Menulis Apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pernah nggak pas kita pengin nulis, kita masih saja bertanya-tanya, "Mau nulis apa ya?" Mungkin pernah, mungkin sering, mungkin jarang. Kalau aku sih kadang-kadang bertanya begitu dalam hati. Aneh ya? Pengin nulis, tapi masih bingung mau nulis apa. Rasanya seperti ingin membuat kue, tapi tak tahu kue apa yang mau dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir-pikir, untuk menulis kita perlu semacam "bahan baku". Apa itu? Yang jelas sih, ide. Menurutku ide adalah "barang berharga" alias bahan baku utama. Ide itu biarpun hanya satu kalimat, harganya mahal. Suatu kali aku pernah menyaksikan acara di televisi yang mengumumkan bahwa PH acara tersebut menerima sumbangan ide cerita. Buat seorang penulis (apalagi penulis profesional--alias hidupnya ditopang oleh hasil tulisannya), ide tak akan dihambur-hamburkan begitu saja. Apalagi mau dibagikan gratisan. Bisa saja dia membagikan ide, tapi tentu sebagian kecil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di mana kita bisa mendapatkan ide? Wah, macam-macam. Dari pengalamanku sendiri, ide itu kudapat saat sedang membaca buku, di sela-sela obrolan dengan teman, saat melamun sendirian. Sebenarnya tidak benar-benar melamun, tetapi semacam mengamati: orang yang berpapasan dengan kita, anjing yang sedang duduk santai di halaman orang, cover sebuah majalah/buku, dll.  Macam-macam deh. Ide itu ibarat makhluk yang beterbangan di sekitar kita, dan kita mesti pintar-pintar menangkapnya. Karena itu, biasanya di seminar-seminar penulisan, kita biasanya disarankan untuk membawa buku catatan kecil dan bolpen, sehingga bisa langsung menuliskan ide begitu mendapatkannya. Jadi, begitu sampai rumah ide itu bisa dituangkan dalam tulisan yang lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal penting yang mengimbangi kegiatan menulis adalah membaca. Sepertinya mustahil deh, orang bisa menghasilkan tulisan yang bermutu tanpa pernah membaca bacaan yang bermutu.  Kedua hal itu berjalan beriringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah mendapat ide dan banyak membaca, biasanya mau tak mau aku merasa "kebelet" menulis, eh ... lebih tepatnya mengetik di komputer ding! :) Bagaimana dengan kalian?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4547059080626376219?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4547059080626376219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4547059080626376219' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4547059080626376219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4547059080626376219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/mau-menulis-apa-pernah-nggak-pas-kita.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8532689746496679114</id><published>2009-03-29T04:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T00:06:27.680-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='om'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lalulintas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='waktu'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdHA1uHqvfI/AAAAAAAAABk/RwOFeYpT_gs/s1600-h/bus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 104px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdHA1uHqvfI/AAAAAAAAABk/RwOFeYpT_gs/s400/bus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319244664047058418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tua di Jalan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kamis kemarin, aku dan suamiku berkunjung ke rumah omku yang di Bekasi. Mumpung tanggal merah dan kami punya waktu yang cukup longgar. Lagi pula, dengan ada kereta ke Bekasi, perjalanan tak butuh waktu lama. Cuma 15 menit. Sungguh, kereta api (KRL) memang terbukti menghemat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, aku bertemu dengan para sepupuku yang rasanya kok sudah tambah besar saja ya? Seingatku, mereka dulu masih SD lo. E ... lha kok sekarang sudah kuliah? Pas makan bersama, aku mengobrol dengan Dita, adik sepupuku yang baru masuk kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang kuliah di mana, Dit?"&lt;br /&gt;Dia kemudian menyebutkan sebuah universitas yang lumayan elit di daerah Grogol. Aku langsung teringat perjalananku ke Grogol dengan seorang temanku. Rasanya, rumahku yang di Jakarta Timur dengan Grogol  itu ibarat perjalanan dari Sabang sampai Merauke. Hehehe, berlebihan ya? Pokoknya jauuuuh bangeeet! Padahal rumah omku itu kan di Bekasi, lebih timur lagi dari rumahku. Biuh! Tak terbayangkan berapa lama perjalanan untuk ke sana. Belum lagi kalau kena macet dan terpapar polusi; capeknya kayak apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa lama perjalanan ke sana?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Dua setengah jam," katanya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun! Dua setengah jam? Itu ibarat perjalanan dari Madiun ke Solo dengan naik kendaraan umum. Aku membayangkan, seandainya dulu aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nglaju &lt;/span&gt;dari Madiun ke Solo tiap hari untuk kuliah, bisa capek lahir batin deh! Dan mana sempet belajar? Harus diakui, stamina sepupuku itu luar biasa. Tepuk tangan deh buat Dita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan singkat itu, aku berpikir bahwa Jakarta ini sangat tidak efisien dalam hal waktu. Aku yakin, tak hanya sepupuku yang bolak-balik Bekasi-Grogol dan menghabiskan waktu total 5 jam untuk perjalanan. Lima jam, Sodara-sodara! Dan waktu sebanyak itu hanya digunakan untuk duduk di dalam kendaraan. Mungkin bisa diisi dengan membaca buku, makan, menelepon (itu kalau dia nggak nyupir sendiri), dandan (?). Mungkin sesekali dia mengerjakan tugas atau tidur. Tapi yang jelas di dalam mobil (apa lagi kendaraan umum) tak bisa disambi mandi atau masak kan? Hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba hitung, kalau sebulan dia masuk sampai hari Jumat, berarti dia menghabiskan waktu di jalan: 5 jam x 20 = 100 jam = kurang lebih 4 hari duduk manis di dalam kendaraan. Biyuh ... biyuh! Hal seperti itu membuatku makin teguh untuk tidak kerja kantoran di Jakarta. Benar-benar bisa tua di jalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8532689746496679114?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8532689746496679114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8532689746496679114' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8532689746496679114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8532689746496679114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/tua-di-jalan-hari-kamis-kemarin-aku-dan.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdHA1uHqvfI/AAAAAAAAABk/RwOFeYpT_gs/s72-c/bus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3546709954012282034</id><published>2009-03-22T16:25:00.001-07:00</published><updated>2009-03-22T17:31:48.872-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mimpi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kualitas hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mimpi Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu, dari sekian banyak orang di Indonesia, berapa banyak ya yang punya mimpi Jakarta? Mimpi Jakarta apa itu? Mimpi untuk tinggal di Jakarta? Tidak selalu begitu. Kurang lebih keinginan untuk bergaya ala orang-orang di kota besar: bisa bekerja di kantor yang ber-AC, kalau sih kantornya yang keren punya, di gedung-gedung yang tinggi, jadi kalau pas pergi sama saudara-saudara sekampung bisa ngomong begini: "Itu tuh kantorku" sambil menunjuk gedung bagus dan mereka akan melongo takjub; punya mobil bagus seperti iklan-iklan di televisi, punya rumah besar dan buagus di kompleks perumahan mewah, kalau belanja tak perlu mikirin duit karena uang tinggal metik kayak daun, kalau malam minggu bisa hangout di kafe atau mal, dan masih buanyak lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa salahnya punya mimpi seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, setiap orang berhak punya mimpi--tak terkecuali mimpi yang aku labeli dengan "mimpi Jakarta" itu. Tapi bagaimana jika sebagian besar orang punya mimpi seperti itu? Mungkin nggak sih jika setiap kota kecil akhirnya disulap jadi Jakarta kecil? (Duh, mimpi buruk deh!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota kelahiranku, Madiun, adalah sebuah kota kecil yang cukup nyaman menurutku. Tapi belakangan ini aku menjadi terbengong-bengong saat melihat ada beberapa toko kelontong besar mulai bermunculan di sana. Dalam beberapa tahun terakhir ini, di kota sekecil Madiun sudah ada Giant, Carrefour, Matahari, Sri Ratu. Dan yang mengenaskan bagiku, pasar besar Madiun sudah dua kali terbakar dalam selang waktu kurang dari 5 tahun. Orang-orang kecil yang biasa kami temui di dalam pasar mau tak  mau tergusur. Beberapa pedagang akhirnya berjualan di rumahnya masing-masing. Tapi coba hitung berapa kerugian yang harus diderita? Belum lagi mereka harus bersaing dengan toko-toko kelontong superbesar itu. Pasti tidak gampang dong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi balik lagi ke mimpi Jakarta tadi, aku pikir salah satu alasan Jakarta menjadi sangat padat penduduk ini adalah karena mimpi Jakarta itu tadi. Selain itu pemerintah juga setengah hati untuk benar-benar membangun daerah lain. Kabarnya 80% uang (Indonesia) beredar di Jakarta. Akibatnya ya roda ekonomi muternya ya di situ-situ saja. Trus ... trus, orang-orang muda yang potensial akhirnya tersedot ke Jakarta. (Dan tentunya tak mudah menyuruh pulang orang-orang yang sudah sekian puluh tahun bekerja di Jakarta.) Tentu mereka yang hijrah ke Jakarta tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Lha wong cari kerja di daerah lain sulitnya minta ampun kok! Lihat saja lowongan pekerjaan yang dimuat KOMPAS tiap hari Sabtu dan Minggu, rasanya 70% adalah kebutuhan kerja di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya belum banyak orang muda yang berani untuk membangun daerah kelahirannya sendiri. Berkarya di kota kecil memang butuh kegilaan sendiri. Itu berarti melawan arus. Aku jadi ingat kata-kata tanteku, "Masmu kan tidak tahan banting tinggal di Jakarta." Harap tahu saja, kakakku adalah orang yang memupuskan mimpi Jakartanya. Dia pulang dan akhirnya menetap di Jogja karena tak tahan bekerja di Jakarta. Dulu dia tiap hari bekerja dari pagi sampai malam, tapi  gajinya tak seberapa. Tanteku menganggap dia tak tahan banting. Mungkin ada benarnya kata-kata Tante, tapi bukankah bekerja di luar Jakarta juga punya tantangan yang tidak kecil? Dan bagaimana jika setiap orang memaksakan diri untuk bertahan di Jakarta? Bagaimana nggak penuh kota ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir, daerah lain berhak mendapatkan sumber daya manusia yang bagus. Hanya saja mungkin orang-orang "bagus" itu tak mendapat wadah untuk menyalurkan kemampuan mereka jika tetap bertahan di daerahnya. Sebagian alasan orang-orang yang akhirnya hijrah ke Jakarta adalah karena mereka ingin meningkatkan kemampuan, ingin maju, ingin berkembang, ingin semakin banyak pendapatannya, dan sebagainya. Tapi apa iya sih, semua itu harus di Jakarta? Kalau aku sih lebih suka bekerja dan menetap di kota kecil, lo; yang masih lapang dan polusinya tidak membuat sakit. Mungkin duitnya tak sebanyak jika di Jakarta, tapi buat apa uang banyak jika kualitas hidup buruk?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3546709954012282034?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3546709954012282034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3546709954012282034' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3546709954012282034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3546709954012282034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/mimpi-jakarta-aku-tak-tahu-dari-sekian.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8241712973613331696</id><published>2009-03-19T16:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T18:11:49.168-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tulis-menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahasa Indonesia, Pentingkah?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, salah satu pelajaran sekolah yang nilaiku selalu bagus adalah Bahasa Indonesia. Tentu saja hal itu bukan suatu hal yang membanggakan. Biasa. Tak ada yang istimewa. Toh banyak anak juga nilainya bagus--setidaknya sedikit yang nilainya di bawah 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berbeda dengan mereka yang selalu dapat nilai di atas 8 untuk matematika. Begitu nilai 8, 9, 10 tertera di lembar ujian Matematika, anak itu langsung mendapat label "si anak pintar". Lalu mulai deh, dia mendapat  kepercayaan macam-macam dari guru, entah itu jadi ketua kelas, wakil lomba  cerdas cermat di kabupaten, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi anak yang nilai bahasa Indonesianya bagus? Yaaa, biasa-biasa saja lah. Tak akan mendapat label "anak yang istimewa". Tapi memang rasanya kebangetan kalau nilai bahasa Indonesia jelek. Paling-paling kita hanya diminta untuk menulis contoh kalimat dengan awalan me-, ke-, di-, dll. Atau kita diminta untuk menjelaskan arti peribahasa, menghafal macam-macam angkatan kesustraan di Indonesia plus nama-nama pujangga. Dan bagaimana rasanya belajar bahasa Indonesia? Ah, menjemukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dapat nilai bagus, aku tidak mengganggap penting (pelajaran) bahasa Indonesia. (Kalau tidak penting, ngapain masuk jadi pelajaran sekolah ya? Hi hi hi.)  Aku tidak merasa ada kaitan yang sangat penting antara pelajaran bahasa Indonesia dengan hidup sehari-hari. Toh aku mengobrol dengan teman pakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia yang tidak EYD banget, malah sepertinya teman-teman lebih senang menggunakan bahasa Indonesia gaul ala anak Jakarta. Jadi, aku tak tahu apa gunanya belajar peribahasa, misalnya. Dalam hidup sehari-hari tidak dipakai, kok. Kan tidak mungkin aku banyak menyisipkan banyak peribahasa saat mengobrol dengan teman-teman.  Bisa diketawain tujuh hari tujuh malam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkutat dengan naskah, buku, dan dunia tulis-menulis, aku jadi tahu bahwa bahasa Indonesia itu penting dan rupanya selama ini bahasa Indonesia tidak terlalu mendapat tempat di masyarakat. Orang lebih suka belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sementara mereka belum menguasai betul bahasa Indonesia. Paling terasa adalah saat membandingkan kamus bahasa Indonesia dengan kamus bahasa Inggris. Dalam kamus bahasa Inggris (Inggris-Inggris), satu kata biasanya akan dijelaskan artinya, tidak hanya diberikan sinonimnya. Selain itu di kamus Inggris-Inggris, ada akar katanya juga, kata itu biasa digunakan pada konteks apa, tahun kapan, dan tak jarang jika kata itu menyangkut benda, ada gambarnya. Pokoknya komplet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena bahasa Indonesia tidak dianggap penting, tidak terlalu banyak naskah dari penulis kita yang sudah bagus penyampaian idenya. Itu dari pengalamanku lo. Entah ya kalau di penerbit lain. Pernah aku membaca tulisan seorang dosen yang bahasanya belepotan, sampai aku bingung, "Dia mau nulis apa sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir, kita masih kurang menggali bahasa Indonesia saat di sekolah. Kurang menarik pula penyampaiannya. Sampai sekarang, rasanya aku baru membaca Sitti Nurbaya untuk buku sastra Indonesia zaman lalu. Jangan tanya deh buku-buku yang lain. Pas SD saja aku lebih suka baca Lupus, kok. He he he. Padahal tuh kalau kita melongok amazon [dot] com, kita bisa mendapatkan buku "Pride and Prejudice" untuk anak usia 4-8 tahun! Di Indonesia? Rasanya aku belum menemukan buku-buku karya sastra karya pujangga kita yang disederhanakan sehingga bisa diperkenalkan untuk anak-anak. Buku-buku yang ada sekarang pun lebih banyak buku hiburan dengan bahasa gaul. Sebenarnya boleh-boleh saja ada buku-buku semacam itu, tapi rasanya kurang bagus deh kalau itu mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lupa bahwa kita memiliki Armyn Pane, H.B. Jasin, dan para pujangga besar lainnya.Padahal dari mereka kita bisa belajar banyak lo. Kita bisa belajar sejarah bangsa kita, perkembangannya, cara berpikir masyarakat, dll. Trus, kalau kita belajar bahasa Inggris saja bisa menarik karena banyak sekali permainan yang bisa digunakan, tentunya belajar bahasa Indonesia juga bisa dong. Lagi pula, belajar bahasa itu menarik sekali. Ada banyak sisi yang bisa memperkaya kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8241712973613331696?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8241712973613331696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8241712973613331696' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8241712973613331696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8241712973613331696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/bahasa-indonesia-pentingkah-dulu-salah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-873202701986625608</id><published>2009-03-13T03:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T19:29:54.647-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gloria'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdF_rAtJGGI/AAAAAAAAABc/ycayrVR3eY4/s1600-h/akuarium.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdF_rAtJGGI/AAAAAAAAABc/ycayrVR3eY4/s400/akuarium.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319173011801708642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Nostalgia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah setahun aku tidak bekerja kantoran. Ya setahun. Rasanya cepat juga. Dulu, kalau pulang kerja, aku biasanya tidak langsung pulang. Entah kenapa, aku suka berlama-lama di kantor. Tapi itu pun kalau masih ada teman. Kalau di ruanganku sudah sepi, ya aku pulang. Tapi kok ya biasanya ada saja yang masih tinggal di kantor. Dulu paling cepat aku sampai rumah pukul enam petang. Setelah jam bubaran kantor aku biasanya berlama-lama berselancar di internet, setelah itu kadang ngeluyur belanja, main ke kos teman, atau makan malam bersama temanku, Tesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman seruanganku dulu anak-anak muda semua. Usia kami sebaya. Dan yang menikah baru Kak Tina, Susan, dan Aat. Yang lain sih, masih single. Ada yang pacarnya jauh (kaya aku dan Tesa dulu), ada yang nggak punya pacar, ada yang punya pacar tapi nggak jelas (hehehe, siapa ya?). Ada yang kalau bubaran kantor punya seambreg kegiatan, ada yang cuma kaya aku dan Tesa--yang isinya makan terus :D, ada yang langsung kencan sama suami atau istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku bekerja rasanya tanpa beban. Belakangan, aku merasa ke kantor adalah untuk main--bersenang-senang, mengobrol dengan teman-teman dan bercanda (trus kapan kerjanya ya?). Dan lagi kami ke kantor biasanya tidak mengenakan baju seragam yang formal. Bebas rapi saja patokannya. Aku saja masih pakai ransel kok. Hampir tak ada yang dandan menor, sampai  ada sekretaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kenangan yang melekat di benakku adalah kenangan saat kami biasa mengobrol di sela-sela pekerjaan. Ada yang curhat soal pacarnya yang tak pernah SMS dan menelepon, soal kegiatan di gereja, soal teman kos yang punya kebiasaan beda-beda, soal ganjelan di sana-sini. Macam-macam deh. Namanya juga hidup dan berkarya bersama, iya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama aku keluar dari pekerjaan, aku merasa agak aneh. Bayangkan selama hampir tujuh tahun aku bangun pagi tak boleh lewat dari jam 6, dan sekarang aku bisa bangun semaunya. Tak perlu ngebut naik motor menyusuri Jalan Kaliurang karena sudah hampir pukul 8.00. Tak perlu lagi risau melihat tinta merah di kartu absen karena terlambat satu detik saja. Tak perlu lagi bingung saat di gantungan baju ternyata tak ada baju yang sudah disetrika. Tak perlu sarapan buru-buru. Ah, alangkah nyamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku keluar kerja, aku pun membiasakan bekerja sendiri. Tak ada teman bicara kecuali membiarkan radio terus menyala.   Awalnya aku kangen juga mengobrol dengan teman-teman di kantor. Jadi waktu itu, aku masih sering main ke kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lama-lama aku sadar aku tidak lagi bagian dari mereka. Duniaku sudah agak berbeda dari mereka. Mereka pun punya dunia yang berbeda. Aku kadang tak bisa mengikuti canda mereka, karena aku tidak mengikuti keseharian mereka lagi. Ada kejadian-kejadian lucu yang terlewat dariku. Kadang aku merasa seperti berdiri dari balik pintu kaca dan aku tak bisa lagi masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka tertawakan dan sepertinya tak ada cerita yang cukup menarik untuk kubagikan bersama mereka. Apa menariknya cerita keseharianku di atas loteng mengerjakan naskah dengan ditemani sebuah radio, suara ternak milik tetangga, dan desau rumpun bambu? Dan sekarang setelah di Jakarta, apakah cerita tentang pedagang yang bersliweran di depan rumahku cukup indah bagi mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tak lagi terlibat dengan rencana buku-buku yang harus terbit--padahal hal itu biasanya sudah menjadi bagian dari pekerjaanku sehari-hari. Sebagai editor dan penerjemah lepas, aku cuma terima naskah dari mereka dan kukerjakan di rumah. Mereka sudah terima jadi. Paling-paling aku memberi laporan saja bahwa naskah ini kekurangan dan kelebihannya begini ... begitu. Atau aku memberitahu kepada mereka bahwa penerjemah ini kurang teliti, ketikannya masih belepotan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku senang sekali ketika datang kiriman buku-buku dari penerbit luar negeri. Bau kertas daur ulang yang mereka pakai seolah mengajakku untuk semakin banyak menulis dan tak perlu lagi cemberut ketika membaca tulisan yang kurang menarik. Buku-buku baru itu bagaikan telaga yang menyegarkan. Aku tak pernah bosan menyusuri halaman-halaman mereka, dan berharap suatu saat kami bisa menerbitkan buku sebagus itu--atau suatu saat buku tulisanku juga bisa menjadi telaga yang menyejukkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam dan hari sudah terjalin menjadi kumpulan waktu bernama satu tahun. Sekarang aku menikmati keseharianku menjadi pekerja lepas--suatu hal yang aku cita-citakan sejak beberapa tahun yang lalu. Suka duka pasti ada. Kini aku bisa merasakan betul apa artinya kebebasan untuk tidak terlalu terikat pada satu instansi, apa artinya tidak hanya bergantung pada satu pemberi honor, apa artinya honor yang terlambat dibayarkan, dan lain-lain. Dulu aku tak terlalu menghargai apa arti sapaan terhadap orang-orang yang bekerja sama dengan kami, entah editor, penerjemah, atau penulis. Tapi aku kini mengerti bahwa sapaan pun memiliki makna yang dalam. Aku ingat, dulu aku hanya mengontak para freelancer hanya saat ada buku yang harus dikerjakan. Ah, betapa sebenarnya aku bisa melakukan yang lebih dari itu. Dan jika seorang freelancer tidak kami pakai lagi, betapa sebenarnya kami kehilangan satu mutiara. Mungkin pekerjaan mereka kurang bagus, tetapi sebagai pribadi, mereka bagaikan sumur yang tak habis ditimba. Relasi itu memudar seiring dengan buku atau naskah yang tak lagi diberikan. Betapa sebenarnya berkawan dan menjalin relasi yang hangat dengan para pekerja lepas--meskipun sudah tak lagi dipakai--bukan hal yang tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setahun sudah berlalu. Ada kerinduan yang dalam untuk melihat penerbitan tempat kerjaku dulu menjadi lebih baik--buku-buku yang diterbitkan semakin berkualitas, semakin banyak buku dari penulis lokal, menjadi penerbit yang lebih percaya diri dan benar-benar bisa menjadi cahaya bagi masyarakat. Dan kiranya doa yang tiap pagi dan sore mereka panjatkan benar-benar menjadi jiwa dari seluruh pelayanan yang mereka lakukan, tak hanya sekadar rutinitas yang kadang aku pertanyakan maknanya terhadap masing-masing pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku akan meletakkan masa-masa kerjaku yang dulu dalam sebuah bingkai kenangan. Sesekali akan kupandang. Sesekali mungkin masih ada keinginan untuk ikut tertawa lagi bersama mereka. Tapi baiklah jika aku tak berlama-lama memandanginya. Sudah waktunya bagiku untuk melanjutkan langkah dan berkemas meraih harapan dan cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kalender di atas adalah kalender buatan Lena, salah satu teman yg sama-sama memilih mencari sesuap nasi di tempat lain. Kami manis-manis kan? hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-873202701986625608?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/873202701986625608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=873202701986625608' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/873202701986625608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/873202701986625608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/nostalgia-tak-terasa-sudah-setahun-aku.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SdF_rAtJGGI/AAAAAAAAABc/ycayrVR3eY4/s72-c/akuarium.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3077373023840762218</id><published>2009-03-11T17:55:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T19:17:24.331-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Zero Mistake&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pas naik kereta api, aku selalu teringat pada wejangan bos pertamaku saat mengedit buku. Dia pengen buku yang terbit sama sekali tak ada kesalahan alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zero mistake&lt;/span&gt;. "Target kita adalah zero mistake," begitu katanya. Dan karena itu, aku selalu lamaaaa sekali kalau mengedit buku. Proofreading juga lamaaaa banget. Sebisa mungkin jangan sampai ada salah ketik satu huruf sekalipun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zero mistake &lt;/span&gt;sulit sekali. Bener. Susah banget. Padahal mataku sudah kujembreng lebar-lebar (hehehe, gimana sih bentuknya mata yang dijembreng? serem amat), tetep saja ada yang salah. Kadang titiknya kelebihan. Kadang hurufnya kurang. Yah, walaupun dari seluruh buku setebal 200 halaman paling cuma satu kesalahan, tetap saja itu nggak zero mistake, kan? Dan kalau buku itu sudah dicetak, penyesalan karena kesalahan yang seuprit itu dalam banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungan antara naik kereta api dengan zero mistake?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, aku mikir, bekerja di perkereta apian itu mestinya nggak boleh ada kesalahan. Misalnya, kalau ada petugas yang kelupaan nutup palang kereta, kan nyawa orang bisa melayang. Bagi seorang petugas yang kerjaannya nongkrongin palang pintu kereta, pekerjaan itu sama sekali tidak boleh ada kesalahan kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah membaca artikel di majalah FAMILIA (majalah keluarganya KANISIUS yang sudah  nggak terbit lagi) dan koran hari mingguan (aku lupa apa namanya). Di situ ada cerita tentang petugas kereta api yang tugasnya ngencengin mur bautnya rel kereta. Tiap malam dia menyusuri rel kereta sejauh 5km dan mengencangkan mur-mur yang sudah kendor. Tak pernah absen. Tak pernah telat. Aku bilang, orang itu hebat lo. Lha wong gaji nggak seberapa, tugasnya berat, nggak pernah absen lagi. Kalau salah sedikit, kan bisa parah akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kalau kubandingkan dengan pekerjaanku, pekerjaan bapak-bapak itu jauh lebih mulia. Dan tuntutan mereka untuk zero mistake jauh lebih besar. Taruhannya nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh aku tetep ingin sebisa mungkin naskah yang aku kerjakan zero mistake... biarpun taruhannya bukan nyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Btw, aku mau nulis apa sih sebenarnya?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3077373023840762218?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3077373023840762218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3077373023840762218' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3077373023840762218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3077373023840762218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/zero-mistake-kalau-pas-naik-kereta-api.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1577886860424238112</id><published>2009-03-10T16:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T17:23:37.134-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komitmen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Takut Komitmen?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SbcENdBIMGI/AAAAAAAAABU/L92SwKf7UYk/s1600-h/komitmen.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 290px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SbcENdBIMGI/AAAAAAAAABU/L92SwKf7UYk/s320/komitmen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311718914680959074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin aku mendapat email dari seorang teman yang ujung-unjungnya dia mengatakan bahwa dia takut berkomitmen dengan pacarnya sekarang. Sebenarnya agak membingungkan juga, soalnya  beberapa waktu lalu dia mengatakan akan menikah. Tapi kok masih takut untuk berkomitmen ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih, menikah adalah keputusan yang besar. Setelah kita mengatakan "Saya bersedia" atau "Yes, I do", tak ada jalan untuk kembali. Itu menurutku lo. Menikah ya sekali saja. Nggak tahu ya kalau dari awal sudah niat kawin lagi? Nah, saat itulah cinta membutuhkan komitmen (halah) dan tidak hanya menggombal, "Kaulah segalanya. Gunung kan kuseberangi, laut kan kudaki" kebalik ya? Orang kalau lagi mabuk kan ngomongnya suka kebalik-balik. Hehehe. Ah, pokoknya begitu deh. Gombal abis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu mengatakan teman-temannya sudah membesarkan hatinya dan mendorong-dorong "Menikah saja, deh!"  Dia menanyakan bagaimana caranya supaya tidak takut untuk berkomitmen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah jadi, bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku yang perlu ditanyakan adalah "Mengapa menikah?" Tidak ada undang-undang yang mengatakan bahwa setiap orang harus menikah. Tidak ada yang mengharuskan. Kalau dia mau melajang terus, ya boleh-boleh saja--asal tidak mengganggu kepentingan umum kayak kasusnya Ryan begitu. Kalau mau menikah, ya dia sendiri secara sadar memang mau menikah dengan kekasih pilihan hatinya. Maksudnya, menikah memang betul-betul pilihannya. Barangkali, teman dan orang-orang terdekat sudah mendorong-dorong. Tapi masak hanya karena sudah didorong-dorong orang lain sih? Nggak seru ah! Menurutku menikah itu tidak karena semua teman sudah menikah, sudah dianggap sudah cukup umur untuk menikah, dll. Mesti ada niat dari diri sendiri (dan pacarnya tentu saja, dong!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang dia cuma pengen TTM saja, atau pacaran tanpa berniat menikahi perempuan itu, mbok lebih baik ngomong saja terus-terang di awal kepada pacarnya itu, "Kamu mau nggak kita pacaran tapi tidak usah menikah. Aku takut untuk menikah dan berkomiten nih." Nah, soal ceweknya nanti mencak-mencak, ya itu resiko yang harus dia tanggung. Jangan sudah pacaran lamaaaa tapi ujung-ujungnya si cewek "digantung" alias nggak jelas mau dinikahi atau tidak. Kalau si cewek dari awal pacaran sudah pengen menikah dalam waktu 1-2 tahun, tapi ternyata setelah lebih dari 4 tahun tak ada tanda-tanda akan dinikahi, kan bisa bikin stres? Apalagi kalau sudah sama-sama berumur, sudah mapan semua. Tapi rasanya memang keberanian untuk berkomiten tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemapanan seseorang. Ada lo, temanku yang belum lulus kuliah berani menghamili pacarnya supaya boleh menikah. Memang itu konyol sih. Tapi kurasa dia lebih berani berkomitmen lo. Tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku sendiri tak tahu kenapa temanku itu takut berkomitmen. Rasanya kalau dia sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;enjoy &lt;/span&gt;dengan dirinya sendiri, alias dia nggak bermasalah, menikah dan berkomitmen itu wajar kok. Kalau yang pernah aku baca-baca, seseorang bisa untuk takut berkomitmen karena punya masalah keluarga. Misalnya, dia pernah melihat orang tuanya bercerai. Nah, kalau kaya gitu, mesti diberesi dulu masalahnya. Bagaimanapun, jika masalah itu belum dibereskan sebelum menikah, justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan ruwet lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, menikah memang butuh kedewasaan.... (hihihi, ngomongnya sok dewasa banget sih! mentang-mentang udah nikah.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1577886860424238112?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1577886860424238112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1577886860424238112' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1577886860424238112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1577886860424238112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/takut-komitmen-kemarin-aku-mendapat.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SbcENdBIMGI/AAAAAAAAABU/L92SwKf7UYk/s72-c/komitmen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1386202839086562683</id><published>2009-03-08T19:31:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T05:22:06.132-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nonton'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='java jazz 2009'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jazz'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Review Seputar Java Jazz Festival 2009 (7/3/2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kemarin (7/3/2009), sejak pagi aku sudah membayangkan bahwa nanti sore sampai malam aku akan memanjakan mata dan telingaku untuk menikmati musik-musik jazz yang membuatku takjub. Wah, bakal tertakjub-takjub nih! Dan siang itu, pukul 11.30 aku dan suami meluncur ke JHCC untuk datang ke Java Jazz Festival 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menyusuri area Senayan, kami sudah disapa oleh beberapa bapak-bapak setengah baya, "Tiketnya, Bos." Kami menggeleng sambil memanis-maniskan muka. "Atau kelebihan tiket ya? Nanti saya bayar." Sekali lagi kami menggeleng dan terus melangkah. Ternyata sepanjang jalan itu banyak calo! Dan di serambi JHCC itu calo-calo itu menjajakan karcisnya. Bahkan mereka menjualnya di depan panitia lo. Rata-rata mereka mematok harga 500 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami pun masuk pukul 14.00. Dan untuuuung banget, roti sobek plus air minum kami tidak disita. He he he. Makasih ya Mbak. Mungkin karena dua benda itu agak mojok di dalam tas. Atau mbaknya kasihan melihat tampangku yang ndeso ini? Ha ha ha! Entahlah. Dua benda itu pertolongan pertama kalau haus dan lapar je. Kalau beli di tempat pertunjukan kan mahal. Teh aja 10 ribu, nasi goreng 40 ribu. Huh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadwal pertunjukan yang dijual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki ruangan, hidungku yang sensitif terhadap bau rokok ini sudah mulai mencium tanda-tanda kehadiran rokok di ruangan ber-AC itu. Para pengunjung belum banyak sih. Tapi di loby sudah ada penyanyi yang pentas. Tapi ya baru satu itu. Para penyanyi yang lain rupanya masih jam 3-an mulai manggungnya. Kami lalu datang ke bagian informasi untuk menanyakan jadwal pertunjukan. Dan ternyata, brosur yang selembar itu DIJUAL! Bukan, bukan bagian informasi yang menjualnya, tetapi AXIS yang sekalian jualan kartu perdana seharga 6 ribu. Dan ada pula majalah MUSIC yang diedarkan plus jadwal pertunjukan. Harganya? 20 ribu. Rupanya itu adalah kekecewaan tahap pertama. Brosur setengah halaman A4 saja kok dijual. Padahal dengan harga tiket Java Jazz yang cukup mahal, mestinya brosur semacam itu bisa dibagikan gratis. Walaupun awam di bidang cetak-mencetak, aku tahu semakin banyak brosur yang dicetak akan semakin murah. Apalagi ada sponsornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertunjukan yang kami tonton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama kami menonton pertunjukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gamelan Shokbreker&lt;/span&gt;, pukul 15.00. Penonton tidak terlalu berjubel dan duduk lesehan. Wah, boleh juga nih. Rupanya itu musik gamelan bernuansa Sunda. Musiknya mantap. Pemain kendangnya jago. Gamelan Shokbreker adalah kolaborasi musik antara &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Patrick Shaw Iversen&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ismet Ruchimat&lt;/span&gt; (Norwegia dan Indonesia). Setelah dari situ kami menonton Jakarta Broadway Singers. Tapi sayang kami cuma kebagian buntutnya. Bagus sih. Dan gaya mereka yang centil-centil itu lumayan menghibur. Menjelang akhir pertunjukan tampil &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Barry Likumahua&lt;/span&gt;, anak Benny Likumahua. Wah, permainan basnya boleh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari situ, kami muter-muter lagi dan menunggu penampilan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tom Scott&lt;/span&gt; jam 6. Karena masih agak lama, kami niatnya mau ketemu teman yang nonton Slank. Tapi biuuuuh... aku nggak tahan dengan suaranya. Kenceeeeng banget. (Lah iya lah, namanya juga konser!). Tapi yang agak aneh, kok enggak ada kesan jazzy-nya ya? Lha ini mah, mending mereka konser di stadion terbuka saja. He he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami duduk-duduk di lantai atas. Dan aku sempat mampir di toilet. Rupanya, dari tiga ruang toilet, cuma 1 yang bisa ditutup pintunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam sebelum Tom Scott tampil kami sudah ngantri. Dan ampuuun, antriannya sangat tidak rapi. Tapi untung kami berdiri agak depan, jadi pas begitu pintu dibuka, langsung dapat duduk. Dan penampilan Tom Scott sangat prima! Jazz banget. Aduh, baru sekali ini menonton Tom Scott. Rasanya seperti terbius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mau nonton Tompi, kami terpaksa tidak selesai menonton Tom Scott. Dan aku menyesal, meninggalkan Tom Scott. Soalnya yang menonton Tompi berjubel buanget! Wah, padahal Tompi adalah salah 1 artis yang sudah kutunggu-tunggu. Sakin berjubelnya penonton, panitia pun kewalahan. Bahkan pas aku mencoba ikut berdesak-desakan, aku mendengar percakapan panitia: "Kalau sudah nggak muat, penontonnya distop dong, jangan boleh masuk!" Panitia rupanya tidak bisa memprediksi jumlah penonton yg membludak. (Alangkah bodohnya panitia! Tompi gitu loh! Masak nggak ngerti kalau fans-nya banyak?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kami menonton &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tohpati&lt;/span&gt;. Wah, sumpah! Ini keren abis. Dasarnya aku suka banget sama permainan gitar. Apalagi baru kali ini menyaksikan Tohpati tampil live. Permainan gitarnya tidak diragukan lagi deh. Bikin hatiku ikut menari-nari. (Dan kenapa ya, setiap pemain gitar, terutama yang klasik, tuh tampak cakep di mataku? Hihihi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kami menonton &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ivan Lins&lt;/span&gt;. Yang terakhir ini memang dewanya penyanyi jazz. Sepertinya aku sudah tak sanggup berkata-kata lagi saat menyaksikannya. Nyanyinya bagus buanget! Dan pas dia nyanyi dia memainkan alat musik kecil entah apa namanya, yg menyempurnakan penampilannya. Rasanya tidak ada kata yg cukup untuk menggambarkan penampilannya. Tema lagu-lagu yang dia bawakan juga tidak norak: tentang kampung halamannya, tentang pantai, dll. Bagus kan? Nggak kaya d' Massiv yang melolong-lolong karena patah hati. Cuih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesan terhadap panitia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemusik dan penyanyi yang kemarin kutonton memang bagus-bagus. Tapi aduh, kok rasanya aku sangat tidak puas dengan kerja panitianya ya? Begini, kemarin itu penonton membludak! Yang aku herankan, kenapa tiket terus dijual ya? Padahal mereka seharusnya tahu dong, berapa kapasitas ruangan. Masak sih nonton jazz mahal kok kayak nonton band biasa di stadion? Desek-desekan nggak karuan. Mau masuk ke ruangan saja dorongan-dorongan.  Dulu pas nonton jazz di Jogja rapi banget. Penuh sih, tapi nggak desek-desekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus lagi, sebagian sound systemnya jelek! Yang aku heran, Tohpati dan Ivan Lins memakai ruangan yg sama. Tapi kenapa sound-nya Tohpati tidak sejernih Ivan Lins? Trus, panggung di loby, sama sekali tidak bagus soundnya. Ada 3 panggung lagi. Lha buat apa? Masak ketiganya mau dipakai? Mau denger bareng-bareng? Ya nggak bisa lah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penonton masih suka buang sampah sembarangan! Padahal di bagian depan ada stand "ZERO WASTE". Zero Waste dari Hongkong! Yang paling parah sampah di dekat food hall. Segunung! Malu nggak sih pasang stand ZERO WASTE tapi sampahnya berceceran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling parah adalah ROKOK DI MANA-MANA. Kupikir sopir angkutan umum dan orang-orang kecil saja yang nggak tahu aturan soal rokok. Orang-orang yang mampu beli tiket Java Jazz itu juga sangat tidak tahu aturan. Sudah tahu ruangan ber-AC, orang diperbolehkan merokok. Security dan polisi yang ada di situ tidak menindak para perokok yang tidak tahu aturan itu. Mereka seharusnya tahu dong, di ruangan ber-AC kan tidak boleh merokok. Dan orang-orang itu merokok seenaknya. Apakah warga Jakarta memang kesadarannya sangat rendah ya--termasuk aparat yg seharusnya bisa menindak mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, masak sih nonton jazz aku ditawarin beli asuransi, pasang indovision, kartu kredit, internet. Mbok yang lebih elegan dikit, napa sih? Jangan cuma cari untung dong ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1386202839086562683?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1386202839086562683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1386202839086562683' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1386202839086562683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1386202839086562683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/review-seputar-java-jazz-festival-2009.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8086827076960655908</id><published>2009-03-04T21:44:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T00:25:35.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pak Kantor Pajak, Bisakah Lebih Mudah Pelaporannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kemarin, waktu masih berstatus sebagai karyawan,  urusan laporan pajak tidak menjadi masalah besar buatku karena sebagian besar sudah diurus oleh bagian HRD. Tapi sekarang beda. Karena aku seorang pekerja lepas, maka urusan laporan pajak, mesti mengurus sendiri. Dan ternyata, puyeng oi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di form yang harus kuisi, ada beberapa istilah yang tidak jelas bagiku. Yang paling depan saja deh, apa maksudnya form 1770 SS itu. Trus istilah PPh terutang, kredit pajak, dll. Wah embuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolom-kolom yang ada di situ agak memusingkan bagiku. Entah aku yang bodo, entah mereka yang kurang bisa membahasakannya dengan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatku heran, lha zaman komputer dan internet begini lo, kok laporan pajak nggak bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online. &lt;/span&gt;Dan kita masih harus mengisi form dengan tulisan tangan atau mesin ketik. Menurut pemikiranku, akan jauh lebih mudah jika kita bisa mengisi laporan pajak via &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online&lt;/span&gt;. Rasanya pakai program excel bisa deh. Anggaplah seperti kalau kita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sign up&lt;/span&gt; ke Yahoo! Kan gampang. Bahasanya nggak sulit, tinggal klik-klik di komputer, beres deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, mereka yang butuh, kok kita yang dibuat pusing ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8086827076960655908?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8086827076960655908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8086827076960655908' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8086827076960655908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8086827076960655908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/pak-kantor-pajak-bisakah-lebih-mudah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4491422148930785661</id><published>2009-03-02T22:35:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T22:57:58.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keterampilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memasak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rumah tangga'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ayo Memasak!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, salah satu keterampilan penting yang perlu dipunyai saat seseorang menikah adalah memasak. Kenapa? Kan banyak warung makanan? Tinggal beli saja. Lebih gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya sih. Aku dulu juga begitu. Eit, itu jauh sebelum aku menikah lo. Tapi coba baca dulu ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku masih kecil, aku senang sekali jika disuruh bantu-bantu di dapur. Dan salah satu keahlianku dulu adalah menyiangi sayur yang akan dimasak. Hi hi hi! Keahlian yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi kadang kala ada jenis sayur yang tidak bisa asal potong saja. Labu siam misalnya. Getahnya banyak sekali, jadi setelah dibelah dua, kedua potongan labu itu perlu digesek-gesekkan dulu sehingga getahnya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rasanya aku cuma rajin bantu-bantu di dapur ketika masih kecil saja. Waktu aku sudah agak besar (sudah mulai sekolah), mulai tumbuh deh rasa malasnya. Kalau disuruh untuk menggoreng tempe atau tahu masih belum berani. Serem deh kayaknya. Suara yang mendesis saat tahu atau tempe dimasukkan ke dalam wajan membuatku takut. Selain itu sepertinya minyak yang di dalam wajan itu muncrat semua. Padahal sih sebenarnya kalau kita memasukkan dengan hati-hati, tak akan kecipratan minyak kok. Hanya karena aku sudah keder duluan, maka aku selalu menolak jika diminta menggoreng lauk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diminta memasak sayur? Nah, itu dia! Aku tidak bisa. Ha ha ha! Pernah suatu kali, pas aku masih SMA, ibuku memintaku memasak sayur asem. "Mumpung kamu libur," begitu kata ibuku. Lha masalahnya, aku tidak tahu bumbu sayur asem itu apa saja. Aku cuma tahu, pakai asem. Tapi yang lain? Nggak tahu, deh. Tahu apa yang aku lakukan? Setelah ibuku berangkat ke kantor, aku langsung ke rumah temanku, Joanna, yang aku tahu pintar memasak. Aku rayu dia supaya mau ke rumahku dan memasak sayur asem. Hahaha! Beres deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin jauh dari dapur ketika aku kuliah. Namanya juga tinggal di asrama, jadi makan, ya tinggal makan. Di asrama aku makan tiga kali sehari, dan semuanya tinggal ambil saja. Tak perlu repot-repot memasak. Pernah sih dulu teman-teman seunitku kumpul dan masak sup bareng-bareng. Tapi seingatku waktu itu masak sup gampang banget. Tinggal beli kaldu instan, lalu masukkan sayurannya. Sudah. Cuma begitu. Dan kami makan rame-rame. Seingatku rasanya enak-enak saja. (Tapi sekarang aku berusaha sebisa mungkin tidak memakai kaldu instan. Biar lebih sehat!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah soal dapur dan makanan mulai muncul ketika aku lulus dan tinggal di rumah Nenek. Waktu itu Nenek sudah meninggal. Jadi, aku tinggal di sana dengan kakakku. Awalnya sih aku nebeng dimasakin oleh Likku (tante) yang tinggal di situ juga. Tapi aku kok kurang cocok ya dengan masakannya. Mungkin karena dia penderita diabetes, jadi masakannya pun hambar. Lalu, aku mulai sering beli makan di warung makan di sekitar rumah Nenek. Lama-lama bosen juga. menu di warung makan ya begitu-begitu saja: tumis kangkung, telor dadar, ikan goreng, sup. Aku kangen orak-arik. Itu lo, wortel yang diiris tipis-tipis lalu dimasak sama telor. Lalu aku mulai memasak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana? Wong enggak punya alat masak. Setelah Nenek meninggal, semua alat masak dimasukkan semua ke lemari. Yang ada di dapur cuma panci yang biasa dipakai untuk menjerang air buat mandi. Mau pinjam Likku, kok rasanya malas ya. Dia kan pakai juga. Jadi, aku pun mulai membeli alat-alat masak seadanya. Mulai dari pisau sampai wajan. Setelah itu, aku mulai memasak. Awalnya ya masak orak-arik saja. He he he. Nggak pernah masak lain-lain, soalnya nggak tahu bumbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku mulai belajar masak, kakakku (kakakku cowok) mulai belajar masak juga. E, rupanya malah dia yang lebih jago masak. Pasalnya, dia lebih berani memasukkan bumbu. Tidak&lt;br /&gt;seperti aku yang takut-takut dalam memakai bumbu. Takut salah, takut tidak enak. Tapi kalau kakakku prinsipnya, banyakin saja bumbunya. Pasti enak! Waktu itu kami berusaha untuk tidak&lt;br /&gt;menggunakan penyedap rasa. Dan rupanya kalau kita memakai bumbu yang banyak, tak perlu pakai penyedap rasa lo! Cobain aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah aku menikah, aku merasa keterampilan memasak itu perlu. Memang sih, kita bisa beli makanan yang sudah jadi di warung. Tapi toh makan masakan sendiri itu suatu kenikmatan tersendiri lo. Dan kadang lebih murah kalau masak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa dengan belajar memasak kita belajar banyak hal. Kalau aku sih, dengan memasak aku belajar untuk lebih berani: Berani mencoba memasak makanan baru dan menggunakan bumbu yang belum pernah dicoba. Ada tantangan tersendiri untuk dapat menyajikan masakan yang enak. Kalau masakanku dipuji suami, rasanya seneng banget. Hi hi hi. Padahal cuma sayur asem lo. Jadi, aku rasa belajar memasak itu perlu--walaupun hanya memasak makanan yang sederhana dan simpel :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4491422148930785661?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4491422148930785661/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4491422148930785661' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4491422148930785661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4491422148930785661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/03/ayo-memasak-menurutku-salah-satu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-6990270591714664339</id><published>2009-02-25T02:33:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T02:39:10.578-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pertikaian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang Terkenang dari Slumdog Millionaire dan The Kingdom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, tidak ... aku tidak akan membahas dua film itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Slumdog Millionaire&lt;/span&gt; memang keren. Membuatku terkekeh-kekeh, terharu, dan ikut berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Kingdom&lt;/span&gt;? Ugh! Bunyi dar ... der ... dor yang memenuhi ruangan komputer kami membuatku terbangun. Itulah risiko punya suami yang gemar menonton film he he he. Apalagi hari ini dia libur mengajar. Jadi, pagi-pagi dia sudah nongkrong di depan komputer untuk menyetel film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Kingdom&lt;/span&gt;. Aku tidak menonton sejak awal--karena belum bangun. He he he. Tapi aku sempat melihat klimaks cerita film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu bagaimana yang aku rasakan saat melihat adegan-adegan di film itu? Jantungku berdebar kencang, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;biuh&lt;/span&gt; ... kakiku lemes bo! Sial! Dan aku mendadak merasa jadi orang bodoh. Lha wong cuma film lo, kok sampai deg-degan dan lemas lo? He he he. Keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Slumdog Millionaire&lt;/span&gt;, sampai saat ini aku masih ingat satu potongan kalimat di film itu. Ketika Jamal ditanya kenapa dia bisa menjawab pertanyaan apa yang dipegang Rama di tangan kanannya, dia langsung teringat kematian ibunya yang mengenaskan. Dia bilang, "Jika bukan karena Rama dan Allah, aku masih punya ibu sampai saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di film itu dikisahkan ibu Jamal tewas di tengah pertikaian agama--Hindu dan Islam. (Kata kakakku yang pernah tinggal di India selama beberapa bulan, di sana hubungan antara Hindu dan Islam memang tidak manis. Menegangkan. Agama yang dominan biasanya memang suka menekan. Ini terjadi di mana saja lo. Jadi bukan soal mau menjelekkan suatu agama tertentu.) Saat itu Jamal, Salim (kakaknya), dan ibu mereka sedang mencuci di sebuah sungai. E, tiba-tiba mereka diserang. Tanpa ampun, ibu Jamal yang panik langsung dipukul sampai mati. Tragis. Dan Jamal dan Salim yang masih kecil akhirnya kabur menyelamatkan diri. Nah, di tengah pelariannya itu, dia melihat patung (atau anak kecil ya?) yang berkostum Rama. Kejadian itu terekam betul di benaknya, plus si Rama kecil tersebut. Jadi, dia ingat betul apa yang ada di tangan kanan Rama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertikaian antar agama kerap kali memang menyakitkan. Tak jarang sampai berdarah-darah dan sampai mati. Ya ampun! Kenapa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tadi pagi, saat melihat film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Kingdom&lt;/span&gt;, lagi-lagi aku melihat pertikaian yang membuat orang tak bersalah mati. Inti ceritanya sih tentang teroris di Arab Saudi yang melakukan pengeboman di daerah permukiman orang-orang kulit putih yang bekerja di perminyakan. Di film itu digambarkan bagaimana sekelompok teroris membuat bom. Mengerikan. Banyak orang mati. Dan salah satu korbannya justru kepala polisi Arab Saudi yang masih punya anak kecil. Hiks ... menyedihkan. Jangan tanya detail film itu ya? Aku sudah lemes duluan waktu nonton adegan tembak-tembakannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa agamalah yang menjadi sumber masalah. Orang yang beragama X membunuh orang beragama Y. Alasannya? Ya, karena mereka beda&lt;br /&gt;agama, masing-masing memegang keyakinannya sendiri. Akhir-akhir ini rasanya semakin meruncing saja kecenderungan orang untuk menolak orang yang berbeda dengannya. Dan kadang-kadang seseorang melakukan itu untuk membela Tuhan. Please deh! Ngapain Tuhan dibela? Kalau kita mengakui Dia mahakuasa, Dia bisa membela diri-Nya sendiri. Kuasa-Nya yang melebihi apa pun itu bisa menggulingkan kita dengan sekali tiup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku pikir, kenapa ada saja kebencian yang tumbuh terhadap orang yang berbeda agama dengan kita. Kenapa? Karena kita kurang mengasihi mereka. Kita menganggap orang yang berbeda itu musuh yang harus ditumpas. Padahal musuh bisa dikasihi, kok. Tergantung kita, mau berbesar hati atau tidak. Lagi pula, kenapa harus memakai memberi label musuh kepada mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, embuhlah! Nggak tahu aku. Aku bosan mendengar orang saling membunuh, mengebom, karena alasan agama. Kenapa mereka tidak kalian anggap sebagai saudara yang pantas dikasihi, kawan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-6990270591714664339?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/6990270591714664339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=6990270591714664339' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6990270591714664339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6990270591714664339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/yang-terkenang-dari-slumdog-millionaire.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-6237063356682106612</id><published>2009-02-23T20:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T21:14:00.358-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='layanan umum'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOB1nIqFaI/AAAAAAAAAAU/5vzXpOX0qUQ/s1600-h/smile.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 116px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOB1nIqFaI/AAAAAAAAAAU/5vzXpOX0qUQ/s320/smile.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306227544010921378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Layanan Sederhana yang Membuat Tersenyum&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Setelah beberapa bulan puasa menyantap salad bar di American Grill (Amgril), beberapa hari yang lalu aku dan suamiku akhirnya ke Amgril lagi. Kami berdua sesama penyuka salad. Dan di mana lagi kita bisa menikmati salad sepuasnya kalau tidak ke Amgril? Sebenarnya menurut kantong kami agak mahal sih, tapi karena sudah lama banget tidak menikmati salad, tak ada salahnya dong jika kami memanjakan lidah ke sana :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kami berlama-lama di restoran itu. Yah, namanya juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;all you can eat&lt;/span&gt; (salad saja), gitu lo! Dan, benar-benar puas deh. Sayurnya banyak. Dressingnya juga macam-macam. Belum lagi es krimnya bisa nambah sebanyak apa pun! Whew! (Gimana nggak tambah gendut, Kris? Hi hi hi.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking lamanya di situ, aku tidak sadar kalau di luar mendung.  Dan, hujan pun turun dengan derasnya. Waduh! Gimana ya? Padahal tadi rencananya setelah dari Amgril (di Kelapa Gading), kami akan belanja ke Tip Top di Rawamangun. Kalau mau belanja di Farmers kayaknya mahal deh. Tapi kalau hujan begini, bagaimana dong? Males banget kalau mesti berdiri di pinggir jalan mencari angkot ke Rawamangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memutuskan ke Farmers saja, yang satu kompleks dengan Amgril. Tetapi biar sekompleks, toh kami harus mengeluarkan payung supaya tidak basah kuyup. Jaraknya sih dekat, paling cuma beberapa meter. Nah, pas mau masuk mal tempat Farmers, seorang petugas berkata kepada suamiku, "Pak, maaf payungnya saya masukkan plastik dulu." Petugas itu lalu membuka plastik cukup panjang, yang pas untuk segulungan payung lipat. Dengan begitu, air hujan yang membasahi payung kami tidak menetes sepanjang. Dan yang pasti, ringkas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan yang simpel itu membuat suamiku tersenyum. "Sederhana sih layanannya, tapi ini cukup membantu orang yang mau masuk dan belanja di sini," begitu katanya. Iya, betul. Kalau di rumah sendiri sih, biasanya aku membuka lebar-lebar payung yang masih basah, dan kuangin-anginkan di teras depan. Kalau di mal, mana bisa begitu? Untungnya petugas mal cukup "cerdas" dengan menyediakan plastik untuk payung. Lagi pula itu dengan begitu, mereka tak perlu terlalu repot mengepel lantai yang basah kuyup karena tetesan air hujan dari payung para pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan yang sederhana, hal-hal kecil yang dilakukan untuk mempermudah pelanggan, akan sangat dihargai pelanggan. Senyuman ramah yang hangat, ucapan selamat ulang tahun, sapaan yang hangat, adalah hal-hal kecil yang membuat pelanggan Anda tersenyum. Menjalin pertemanan dengan para pelanggan juga tak ada salahnya. Toh, relasi yang baik dan hangat akan lebih menguntungkan, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-6237063356682106612?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/6237063356682106612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=6237063356682106612' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6237063356682106612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6237063356682106612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/layanan-sederhana-yang-membuat.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOB1nIqFaI/AAAAAAAAAAU/5vzXpOX0qUQ/s72-c/smile.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5551774730377348738</id><published>2009-02-22T15:56:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T21:18:11.668-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='idealisme'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOC7TwBgLI/AAAAAAAAAAc/7fYyfD4PBok/s1600-h/money.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 131px; height: 88px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOC7TwBgLI/AAAAAAAAAAc/7fYyfD4PBok/s320/money.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306228741398167730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hare Gene Masih Idealis??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat kemarin aku dicurhati temanku via SMS yang sedang BT dengan teman kerjanya. Dia adalah guru SD di ujung timur Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Begini SMS-nya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Aku kesel banget sama temanku. Aku pengen orang tua yang anaknya brekele (baca: malas dan nilainya jelek) dipanggil ke sekolah. biar mereka siap-siap ngajari belajar anaknya di rumah. tapi temanku nggak mau. katanya anak-anak yg brekele dinaikin kelas aja, biar ortu ngasih dana (uang) ke kita. sedih, deh. kok moral guru kaya gitu ya? katanya, kalau aku idealis, selamanya aku akan kere, jadi umar bakre ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa temanku yang jadi guru, aku tahu bahwa ada beberapa orangtua murid yang memberi uang atau kado saat anaknya naik kelas dan/atau mendapat nilai bagus. Jumlah uangnya bervariasi. Kalau tidak salah minimal seratus ribu (setidaknya ini di Jakarta, lo). Kadang memberi kado, misalnya tas, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;voucer&lt;/span&gt; pulsa, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih, ada guru yang menolak saat dikasih kado atau uang. Dan temanku adalah salah satu dari guru semacam itu. Kalau kadonya tidak berlebihan, kadang dia masih mau. Sedangkan jika uang yang ditawarkan, dia nggak mau. Tapi ya tetap saja masih ada saja guru yang dengan senang hati menerima uang ekstra atau kado dari orang tua murid. Ya, guru tersebut punya banyak kebutuhan kali ya? Mesti bayar cicilan rumah, cicilan sepeda motor, beli susu buat anaknya, belanja kebutuhan sehari-hari, dll. Jadi, dia akhirnya mau-mau saja menerima "derma" dari orangtua murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir, guru, apalagi guru SD, mestinya idealis. Kalau tidak idealis, bagaimana anak-anak bisa memiliki prinsip yang kokoh untuk bekal hidupnya nanti? Tapi memang biasanya, orang idealis tidak punya banyak duit. He he he. Jadi bagaimana teman-teman, masih mau idealis? Mesti siap-siap nggak punya duit lo! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5551774730377348738?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5551774730377348738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5551774730377348738' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5551774730377348738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5551774730377348738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/hare-gene-masih-idealis-jumat-kemarin.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOC7TwBgLI/AAAAAAAAAAc/7fYyfD4PBok/s72-c/money.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5980972236297413206</id><published>2009-02-21T02:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T03:00:35.075-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang di hari Minggu beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku :"Na, mbok aku pinjem motormu ya."&lt;br /&gt;Ana :"Lha mbok pinjem saja. Tapi ..."&lt;br /&gt;Aku :"Wis, bensinnya tak isi penuh nanti."&lt;br /&gt;Ana :"Ora ngono. Motorku ini setangnya agak miring. Kamu ati-ati ya?"&lt;br /&gt;Aku :"Oh, cuma setangnya to? Beres lah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siang itu aku melaju ke rumah temanku di pucuk Jogja sana dengan motor pinjaman dari Ana. Sebetulnya aku tidak terlalu dekat dengan Ana. Aku mengenalnya sebagai mahasiswa kakakku. Dia cuma satu tahun di bawahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku Ana adalah seorang anak yang manis. Imut. Kalem. Dan karena itu aku suka menggoda seorang temanku yang beberapa kali kepergok sedang jalan bareng Ana. "Wis to, karo Ana wae! Hehehe," kataku. Tapi temanku itu ternyata cuma senang PDKT saja. Dasar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar satu atau dua tahun yang lalu, aku dan kakakku dapat undangan pernikahan Ana. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Weh, cepet tenan arek iki,"&lt;/span&gt; batinku. Setelah menikah beberapa kali dia masih suka main ke kantorku untuk menemui Dian, temanku di departemen lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahuku Dian memang dekat dengan Ana. Karena itu, tampaknya Ana cukup prihatin melihat Dian yang tidak segera menyelesaikan skripsi. "Mbak, aku tuh sudah berulang kali bilang ke Dian, kalau dia butuh bantuan untuk skripsi, tak bantu deh. Tapi kok dia kayaknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aras-arasen &lt;/span&gt;(enggan) ya mengerjakan skripsi?" Hehehe, ya mana aku tahu to Na?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa kapan terakhir bertemu Ana. Seingatku sih beberapa waktu sebelum aku keluar dari tempat kerjaku yang lama. Dia menjual tempat HP yang sampai sekarang masih sering kupakai. "Berapaan, Na?" tanyaku waktu itu ketika ia membawa satu tas kresek besar berisi tempat HP. "Lima ribu saja," katanya.&lt;br /&gt;"Wah, murah. Aku beli dua, ya!"&lt;br /&gt;Aku memilih dua kantong HP warna cokelat--biar nggak cepat kelihatan kotor. Hehehe.&lt;br /&gt;"Na, mbok ditawarkan ke teman-teman."&lt;br /&gt;"Wah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;isin &lt;/span&gt;aku Mbak!"&lt;br /&gt;"Yo wis, sini, aku bawa masuk. Aku tawarkan ke mereka."&lt;br /&gt;Lumayan, beberapa temanku akhirnya beli tempat HP yang dibawa Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang, ketika bangun tidur, aku menjumpai SMS di HPku dari temanku, Lena. "Kris, Ana meninggal. Barusan aku di-SMS Dian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He? Ana? Ana yang kecil dan manis itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang Ana sudah meninggal. Katanya dia stres memikirkan suaminya yang sakit parah. Kata Dian, suami Ana sudah sebulan ini dirawat di rumah sakit. Radang otak atau apa lah.&lt;br /&gt;Nggak jelas sakitnya. E, lha kok Ana duluan yang dipanggil Gusti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Na, aku yakin kamu sudah tenang di sisi Bapa. Tapi kok rasanya kamu cepat sekali pergi to? Wis, Na ... sore ini aku tak misa dulu. Aku doain kamu nanti. Dan semoga suamimu, Leo, dan semua keluargamu tabah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kok mendadak pengin nangis ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5980972236297413206?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5980972236297413206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5980972236297413206' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5980972236297413206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5980972236297413206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/ana-suatu-siang-di-hari-minggu-beberapa.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4321932874486097361</id><published>2009-02-20T09:32:00.001-08:00</published><updated>2009-02-23T22:04:58.222-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rokok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='angkot'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaON4_np2gI/AAAAAAAAAAk/tn560hX52hM/s1600-h/smoking.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 59px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaON4_np2gI/AAAAAAAAAAk/tn560hX52hM/s320/smoking.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306240796262521346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Angkot dan Rokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot. Alat transportasi itu kini seakan sesuatu yang mau tak mau menjadi bagian dari diriku. Ya, selama tinggal di Jakarta ini, aku mau tak mau harus berteman dengan angkot. Mau tak mau? Iya, lha kalau mau beli mobil sendiri belum mampu. Mending uangnya ditabung untuk beli rumah. Lagi pula, lalu lintas di Jakarta ini terlalu semrawut. Kalaupun punya mobil sendiri, pasti biayanya akan mahal sekali. Belum bensinnya, servisnya, sopirnya, stresnya kena macet, pajaknya, dll. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wis lah, tak numpak angkot wae.&lt;/span&gt; Ya, sesekali naik taksi sih. Tapi sesekali saja ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya salah satu hal yang mesti aku siapkan dari rumah ketika akan naik angkot adalah tabung oksigen. Lha? Lha iya. Tabung oksigen, plus oksigennya dong. Kalau cuma tabungnya saja, ya buat apa? Memangnya kenapa? Soalnya, ... hhh ... di dalam angkot selalu saja ada orang yang merokok. Entah sopirnya, keneknya, atau penumpangnya. Hu ... hu ... hu ... rasanya aku mau nangis dan merampas rokok yang masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kemebul&lt;/span&gt; di mulut si perokok itu. Kan aku jadi sesak napas :((&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu, apa sih yang ada di benak para perokok itu? Kenapa mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya telah mencuri. Mencuri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;opo&lt;/span&gt;? Ya mencuri. Mencuri hak orang lain untuk mendapatkan udara yang bersih. Wong di dalam ruangan yang sempit lo, kok ya tega-teganya merokok. Padahal tak jarang di dalam angkot itu ada ibu hamil, ada bayi, ada anak balita, ada aku (hehehe), ada orang yang sudah tua, ada orang yang kurang sehat, dll. Mestinya kami ini kan berhak menghirup udara yang bersih. E ... lha kok perokok itu tanpa minta izin langsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;klepas-klepus.&lt;/span&gt; Opo ndak sebaiknya para perokok itu mulutnya dikareti saja? Atau diseteples? Biar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kuapok&lt;/span&gt;, nggak merokok di tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering merasa orang-orang yang biasa-biasa seperti aku ini tidak punya banyak pilihan--terutama dalam hal sarana publik. Aku kan sudah bayar pajak, tapi tetep saja fasilitas umum yang memadai, bersih, dan sehat, kok masih jauh di awang-awang ya? Misalnya ya soal angkot itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang mengherankan adalah orang-orang yang bekerja di perusahaan rokok itu kok kayaknya makmur ya? (Ini memang nggak termasuk buruh sih, yang aku maksudkan ya para karyawan dan bos-bosnya itu lo.) Salah satunya adalah temanku, yang suaminya kerja di sebuah perusahaan rokok besar. Tanpa bekerja pun, dia sudah bisa hidup enak. Fasilitas yang bagus selalu tersedia. Ini kan tidak adil sebenarnya. Berbagai kenikmatan itu kan mereka dapatkan dari laba penjualan rokok to? Dan siapa yang membeli rokok? Di antaranya ya sopir angkot dan kalangan rakyat biasa. Dan, siapa yang menikmati asap rokoknya? Ya orang-orang yang mau tak mau bersinggungan dengan para perokok. Ya aku, ya ibu-ibu hamil itu, ya anak-anak yang bapaknya perokok, ya teman-temanku yang pacarnya perokok, ya kalian yang selalu sesak napas kalau mencium asap rokok. Heran, barang tidak sehat begitu kok ya dijual to Mas? (Kalau besok punya anak, tak akan kuperbolehkan dia bekerja di perusahaan rokok, biarpun bayarannya satu milyar! Bagiku, bekerja di sana sama saja dengan ikut komplotan pencuri.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang ada di pikiran para penggede perusahaan rokok itu? Membuka lapangan pekerjaan untuk para buruh? Wis to, nggak usah ndobos dan muluk-muluk. Bilang saja, cari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bathi&lt;/span&gt;, mendapatkan laba sebanyak-banyaknya! Iya to? Biar kalian itu tetep bisa naik pesawat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blebar-bleber&lt;/span&gt; ke sana ke mari, biar bisa menyekolahkan anak-anak kalian ke luar negeri, biar bisa hidup enak tiap hari (kalau sakit ya mampu mondok di kelas VIP, dokternya yang pinter; kalau mau beli bensin ya nggak usah mikir; kalau mau belanja ya setidaknya ke Singapore lah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inggih nopo, mboten?&lt;/span&gt;) Sedikit labanya untuk menggaji ibu-ibu dan bapak-bapak yang jadi buruh pabrik. Nggak usah munafik lah .... Kalau perusahaan rokok itu bisa memberi beasiswa kepada anak-anak Indonesia, dan mereka merasa berjasa besar kepada negara ini, oh ... apa nggak malu? Wong sudah menjual racun, mendapat laba, trus menutupi kebusukan kalian itu dengan melakukan kebaikan kepada orang yang tidak mampu? Apa maksudnya to Pak, Bu? Mau jadi Robin Hood ya, Pak? Main film komedi saja deh. Nggak usah bikin dan jualan rokok.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4321932874486097361?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4321932874486097361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4321932874486097361' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4321932874486097361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4321932874486097361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/angkot-dan-rokok-angkot_20.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaON4_np2gI/AAAAAAAAAAk/tn560hX52hM/s72-c/smoking.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7587408156056687373</id><published>2009-02-18T22:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T22:14:18.708-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOQJQ2XBlI/AAAAAAAAAAs/OeYcvAc_6eY/s1600-h/holding+hands.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 100px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOQJQ2XBlI/AAAAAAAAAAs/OeYcvAc_6eY/s320/holding+hands.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306243274788767314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Cukup Hanya Perasaan  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan teman asramaku dulu, Nana. Ngobrol ngalor ngidul. Kangen-kangenan. Kami sudah lama tidak bertemu--seingatku sejak tahun 2001. Atau lebih? Ah, lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, teman asrama selalu "nyantol di hati". Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin karena kami dulu serumah. Tiap hari bertemu; mulai dari bangun tidur sampai mau tidur. Ya, kuliah memang bisa beda-beda. Tapi setiap kami pulang kuliah atau beraktivitas, ketemunya ya mereka-mereka itu. Dan pada pertemuan kemarin itu kami bernostalgia. Mengingat teman-teman yang dulu sekamar dan yang beda unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang kami bicarakan adalah kekecewaan Nana karena "ditolak" untuk bertemu dengan seorang teman kami --sebut saja--namanya Lila. Entah kenapa Lila tidak mau bertemu Nana lagi. Padahal dulu mereka kadang sering bareng. Lalu mengalirlah cerita dari mulut Nana, bahwa dulu Lila itu pernah bermasalah dengan pacarnya. Menurut Nana sih, cowoknya itu sikapnya keras banget. Jadi sering memaksakan kehendak. (Yee ... baru pacaran sudah sering maksa.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka pun putus. Dan Nana jadi tumpahan curhat si Lila. Setelah putus, si Lila masih saja menyayangkan putusnya mereka dan pengin balik lagi. Nana, yang kenal betul watak si cowok, berkali-kali mengatakan bahwa keputusan mereka untuk putus itu sudah benar. Tapi ya ... mungkin karena masih sayang atau bagaimana, Lila ngotot ingin balik. Lha, terang saja Nana jadi sewot. "Lha belum jadi suami saja sudah sering maksa gitu, masak mau diterusin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku Nana benar. Setelah putus, kita mungkin ingin balik lagi ke mantan pacar, padahal kita sadar betul kalau mantan cowok kita ini begini, begini, begitu, begitu. Enggak cocoklah gampangnya. Kalau dari awal sudah ada ganjelan yang tidak bisa diselesaikan, jangan pernah percaya bahwa ganjelan itu bisa hilang dengan sendirinya setelah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau masih sayang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... menurutku, sayang itu adalah perasaan. Bagaimana pun memilih pasangan hidup itu tidak hanya membutuhkan perasaan, tetapi juga logika. Perasaan sih perlu, tapi kayaknya perasaan bisa pudar. Karena itu, pertimbangan akal sehat sangatlah dibutuhkan. So, sah-sah saja kita pilih-pilih pasangan. Walaupun sudah didorong kanan kiri untuk segera menikah, keputusan ada di tangan kita. Toh, nantinya kita sendiri yang menjalani hidup pernikahan. Orang-orang yang sering bertanya, "Kapan nikah?" itu hanyalah penonton. Mereka tidak benar-benar terlibat dalam hidup pernikahan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi teman-teman, silahkan pilih-pilih dan beranilah mengambil keputusan dengan disertai pertimbangan akal sehat ;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7587408156056687373?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7587408156056687373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7587408156056687373' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7587408156056687373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7587408156056687373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/tak-cukup-hanya-perasaan-beberapa-waktu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaOQJQ2XBlI/AAAAAAAAAAs/OeYcvAc_6eY/s72-c/holding+hands.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2598545706963716410</id><published>2009-02-16T19:41:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T16:44:13.057-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jogja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaHxOZ_j5gI/AAAAAAAAAAM/mE98vYo2dhk/s1600-h/jagad.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 78px; height: 116px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaHxOZ_j5gI/AAAAAAAAAAM/mE98vYo2dhk/s320/jagad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305787065817097730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menonton Jagad X Code, Nonton Sekaligus Nostalgia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, sewaktu akan nonton Happy Go Lucky dengan suami dan Adel, suamiku menunjuk sebuah poster film. "Eh kayaknya lucu nih!" Film itu berjudul Jagad X Code. Bagi beberapa orang, judul film itu memang agak menyesatkan. Emma, temanku, mengira judul itu dibaca: "Jagad Eks Kod" (baca: pengucapannya), bukan "Jagad Kali Code". Tapi tak apalah, dimaklumi. Kesalahpengertian itu mestinya sudah diantisipasi oleh sang pembuat (judul) film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, minggu kemarin, di hari liburnya, suamiku mengajak nonton Jagad X Code. Aku sih mau-mau aja, wong dibayari. Hehehe. Lagi pula, menilik beberapa pemainnya seperti Yati Pesek, Didik Nini Towok, dan Marwoto, aku menebak ini pasti film lucu-lucuan yang mengambil setting Jogja. Dan benarlah dugaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film itu mengambil setting di pinggiran Kali Code, Jogja. Bagiku, menonton film itu seperti nostalgia. Wong, pengambilan gambarnya itu sekitar kantorku dulu (kantorku dulu memang di pinggir Kali Code :p). Kalau nggak salah sih pengambilan gambar itu dilakukan di kios ban-ban di sebelah utara gedung kantorku, di jembatan Kali Code di dekat McDonald jalan Sudirman (jembatan itu sering kami lewati pas mau makan siang di warung Padang dekat Tio Ciu), lalu Malioboro, alun-alun, Pasar Ngasem, Taman Sari, dan kalau nggak salah sih di sekitar Sagan, belakang Super Indo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film itu mengisahkan Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwiensyah), dan Gareng (Opie Bahtiar), tiga anak Code yang masih lontang-lantung. Di tengah masa pengangguran mereka yang nggak jelas itu, mereka bertemu dengan Semsar, seorang preman Malioboro yang menyuruh mereka mencari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flask disk&lt;/span&gt; di tas seorang perempuan. Sayangnya, mereka itu benar-benar polos dan gaptek sehingga tidak tahu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flask disk&lt;/span&gt; itu benda macam apa. Akhirnya mereka berhasil menjambret tas dari perempuan yg dimaksud oleh Semsar. Setelah mengeluarkan isi tas itu, mereka akhirnya mengambil sebuah benda yang mereka yakini sebagai flask disk. Film itu kemudian bergulir di seputar usaha mereka untuk menyerahkan benda tersebut kepada Semsar, perkenalan mereka dengan Regina (Tika Putri), seorang gadis klepto, anak pengusaha kaya di Jogja, dan usaha mereka untuk mendapatkan uang/pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah film untuk menyegarkan suasana, film ini lumayan sebenarnya. Tetapi menurutku film ini kurang "Jogja". Mungkin karena pemain utamanya justru bukan orang Jogja (Ringgo dan kedua temannya). Ke-Jogja-an di film itu diisi oleh Butet, Djaduk, Didik Nini Towok, Marwoto, dan Yati Pesek. Menurutku film itu akan lebih mantap kalau salah satu pemain utamanya adalah orang Jogja atau orang yang sudah lama bermukim di Jogja (yang sudah fasih berbahasa Jawa ala anak-anak muda Jogja). Rasanya &lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Donny Verdian&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Aat Poank&lt;/span&gt; (teman kantorku dulu), pas deh kalau ikut jadi pemain utama. Hehehe. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Don, tampangmu kan wis koyo Cino, ora ndeso-ndeso banget lah. Nek mung ngganteni Ringgo ketoke iso kok. Atau, kowe At, tampangmu kan wis sering muncul neng TV jadi, tur kowe kan nek ngomong medok banget, jadi ketok le asli Jogja hehehe. Ora mung ngem-ce ae At. Gek dadi artis hehehehe. Sopo ngerti iso luwih terkenal mbanganne bosmu lo :p) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasanku menonton film itu adalah karena musiknya Djaduk. Menurutku sih keren :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2598545706963716410?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2598545706963716410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2598545706963716410' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2598545706963716410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2598545706963716410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/menonton-jagad-kali-code-nonton.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_a-2RqPk_RIY/SaHxOZ_j5gI/AAAAAAAAAAM/mE98vYo2dhk/s72-c/jagad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1198098793857888662</id><published>2009-02-12T15:32:00.002-08:00</published><updated>2009-02-12T18:10:11.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bos'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dicari: Bos yang Baik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan dengan beberapa teman, kejadian belakangan ini, serta pengalamanku dulu, membuatku bertanya-tanya, seperti apa sih pemimpin yang baik itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin temanku bercerita soal bosnya yang menurutnya, "Sangat merepotkan. Ya, cuma itu istilah yang pas buat bos itu." Dari ceritanya sih, memang bosnya itu sangat merepotkan anak buahnya. Bosnya itu pengennya dilayani terus, dia nggak mau repot sedikit pun. Misalnya, saat anak-anak buahnya sangat sibuk dan butuh mobil untuk ngangkut barang, e ... mobil satu-satunya yang di kantornya itu malah dipakai untuk puter-puter kota untuk melihat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;placing &lt;/span&gt;barang. Padahal kalau si bos mau, dia bisa naik taxi atau melakukannya lain hari. Lagi pula, cuma si bos dan seorang asistennya yang pergi. Sementara itu, barang-barang yang mesti diantar sangat mendesak sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ini keluhan temanku yang satu lagi. "Kok bos itu nggak mikir dulu ya sebelum menyuruh anak buahnya mengerjakan sesuatu? Mikirin strateginya dulu, kek. Nggak asal nyuruh." Ceritanya dia diminta untuk mengerjakan laporan yang segambreng. Banyak, deh! Sampai dia lembur-lembur segala. Dan pas laporannya sudah hampir selesai, bosnya dengan santai bilang, "Laporan yang itu di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pending &lt;/span&gt;dulu, ya!" Ugh! Temanku gondok bukan main. "Hal kaya gitu, nggak cuma terjadi sekali dua kali. Berkali-kali! Bodoh benar sih bosku." Hi hi, aku tertawa mendengar kalimat terakhirnya. Memang sih, kedengarannya memang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bos-bos itu memang unik. Dan satu hal yang perlu diingat, mereka juga manusia yang sebenarnya butuh ditegur jika melakukan kesalahan. Masalahnya, tidak semua anak buah punya nyali untuk menegur atasan--apalagi di budaya Jawa ini yang level rasa sungkannya masih sangat tinggi. Apalagi kalau si bos pada dasarnya tidak suka dikritik. Wah, bisa mandeg deh kariernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir atasan yang baik adalah atasan yang mau membuka &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;hati, telinga, dan mata&lt;/span&gt;. Membuka hati, berarti dia dituntut untuk peka dengan keadaan sekeliling. "Bos, pedulilah terhadap keadaan anak-anak buahmu itu." Membuka telinga, berarti dia bisa mendengarkan anak buahnya. Dan membuka mata, dia tidak hanya melihat apa yang hanya tampak di permukaan, tetapi juga melihat apa yang sebenarnya. Seorang bos juga dituntut untuk bisa memberikan teladan yang baik kepada bawahan. Teladan yang baik itu tidak cuma si bos tidak datang terlambat ke kantor, tetapi yang penting sih aku rasa bos bisa menunjukkan integritasnya. Dengan kata lain, si bos tidak cuma bisa bicara, tetapi dia melakoni apa yang dia ucapkan. Jadi, anak buah pun bisa benar-benar respek sama dia. Dan entah kenapa, aku suka melihat atasan yang sayang sama keluarganya. Yang peduli dengan anak-anak dan pasangannya. Jangan sampai deh punya bos yang suka lirak-lirik cewek,  apalagi sampai selingkuh, duh ...! Kalau punya bos yang kaya gitu, kayaknya aku nggak akan bisa respek deh sama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat cerita seorang temanku. "Saat aku dikenalkan dengan teman-teman si bos, dia tidak menunjukkan bahwa aku anak baru yang masih belajar." Nah, ini nih, bos yang asyik. Dia tidak menghalangi anak buahnya mengenal orang-orang yang berada di atasnya atau para klien yang potensial. Dengan begitu, anak buah jadi bisa berkembang juga. Bagaimanapun dikurung terus di dalam kantor dan tidak diberi jalan untuk berkembang, adalah hal yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering merasa beruntung karena dengan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;freelancer&lt;/span&gt;, aku tidak lagi berhubungan langsung dengan bos-bos yang kadang memang membuat BT. Dulu sih memang dongkol kalau ada kebijakan bos yang rasanya tidak masuk akal, tetapi sekarang aku bisa tertawa ketika teman-temanku bercerita soal bos-bos mereka yang unik bin ajaib. Hi ... hi ... hi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1198098793857888662?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1198098793857888662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1198098793857888662' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1198098793857888662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1198098793857888662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/dicari-bos-yang-baik-obrolan-dengan.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7365181396250940540</id><published>2009-02-10T00:35:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T18:08:06.859-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jajan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Donat yang (sengaja) Tak Terbeli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika masih kecil (eh, nggak kecil2 amat ding, SD atau SMP gitu), tante dan om saya yang tinggal di Jakarta suka membawa Dunkin Donat kalau pas lagi ke Madiun--menyambangi kami. Bagiku donat itu enaaaak banget. Beda dengan donat yang biasa ada di warungnya Mbak Siti, depan rumah. Rasanya puas banget kalau makan donat oleh-oleh tante/om. Enaaaak. Yah, namanya anak kecil yang tinggal di kota kecil macam Madiun, makanan yang berbau kota besar kok terasa enak di lidah ya? Atau karena gratisan? Hihihi. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu aku akhirnya tinggal di Jogja, aku nyaris melonjak gembira waktu ada gerai Dunkin Donat dibuka di beberapa tempat. Horeee! Aku berniat membeli donat enak itu setidaknya sebulan sekali. Yah, paling tidak semester sekali, deh. Tapi dasar mahasiswa yang harus pintar-pintar-berhemat-supaya-uang-saku-cukup, aku cuma terbengong2 waktu melihat harga donat yang membuatku ngiler itu. Lha harga 1 donat itu bisa untuk makan nasi plus lauk ikan, telor, dan sayur sepuasnya, je. Akhirnya, aku memutuskan untuk "menunda" membeli donat mahal itu. "Nanti deh, kalau sudah kerja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku lulus kuliah dan bekerja. Gaji cukup dong kalau untuk beli donat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sih. Tapi kok rasanya aku tetap sayang ya untuk membeli donat mahal itu? Aku mulai berhitung. Harga dua buah donat itu setara dengan harga bensin untuk seminggu. Ugh! Tidak ... tidak! Nanti saja deh, kalau aku sudah dapat kerjaan sambilan. Kan lumayan tuh pendapatanku; selain gaji bulanan, honor menerjemahkan 1 buku yang berukuran sedang, minimal sama dengan gaji sebulan. Bisa lebih sih, kalau aku mau lebih rajin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku mendapatkan honor terjemahan plus editing yang lumayan. Horeee! Duitnya dikemanain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku lewat gerai Dunkin Donat--entah saat berbelanja di Mirota Kampus atau pas lagi mampir ke Gramedia. Aku beli donat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Jelas tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duitku akhirnya masuk ke kasir toko buku karena aku memborong beberapa buku, untuk membeli bakso ayam di depan Gramedia (ya ampun! sudah berbulan-bulan aku tidak mencicipi bakso ayam plus telor dan jeroan ayam itu), dan sisanya tercatat di buku tabungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, beberapa waktu lalu aku janjian bertemu dengan teman asramaku dulu, Nana. Kami bertemu di Arion Mall. Yah, walaupun kami berdua tak pernah suka ke mal, tapi adakah tempat lain di Jakarta ini untuk sekadar duduk-duduk tanpa bayar? Ada sih, asal kami rela duduk di pinggir jalan dan merelakan paru-paru kami dipenuhi dengan asap knalpot. Hehehe. Jadi, akhirnya kami memilih nongkrong di Dunkin Donat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kesempatan nih, bisa beli donat. Iya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Kami akhirnya cuma beli minum. Karena kami masih kenyang setelah makan di Hok Ben, dan rasanya cuma teh hangat saja yang bisa diterima perut kami. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya heran dengan diriku sendiri. Aku ini orang yang tidak gampang menuruti keinginan. Entah kenapa. Aku tak tahu. Aku tahu, aku senang sekali makan donat. Apalagi sekarang ada begitu banyak pilihan donat--selain Dunkin, ada J-Co, dan entah apa lagi namanya, aku tak ingat. Tapi walaupun aku sudah pengiiiiin banget, begitu menjumpai gerai penjual donat itu, aku kadang cuma melirik sedikit, dan lewat begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu sejak kapan hal ini terjadi pada diriku. Kalau kuingat-ingat, pas SD aku juga jarang sekali jajan. Padahal di kantin sekolahku dijual bakso, dan sebenarnya aku suka sekali bakso. Tapi rasanya tak lebih dari sepuluh kali aku makan bakso di kantin SD-ku. Aneh bin ajaib deh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7365181396250940540?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7365181396250940540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7365181396250940540' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7365181396250940540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7365181396250940540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/donat-yang-sengaja-tak-terbeli-dulu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-882166969442706251</id><published>2009-02-05T19:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T18:06:06.908-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kendaraan umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lalulintas'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Macet ... Macet ... Macet!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya semua orang sudah tahu jika salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"trade mark"&lt;/span&gt; Jakarta adalah kemacetan lalu lintas. Ya, betul. Kemacetan adalah hal yang sudah sangat amat biasa di sini. Bahkan aku sering menggunakan alasan ini kalau datang terlambat ke suatu tempat. Hihi ... buka kartu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mungkin lebih tepatnya adalah aku masih belum bisa beradaptasi dengan lalu lintas Jakarta. Aku selalu lupa bahwa ketika di Jakarta aku menggantungkan diriku pada angkot--entah itu metromini, KWK, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;, atau kereta (naik kereta baru sekali ding!). Dan ini tentu berbeda sekali jika dibandingkan ketika masih di Jogja, aku selalu naik motor ke mana-mana. Di sana, belum tentu aku naik angkot setahun sekali. Dan angkot di Jakarta ini tabiatnya macam-macam; mulai dari sebentar-sebentar ngetem sampai kebut-kebutan di jalan. Trus mereka juga tidak kebal dengan kemacetan lalu lintas (Kecuali kereta atau busway kali ya?) Dan bodohnya lagi, aku selalu lupa dengan hal itu! :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhananya sih, di Jakarta ini kita tak bisa memprediksi apa yang terjadi di jalan. Jalanan bisa macet, jalanan bisa banyak genangan (karena hujan datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan menimbulkan genangan di mana-mana), dan angkot bisa sering ngetem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu hal yang aku amati adalah jalanan di Jakarta ini sering penuh oleh kendaraan pribadi. Dan yang lebih menyebalkan adalah kendaraan pribadi itu paling-paling isinya cuma satu dua orang. Kadang cuma sopir aja. Dan kita yang berada di dalam kendaraan umum berjubel enggak karu-karuan. Ugh! Pengen nonjok!&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (Shhh! Tenaaaang ... jangan emosi dulu!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya sangat masuk akal jika orang-orang yang mampu beli kendaraan pribadi akhirnya memilih untuk naik kendaraannya sendiri. Naik angkot? Oh no! Lha uang masih berlebih kok untuk beli bensin, bayar pajak kendaraan, bayar sopir, servis mobil, dll. Kalau uang cuma pas-pasan, ya nikmatilah naik kendaraan umum. Ya, nikmatilah. Semua ada hikmahnya. (Huuuu! Basi!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa orang ya yang memintaku untuk menikmati Jakarta? Rata-rata orang yang berkata kepadaku supaya menikmati Jakarta adalah orang yang tidak setiap hari mencicipi kemacetan Jakarta (biasanya sih orang yang tinggal di luar Jakarta) atau orang yang punya kendaraan sendiri. Jenis orang yang terakhir ini kan kalau macet biar dongkol masih bisa menikmati karena ia berada di dalam kendaraannya sendiri yang ber-AC, tidak berjubel dan tidak bau keringat, ada musiknya, dll. Bandingkan saja jika mereka naik kendaraan umum yang berjubel dan masih saja ada orang yang merokok. (Kadang aku pengen menempeli mulut para perokok itu dengan lakban agar tidak sembarangan klepas-klepus. Bau, tauk! Bikin sesak napas dan pusing kepala. Heran, deh, kenapa orang tidak sadar ya bahwa merokok itu merugikan? Tapi meminta orang untuk sadar ibarat meminta surga turun dengan segera. Butuh waktu dan sabaaaaar!) Aku rasa orang yang sudah terbiasa dengan kenyamanan kendaraan pribadi akan nangis-nangis jika harus naik kendaraan umum yang enggak karuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kadang berpikir, jika saja ada kendaraan umum yang nyaman, murah, dan bisa diandalkan ketepatan waktunya, pasti orang-orang yang naik kendaraan pribadi akan meninggalkan kendaraannya di rumah. Apalagi kalau pajak kendaraan pribadi tinggi banget. Kenapa mesti beli kendaraan pribadi jika kendaraan umum sudah enak? Tapi rasanya ini masih sulit diterapkan. Soalnya tak ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;political will&lt;/span&gt; untuk melakukannya. Apakah kita perlu usul ke pemeritah ya, bahwa kita mau kok untuk iuran seribu atau lima ribu rupiah per orang agar tercipta kendaraan umum yang nyaman, murah, dan bisa diandalkan. Tapi, kurang apa enggak ya urunan duit segitu? Dan apakah harus sampai segitunya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-882166969442706251?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/882166969442706251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=882166969442706251' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/882166969442706251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/882166969442706251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/macet.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8544436770578120050</id><published>2009-02-02T16:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T18:04:35.556-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa Inggris'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa Indonesia'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Susah-susah Gampangnya Menerjemahkan Teks&lt;br /&gt;Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah bekerja di sebuah penerbitan buku membuatku jadi tahu apa yang dikerjakan sebelum sebuah buku terbit. Dulu tahunya cuma beli buku trus baca sampai habis. Gitu aja. Dan sebelum kerja di penerbitan, aku juga tidak terlalu memerhatikan bahasa. Baru setelah sedikit-sedikit menulis artikel, aku jadi mulai memerhatikan susunan kalimat, hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraf, tanda baca, dll. Itu adalah hal-hal sepele, tapi penting. Ibarat memasak masakan, hal-hal itu seperti bumbu. Kalau masakan kebanyakan garam, kan tidak enak :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, biasanya yang memerhatikan hal-hal itu adalah orang yang memang sudah biasa menulis atau dia adalah seorang penulis. Minimal orang yang suka membaca. Yang lain? Wah, jangan terlalu banyak berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku ditelepon kakakku. Berikut ini adalah kutipan obrolan kami.&lt;br /&gt;Kakak: "Kemarin aku butuh orang untuk menerjemahkan angket, dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dosenku minta yang menerjemahkan adalah orang yang benar-benar pernah tinggal di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Dan dia minta yang menerjemahkan nggak cuma satu orang. Supaya bisa dibandingkan. Jadi, aku pakai dua orang. Tapi kok hasilnya nggak bagus ya? Lebih bagus waktu aku minta kamu yg menerjemahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku: (Hihihi ... GR juga nih dibilang terjemahanku bagus.) "Yah, emang begitu kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak: "Begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;piye to&lt;/span&gt;?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku: "Orang yang nggak biasa dengan bahasa tulis, belum tentu bisa menerjemahkan dengan baik. Mungkin dia mengerti apa maksud teks aslinya, tetapi dia belum tentu bisa menuliskan terjemahan itu dengan baik. Biasanya sih menuliskan terjemahannya asal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak: "Asal bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku: "Ya, asal. Apa yang muncul di kepala langsung ditulis. Kalimatnya tidak ditata. Orang yang enggak bisa menulis, memang tidak biasa menyusun kalimat. Menyusun kalimat butuh keterampilan tersendiri. Pilihan kata yang dipakai juga belum tentu bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak: "Oh gitu ya? Kalau begitu, aku kayaknya butuh orang yang bisa merapikan terjemahan itu deh. Kamu ada teman nggak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku: "Ada. Bla ... bla ... bla."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan selanjutnya nggak perlu dituliskan ya. Kepanjangan nanti :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, orang Indonesia yang bisa cas cis cus bahasa Inggris, belum tentu bisa menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan baik. Tidak jaminan. Kalau dia bukan pembaca atau  penulis yang baik, biasanya sih ... nggak usah ngarepin deh. Penerjemah yang bagus biasanya juga penulis yang bagus pula. Misalnya, Sapardi, HB. Yasin, Pramoedya, dll. Bahasa lisan dan bahasa tulis itu berbeda. Dan sayangnya di Indonesia, bahasa tulis memang belum terlalu bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemahan bukan soal menerjemahkan kata per kata, tetapi nuansa yang terkandung di dalamnya harus ikut diterjemahkan. Diksi atau pilihan kata merupakan hal yang mutlak harus diperhatikan. Hal-hal seperti itu diasah lewat kebiasaan membaca dan menulis :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8544436770578120050?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8544436770578120050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8544436770578120050' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8544436770578120050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8544436770578120050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/02/susah-susah-gampangnya-menerjemahkan.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3187351675906059679</id><published>2009-01-26T20:29:00.002-08:00</published><updated>2009-02-12T18:03:25.480-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='orang kecil'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Hutang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tinggalku di Jakarta ini cukup strategis. Dekat pasar dan terminal. Jalur transportasi juga mudah. Apotek, dokter umum, juga ada. Kedai makanan ada beberapa di depan gang. Trus, yang lebih enak lagi adalah, banyak penjual bersliweran di sini. Siang-siang kalau mau jajan es atau bakso, tinggal melongok ke balik jendela, dan teriak, "Bakso, Bang!" sambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keplok-keplok&lt;/span&gt; alias tepuk tangan. Bahkan kalau tengah malam, penjual yang berteriak "Tee... Padang! Teee ... Padang!" masih saja lewat di depan rumah. Jadi, tak perlu takut kelaparan. Bahkan kalau pagi-pagi perut sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kemrucuk&lt;/span&gt; minta diisi, kita tinggal memanggil para penjual ketoprak dan bubur ayam yang banyak bersliweran. Gampanglah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru soal penjual makanan. Penjual jasa juga tak kurang. Kalau pisau dapur kita sudah mulai menampakkan tanda-tanda ketumpulannya, panggil saja tukang asah pisau yang lewat. Punya&lt;br /&gt;payung yang rusak? Gampaaaang, nanti agak siangan, pasti ada tukang payung. Atau kalau jok kursi sudah jelek dan tidak mentul-mentul lagi, biasanya jam 11-an ada penjual jasa yang membetulkan jok kursi. Kalau kasur kita sudah mulai kempes, panggil saja bapak-bapak yang ngider sambil membawa sekarung kapas. Dia jago membuat kasur. Tukang patri, penjual garam, penjual abu gosok juga suka lewat. Dan tak terhitung lagi para pemulung dan pembeli barang rongsokan yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, aku suka merasa kasihan dengan mereka. Misalnya saja hari ini. Hujan sudah mulai turun sejak aku sarapan tadi pagi. Akibatnya para penjual jasa dan makanan juga agak sepi. Tapi masih saja ada lo, bapak-bapak yang keliling menjajakan peyek. Opo aku ndak ngelus dada? Lha hujan-hujan begini kan paling enak nyungsep di tempat tidur. Lagi pula, peyek bukan makanan yang pas untuk dimakan kala hujan-hujan. Iya to? Dan bapak itu masih menjajakan dagangannya, sambil berharap ada rumah yang terbuka pintunya dan seseorang memanggilnya untuk membeli peyek. Yah, lumayan kan kalau laku biar cuma sebungkus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir, bahwa sebetulnya kita ... eh, aku aja kali, berutang kepada orang-orang kecil seperti mereka. Orang-orang seperti aku ini kan lebih enak dan kepenak dibandingkan mereka to? Lapar, tinggal manggil mereka. Pisau tumpul, tinggal teriak meminta mereka berhenti untuk mengasahkan pisau. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lo, rak penak to? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana jika posisinya dibalik? Apakah kita mau menjadi seperti mereka? Wah, kalau aku sih mikir seribu kali deh. (Tidak ada kan orang yang rame-rame melamar pekerjaan menjadi penjual gorengan?) Mereka malam-malam masih mendorong gerobak jualan, menembus dinginnya malam, berharap ada orang yang membeli jualannya? Atau di tengah terik matahari siang bolong, bapak-bapak penjual jasa/makanan itu masih muter keliling kompleks sementara orang-orang sedang tidur siang. Apalagi gerobak atau pikulan yang mereka bawa ngalor ngidul itu kan tidak ringan. Kalau aku pasti sudah langganan pijet dan kerokan tiap hari deh kalau suruh ngider begitu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gile aje deh! &lt;/span&gt;Tukang gorengan pikulannya pasti berat. Trus, yang mereka jual kan kayaknya tidak sebanding dengan usaha mereka. Berapa sih harga sepotong tempe goreng? Masih mending kalau yang jual makanan. Kalau tukang payung atau penjual &lt;span style="font-style: italic;"&gt;remote&lt;/span&gt; TV? Tidak tiap hari ada orang yang payungnya rusak kan? Dan tidak setiap hari orang mengganti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;remote&lt;/span&gt; TV-nya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah keadaan ini. Aku sebetulnya "risi" melihat mereka berjualan. Bukan, bukannya saja tidak suka. Tapi rasanya kok sangat tidak adilnya keadaan ini, ya? Bagi sebagian besar dari kita, hal semacam itu dianggap wajar alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;take for granted&lt;/span&gt;. Mungkin ada yang bilang, yah ... itu masih mending daripada mereka nyolong atau nyopet. Tapi apa ya betul begitu? Jangan-jangan kitalah yang sebenarnya membuat keberadaan mereka tetap lestari? Kasarnya, kita berdiri di atas penderitaan orang lain. Ada orang yang harus lelah keliling kompleks untuk menjajakan dagangannya demi mendapatkan sesuap nasi dan kita-kita ini memanfaatkan jasa mereka. Lha aku ini kalau menerjemahkan beberapa lembar, sudah bisa beberapa mangkuk bakso. Rasa capek yang kurasakan pasti beda jauh dengan mas-mas penjual bakso yang keliling kompleks itu, apalagi dengan bapak-bapak tukang payung. Sungguh tidak seimbang. Belum lagi kalau mau dibandingkan dengan bos-bos yang dapat duit buanyak setelah oret-oret tanda tangan dikit. Bos-bos itu bahkan bisa membeli bakso sekalian penjualnya. Oke ... oke, itu tampaknya baik-baik saja. Tapi sampai kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir mereka ingin hidup layak, nyaman, dan sehat. Mereka pasti juga bermimpi bekerja yang nyaman, layak, dan mendapat pendapatan lumayan. Mereka mungkin bermimpi bisa berobat dengan murah saat sakit. Mereka pasti ingin menikmati transportasi yang murah dan nyaman. Cita-cita mereka mungkin kurang lebih seperti kita. Tapi keadaan mereka dan kita jauh banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya tak tahu mesti bagaimana. Cuma aku merasa ketidakadilan ini tidak bisa selamanya dibiarkan atau bahkan dilestarikan. Dan aku yang sudah sekolah sampai cukup tinggi pun, sampai sekarang tak bisa berbuat banyak selain sesekali membeli dagangan mereka dan menuliskan keprihatinanku ini. Melihat mereka masih berkeliling kompleks, rasanya aku seperti berhutang banyak. Tapi aku tahu bagaimana cara membayarnya. Dan aku ingin tahu, adakah orang lain yang merasakan keprihatinan dan kegelisahan seperti aku? Ada?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3187351675906059679?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3187351675906059679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3187351675906059679' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3187351675906059679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3187351675906059679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/sebuah-hutang-tempat-tinggalku-di.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4429032264581126758</id><published>2009-01-22T22:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:54:46.672-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satu Nama, Dua Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keluarga besarku ada dua orang yang namanya sama. Aku dan tante, adik ibuku yang nomor 8. Kami sama-sama bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kris&lt;/span&gt;. Tapi tentu saja nama panjangnya beda dong! Hehehe. Lalu, entah kenapa, kakakku juga dikasih nama yang sama dengan omku, adik ibu yang paling kecil. Keduanya bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siswa&lt;/span&gt;--atau kalau lidah Jawa menjadi Siswo. Hanya nama kecil mereka yang beda, kalau kakakku: Wiwit; sedang omku: Io. Tapi tetap saja teman-teman mereka memanggilnya Siswo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang terjadi peristiwa yang menggelikan karena kesamaan nama tersebut. Misalnya nih, dulu waktu kakek dan nenekku masih&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sugeng&lt;/span&gt; (masih hidup-red), keluarga besarku biasa berkumpul pada saat Lebaran.  Meskipun anak-anak nenekku agamanya macam-macam, toh kami tetap kumpul. Nah, ada suatu masa di mana Om Siswa belajar di Jepang. Seingatku cukup lama. Lebih dari dua tahun kalau tidak salah. Lalu, saat Lebaran, telepon di rumah nenekku berdering. Yang mengangkat salah satu budeku. Begini percakapannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bude (B)       : Halo, selamat siang.&lt;br /&gt;Penelepon (P) : Siang, Bu. Siswo ada?&lt;br /&gt;B: Siswo?&lt;br /&gt;P: Iya. Ada Bu?&lt;br /&gt;B: Kan dia di Jepang.&lt;br /&gt;P: Lho? Tadi pagi saya ketemu tuh.&lt;br /&gt;Bude tampak bingung. Lalu tanya ke orang-orang, "Emang Siswo bali, to?"&lt;br /&gt;Dan jelas "tidak" jawabannya.&lt;br /&gt;B: Bener kok mas, dia masih di Jepang.&lt;br /&gt;P: Bu, saya bener tadi pagi ketemu dia. Tadi dia datang ke sekolah kok.&lt;br /&gt;Bude jelas semakin bingung. Untuk apa dia ke sekolah segala?&lt;br /&gt;Lalu, tiba-tiba dari arah belakang ada yang berkata, "Wiwit kali yang dimaksud. Dia kan Siswo juga namanya!" Hahaha! Kami akhirnya cuma bisa tertawa. Ternyata ada dua Siswo. Yang satu memang masih SMA, yang satu lagi kuliah di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, yang agak parah lagi adalah soal aku dan Tante. Suami tanteku bernama Om Iwan. Dan ibuku, biasa memanggilnya Mas Iwan. Nah, setelah aku menikah, ibuku sering tidak bisa membedakan suamiku dan suami Tante! Wajahnya jelas beda, tapi oleh ibuku, namanya disamakan. Jadi, ibuku sering banget bilang begini di akhir telepon, "Salam buat Mas Iwan, ya?" Lalu, biasanya aku jawab begini, "Maksud Ibu, Mas Oni?" Dan ibuku kemudian meralat, "Iya, maksudku Mas Iwan, eh Mas Oni." Hahaha!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4429032264581126758?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4429032264581126758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4429032264581126758' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4429032264581126758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4429032264581126758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/satu-nama-dua-pribadi-di-keluarga.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5067456065083916680</id><published>2009-01-19T18:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:51:49.384-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asrama syantikara'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asrama Syantikara yang Kukangeni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku maen lagi ke tempat tinggal temanku Adel--yang biasa kupanggil Adul hehehe. Dia adalah teman semasa di Asrama Syantikara, Jogja. Dan entah kenapa, setiap kali kami bertemu, bahan obrolan yang isinya nostalgia masa asrama, tak pernah ketinggalan. Seperti kemarin itu:&lt;br /&gt;"Dul, kok aku jadi kangen tidur di asrama ya. Dulu tempat tidur kita memang kecil, tapi rasanya nyaman banget." (Tempat tidur kami adalah tempat tidur tingkat, dan aku selalu milih di bagian atas karena di situlah aku bisa "melarikan diri" supaya tidak terganggu oleh teman yang biasa numpang tidur-tidur ayam.)&lt;br /&gt;"Iya, enak banget deh. Trus ... trus ... unit paling enak menurutku ya pas kita di UBB itu. Kamar mandinya terang, gede."&lt;br /&gt;"Iya Dul! Enak banget. Lagi pula, airnya seger banget. Kita nggak pernah kekurangan air, ya. Padahal anak asrama kan banyak banget."&lt;br /&gt;"Iya, biar kita nyuci rame-rame dan pakai airnya buanyak, air juga nggak masalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jadi kangen asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trus, ingat nggak Mbak, dulu kita akur-akur aja ya. Walaupun emang ada yg berantem, tapi bisa baikan lagi. Kita hepi-hepi aja."&lt;br /&gt;"Iya, Dul. Padahal anak-anaknya rame ya. Ada Metta yang suka ikut diskusi dan demo ke mana-mana. Ada Era yang sibuk dengan Senat. Dewi si anak kedokteran yang suka ketiduran di meja belajar. Ada Nana yang awalnya tampak streng, tapi konyol juga. Ada Galuh dan Singkong yang lucu. Duh. Kangen deh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya! Bagaimanapun asrama itu telah menjadi tempat yang membentukku, mempertemukanku dengan teman-teman terbaik. Padahal awalnya aku nggak mau lo tinggal di asrama. Soalnya dulu di Jogja masih ada Nenek dan kakakku tinggal bersamanya. Bagaimanapun rumah nenekku yang di Umbulharjo itu tempat yang nyaman bagiku (walaupun akhir2 ini enggak sih). Tapi kakakku selalu bilang bahwa lebih baik aku tinggal di asrama saja. "Temanmu nanti banyak. Dari seluruh Indonesia lo!" Aku masih cemberut waktu dibilang begitu. Aku tak tertarik dengan teman yang terkumpul dari seluruh penjuru Indonesia itu. Aku justru membayangkan tinggal di asrama itu pasti ribut banget. Belum lagi kalau makanannya nanti pedas-pedas. (Hehehe, aku waktu itu masih anti banget dengan makanan yang pedas.) Wah, susyaaah ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tinggal di sana, aku canggung banget.  Mesti tinggal berdelapan dalam 1 unit (semacam paviliun), kalau makan mesti ganti baju yang pantas (jadi nggak boleh makan cuma pakai celana pendek gitu. Bisa dipelototin orang seasrama!), dan yah ... namanya tinggal dengan banyak orang, pasti banyak toleransinya dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian kecanggunganku berangsur-angsur meleleh. Aku jadi menikmati sekali tinggal di asrama. Apalagi aku menemukan mbak-mbak yang bisa diajak ngobrol macem-macem. Maklum, aku tidak punya kakak perempuan. Dan selama lima tahun pertama di Jogja, Asrama Syantikara itu menjadi "rumahku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir, teman-teman yang sampai sekarang masih nyambung kalau diajak ngobrol adalah teman-temanku dari asrama dulu lo. Ada Nana yang masih sering SMS-an sampai sekarang. Ada Adul, teman main, teman ngobrol, dan teman wisata kuliner selama di Jakarta ini. Ada Mbak Tutik yang jadi teman curhat ... (aduh mbak, kangeeeeen nih! ayo ketemuan yuk!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu aku merasa asramalah yang "membentukku". Mungkin karena di sana aku bertemu dengan teman-teman yang macam-macam. Sukunya macam-macam. Dari Sumatra sampai Irian! Aku masih inget banget, dulu aku penasaran kaya apa sih sebenarnya rambut orang Irian yg kriwil-kriwil itu. Kok kayaknya nggak pernah melihat mereka berambut panjang. Dan seorang temanku, Meti, suatu hari memperbolehkan aku memegang rambutnya. "Ini, pegang saja," katanya. Hi .. hi .. Rupanya rambut mereka bisa panjang, tapi karena keriting, akhirnya cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kruwel-kruwel&lt;/span&gt; dan ngumpul gitu aja. Selain itu di sana aku bertemu dengan teman-teman yang suka main teater, suka diskusi ke mana-mana, atau suka nonton film dan resital piano yang diadakan oleh pusat-pusat kebudayaan. Di Jogja itu pula aku tahu bahwa ada tontonan gratis, entah itu teater atau musik klasik. Enak kan?  (Dasar mahasiswa! Hahaha!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tapi di asrama bukannya tanpa masalah lo. Kadang suka kesel juga sih sama teman yang suka ribut. Dan ujung-ujungnya perang dingin. (Halah! Cewek kayaknya memang begitu ya? Engga berani ngomong, tapi dipendam dan hanya diomongin dengan teman dekat.) Belum lagi dengan Sr. Ben. Dan aku pernah kena marah oleh suster karena aku pergi menginap di rumah temanku Nina tanpa pamit. Duh, ampun deh! Bencana besar waktu itu. Tapi toh semuanya baik-baik saja. Dan terakhir pas aku di Jogja, aku suka main ke asrama. Ngobrol dengan suster sampai lamaaaa. Ya ampun! Padahal dulu waktu masih jadi anak asrama, aku tak pernah ngobrol sama dia. Paling-paling ngomong sama dia kalau mau pamit mau ke rumah Nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah kenapa, aku beberapa hari ini kangen dengan asrama ya? Kangen dengan kasur dan tempat tidurku; juga dengan canda tawa teman-teman dulu. Ke mana saja ya mereka? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hello, friends ... where are you? Miss you all!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5067456065083916680?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5067456065083916680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5067456065083916680' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5067456065083916680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5067456065083916680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/asrama-syantikara-yang-kukangeni.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-6022486874035051170</id><published>2009-01-16T16:29:00.001-08:00</published><updated>2009-02-12T17:49:47.998-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngobrol'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengobrol: Sebuah Kebutuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin entah kenapa tiba-tiba aku ingin menelepon Tesa temanku yang berada di Bandung. Sudah cukup lama aku tidak menghubunginya. Dan ketika teleponku dijawab, dia berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Mbak, kowe mau tak batin lo: Piye yo kabare Mbak Kris?'"&lt;/span&gt; Hehehe. Ternyata kami sebenarnya masih nyambung walaupun dalam bentuk "telepati". (Halah!) Dulu sih kami nyambungnya dalam urusan makan. Hehehe. (Iya, kan Sa? Maem lagi yuk di Mi Jowo terminal Terban yang mak nyus itu, dan teh jahenya yang uenak pol, belum ada tandingannya! Atau bihun dan nasgor di depan Lippo hehehe.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya kami mengobrol ngalor ngidul tak jelas juntrungannya selama kurang lebih 2 jam. Ya, dua jam! Hebat ya, ada saja bahan untuk diobrolkan. Padahal tadi sebelum memencet nomor teleponnya, aku tak terpikir mau mengobrol apa. Sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;say hello&lt;/span&gt; saja. Tapi kok ya ternyata bahan obrolan itu tak ada habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua keluar dari tempat kerja kami dulu karena menikah dan kemudian ikut suami ke luar kota Jogja. Karena malas kerja kantoran tapi tak ingin benar-benar menganggur, kami kemudian menjadi freelancer bagi kantor kami yang dulu. Dan hal itu memang sangat memungkinkan, karena pekerjaan yang kami kerjakan adalah pekerjaan indivual. "Teman" yang saya butuhkan adalah kamus dan komputer. Itu saja. Dan pekerjaan kami bisa dilakukan di mana saja asal ada komputer dan ada jaringan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang freelancer, kami akhirnya lebih banyak tinggal di rumah. Dan karena suami kami masing-masing bekerja dari pagi sampai sore--bahkan suamiku kadang harus pulang malam karena kuliah--otomatis kami lebih banyak sendirian di rumah. Awalnya memang agak aneh rasanya, karena dulunya kalau di kantor suara teman-teman selalu ramai. Dan aku menyiasati hal itu dengan selalu menyetel radio. Tidak masalah deh akhirnya. Dengan mendengarkan radio aku selalu merasa punya teman. Apalagi kalau ada penyiar yang konyol, wah ... asyik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pernah suatu kali aku menyadari bahwa seharian itu aku tak pernah bicara. Paling-paling aku tertawa sendirian saat mendengarkan penyiar-penyiar yang konyol itu. Atau, aku berbicara dalam bentuk tulisan; entah menulis blog atau mengirim sms. Tapi aku tidak bicara lisan. Aku benar-benar bicara ketika suamiku sudah pulang. Ternyata Tesa juga merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pas mengobrol, kami membahas hal itu. Dia mengatakan bahwa kami memang butuh mengobrol supaya tidak lupa bahasa manusia. Hahaha! Ada-ada saja. Selain itu aku sebenarnya juga butuh mengobrol dengan menggunakan bahasa Jawa. Soalnya, suamiku berasal dari Tanjung Pandan. Dan dia tak fasih berbahasa Jawa. Akibatnya, ketika aku bertemu dengan teman-teman yang memang suku Jawa, tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung nyerocos dengan menggunakan bahasa Jawa. Rasanya lidahku berasa normal lagi kalau sudah begitu hehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-6022486874035051170?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/6022486874035051170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=6022486874035051170' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6022486874035051170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6022486874035051170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/mengobrol-sebuah-kebutuhan-kemarin.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1436014755886041864</id><published>2009-01-14T21:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:42:49.714-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='banjir'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halo, Adakah yang Bisa Mengubah Wajah Jakarta Supaya Tidak Banjir?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir empat hari ini hujan rajin menyambangi tempat tinggalku. Kadang cuma rintik-rintik tipis. Tapi kadang hujan bagai rombongan penari yang terlalu bersemangat. Rintik-rintik yang tipis itu berubah menjadi tetesan yang cukup deras sehingga menimbulkan suara riuh dan angin yang agak kuat. Dan hujan turun tak kenal waktu. Kadang pagi-pagi buta. Kadang tengah hari. Akibatnya cucianku yang biasanya kering dalam sehari, kini butuh tiga hari agar kering. Itu pun masih terasa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saat hujan tengah mengguyur dengan derasnya, aku mengintip dari balik kaca jendela; melihat seberapa banyak air yang tercurah dan menciptakan aliran sungai kecil di depan gang. Tinggal di Jakarta yang hujan terus menerus begini cukup membuatku was-was. Bagaimana kalau banjir ya? Tapi aku selalu ingat kata-kata tetangga depan rumahku, bahwa di sini tidak pernah banjir. Amin! Semoga selalu demikian adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi toh aku selalu rajin mengikuti berita di radio; daerah mana saja yang banjir. Suamiku kan harus masuk kerja. Dan itu berarti dia harus keluar rumah seharian. Lha kalau dia tak bisa pulang karena terjebak banjir, bagaimana? Ya, aku sebagai seorang pekerja freelance yang bekerja di rumah, tak terlalu khawatir akan terkena banjir. Tapi kalau selewat magrib dan di tengah hujan deras sementara suami belum pulang, kok rasanya aku tidak tenang ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan radio masih memberitakan ada banyak genangan air di mana-mana. Macet menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Oalah Jakarta ... nasibmu ngger. Menjadi kota metropolitan ternyata tidak selamanya indah. Betul begitu kan? Macet. Banjir. Hmm ... Belum lagi orang-orangnya yang sulit diatur dan gemar membuat aturan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kata-kata seorang temanku dulu waktu Pak Kumis diangkat menjadi gubernur Jakarta saat ini. Katanya, Pak Kumis itu seorang arsitek. Aku tak tahu temanku ini ndobos alias bohong atau tidak. Aku tidak pernah mengecek dan tak pernah bertanya langsung kepada Pak Gubernur apa iya dia betul seorang arsitek. (Apakah bayaran seorang arsitek itu kurang banyak ya? Sampai-sampai dia mencalonkan diri menjadi gubernur ...) Dan kata temanku, kalau dia arsitek, mestinya dia bisa mengatur tata kota ini dengan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah tapi benarkah begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya biarpun orang itu lulusan terbaik dari univesitas terbaik pula di dunia ini, rasanya sulit juga untuk membuat Jakarta yang super sumpek ini menjadi tempat yang agak lega dan enak ditinggali. Lha apa rumah-rumah yang sudah berdempet-dempet itu mau dibom supaya menjadi tanah lapang sehingga bisa dibuat lahan terbuka hijau yang dapat menyerap air? Kalau Hitler mungkin saja begitu cara yang ditempuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit. Ya, memang sulit menjadi pemimpin Jakarta ini. Kota yang sanggup melahirkan mal yang sangat bagus ini ternyata masih belum sanggup mengubah sungai-sungainya yang menghitam itu menjadi berfungsi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halo, halo adakah pemimpin ahli yang sanggup menjadikan Jakarta menjadikan kota modern yang bersih dan sehat? Ah, mungkin aku harus tidur siang dan bermimpi sebentar ya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1436014755886041864?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1436014755886041864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1436014755886041864' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1436014755886041864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1436014755886041864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/halo-adakah-yang-bisa-mengubah-wajah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-4593190831094453246</id><published>2009-01-11T21:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:40:37.992-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Parno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan istilah "parno" alias paranoid itu mulai semarak di ranah obrolan anak muda. Tapi yang jelas aku juga ikut-ikutan menggunakan istilah parno sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, sejak aku tinggal di Jakarta, aku parno saat ada orang berseru berulang kali, "Assalamualaikum ...!" Soalnya kalau teman atau tetanggaku datang, biasanya mereka akan menyebut namaku langsung. Atau karena mereka sudah memberi tahu terlebih dahulu, aku biasanya sudah bersiap menyambut mereka bahkan sebelum mereka membuka pagar depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini beda lagi kalau yang datang tukang pos atau petugas kurir yang mengantarkan naskah atau buku. Biasanya mereka akan mengetuk2 pagar sampai berbunyi gedumbrangan. Dan lagi-lagi mereka tak mengucapkan "Assalamualaikum ...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ketika suatu siang ada suara seorang perempuan mengucapkan "Assalamualaikum ...!", aku hanya mengintip dari balik jendela. Untung jendela rumah yang kutempati ini gelap. Maksudku, orang dari luar tak akan bisa melihat sisi dalam rumah ini. Maka, aman jika aku berdiri di balik jendela dan melihat siapa yang datang. Aku tak mengenal perempuan yang berseru-seru di depan pagar itu. Yang jelas, bukan tetangga sekitar sini. Kulitnya gelap dan bajunya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak peduli pada mode. Jauh. Dia berseru berulang kali, dan aku masih ragu apakah aku sebaiknya keluar atau tidak. Mendadak aku merasa takut. Aku takut kalau-kalau dia punya maksud buruk. Padahal aku sendirian di rumah. Wah, gawat! Lha kalau dia tiba-tiba menghambur masuk ke rumah ini bagaimana? Tapi di sisi lain, aku juga kasihan. Di tengah teriknya matahari, dia berdiri sambil memegangi pagar depan. Jangan-jangan dia membutuhkan bantuan. Dan aku masih saja berdiri mematung tak tahu harus berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perempuan itu pergi setelah tetangga sebelahku mengatakan, "Belum pulang Bu!" Wah, leganya aku. Lalu tetanggaku bertanya apa tujuannya. Dia lalu menjawab bahwa dia mencari kontrakan. (Oalah ... )Mungkin dia diberitahu orang bahwa rumah yang sudah kami tempati ini dikontrakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siang ini aku mendengar suara lelaki yang berseru, "Assalamualaikum ...!" berulang kali. Duh, siapa pula ya? Dari balik jendela, aku melihat seorang pemuda sambil membawa brosur berdiri di balik pagar. Dan aku mendadak merasakan ketakutan seperti ketika melihat perempuan berpenampilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt; tempo hari. Aku parno. Jika dia seorang sales, aku takut jika dia memaksaku membeli barang jualannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhirnya aku diselamatkan tetangga depan rumahku yang mengatakan bahwa tak ada orang di rumah ini. "Belum pulang, Mas! Masih di kantor." Hehehe. (Dan aku memang masih berada di "kantorku", di depan komputer sambil menulis blog.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-4593190831094453246?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/4593190831094453246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=4593190831094453246' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4593190831094453246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/4593190831094453246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/parno-entah-sejak-kapan-istilah-parno.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2042043837093825286</id><published>2009-01-08T22:27:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:38:34.577-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kala Setengah Jiwaku Melayang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, judul di atas mungkin terdengar berlebihan. Tapi mungkin memang begitu adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, tadi pagi terjadi "kecelakaan kecil". Komputerku tidak mau menyala. Dan tahu sendiri kan, komputer itu sudah menjadi bagian dari jiwaku. Karena di situlah pekerjaanku berada. File-file dataku ada di situ semua. Sebenarnya sejak beberapa waktu lalu PC di rumah itu sudah menunjukkan tandaa-tanda "sakitnya". Dan pagi tadi PC-ku tersayang tewas. Duh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku bingung. Rasanya ada yg kurang lengkap hari ini. Padahal cuma komputer lo, kok bisa bikin hatiku nggak karuan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah belantara ibu kota ini, di mana ya aku bisa menemukan tukang servis komputer yang baik?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2042043837093825286?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2042043837093825286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2042043837093825286' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2042043837093825286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2042043837093825286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/kala-setengah-jiwaku-melayang-hehehe.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-6482260558042198394</id><published>2009-01-05T19:55:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:36:03.862-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='curhat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pilihan hidup'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa Maksudnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pas mudik ke Madiun, aku diminta ke rumah teman ibuku untuk mengantar oleh-oleh. Tapi rupanya kami tak sekadar mampir, tapi kemudian mengobrol cukup lama. Agak kagok juga awalnya, karena aku tak pernah mengobrol lama dengan ibu itu. Bahkan sebenarnya aku lupa-lupa ingat wajahnya. Tapi toh kemudian kami mengobrol ngalor ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, ibu itu menceritakan sulitnya mencari pekerjaan bagi anaknya. Anaknya yang sudah lulus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, sekarang "hanya" menjadi guru les dari rumah ke rumah. "Sekarang ini susah sekali lo mbak cari kerjaan. Apa-apa di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;outsource.&lt;/span&gt; Di Pemkot juga begitu. Lha kalau pegawai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oursource&lt;/span&gt; itu kan tidak jelas masa depannya. Kok rasanya generasi setelah kita tidak dapat bagian apa-apa ya? Ke depan bakal sulit sepertinya ya?" katanya dengan nada prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan suami kemudian menanggapi sebisanya. Memang sekarang cari pekerjaan itu sulit. Aku jadi mengenang ketika dulu sedang mencari pekerjaan. Institusi yang sepertinya memberi harapan, tiba-tiba menjadi suram. Tidak jelas. Dan acap kali kita tidak bisa bekerja sesuai dengan keinginan kita. Penginnya sih bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar dan banyak fasilitas. Iya to? (Jadi, sebenarnya ingin bekerja atau ingin fasilitasnya sih?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan terus berlangsung dan kemudian ibu itu melontarkan pertanyaan yang membuatku harus menebalkan telinga, "Gimana, Mbak? Sudah 'isi' belum?" Jujur saja, aku bosan ditanya soal itu. Karena itu dengan cepat kujawab, "Belum, Bu!" Lalu, dia menimpali lagi, "Cepetan saja punya momongan, Mbak." Aku cuma tersenyum mendengar omongannya. Lha mau menanggapi gimana lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir-pikir ucapan ibu tadi lucu. Lucu? Iya. Soalnya, di awal beliau mengatakan bahwa generasi mendatang masa depannya cukup suram. Itu mengingat betapa sulit anaknya mendapatkan pekerjaan. Tapi kemudian dia mendorongku untuk segera punya anak. Piye to? Maksudnya gimana? Coba dipikir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan pertama yang dilontarkan adalah: generasi mendatang hidupnya semakin sulit. Kondisi dunia semakin memprihatinkan. Semakin hari banyak orang sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Lalu pertanyaan kedua yang dikatakan adalah: mendorong kami untuk segera memiliki anak. Lha itu kan seperti menjerumuskan (calon) anak kami untuk merasakan kejamnya dunia, to? Mungkin orang dengan mudah mengatakan, "Ah ... nanti kan bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survive&lt;/span&gt;." Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir dunia ini butuh pengaturan yang bijak. Alam tidak akan cukup jika masih ada segelintir orang yang serakah. Dan perang ada di mana-mana. Nggak usah jauh-jauh lah, di Indonesia saja kesejahteraan belum merata kok. Padahal ketika aku SD, guru-guruku mengatakan bahwa Indonesia melakukan pembangunan, rencananya lima tahun pertama begini. lalu lima tahun selanjutnya begitu, dst. Tapi kenyataannya? Orang yang serakah sepertinya lahir dan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, sebenarnya aku pesimis dengan masa depan generasi mendatang. Tak usah jauh-jauh. Kemarin waktu mudik ke kampung suami di Tanjung Pandan, aku melihat berhektar-hektar hutan kelapa sawit. Padahal perkebunan kelapa sawit itu bisa membuat tanah menjadi kering kerontang setelah 30 tahun mendatang. Itu di Indonesia lo. Bukan negara lain. Lalu ketika ke Madiun, persawahan yang dulu menjadi tempatku sepedaan, kini menjadi permukiman yang padat. Seingatku ketika aku masih SMA, daerah di persawahan itu masih sangat sepi. Baru sekitar 10 tahun aku meninggalkan kota kelahiranku, pembangunan ada di mana-mana. Bukan apa-apa sih, tapi kalau semua lahan kosong termasuk persawahan dibangun perumahan, kita nanti makan apa dong? Trus, anakku besok mau makan apa dan tinggal di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang memang mudah mendorong kami untuk punya anak. Tante, om, ortu, tetangga, bahkan Mindi anak saudaraku yang baru TK nol kecil saja bertanya kepadaku apakah aku sudah hamil apa belum. Plis deh! Bukannya aku nggak mau punya anak, tapi boleh dong aku mengatur hidupku sendiri. Boleh kan aku mengatur kapan aku mau punya anak, di mana, berapa, dsb. Dan lagi, kenapa mereka sibuk mendorongku ini dan itu? Apakah mereka mau memberi makan anakku? Apakah mereka mau menyekolahkannya? Apakah mau memberi rumah kepada kami? Apakah mau memberi sembako seumur hidup kepada kami? Apakah mau memberi jaminan bahwa anakku nanti bakal kecukupan hidupnya? Coba kasih jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau cuma sekadar tanya dan basa-basi, kayaknya enggak perlu deh. Aku sudah cukup tahu apa yang mesti aku lakukan. Oke? Pak, Bu, Tante, Om, Teman-teman, jangan tanya hal-hal (dan membuat pernyataan) yang sudah basi ya? Jangan bodoh begitu ah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-6482260558042198394?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/6482260558042198394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=6482260558042198394' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6482260558042198394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6482260558042198394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2009/01/apa-maksudnya-kemarin-pas-mudik-ke.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1789087495283867647</id><published>2008-12-10T00:08:00.001-08:00</published><updated>2009-02-12T17:33:47.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='duit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta si Penjual Mimpi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering terheran-heran melihat orang-orang Jakarta yang sepertinya tak kenal lelah. Suatu kali aku pulang agak larut malam, kira-kira pukul 11 malam. Saat itu jalanan masih cukup ramai. Kendaraan masih banyak. Tidak cuma satu atau dua motor saja yang lewat. Dan kebanyakan mereka jalannya kencang sekali. Trus, suatu kali pagi-pagi, kira-kira pukul 5, aku keluar rumah karena memang ada urusan yang membuatku harus berangkat pagi, jalanan sudah agak macet! Ealah ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu dari mana datangnya orang-orang itu. Dan harus diakui, Jakarta memang padat. Orang-orang sepertinya datang berbondong-bondong memenuhi kota ini, berusaha untuk mendapatkan hidup yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika aku baru lulus kuliah, rasanya aku tak tahu harus mencari pekerjaan di mana. Dan dari omong punya omong, rupanya banyak dari temanku yang akhirnya pergi ke Jakarta. Kalau tidak ke Jakarta, rasanya tidak afdol. Kurang mantap. Lagi pula, sebagai seorang lulusan S1, rasanya lowongan pekerjaan yang di daerah kurang ada yang pas. Kalaupun ada, biasanya gajinya kecil sekali. Belum lagi, jenjang kariernya ya segitu-gitu saja. Tak menarik. Ya, memang ada beberapa perusahaan atau institusi yang cukup besar, dan memberi gaji cukup menarik. Tapi sayangnya mereka jarang membuka lowongan secara terbuka. Lagi pula, dari sekian ribu sarjana, berapa banyak sih perusahaan yang bisa menampung? Karena itu, memang masuk akal jika orang banyak yang mencoba mencari peruntungan di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya lulus kuliah, dengar-dengar sih gaji pertama untuk lulusan S1 sekitar 1,5 juta. Hmmm... itu adalah gaji yang cukup menggiurkan bagi seorang anak muda yang belum punya banyak pengalaman. Kalau di daerah? Belum tentu dapat gaji separuh dari itu. Lagi pula, di daerah tak banyak pilihan. Mau nego gaji berapa untuk seorang sarjana yang baru "kinyis-kinyis" keluar dari universitas? Orang yang sudah punya banyak pengalaman pun gajinya tak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi di saat kami kumpul-kumpul--reuni kecil-kecilan--teman-temanku yang bekerja di Jakarta itu kok kesannya sudah mapan ya? Yaaa itu bisa dilihat dari bajunya, dari handphone-nya, dari tasnya, dari cerita-cerita mereka (mulai dari bos yang hendak memberi kesempatan untuk pergi ke luar negeri sampai teman-teman sekantor mereka yang sudah mulai kredit mobil). Semua itu kan ciri-ciri kemapanan, to?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bergulir. Aku sudah bekerja di daerah selama sekitar 6 tahun, dan sekarang karena ikut suami, aku tinggal di Jakarta. Aku memilih bekerja sebagai freelancer--mengerjakan proyek terjemahan dan editan dari rumah. Beberapa teman bertanya, apakah aku tidak mau bekerja di kantor selama di Jakarta ini. Toh sudah ada pengalaman. Aku jawab tidak. Kenapa? Aku sudah puas menjadi seorang karyawati yang setiap hari harus ngantor. Dan kalau di Jakarta ini aku ngantor, berarti aku harus siap untuk "bertempur" di jalanan yang macet setiap pagi--pagi dan sore. Itu masih belum seberapa. Tahu sendiri, suasana kantor itu seperti apa: bos yang menyebalkan dan mau menang sendiri, teman kantor yang sikut-sikutan karena ingin mencapai puncak karier, gosip yang bikin kuping memerah. Hhh ... rasanya kok tidak sebanding ya dengan tenaga yang harus kukeluarkan? Toh dengan menjadi freelancer, pendapatanku nggak jelek-jelek amat kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kemarin temanku berkata begini, "Kalau saja aku dipindah ke Madiun, rasanya aku bakal langsung mengiyakan deh. Tanpa pikir panjang." Dia sudah bekerja sekitar 10 tahun di Jakarta raya ini. Itu berarti dia harus berangkat pagi-pagi dan pulang malam. "Capek," katanya. Tapi di ujung kalimat dia menambahkan, "Tapi kalau di Jakarta ini apa saja mudah jadi uang. Uang mudah dicari, nggak kaya di daerah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... Jakarta memang benar-benar jago dalam menjual mimpi. Di sini mencari pekerjaan lebih mudah dicari, uang juga akan lebih mudah datang (tapi sekaligus lebih cepat menguap juga). "Asal kita nggak malu, apa aja bisa jadi duit di Jakarta," kata Mbak Yana, pemilik rumah yang kami kontrak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, apakah seumur hidup kita mau mengejar duit? Percaya deh, tak akan ada puasnya jika kita terus mengejar duit. Capek! Aku sendiri bersyukur tidak dari lulus kuliah bekerja dan tinggal di Jakarta. Aku tak tahu seperti apa jadina diriku kalau aku merelakan diriku "dibentuk" oleh Jakarta. Mungkin aku akan jadi bodoh dan tanpa sadar membiarkan hidupku dikendalikan oleh "orang lain" atau "institusi yang mengaku hendak menyejahterakan karyawannya".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1789087495283867647?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1789087495283867647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1789087495283867647' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1789087495283867647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1789087495283867647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/12/jakarta-si-penjual-mimpi-aku-sering.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5652261581626043711</id><published>2008-12-04T01:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:31:15.078-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saudara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semua Kue untuk Semua Saudara dan Teman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali aku memang bukan seorang saudara yang baik: bukan keponakan yang baik, dan bukan pula cucu yang baik. Sudah beberapa bulan ini aku menebalkan telingaku dan mencoba menjawab seramah mungkin saat ditanya kapan aku berkunjung ke rumah om, tante, dan&lt;br /&gt;saudara dari Bapak yang terhitung sebagai kakek di Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan main ke rumah Tante? Nanti telepon saja. Trus ketemu di mana gitu yang gampang buatmu. Tante jemput deh." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Main ya ke tempat Mbah. Begini nih ancer-ancernya bla ... bla ... bla. Gampang kan? Ya, main ya! Mbah tunggu lo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbok sempatkan main ke rumah Om. Wong sudah di Jakarta lo! Nggak terlalu jauh kan dari rumahmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah kira-kira ucapan saudara-saudaraku. Sebagai anak muda, kunjungilah yang tua. Lagi pula mereka itu adalah saudara-saudara saya. Bukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kenapa sampai sekarang aku belum juga mengunjungi mereka? Sudah setengah tahun lebih aku di Jakarta tetapi kok rasanya tidak pernah sempat ya? Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya ... mmm ... aku banyak kerjaan. He he he. Alasan klise. Dan sepertinya itu tidak perlu dijadikan alasan. Toh aku tidak bekerja sepanjang waktu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya ... mmm ... aku tidak tahu jalan. Beberapa saudaraku tampaknya tidak keberatan untuk menjemput aku dan suamiku. Jadi, kenapa tidak segera mengangkat telepon menghubungi mereka dan meminta dijemput?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hitung-hitungan waktu, kalau aku bilang aku tidak sempat berkunjung, itu berarti aku bohong. Toh aku sempat nonton film, sempat main ke tempat teman asramaku dulu, sempat jalan-jalan bersama suami. Dan biasanya sih aku cenderung tidak menolak ajakan teman-temanku untuk main. He he he.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi bentuknya macam-macam. Bisa persaudaraan, pertemanan, persahabatan. Ada saudara jauh. Ada pula teman dekat. Ada juga teman yang cuma kita kontak saat ada keperluan. (Nggak usah malu-malu mengakui, aku juga begitu kok.) Ada teman "maya" alias kita ingat saja tetapi tak pernah kita hubungi. Dan dari semua jenis relasi itu, kita sendirilah yang meletakkan seberapa banyak "hati" yang kita berikan pada relasi tersebut agar tetap hangat dan nyambung.&lt;br /&gt;Kurasa kita sering "pilih kasih". Ada orang yang sering banget kita hubungi. Ada juga orang yang baru kita dengar namanya saja membuat kita mules--saking sebalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, ada teman-teman tertentu yang menurutku bagaikan magnet. Aku dengan sukarela datang ke rumahnya walaupun jauh. Ada suatu kerinduan untuk senantiasa berkumpul dan ngobrol-ngobrol dengan mereka. Dan teman-teman ini rasanya lebih dekat dibandingkan saudara-saudaraku (bukan saudara kandung lo!). Dengan mereka rasanya kok rasanya aku lebih nyaman ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sepertinya memang betul aku bukan saudara yang baik. Dan tak jarang aku bukan teman yang baik pula. Lha buktinya hanya teman-teman atau saudara-saudara tertentu yang dengan setia kuhubungi. Dan hanya pada orang-orang tertentu pula aku senantiasa menghangatkan relasi dengan memberi sepotong hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku ingin juga bisa memberikan perhatian yang seimbang pada semua teman dan saudara. Ibaratnya, semua dapat potongan kue yang sama besar. Semua senang. Semua bahagia. Tapi kok susah amat ya? Ada yang punya resepnya nggak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5652261581626043711?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5652261581626043711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5652261581626043711' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5652261581626043711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5652261581626043711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/12/semua-kue-untuk-semua-saudara-dan-teman.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2325236477137050621</id><published>2008-12-01T19:56:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:28:50.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resepsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkawinan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berhajat di Mana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, kamu ini benar-benar orang kota ya!" begitu kata suamiku kemarin. Kalimat itu ia utarakan karena aku bilang, "Sebaiknya orang menggelar resepsi pernikahan itu di gedung saja. Tidak usah di rumah."&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya suamiku.&lt;br /&gt;"Merepotkan para tetangganya." Aku pun memercinci berbagai kerepotan yang harus dilakukan para tetangga jika seseorang mengadakan resepsi di rumahnya. Lalu aku dibilang orang kota seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kemarin tetanggaku menggelar acara resepsi pernikahan. Dan aku hanya bisa pasrah mendengar suara yang hingar bingar dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;loud speaker&lt;/span&gt;-nya. Awalnya sih tidak terlalu mengganggu. Tapi setelah dari pukul 6 pagi sampai kira-kira selepas magrib mendengar suara yang gaduh, aku kok lama-lama terganggu juga ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya mengacungkan jempol buat sang pengantin dan keluarganya. Hebat betul, mereka tahan menggelar hajatan seharian. Lha kemarin pas nikahanku saja, aku capek betul lo. Padahal aku cuma didandani mulai dari pukul 7 pagi. Misa pemberkatan mulai pukul 9 dan selesai pukul 11.30. Setelah berurusan dengan pihak catatan sipil, aku mulai masuk gedung resepsi. Lalu mulailah aku duduk-berdiri, menebar senyum, bersalaman, dan berulang kali mengucapkan terima kasih kepada para tamu. Resepsi selesai pukul 15.00. Jadi, total aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stand&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;by &lt;/span&gt;untuk acara pernikahan itu selama 8 jam. Itu sama lamanya dengan aku duduk ngantor seharian. Tapi kok rasanya lebih capek jadi penganten ya? Badan rasanya seperti digebuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau dibandingkan dengan tetanggaku kemarin? Wah, staminaku kalah jauuuh! Di rumah tetanggaku kemarin, musik yang hingar bingar diputar mulai dari pukul 6 pagi. Lalu mulai pukul 9 sampai pukul 6 sore, para tamu masih berdatangan. Dan sepertinya pada malam hari, masih kudengar orang-orang bertamu. Itu kan seharian namanya. Gile!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, yang membuatku terganggu adalah pemasangan tenda di gang dan suara yang hingar bingar. Gang depan rumahku cukup sempit. Kira-kira dua meter lebarnya. Jadi, tenda yang dipasang itu benar-benar menutup jalan, bahkan pemasangannya pun masuk ke rumah tetangga di kiri, kanan, dan depannya. Sementara itu, daerah perumahan ini cukup padat. Jadi, suara obrolan biasa dari ujung gang pun bisa terdengar. Kenapa mesti memasang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;loud speaker&lt;/span&gt; yang membuat telinga budeg?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu sebenarnya aku ini orang kota atau orang kampung. Delapan belas tahun aku habiskan hidupku di Madiun. Rumahku termasuk di pinggir jalan besar, jadi mungkin bisa dibilang kota kali ya? Tapi bagaimanapun Madiun toh kota kecil yang seuprit. Tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Jakarta raya ini. Lalu, kira-kira sebelas tahun aku tinggal di Jogja. Lima tahun pertama selama di Jogja, aku juga tinggal di asrama yang terletak di pinggir jalan besar. Sisanya aku habiskan di rumahku di kampung ujung utara Jogja sana. Kubilang kampung karena memang masih sepi. Tetangga dekatku saja cuma 4 rumah. Sekitar rumahku masih banyak tanah kosong. Dan penduduk sekitar situ masih banyak yang bertani dan beternak. Sederhana sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tinggal di Dusun Krapyak di Jogja utara itu, aku merasakan bahwa duniaku berbeda sekali dengan orang-orang sekitar. Kalau aku berangkat kerja, orang-orang di situ biasanya sudah sibuk di sawah. Kadang, sepulang dari kantor aku main sampai malam. (Aku sendiri bingung, ke mana saja ya kuhabiskan waktuku sepulang kantor itu? Rasanya hampir setiap hari aku pulang pukul 7 petang dan kadang sampai pukul 8 malam, padahal jam kantorku usai pukul 4 sore.) Bisa dibilang aku pasif sekali di kegiatan kampungku. Aku hampir tak pernah bersentuhan dengan kegiatan ibu-ibu di sana. Alasannya, pertama, aku berada di luar rumah dari pukul 8 pagi sampai 7 petang. Kedua, ibu-ibu dan para pemuda di sana religius sekali. Jadi, kegiatan mereka biasanya ya seputar kegiatan keagamaan. Bahkan para pemuda yang "rewang" di resepsi pernikahan mesti menggunakan baju yang mencerminkan agama mereka. Dengan begitu, aku sepertinya tak mendapat tempat lagi. Bahkan kata abangku yang pernah ikut rapat RT, di rapat itu para bapak sembahyang dulu dan mengupas ayat-ayat kitab suci mereka selama 1 jam lebih .... (Aku tidak mengerti, kenapa setiap acara di masyarakat malah jadi acara keagamaan sih?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika di Jakarta ini, aku pikir aku akan berhadapan dengan orang-orang kota yang sibuk pol. Tapi rupanya di daerahku banyak orang-orang yang sudah tua. Tampaknya mereka sering berada di rumah dan tak jarang mereka kongkow di ujung gang. Beberapa ibu bahkan gemar duduk-duduk di muka rumah sambil mengobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku merasa berbeda dengan mereka. Aku memang tinggal di rumah, tetapi aku bekerja. Jadi, bukan berarti aku cuma duduk manis di rumah saja. Editan dan terjemahan selalu menungguku dengan setia di komputer. Jadi, rasanya aku malas sekali untuk ikut "ubyang-ubyung" alias ikut kongkow dengan ibu-ibu itu. Rasanya kok itu bukan duniaku ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kuakui, kemampuanku bersosialisasi itu rendah. Dan teman-temanku pun bisa dihitung. Kadang aku memang butuh berada bersama banyak orang. Tapi aku tak bisa lama-lama di tengah keramaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya aku bingung waktu suamiku kemarin bilang aku adalah orang kota. Sepertinya aku lebih suka tinggal di kampung yang sepi dan para penduduknya tidak terlalu rese'. Ya, bolehlah kita sesekali berkumpul. Ngobrol ngalor-ngidul. (Dan yang penting tak perlu kumpul-kumpul acara RT sambil membahas masalah agama yang sepertinya lebih pas dibicarakan di rumah ibadat masing-masing.) Tapi tak usahlah mengganggu ruang privasi orang lain. Ujung-ujungnya aku mau bilang, kalau mau ngadain hajatan, di gedung aja. Idealnya, di satu kelurahan ada satu gedung serbaguna yang sewanya murah. Jadi, berjahatlah di situ. He he he.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2325236477137050621?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2325236477137050621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2325236477137050621' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2325236477137050621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2325236477137050621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/12/berhajat-di-mana-wah-kamu-ini-benar.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5957436453900705621</id><published>2008-11-27T02:42:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:24:52.855-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='membaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menulis = BAB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kira-kira tiga hari ini aku absen menggunakan PC di rumahku. Sebagai gantinya, aku memakai desknote suamiku yang leletnya minta ampun. Tapi daripada nggak kerja sama sekali, ya mending aku pakai desknote uzur itu, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku sedang mengerjakan tugas kuliahnya--paper tentang antropologi agama. Dan beberapa minggu sebelum mengerjakan tugas ini, dia sudah sibuk membaca buku-buku yang berkaitan dengan tugasnya itu. Entah sudah berapa banyak buku yang ia baca, aku tak menghitungnya. Yang jelas banyak deh. Belum lagi dia cukup lama memelototi ensiklopedi dan buku-buku dalam bentuk PDF. Untung saja dia itu pada dasarnya suka membaca apa saja. Dan walaupun aku sering bilang ke orang-orang kalau aku suka membaca, toh jam terbang membacaku masih kalah jauuuh dari dia. Lha dia itu ibaratnya ensiklopedia berjalan ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tadi siang, ketika dia sudah mengetik paper kira-kira 3/4 bagian, dia bilang begini, "Duh lega deh. Rasanya kayak (maaf) beol. Bret...breet...breet. Semua yang kubaca akhirnya bisa kutumpahkan dalam bentuk tulisan." Kemarin pas dia sedang serius banget, tampangnya memang serem. Kayak orang lagi kebelet beol gitu lo. Susah diajak becanda. He he he. Mendengar hal itu aku jadi ingat ucapan Idrus kepada Pramoedya, "Pram, kau itu bukan nulis, tapi berak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat bahan bacaan suamiku dan membandingkan ucapan Idrus serta ucapan suamiku tadi, aku jadi berpikir, bahwa salah satu syarat mutlak untuk bisa menulis itu adalah otak yang ada isinya. Bukan, maksudku bukan sekadar pintar. Tapi yang aku maksud adalah kita mesti memenuhi otak kita dengan beragam bacaan. Kalau yang diinginkan tulisan yang bermutu, maka bacalah buku-buku bermutu--yang menambah isi otak. Bukan sekadar buku yang menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa, itulah salah satu kendala perbukuan di Indonesia. Belakangan ini banyak sekali buku yang menghibur, apa pun sebutan genrenya. Mungkin salah satu kalian ada yang menyeletuk, "Buku yang isinya ilmu acap kali bahasanya kering. Jadi, males banget mau baca." Iya sih. Tapi kurasa hasrat yang sangat kuat untuk menambah wawasan akan melibas keengganan membaca buku-buku sulit. Selain itu, kendala yang lain adalah, di Indonesia ini sedikit sekali penerbit yang menerbitkan buku-buku serius yang bagus. Padahal kalau di luar negeri sana, banyak lo. Dan biarpun membahas sesuatu yang serius, penulis yang jago biasanya memaparkannya dengan enak. Jadi pembaca tak perlu "takut" saat membaca buku--takut akan terdampar ke padang pasir karena saking garingnya pemaparan suatu tema. Barangkali kita masih "trauma" membaca buku-buku serius karena pas sekolah dulu, buku-buku pelajaran kita memang tidak enak dibaca. Lagi pula, pembahasannya pun dangkal. (Lha wong kurikulumnya saja tidak jelas, gimana mau ada buku pelajaran yang bagus?) Kalau memang suka membaca dan ada duit, belilah buku-buku terbitan luar. Soalnya kalau mau mengandalkan penerbit dalam negeri sepertinya memang agak susah. Apalagi sekarang trennya adalah buku-buku lucu, jadi kurasa itulah yang membanjiri toko buku sekarang. Pihak marketing dan distributor buku pun mungkin akan berpikir seribu kali kalau diminta menjual buku-buku serius. (Lagi pula, jarang banget dari mereka yang membaca buku-buku yang dijualnya. Aku berani taruhan kalo soal ini.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca dan menulis adalah kegiatan yang beriringan. Rasanya tak mungkin jika orang menulis tanpa sebelumnya memenuhi otaknya dengan bacaan. Ini ibarat makan dan buang air besar alias BAB. Gampangnya, kita BAB karena sebelumnya kita makan. Jadi, kalau ingin jadi penulis,&lt;br /&gt;membacalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5957436453900705621?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5957436453900705621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5957436453900705621' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5957436453900705621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5957436453900705621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/11/menulis-bab-sudah-kira-kira-tiga-hari.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7387294771765765366</id><published>2008-11-20T21:11:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T17:23:01.534-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bos'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalau Karyawan Kencing Berdiri, Maka Bos Pasti Kencing Berlari ....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu nggak, siapa teman terbaikku ketika aku sedang di rumah sendirian? Yang jelas bukan sejenis lelembut dan semacamnya. Sejak memutuskan bekerja sendiri alias jadi freelancer dan tinggal di Jakarta untuk ikut suami, aku praktis sering di rumah sendiri. Memang sih, suamiku kadang libur dan masuk siang. Tapi kalau dia mesti masuk pagi dan pulang pas aku sudah mau tidur, sepanjang hari aku ditemani oleh penyiar radio plus acara-acaranya. Selain itu aku jadi hapal dengan  iklan-iklan di radio. Lalu jam berapa saja ada berita, jam berapa penyiar radio mulai kumat konyolnya sehingga aku senyum-senyum sendiri di depan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, salah satu iklan radio yang aku sukai adalah iklan Bank Danamon. Kira-kira begini nih kata-katanya:&lt;br /&gt;"Gimana, sudah kamu pilih calon suamimu?"&lt;br /&gt;"Belum, Bu."&lt;br /&gt;"Elho, calon yang waktu itu gimana?"&lt;br /&gt;"Yang teman SMA-ku itu?"&lt;br /&gt;"He eh ... dia itu hebat lo. Kalo kita mau punya rumah bisa, mau punya motor bisa, mau punya kios di pasar, juga bisa. Pokoknya serba bisa."&lt;br /&gt;"Memangnya dia pengusaha apa, Bu?"&lt;br /&gt;"Lebih hebat malah. Kalau ada yg mau membesarkan usaha, bisa."&lt;br /&gt;"Dia itu hebat lo. Dia ada di mana saja. Enerjik, jujur, tulus, berdedikasi&lt;br /&gt;"Begitu hebatnya. Kerja di mana dia?"&lt;br /&gt;"Di Danamon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali aku mendengar iklan itu, aku tidak menyangka kalau itu iklan bank. Dan aku tidak bisa menebak, kira-kira itu iklan produk apa. Tapi ternyata itu iklan bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku iklan itu menarik. Tidak seperti iklan-iklan lain yang memperkenalkan produk suatu perusahaan, iklan Bank Danamon itu mengiklankan para pegawainya. Dalam bayanganku, perusahaan yang para pegawai yang diiklankan di media massa tentu perusahaan yang bersih. Hal ini mengingatkanku pada obrolan di I-Radio dengan KPK setiap hari Selasa. Dari obrolan itu aku tahu bahwa orang-orang di KPK itu tak pernah menyentuh game saat di kantor. Juga tak pernah memakai fasiltas kantor untuk kepentingan pribadi. Mereka tak pernah menggunakan telepon kantor untuk mengecek apakah Adik sudah pulang sekolah atau belum.  Dan kupikir, kendaraan KPK akan berjajar rapi di garasi kantor saat tak digunakan untuk bertugas. Aku membayangkan, tingkat kepercayaan antar pegawai--baik yang posisinya setara maupun antara atasan dan bawahan--di perusahaan atau instansi yang seperti itu sangat tinggi. Itu berarti tak ada main belakang, semua transparan. Semua aturan jelas. Bersih. Tak perlu lagi merasa iri karena semua mendapat perlakuan yang sama. Si bos pun tak perlu menjelaskan kenapa dia selalupergi dengan si A, karena semua bawahannya percaya si bos selalu transparan. Bersih. Yang dikatakan A, maka A pula yang akan dilakukannya. Tak perlu saling berkhobah untuk menyindir dan membuat sadar karyawan yang molor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah bekerja di Danamon dan mungkin aku juga tidak menjadi bagian dari KPK (walaupun belakangan ini ada lowongan di KPK). Tapi aku membayangkan, pasti bangga menjadi karyawan di suatu perusahaan yang tingkat kepercayaan antar karyawannya tinggi, yang bersih, yang tak ada ganjelan di sana-sini. (Perusahaan yang seperti itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan yang memegang nilai-nilai suatu agama tertentu. Kita sendiri tahu, Indonesia ini kan "beragama" sekali. Tapi apa yang terjadi? Kita masih melihat masih terjadi kekacauan di sana-sini.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu sebentar, apa iya sih kita ingin perusahaan kita bersih? Seberapa besar keinginan kita untuk benar-benar efektif di tempat kerja? Sebenarnya ini enggak mudah. Soalnya, kalau kita ingin benar-benar bersih dan efektif, itu berarti kita mesti menghapus semua game di komputer kita. Kita juga tak bisa membawa kamera pulang untuk memotret anak kita yang sedang lucu-lucunya. Kita juga tak bisa melenggang ke rumah dengan memakai motor atau mobil kantor--karena tak ada aturan yang mengatakan bahwa kendaraan kantor adalah fasilitas yang bisa dibawa pulang. Kita juga tak bisa main Friendster atau ngeblog pakai internet kantor. Hmmm ... siapa saja ya yang bakal protes dengan semua pembatasan itu? :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung aku ndak punya kantor, bos, atau fasilitas kantor, jadi semua itu rasanya ndak terlalu ngefek. He he he. Dan kalau di kantormu, kamu masih bisa mengupdate blog, rasanya sah-sah saja kalau bosmu kadang-kadang main belakang. Kalau karyawan kencing berdiri, maka bos pasti kencing berlari ... ;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7387294771765765366?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7387294771765765366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7387294771765765366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7387294771765765366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7387294771765765366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/11/kalau-karyawan-kencing-berdiri-maka-bos.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-5469917979843002085</id><published>2008-10-28T00:42:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:20:44.369-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='belanja'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menyerbu Carrefour&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak terlalu suka berbelanja ke Carrefour karena beberapa kali kecewa mendapatkan barang yang tidak bagus: mulai kacang hijau yang sudah lama sampai panci yang baru sebentar dibeli sudah rusak. Jadi, tiap kali ada brosur diskon besar di Carrefour, aku tak pernah tertarik. Jera, deh! Mending beli di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena diminta menemani ibu temanku untuk berburu magic jar di Carrefour Buaran, aku akhirnya kemarin (27/10) menyambangi toko kelontong besar itu. "Berangkat jam berapa, Bu?" tanya saya."Katanya sih bukanya jam 9. Jadi, ya berangkat sekarang."&lt;br /&gt;Sebenarnya aku bertanya-tanya, apa iya sih bukanya jam 9? Pagi amat, sih. Tapi ibu temanku bilang, dia mau membeli rice cooker yang sedang diskon besar-besaran hari itu. Cuma Rp 100.000,00, dan barangnya tidak banyak. Oke deh! Akhirnya jam 9 teng-teng, kami berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, ternyata sudah banyak orang yang mengantri di depan rolling door Carrefour yang masih tertutup. Mungkin seratus orang lebih. Rupanya bukanya pukul 09.30. Memang, Plaza Buaran sudah buka dan beberapa toko sudah ada yang buka. Tetapi toko kelontong besar itu baru akan dibuka beberapa menit lagi. Aku heran, kok ternyata banyak juga orang yang tidak ngantor dan rela berdesak-desakan di depan toko yang masih tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rolling door itu dibuka, orang-orang langsung menyerbu masuk. Aku sampai khawatir kalau ada orang yang pingsan karena terinjak-injak. Kami yang datang belakangan, cuma bisa melongo melihat tingkah orang-orang itu. Bahkan, pintu otomatis yang ada di dekat kasir itu sampai roboh! Beberapa orang sandalnya tertinggal di sana-sini. Aku sendiri tak suka ikut berdesak-desakan. Rasanya bodoh sekali jika ikut-ikutan mereka. Enggak deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya memang tak semua orang mendapatkan rice cooker. Ibu-ibu banyak yang kecewa. Bahkan beberapa di antaranya sempat protes dengan petugas toko. Mungkin mereka sudah antri dari pagi banget, jadi wajar kalau kecewa. Aku sih, cuma senyum-senyum saja. Males banget deh, kalau hanya demi mendapatkan barang murah aku mesti ikut arus seperti itu. Lagi pula, apa iya sih mereka benar-benar butuh rice cooker? Kurasa mereka memanfaatkan momen saja. Sebenarnya tidakkah ini mencurigakan? Bagaimanapun Carrefour itu kan penjual, yang selalu ingin untung. Jadi, pasti ada "udang di balik batu", apa pun itu. Dan rasanya kok pihak toko tidak mempersiapkan dengan baik akibat pengumuman diskon besar itu, ya? Pengunjung menyerbu masuk bagaikan air dam yang baru dibuka pintunya. Pihak toko kewalahan. Dan ketika tahu orang-orang sudah berjubel mengantri, kok mereka tidak menyuruh pengunjung antri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang jelas, kejadian kemarin membuatku semakin malas untuk ke Carrefour. Rasanya aku enggak rela memberikan uangku kepada pemilik toko kelontong besar itu; toh belum tentu dapat barang bagus dan pelayanan yang baik ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-5469917979843002085?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/5469917979843002085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=5469917979843002085' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5469917979843002085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/5469917979843002085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/10/menyerbu-carrefour-aku-tidak-terlalu.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1490917149904170169</id><published>2008-10-13T21:27:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:18:59.154-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pernikahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resepsi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SUVENIR &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(hal kecil yang dianggap penting, yang sebenarnya sama sekali nggak penting)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sedang mempersiapkan pernikahan atau yang sudah menikah, barangkali sudah pernah merasakan pusingnya menemukan suvenir yang pas. Ya pas duitnya, pas fungsinya. Kalau bisa sih nemu suvenir yang murah, bagus, tidak gampang rusak, tidak kelihatan murahan, unik, dan berguna. Ukuran harga yang murah itu perlu. Kecuali bagi mereka yang duitnya sisa banyak, yaaa ... barangkali syarat "murah" itu tidak masuk hitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin waktu aku menikah, aku sebenarnya tidak akan menyediakan suvenir. Kenapa? Sebenarnya sih aku ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa pernikahan tanpa suvenir itu tetap sah. Dan itu, tidak masalah. Kalau pun "dirasani" orang, berapa lama sih mereka bakal mempergunjingkan kami? Lama-lama gunjingan mereka toh akan berhenti. Kalau tidak berhenti, ya tebalkan telinga saja. Gampang. Lagi pula, beberapa kali aku mendapatkan suvenir "instan", alias baru dipakai sekali, langsung rusak. Sayang banget. Daripada duit dihambur-hambur untuk menyediakan suvenir yang (ternyata) mutunya jelek, lebih baik tak ada suvenir sama sekali. Iya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yah, mempertahankan pendapat di depan orangtua, ternyata tidak mudah. Awalnya ibuku setuju kalau tidak pakai suvenir. Tapi satu bulan menjelang hari H, ibuku mulai ribut. Duuuh! Pusing juga lama-lama. Akhirnya aku pun mencari suvenir yang murah dan berguna. Hmm ... apa ya? Notes! Itu saja. Aku bilang ke temanku supaya membuatkan cover, lalu aku memesan notes mungil ke sebuah percetakan kecil yang kata temanku cukup murah. Aku lupa berapa lama notes itu jadi. Tapi seingatku cepat juga kok. Dan harganya pun tidak mahal. Aku sengaja memilih notes sebagai suvenir karena kupikir toh banyak orang masih menulis. Dan notes itu kan bisa dipakai buat menulis pesan, daftar belanjaan, agenda harian, dll. Dan sekali lagi, harga cetak notes itu tidak mahal. Asal, ndak neko-neko lo. Enggak pakai cover dengan kertas bagus atau bagian dalamnya disablon. Lagi pula, kalau kita langsung pesan ke percetakan, jatuhnya tidak mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal suvenir, aku jadi berpikir, sebenarnya siapa sih yang "mengharuskan" kita untuk memberi suvenir. Maksudku, sebenarnya apa pendorong terbesarnya? Karena semua orang memberi suvenir? Apakah suvenir itu suatu keharusan yang diberikan sebagai tanda terima kasih? Apakah ucapan terima kasih itu tidak cukup jika berupa suguhan makanan yang banyak macamnya pas resepsi? Apakah kita datang ke resepsi pernikahan teman atau famili kita karena menginginkan suvenirnya? Bagi sebagian perempuan, aku kira memang memiliki rasa "penasaran" bakal mendapat suvenir apa. Tapi kurasa, itu terjadi karena setiap kali datang ke acara pernikahan, mereka mendapat suvenir. Coba kalau masyarakat kita tidak membudayakan suvenir, tentu tak akan ada rasa penasaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, pendorong terbesar yang membuatku mengadakan suvenir adalah permintaan ibuku. Tak lebih. Lha kalau aku tidak menyediakan suvenir, ibuku bakal berlelah-lelah membuat pernak-pernik sendiri. Wah! Aku tentu tidak tega melihat ibuku pontang-panting, dong. Jadi, daripada ribut, mending aku merelakan beberapa ratus ribu untuk menyediakan notes-notes mungil. Lagi pula, tahu kan bagaimana ribetnya dan seberapa tinggi tingkat stres di seputar acara pernikahan? Ada banyak hal yang mendadak meminta perhatian kita. Mulai dari usulan anggota keluarga kita, undangan yang belum tersebar dengan merata, jenis makanan kecil yang akan dihidangkan, dll. Fiuuuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering heran, kenapa sepertinya masyarakat kita lebih mementingkan hal-hal remeh--seperti suvenir? Padahal untuk acara pernikahan, menurutku ada hal yang lebih penting daripada suvenir. Kesannya pas acara kawinan itu yang penting adalah hal yang tampak: dekornya bagus apa enggak, makanannya ada berapa macam, riasan pengantinnya bagus apa enggak. (Padahal tahu nggak, sanggul pengantin perempuan itu berat, lo. Dan lama-lama bikin pusing! Di balik kepusingan pengantin, orang-orang bertepuk tangan dan merasa senang. Is it what you looking for, huh?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kadang ingin melihat acara pernikahan yang benar-benar sakral. Tidak neko-neko; tidak diadakan gede-gedean supaya tampak "wah"; pengantin dan keluarganya bisa tersenyum lebar karena tidak memikirkan utang yang harus diangsur setelah ini; orang-orang yang datang pun bisa merasakan "nyes"-nya acara itu. Tak ada pergunjingan. Tak ada celaan. Dan, semuanya bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1490917149904170169?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1490917149904170169/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1490917149904170169' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1490917149904170169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1490917149904170169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/10/suvenir-hal-kecil-yang-dianggap-penting.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-985034566937222143</id><published>2008-07-28T21:21:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:16:47.632-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='petani'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi Petani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu waktu aku masih kecil, aku bercita-cita bekerja di depan komputer," ujar salah seorang temanku, Mira. "Ha? Nggak ada yang lebih lucu, Mir?" sahut temanku yang lain. Kami memang spontan menertawakannya. Rasanya cita-cita itu begitu polos dan yah ... lucu saja. Dia tidak ingin menjadi dokter, guru, atau presiden. Itulah sederetan profesi yang biasa diucapkan anak kecil. (Atau sebenarnya itu cita-cita yang ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri lupa, apa cita-citaku dulu ketika masih kecil. Yang jelas, aku tidak ingin menjadi guru seperti ayahku. Mungkin itu karena melihat murid-murid SPG yang berpraktik mengajar di SD-ku dulu, selalu dikerjai oleh teman-temanku. Dan lagi, mereka tampak grogi sekali. Jarang sekali ada yang kelihatan PD dan betul-betul pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, aku juga tak pernah bercita-cita menjadi petani--seperti Kakek. Menurutku, pekerjaan Kakek sangat berat. Setiap kali ia pulang dari sawah, aku melihat selalu saja ada tanah yang menempel, entah di kaki atau tangannya. Bajunya pun selalu kotor terkena lumpur. Aku juga tak tahu bagaimana Kakekku sanggup membiayai ayahku sekolah sampai bisa menjadi seorang guru. Yang jelas, rumah Kakek baru dibeton ketika aku sudah bekerja. Ketika aku masih kecil, rumah Kakek tampak kusam. Kurasa, Kakek memang tak memikirkan memperbaiki rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, aku tak pernah bercita-cita menjadi petani. Bagiku, menjadi petani itu tidak enak. Sudah pekerjaannya berat, baju yang dipakai bekerja tidak keren, harus mau kotor pula. Lagi pula, menjadi petani itu identik dengan kemiskinan. Nah, siapa yang mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebenarnya aku juga bercita-cita seperti Mira. Aku ingin bekerja di lingkungan yang bersih, mengenakan baju bagus. Jadi bekerja di depan komputer--entah sebagai apa--memang sepertinya menarik. Jauh lebih menarik daripada menjadi petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali itu pula yang membuat sampai sekarang nasib petani tidak membaik. Tak ada yang mau menjadi petani. Bahkan ketika alat-alat pertanian dan ilmu pertanian semakin modern, profesi petani masih tidak menarik. Walaupun kita hidup di negara agraris, rasanya aku nyaris tak pernah menjumpai anak muda yang ingin menjadi petani. Padahal, kalau tidak ada yang mau menjadi petani, kita akan makan apa?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-985034566937222143?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/985034566937222143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=985034566937222143' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/985034566937222143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/985034566937222143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/07/menjadi-petani-dulu-waktu-aku-masih.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2501052808307789444</id><published>2008-07-02T23:37:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:11:58.513-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kota Metropolitan? Ah, Yang Bener! ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang biasa yang "kesasar" di Jakarta, aku ke mana-mana naik kendaraan umum. Seringnya sih naik Metromini atau KWK. Jadi, aku bisa melihat pojok-pojok Jakarta. Nah, dari pengamatanku itu, aku jadi berpikir, "Kok bisa sih Jakarta disebut kota metropolitan? Apa karena dia didapuk sebagai ibukota negara? Atau karena di situ ada buanyak fasilitas yang tidak dipunyai daerah/kota lain di Indonesia tercinta ini?" (Padahal fasilitasnya paling pol cuma banyak mal.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, aku masih terheran-heran pula jika Jakarta ini mendapatkan Adipura. Oalah, Pak Walikota itu apa ndak pernah sobo Terminal Senen yang baunya bikin hidung jadi kebal? (Ya, tentu ndak pernah to ya? Lha wong ke mana-mana naik mobil yang wangi je!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang baru sekali berlama-lama di Terminal Senen. Dan ya, aku sungguh mengelus dada. Lha wong kotor dan bau kok ya, pihak pemberi Adipura itu tega-teganya memberi Adipura kepada Jakarta Pusat. Ini ngece (menghina) atau benar-benar  mau memberi penghargaan? Lha kalau mau memberi penghargaan itu lak ya mestinya dinilai benar-benar to? Mosok sama aku yang orang biasa2 saja, standar kebersihannya masih kalah jauh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi,  Jakarta itu punya fasilitas "ndangdutan" di jalan lo. Alias, banyak jalanan yang rusak. Jadi, kendaraan yg lewat siap-siap geal-geol saat melintasinya.  Lumayan kali ya buat olahraga pantat? Hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya, aku tuh bingung kenapa to Jakarta itu disebut kota metropolitan? Kalau menurutku sih, itu cuma kampung yang diaspal. Ndak lebih. Jadi, Jakarta kota metropolitan? Ah, yang bener? ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2501052808307789444?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2501052808307789444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2501052808307789444' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2501052808307789444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2501052808307789444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/07/kota-metropolitan-ah-yang-bener.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-285810661827402959</id><published>2008-06-23T01:20:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:09:35.148-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Siapa yang Mencintai Jakarta?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menuruni jembatan penyeberangan di dekat jl. Layur (dekat jl. Pemuda, Jakarta Timur), maka aku harus mempersiapkan hidungku agar tidak kaget saat bau busuk menghambur menusuk-nusuk hidung. Jembatan yang turunannya di dekat jalan Jati Rawamangun itu berada di atas sebuah got yang sama sekali tidak mengalir. Sampah yang sudah tidak jelas bentuknya memenuhi got itu. Air got itu pun warnanya sudah abu-abu. Pekat. Jadi bisa kebayang kan, seperti apa baunya? (Aku pun jadi maklum kalau Jakarta Timur tidak mendapatkan Adipura. Wong gotnya saja bau buanget! Tapi pertanyaannya, apakah di Jakarta bagian lain juga tidak punya got serupa? Hehehe?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku yang kosnya di sekitar situ pernah bilang begini, "Di daerahku, tak pernah ada got yang sampai sebau ini. Bisa marah-marah Pak RT-ku. Walaupun kerja bakti tidak dilaksanakan setiap minggu, toh daerah rumahku di dekat Monjali (Monumen Jogja Kembali) sana tidak pernah sekotor ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga kata temanku itu. Di depan rumahku di Madiun ada pula sebuah got. Walaupun alirannya tidak lancar-lancar banget, toh baunya tidak menyengat. Yang jelas, tidak semua sampah dicemplungkan di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku bertanya-tanya, sebenarnya siapa ya yang mencintai Jakarta? Orang yang tinggal di Jakarta selama bertahun-tahun saja tidak pernah peduli apakah lingkungan sekitarnya bersih atau tidak. Kalau pun mereka tahu bahwa lingkungan di situ kotor, sepertinya juga tidak ada usaha untuk membersihkannya. Tentu, tentu saja capek dong kalau hari Minggu masih harus kerja bakti. Iya kan? Kerja dari Senin sampai Jumat kan sudah bikin capek dan stres. Akhir minggu adalah saatnya untuk berleha-leha dan istirahat. Jadi, kerja bakti? Capek deh!&lt;br /&gt;Kalau mau diibaratkan, Jakarta ini seperti seorang perempuan yang tidak pernah dicintai. Cantik sih, cantik. Tapi kalau harus mencintainya, orang sepertinya akan berpikir seribu kali deh. Dia paling enak untuk dieksplorasi habis-habisan, karena dia kaya dan punya semuanya. Dia paling gampang dimanfaatkan. Tapi dia bukan perempuan yang pantas untuk mendapatkan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekali lagi, siapa yang mencintai Jakarta ya? Hayo ngacung!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-285810661827402959?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/285810661827402959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=285810661827402959' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/285810661827402959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/285810661827402959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/06/siapa-yang-mencintai-jakarta-ketika-aku.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7074740920987016899</id><published>2008-05-28T21:11:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:07:53.164-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>Jakarta yang Absurd (part 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kira-kira 12 tahun tinggal di Jogja, ukuranku tentang jauh-dekatnya suatu tempat berubah. Tidak seperti ketika aku masih di Madiun, kota kelahiranku, di Jogja suatu tempat yang jauhnya 5 km termasuk dekat. Kalau di Madiun, 5 km rasanya sudah jaauuuh ... sekali. Di Madiun, lima kilometer itu adalah jarak dari rumah ke kantor ibuku yang lama. Dulu, bagiku kantor ibuku jauh sekali, ibarat sudah luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di Jogja, perjalananku dari rumah ke kantor kira-kira kutempuh selama 20 menit. Jaraknya kira-kira 10 km. Beberapa kali aku pulang malam. Sampai rumah pukul 7 malam itu sudah biasa. Jam kantorku memang usai pukul empat sore. Tapi, aku memang hobi main, jadi aku suka mampir ke sana kemari sekalian sambil mencari makan malam. Tapi perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya, paling lama kuhabiskan di jalan selama 30 menit. Tidak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di Jakarta semuanya berubah. Suamiku menghabiskan waktu di jalan untuk menuju tempat kerjanya selama 1,5-2 jam. Itu semua karena situasi jalan yang tidak bisa diprediksi. Macet di mana-mana. Padahal kalau jalanan sangat lancar, perjalanan cuma butuh setengah jam. Tapi jangan berharap banyak dengan lalu lintas Jakarta! Nggak lucu kan orang gantung diri karena stres memikirkan kemacetan di jalan? "Nggak segitunya deh," begitu mungkin komentar Dimas temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, beberapa hari yang lalu, adiknya suamiku hendak berkunjung ke rumahku. Mumpung kuliahnya libur. Menyadari lalu lintas Jakarta yang semrawut aku jadi bisa tidak berharap dia akan sampai di rumahku dalam waktu 10 menit, setelah dia mengatakan bahwa dia berangkat "sekarang". Dan benar, dia sampai di tempat tinggalku kira-kira 2,5 jam kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jogja, untuk bisa sampai ke Solo, aku cuma butuh waktu 1 jam (naik kereta Prameks). Itu pun sudah melewati Klaten dan Delanggu--dua kota yang bertetangga dengan Jogja. Lha kalau di Jakarta? Sama-sama di Jakarta Timur saja, orang perlu menyisihkan waktu 1 jam untuk perjalanan. Ealah ... Jakarta ... Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kalau suamiku ke Jogja dan mau stasiun karena hendak pulang ke Jakarta, kami sering eyel-eyelan soal waktu. Kalau keretanya berangkat pukul 8 malam, pukul 6 sore dia sudah memintaku untuk mengantarkannya ke stasiun. Beberapa kali kubilang, "Ini bukan Jakarta. Kita berangkat jam 7 dari rumah pun, kamu tidak akan ketinggalan kereta. Wong kita paling cuma butuh waktu setengah jam untuk sampai stasiun." Tapi dia tidak percaya, dan tetap memintaku untuk mengantarkannya pukul 6 sore. Dan benar, ketika kuantarkan, kami akhirnya menunggu kereta selama 1,5 jam di stasiun! Padahal, 1,5 jam di Jogja itu bisa untuk makan dengan santai di tempat makan favorit kami ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran waktu dan jarak di Jakarta memang absurd. Dan kalau kamu berelasi dengan orang sudah menetap di Jakarta bertahun-tahun, soal jarak dan waktu ini bisa jadi bahan untuk eyel-eyelan! Coba saja. Dan kini jam di samping kamar kerjaku sudah menunjukkan pukul 18.15. Dan suamiku bilang, dia akan sampai rumah 2 jam lagi! Ealah ... niatnya tadi menunggu dia untuk makan malam bareng, tapi apa daya? Perutku sudah berteriak minta diisi. Bisa ngambek nanti naga di dalam perutku kalau baru 2 jam lagi baru kuberi makan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7074740920987016899?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7074740920987016899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7074740920987016899' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7074740920987016899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7074740920987016899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/05/jakarta-yang-absurd-part-3-setelah-kira.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-586598004425920041</id><published>2008-05-21T00:49:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:06:19.288-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>Jakarta yang Absurd (part 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku jalan-jalan ke Arion. Dalam perjalanan, metromini yang kutumpangi itu disambangi oleh pengamen bertampang galak dan berbaju sobek-sobek. Bukan compang-camping sih, tapi memang sepertinya pengamen itu gaya bajunya seperti itu. Mau menciptakan model baru, kali ya? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia naik, aku langsung curiga, "Wah, jangan-jangan dia maksa nih minta duitnya." Tidak jelas, pengamen itu bernyanyi apa, yang jelas suaranya lantang sekali. Separo berpuisi tapi diberi irama. Dia menyampaikan kritik sosial; mengkritik pemerintah yang cuma bisa menyengsarakan rakyat, tapi kupikir dia sendiri tidak jauh berbeda dengan pejabat pemerintah yang bisanya menakut-nakuti rakyatnya dengan peraturan yang tidak jelas. Dengan tampang galaknya dan dengan gayanya meminta uang yang sedikit memaksa itu, itu dia berubah menjadi monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... ini adalah bagian dari keabsurdan Jakarta. Aku tidak tahu, pengamen itu dibesarkan di keluarga seperti apa. Apakah dia punya anak dan istri? Apakah dia bermimpi bisa membeli rumah gedong dengan mengamen tidak jelas seperti itu? (Yee, mimpi kali Bang!) Kalau dia mengamen di acara-acara besar dengan suara seperti Delon, naaa ... itu baru memungkinkan baginya untuk mengubah jalan hidupnya. Tapi untuk bisa menyanyi dengan baik, orang perlu belajar vokal. Lha tahu sendiri kan, berapa duit yang mesti diluarkan untuk les vokal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keabsurdan Jakarta telah menciptakan orang-orang "sakit" yang tidak tahu apa tujuan hidupnya selain untuk mencari makan dan kalau bisa menjadi orang kaya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang yang mendapat training serta pelatihan dari Pak Eko tentang Seven Habit-nya Stephen Covey jadi semakin sadar bahwa ada tujuan hidup yang lebih penting daripada sekadar makan dan minum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan yang kulalui masih padat. Mobil, bus kota, sepeda motor berjejalan memenuhi jalanan. Kadang aku pengin iseng bertanya kepada mereka, "Mau ke mana sih Pak, Bu, Mbak, Mas? Kok sepertinya sibuk dan buru-buru banget." Aku yakin, sebagian besar dari mereka digerakkan oleh kepentingan kantor atau pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mbak-mbak pramuniaga itu masih berjalan di antara rak-rak barang jualan, lengkap dengan dandanan mereka yang menor. Dengan ramahnya mereka melayani pembeli. He he he, padahal kalau dipikir-pikir, berapa sih gaji mereka? Laba penjualan dari supermarket tempat mereka berjualan itu hanya sepersekian persen yang masuk menjadi gaji mereka. Padahal, aku yakin mereka capek setelah seharian bekerja, berdiri dan mondar-mandir melayani pembeli, lengkap dengan tempelan aksesoris dan make-up yang cukup tebal. Kenapa mereka mau bekerja seperti itu? Untuk sekadar mengisi waktu luang? He, yang bener aje. Pasti sebagian besar dari mereka bekerja untuk mencari makan. Apakah kepentingan konsumen menjadi kepentingan mereka? Belum tentu. Jangan-jangan mereka berlaku sopan karena suruhan atasan. Karena kalau tidak, mereka akan dipecat. Atau kalau tidak, mereka berpikir bahwa jika pelanggan toko mereka pergi, maka mereka tidak bisa gajian di akhir bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm ... jangan-jangan aku ketularan absurd juga. Aku cuma berharap di kota ini, aku tetap waras. Kesadaranku tetap berdiri tegak. Tapi siapa yang bisa menjamin? He?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-586598004425920041?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/586598004425920041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=586598004425920041' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/586598004425920041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/586598004425920041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/05/jakarta-yang-absurd-part-2-kemarin-aku.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-7258855208223750416</id><published>2008-05-13T17:37:00.000-07:00</published><updated>2009-02-12T17:02:56.067-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jakarta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jakarta yang Absurd (part 1)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah hari-hari awalku di Jakarta. Rasanya jiwaku masih di Jogja. Aku selalu bangun dengan perasaan bahwa ini cuma mimpi. Biasanya aku ke Jakarta hanya untuk main atau karena ada tugas kantor. Tapi kali ini aku harus ikut suami, jadi bisa dibilang ini adalah pergi untuk memenuhi panggilan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh rasanya. Keanehan ini tidak ada hubungannya dengan relasiku dengan suami. Tapi lebih pada bagaimana aku melihat Jakarta. Beberapa waktu lalu, ketika seorang temanku yang juga pindah kerja di Jakarta mengatakan bahwa kota ini absurd, aku cuma bisa tertawa. Aku bisa membayangkan bagaimana temanku itu terseok-seok untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja di Jakarta, sementara hampir 30 tahun hidupnya tak pernah keluar dari Jogja berhati nyaman. Dia mengeluh, di kantor barunya itu dia dianggap udik. Tapi kalau aku lebih suka mengatakan ini beda kultur saja. Dan aku cuma tertawa mendengar ceritanya. Hehehe, wong dia lucu banget kalau bercerita. Penuh ekspresi dan lengkap dengan logat Jogjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang aku tidak bisa menertawakan dia lagi. Aku mulai menertawakan diriku dan orang-orang di sekelilingku. He, benar ... kota ini absurd. Ibarat orang, kota ini tidak punya tujuan hidup, cuma muter-muter tidak jelas; apa saja dikerjakan, tapi tak ada ujungnya kecuali ujung-ujungnya duit. Semua orang sibuk mencari duit. Dan bodohnya, orang-orang ini kalau ditanyai informasi, jawabannya tidak jelas. Misalnya begini, waktu aku mau mengisi pulsa XL extra 100 ribu, aku mendapat jawaban yang bervariasi. Dari temanku Ema, yang mau berbaik hati akan membelikannya dalam perjalanan ke kantor, dia dikasih tahu oleh penjual pulsa bahwa XL extra 100 ribu sudah tidak ada lagi di pasaran. Sudah ditarik dari peredaran! Weh la dalah ... XL kok aneh-aneh saja ya, pikirku. Masak iya sih, XL betul-betul mau menghapuskan layanan extra yang bisa sms gratis ke sesama XL itu? Biasanya kan si XL woro-woro lewat SMS ke pelanggannya. Trus, aku akhirnya pergi sendiri ke penjual pulsa di sekitar tempat tinggalku. Jawaban yang kuterima apa coba? Si Mbak yang manis penjaga gerai itu bilang bahwa sekarang XL tidak membedakan antara extra dan reguler. Nah lo! Aku jadi bertanya-tanya lagi, si XL ini maunya apa sih? Trus, aku pergi ke gerai sebelahnya, dan di situ penjualnya bilang XL extra 100 ribu harganya Rp 101.000,00. Hehehe, untungnya aku keukeuh untuk mencari pulsa XL extra 100 ribu. Kalau tidak, kena tipu deh! Padahal kalau dipikir-pikir informasi yang tidak benar itu kan dari penjual pulsa yang saben hari melayani pembeli pulsa dan hidupnya cuma berkutat di jual beli pulsa to? Ealah ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku percaya dengan kata-kata temanku, bahwa orang-orang Jakarta itu bodoh. Banyak sekali yang bodoh. Mereka cuma pinter "nggambleh", jual omongan dan ujung-ujungnya duit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-7258855208223750416?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/7258855208223750416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=7258855208223750416' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7258855208223750416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/7258855208223750416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/05/jakarta-yang-absurd-part-1-ini-adalah.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-1607022794933281968</id><published>2008-05-12T20:14:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T20:19:29.155-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I Miss Jogja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;I do miss Jogja. Kangen betul. Rasanya aku di sini seperti hidup di dunia lain. Entah aku yang nggak pinter adaptasi, atau gimana... aku nggak tahu. Aku merasa Jakarta adalah kota yang absurd. Aku pengin kembali ke dunia orang "waras", bukan di dunia "orang yang gila uang dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ignorant&lt;/span&gt;".&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-1607022794933281968?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/1607022794933281968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=1607022794933281968' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1607022794933281968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/1607022794933281968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/05/i-miss-jogja-i-do-miss-jogja.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-2798458458778296644</id><published>2008-05-02T23:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-02T23:35:10.661-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Malas (Berkemas)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal beberapa malam lagi aku bisa tidur di kamarku yang nyaman. Besok Senin rencananya (kalau dapat tiket), aku akan melanjutkan perjalanan ke kota ibukota raya. Ikut suami. (yeah! akhirnya ....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau mau jujur, aku malas sekali berkemas. Apalagi meninggalkan Jogja. Tidak, aku tidak kawin paksa kok kemarin. Jadi sebenarnya tidak masalah dengan suamiku. Tapi Jakartanya itu lo! Kota super macet yang full polusi itu sebenarnya kota yang tak ingin kutinggali. Mau dibilang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndeso&lt;/span&gt;, ya nggak apa-apa, tapi aku memang lebih suka tinggal di kota kecil atau kota yang sedang-sedang saja besarnya. Asal ada komputer, koneksi internet, dan toko buku, rasanya itu cukup buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam aku ke Kinoki. Itu adalah kunjungan pertamaku, dan entah kapan aku akan mengunjunginya lagi. Sambil ngobrol ngalor ngidul nggak jelas dengan "kakaknya Jessy" (hehehe, bener to Dim?), aku menghabiskan separo malam. Duh, nyaman betul ya rasanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku jadi ingat dengan kamarku. Masih ada beberapa barang yang harus masuk ransel dan kardus. Ya ampun, malas banget berkemas! Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi di Jakarta nanti. Tapi aku berharap, aku tidak kehilangan teman-temanku yang cuma segelintir itu ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-2798458458778296644?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/2798458458778296644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=2798458458778296644' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2798458458778296644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/2798458458778296644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/05/malas-berkemas-tinggal-beberapa-malam.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-3104440998194246108</id><published>2008-05-01T23:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-01T23:21:11.244-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumbangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Dari jendela kulihat ada dua orang berkerudung berdiri di depan pintu. Mereka bukan temanku. Ragu-ragu aku hendak membukanya. Tapi sudahlah, toh mereka perempuan. Dan dengan baju religius yang cukup tertutup rapat, kukira mereka tak akan berbuat jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permisi, Mbak. Kami hendak bersilaturahmi," kata salah seorang dari mereka.&lt;br /&gt;Agak bingung aku mendengarnya. Bersilaturahmi? Mau kenalan ya maksudnya?, pikirku. Tapi untuk apa kenalan? Warga barukah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bolehkah kami masuk?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bingung aku mempersilakan mereka masuk. Di rumahku tidak ada kursi tamu yang khusus, jadi ya ... mereka duduk di kursi seadanya yang baru saja kuatur. (Aku memang jarang sekali menerima tamu secara formal. Biasanya yang datang adalah teman-teman. Dan mereka sudah biasa duduk lesehan dengan santai di depan TV.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbak yang pertama mengatakan bahwa ia sedang mencari sumbangan untuk pembangunan rumah ibadah di daerah Semanu, Gunung Kidul. Lalu, temannya mengeluarkan sebuah map dari tas kemudian diberikan kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu mengingat-ingat uang yang ada di dompetku. Mampus! Aku enggak punya uang yang kira-kira pantas untuk menyumbang. Seingatku, yang ada cuma recehan dan selembar uang seratus ribu. Aduh, bagaimana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri rasanya separuh ditodong. Kalau mau menolak langsung, kok kesannya aku nggak punya rasa kemanusiaan, atau minimal toleransi. Salahkah mereka membangun rumah ibadah? Tentu tidak. Tapi kok ya, begini caranya mencari dana? Selain tidak punya uang yang kira-kira pantas untuk disumbangkan, aku jadi berpikir kenapa mereka meminta sumbangan kepadaku? (Yang seratusan ribu tadi kalo disumbangkan, bisa-bisa aku kelaparan seminggu deh...) Dilihat dari jarak geografis, Gunung Kidul dan Sleman itu jaraknya bisa 2 jam perjalanan naik motor. Itu pun bisa lebih, kalau daerahnya sudah pelosok nun jauh di pucuk gunung. Jadi, aku tidak punya sense of belonging. Lain kan kalau rumah ibadah itu mau dibangun di kampungku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu iseng tanya-tanya ke mbak itu. Ternyata dia bukan warga Semanu juga. Ibunya memang asli sana, tapi dia sendiri besar dan tinggal di daerah Tamansiswa. Weh, tumben amat ada anak muda yang peduli dengan daerah kelahiran sang ibu. Trus, dia seorang siswa kursusan akuntasi di daerah jalan Timoho sana. Seingatku, di daerah situ cuma ada APMD, Tamsis, dan Janabadra. Jadi, bisa dibilang, dia tidak bersekolah di perguruan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku bertanya, "Sudah izin Pak RT apa belum, Mbak?"&lt;br /&gt;"Belum. Ini cuma minta sumbangan secara pribadi kok, Mbak," jawabnya cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe ... mbaknya itu lucu. Aku jadi berpikir, aneh betul orang ini, belum kenal kok sudah minta sumbangan pribadi. (Tadi pas salaman, dia pun tidak menyebutkan nama.) Kalau sumbangan pribadi tuh biasanya dari orang-orang dekat, seperti kalau tetanggaku ada hajatan. Itu nggak usah diminta pun, saya kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu akhirnya aku mengatakan supaya dia minta izin Pak RT terlebih dahulu. "Biar saya lebih jelas, Mbak." Akhirnya map biru itu pun dimasukkan lagi ke dalam tas, dan mereka permisi untuk melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka pergi, aku jadi teringat dulu aku pun pernah berusaha mendapatkan dana segar untuk program KKN. Dulu waktu di asrama, sewaktu dies natalis, kami juga sering mencari dana demi kelancaran acara. Awalnya sih kami berpikir, caranya adalah minta orang tua. Tapi kok kasihan amat, ya ... mereka sudah dibebani dengan uang kuliah kami yang tidak sedikit. Lalu, kami juga berpikir untuk minta uang ke orang-orang yang kira-kira berduit dan dermawan. Tapi akhirnya aku dan teman-teman sepakat tidak melakukan cara itu. Kami mengumpulkan baju bekas, dan menjualnya di pasar tradisional. Hasilnya lumayan lo! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahuku, penggalangan dana bisa dilakukan dengan macam-macam cara. Salah satunya dengan berjualan; bisa dengan menjual kolak waktu bulan puasa atau membuat parsel di hari-hari khusus. Kalau mau, apa pun bisa dijual kok (asal nggak jual diri lo! hehehe). Cara lainnya adalah dengan mengadakan pertunjukan amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun mau minta sumbangan pribadi, rasanya lebih pas kalau sumbangan itu diminta dari orang-orang yang punya "kepentingan" juga atau punya "ikatan" khusus (entah itu alumni atau warga setempat). Jadi nggak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ujug-ujug&lt;/span&gt; datang dan minta sumbangan gitu, Mbak ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-3104440998194246108?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/3104440998194246108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=3104440998194246108' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3104440998194246108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/3104440998194246108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/05/sumbangan-sore-itu-tiba-tiba-terdengar.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8657673193957702533</id><published>2008-04-29T23:46:00.000-07:00</published><updated>2008-04-29T23:52:23.911-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Back To Normal!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Sudah dua hari ini rasanya aku benar-benar lega. Ibarat ikan yang selama beberapa waktu lalu tidak tinggal di air, aku serasa dikembalikan ke habitatku. Jadi pengennya menyelam dalam-dalam, berputar-putar mengelilingi kolam, dan ... menjadi diriku sendiri! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Seminggu kemarin aku pulang dalam rangka menikah. Yeah! Kalau soal menikah sih sebenarnya itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;not a big deal&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;. Maksudku, aku semuanya baik-baik saja. Aku dan suami sudah cukup mengenal dengan baik, jadi tidak ada acara terkaget-kaget atau semacamnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Masalahnya, selama beberapa hari itu, aku serasa masuk dalam dunia lain. Dunia lain milik orangtuaku, keluarga besarku, tetangga-tetanggaku, teman-teman ortuku, dan seterusnya. Sejak awal aku sudah membayangkan bagaimana ribetnya acara yang akan kujalani. Bapak minta dibuatkan undangan sekian ratus, padahal aku cuma pengen mengundang puluhan orang saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Just my inner people&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;. Orang-orang dekatku; terutama yang kenal betul dengan kami. Tapi yah, ternyata ortuku tidak bisa begitu. Jadilah, aku "tutup mata", tahu jadi saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Pasrah bongkokan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Tapi rupanya aku tidak bisa benar-benar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;pasrah bongkokan&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;. Suliiiit banget! Aku seperti dipaksa untuk menjadi orang lain. Bahkan, aku sering terkaget-kaget ketika sadar bahwa orang-orang yang sedang sibuk ndak karuan itu ternyata sibuk untuk mempersiapkan acaraku! Duh! Aku jadi merasa bersalah. Aku rasanya ingin berteriak, "Hey! Aku tidak membutuhkan semua kesibukan ini!" Aku jadi bertanya-tanya, mengapa mereka sibuk melakukan ini dan itu? Mengapa? Untuk membuatku senang? Untuk membuat acaranya meriah? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;No, no, no.&lt;/span&gt; Sebenarnya aku lebih suka acara yang sangat simpel. Kalau bisa sih, cuma menghadap pastor, diberkati, sudah. Kalau mau makan-makan, aku lebih suka makan dengan orang-orang dekatku, ke restoran favorit kami. Begitu cukup. Tak perlulah sibuk dan pontang-panting ke sana kemari: memesan tenda, mengambil kebaya, pesan daging, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Mari kita duduk sama-sama. Bikin saja wedang teh yang kental, hangat, dan manis. Lalu, beli saja gorengan atau kalau mau yang agak berat, kita pesan saja nasi goreng telor atau soto ayam. Nah, lalu kita ngobrol sama-sama. Tanyailah kami bagaimana kami bertemu, apa pemikiran kami tentang keluarga, apa saja cita-cita kami .... Sesederhana itu. Mudah. Hangat dan tidak ribet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Sungguh, seminggu di rumah justru membuatku stres. Walaupun bisa dibilang aku tidak ngapa-ngapain, aku tapi benar-benar tak bisa paham mengapa orang-orang itu sibuk. Dan karena itulah, aku jadi stres. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Di saat-saat seperti itu aku justru merindukan keseharianku yang biasa nongkrong di depan komputer, bangun siang, ke GG, ngobrol dengan teman-teman, puter-puter Jogja. Saat-saat itu, aku benar-benar kangen Jogja dan teman-teman. Hhhh! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt;Dan sekarang, setelah hari Jumat itu berlalu, aku bisa bernapas lega. Apalagi ketika aku sudah menjejakkan Jogja ... mencium aroma Jogja, berkumpul lagi dengan teman-teman, bisa nongkrong di depan komputer, main game ... yuhuuuu!!! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 102);"&gt;I'm back to normal!&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 102);"&gt; Bahagia deh!!! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-8657673193957702533?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/8657673193957702533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=8657673193957702533' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8657673193957702533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/8657673193957702533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/04/back-to-normal-sudah-dua-hari-ini.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-6653160857855003054</id><published>2008-04-21T20:12:00.000-07:00</published><updated>2008-04-21T20:29:41.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ngobrol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi sebagian besar orang, barangkali aku digolongkan orang yang pendiam. tidak banyak bicara. kalau di depan ada orang dan selembar koran, aku tentu akan lebih memilih membuka koran dan menenggelamkan diriku di antara ribuan huruf. tapi, bagi segelintir orang, mereka akan tahu bahwa sebenarnya aku banyak bicara. suka ngobrol.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, kebutuhan untuk mencari tempat ngobrol yang enak bisa jadi suatu kebutuhan tertentu dalam diriku. tapi aku biasanya memang rada pemilih dalam memilih tempat ngobrol. aku rela merogoh kantong lebih dalam untuk mendapatkan suasana yang enak dan nyaman. tempat yang terlalu ramai dan meriah, biasanya bukan pilihanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain tempat ngobrol yang asyik, sebenarnya yang penting adalah teman ngobrol yang asyik pula. dan sebenarnya teman ngobrolku, bisa dihitung dengan jari. tak lebih dari lima orang seingatku. sedikit kan? maka, mendapat teman ngobrol baru yang bisa diajak bertukar pikiran, bicara dari hati ke hati, membicarakan hal yang penting sampai tidak penting, punya selera yang hampir sama, adalah suatu keistimewaan yang tak terbeli bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari-hari belakangan ini, aku mendapat teman ngobrol yang baru. asyik banget. jadi, kalau kubilang akhir-akhir ini Jogja sepertinya memanjakanku, mungkin salah satunya karena dia juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sayang, aku sebentar lagi harus meninggalkan Jogja. tapi aku berharap Jogja-Jakarta tidak dirasa terlalu jauh...&lt;span style="font-style: italic;"&gt; so, let's continue our talk, my dear friend! we still can talk heart to heart.  i'll be there!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... &lt;/span&gt;dim, sorry gift-nya cuma tulisan :) kangen nih ngobrol2 lagi hehehe ...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23849611-6653160857855003054?l=blognyakrismariana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/feeds/6653160857855003054/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23849611&amp;postID=6653160857855003054' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6653160857855003054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23849611/posts/default/6653160857855003054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://blognyakrismariana.blogspot.com/2008/04/ngobrol-bagi-sebagian-besar-orang.html' title=''/><author><name>krismariana widyaningsih</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23849611.post-8351846805196689744</id><published>2008-04-17T22:00:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T22:29:26.247-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tumpukan Kenangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini aku mengusung beberapa barangku di meja kerjaku yang sudah ditempati selama enam tahunan ke rumah. Memang, dibandingkan yang lain, mejaku rasanya yang paling rame. Banyak barang yang ada nongkrong di situ; terutama buku, katalog, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hand out &lt;/span&gt;dari seminar atau pelatihan, dan sebagainya. Kadang kutemukan barang-barang yang tidak penting, seperti selipan buku, kertas-kertas tagihan, undangan kawinan teman yang sudah dua tahun silam ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku menyadari tinggal beberapa hari aku di Jogja, rasanya barang-barang itu jadi "barang berharga". Ada berlapis-lapis kenangan yang terkandung di barang-barang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat waktu nonton jazz di depan monumen SO 1 Maret di ujung Malioboro. Awalnya sih aku rada ogah2an. Tapi rupanya Tompi memang keren! Dan aku seperti terbius menyaksikannya. Di tengah-tengah penampilannya, aku sebenarnya sadar, penampilan Tompi itu akan berakhir. Jadi setiap detik adalah saat yang berharga. Sangat berharga. Nantinya, penampilannya itu akan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fade away&lt;/span&gt; ... menghilang. Dan babak selanjutnya akan menggantikannya. Penampilan Tompi itu tak akan terulang lagi. Jam terus merambat; itu berarti aku harus pulang, mencari becak atau taksi, dan mengurus perutku yang lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya setiap jamku di ruang penerbitan itu juga sangat berharga. Hanya saja kadang aku tidak menyadarinya. Memang, di ruang kerjaku yang dulu tidak ada Tompi yang menyanyi secara  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;live&lt;/span&gt;. Tapi di situ ada banyak orang yang memberikan lapisan kenangan pada benda-benda di mejaku, di hati dan pikiranku, di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;flash disk&lt;/span&gt;-ku, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku berada di sini, di jam ini. Di "menit-menit terakhir ini" rasanya semua begitu memanjakanku. Teman-teman seruangan rasanya begitu kocak. Teman-teman yang lain juga terasa hangat, begitu tulus, begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;helpful&lt;/span&gt;. Rasanya aku ingin berlama-lama di sini. Memanjakan hati dan pikiranku, membiarkan mereka menyentuh hatiku sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan kenangan itu semakin tebal rasanya. Menyelimutiku dengan lembut, dan membuatku ingin berkubang di situ .... Rasanya aku mencintai semua yang ada di sini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/
